Maryam 19:60
Mary · Juz 16 · Page 309
إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَأُوْلَٰٓئِكَ يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ وَلَا يُظۡلَمُونَ شَيۡـٔٗا ٦٠
Except those who repent, believe and do righteousness; for those will enter Paradise and will not be wronged at all.
Tafsir · in Indonesian
As-Sa'di
Medium · Clear and to the point: what to take from each passage.
Change
Commentary on 19:59–63
"Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsu-nya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun. Yaitu surga 'Adn yang telah dijanjikan oleh Dzat Yang Maha Pemurah kepada hamba-hambaNya, dengan (cara) ghaib. Sesung-guhnya janji Allah itu pasti akan ditepati. Mereka tidak mende-ngar perkataan yang tak berguna di dalam surga, kecuali ucapan salam. Mereka mendapatkan rizkinya di surga itu tiap-tiap pagi dan petang. Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa." (Maryam: 59-63).
(59) Setelah menyebutkan kisah para nabi yang ikhlas ini, yang konsisten mengikuti hal-hal yang mendatangkan ridha Rabb mereka serta senantiasa bertaubat kepadaNya, Allah تعالى menyebut-kan kisah orang-orang yang datang setelah zaman mereka, dan melakukan perubahan terhadap sesuatu yang diperintahkan kepada mereka, dan bahwa datanglah ﴾ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ ﴿ "sesudah mereka, pengganti (yang jelek)," mereka kembali kepada kemunduran dan keadaan semula, lalu ﴾ أَضَاعُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "mereka menyia-nyiakan shalat," yang mana mereka diperintahkan untuk menjaga dan menegakkannya. Me-reka meremehkan shalat dan tidak menghiraukannya. Jika mereka sudah mengabaikan shalat yang merupakan tiang agama, tolok ukur keimanan dan keikhlasan kepada Allah, yang merupakan amal yang paling ditekankan dan paling afdhal, maka pasti mereka lebih menyia-nyiakan lagi menolak syariat agama mereka yang lain. Penyebab yang mendorong mereka melakukan ini adalah karena mengikuti bujukan-bujukan hawa nafsu dan keinginan-keinginannya. Sehingga perhatian mereka tercurahkan pada hawa nafsu dan lebih mengutamakannya daripada hak-hak Allah. Maka, lahirlah sikap penyia-nyiaan terhadap hak-hak Allah dan condong kepada godaan-godaan hawa nafsunya. Apa pun yang tampak bagi mereka, niscaya mereka segera berusaha untuk meraihnya, dan dengan kondisi apa saja yang tiba-tiba muncul, mereka pasti sepakat untuk menempuhnya. ﴾ فَسَوۡفَ يَلۡقَوۡنَ غَيًّا 59 ﴿ "Maka kelak mereka akan menemui kesesatan," yaitu azab yang berlipat lagi sangat keras.
(60) Kemudian Allah تعالى mengecualikan dengan Firman-Nya, ﴾ إِلَّا مَن تَابَ ﴿ "Kecuali orang-orang yang bertaubat," dari kesyirikan, bid'ah-bid'ah dan kemaksiatan. Dia berhenti darinya, menyesal dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi ﴾ وَءَامَنَ ﴿ "dan beriman," kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para RasulNya, dan Hari Akhir ﴾ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا ﴿ "dan beramal shalih," yaitu amalan-amalan yang disyariatkan oleh Allah lewat lisan para RasulNya jika di-peruntukkan mencari Wajah Allah dengan amalan itu. ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Maka mereka itu," orang yang memadukan antara taubat, keimanan, serta amal shalih ﴾ يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ ﴿ "akan masuk surga," yang berisi kenik-matan yang abadi, kehidupan yang selamat (dari gangguan) dan berada di dekat Rabb Yang Mahamulia ﴾ وَلَا يُظۡلَمُونَ شَيۡـٔٗا 60 ﴿ "dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun," dari amalan-amalan mereka. Bahkan mereka menjumpai amalan-amalan mereka sempurna, dengan ganjaran yang penuh dan berlipat-lipat jumlahnya.
