Ас-СаадиАль‑Бакара · 2:1–16

Ас-Саади · Тафсир · на индонезийском

البقرة

Аль-Бакара

Корова · Мединская · 286 аятов

2:1–5Страница 2

الٓمٓ ١

Алиф. Лам. Мим.

ذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ لَا رَيۡبَۛ فِيهِۛ هُدٗى لِّلۡمُتَّقِينَ ٢

Это Писание, в котором нет сомнения, является верным руководством для богобоязненных,

ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ٣

которые веруют в сокровенное, совершают намаз и расходуют из того, чем Мы их наделили,

وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ وَبِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ يُوقِنُونَ ٤

которые веруют в ниспосланное тебе и ниспосланное до тебя и убеждены в Последней жизни.

أُوْلَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدٗى مِّن رَّبِّهِمۡۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٥

Они следуют верному руководству от их Господа, и они являются преуспевшими.

"Alif lam mim. Kitab (al-Qur`an) ini tidak ada keraguan pada-nya; petunjuk (hidayah) bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan me-nafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur`an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan se-belummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung." (Al-Baqarah: 1-5).

Madaniyah

Telah berlalu pembahasan tentang makna basmalah.

(1) Huruf-huruf yang terpenggal-penggal di setiap awal surat, lebih baik membiarkannya dan tidak mencoba-coba mencari makna-maknanya tanpa ada sandaran yang syar'i, dan diiringi dengan keyakinan yang kuat bahwasanya Allah تعالى tidak menurunkannya dengan sia-sia, akan tetapi menyimpan hikmah yang tidak kita ke-tahui.

(2) FirmanNya, ﴾ ذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ ﴿ "Kitab itu," yakni kitab suci yang agung ini dalam arti hakiki, yang mengandung hal-hal yang tidak dikandung oleh kitab-kitab terdahulu maupun sekarang berupa ilmu yang agung dan kebenaran yang nyata, ﴾ لَا رَيۡبَۛ فِيهِۛ ﴿ "tidak ada keraguan padanya," dan juga tidak ada kebimbangan padanya dalam bentuk apa pun. Meniadakan keraguan dari kitab ini mengharuskan apa yang bertentangan dengannya, di mana hal yang bertentangan dengan hal itu adalah keyakinan, maka kitab ini mengandung ilmu keyakinan yang menghapus segala bentuk keraguan dan kebim-bangan. Ini merupakan suatu kaidah yang menunjukkan bahwa peni-adaan di sini maksudnya adalah pujian yang harus melingkupi hal yang bertentangan dengannya yaitu kesempurnaan, karena penia-daan adalah suatu yang tidak ada, sedangkan hal yang tiada secara murni itu tidak ada pujian padanya. Dan karena Kitab suci ini me-ngandung keyakinan sedangkan hidayah itu tidaklah akan dapat diperoleh kecuali dengan keyakinan, maka Allah berfirman,﴾ هُدٗى لِّلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Petunjuk (hidayah) bagi mereka yang bertakwa." Hidayah itu ada-lah suatu yang memberikan hidayah dari kesesatan dan kesamaran, dan (sebaliknya) membimbing untuk menempuh jalan yang berguna. Allah berfirman di sini, ﴾ هُدٗى ﴿ "Petunjuk" dan tidak merinci bentuk petunjuknya, Dia tidak berfirman, "petunjuk untuk kemas-lahatan ini atau untuk kepentingan begini," karena yang dimaksud adalah keumuman (mencakup semua maslahat dan kebaikan), dan bahwasanya ia adalah petunjuk untuk seluruh kemaslahatan kedua negeri, ia adalah pembimbing bagi hamba dalam masalah-masalah ushul (pokok) dan masalah-masalah furu' (cabang), pemberi penje-lasan untuk kebenaran dari kebatilan, dan yang shahih dari yang lemah, dan pemberi penjelasan bagi mereka tata cara menempuh jalan yang berguna bagi mereka di dunia dan akhirat mereka. Allah berfirman pada tempat yang lain, ﴾ هُدٗى لِّلنَّاسِ ﴿ "Petunjuk bagi manusia." (Al-Baqarah: 185). Ini juga umum mencakup semua (untuk seluruh manusia), se-dangkan pada pembahasan ini dan yang selainnya adalah ﴾ هُدٗى لِّلۡمُتَّقِينَ ﴿ "petunjuk bagi mereka yang bertakwa," karena sesungguhnya dalam hal itu sendiri telah bermakna petunjuk bagi seluruh manusia, sedangkan orang-orang yang celaka tidak memperhatikan hal itu dan mereka tidak menerima petunjuk Allah, maka dengan petunjuk ini, hujjah telah ditegakkan atas mereka, dan mereka tidak mengambil manfaat dengannya, dikarenakan mereka adalah orang-orang celaka. Orang-orang yang bertakwa ialah orang-orang yang melakukan sebab yang terbesar demi memperoleh petunjuk yaitu ketakwaan, yang mana hakikatnya adalah menjalankan perkara yang dapat me-lindungi dari kemurkaan Allah dan azabNya dengan cara menger-jakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, lalu mereka mengambil petunjuk dengan itu dan mengambil manfaat darinya dengan sebenar-benarnya. Allah q berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَتَّقُواْ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّكُمۡ فُرۡقَانٗا ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan (petunjuk yang dapat membedakan yang haq dan yang batil)." (Al-Anfal: 29). Maka orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang me-ngambil manfaat dengan ayat-ayat al-Qur`an dan ayat-ayat kauni-yah, juga karena hidayah itu ada dua macam; hidayah penjelasan, dan hidayah taufik. Maka orang-orang yang bertakwa mendapat-kan kedua hidayah tersebut sedangkan selain dari mereka tidak mendapatkan hidayah taufik, karena hidayah penjelasan tanpa mendapat hidayah taufik untuk mengamalkannya bukan merupa-kan hidayah secara hakiki dan sempurna.

