Ас-Саади · Тафсир · на индонезийском
Аль-Кахф 18:60–101, продолжение
(82) ﴾ وَأَمَّا ٱلۡجِدَارُ ﴿ "Adapun dinding rumah itu," yang aku bangun ﴾ فَكَانَ لِغُلَٰمَيۡنِ يَتِيمَيۡنِ فِي ٱلۡمَدِينَةِ وَكَانَ تَحۡتَهُۥ كَنزٞ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحٗا ﴿ "maka ia adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih," maksudnya, kondisi mereka berdua menuntut adanya rasa iba dan rahmat kepada mereka, sebab keduanya masih kecil. Kedua orang tua mereka sudah tiada. Maka Allah memelihara mereka ber-dua juga lantaran keshalihan kedua orang tua mereka. ﴾ فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبۡلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنزَهُمَا ﴿ "Maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu," karena itu, aku hancurkan dindingnya dan aku gali harta simpanan yang berada di bawah dan selanjutnya aku letakkan dan aku (bangun) kembali dengan cuma-cuma. ﴾ رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ ﴿ "Sebagai rahmat dari Rabb-mu," maksudnya tindakan yang aku lakukan adalah sebagai bentuk sayang dari Allah yang Allah berikan melalui hambaNya, Khidhir. ﴾ وَمَا فَعَلۡتُهُۥ عَنۡ أَمۡرِيۚ ﴿ "Dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri," maksudnya, aku tidak mengerjakan sesuatu menurut kehendak pribadiku dan murni keinginanku. Sesungguhnya itu hanyalah rahmat dari Allah dan perintahNya. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikian itu," keterangan yang aku jelaskan kepadamu ﴾ تَأۡوِيلُ مَا لَمۡ تَسۡطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرٗا 82 ﴿ "adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar ter-hadapnya." Dalam kisah yang menakjubkan lagi agung ini, termuat pela-jaran-pelajaran penting, hukum-hukum dan kaidah-kaidah yang banyak sekali. Kami ingin menyinggung sebagiannya dengan per-tolongan Allah: - Keutamaan ilmu dan pengembaraan untuk mencarinya. Se-sungguhnya ilmu adalah perkara terpenting. Musa عليه السلام telah menem-puh jarak yang jauh dan mengalami keletihan dalam mencarinya, menghentikan berbaur dengan Bani Israil untuk mengajari dan mem-bimbing mereka, dan (lebih) memilih untuk menempuh perjalan-an jauh guna menambah ilmu. - Disyariatkannya memulai dengan perkara yang terpenting lalu (dilanjutkan kepada) perkara yang lebih penting (daripada se-sudahnya). Sesungguhnya menambah ilmu dan meningkatkan pengetahuan masyarakat lebih penting daripada meninggalkan mencari ilmu dan menyibukkan diri dengan mengajar tanpa mem-bekali diri dengan ilmu. Dan bila ada kemampuan untuk memadu-kan antara keduanya, itu lebih diutamakan. - Diperbolehkannya mengangkat seorang pelayan saat berada di lingkungan sendiri maupun dalam bepergian untuk tujuan meng-urusi barang bawaan dan mencari kenyamanan, seperti yang dila-kukan oleh Musa. - Sesungguhnya seorang musafir (yang menempuh perjalan-an jauh) untuk mencari ilmu, berjihad atau tujuan lainnya, jika ke-maslahatan menuntut untuk memberitahukan tujuan dan apa yang ia inginkan, maka sesungguhnya sikap tersebut lebih baik daripada menyembunyikannya. Karena di dalam penyampaiannya terdapat beberapa manfaat, seperti melakukan persiapan perbekalan dan menjalankan suatu perkara dengan dasar ilmu serta memperlihat-kan kerinduan terhadap ibadah yang agung ini. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Musa, ﴾ لَآ أَبۡرَحُ حَتَّىٰٓ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ أَوۡ أَمۡضِيَ حُقُبٗا 60 ﴿ "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun." (Al-Kahfi: 60). Sebagaimana Nabi Muhammad telah mengabarkan kepada para sahabat ketika akan menyerang wilayah Tabuk, padahal ke-biasaan beliau adalah bertauriyah (menzahirkan di luar yang dimak-sud). Hal ini tergantung dengan kemaslahatan. - Penisbatan kejelekan dan faktor-faktor pencetusnya kepada setan dengan cara bujukan dan penghiasan maksiat dalam bentuk yang indah, meskipun semua perkara muncul karena keputusan dan takdir Allah, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ أَنۡ أَذۡكُرَهُۥۚ ﴿ "Dan tidak ada yang melupakanku untuk menceritakannya kecuali setan." (Al-Kahfi: 63). - Bolehnya seorang manusia untuk memberitahukan sesuatu yang menjadi tuntutan tabiat diri, berupa rasa capek, lapar, dan haus dengan syarat tidak dipenuhi kemarahan, dan merupakan kondisi yang benar (apa adanya) berdasarkan perkataan Musa, ﴾ لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (Al-Kahfi: 62). - Dianjurkan memilih pelayan yang cerdik, cerdas, lagi pandai agar urusannya terlaksana seperti yang dia inginkan. - Dianjurkan agar seseorang memberi makanan kepada pelayan dari jenis makanan yang dia makan dan memakannya bersama-sama. Karena yang zahir dari Firman Allah, ﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا ﴿ "Bawalah kemari makanan kita." (Al-Kahfi: 62), terdapat penisbatan makanan kepada mereka berdua, tuan dan pelayannya makan bersamaan. - Sesungguhnya pertolongan turun kepada seseorang berdasar-kan tingkat aplikasinya terhadap perintah Allah, dan orang yang sejalan dengan perintah Allah akan memperoleh pertolongan, yang tidak didapatkan oleh orang lain, berdasarkan perkataan Musa, ﴾ لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (Al-Kahfi: 62). Terdapat isyarat kepada perjalanan yang melampaui tempat pertemuan dua lautan. Adapun yang