Ас-Саади · Тафсир · на индонезийском
Аль-Касас 28:1–51, продолжение
(15-17) ﴾ وَدَخَلَ ٱلۡمَدِينَةَ عَلَىٰ حِينِ غَفۡلَةٖ مِّنۡ أَهۡلِهَا ﴿ "Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah," bisa jadi pada saat tidur siang atau waktu-waktu lainnya yang saat itu mereka beristi-rahat tidak berkeliaran, ﴾ فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيۡنِ يَقۡتَتِلَانِ ﴿ "maka dia mendapati di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi." Maksudnya, berteng-kar dan saling memukul. ﴾ هَٰذَا مِن شِيعَتِهِۦ ﴿ "Yang seorang dari golongan-nya," maksudnya berasal dari Bani Israil, ﴾ وَهَٰذَا مِنۡ عَدُوِّهِۦۖ ﴿ "dan seorang (lagi) dari musuhnya," bangsa Qibthi. ﴾ فَٱسۡتَغَٰثَهُ ٱلَّذِي مِن شِيعَتِهِۦ عَلَى ٱلَّذِي مِنۡ عَدُوِّهِۦ ﴿ "Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya," sebab dia telah ter-kenal dan diketahui oleh banyak orang bahwa dia (Musa) berasal dari Bani Israil. Dan permintaan pertolongannya kepada Musa adalah suatu bukti yang menunjukkan bahwa Musa عليه السلام sudah mencapai usia yang cukup ditakuti dan dijadikan andalan dari istana kerajaan dan kesultanan. ﴾ فَوَكَزَهُۥ مُوسَىٰ ﴿ "Lalu Musa meninjunya." Maksudnya, dia meninju orang yang berasal dari musuhnya untuk memenuhi permintaan tolong orang yang berdarah Bani Israil itu, ﴾ فَقَضَىٰ عَلَيۡهِۖ ﴿ "dan matilah musuhnya itu." Musa telah menewaskannya dengan tinjuan itu karena kerasnya dan kekuatan Musa. Lalu Musa عليه السلام menyesali perbuatannya itu, dan ﴾ قَالَ هَٰذَا مِنۡ عَمَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِۖ ﴿ "berkata, 'Ini adalah per-buatan setan'," yakni: Rayuan dan bisikannya. ﴾ إِنَّهُۥ عَدُوّٞ مُّضِلّٞ مُّبِينٞ ﴿ "Se-sungguhnya setan itu musuh yang menyesatkan lagi nyata," maka dari itu aku melakukan apa yang telah terlanjur aku lakukan disebab-kan permusuhannya yang sangat nyata dan upaya kerasnya untuk menyesatkan. Lalu dia meminta ampun seraya ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمۡتُ نَفۡسِي فَٱغۡفِرۡ لِي فَغَفَرَ لَهُۥٓۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku.' Maka Allah mengampuninya. Sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," terutama kepada orang-orang yang tunduk kembali kepadaNya, yaitu orang-orang yang segera kembali dan bertaubat, seperti yang telah dilakukan oleh Musa عليه السلام. Maka Musa ﴾ قَالَ رَبِّ بِمَآ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ ﴿ "berkata, 'Ya Rabbku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku'," yaitu berupa taubat, am-punan dan berbagai nikmat yang sangat banyak, ﴾ فَلَنۡ أَكُونَ ظَهِيرٗا ﴿ "aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong," maksudnya, pembela dan pembantu ﴾ لِّلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "bagi orang-orang yang berdosa." Maksudnya, aku tidak akan menolong seorang pun untuk kemaksiatan. Ini adalah janji dari Musa عليه السلام, disebabkan karena karunia Allah atas dirinya, yaitu tidak akan menolong seorang yang berbuat dosa sebagaimana telah dia lakukan dalam pembunuhan terhadap orang yang berda-rah Qibthi tersebut. Ini mengartikan bahwa berbagai kenikmatan itu menuntut dari seorang hamba untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan.
(18-19) Setelah terjadi pembunuhan yang dilakukannya terhadap orang yang berasal dari musuhnya, maka dia menjadi ﴾ فِي ٱلۡمَدِينَةِ خَآئِفٗا يَتَرَقَّبُ ﴿ "merasa takut menunggu-nunggu di kota itu," apa-kah diketahui oleh keluarga Fir'aun ataukah tidak? Sebenarnya dia merasa takut, karena dia tahu bahwa tidak akan ada seorang pun yang berani melakukan perbuatan seperti ini kecuali Musa dari Bani Israil. Ketika dia dalam keadaan seperti itu, ﴾ فَإِذَا ٱلَّذِي ٱسۡتَنصَرَهُۥ بِٱلۡأَمۡسِ ﴿ "maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kemarin," untuk melawan musuhnya, ﴾ يَسۡتَصۡرِخُهُۥۚ ﴿ "berteriak meminta pertolongan ke-padanya," untuk melawan seorang Qibthi lain. ﴾ قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰٓ ﴿ "Musa berkata kepadanya," seraya mencela sikap orang itu, ﴾ إِنَّكَ لَغَوِيّٞ مُّبِينٞ ﴿ "Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata," maksudnya nyata kesesatannya dan menampakkan kelancangan.﴾ فَلَمَّآ أَنۡ أَرَادَ أَن يَبۡطِشَ ﴿ "Maka tatkala dia hendak memegang dengan keras," maksudnya, Musa hendak mencengkeram dengan keras ﴾ بِٱلَّذِي هُوَ عَدُوّٞ لَّهُمَا ﴿ "orang yang menjadi musuh keduanya," musuhnya dan musuh orang yang meminta pertolongan kepada Musa. Maksudnya, pada saat per-kelahian sedang berlangsung antara orang dari bangsa Qibthi dan seorang berkebangsaan Isra`il, maka yang dari bangsa Isra`il ini meminta pertolongan kepada Musa, lalu jiwa kesukuan pun bangkit hingga membuat Musa bermaksud menampar orang Qibthi itu, maka ﴾ قَالَ ﴿ "musuhnya berkata," maksudnya orang yang dari bangsa Qibthi itu berkata kepada Musa untuk mencela tindakannya mem-bunuh orang lain, ﴾ أَتُرِيدُ أَن تَقۡتُلَنِي كَمَا قَتَلۡتَ نَفۡسَۢا بِٱلۡأَمۡسِۖ إِن تُرِيدُ إِلَّآ أَن تَكُونَ جَبَّارٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu ke-marin telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak bermaksud melain-kan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di bumi ini," karena di antara jejak terbesar dari tindakan orang yang semena-mena di bumi ini adalah membunuh jiwa manusia dengan alasan tidak benar, ﴾ وَمَا تُرِيدُ أَن تَكُونَ مِنَ ٱلۡمُصۡلِحِينَ ﴿ "dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian." Kalau tidak, dan kalau seandainya kamu menghendaki perdamaian, nis-caya kamu telah melerai antara aku dengannya tanpa harus mem-bunuh salah satu (di antara kami). Maka Musa menahan diri dari membunuhnya dan sadar karena nasihat dan tegurannya.