(61) Kemudian Allah menyebutkan bahwa surga (taman) yang dijanjikan untuk dimasuki tidaklah seperti taman-taman yang lain. Akan tetapi ﴾ جَنَّٰتِ عَدۡنٍ ﴿ "Surga 'Adn," yaitu surga tempat hunian tetap, tidak akan pernah ditinggalkan, tidak akan pernah diganti dan tidak akan lenyap. Hal ini disebabkan oleh luasnya surga itu serta besarnya kuantitas kenikmatan padanya, berupa kebaikan-kebaikan, kegembiraan, kebahagiaan, dan kesenangan, serta keceriaan, ﴾ ٱلَّتِي وَعَدَ ٱلرَّحۡمَٰنُ عِبَادَهُۥ بِٱلۡغَيۡبِۚ ﴿ "yang telah dijanjikan oleh ar-Rahman (Yang Maha Pemurah) kepada hamba-hambaNya, dengan (cara) ghaib," yaitu surga yang dijanjikan oleh ar-Rahman. Allah merang-kaikan kata surga dengan namaNya, ar-Rahman, karena di dalam Surga 'Adn itu terdapat curahan rahmat dan kebaikan yang tidak pernah terlihat mata, tidak pernah terdengar telinga dan tidak terlintas dalam benak manusia. Allah juga menamakan surga ini sebagai rahmatNya. Allah berfirman, ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ ٱبۡيَضَّتۡ وُجُوهُهُمۡ فَفِي رَحۡمَةِ ٱللَّهِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ 107 ﴿ "Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya." (Ali Imran: 107). Begitu pula, pada penggandengan kata surga dengan nama ar-Rahman, terdapat isyarat yang menunjukkan kontinyuitas keba-hagiaan di dalamnya, dan bahwa surga itu abadi dengan keabadian rahmat Allah yang merupakan pengaruh dan konsekuensi rahmat-Nya. Kata اَلْعِبَادُ (hamba-hamba) dalam ayat ini maksudnya adalah hamba dari ketuhanannya (ilahiyah) Allah, yaitu para hamba yang senantiasa beribadah kepada Allah dan konsisten melaksanakan syariatNya. Sehingga اَلْعُبُوْدِيَّةُ (penghambaan diri kepada Allah) men-jadi predikat mereka, sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَعِبَادُ ٱلرَّحۡمَٰنِ …﴿ "Dan hamba-hamba dari Dzat Yang Maha Penyayang itu …." (Al-Furqan: 63), dan ayat-ayat yang semisalnya. Berbeda dengan "para hamba Allah" dalam konteks kepemilikan semata, yang tidak pernah beribadah kepadaNya. Mereka ini meskipun sebagai hamba dari pengaturan (rububiyah) Allah karena Allah telah menciptakan mereka, memberi rizki dan mengatur mereka, namun mereka ini tidak termasuk dalam golongan hamba al-uluhiyah al-ubudiyah al-ikhtiyariyah (hamba yang beribadah karena kemauan sendiri) yang pelakunya berhak mendapatkan pujian. Mereka menghambakan diri karena terpaksa, mereka tidak berhak mendapat pujian sama sekali. Firman Allah, ﴾ بِٱلۡغَيۡبِۚ ﴿ "dengan (cara) ghaib," ada kemungkinan kata ini berhubungan dengan ﴾ وَعَدَ ٱلرَّحۡمَٰنُ ﴿ "yang dijanjikan oleh Dzat Yang Maha Pemurah". Berdasarkan ini, maka pengertiannya adalah bahwa janji Allah untuk memberikan surga kepada mereka itu me-rupakan janji ghaib yang belum pernah mereka saksikan dan lihat. Namun, mereka mengimaninya, meyakini ketidaktampakannya, dan mereka pun berusaha menggapainya dengan sekuat tenaga, padahal mereka belum pernah melihatnya. Lalu, bagaimanakah seandainya mereka pernah melihatnya? Sudah pasti, mereka akan lebih antusias lagi untuk mendapatkannya, lebih termotivasi lagi dan akan lebih giat lagi berusaha. Sehingga ini merupakan pujian bagi mereka dengan sebab keimanan mereka terhadap perkara yang ghaib, yang merupakan keimanan yang bermanfaat. Ada kemungkinan juga, ﴾ بِٱلۡغَيۡبِۚ ﴿ "dengan (cara) ghaib," berkait-an dengan kata عِبَادَهُ (para hambaNya), yakni orang-orang yang ber-ibadah kepadaNya secara ghaib (secara tidak langsung [mengha-dapNya]), dan mereka tidak dapat melihatNya. Inilah ibadah mereka, padahal tidak pernah melihatNya. Seandainya mereka pernah me-lihatNya, maka pasti mereka lebih rajin untuk beribadah kepada-Nya, lebih besar taubat mereka kepadaNya, lebih agung kecintaan dan kerinduan mereka kepadaNya. Ada kemungkinan pengertian ayat ini bahwasanya surga-surga yang dijanjikan oleh Allah kepada para hambaNya termasuk sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh imajinasi-imajinasi (manu-sia) dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Dalam cara (pengungkapan seperti) ini terdapat upaya membangkitkan kerin-duan kepadanya, dan sifat (gambaran) yang masih global yang berpotensi menyulut jiwa-jiwa dan menggairahkan (jiwa yang) diam agar mencarinya. Sehingga ini sama dengan Firman Allah, ﴾ فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 17 ﴿ "Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (As- Sajdah: 17). Semua makna ini benar, akan tetapi kemungkinan pengertian pertama lebih utama. Dalilnya adalah Firman Allah ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ وَعۡدُهُۥ مَأۡتِيّٗا ﴿ "Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditepati," maksudnya pasti terjadi. Sesungguhnya Allah tidak pernah mengingkari janji, dan Allah itu sebenar-benarnya Dzat yang berkata.
