As-Sa'diMaryam · 19:1–26

As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian

مريم

Maryam

Mary · Meccan · 98 ayahs

19:1–6Page 305

كٓهيعٓصٓ ١

Kāf, Hā, Yā, ʿAyn, Ṣād.1

ذِكۡرُ رَحۡمَتِ رَبِّكَ عَبۡدَهُۥ زَكَرِيَّآ ٢

[This is] a mention of the mercy of your Lord to His servant Zechariah

إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥ نِدَآءً خَفِيّٗا ٣

When he called to his Lord a private call [i.e., supplication].

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ ٱلۡعَظۡمُ مِنِّي وَٱشۡتَعَلَ ٱلرَّأۡسُ شَيۡبٗا وَلَمۡ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيّٗا ٤

He said, "My Lord, indeed my bones have weakened, and my head has filled1 with white, and never have I been in my supplication to You, my Lord, unhappy [i.e., disappointed].

وَإِنِّي خِفۡتُ ٱلۡمَوَٰلِيَ مِن وَرَآءِي وَكَانَتِ ٱمۡرَأَتِي عَاقِرٗا فَهَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ وَلِيّٗا ٥

And indeed, I fear the successors1 after me, and my wife has been barren, so give me from Yourself an heir

يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنۡ ءَالِ يَعۡقُوبَۖ وَٱجۡعَلۡهُ رَبِّ رَضِيّٗا ٦

Who will inherit me1 and inherit from the family of Jacob. And make him, my Lord, pleasing [to You]."

"Kaf Ha Ya 'Ain Shad. (Yang dibacakan ini adalah) penje-lasan tentang rahmat Rabbmu kepada hambaNya, Zakaria. Yaitu tatkala dia berdoa kepada Rabbnya dengan suara yang lembut. Dia berkata, 'Wahai Rabbku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadaMu, wahai Rabbku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku ada-lah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisiMu seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya'qub, dan jadikanlah dia, wahai Rabbku, seorang yang diridhai'." (Maryam: 1-6).

Madaniyyah

"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang"

(2) Maksudnya, ini ﴾ ذِكۡرُ رَحۡمَتِ رَبِّكَ عَبۡدَهُۥ زَكَرِيَّآ 2 ﴿ "adalah penje-lasan rahmat Rabbmu kepada hambaNya, Zakaria." Kami akan me-ngisahkannya kepadamu dan akan menguraikannya dengan uraian terperinci yang bisa memperkenalkan kondisi NabiNya, Zakaria, peninggalan-peninggalannya yang baik, dan jalan hidupnya yang indah. Sesungguhnya dalam kisahnya terdapat pelajaran bagi orang yang mau mengambil pelajaran dan terdapat suri teladan bagi orang yang mau mengikuti (jejak para nabi). Dan karena di dalam penjelasan tentang rahmat (kasih sayang) Allah kepada para wali-Nya dan penjelasan tentang penyebab apa saja yang mengundang turunnya rahmat buat mereka itu, terkandung perkara-perkara yang bisa mendorong untuk mencintai Allah تعالى, memperbanyak dzikir kepadaNya, lebih mengenal Allah, dan terkandung faktor yang bisa mengantarkan kepadaNya. Hal ini disebabkan karena Allah تعالى telah memilih Nabi Zakaria عليه السلام (untuk mengemban) risalahNya dan mengistimewa-kan beliau dengan (pemberian) wahyu. Lalu Nabi Zakaria melak-sanakan tugasnya sebagaimana para rasul lainnya melaksanakan tugas mereka, mengajak manusia (agar beribadah) kepada Rabb-nya, mengajarkan kepada mereka ilmu yang diajarkan oleh Allah kepadanya, menasihati mereka saat hayat masih dikandung badan dan setelah meninggal dunia, sebagaimana saudara-saudaranya dari kalangan para rasul dan para pengikut mereka.