pertama, Musa tidak menge-luhkan kelelahan meskipun ditempuh dalam waktu lama. Karena itulah safar yang sebenarnya. Sedangkan perjalanan yang terakhir, nampaknya ditempuh dalam setengah hari. Sebab, mereka telah kehilangan ikan ketika bermalam di batu. Padahal secara eksplisit, mereka bermalam di sana. Lantas, berjalan kembali keesokan hari-nya. Sampai akhirnya datang waktu makan siang, Musa berkata kepada pelayannya, ﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا ﴿ "Bawalah kemari makanan kita," (Al-Kahfi: 62). Saat itulah dia teringat bahwa dia melupakannya di tem-pat yang merupakan tujuan akhirnya. - Hamba yang mereka jumpai bukanlah seorang nabi, akan tetapi seorang insan yang shalih. Sebab, Allah menyebut predikat-nya dengan ubudiyah (pengabdian diri), dan mengungkapkan ka-runiaNya atas dirinya berupa rahmat dan ilmu. Allah tidak menying-gung risalah atau kenabiannya. Seandainya Khidhir adalah nabi, tentulah Allah menyebutkannya sebagaimana Dia menyebut pre-dikat lainnya. Adapun perkataannya di akhir kisah, ﴾ وَمَا فَعَلۡتُهُۥ عَنۡ أَمۡرِيۚ ﴿ "Dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri." (Al-Kahfi: 82), maka perkataan ini tidak menunjukkan dirinya seorang nabi. Hanya mengindikasikan keberadaan ilham dan tahdits (bisikan)(pada dirinya), sebagaimana bisa terjadi pada selain nabi. Seperti Firman Allah تعالى, ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَرۡضِعِيهِۖ ﴿ "Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, 'Susuilah dia'." (Al-Qa-shash: 7). ﴾ وَأَوۡحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحۡلِ أَنِ ٱتَّخِذِي مِنَ ٱلۡجِبَالِ بُيُوتٗا ﴿ "Dan Rabbmu mengilhamkan kepada lebah, 'Buatlah sarang-sarang di gunung-gunung'." (An-Nahl: 68). - Sesungguhnya ilmu yang diajarkan Allah kepada para ham-baNya terbagi menjadi dua bagian: Ilmu muktasab (ilmu yang diusa-hakan), dihasilkan seorang hamba melalui kesungguhan dan kete-kunannya. Dan jenis ilmu ladunni. Allah menganugerahkannya ke-pada hambaNya yang dikehendakiNya, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَعَلَّمۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلۡمٗا 65 ﴿ "Dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (Al-Kahfi: 65). - Keharusan beretika saat bersama dengan seorang pengajar dan cara berbicara dari seorang pelajar kepadanya dengan ungkapan yang paling lembut, berdasarkan perkataan Musa عليه السلام, ﴾ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu meng-ajarkan kepadaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu." (Al-Kahfi: 66). Musa mengungkapkan perkataan dengan nada lembut dan musyawarah, "Apakah engkau memberi izin kepadaku ataukah tidak?" Disertai pengakuan untuk mau belajar darinya. Berbeda halnya dengan orang-orang yang berperilaku keras atau sombong, yang tidak memperlihatkan kebutuhannya kepada ilmu sang guru. Justru mengklaim dirinya saling membantu dengan pengajarnya. Bahkan boleh jadi dia berasumsi bahwa dia telah mengajari guru-nya, padahal dia tidak tahu sama sekali. Jadi, menghinakan diri di hadapan seorang guru dan memperlihatkan kebutuhannya kepada pengajarannya termasuk perkara yang paling bermanfaat bagi pen-cari ilmu. - Tawadhu' orang yang utama untuk belajar kepada orang yang berada di bawah levelnya. Sesungguhnya Musa tanpa disang-sikan, lebih mulia daripada Khidhir. - Orang yang sudah berilmu lagi berkedudukan tinggi mem-pelajari ilmu yang belum dia kuasai dari orang yang mahir pada bidang itu, meskipun kedudukannya dalam ilmu tertentu jauh di bawahnya beberapa derajat. Sesungguhnya Musa عليه السلام termasuk ulul 'azmi dari kalangan rasul yang mana Allah menganugerahkan dan mengaruniai kepada mereka ilmu yang tidak dikaruniakan kepada selain mereka. Namun, pada bidang ilmu yang khusus ini, Khidhir mempunyai ilmu yang tidak dimiliki oleh Musa. Karena itu, Musa sangat antusias untuk belajar darinya. Atas dasar ini, tidak sepatutnya seorang fakih lagi muhaddits jika kurang cakap dalam ilmu nahwu atau sharaf maupun ilmu lainnya, tidak mem-pelajarinya dari orang yang mahir dalam bidang itu, meskipun bukan seorang faqih atau muhaddits. - Penisbatan ilmu dan keutamaan-keutamaan lainnya adalah kepada Allah تعالى dan mengakuinya serta bersyukur kepada Allah atas itu, berdasarkan perkataan Musa, ﴾ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ ﴿ "Supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu dari ilmu yang telah diajarkan kepadamu (oleh Allah)." (Al-Kahfi: 66), maksudnya dari ilmu yang Allah تعالى ajarkan kepadamu. - Sesungguhnya ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mem-bimbing kepada kebaikan. Setiap ilmu yang mengandung petunjuk dan hidayah kepada jalan kebaikan dan peringatan dari jalan kejelek-an maupun perantaranya, maka itu termasuk ilmu yang bermanfaat. Sedangkan selain itu, maka ia merupakan ilmu yang berbahaya, atau tidak berisi faidah. Berdasarkan perkataan Musa, ﴾ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu." (Al-Kahfi: 66). - Sesungguhnya orang yang tidak memiliki kekuatan untuk bersabar dalam menyertai seorang alim dan tidak memiliki ilmu serta keteguhan yang baik dalam menjalaninya, maka sungguh dia [akan kehilangan ilmu yang banyak sebesar tingkat ketidaksabaran-nya].