Kemudian Allah menggambarkan ciri orang-orang yang ber-takwa tersebut, yaitu memiliki keyakinan-keyakinan dan amalan-amalan batin serta amalan-amalan lahir, karena ketakwaan memang mencakup semua itu seraya berfirman,

(3) ﴾ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ ﴿ "Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib." Hakikat keimanan adalah pembenaran yang total terhadap apa pun yang dikabarkan oleh para Rasul, yang meliputi ketundukan ang-gota tubuh. Perkara keimanan itu tidak hanya kepada hal-hal yang dapat diperoleh oleh panca indera semata, karena hal ini tidaklah mampu membedakan antara seorang Muslim dengan seorang kafir, namun perkara yang dianggap dalam keimanan kepada yang ghaib adalah yang tidak kita lihat dan tidak kita saksikan, namun kita hanya mengimaninya saja karena ada kabar dari Allah dan kabar dari RasulNya ﷺ. Inilah keimanan yang mampu membedakan antara seorang Muslim dengan seorang kafir, karena itulah pembenaran yang utuh terhadap Allah dan Rasul-rasulNya. Maka seorang yang beriman adalah yang mengimani segala sesuatu yang dikabarkan oleh Allah atau yang dikabarkan oleh RasulNya, baik yang dia saksikan atau-pun tidak, baik dia mampu memahami dan masuk dalam akalnya, ataupun akal dan pemahamannya tidak mampu mencernanya. Berbeda dengan orang-orang atheis yang mendustakan[2] perkara-perkara ghaib, karena akal-akal mereka yang terbatas lagi lalai tidak sampai kepadanya, akhirnya mereka mendustakan apa yang tidak mampu dipahami oleh ilmu mereka, yang pada akhirnya rusaklah akal-akal mereka, sia-sialah harapan mereka, dan (sebaliknya) ber-sihlah akal kaum Mukminin yang membenarkan lagi mengambil hidayah dengan petunjuk Allah. Dan termasuk dalam keimanan kepada yang ghaib adalah keimanan kepada seluruh kabar yang diberitakan oleh Allah dari hal-hal ghaib yang terdahulu maupun yang akan datang, kondisi-kondisi Hari Akhirat, hakikat sifat-sifat Allah dan bentuk-bentuk-nya, dan kabar yang diberikan oleh RasulNya tentang semua itu; di mana mereka beriman kepada sifat-sifat Allah dan keberadaannya, dan mereka meyakininya walaupun mereka tidak mampu mema-hami cara dan bentuknya. Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Yang mendirikan shalat." Dia tidak berfirman, yang mengerjakan shalat, atau menjalankan shalat, karena sesungguhnya tidaklah cukup hanya sekedar men-jalankan dengan bentuknya yang lahir saja, karena mendirikan shalat yang dimaksud adalah mendirikan shalat secara lahir dengan menyempurnakan rukun-rukunnya, wajib-wajibnya, dan syarat-syaratnya, dan juga mendirikannya secara batin dengan mendirikan ruhnya yaitu dengan menghadirkan hati padanya, merenungi apa yang dibaca dan mengamalkannya. Maka shalat inilah yang dise-butkan dalam Firman Allah تعالى, ﴾ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ ﴿ "Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar." (Al-Ankabut: 45). Yaitu shalat yang memperoleh ganjaran. Maka tidak ada ganjaran bagi seorang hamba dari shalatnya kecuali apa yang dia pahami darinya, dan termasuk dalam shalat di sini adalah yang wajib maupun yang sunnah. Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ﴿ "Dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka." Termasuk di dalamnya nafkah-nafkah yang wajib, seperti zakat, nafkah atas istri, keluarga dan para budak dan sebagainya, dan nafkah-nafkah yang dicintai dengan segala jalan kebaikan. Dan tidak disebutkan-nya hal-hal yang diinfakkan karena banyaknya sebab-sebabnya dan bermacam-macam penerimanya, dan karena nafkah itu pada dasarnya adalah sebuah ibadah kepada Allah. Dia juga disebutkan dengan kata "dari" yang menunjukkan makna sebagian, demi untuk mengingatkan mereka bahwasanya Allah tidak menghendaki dari mereka kecuali sebagian kecil saja dari harta-harta mereka yang tidak akan memudaratkan mereka dan tidak akan pula memberat-kan mereka, bahkan mereka akan mengambil manfaat dari infak mereka tersebut, dan saudara-saudara mereka juga akan dapat mengambil manfaat darinya. Dan dalam Firman Allah, ﴾ رَزَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "Rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka," terkandung sebuah isyarat bahwa harta yang ada di hadapanmu ini tidaklah diperoleh dari kekuatan dan kepemilikanmu, akan tetapi itu semua adalah rizki Allah yang dianugerahkan kepada kalian dan diberikanNya nikmat itu atas kalian. Maka karena nikmat yang diberikan oleh Allah atas kalian dan kemurahanNya terhadap kalian dibanding banyak hamba-hambaNya yang lain, maka bersyukurlah kepada-Nya dengan mengeluarkan sebagian nikmat yang diberikan atas kalian tersebut, dan hiburlah saudara-saudara kalian yang tidak memilikinya. Dan sangatlah banyak sekali Allah menyatukan (menyanding-kan) shalat dengan zakat dalam al-Qur`an, karena shalat itu mengan-dung keikhlasan hanya kepada Dzat yang disembah, sedangkan zakat dan nafkah mengandung berbuat baik kepada sesama hamba-hambaNya. Maka tanda dari kebahagiaan seorang hamba adalah keikhlasannya kepada Dzat yang disembah dan usahanya dalam memberikan manfaat kepada manusia, sebagaimana tanda keseng-saraan seorang hamba adalah tidak adanya kedua perkara tersebut pada dirinya, tidak ada keikhlasan dan tidak pula perbuatan baik kepada sesama.