(20) Berita tentang tindakan Musa dalam dua kasus tersebut menyebar luas hingga para pembesar Fir'aun dan Fir'aun sendiri merencanakan untuk menghabisi Musa, dan mereka mengadakan musyawarah dalam hal ini. Namun Allah سبحانه وتعالى telah menggerakkan hati lelaki yang tulus menasihati (lelaki yang tidak jadi dibunuh oleh Musa. Pent.) itu lalu dia pun segera menginformasikan kepada Musa tentang apa yang diperbincangkan oleh para pembesar me-reka mengenai Musa. Allah berfirman, ﴾ وَجَآءَ رَجُلٞ مِّنۡ أَقۡصَا ٱلۡمَدِينَةِ يَسۡعَىٰ ﴿ "Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas," maksudnya, dia berlari cepat dengan kedua kakinya karena ketulusannya ke-pada Musa dan khawatir kalau mereka berhasil membunuhnya sebelum Musa mengetahui ﴾ قَالَ يَٰمُوسَىٰٓ إِنَّ ٱلۡمَلَأَ يَأۡتَمِرُونَ ﴿ "seraya berkata, 'Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding'," mak-sudnya, bermusyawarah membicarakanmu, ﴾ لِيَقۡتُلُوكَ فَٱخۡرُجۡ ﴿ "untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah" dari kota ini, ﴾ إِنِّي لَكَ مِنَ ٱلنَّٰصِحِينَ ﴿ "sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepada-mu," maka patuhilah nasihatku.
(21) ﴾ فَخَرَجَ مِنۡهَا خَآئِفٗا يَتَرَقَّبُۖ ﴿ "Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir" jangan-jangan dirinya dibunuh, dan dia berdoa kepada Allah seraya ﴾ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "mengucapkan, 'Ya Rabbku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zhalim itu'," karena sesungguhnya Musa telah bertaubat dari dosa-nya, dan dia melakukan perbuatan tersebut karena emosi dan tidak bermaksud membunuh, maka ancaman mereka terhadap Musa adalah kezhaliman dan kelancangan.
(22) ﴾ وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلۡقَآءَ مَدۡيَنَ ﴿ "Dan tatkala dia menghadap ke jurusan negeri Madyan." Maksudnya, pergi menuju negeri Madyan, yaitu yang terletak di selatan Palestina, di mana di sana Fir'aun tidak mempunyai kekuasaan, ﴾ قَالَ عَسَىٰ رَبِّيٓ أَن يَهۡدِيَنِي سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "ia berdoa (lagi), 'Mudah-mudahan Rabbku memimpinku ke jalan yang benar'," maksud-nya, ke tengah jalan yang singkat yang dapat mengantarku kepada-nya dengan mudah dan nyaman. Maka Allah pun membimbingnya kepada jalan yang lurus hingga akhirnya dia sampai di Madyan.
(23) ﴾ وَلَمَّا وَرَدَ مَآءَ مَدۡيَنَ وَجَدَ عَلَيۡهِ أُمَّةٗ مِّنَ ٱلنَّاسِ يَسۡقُونَ ﴿ "Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan, dia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan" ternaknya. Penduduk Madyan ini adalah masyarakat peternak hewan yang sangat banyak, ﴾ وَوَجَدَ مِن دُونِهِمُ ﴿ "dan dia menjumpai di belakang orang banyak itu," di belakang sekumpulan orang itu, ﴾ ٱمۡرَأَتَيۡنِ تَذُودَانِۖ ﴿ "dua orang wanita yang sedang menghambat," domba-dombanya agar tidak mendekat kepada keru-munan orang banyak itu, karena keduanya merasa tidak mampu untuk berdesakan dengan kaum lelaki, dan karena kaum lelaki itu bakhil dan tidak mempunyai kepribadian baik (jiwa sosialnya) untuk membiarkan keduanya memberi minum hewan ternaknya. ﴾ قَالَ ﴿ "Musa berkata" kepada kedua gadis itu, ﴾ مَا خَطۡبُكُمَاۖ ﴿ "Apakah maksudmu berdua?" Maksudnya, bagaimana kalian dengan kondisi seperti ini? ﴾ قَالَتَا لَا نَسۡقِي حَتَّىٰ يُصۡدِرَ ٱلرِّعَآءُۖ ﴿ "Kedua wanita menjawab, 'Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sehingga penggembala-peng-gembala itu memulangkan (ternaknya)'." Maksudnya, sudah menjadi kebiasaan bahwa kami tidak mungkin dapat meminumkan ternak sehingga para penggembala memulangkan ternak-ternaknya, lalu apabila keadaan sudah lengang, barulah kami meminumkan, ﴾ وَأَبُونَا شَيۡخٞ كَبِيرٞ ﴿ "sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umur-nya," maksudnya, sudah tidak mempunyai kekuatan untuk memi-numkan ternaknya, dan kami pun tidak mempunyai daya untuk melakukannya dan kami juga tidak mempunyai orang laki-laki yang bisa berdesakan dengan para penggembala.
(24) Maka Musa عليه السلام merasa iba dan kasihan kepada me-reka berdua, ﴾ فَسَقَىٰ لَهُمَا ﴿ "maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya," tanpa minta imbalan upah kepada keduanya dan tidak juga mempunyai niat lain selain keridhaan Allah سبحانه وتعالى. Se-telah dia berhasil meminumkan ternak milik kedua gadis itu, yang mana pada saat itu cuaca sangat panas sekali di tengah siang hari, hal ini terbukti dengan FirmanNya, ﴾ ثُمَّ تَوَلَّىٰٓ إِلَى ٱلظِّلِّ ﴿ "Kemudian dia kembali ke tempat yang teduh" untuk beristirahat di tempat teduh itu setelah kelelahan, ﴾ فَقَالَ ﴿ "lalu berkata" pada kondisi seperti itu se-raya memohon karunia kepada Rabbnya, ﴾ رَبِّ إِنِّي لِمَآ أَنزَلۡتَ إِلَيَّ مِنۡ خَيۡرٖ فَقِيرٞ ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku," maksudnya, sesungguhnya aku sangat membutuhkan kebaikan yang Engkau bawakan kepadaku dan Engkau memudahkannya untukku. Ini adalah permohonan Musa melalui ungkapan kondisinya. Dan memohon kepada Allah dengan (bertawasul) dengan kondisi itu lebih mantap daripada memohon dengan ungkapan lisan.