[26] Barangsiapa yang tidak bersabar sedikit pun, niscaya dia tidak dapat menggapai ilmu. Dan siapa saja yang menempuh ke-sabaran dan selalu berkonsisten padanya, tentu ia akan menggapai setiap urusan yang dia usahakan, berdasarkan perkataan Khidhir yang memberi tahu alasan kepada Musa tentang faktor penghambat bagi Musa untuk dapat belajar darinya, yaitu dia tidak bisa bersabar dengannya. - Sesungguhnya penyebab terpenting untuk meraih kesabaran, adalah seseorang menguasai suatu perkara dari sisi ilmu dan penge-tahuan yang mana dia diperintah untuk bersabar di dalamnya. Ka-lau tidak demikian, maka orang yang tidak mengerti atau tidak mengetahui tujuan, hasil, dan kegunaannya, serta buahnya, maka dia tidak memiliki sebab kausalitas kesabaran, berdasarkan perkata-an Khidhir, ﴾ وَكَيۡفَ تَصۡبِرُ عَلَىٰ مَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ خُبۡرٗا 68 ﴿ "Dan bagaimana kamu dapat bersabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu." (Al-Kahfi: 68). Yang mengembalikan faktor ketidaksabarannya adalah tidak adanya penguasaan tentang persoalan tersebut pada Musa. - Perintah untuk berhati-hati, melakukan klarifikasi dan tidak bersegera menjatuhkan keputusan tentang sesuatu sampai menge-tahui arah yang diinginkan dan tujuannya. - Pengaitan urusan-urusan di masa yang akan datang yang di-lakukan oleh para hamba dengan masyi`ah (kehendak) Allah, dan jangan sampai seseorang berkata tentang sesuatu, "Sesungguhnya aku akan melakukannya nanti" kecuali disusuli dengan kata insya Allah. - Tekad untuk mengerjakan sesuatu tidaklah sama dengan per-buatan riilnya. Sesungguhnya Musa berkata, ﴾ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرٗا ﴿ "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar." (Al-Kahfi: 69). Ia mempersiapkan dirinya untuk bersabar, namun tidak merealisasikannya. - Seorang guru, jika melihat adanya kemaslahatan dalam me-nahan seorang murid untuk tidak memulai bertanya tentang seba-gian perkara sampai guru itu sendiri yang mengajaknya bicara ten-tang itu, maka sesungguhnya sisi kemaslahatan itu perlu ditelusuri, misalnya, bila pemahaman seorang murid dangkal, atau melarang-nya dari pertanyaan-pertanyaan yang pelik, yang persoalan lain masih lebih penting daripadanya atau karena tidak tercerna oleh daya tangkapnya, atau melontarkan pertanyaan yang tidak berhu-bungan dengan tema pembahasan. - Diperbolehkannya berlayar di laut dalam kondisi yang tidak mengkhawatirkan (keselamatan). - Orang yang lupa tidak dihukum karena kelupaannya itu. Tidak bisa dihukum dalam hak Allah dan hak para hamba berdasar-kan FirmanNya, ﴾ لَا تُؤَاخِذۡنِي بِمَا نَسِيتُ ﴿ "Janganlah engkau menghukumku disebabkan kelupaanku." (Al-Kahfi: 73). - Sepatutnya, seseorang menyikapi perilaku-perilaku orang dan cara bermuamalah mereka dengan sikap maaf dan sikap yang bisa mereka terima. Tidak pantas membebani mereka hal-hal yang tidak sanggup mereka kerjakan atau memberatkan atau menggencet mereka. Sesungguhnya sikap-sikap ini akan mengundang antipati dan kebosanan terhadapnya. Bahkan, hendaknya dia mengambil jalan yang mudah supaya urusannya pun menjadi mudah. - Hukum segala urusan berjalan sesuai dengan zahirnya, dan (begitu pula) hukum-hukum agama dalam masalah harta, darah, dan lainnya terkait dengannya. Sesungguhnya Musa عليه السلام menging-kari Khidhir atas tindakannya melubangi kapal dan membunuh anak kecil. Dua tindakan ini secara zahir, merupakan kemungkaran. Dan Musa عليه السلام tidak boleh mendiamkannya selain dalam kondisi menyertai Khidhir. Maka, Musa عليه السلام tergesa-gesa dan bersegera untuk menilainya dalam konteks umum, tidak memperhatikan aspek kondisionalnya (bersama Khidhir) yang mengharuskannya bersabar dan tidak tergesa-gesa mengingkarinya. - Adanya kaidah penting yang agung, yaitu menolak keburuk-an yang besar dengan melakukan keburukan yang lebih ringan dan mempertimbangkan kemaslahatan yang lebih besar dengan menying-kirkan kemaslahatan yang paling kecil. Sesungguhnya membunuh anak kecil merupakan tindakan jelek. Akan tetapi, keberadaan anak itu (tetap hidup) yang dapat memfitnah agama kedua orang tuanya merupakan keburukan yang lebih besar. Sementara keber-adaan si anak kecil tanpa dibunuh dan tetap memeliharanya, meski-pun dianggap sebagai kebaikan, namun kebaikan (yang lebih besar) adalah dengan menjaga agama dan keimanan dua orang tuanya yang terpelihara, itu lebih baik. Oleh karena itu, Khidhir membunuh-nya. Masuk ke dalam bingkai kaidah ini, bermacam-macam per-soalan furu' dan pelajaran-pelajaran penting yang tidak terbilang. Persoalan bersinggungannya kemaslahatan dan mafsadah, semua masuk ke dalam kaidah ini. - Adanya kaidah penting yang agung juga. Yaitu, penanganan seseorang terhadap harta orang lain, bila dalam rangka menciptakan kemaslahatan dan menghilangkan mafsadah (kerusakan) maka di-perbolehkan, meskipun tanpa izin, hingga walaupun perbuatan-nya itu mengakibatkan sebagian harta orang lain lenyap. Seperti Khidhir yang melubangi kapal agar menjadi cacat sehingga selamat dari perampasan raja yang zhalim. Atas dasar ini, jika terjadi keba-karan atau tenggelam dan peristiwa serupa lainnya di rumah sese-orang atau kekayaannya, yang mana pemusnahan sebagian kekaya-an atau perobohan sebagian rumah dapat menyebabkan keselamat-an bagian yang tersisa, maka hal itu diperbolehkan bagi seseorang (untuk melakukannya). Bahkan