(4) Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ ﴿ "Dan me-reka yang beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu" yaitu al-Qur`an dan as-Sunnah. Allah q berfirman, ﴾ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan Allah telah menurunkan al-Kitab (al-Qur`an) dan al-Hikmah (as-Sunnah) kepadamu." (An-Nisa`: 113), Maka orang-orang yang bertakwa itu beriman kepada seluruh perkara yang datang dari Rasul, dan mereka tidak membeda-be-dakan antara sebagian dengan lainnya dari apa yang diturunkan kepadanya, di mana dia beriman dengan sebagiannya, dan tidak beriman dengan sebagiannya, baik dengan cara mengingkarinya atau dengan mentakwilkannya dari maksud yang dikehendaki oleh Allah dan RasulNya sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang melakukan bid'ah yang mentakwilkan nash-nash yang bertentangan dengan pendapat mereka, yang pada implikasinya tidak mempercayai makna-maknanya walaupun mereka memper-cayai kata-katanya, sehingga (hakikatnya) mereka tidak beriman kepadanya secara hakiki. Dan FirmanNya, ﴾ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ ﴿ "Dan apa yang telah diturunkan se-belummu," meliputi keimanan kepada seluruh kitab-kitab terdahulu, dan keimanan kepada kitab-kitab mencakup keimanan kepada Ra-sul-rasul dan kepada hal-hal yang meliputinya, khususnya Taurat, Injil, dan Zabur. Dan ini adalah keistimewaan kaum Mukminin yang beriman kepada kitab-kitab langit seluruhnya, dan kepada seluruh Rasul-rasul, dan mereka tidak membeda-bedakan salah satu di antara mereka. Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَبِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ يُوقِنُونَ ﴿ "Serta mereka yakin akan adanya akhirat." Akhirat adalah sebuah nama bagi kehidupan yang ada setelah kematian, dan disebutkannya secara khusus sete-lah kata yang umum, adalah karena keimanan kepada Hari Akhirat termasuk salah satu dari rukun iman, dan karena merupakan pen-dorong yang paling besar dalam hal harapan, kekhawatiran dan beramal. Sedangkan keyakinan adalah ilmu yang sempurna yang padanya tidak ada keraguan sedikit pun, yang membuahkan per-buatan.

(5) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," yaitu yang bersifat dengan sifat-sifat terpuji tersebut ﴾ عَلَىٰ هُدٗى مِّن رَّبِّهِمۡۖ ﴿ "yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka," yakni yang tetap di atas petunjuk yang besar; karena pemakaian kata yang tidak terbatas (nakirah) adalah untuk ung-kapan mengagungkan. Dan hidayah apalagi yang lebih agung dari sifat-sifat yang telah disebutkan yang mengandung keyakinan yang benar dan perbuatan-perbuatan yang lurus? Pada hakikatnya hidayah itu hanya seperti hidayah yang ada pada mereka tersebut, sedangkan apa-apa yang bertentangan dengan itu adalah kesesatan. Dan dipakai kata عَلَى (di atas) dalam posisi kalimat di sini menun-jukkan pada ketinggian, adapun dalam posisi kata kesesatan me-makai kata فِيْ (di dalam) sebagaimana dalam FirmanNya, ﴾ وَإِنَّآ أَوۡ إِيَّاكُمۡ لَعَلَىٰ هُدًى أَوۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ 24 ﴿ "Dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik) pasti berada di atas kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata." (Saba`: 24). Hal itu karena ahli hidayah adalah tinggi dengan hidayah tersebut adapun ahli kesesatan yang tenggelam di dalamnya adalah terhina. Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Dan merekalah orang-orang yang beruntung." Keberuntungan adalah memperoleh hal yang diinginkan dan selamat dari hal yang dikhawatirkan. Pembatasan keberuntungan hanya pada mereka, karena tidak ada jalan menuju kepada keberuntungan kecuali dengan menempuh jalan mereka tadi, dan jalan-jalan selain jalan tersebut, maka itu semua adalah jalan kesengsaraan, kehancuran, dan kerugian yang akan menjerumuskan penempuhnya kepada kebinasaan. Oleh karena itu, ketika Allah menyebutkan sifat-sifat kaum Mukminin yang hakiki, Dia menyebutkan pula sifat-sifat kaum kafir yang menampakkan kekufuran mereka yang durhaka kepada Rasul seraya berfirman,

2:6–7Страница 3

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ٦

Воистину, неверующим безразлично, предостерег ты их или не предостерег. Они все равно не уверуют.

خَتَمَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ وَعَلَىٰ سَمۡعِهِمۡۖ وَعَلَىٰٓ أَبۡصَٰرِهِمۡ غِشَٰوَةٞۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ٧

Аллах запечатал их сердца и слух, а на глазах у них - покрывало. Им уготованы великие мучения.

"Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci mati hati dan pen-dengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat." (Al-Baqarah: 6-7).

(6) Allah تعالى mengabarkan, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang kafir," yakni mereka yang bersifat dengan kekufuran dan terwarnai dengannya, lalu menjadi sifat yang lazim bagi mereka, di mana tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi mereka darinya; nasihat tidak berguna pada mereka dan mereka selalu tetap dalam kekufuran mereka, maka sama saja bagi mereka, ﴾ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman." Hakikat kekufuran adalah mengingkari sesuatu yang datang dari Rasul atau mengingkari sebagiannya. Tidak akan ada man-faatnya dakwah bagi orang-orang kafir itu, kecuali hanya sebatas menegakkan hujjah atas mereka, seolah-olah dalam hal ini hanya pemutus bagi keinginan kuat Rasulullah dalam mewujudkan keimanan mereka, dan bahwasanya kamu jangan bersedih hati untuk mereka, dan bahwasanya dirimu tidak boleh berputus asa terhadap mereka.

Kemudian Allah q menyebutkan beberapa penghalang yang menghalangi mereka dari keimanan, seraya berfirman,

(7) ﴾ خَتَمَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ وَعَلَىٰ سَمۡعِهِمۡۖ ﴿ "Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka," yakni menutupnya dengan penutup yang tidak dapat dimasuki oleh keimanan dan tidak bisa ditembus, sehingga mereka tidak memahami apa yang berguna bagi mereka dan apa-apa yang mereka dengarkan tidak bermanfaat untuk mereka ﴾ وَعَلَىٰٓ أَبۡصَٰرِهِمۡ غِشَٰوَةٞۖ ﴿ "dan penglihatan mereka ditutup," yakni pelapis, penutup, dan penghalang yang menghalangi mereka dari melihat yang ber-guna bagi mereka, dan jalan-jalan ilmu dan kebaikan telah ditutup bagi mereka, tidak ada keinginan pada mereka dan tidak ada kebaikan yang diharapkan pada mereka. Mereka telah dihalangi dan ditutup bagi mereka pintu-pintu keimanan, disebabkan oleh kekufuran dan pengingkaran mereka serta keras kepala mereka setelah jelas bagi mereka kebenaran itu, sebagaimana Allah  ber-firman, ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ ﴿ "Dan Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti me-reka belum pernah beriman kepadanya pada permulaannya." (Al-An'am: 110). Dan ini hanyalah hukuman yang sekarang, kemudian Allah menyebutkan hukuman yang akan datang seraya berfirman, ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "Dan bagi mereka siksa yang amat pedih" yakni azab api neraka, kemurkaan yang Mahaperkasa yang terus menerus dan selamanya.

Kemudian Allah berfirman tentang sifat orang-orang muna-fik yang menampakkan keislaman mereka, padahal batin mereka kafir,

2:8–10Страница 3

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ ٨

Среди людей есть такие, которые говорят: «Мы уверовали в Аллаха и в Последний день». Однако они суть неверующие.

يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَمَا يَخۡدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡ وَمَا يَشۡعُرُونَ ٩

Они пытаются обмануть Аллаха и верующих, но обманывают только самих себя и не осознают этого.

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضٗاۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمُۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ ١٠

Их сердца поражены недугом. Да усилит Аллах их недуг! Им уготованы мучительные страдания за то, что они лгали.

"Di antara manusia ada yang mengatakan, 'Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian,' padahal mereka itu sesung-guhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya me-nipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambah penyakitnya; dan bagi me-reka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta." (Al-Baqarah: 8-10).