(25) Dan Musa terus dalam kondisi seperti itu, memohon kepada Allah sambil berbolak-balik, sedangkan kedua perempuan tadi pulang menuju ayahnya dan memberitakan apa yang telah terjadi. Kemudian sang ayah menyuruh salah satu dari dua gadis itu untuk mendatangi Musa, lalu dia pun mendatanginya ﴾ تَمۡشِي عَلَى ٱسۡتِحۡيَآءٖ ﴿ "berjalan dengan malu-malu." Ini menunjukkan keluhuran jiwanya dan akhlaknya yang mulia, sebab rasa malu itu termasuk akhlak yang terpuji, terutama bagi kaum wanita. Hal ini juga mem-buktikan bahwa apa yang dilakukan oleh Musa عليه السلام, yaitu membe-rikan minum ternak kedua gadis itu bukan berkedudukan sebagai kuli atau pembantu yang biasanya tidak dimalui, malah sebaliknya, Musa berbesar jiwa, si perempuan itu, karena keluhuran akhlak Musa dan kemuliaan budi pekertinya, melihat sesuatu yang mem-buatnya sangat merasa malu kepada Musa, ﴾ قَالَتۡ ﴿ "dia berkata" kepada Musa, ﴾ إِنَّ أَبِي يَدۡعُوكَ لِيَجۡزِيَكَ أَجۡرَ مَا سَقَيۡتَ لَنَاۚ ﴿ "Sesungguhnya ba-pakku memanggil kamu agar dia memberi balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami." Maksudnya, bukan untuk mengung-kit-ungkit kebaikanmu, melainkan engkaulah yang terlebih dahulu melakukan kebaikan kepada kami. Sesungguhnya maksud ayahku hanya memberimu imbalan atas kebaikanmu. Musa kemudian memenuhi panggilan itu. ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُۥ وَقَصَّ عَلَيۡهِ ٱلۡقَصَصَ ﴿ "Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu'aib) dan menceritakan kepadanya cerita (me-ngenai dirinya)," dari permulaan sebab yang telah mengharuskannya melarikan diri hingga sampai kepadanya, Syu'aib ﴾ قَالَ ﴿ "berkata" dengan maksud menenangkan rasa takutnya dan mengobati hati-nya, ﴾ لَا تَخَفۡۖ نَجَوۡتَ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zhalim itu." Maksudnya, biarkan rasa takut dan rasa cemasmu pergi, karena sesungguhnya Allah telah menyelamatkanmu dari mereka, karena engkau telah sampai di tempat ini, tempat yang mereka tidak mempunyai kekuasaan atasnya.
(26) ﴾ قَالَتۡ إِحۡدَىٰهُمَا ﴿ "Salah seorang dari kedua wanita itu berkata." Maksudnya, salah satu putrinya, ﴾ يَٰٓأَبَتِ ٱسۡتَـٔۡجِرۡهُۖ ﴿ "Wahai ayahku, ambil-lah ia sebagai orang yang bekerja," maksudnya jadikanlah dia sebagai karyawanmu untuk menggembala domba dan memberinya minum, ﴾ إِنَّ خَيۡرَ مَنِ ٱسۡتَـٔۡجَرۡتَ ٱلۡقَوِيُّ ٱلۡأَمِينُ ﴿ "karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya," maksudnya, sesungguhnya Musa adalah orang yang paling pantas untuk dijadikan sebagai pekerja, karena dia mempunyai dua sifat, yaitu kuat dan terpercaya, dan sebaik-baik pekerja adalah orang yang memiliki dua sifat itu. Yaitu kekuatan dan kemampuan untuk melakukan apa yang dibebankan kepada-nya, dan amanah di dalam pekerjaannya diwujudkan dengan cara tidak berkhianat. Dua sifat ini pantas untuk dijadikan pertimbangan bagi setiap orang yang akan menyerahkan suatu pekerjaan untuk orang lain dengan upah atau lainnya. Sebab, kesalahan tidak akan terjadi kecuali karena ketiadaan dua sifat ini atau ketiadaan salah satunya. Adapun kalau keduanya ada, maka pekerjaan pasti akan sempurna dan terlaksana. Sebenarnya dia mengatakan hal itu ka-rena dia telah menyaksikan sendiri kekuatan Musa pada saat me-minumkan ternak keduanya dan kegigihannya yang dengannya dia dapat mengetahui kekuatan Musa. Dan dia pun menyaksikan keamanahan dan kereligiannya dan (dia merasakan pula) bahwa Musa merasa kasihan kepada mereka berdua tanpa mengharapkan imbalan dari mereka berdua, dan tujuan Musa hanyalah memper-oleh Wajah Allah semata.
(27) Lalu ﴾ قَالَ ﴿ "dia berkata." Maksudnya, penguasa negeri Madyan itu kepada Musa, ﴾ إِنِّيٓ أُرِيدُ أَنۡ أُنكِحَكَ إِحۡدَى ٱبۡنَتَيَّ هَٰتَيۡنِ عَلَىٰٓ أَن تَأۡجُرَنِي ﴿ "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja kepadaku," mak-sudnya, kamu menjadi pekerjaku dengan upah ﴾ ثَمَٰنِيَ حِجَجٖۖ ﴿ "selama delapan (musim) haji," maksudnya, delapan tahun. ﴾ فَإِنۡ أَتۡمَمۡتَ عَشۡرٗا فَمِنۡ عِندِكَۖ ﴿ "Dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) darimu," adalah sumbangan darimu, tidak ada sesuatu yang wajib atasmu, ﴾ وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أَشُقَّ عَلَيۡكَۚ ﴿ "aku tidak hendak memberat-kanmu," lalu aku mewajibkan sampai sepuluh tahun kepadamu; atau aku tidak ingin mempekerjakanmu supaya membebanimu dengan pekerjaan-pekerjaan yang sangat berat. Aku hanya akan mempekerjakanmu dengan pekerjaan yang ringan lagi mudah, tidak memberatkan, ﴾ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik." Lalu Syu'aib membuatnya menyukai (untuk diangkat sebagai karyawan) dengan cara (membebankan) pekerjaan yang ringan dan perlakuan yang baik. Ini membuktikan bahwa lelaki yang shalih harus memperbai-ki akhlaknya sebisa mungkin, dan bahwa faktor (jenis pekerjaan) yang dituntut darinya adalah lebih penting daripada faktor lainnya.