disyariatkan baginya untuk menger-jakannya demi menjaga kekayaan orang lain. Begitu pula, sekiranya ada seorang zhalim ingin mengambil harta orang lain lalu sese-orang menyerahkan sebagian uang (yang akan diambil) sebagai tebusan untuk menyelamatkan yang tersisa, maka itu diperboleh-kan, meskipun tanpa izin pemiliknya. - Boleh bekerja di laut sebagaimana diperbolehkan bekerja di daratan, berdasarkan Firman Allah, ﴾ يَعۡمَلُونَ فِي ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "yang bekerja di laut." (Al-Kahfi: 79), dan Allah tidak mengingkari pekerjaan mereka. -Bahwa orang miskin terkadang mempunyai harta yang tidak mencapai (batas) kecukupannya, namun hal itu tidak mengeluarkan-nya dari predikat miskin, karena Allah mengabarkan bahwa mereka adalah miskin yang memiliki perahu. - Pembunuhan termasuk perbuatan dosa yang paling besar, berdasarkan perkataan Musa tentang pembunuhan si anak kecil, ﴾ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـٔٗا نُّكۡرٗا 74 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar." (Al-Kahfi: 74). - Pembunuhan untuk tujuan qishash tidaklah diingkari, berdasar-kan FirmanNya, ﴾ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ ﴿ "bukan karena dia membunuh." (Al-Kahfi: 74). - Seorang hamba yang shalih, akan dipelihara Allah, jiwa dan keturunannya. - Membantu orang yang shalih atau orang yang berkaitan dengan mereka adalah lebih utama daripada membantu selainnya, karena Khidiri menyebutkan alasan dirinya mengeluarkan harta simpanan dan mendirikan temboknya adalah karena bapak kedua-nya adalah shalih. - Penggunaan etika kesopanan terhadap Allah تعالى dalam (pe-makaian) ungkapan-ungkapan. Sesungguhnya Khidhir mengait-kan perusakan kapal kepada dirinya dengan berkata, ﴾ فَأَرَدتُّ أَنۡ أَعِيبَهَا ﴿ "Dan aku bertujuan merusak bahtera itu." (Al-Kahfi: 79). Sedangkan tentang kebaikan, maka dia menghubungkannya kepada Allah تعالى, ﴾ فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبۡلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنزَهُمَا رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ ﴿ "Maka Rabbmu menghendaki agar mereka berdua sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya, sebagai rahmat dari Rabbmu." (Al-Kahfi: 82), Sebagaimana yang disampaikan Ibrahim, ﴾ وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 ﴿ "Dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkanku." (Asy- Syu'ara`: 80), dan perkataan jin, ﴾ وَأَنَّا لَا نَدۡرِيٓ أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ أَمۡ أَرَادَ بِهِمۡ رَبُّهُمۡ رَشَدٗا 10 ﴿ "Dan bahwa kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan bagi mereka." (Al-Jin: 10), meskipun semua kejadian berasal dari ketentuan dan takdir Allah. - Sesungguhnya seorang kawan tidak pantas meninggalkan sahabatnya dalam kondisi apa pun, dan memutus persahabatan-nya hingga dia menegurnya (terlebih dahulu) dan mengajukan ala-san, seperti yang dilakukan oleh Khidhir terhadap Musa. - Persetujuan seorang teman terhadap sahabatnya dalam per-kara yang tidak terlarang merupakan pemicu dan faktor kelang-gengan persahabatan dan kerekatannya, sebagaimana ketidakse-pahaman menjadi sebab terputusnya hubungan persahabatan. - [Persoalan-persoalan ini yang dijalankan oleh Khidhir me-rupakan keputusan takdir murni, yang mana Allah menjalankan dan meletakkannya pada tangan seorang hamba shalih, agar para hamba mempunyai bukti nyata tentang kelembutan-kelembutan-Nya dalam segala keputusanNya. Dia mentakdirkan perkara-per-kara atas seorang hamba yang benar-benar dia benci, padahal me-rupakan kebaikan bagi agamanya, seperti dalam kejadian si anak kecil (yang dibunuh). Atau kebaikan bagi dunianya, seperti pada peristiwa kapal (yang dilubangi). Allah memperlihatkan sebuah contoh dari kelembutan dan kemuliaanNya supaya mereka menge-nalNya dan ridha dengan takdir-takdir yang tidak mengenakkan dengan tulus].
18:83–88Страница 302
وَيَسۡـَٔلُونَكَ عَن ذِي ٱلۡقَرۡنَيۡنِۖ قُلۡ سَأَتۡلُواْ عَلَيۡكُم مِّنۡهُ ذِكۡرًا ٨٣
Они спрашивают тебя о Зуль Карнейне. Скажи: «Я прочту вам поучительный рассказ о нем».
إِنَّا مَكَّنَّا لَهُۥ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَءَاتَيۡنَٰهُ مِن كُلِّ شَيۡءٖ سَبَبٗا ٨٤
Воистину, Мы наделили его властью на земле и одарили его всякими возможностями.
فَأَتۡبَعَ سَبَبًا ٨٥
Он отправился в путь.
حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ مَغۡرِبَ ٱلشَّمۡسِ وَجَدَهَا تَغۡرُبُ فِي عَيۡنٍ حَمِئَةٖ وَوَجَدَ عِندَهَا قَوۡمٗاۖ قُلۡنَا يَٰذَا ٱلۡقَرۡنَيۡنِ إِمَّآ أَن تُعَذِّبَ وَإِمَّآ أَن تَتَّخِذَ فِيهِمۡ حُسۡنٗا ٨٦
Когда он прибыл туда, где закатывается солнце, он обнаружил, что оно закатывается в мутный (или горячий) источник. Около него он нашел народ. Мы сказали: «О Зуль Карнейн! Либо ты накажешь их, либо сделаешь им добро».
قَالَ أَمَّا مَن ظَلَمَ فَسَوۡفَ نُعَذِّبُهُۥ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَىٰ رَبِّهِۦ فَيُعَذِّبُهُۥ عَذَابٗا نُّكۡرٗا ٨٧
Он сказал: «Того, кто поступает несправедливо, мы накажем, а потом его возвратят к его Господу, и Он подвергнет его тяжким мучениям.
وَأَمَّا مَنۡ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَلَهُۥ جَزَآءً ٱلۡحُسۡنَىٰۖ وَسَنَقُولُ لَهُۥ مِنۡ أَمۡرِنَا يُسۡرٗا ٨٨
Тому же, кто уверовал и поступает праведно, будет наилучшее воздаяние, и мы скажем ему наши легкие повеления».
"Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah, 'Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.' Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada-nya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka dia pun menempuh suatu jalan. Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenamnya matahari, maka dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata, 'Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.' Dzulqarnain berkata, 'Adapun orang yang berbuat aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Rabbnya, lalu Dia mengazab-nya dengan azab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan Kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah Kami'." (Al-Kahfi: 83-88).
(83) Orang-orang ahli Kitab atau kaum musyrikin bertanya kepada Rasulullah tentang kisah Dzulqarnain. Maka Allah meme-rintahkan beliau untuk berkata, ﴾ سَأَتۡلُواْ عَلَيۡكُم مِّنۡهُ ذِكۡرًا 83 ﴿ "Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya." Di dalam kisah ini, terdapat berita yang bermanfaat dan arah pembicaraan yang menakjubkan. Maksudnya, aku akan menceritakan kepada kalian tentang sifat-sifatnya yang bisa menjadi bahan perenungan dan pelajaran. Ada-pun keadaan-keadaan selain itu, maka beliau tidak membacakan (ceritanya) kepada mereka.
(84-85) ﴾ إِنَّا مَكَّنَّا لَهُۥ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi," maksudnya, Allah menjadikan-nya raja dan memudahkannya untuk menerobos penjuru-penjuru bumi dan memudahkan tunduknya mereka kepadanya. ﴾ وَءَاتَيۡنَٰهُ مِن كُلِّ شَيۡءٖ سَبَبٗا 84 ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu," maksudnya Allah memberinya sebab kausalitas yang dapat mengantarkan dirinya kepada apa yang telah dia capai, untuk dipergunakan melumpuhkan negeri-negeri dan memudahkannya masuk ke wilayah-wilayah yang jauh, dan dia telah beramal dengan sebab-sebab yang Allah berikan kepadanya. Maknanya, dia mem-pergunakan fasilitas-fasilitas tersebut sebagaimana mestinya. Tidak setiap orang yang mempunyai sebab kausalitas mampu menjalan-kannya, dan tidak setiap orang sanggup memperoleh sebab kau-salitas. Bila sudah terpadukan antara kesanggupan memperoleh sebab kausalitas yang hakiki dan menjalankannya, niscaya terwu-judlah tujuan. Bila keduanya tidak ada atau salah satunya (tidak terpenuhi), maka tujuannya tidak terealisasikan. Sebab kausalitas yang Allah berikan kepadanya, tidak diberitahukan oleh Allah dan RasulNya kepada kita, dan riwayat-riwayat pun tidak banyak menyinggungnya dalam bentuk yang mengarah kepada keyakinan. Oleh karena itu, tidak ada kelonggaran yang bisa kita lakukan selain diam saja tentang persoalan tersebut, tidak menoleh kepada riwayat-riwayat israiliyyat yang dikutip oleh para pembawa riwayat dan kisah semacamnya. Tetapi, kita sudah mengetahui secara global bahwa ia adalah sebab kausalitas yang kuat, variatif, bersifat inter-nal atau eksternal. Dengan itu, ia mempunyai pasukan besar yang berjumlah banyak dan bersenjatakan memadai serta penuh keter-aturan. Dengan itu pula, dia mampu menumbangkan musuh-musuh, memudahkan perjalanan menuju belahan bumi bagian timur dan barat serta penjuru-penjuru dunia.
(86) Maka Allah memberikan kepadanya sesuatu untuk sampai ke ﴾ مَغۡرِبَ ٱلشَّمۡسِ ﴿ "tempat terbenamnya matahari," hingga melihat matahari dalam jangkauan pandang mata, seolah-olah ia ﴾ تَغۡرُبُ فِي عَيۡنٍ حَمِئَةٖ ﴿ "terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam," maksudnya yang berwarna hitam. Ini sudah menjadi pemandangan biasa bagi orang yang antara tempatnya dan garis ufuk matahari bagian barat ter-pisahkan oleh air. Menyaksikannya terbenam di atas air, meskipun matahari itu sebenarnya sangat tinggi ﴾ وَوَجَدَ عِندَهَا ﴿ "dan dia mendapati di situ," yaitu di tempat terbenamnya matahari ﴾ قَوۡمٗاۖ قُلۡنَا يَٰذَا ٱلۡقَرۡنَيۡنِ إِمَّآ أَن تُعَذِّبَ وَإِمَّآ أَن تَتَّخِذَ فِيهِمۡ حُسۡنٗا 86 ﴿ "segolongan umat. Kami berkata, 'Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka'," maksudnya, (kamu boleh berbuat apa saja) baik dengan cara menyik-sa mereka dengan pembunuhan, pukulan, penahanan, atau cara lainnya, dan boleh juga dengan cara berbuat baik kepada mereka. Jadi, ia dihadapkan pada dua pilihan. Karena, tampaknya mereka itu orang-orang kafir, orang-orang fasik atau terdapat gejala se-macam itu pada mereka. Sebab, bila mereka itu kaum Mukminin yang tidak berbuat kefasikan, niscaya tidak diperbolehkan baginya untuk menyiksa mereka.
(87) Dzulqarnain mempunyai strategi syar'i yang menjadi-kannya pantas menerima sanjungan dan pujian, karena curahan taufik Allah kepadanya. Ia berkata, "Aku akan membagi menjadi dua bagian, ﴾ أَمَّا مَن ظَلَمَ ﴿ "adapun orang yang berbuat aniaya," dengan kekufuran, ﴾ فَسَوۡفَ نُعَذِّبُهُۥ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَىٰ رَبِّهِۦ فَيُعَذِّبُهُۥ عَذَابٗا نُّكۡرٗا 87 ﴿ "maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Rabbnya, lalu Dia meng-azabnya dengan azab yang tidak ada taranya," maksudnya, dia ditimpa dua hukuman, hukuman dunia dan hukuman akhirat.