(8-9) Ketahuilah bahwasanya kemunafikan itu adalah me-nampakkan kebaikan dan menyembunyikan kejahatan, termasuk dalam definisi ini kemunafikan i'tiqad dan kemunafikan amaliah. Kemunafikan amaliah adalah seperti yang disebutkan oleh Nabi ﷺ dalam sabda beliau, آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ. وَفِيْ رِوَايَةٍ: وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ. "Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: Apabila berbicara dia berdusta, bila berjanji dia mengingkarinya, dan bila diberikan amanat dia berkhianat." Dan dalam riwayat lain, "Dan bila berperkara dia berlaku curang."[3] Adapun kemunafikan i'tiqadiyah yang mengeluarkan sese-orang dari Islam yaitu yang Allah تعالى sebutkan sebagai sifat-sifat kaum munafikin dalam surat ini dan surat lainnya. Kemunafikan ini belumlah muncul sebelum hijrahnya Nabi ﷺ dari Makkah me-nuju Madinah bahkan juga setelah hijrah hingga setelah kejadian perang Badar, dan Allah memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin dan memuliakan mereka, dan menghinakan orang-orang yang ada di Madinah dari mereka yang belum masuk Islam, lalu sebagian mereka menampakkan keislaman mereka karena takut dan sebagai tipu daya, dan untuk menjaga darah dan harta mereka, di mana mereka-mereka ini bersama kaum Muslimin secara lahi-riyah, mereka menampakkan bahwa mereka adalah bagian kaum Muslimin, padahal pada hakikatnya mereka bukanlah dari kaum Muslimin. Maka sebagai tindakan kelembutan Allah bagi kaum Muk-minin adalah bahwa Allah memperlihatkan kondisi-kondisi mereka, dan menggambarkan mereka dengan sifat-sifat yang membedakan jati diri mereka, agar kaum Mukminin tidak terpedaya oleh mereka, dan mampu mengendalikan kejahatan-kejahatan mereka. Allah تعالى berfirman, ﴾ يَحۡذَرُ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ أَن تُنَزَّلَ عَلَيۡهِمۡ سُورَةٞ تُنَبِّئُهُم بِمَا فِي قُلُوبِهِمۡۚ ﴿ "Orang-orang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka suatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka." (At-Taubah: 64). Lalu Allah menyifati mereka dengan sifat dasar kemunafikan seraya berfirman, ﴾ وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Di antara manusia ada yang mengatakan, 'Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian,' padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman," karena mereka mengatakan dengan lisan mereka apa yang tidak ada dalam hati mereka, lalu Allah mendustakan mereka dengan berfirman, ﴾ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman," karena keimanan yang hakiki itu adalah sesuatu yang disepakati oleh hati dan lisan. Sesungguhnya hal yang tadi itu adalah tipu daya terhadap Allah dan hamba-hambaNya yang beriman. Dan tipu daya itu adalah bahwa si pelaku tipu daya itu menampakkan sesuatu kepada orang yang diperdayai dan dia menyembunyikan hal yang berbeda dengannya demi memperoleh apa yang diinginkannya dari orang yang diperdayai tersebut. Dan inilah yang dilakukan orang-orang munafik tersebut terhadap Allah dan hamba-hambaNya, sehingga tipu daya mereka tersebut kembali kepada diri mereka sendiri. Ini adalah suatu perkara yang mengherankan sekali, karena biasanya seorang pelaku tipu daya itu kondisinya bisa jadi akan memperoleh apa yang menjadi tujuannya atau dia selamat yang mana dia tidak mendapatkan apa-apa dan tidak rugi apa-apa juga, namun lain halnya tipu daya orang-orang munafik ini, ia malah kembali kepada diri mereka sendiri. Oleh karena itu, seolah-olah mereka itu melakukan suatu makar untuk menghancurkan diri mereka sendiri, membahayakan dan menipu diri mereka, karena Allah tidaklah tersentuh oleh mudarat sedikitpun dari tipu daya mereka, demikian juga hamba-hambaNya yang beriman, mereka tidak tersentuh oleh mudarat sedikit pun dari tipu daya mereka. Maka tindakan kaum munafik menampakkan keimanan mereka tidak membawa dampak bagi kaum Muslimin, hingga selamatlah dengan hal itu harta-harta mereka, dan terjaga darah-darah mereka, dan tipu daya mereka kembali kepada leher-leher mereka, hingga dengan demikian mereka mendapatkan kehinaan dan cela di dunia, serta kemalangan yang terus-menerus yang disebabkan oleh apa yang diperoleh kaum Mukminin berupa kekuatan dan kemenangan, kemudian pada Hari Akhir nanti mereka mendapatkan azab yang pedih lagi menyakitkan dan menyerikan disebabkan oleh pendus-taan, kekufuran, dan kejahatan mereka, dan keadaannya saat ini adalah bahwa mereka dengan kebodohan dan kedunguan yang ada pada mereka, mereka tidak menyadari hal tersebut.