(28) Maka ﴾ قَالَ ﴿ "berkata" Musa عليه السلام menjawab permintaan orang itu, ﴾ ذَٰلِكَ بَيۡنِي وَبَيۡنَكَۖ ﴿ "Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu," maksudnya, persyaratan yang engkau sebutkan tadi, maka aku rela (menerimanya), dan sudah sempurna akad antara aku dengan-mu, ﴾ أَيَّمَا ٱلۡأَجَلَيۡنِ قَضَيۡتُ فَلَا عُدۡوَٰنَ عَلَيَّۖ ﴿ "Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku," sama saja bagiku, apakah yang aku tunaikan itu yang delapan tahun atau aku dengan suka rela melebihinya, ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٞ ﴿ "dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan," menjadi penjaga yang selalu mengawasi kita dan mengetahui apa yang kita sepakati. Lelaki, si ayah kedua gadis ini adalah penguasa negeri Madyan, dia bukan Syu'aib, sang nabi yang terkenal itu, sebagaimana dikenal di kalangan banyak orang. Sesungguhnya pendapat yang demikian itu sama sekali tidak mempunyai dalil.[43] Yang ada adalah bahwa negeri Syu'aib عليه السلام adalah Madyan, dan peristiwa (yang sedang dibicarakan) ini terjadi di Madyan. Lalu di mana keterkaitan antara kedua perkara ini? Dan juga, tidak diketahui adanya informasi bahwa Musa mengalami masa hidupnya Syu'aib, apa lagi dengan pribadinya? Kalau sekiranya lelaki itu adalah Syu'aib, tentu Allah سبحانه وتعالى menyebutnya dan tentu kedua gadis tersebut menyebut namanya. Dan pula, sesungguhnya kaumnya Syu'aib telah dimusnah-kan oleh Allah سبحانه وتعالى karena mereka telah mendustakannya, tidak ada yang tersisa kecuali orang-orang yang beriman kepadanya. Dan Allah sudah pasti melindungi kaum Mukminin dari sikap rela mereka terhadap perbuatan menghalang-halangi dua putri nabi mereka untuk meminumkan ternaknya, sehingga harus datang seorang lelaki asing lalu berbaik hati kepada mereka berdua dan membantu meminumkan hewan ternaknya. Dan tentu Syu'aib tidak rela kalau Musa bekerja sebagai penggembala untuknya dan menjadi pembantunya, padahal Musa lebih utama dan lebih tinggi derajatnya daripadanya, kecuali kalau dikatakan bahwa hal ini ter-jadi sebelum kenabian Musa, maka tidak terjadi kontradiksi. Yang jelas, ia tidak bisa dijadikan sandaran klaim bahwa lelaki itu adalah Nabi Syu'aib tanpa dasar hadits shahih dari Nabi a. Wallahu a'lam.
(29) ﴾ فَلَمَّا قَضَىٰ مُوسَى ٱلۡأَجَلَ ﴿ "Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan." Bisa jadi Musa telah menyelesaikan waktu yang wajib yang telah ditentukan atau sudah melebihinya, sebagai-mana bisa diduga pada Musa dan penunaiannya, kemudian dia merasa rindu untuk berjumpa dengan keluarga, ibunda, kerabat dekat dan tanah airnya. Dan diduga pula, karena sudah lamanya masa, bahwa mereka telah melupakan apa yang telah diperbuatnya. ﴾ وَسَارَ بِأَهۡلِهِۦٓ ﴿ "Dan dia berangkat dengan keluarganya," menuju Mesir, lalu ﴾ ءَانَسَ مِن جَانِبِ ٱلطُّورِ نَارٗاۖ ﴿ "dia melihat api di lereng gunung Thur." Maka ﴾ قَالَ لِأَهۡلِهِ ٱمۡكُثُوٓاْ إِنِّيٓ ءَانَسۡتُ نَارٗا لَّعَلِّيٓ ءَاتِيكُم مِّنۡهَا بِخَبَرٍ ﴿ "dia berkata kepada ke-luarganya, 'Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu'," atau aku membawakan cahaya api obor kepadamu,﴾ أَوۡ جَذۡوَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ لَعَلَّكُمۡ تَصۡطَلُونَ ﴿ " atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan." Pada saat itu dia sudah kedinginan dan tersesat jalan.
(30) Maka tatkala Musa sampai ke tempat api itu, diserulah dia, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِنِّيٓ أَنَا ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Ya Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Rabb semesta alam." Allah mengabarkan kepadanya uluhiyah dan rububiyahNya, dan dari hal itu memastikan memerintahnya agar beribadah dan mengabdi kepadaNya, sebagaimana ditegaskan di dalam ayat yang lain, ﴾ فَٱعۡبُدۡنِي وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ 14 ﴿ "Maka sembahlah Aku, dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku." (Thaha: 14).
(31) ﴾ وَأَنۡ أَلۡقِ عَصَاكَۚ ﴿ "Dan lemparkanlah tongkatmu," lalu Musa melemparkannya. ﴾ فَلَمَّا رَءَاهَا تَهۡتَزُّ ﴿ "Maka tatkala dia melihatnya bergerak-gerak" berusaha keras bergerak. Dan ia memiliki bentuk yang me-nakutkan ﴾ كَأَنَّهَا جَآنّٞ ﴿ "seolah-olah dia seekor ular," yang sangat besar, ﴾ وَلَّىٰ مُدۡبِرٗا وَلَمۡ يُعَقِّبۡۚ ﴿ "larilah dia berbalik ke belakang tanpa menoleh." Mak-sudnya, Musa lari karena hatinya dikuasai rasa takut. Lalu Allah berkata kepadanya, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ أَقۡبِلۡ وَلَا تَخَفۡۖ إِنَّكَ مِنَ ٱلۡأٓمِنِينَ ﴿ "Hai Musa, datang-lah kepadaKu dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman." Ini adalah cara pengembalian rasa aman yang paling baik dan menghilangkan rasa takut. Sebab FirmanNya, ﴾ أَقۡبِلۡ ﴿ "Datanglah," menunjukkan perintah mengharuskan ia datang dan mewajibkan dia taat. Akan tetapi, karena bisa jadi kedatangan-nya masih diselimuti rasa takut, maka dikatakan kepadanya,﴾ وَلَا تَخَفۡۖ ﴿ "dan jangan kamu takut," suatu perintah kepadanya akan dua hal, yaitu datang, dan hendaknya dalam hatinya tidak ada rasa takut. Akan tetapi ada kemungkinan lain, yaitu bisa jadi dia datang dalam keadaan tidak ada rasa takut, akan tetapi dia tidak memper-oleh penjagaan dan rasa aman dari hal yang tidak diinginkan, maka dari itu dikatakan, ﴾ إِنَّكَ مِنَ ٱلۡأٓمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman." Maka semenjak itu hilanglah yang dikha-watirkan dari segala sisi. Maka Musa عليه السلام datang tanpa ada rasa takut dan tidak pula tertakut-takuti, melainkan dia tenang dan merasa yakin dengan berita dari Rabbnya. Imannya telah bertam-bah dan keyakinannya menjadi sempurna. Ini adalah satu ayat (mukjizat) yang diperlihatkan oleh Allah kepadanya sebelum dia pergi kepada Fir'aun, agar benar-benar berada dalam keyakinan yang prima, supaya dia lebih berani menghadapinya, lebih kuat dan lebih teguh.