(62) ﴾ لَّا يَسۡمَعُونَ فِيهَا لَغۡوًا ﴿ "Mereka tidak mendengar perkataan yang tak berguna di dalam surga," yaitu ucapan sia-sia yang tidak berguna sama sekali, dan juga tidak mendengar ucapan yang mengakibat-kan dosa. Mereka tidak pernah mendengar cercaan, umpatan, dan perkataan yang mengandung maksiat kepada Allah serta perkataan yang mengeruhkan hati ﴾ إِلَّا سَلَٰمٗاۖ ﴿ "kecuali ucapan salam," maksudnya [kecuali] perkataan-perkataan yang terhindar dari segala aib berupa dzikrullah, penghormatan, ungkapan suka cita, kabar gembira, lontaran ucapan yang baik antara sesama kawan, mendengar pem-bicaraan ar-Rahman, dan suara-suara yang merdu dari para bida-dari, malaikat dan anak-anak kecil, nada-nada berdendang, serta suara-suara yang lembut. Karena memang tempat itu adalah Darussalam (tempat keselamatan). Maka, tidak ada sesuatu pun di sana kecuali keselamatan yang sempurna dari segala sudut aspek. ﴾ وَلَهُمۡ رِزۡقُهُمۡ فِيهَا بُكۡرَةٗ وَعَشِيّٗا 62 ﴿ "Mereka mendapatkan rizkinya di surga itu tiap-tiap pagi dan petang," maksudnya limpahan rizki mereka berupa makanan, minuman serta beraneka ragam kenikmatan, berkesinam-bungan terus-menerus di mana pun mereka minta, dan kapan pun mereka inginkan. Dan di antara bentuk kesempurnaan rizki, kenik-matan, serta kebaikan surga adalah keberadaannya (yang selalu siap sedia) pada waktu-waktu tertentu "pagi dan petang," supaya kenikmatan-kenikmatan itu betul-betul dirasa besar keberadaannya dan fungsi kemanfaatannya pun lebih maksimal.
(63) ﴾ تِلۡكَ ٱلۡجَنَّةُ ﴿ "Itulah surga-surga," yang telah Kami terang-kan dengan (karakteristik yang sudah) disebutkan i t u ﴾ ٱلَّتِي نُورِثُ مِنۡ عِبَادِنَا مَن كَانَ تَقِيّٗا 63 ﴿ "yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa," maksudnya Kami mewariskannya bagi orang-orang yang bertakwa, menjadikan surga itu sebagai tempat tinggal mereka yang abadi, yang mereka tidak akan pergi darinya, dan tidak berminat untuk mencari ganti. Sebagaimana Allah تعالى ber-firman, ﴾ وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ 133 ﴿ "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (Ali Imran: 133).
Page 309
19:52
وَنَٰدَيۡنَٰهُ مِن جَانِبِ ٱلطُّورِ ٱلۡأَيۡمَنِ وَقَرَّبۡنَٰهُ نَجِيّٗا ٥٢
And We called him from the side of the mount1 at [his] right and brought him near, confiding [to him].