(10) FirmanNya, ﴾ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Dalam hati mereka ada penya-kit." Yang dimaksud dengan penyakit di sini adalah penyakit kera-guan, syubhat, dan kemunafikan. Hal itu dikarenakan hati itu dihadapkan oleh dua penyakit yang menyebabkannya jauh dari kesehatannya dan kenormalannya, yaitu penyakit syubhat yang batil dan penyakit syahwat yang menjerumuskan. Kekufuran, kemunafikan, keragu-raguan, dan semua bid'ah-bid'ah itu adalah penyakit-penyakit syubhat, sedangkan perzinaan, suka akan ke-kejian dan menyukai kemaksiatan serta melakukannya, adalah di antara penyakit-penyakit syahwat, sebagaimana Allah berfirman, ﴾ فَيَطۡمَعَ ٱلَّذِي فِي قَلۡبِهِۦ مَرَضٞ وَقُلۡنَ قَوۡلٗا مَّعۡرُوفٗا 32 ﴿ "... sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hati-nya." (Al-Ahzab: 32). Yakni, syahwat zina. Dan orang yang selamat adalah orang yang diselamatkan dari kedua penyakit tersebut, hingga terwujud-lah baginya keyakinan, keimanan, dan kesabaran dari setiap ke-maksiatan lalu dia berjalan dalam pakaian-pakaian keselamatan. Dan FirmanNya tentang kaum munafikin, ﴾ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضٗاۖ ﴿ "Dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambah penyakit-nya," adalah sebuah penjelasan tentang hikmah Allah تعالى terhadap penentuan kemaksiatan atas pelaku-pelakunya dan bahwasanya hal itu disebabkan dosa-dosa mereka yang terdahulu. Allah menguji mereka dengan kemaksiatan yang terjadi kemudian yang mengaki-batkan hukuman, sebagaimana Allah berfirman, ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ ﴿ "Dan Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti me-reka belum pernah beriman kepadanya pada permulaannya." (Al-An'am: 110). Dan Allah تعالى berfirman, ﴾ فَلَمَّا زَاغُوٓاْ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡۚ ﴿ "Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memaling-kan hati mereka." (Ash-Shaffat: 5). Dan Allah تعالى juga berfirman, ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَتۡهُمۡ رِجۡسًا إِلَىٰ رِجۡسِهِمۡ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambahlah kekafiran mereka." (At-Taubah: 125). Maka hukuman bagi kemaksiatan adalah kemaksiatan sete-lahnya, sebagaimana juga balasan kebaikan adalah kebaikan sete-lahnya. Allah تعالى berfirman, ﴾ وَيَزِيدُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ٱهۡتَدَوۡاْ هُدٗىۗ ﴿ "Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk." (Maryam: 76).

2:11–12Страница 3

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ قَالُوٓاْ إِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُونَ ١١

Когда им говорят: «Не распространяйте нечестия на земле!». - они отвечают: «Только мы и устанавливаем порядок».

أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡمُفۡسِدُونَ وَلَٰكِن لَّا يَشۡعُرُونَ ١٢

Воистину, именно они распространяют нечестие, но они не осознают этого.

"Dan bila dikatakan kepada mereka, 'Janganlah kamu mem-buat kerusakan di muka bumi.' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan.' Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar." (Al-Baqarah: 11-12).

(11) Maksudnya, apabila mereka (orang-orang munafik) di-larang berbuat kerusakan di atas bumi yaitu melakukan kekufuran dan kemaksiatan, dan di antara perbuatan itu adalah menyebar-luaskan rahasia-rahasia kaum Mukminin kepada musuh-musuh mereka dan memberikan loyalitas mereka (orang-orang munafik) itu kepada orang-orang kafir, ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُونَ ﴿ "mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan'." Sehingga mereka mengumpulkan antara merusak di muka bumi dan sikap menampakkan bahwa itu bukanlah suatu tindakan pengrusakan, akan tetapi hal itu adalah perbaikan, sebagai suatu pemutarbalikan fakta dan penyatuan antara perbuatan batil dengan keyakinan bahwa hal itu benar. Mereka itu lebih besar kejahatan-nya daripada orang yang melakukan kemaksiatan dengan keya-kinan akan keharamannya, maka yang terakhir ini lebih dekat kepada keselamatan dan lebih diharapkan untuk bertaubat. Dan ketika perkataan mereka, ﴾ إِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan," ini adalah suatu pembatasan terhadap perbaikan hanya dari pihak mereka -dan termasuk di dalamnya bahwa kaum Mukminin bukanlah dari orang-orang yang melakukan perbaikan-, maka Allah membalikkan anggapan mereka atas mereka dengan FirmanNya,

(12) ﴾ أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡمُفۡسِدُونَ ﴿ "Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan," karena tidak ada yang lebih besar pengrusakannya daripada orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, menghalangi dari jalan Allah, menipu Allah dan para kekasihNya, dan (justru sebaliknya) mereka mencintai orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya, dan dengan itu semua dia mengklaim bahwa hal itu adalah perbaikan, lalu apakah setelah kerusakan ini ada kerusakan yang lebih besar lagi? Akan tetapi mereka tidak mengetahui ilmu yang bermanfaat bagi diri mereka walaupun mereka terkadang telah mengetahui ilmu tersebut, namun hal itu adalah tanda telah ditegakkannya hujjah Allah atas mereka. Sesungguhnya perbuatan kemaksiatan mereka di atas muka bumi adalah pengrusakan karena menjadi penyebab dari kerusakan segala hal yang ada di atas muka bumi berupa biji-bijian, buah-buahan, pepohonan, dan tumbuh-tumbuhan, di mana terjadi ke-rusakan-kerusakan yang disebabkan oleh kemaksiatan, dan juga karena perbaikan di muka bumi adalah dengan memakmurkan-nya dengan ketaatan kepada Allah dan beriman kepadaNya. Oleh karena itu Allah menciptakan makhluk dan menetapkannya di bumi, menentukan rizki bagi mereka agar mereka memanfaatkan-nya untuk taat kepada Allah dan beribadah kepadaNya, dan bila dilakukan di atas bumi ini hal yang bertentangan dengan itu, maka hal itu adalah usaha melakukan kerusakan padanya dan penghan-curan baginya dari hal yang menjadi tujuan dia diciptakan.