(32) Kemudian Dia memperlihatkan kepadanya mukjizat yang lain, seraya berfirman, ﴾ ٱسۡلُكۡ يَدَكَ ﴿ "Susupkanlah tanganmu." Maksudnya, masukkanlah tanganmu, ﴾ فِي جَيۡبِكَ تَخۡرُجۡ بَيۡضَآءَ مِنۡ غَيۡرِ سُوٓءٖ ﴿ "ke leher bajumu, niscaya ia keluar putih tidak bercacat, bukan karena penya-kit," maka dia pun memasukkannya lalu mengeluarkannya seba-gaimana disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱضۡمُمۡ إِلَيۡكَ جَنَاحَكَ مِنَ ٱلرَّهۡبِۖ ﴿ "dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada)mu disebabkan ketakutan." Mak-sudnya, dekapkanlah lengan tanganmu ke dada agar hilang darimu rasa takut dan khawatir, ﴾ فَذَٰنِكَ ﴿ "maka yang demikian itu," yakni berubahnya tongkat menjadi ular dan keluarnya tangan menjadi putih bersinar bukan karena penyakit, ﴾ بُرۡهَٰنَانِ مِن رَّبِّكَ ﴿ "adalah dua mukjizat dari Rabbmu" maksudnya, dua hujjah yang pasti dari Allah, ﴾ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦٓۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ ﴿ "kepada Fir'aun dan pembesar-pembesarnya. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik." Jadi tidak cukup bagi mereka hanya sekedar pemberian peringatan dan perintah Rasul kepada mereka, melainkan harus ada mukjizat-mukjizat yang luar biasa jika bermanfaat.
(33-34) Maka ﴾ قَالَ ﴿ "berkata" Musa عليه السلام untuk mengemuka-kan alasan kepada Rabbnya dan memohon pertolongan atas apa yang dibebankan kepadanya serta mengingat akan adanya segala rintangan-rintangan yang dihadapinya agar Dia menghapus semua yang dia cemaskan, ﴾ رَبِّ إِنِّي قَتَلۡتُ مِنۡهُمۡ نَفۡسٗا ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah membunuh seorang manusia dari golongan mereka," maksud-nya[44], ﴾ فَأَخَافُ أَن يَقۡتُلُونِ 33 وَأَخِي هَٰرُونُ هُوَ أَفۡصَحُ مِنِّي لِسَانٗا فَأَرۡسِلۡهُ مَعِيَ رِدۡءٗا ﴿ "maka aku takut mereka akan membunuhku. Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkanku," yakni sebagai penolong dan pendukungku yang membenarkan, karena sesungguhnya kebenaran itu akan menjadi lebih kuat bila disertai dengan banyaknya informasi.
(35) Lalu Allah mengabulkan permohonannya, seraya ber-firman, ﴾ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ ﴿ "Kami akan memperkuatmu dengan sauda-ramu," maksudnya, Kami akan menolongmu dan memperkuatmu dengannya. Kemudian Allah menghapuskan darinya rasa takut dibunuh, seraya berfirman, ﴾ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا ﴿ "dan Kami berikan ke-padamu berdua kekuasaan yang besar," yakni: Kekuasaan dan kemam-puan berdakwah dengan hujjah (argumen) dan wibawa ilahiyah terhadap musuh mereka berdua, ﴾ فَلَا يَصِلُونَ إِلَيۡكُمَا ﴿ "maka mereka tidak dapat mencapaimu," hal ini disebabkan mukjizat-mukjizat Kami dan kebenaran yang dibuktikannya serta rasa takut yang ditimbulkan-nya terhadap orang yang langsung melihatnya. Dengannyalah kalian berdua akan memperoleh kekuasaan, dan dengannya pula tipu daya musuh kalian akan tertolak, dan mukjizat itu bagi kalian menjadi lebih kuat daripada bala tentara yang berjumlah besar dan berperlengkapan lengkap, ﴾ أَنتُمَا وَمَنِ ٱتَّبَعَكُمَا ٱلۡغَٰلِبُونَ ﴿ "kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang." Ini adalah janji kepada Musa pada saat itu, sedangkan dia saat itu sendirian. Ia pun benar-benar kembali ke negerinya setelah sekian lama buron. Keadaan pun terus berkembang dan permasalahan-perma-salahan terus silih berganti hingga apa yang dijanjikan kepadanya benar-benar dilaksanakan. Dan Allah memberikan kepadanya kekuasaan terhadap manusia dan negeri, ia dan para pengikutnya, akhirnya meraih kemenangan dan kesuksesan.
(36) Lalu Musa pergi dengan membawa risalah Tuhannya. ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُم مُّوسَىٰ بِـَٔايَٰتِنَا بَيِّنَٰتٖ ﴿ "Maka tatkala Musa datang kepada mereka dengan (membawa) mukjizat-mukjizat Kami yang nyata" yang sangat jelas pembuktiannya terhadap kebenaran apa yang ia katakan kepada mereka, tidak ada kekurangan dan ketidakjelasan di dalam-nya, ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata" secara zhalim, sombong dan keras kepala, ﴾ مَا هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّفۡتَرٗى ﴿ "Ini tidak lain hanyalah sihir yang dibuat-buat," se-bagaimana dikatakan oleh Fir'aun dalam kondisi yang mana pada saat itu kebenaran menjadi jelas, mengalahkan kebatilan, kebatilan sirna dan para petinggi yang mengetahui hakikat permasalahan pun tunduk kepadanya: ﴾ إِنَّهُۥ لَكَبِيرُكُمُ ٱلَّذِي عَلَّمَكُمُ ٱلسِّحۡرَۖ ﴿ "Sesungguhnya ia benar-benar pembesar kalian yang telah menga-jarkan sihir kepada kalian." (Thaha: 71). Demikianlah. Dan Fir'aun adalah seorang yang cerdik yang tidak bermoral, yang telah berbuat makar dan tipu muslihat yang telah mencapai pada tingkat sebagaimana telah dikisahkan oleh Allah kepada kita. Ia sebenarnya telah mengetahui bahwa tidak ada yang bisa menurunkan mukjizat-mukjizat itu selain Rabb Pencipta langit dan bumi, hanya saja kebinasaan telah mengalahkannya. ﴾ وَمَا سَمِعۡنَا بِهَٰذَا فِيٓ ءَابَآئِنَا ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Dan kami belum pernah mendengar ini pada nenek moyang kami dahulu." Mereka benar-benar telah berdusta dalam hal ini. Sebab Allah سبحانه وتعالى telah mengangkat Yusuf sebagai rasul sebelum Musa, seperti yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَكُمۡ يُوسُفُ مِن قَبۡلُ بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَمَا زِلۡتُمۡ فِي شَكّٖ مِّمَّا جَآءَكُم بِهِۦۖ حَتَّىٰٓ إِذَا هَلَكَ قُلۡتُمۡ لَن يَبۡعَثَ ٱللَّهُ مِنۢ بَعۡدِهِۦ رَسُولٗاۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ مُّرۡتَابٌ 34 ﴿ "Dan sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan mem-bawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, sehingga ketika dia meninggal, kamu berkata, 'Allah tidak akan mengirim seorang (rasul pun) sesudah-nya.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu." (Ghafir: 34).