(88) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَلَهُۥ جَزَآءً ٱلۡحُسۡنَىٰۖ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan," maksudnya, dia mendapatkan surga dan kondisi yang baik di sisi Allah sebagai balasan pada Hari Kiamat ﴾ وَسَنَقُولُ لَهُۥ مِنۡ أَمۡرِنَا يُسۡرٗا 88 ﴿ "dan akan Kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah Kami," maksudnya Kami akan mencurahkan ke-baikan kepadanya, berlembut-lembut dengannya dalam ucapan dan kami memudahkan muamalah baginya. Ini menunjukkan status-nya dari kalangan raja yang shalih [dan] wali yang adil lagi berilmu, yang mana dia sejalan dengan keridhaan Allah dalam menyikapi setiap orang sesuai dengan kondisinya.
18:89–98Страница 303
ثُمَّ أَتۡبَعَ سَبَبًا ٨٩
Потом он отправился в путь дальше.
حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ مَطۡلِعَ ٱلشَّمۡسِ وَجَدَهَا تَطۡلُعُ عَلَىٰ قَوۡمٖ لَّمۡ نَجۡعَل لَّهُم مِّن دُونِهَا سِتۡرٗا ٩٠
Когда он прибыл туда, где восходит солнце, он обнаружил, что оно восходит над людьми, которым Мы не установили от него никакого прикрытия.
كَذَٰلِكَۖ وَقَدۡ أَحَطۡنَا بِمَا لَدَيۡهِ خُبۡرٗا ٩١
Вот так! Мы объяли знанием все, что происходило с ним.
ثُمَّ أَتۡبَعَ سَبَبًا ٩٢
Потом он отправился в путь дальше.
حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ بَيۡنَ ٱلسَّدَّيۡنِ وَجَدَ مِن دُونِهِمَا قَوۡمٗا لَّا يَكَادُونَ يَفۡقَهُونَ قَوۡلٗا ٩٣
Когда он достиг двух горных преград, он обнаружил перед ними людей, которые почти не понимали речи.
قَالُواْ يَٰذَا ٱلۡقَرۡنَيۡنِ إِنَّ يَأۡجُوجَ وَمَأۡجُوجَ مُفۡسِدُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَهَلۡ نَجۡعَلُ لَكَ خَرۡجًا عَلَىٰٓ أَن تَجۡعَلَ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَهُمۡ سَدّٗا ٩٤
Они сказали: «О Зуль Карнейн! Йаджудж и Маджудж (Гог и Магог) распространяют на земле нечестие. Быть может, мы уплатим тебе дань, чтобы ты установил между нами и ними преграду?».
قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيۡرٞ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجۡعَلۡ بَيۡنَكُمۡ وَبَيۡنَهُمۡ رَدۡمًا ٩٥
Он сказал: «То, чем наделил меня мой Господь, лучше этого. Помогите мне силой, и я установлю между вами и ними преграду.
ءَاتُونِي زُبَرَ ٱلۡحَدِيدِۖ حَتَّىٰٓ إِذَا سَاوَىٰ بَيۡنَ ٱلصَّدَفَيۡنِ قَالَ ٱنفُخُواْۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَعَلَهُۥ نَارٗا قَالَ ءَاتُونِيٓ أُفۡرِغۡ عَلَيۡهِ قِطۡرٗا ٩٦
Подайте мне куски железа». Заполнив пространство между двумя склонами, он сказал: «Раздувайте!». Когда они стали красными, словно огонь, он сказал: «Принесите мне расплавленную медь, чтобы я вылил ее на него».
فَمَا ٱسۡطَٰعُوٓاْ أَن يَظۡهَرُوهُ وَمَا ٱسۡتَطَٰعُواْ لَهُۥ نَقۡبٗا ٩٧
Они (племена Йаджудж и Маджудж) не смогли забраться на нее и не смогли пробить в ней дыру.
قَالَ هَٰذَا رَحۡمَةٞ مِّن رَّبِّيۖ فَإِذَا جَآءَ وَعۡدُ رَبِّي جَعَلَهُۥ دَكَّآءَۖ وَكَانَ وَعۡدُ رَبِّي حَقّٗا ٩٨
Он сказал: «Это - милость от моего Господа! Когда же исполнится обещание моего Господа, Он сровняет ее с землей. Обещание моего Господа является истиной».
"Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbitnya matahari (sebelah timur) maka dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindungi-nya dari (cahaya) matahari itu. Demikianlah, dan sungguh ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya. Kemudian dia menem-puh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, maka dia mendapati di hadapan kedua gunung itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata, 'Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, su-paya kamu membuat dinding antara kami dan mereka.' Dzulqar-nain berkata, 'Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuat-an (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka. Berilah aku potongan-potongan besi.' Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain, 'Tiuplah (api itu).' Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti ) api, dia pun berkata, 'Beri-lah aku tembaga (yang mendidih) agar aku tuangkan ke atas besi panas itu.' Maka mereka tidak bisa mendakinya, dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya. Dzulqarnain berkata, 'Ini (dinding) ada-lah rahmat dari Rabbku, maka apabila sudah datang janji Rabbku. Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Rabbku itu ada-lah benar'." (Al-Kahfi: 89-98).
(89) Maksudnya, ketika sampai di tempat terbenamnya matahari, maka dia berputar balik menuju tempat terbitnya, melacak sebab kausalitas yang sudah Allah berikan kepadanya.
(90) Ia pun sampai di tempat terbitnya matahari dan ﴾ وَجَدَهَا تَطۡلُعُ عَلَىٰ قَوۡمٖ لَّمۡ نَجۡعَل لَّهُم مِّن دُونِهَا سِتۡرٗا 90 ﴿ "dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu," maksudnya dia menyak-sikan matahari terbit menyinari segolongan manusia yang tidak mempunyai pelindung dari (pancaran sinar) matahari, baik lantar-an mereka tidak mempunyai kemampuan membangun tempat-tempat tinggal, yang bertolak dari ketidakteraturan, keterasingan dan keprimitifan mereka. Atau karena matahari selalu bersinar di tengah mereka, tidak pernah terbenam [dari pandangan mereka] dalam bentuk yang berarti, seperti yang dijumpai di daerah Afrika Tenggara. Lalu dia telah mencapai tempat yang pengetahuan peng-huni bumi tidak dapat menjangkaunya, apalagi sampai dapat me-masukinya dengan raga-raga mereka.