2:13Страница 3

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ ءَامِنُواْ كَمَآ ءَامَنَ ٱلنَّاسُ قَالُوٓاْ أَنُؤۡمِنُ كَمَآ ءَامَنَ ٱلسُّفَهَآءُۗ أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلسُّفَهَآءُ وَلَٰكِن لَّا يَعۡلَمُونَ ١٣

Когда им говорят: «Уверуйте так, как уверовали люди», - они отвечают: «Неужели мы уверуем так, как уверовали глупцы?». Воистину, именно они являются глупцами, но они не знают этого.

"Apabila dikatakan kepada mereka, 'Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman.' Mereka menjawab, 'Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?' Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh itu; tetapi mereka tidak tahu." (Al-Baqarah: 13).

(13) Maksudnya, bila dikatakan kepada orang-orang muna-fik, ﴾ ءَامِنُواْ كَمَآ ءَامَنَ ٱلنَّاسُ ﴿ "Berimanlah seperti orang-orang beriman," yakni seperti berimannya para sahabat رضي الله عنهم, yaitu keimanan dengan hati dan lisan, maka mereka berkata dengan sangkaan mereka yang batil, ﴾ أَنُؤۡمِنُ كَمَآ ءَامَنَ ٱلسُّفَهَآءُۗ ﴿ "Apakah kami akan beriman seperti berimannya orang-orang yang bodoh itu?" Maksud mereka -semoga Allah mem-burukkan mereka- adalah para sahabat رضي الله عنهم, karena dugaan mereka bahwasanya kebodohan mereka yang menyebabkan mereka untuk beriman, meninggalkan negeri, dan memusuhi kaum kafir, se-dangkan akal menurut mereka adalah berlawanan dengan hal itu. Mereka menisbatkan para sahabat kepada kebodohan, dan kan-dungan statemen tersebut adalah bahwa merekalah orang-orang yang pintar (cendekiawan) yang memiliki kecerdasan dan pikiran yang matang. Maka Allah membalas mereka dan mengabarkan kepada mereka bahwasanya merekalah orang-orang bodoh yang sebenarnya, karena hakikat kebodohan itu adalah ketidaktahuan seorang manusia kepada kemaslahatan pribadinya dan perbuatan-nya yang yang melakukan apa-apa yang justru memudaratkannya. Hal inilah yang terbukti terjadi pada mereka (dan terjadi benar atas mereka), sebagaimana juga akal dan kecerdasan itu adalah pengetahuan seorang manusia kepada hal yang bermanfaat bagi dirinya dan berbuat apa yang berguna untuknya serta menghindar dari apa yang memudaratkan dirinya, dan inilah yang terbukti ter-jadi pada para sahabat رضي الله عنهم dan kaum Mukminin. Maka patokannya adalah dengan ciri yang menempel pada diri dan bukti, tidak hanya sekedar sangkaan dan perkataan kosong belaka.

2:14–15Страница 3

وَإِذَا لَقُواْ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوۡاْ إِلَىٰ شَيَٰطِينِهِمۡ قَالُوٓاْ إِنَّا مَعَكُمۡ إِنَّمَا نَحۡنُ مُسۡتَهۡزِءُونَ ١٤

Когда они встречают верующих, то говорят: «Мы уверовали». Когда же они остаются наедине со своими дьяволами, они говорят: «Воистину, мы - с вами. Мы лишь издеваемся».

ٱللَّهُ يَسۡتَهۡزِئُ بِهِمۡ وَيَمُدُّهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ١٥

Аллах поиздевается над ними и увеличит их беззаконие, в котором они скитаются вслепую.

"Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, 'Kami telah beriman.' Dan bila mereka kem-bali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan, 'Sesungguh-nya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.' Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan me-reka terombang-ambing dalam kesesatan mereka." (Al-Baqarah: 14-15).

(14) Inilah yang biasa keluar dari lisan-lisan mereka yang bukan dari hati mereka, yaitu bahwasanya mereka ini bila berkum-pul dengan kaum Mukminin, maka mereka menampakkan bahwa mereka dalam satu manhaj dengan kaum Mukminin dan bahwa mereka sama dengan kaum Mukminin, namun bila mereka kem-bali kepada setan-setan mereka -yaitu pemimpin-pemimpin dan ketua-ketua kejahatan mereka-, maka mereka berkata, "Sesungguh-nya pada hakikatnya kami ini bersama kalian, kami hanya meng-olok-olok kaum Mukminin dengan menampakkan kepada mereka bahwa kami berada di atas jalan mereka." Inilah kondisi mereka secara lahir dan batin, dan tidaklah makar yang buruk itu kecuali akan menimpa pelakunya.