(37) ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰ ﴿ "Musa menjawab" ketika mereka beranggap-an bahwa apa yang dibawanya itu adalah sihir dan kesesatan, dan bahwa apa yang mereka anut itu yang benar,﴾ رَبِّيٓ أَعۡلَمُ بِمَن جَآءَ بِٱلۡهُدَىٰ مِنۡ عِندِهِۦ وَمَن تَكُونُ لَهُۥ عَٰقِبَةُ ٱلدَّارِۚ ﴿ "Rabbku lebih mengetahui orang yang (patut) membawa petunjuk dari sisiNya dan siapa yang akan mendapat kesudahan (yang baik) di akhirat," maksudnya, apabila pertemuan dengan kalian ini tidak berguna dan begitu pula penampakan ayat-ayat (mukjizat) yang sangat jelas ini, dan kalian bersikap enggan kecuali semakin tenggelam di dalam kesesatan kalian dan bersikukuh pada keka-firan kalian, maka Allah-lah yang mengetahui orang yang men-dapat petunjuk dan yang lainnya, serta mengetahui siapa yang mendapat kesudahan terbaik di akhirat: kami atau kalian. ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang zhalim tidaklah akan men-dapat kemenangan." Maka kesudahan yang baik, kemenangan dan kesuksesan akhirnya diperoleh oleh Musa dan para pengikutnya, sedangkan bagi mereka (Fir'aun dan kaumnya. Pent.) adalah ke-rugian dan kesudahan yang sangat buruk.
(38) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Dan Fir'aun berkata" dengan lancang kepada Allah untuk mengelabui kaumnya yang bodoh lagi kurang berakal, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمَلَأُ مَا عَلِمۡتُ لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرِي ﴿ "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui sembahan bagimu selain aku." Maksudnya, akulah semata tuhan dan sembahan kalian. Dan sekiranya di sana ada sembahan selain aku, tentu aku mengetahuinya! Lihatlah kesombongan besar Fir'aun. Ia tidak mengatakan, "Tidak ada bagi kalian sembahan selain aku!" Malah dengan som-bongnya dia mengatakan, "Aku tidak mengetahui sembahan bagi kalian selain aku!" Yang demikian ini dikarenakan Fir'aun dalam pandangan mereka adalah orang yang alim lagi mulia, yang mana apa pun yang diucapkannya, maka itulah yang haq; dan apa pun yang ia perintahkan, maka mereka menaatinya. Setelah dia mengatakan perkataan yang mengandung arti bahwa di sana ada sembahan selain dia ini, dia ingin membuktikan penafian yang di dalamnya ada makna kemungkinan. Maka dari itu ia berkata kepada Haman, ﴾ فَأَوۡقِدۡ لِي يَٰهَٰمَٰنُ عَلَى ٱلطِّينِ ﴿ "Hai Haman, bakarlah untukku tanah liat," supaya Haman membuatkan untuknya batu bata dari tanah liat, ﴾ فَٱجۡعَل لِّي صَرۡحٗا ﴿ "kemudian buatlah untukku bangunan yang tinggi," bangunan pencakar langit, ﴾ لَّعَلِّيٓ أَطَّلِعُ إِلَىٰٓ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُۥ ﴿ "supaya aku dapat naik melihat sembahan Musa, dan sesung-guhnya aku benar-benar yakin bahwa dia," seorang pendusta, akan tetapi kami akan membuktikan keyakinan ini dan akan kami per-lihatkan kepada kalian kedustaan Musa. Perhatikanlah kelancangan ini terhadap Allah سبحانه وتعالى, yang belum pernah dilakukan oleh seorang manusia pun (sebelumnya)! Ia mendustakan Musa dan mengklaim dirinya adalah Allah, dan dia menafikan kalau dirinya memiliki pengetahuan tentang sembahan yang haq, dan ia telah melakukan sarana-sarana untuk bisa melihat sembahannya Musa. Semua ini adalah propaganda belaka. Akan tetapi anehnya, para pembesar yang mengklaim bahwa mereka adalah orang-orang elit kerajaan yang mengatur seluruh perma-salahan kerajaan, bagaimana bisa akal mereka dipermainkan oleh si lelaki (durjana) ini dan direndahkan pikiran mereka! Ini semua terjadi karena kefasikan mereka yang telah menjadi karakter yang mengakar pada jiwa mereka dan karena kacau-balaunya agama mereka, yang kemudian diikuti oleh kerusakan akal pikiran mereka. Kami memohon kepada Allah keteguhan hati dalam beriman, dan agar Engkau tidak menyimpangkan hati kami setelah Engkau memberinya petunjuk, dan Engkau anugerahkan kepada kami dari sisiMu rahmat (kasih sayang). Sesungguhnya Engkau-lah yang Maha Pemberi karunia.
(39) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱسۡتَكۡبَرَ هُوَ وَجُنُودُهُۥ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan berlaku angkuhlah Fir'aun dan bala tentaranya di bumi (Mesir) tanpa alasan yang benar," mereka bertindak sewenang-wenang terha-dap hamba-hamba Allah dan menimpakan azab terhadap mereka, dan mereka menyombongkan diri terhadap para utusan Allah dan ayat-ayat (bukti-bukti) yang mereka bawa. Mereka mendustakan-nya dan beranggapan bahwa apa yang mereka anut itu lebih tinggi dan lebih utama daripadanya, ﴾ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُمۡ إِلَيۡنَا لَا يُرۡجَعُونَ ﴿ "dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami," maka dari itulah mereka lancang. Sebab, kalau tidak, maka kalau saja mereka mengetahui atau menduga bahwa mereka akan dikemba-likan kepada Allah, niscaya mereka tidak melakukan tindakan yang telah mereka lakukan itu.
(40) ﴾ فَأَخَذۡنَٰهُ وَجُنُودَهُۥ ﴿ "Maka Kami hukumlah Fir'aun dan bala tentaranya" di saat sikap keras kepala dan kecongkakan mereka berlanjut, ﴾ فَنَبَذۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡيَمِّۖ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zhalim," akibatnya adalah hukuman yang paling buruk dan paling merugikan yaitu siksaan dunia yang berkelanjutan dan berhubungan dengan siksaan akhirat.