1 translator’s note
- Mount Sinai. ↩
19:53
وَوَهَبۡنَا لَهُۥ مِن رَّحۡمَتِنَآ أَخَاهُ هَٰرُونَ نَبِيّٗا ٥٣
And We gave him out of Our mercy his brother Aaron as a prophet.
19:54
وَٱذۡكُرۡ فِي ٱلۡكِتَٰبِ إِسۡمَٰعِيلَۚ إِنَّهُۥ كَانَ صَادِقَ ٱلۡوَعۡدِ وَكَانَ رَسُولٗا نَّبِيّٗا ٥٤
And mention in the Book, Ishmael. Indeed, he was true to his promise, and he was a messenger and a prophet.
19:55
وَكَانَ يَأۡمُرُ أَهۡلَهُۥ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِۦ مَرۡضِيّٗا ٥٥
And he used to enjoin on his people prayer and zakāh and was to his Lord pleasing [i.e., accepted by Him].
19:56
وَٱذۡكُرۡ فِي ٱلۡكِتَٰبِ إِدۡرِيسَۚ إِنَّهُۥ كَانَ صِدِّيقٗا نَّبِيّٗا ٥٦
And mention in the Book, Idrees. Indeed, he was a man of truth and a prophet.
19:57
وَرَفَعۡنَٰهُ مَكَانًا عَلِيًّا ٥٧
And We raised him to a high station.
19:58
أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ مِن ذُرِّيَّةِ ءَادَمَ وَمِمَّنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوحٖ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡرَٰٓءِيلَ وَمِمَّنۡ هَدَيۡنَا وَٱجۡتَبَيۡنَآۚ إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُ ٱلرَّحۡمَٰنِ خَرُّواْۤ سُجَّدٗاۤ وَبُكِيّٗا۩ ٥٨
Those were the ones upon whom Allāh bestowed favor from among the prophets of the descendants of Adam and of those We carried [in the ship] with Noah, and of the descendants of Abraham and Israel [i.e., Jacob], and of those whom We guided and chose. When the verses of the Most Merciful were recited to them, they fell in prostration and weeping.
19:59
۞ فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ أَضَاعُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُواْ ٱلشَّهَوَٰتِۖ فَسَوۡفَ يَلۡقَوۡنَ غَيًّا ٥٩
But there came after them successors [i.e., later generations] who neglected prayer and pursued desires; so they are going to meet evil1 -
1 translator’s note
- Described as a valley in Hell or may be rendered "the consequence of error." ↩
19:60
إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَأُوْلَٰٓئِكَ يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ وَلَا يُظۡلَمُونَ شَيۡـٔٗا ٦٠
Except those who repent, believe and do righteousness; for those will enter Paradise and will not be wronged at all.
19:61
جَنَّٰتِ عَدۡنٍ ٱلَّتِي وَعَدَ ٱلرَّحۡمَٰنُ عِبَادَهُۥ بِٱلۡغَيۡبِۚ إِنَّهُۥ كَانَ وَعۡدُهُۥ مَأۡتِيّٗا ٦١
[Therein are] gardens of perpetual residence which the Most Merciful has promised His servants in the unseen. Indeed, His promise has ever been eminent.1
1 translator’s note
- Literally, "that to which all will come." ↩
19:62
لَّا يَسۡمَعُونَ فِيهَا لَغۡوًا إِلَّا سَلَٰمٗاۖ وَلَهُمۡ رِزۡقُهُمۡ فِيهَا بُكۡرَةٗ وَعَشِيّٗا ٦٢
They will not hear therein any ill speech - only [greetings of] peace - and they will have their provision therein, morning and afternoon.
19:63
تِلۡكَ ٱلۡجَنَّةُ ٱلَّتِي نُورِثُ مِنۡ عِبَادِنَا مَن كَانَ تَقِيّٗا ٦٣
That is Paradise, which We give as inheritance to those of Our servants who were fearing of Allāh.
19:64
وَمَا نَتَنَزَّلُ إِلَّا بِأَمۡرِ رَبِّكَۖ لَهُۥ مَا بَيۡنَ أَيۡدِينَا وَمَا خَلۡفَنَا وَمَا بَيۡنَ ذَٰلِكَۚ وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيّٗا ٦٤
[Gabriel said],1 "And we [angels] descend not except by the order of your Lord. To Him belongs that before us and that behind us and what is in between. And never is your Lord forgetful -
1 translator’s note
- In answer to the Prophet's wish that Gabriel would visit him more often. ↩