(15) Allah تعالى berfirman, ﴾ ٱللَّهُ يَسۡتَهۡزِئُ بِهِمۡ وَيَمُدُّهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Allah akan membalas olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka." Ini merupakan balasan bagi mereka atas tindakan mereka mengolok-olok hamba-hambaNya, dan di antara olok-olokan Allah kepada mereka adalah bahwa Dia meng-hiasi kondisi mereka dalam kesengsaraan dan keadaan yang buruk hingga mereka mengira bahwasanya mereka bersama kaum Muk-minin ketika Allah tidak memerintahkan kaum Mukminin meng-hancurkan mereka, dan juga di antara olok-olokan Allah kepada mereka pada Hari Kiamat kelak adalah bahwasanya Dia akan memberikan mereka (ketika) bersama kaum Mukminin cahaya yang jelas, maka apabila kaum Mukminin berjalan dengan cahaya mereka, padamlah cahaya kaum munafik dan mereka tetap berada dalam kegelapan setelah terang benderang dalam kondisi kebi-ngungan, dan betapa besar penyesalan itu setelah ketamakan, ﴾ يُنَادُونَهُمۡ أَلَمۡ نَكُن مَّعَكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمۡ فَتَنتُمۡ أَنفُسَكُمۡ وَتَرَبَّصۡتُمۡ وَٱرۡتَبۡتُمۡ ﴿ "Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang Mukmin) seraya berkata, 'Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?' Mereka menjawab, 'Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu kehancuran kami dan kamu ragu-ragu'." (Al-Hadid: 14). FirmanNya, ﴾ وَيَمُدُّهُمۡ ﴿ "Dan membiarkan mereka," maksudnya, menambahkan (waktu) buat mereka, ﴾ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ ﴿ "dalam kesesatan mereka," maksudnya dalam kejahatan dan kekufuran mereka, (dan mereka) ﴾ يَعۡمَهُونَ ﴿ "terombang-ambing" maksudnya dalam kebingungan dan kebimbangan; dan inilah cara Allah تعالى mengolok-olok mereka.

Kemudian Allah تعالى menyingkap hakikat dari kondisi mereka,

2:16Страница 3

أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ٱشۡتَرَوُاْ ٱلضَّلَٰلَةَ بِٱلۡهُدَىٰ فَمَا رَبِحَت تِّجَٰرَتُهُمۡ وَمَا كَانُواْ مُهۡتَدِينَ ١٦

Они - те, которые купили заблуждение за верное руководство. Но сделка не принесла им прибыли, и они не последовали прямым путем.

"Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petun-juk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk." (Al-Baqarah: 16).

(16) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," maksudnya orang-orang muna-fik yang bersifat dengan sifat-sifat tersebut, ﴾ ٱلَّذِينَ ٱشۡتَرَوُاْ ٱلضَّلَٰلَةَ بِٱلۡهُدَىٰ ﴿ "orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk," maksudnya mereka suka terhadap kesesatan sebagaimana seorang pembeli suka ter-hadap suatu barang dagangan, yang -di antara kesukaannya terha-dap kesesatan itu- membuat ia mengeluarkan harta yang berharga untuk mendapatkannya, dan ini adalah suatu perumpamaan yang paling bagus, karena Allah menjadikan kesesatan yang merupakan puncak dari segala kejahatan seperti barang dagangan dan Dia menjadikan petunjuk yang merupakan puncak dari segala kebaikan bagaikan harga barang, lalu mereka (orang-orang munafik) itu menyerahkan petunjuk karena tidak suka terhadapnya untuk men-dapatkan kesesatan karena suka terhadapnya. Inilah perdagangan mereka, dan sungguh amat buruk perdagangan mereka itu, serta inilah transaksi mereka, dan sungguh buruk transaksi mereka itu. Apabila seseorang mengeluarkan uang dinarnya untuk men-dapatkan uang dirham maka ia pasti rugi, lalu bagaimanakah orang yang mengeluarkan permata untuk mendapatkan uang dirham? Dan bagaimanakah orang yang mengeluarkan petunjuk untuk mendapatkan kesesatan? Ia lebih memilih kesengsaraan daripada kebahagiaan, serta lebih suka terhadap perkara-perkara yang tidak berarti dengan meninggalkan perkara-perkara yang berguna. Akhirnya tidak beruntunglah perdagangannya tersebut, bahkan ia merugi dalam hal itu dengan kerugian yang paling besar, mereka itulah orang-orang yang rugi diri mereka dan keluarga mereka pada Hari Kiamat, camkanlah, bahwa itulah kerugian yang nyata. Dan FirmanNya, ﴾ وَمَا كَانُواْ مُهۡتَدِينَ ﴿ "Dan tidaklah mereka menda-pat petunjuk," ini adalah sebagai penegasan akan kesesatan mereka, dan bahwasanya mereka tidak mendapatkan sedikitpun petunjuk. Inilah sifat-sifat mereka yang jelek itu, kemudian Allah menyebut-kan perumpamaan mereka -yang menyingkap hal itu dengan se-jelas-jelasnya-, seraya berfirman,

Текст: Quranic Universal Library (Tarteel) через spa5k/tafsir_api (MIT), в зафиксированной версии. Аяты: Quran Foundation. Источники и лицензии

Содержание

Аят аль-Курси36Аль-Кахфстр. 42джуз 15Бухари 1Муслим 2999

Вид

Тема
Размер текста
Вид

Read in English