(41) ﴾ وَجَعَلۡنَٰهُمۡ أَئِمَّةٗ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلنَّارِۖ ﴿ "Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru ke neraka," maksudnya, Kami menjadikan Fir'aun dan para pembesarnya sebagai para pemimpin yang dijadikan panutan dan diikuti dari belakang menuju negeri kenistaan dan kesengsaraan. ﴾ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ لَا يُنصَرُونَ ﴿ "Dan pada Hari Kiamat mereka tidak akan ditolong," dari azab Allah. Mereka sangat-lah lemah untuk menolaknya dari diri mereka, dan mereka sama sekali tidak mempunyai seorang pembela ataupun penolong dari selain Allah.
(42) ﴾ وَأَتۡبَعۡنَٰهُمۡ فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا لَعۡنَةٗۖ ﴿ "Dan Kami ikutkan laknat kepada mereka di dunia ini." Maksudnya, dan Kami ikutkan kepada mereka sebagai tambahan hukuman dan kehinaan mereka di dunia ini kutukan, mereka dikutuk. Dan mereka mendapatkan dari manusia sebutan buruk, kebencian dan celaan. Ini sudah menjadi masalah yang bisa disaksikan. Jadi, mereka adalah para pemimpin yang di-kutuk di dunia, dan mereka adalah yang terdepan, ﴾ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ هُم مِّنَ ٱلۡمَقۡبُوحِينَ ﴿ "dan pada Hari Kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan," diusir, perbuatan mereka dinyatakan menjijikkan. Me-reka adalah orang-orang yang mendapat kebencian Allah, kebencian manusia, dan kebencian diri mereka sendiri.
(43) ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَى ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Dan sungguh telah Kami berikan kepada Musa al-Kitab," yaitu Taurat, ﴾ مِنۢ بَعۡدِ مَآ أَهۡلَكۡنَا ٱلۡقُرُونَ ٱلۡأُولَىٰ ﴿ "sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu," yaitu orang-orang yang mana akhir kehidupan mereka adalah pembinasaan umum terhadap Fir'aun dan bala tentaranya. Ini adalah satu dalil yang membuktikan bahwa setelah turunnya Taurat itu pembinasaan umum selesai, dan dimulailah jihad melawan orang-orang kafir dengan pedang. ﴾ بَصَآئِرَ لِلنَّاسِ ﴿ "Untuk menjadi pelita bagi manusia," maksudnya, di dalam Kitab Taurat yang diturunkan kepada Musa, terdapat pelita-pelita bagi manusia, yaitu perkara-perkara yang dengannya mereka dapat melihat apa yang bermanfaat dan apa yang memba-hayakan mereka. Sehingga hujjah tegak terhadap orang yang dur-haka, dan dimanfaatkan oleh orang yang beriman, sehingga hujjah itu menjadi rahmat baginya dan petunjuk menuju jalan yang lurus. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ لَّعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ ﴿ "Dan petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat."
(44) Setelah Allah menceritakan kepada RasulNya apa yang telah dikisahkanNya, berupa kabar-kabar ghaib di atas, maka Dia mengingatkan hamba-hambaNya bahwa ini semua adalah kabar ilahi murni; Rasulullah sama sekali tidak punya jalan untuk me-ngetahui selain dari jalur wahyu. Maka dari itu, Dia berfirman, ﴾ وَمَا كُنتَ بِجَانِبِ ٱلۡغَرۡبِيِّ ﴿ "Dan tidaklah kamu (Muhammad) berada di sisi yang sebelah barat," maksudnya di sebelah barat bukit Thur pada waktu Kami memberikan keputusan kepada Musa, ﴾ وَمَا كُنتَ مِنَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "dan tiada pula kamu termasuk orang-orang yang menyaksikan" semua itu, sehingga dikatakan "bahwa sesungguhnya berita itu sampai kepa-damu dari jalur ini."
(45) ﴾ وَلَٰكِنَّآ أَنشَأۡنَا قُرُونٗا فَتَطَاوَلَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡعُمُرُۚ ﴿ "Tetapi Kami telah menga-dakan beberapa generasi, lalu berlalulah atas mereka masa yang panjang" sehingga ilmu menjadi punah dan ayat-ayatNya dilupakan, lalu Kami mengutusmu pada waktu yang mana kebutuhan kepadamu sangat penting dan kepada syariat yang Kami ajarkan dan Kami wahyukan kepadamu juga sangat dibutuhkan, ﴾ وَمَا كُنتَ ثَاوِيٗا ﴿ "dan tiadalah kamu tinggal," bermukim ﴾ فِيٓ أَهۡلِ مَدۡيَنَ تَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِنَا ﴿ "bersama-sama penduduk Madyan dengan membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka." Maksudnya, kamu ajarkan kepada mereka dan kamu be-lajar kepada mereka sehingga kamu dapat memberitakan sesuatu yang telah kamu beritakan tentang perihal Musa di Madyan, ﴾ وَلَٰكِنَّا كُنَّا مُرۡسِلِينَ ﴿ "tetapi Kami telah mengutus rasul-rasul." Maksudnya, akan tetapi kabar (berita) yang kamu bawa tentang Musa ini adalah merupakan satu imbas dari imbas-imbas pengutusan dari Kami untukmu dan wahyu yang kamu sama sekali tidak bisa mengeta-huinya tanpa pengutusan risalah dari Kami.