(91) Kendatipun demikian, ini semua berjalan atas takdir Allah dan ilmuNya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَۖ وَقَدۡ أَحَطۡنَا بِمَا لَدَيۡهِ خُبۡرٗا 91 ﴿ "Demikianlah. Dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi (se-gala apa yang ada padanya)," yaitu dengan kebaikan dan sebab kau-salitas yang agung dan ilmu Kami yang akan selalu bersamanya kemanapun ia mengarah dan berjalan.
(92-93) ﴾ ثُمَّ أَتۡبَعَ سَبَبًا 92 حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ بَيۡنَ ٱلسَّدَّيۡنِ ﴿ "Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung." Para ulama tafsir berkata, "Ia pergi dari arah Timur menuju Utara. Maka, ia sampai di tempat antara dua gu-nung, yang dahulu begitu terkenal di masa itu, dua gunung yang menjadi bagian rangkaian pegunungan yang saling berhubungan, dari kiri ke kanan, sampai terhubung dengan lautan, antara Ya'juj dan Ma'juj dengan manusia ﴾ وَجَدَ ﴿ 'dan dia mendapati,' di hadapan kedua gunung itu ﴾ قَوۡمٗا لَّا يَكَادُونَ يَفۡقَهُونَ قَوۡلٗا 93 ﴿ 'suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan,' lantaran keasingan bahasa mereka dan ketumpulan daya pikir dan hati mereka."
(94) Sungguh, Allah telah memberikan sebab kausalitas ilmiah bagi Dzulqarnain yang menyebabkannya sanggup mema-hami bahasa mereka dan memaklumi kondisi mereka, hingga Dzul-qarnain bisa berkomunikasi dengan mereka, dan mereka pun dapat menjalin komunikasi dengannya. Mereka pun menyampaikan keluhan tentang gangguan dari Ya'juj dan Ma'juj. Mereka berdua adalah dua bangsa besar dari kalangan Bani Adam. Mereka berkata, ﴾ إِنَّ يَأۡجُوجَ وَمَأۡجُوجَ مُفۡسِدُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi," dengan tindakan pem-bunuhan, merampas harta (orang lain) dan tindakan buruk lainnya ﴾ فَهَلۡ نَجۡعَلُ لَكَ خَرۡجًا ﴿ "maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu," hadiah timbal balik ﴾ عَلَىٰٓ أَن تَجۡعَلَ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَهُمۡ سَدّٗا 94 ﴿ "supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka." Ini menunjukkan bahwa mereka tidak mampu membangun dinding sendiri dan mengetahui kemampuan Dzulqarnain. Maka mereka menyodorkan bayaran agar dia membuatnya disertai menyampaikan kepadanya tentang alasan yang mendorong mereka (meminta pertolongan), yaitu ke-rusakan yang ditimbulkan oleh kaum Ya'juj dan Ma'juj di bumi.
(95) Dzulqarnain bukan tipe orang yang rakus dan gan-drung terhadap dunia, dan bukan tipe orang yang enggan untuk memperbaiki keadaan rakyatnya. Bahkan orientasinya adalah me-lakukan perbaikan. Untuk itu, dia menyambut permintaan mereka, karena mengandung kemaslahatan tanpa meminta timbal-balik. Justru dia bersyukur kepada Allah atas kekuasaan dan kemampuan yang dimiliki. Dia berkata kepada mereka, ﴾ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيۡرٞ ﴿ "Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik," maksudnya, lebih baik daripada apa yang kalian kerahkan dan berikan kepadaku. Aku hanya minta kalian untuk membantuku dengan kekuatan fisik kalian melalui tangan-tangan kalian ﴾ أَجۡعَلۡ بَيۡنَكُمۡ وَبَيۡنَهُمۡ رَدۡمًا 95 ﴿ "agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka," yaitu dinding yang akan menghalangi mereka menyeberang kepada kalian.
(96) ﴾ ءَاتُونِي زُبَرَ ٱلۡحَدِيدِۖ ﴿ "Berilah aku potongan-potongan besi," yaitu potongan-potongan besi, maka mereka pun menyerahkannya ke-pada Dzulqarnain ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا سَاوَىٰ بَيۡنَ ٱلصَّدَفَيۡنِ ﴿ "hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu," yaitu dua gunung yang di-bangun sebuah dinding di antara keduanya ﴾ قَالَ ٱنفُخُواْۖ ﴿ "berkatalah (Dzulqarnain), 'Tiuplah'," api itu. Maksudnya, nyalakanlah api itu sampai besar dan pergunakanlah alat-alat tiup supaya semakin besar sehingga dapat mencairkan tembaga. Ketika tembaga itu sudah meleleh yang mana dia ingin merekatkannya di antara po-tongan-potongan besi itu ﴾ قَالَ ءَاتُونِيٓ أُفۡرِغۡ عَلَيۡهِ قِطۡرٗا 96 ﴿ "dia pun berkata, 'Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku tuangkan ke atas besi panas itu'," tembaga yang meleleh. Kemudian ia menuangkan lelehan tembaga pada potongan-potongan besi itu sehingga dinding sema-kin kokoh dengan kekokohan yang dahsyat. Orang-orang yang berada di belakangnya terlindungi dari gangguan Ya'juj dan Ma'juj.
(97) ﴾ فَمَا ٱسۡطَٰعُوٓاْ أَن يَظۡهَرُوهُ وَمَا ٱسۡتَطَٰعُواْ لَهُۥ نَقۡبٗا 97 ﴿ "Maka mereka tidak bisa mendakinya, dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya," maksud-nya tidak ada kemampuan bagi mereka untuk mendakinya lantar-an sangat tinggi, dan tidak mampu melubanginya karena sangat kokoh lagi kuat.