(46) ﴾ وَمَا كُنتَ بِجَانِبِ ٱلطُّورِ إِذۡ نَادَيۡنَا ﴿ "Dan tiadalah kamu berada di dekat gunung Thur ketika Kami menyeru" Musa dan ketika Kami meme-rintahnya pergi mendatangi kaum yang zhalim dan menyampaikan risalah Kami kepada mereka serta memperlihatkan kepada mereka mukjizat-mukjizat dan keajaiban-keajaiban Kami yang telah Kami ceritakan kepadamu itu. Yang dimaksud adalah bahwa peristiwa-peristiwa yang telah terjadi pada Nabi Musa عليه السلام di beberapa tempat tersebut, lalu kamu menceritakannya sebagaimana adanya tanpa menambah atau menguranginya adalah tidak lepas dari dua hal. Yang pertama: Kamu telah menghadirinya dan menyaksikannya, atau kamu telah pergi ke tempatnya lalu kamu mempelajarinya dari penduduk negeri itu, maka pada saat itu bisa jadi (kabar peristiwa itu) tidak menunjukkan padamu bahwa kamu adalah utusan Allah. Sebab perkara-perkara yang diberitakan berdasarkan kesaksian dan pe-nelitian termasuk perkara-perkara umum yang tidak khusus bagi para nabi saja. Akan tetapi itu semua sudah diketahui dan sudah diyakini bahwasanya ia tidak pernah ada dan tidak pernah terjadi. Jadi, para pendukungmu dan para musuhmu mengetahui ketiada-annya. Maka sudah pasti yang kedua ini, yaitu bahwa berita ini datang kepadamu dari Allah, wahyuNya serta pengangkatan rasul. Maka dapat dibuktikan dengan dalil yang pasti akan kebenaran kerasulanmu dan rahmat Allah kepada manusia melaluimu. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَلَٰكِن رَّحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَ لِتُنذِرَ قَوۡمٗا مَّآ أَتَىٰهُم مِّن نَّذِيرٖ مِّن قَبۡلِكَ ﴿ "Tetapi (Kami beritahukan itu kepadamu) sebagai rahmat dari Rabbmu, supaya kamu memberi peringatan kepada kaum yang sekali-kali belum datang kepada mereka pemberi peringatan sebelum kamu." Maksudnya, kaum Arab dan suku Quraisy. Sebab kerasulan itu tidak diketahui oleh mereka pada saat diutusnya seorang Rasul dan jauh berabad-abad sebelumnya, ﴾ لَّعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ ﴿ "agar mereka mempelajari" rincian kebaikan kemudian mengerjakannya, dan keburukan lalu mereka meninggalkannya. Apabila kedudukanmu seperti ini, maka kewa-jiban mereka adalah segera beriman kepadamu dan mensyukuri nikmat yang tidak ternilai harganya ini dan tidak akan terpenuhi kesyukurannya. Penyampaian peringatan Muhammad kepada orang-orang Arab itu sama sekali tidak menafikan keberadaannya sebagai utusan kepada selain mereka. Karena sesungguhnya dia adalah orang Arab dan al-Qur`an yang diturunkan kepadanya pun ber-bahasa Arab, dan orang pertama yang langsung beliau dakwahi adalah orang-orang Arab, sehingga kerasulan beliau pada asalnya untuk mereka dan untuk selain mereka selanjutnya, sebagaimana ditegaskan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا أَنۡ أَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ رَجُلٖ مِّنۡهُمۡ أَنۡ أَنذِرِ ٱلنَّاسَ ﴿ "Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewah-yukan kepada seorang laki-laki dari mereka, 'Berilah peringatan kepada manusia'." (Yunus: 2). Dan, ﴾ قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ جَمِيعًا ﴿ "Katakanlah, 'Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua'." (Al-A'raf: 158).
(47) ﴾ وَلَوۡلَآ أَن تُصِيبَهُم مُّصِيبَةُۢ بِمَا قَدَّمَتۡ أَيۡدِيهِمۡ ﴿ "Kalau saja mereka tidak ditimpa azab disebabkan apa yang mereka kerjakan," yaitu kekafiran dan berbagai maksiat, tentu mereka mengatakan, ﴾ رَبَّنَا لَوۡلَآ أَرۡسَلۡتَ إِلَيۡنَا رَسُولٗا فَنَتَّبِعَ ءَايَٰتِكَ وَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Ya Rabb kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kapada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayatMu dan jadilah kami termasuk orang-orang Mukmin," maka dari itu Kami mengutusmu wahai Muhammad, untuk menolak alasan mereka dan memotong perkataan mereka.
(48) ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُمُ ٱلۡحَقُّ ﴿ "Maka tatkala datang kepada mereka ke-benaran" yang tidak ada keraguan di dalamnya ﴾ مِنۡ عِندِنَا ﴿ "dari sisi Kami" yaitu al-Qur`an yang telah Kami wahyukan kepadamu, ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata" seraya mendustakannya dan menolak dengan suatu yang tidak bisa dijadikan sebagai paham penolakan, ﴾ لَوۡلَآ أُوتِيَ مِثۡلَ مَآ أُوتِيَ مُوسَىٰٓۚ ﴿ "Mengapakah tidak diberikan kepadanya (Muhammad) seperti yang telah diberikan kepada Musa dahulu." Maksudnya, diturunkan kepadanya sebuah kitab dari langit sekaligus. Artinya: Selagi ia di-turunkan secara berserakan (terpisah-pisah, bertahap. Pent) maka itu berarti bukan dari Allah. Dalil apa dalam hal ini? Syubhat apa yang membuktikan bahwa ia bukan dari Allah ketika diturunkan secara terpisah-pisah? Bahkan di antara kesempurnaan al-Qur`an ini dan perhatian Allah kepada orang yang al-Qur`an itu diturun-kan kepadanya adalah penurunan al-Qur`an secara terpisah-pisah (bertujuan) untuk meneguhkan hati RasulNya dengan cara itu, dan untuk terjadinya penambahan iman bagi orang-orang yang beriman, ﴾ وَلَا يَأۡتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ وَأَحۡسَنَ تَفۡسِيرًا 33 ﴿ "Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) se-suatu perumpamaan, melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya." (Al-Furqan: 33). Dan juga, sesungguhnya analogi mereka kepada Kitab Nabi Musa adalah analogi yang sudah mereka rusak sendiri. Lalu bagai-mana bisa mereka menganalogikannya kepada kitab yang telah mereka ingkari dan tidak mereka yakini? Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ أَوَلَمۡ يَكۡفُرُواْ بِمَآ أُوتِيَ مُوسَىٰ مِن قَبۡلُۖ قَالُواْ سِحۡرَانِ تَظَٰهَرَا ﴿ "Dan bukankah mereka itu telah ingkar (juga) kepada Kitab yang diberikan kepada Musa dahulu; mereka dahulu telah berkata, 'Dua ahli sihir yang bantu mem-bantu'." Maksudnya, al-Qur`an dan Taurat saling bantu-membantu di dalam sihirnya dan di dalam menyesatkan manusia.﴾ وَقَالُوٓاْ إِنَّا بِكُلّٖ كَٰفِرُونَ ﴿ "Dan mereka (juga) berkata, 'Sesungguhnya kami tidak memperca-yai masing-masing mereka itu'." Dengan demikian terbuktilah bahwa mereka hendak membatalkan kebenaran dengan sesuatu yang tidak bisa dijadikan argumen, dan hendak merusaknya dengan sesuatu yang tidak bisa dirusak, mereka mengucapkan perkataan-perka-taan yang kontradiksi. Itulah kebiasaan setiap orang kafir. Maka dari itu Allah menegaskan bahwa mereka kafir kepada dua kitab dan dua rasul tersebut.
Текст: Quranic Universal Library (Tarteel) через spa5k/tafsir_api (MIT), в зафиксированной версии. Аяты: Quran Foundation. Источники и лицензии