(98) Setelah dia melakukan tindakan yang indah dan (mem-bangun) peninggalan yang agung ini, maka dia menisbatkan kenik-matan itu kepada Allah. Dia berkata, ﴾ هَٰذَا رَحۡمَةٞ مِّن رَّبِّيۖ ﴿ "Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku," maksudnya berasal dari keutamaan dan kebaikanNya yang tercurahkan bagiku. Inilah kondisi para khali-fah (penguasa) yang shalih, saat mereka menerima kenikmatan yang agung dari Allah, niscaya rasa syukur, penetapan, dan pengakuan terhadap kenikmatan Allah semakin meningkat. Seperti yang di-katakan oleh Sulaiman عليه السلام ketika singgasana ratu Saba` muncul di hadapannya, padahal jaraknya sangat jauh. Beliau berkata, ﴾ هَٰذَا مِن فَضۡلِ رَبِّي لِيَبۡلُوَنِيٓ ءَأَشۡكُرُ أَمۡ أَكۡفُرُۖ ﴿ "Ini termasuk karunia Rabbku untuk mengujiku apakah aku ber-syukur atau mengingkari (nikmatNya)." (An-Naml: 40). Berbeda halnya dengan orang-orang yang sombong, takabur, dan congkak di atas bumi ini, kenikmatan-kenikmatan yang besar semakin menambah keburukan dan kesombongan mereka. Seperti yang dikatakan oleh Qarun tatkala dikaruniai Allah perbendaharaan kekayaan yang (berat) kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sekumpulan orang kuat-kuat. Dia berkata, ﴾ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلۡمٍ عِندِيٓۚ ﴿ "Sesungguhnya aku hanya diberi harta karena ilmu yang ada padaku." (Al-Qashash: 78). Dan FirmanNya, ﴾ فَإِذَا جَآءَ وَعۡدُ رَبِّي ﴿ "Maka apabila sudah datang janji Rabbku," yaitu janji kemunculan Ya'juj dan Ma'juj ﴾ جَعَلَهُۥ دَكَّآءَۖ ﴿ "Dia akan menjadikannya hancur luluh," menghancurkan dinding yang kuat dan kokoh itu sehingga roboh dan rata dengan tanah, ﴾ وَكَانَ وَعۡدُ رَبِّي حَقّٗا 98 ﴿ "dan janji Rabbku itu adalah benar."
18:99–101Страница 304
۞ وَتَرَكۡنَا بَعۡضَهُمۡ يَوۡمَئِذٖ يَمُوجُ فِي بَعۡضٖۖ وَنُفِخَ فِي ٱلصُّورِ فَجَمَعۡنَٰهُمۡ جَمۡعٗا ٩٩
В тот день Мы позволим им (племенам Йаджудж и Маджудж) хлынуть друг на друга. И затрубят в Рог, и Мы соберем их (творения) всех вместе.
وَعَرَضۡنَا جَهَنَّمَ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡكَٰفِرِينَ عَرۡضًا ١٠٠
В тот день Мы ясно покажем Геенну неверующим,
ٱلَّذِينَ كَانَتۡ أَعۡيُنُهُمۡ فِي غِطَآءٍ عَن ذِكۡرِي وَكَانُواْ لَا يَسۡتَطِيعُونَ سَمۡعًا ١٠١
на глазах которых было покрывало, отделяющее их от поминания Меня, и которые не могли слышать.
"Kemudian (ketika) ditiup (lagi) sangkakala, lalu Kami kum-pulkan mereka itu semuanya. Dan Kami nampakkan Jahanam pada hari itu kepada orang-orang kafir dengan jelas. Yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari memperhatikan tanda-tanda kebesaranKu, dan mereka tidak sanggup mendengar." (100-101).
(100) Adapun orang-orang kafir, dengan latar belakang kekufuran yang berbeda, maka sesungguhnya Jahanam adalah balasan mereka, dan mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَعَرَضۡنَا جَهَنَّمَ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡكَٰفِرِينَ عَرۡضًا 100 ﴿ "Dan Kami nampakkan Jahanam pada hari itu kepada orang-orang kafir dengan jelas," seperti Firman Allah, ﴾ وَإِذَا ٱلۡجَحِيمُ سُعِّرَتۡ 12 ﴿ "Dan apabila Neraka Jahim dinyalakan." (At-Takwir: 12). Maksudnya diperlihatkan kepada mereka untuk menjadi tempat kembali dan tempat tinggal mereka, menikmati rantai-ran-tainya, kobaran nyala api, sengatan air panas dan tusukan hawa dinginnya, dan agar mereka merasakan siksa yang membuat kalbu-kalbu diam membisu dan pendengaran-pendengaran menjadi tuli.
(101) Ini adalah dampak-dampak ulah perbuatan dan ba-lasan tindak-tanduk mereka. Sesungguhnya mereka itu di dunia, mata mereka tertutupi oleh penutup (sehingga menutup) dari meng-ingat Allah. Pengertiannya, mereka itu berpaling dari peringatan yang bijaksana dan al-Qur`an al-Karim. ﴾ وَقَالُواْ قُلُوبُنَا فِيٓ أَكِنَّةٖ مِّمَّا تَدۡعُونَآ إِلَيۡهِ ﴿ "Dan mereka berkata, 'Hati kami berada dalam tutupan (yang menu-tupi) sesuatu yang mana kamu menyeru kami kepadanya'." (Fushshilat: 5). Pada mata-mata mereka terdapat tabir penutup yang meng-hambat mereka dari melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang ber-manfaat. Seperti Firman Allah, ﴾ وَعَلَىٰٓ أَبۡصَٰرِهِمۡ غِشَٰوَةٞۖ ﴿ "Dan penglihatan mereka ditutup." (Al-Baqarah: 7). ﴾ وَكَانُواْ لَا يَسۡتَطِيعُونَ سَمۡعًا 101 ﴿ "Dan mereka tidak sanggup mendengar," maksudnya tidak sanggup mendengarkan ayat-ayat Allah yang mengantarkan kepada keimanan, lantaran kebencian mereka ter-hadap al-Qur`an dan Rasulullah. Sesungguhnya orang yang mem-benci tidak dapat memusatkan (konsentrasi) pendengarannya kepada perkataan orang yang dibencinya. Bila jalan-jalan ilmu dan kebaikan telah tertutup dengan rapat, maka mereka tidak memiliki pendengaran, pandangan, dan akal yang bermanfaat. Sungguh, mereka telah mengkufuri Allah, mengingkari ayat-ayatNya dan mendustakan para RasulNya. Akibatnya, mereka pantas menerima balasan Jahanam, dan itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.
Текст: Quranic Universal Library (Tarteel) через spa5k/tafsir_api (MIT), в зафиксированной версии. Аяты: Quran Foundation. Источники и лицензии