(3-4) Ketika Nabi Zakaria menyadari kelemahan pada dirinya dan khawatir akan meninggal, sementara belum ada orang yang menempati tugasnya untuk mendakwahi umat manusia kepada Rabb mereka dan menasihati mereka, maka beliau menga-dukan kelemahan batin dan fisiknya itu kepada Rabbnya. Beliau berdoa kepada Allah dengan suara lembut, supaya doanya lebih sempurna, lebih utama dan lebih paripurna keikhlasannya. Beliau mengatakan, ﴾ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ ٱلۡعَظۡمُ مِنِّي ﴿ "Wahai Rabbku, sesungguhnya tulang-ku telah lemah," maksudnya, sudah lemah dan lunglai. Jika tulang yang merupakan penyangga badan sudah lemah, maka anggota badan yang lain pasti ikut melemah. ﴾ وَٱشۡتَعَلَ ٱلرَّأۡسُ شَيۡبٗا ﴿ "Kepalaku telah ditumbuhi uban," karena (tumbuhnya) uban merupakan pertanda kelemahan dan masa tua, utusan dan duta kematian serta peringatan akan dekatnya kematian. Maka Zakaria menjadikan kelemahan dan ketidakberdayaannya sebagai wasilah (perantara) dalam berdoa kepada Allah. Ini meru-pakan salah satu bentuk wasilah yang dicintai oleh Allah, karena menunjukkan berlepas diri dari daya dan kekuatan (pribadi) dan ketergantungan hati hanya kepada daya dan kekuatan Allah. ﴾ وَلَمۡ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيّٗا 4 ﴿ "Dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadaMu, wahai Rabbku." Wahai Rabbku, Engkau tidak pernah menolak permintaanku dengan hampa dan menjadi terhalang-halangi dari pengabulan. Bahkan Engkau selalu menyambutku dan mengabulkan permohonanku. Dan kelembutanMu selalu silih berganti datang kepadaku, (begitu juga) kebaikanMu selalu sampai kepadaku. Ini merupakan satu bentuk tawassul kepada Allah dengan (penyebutan) nikmat yang Allah anugerahkan kepadanya dan pengabulan doa-doanya yang terdahulu. Jadi, Nabi Zakaria berdoa kepada Allah yang telah memberinya kebaikan pada masa yang lalu agar menyempurnakan curahan kebaikanNya pada masa akan datang.

(5) ﴾ وَإِنِّي خِفۡتُ ٱلۡمَوَٰلِيَ مِن وَرَآءِي ﴿ "Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku," maksudnya saya mengkhawatir-kan orang yang mengendalikan urusan pada Bani Isra`il setelah kematianku, mereka tidak menjalankan agamaMu dengan sebaik-baiknya dan tidak mendakwahi hamba-hambaMu (agar beribadah) kepadaMu. Secara eksplisit, perkataan beliau ini menunjukkan bahwa beliau belum mendapatkan salah seorang dari mereka yang mempunyai kapabilitas untuk menjadi pemimpin agama. Dalam ungkapan ini terdapat bukti kasih sayang Nabi Zakaria عليه السلام dan ketulusan hatinya, dan bahwa permintaannya agar diberi anak, bukan seperti permintaan orang lain, yang tujuannya semata-mata kemaslahatan duniawi. Tujuan Nabi Zakaria adalah kemaslahatan agama dan kekhawatiran agama ini lenyap. Beliau memandang orang lain tidak pantas untuk itu. Dan keluarga Nabi Zakaria termasuk keluarga- keluarga yang terkenal dalam masalah agama, sumber risalah dan tempat mencari kebaikan. Maka beliau berdoa kepada Allah agar dikaruniai seorang anak yang akan menegakkan agama sepeninggalnya. Beliau mengadukan bahwa istrinya mandul, maksudnya tidak bisa melahirkan sama sekali, sementara beliau sendiri sudah mencapai usia tua. Maknanya, sudah mencapai batas usia yang jarang memiliki gejolak syahwat (kepada wanita) dan (memperoleh) anak. ﴾ فَهَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ وَلِيّٗا 5 ﴿ "Maka anugerahilah aku seorang wali (putra) dari sisiMu."

(6) Perwalian yang dimaksud di sini adalah pengganti (dalam menangani urusan) agama dan pewaris kenabian, ilmu dan amal. Oleh karena itu, Zakaria bersabda, ﴾ يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنۡ ءَالِ يَعۡقُوبَۖ وَٱجۡعَلۡهُ رَبِّ رَضِيّٗا 6 ﴿ "Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya'qub, dan jadikanlah dia, wahai Rabbku, seorang yang diridhai," mak-sudnya seorang hamba shalih yang Engkau ridhai dan Engkau menjadikannya dicintai oleh para hambaMu. Pendek kata, beliau memohon kepada Allah agar dianugerahi seorang anak laki-laki yang shalih, yang hidup setelah Nabi Zakaria meninggal dan menjadi penggantinya, menjadi seorang nabi yang diridhai di sisi Allah dan disenangi oleh para makhlukNya. Ini adalah jenis anak yang paling sempurna. Dan termasuk cermin kasih sayang Allah kepada hambaNya (Zakaria), Allah memberinya seorang anak yang shalih, yang sarat dengan semua akhlak mulia dan perilaku yang terpuji. Lalu Allah menganugerahkan rahmat kepada Zakaria, lalu Allah mengabulkan doanya. Allah berfirman,

19:7–11Page 305

يَٰزَكَرِيَّآ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَٰمٍ ٱسۡمُهُۥ يَحۡيَىٰ لَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ مِن قَبۡلُ سَمِيّٗا ٧

[He was told],1 "O Zechariah, indeed We give you good tidings of a boy whose name will be John. We have not assigned to any before [this] name."

قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَٰمٞ وَكَانَتِ ٱمۡرَأَتِي عَاقِرٗا وَقَدۡ بَلَغۡتُ مِنَ ٱلۡكِبَرِ عِتِيّٗا ٨

He said, "My Lord, how will I have a boy when my wife has been barren and I have reached extreme old age?"

قَالَ كَذَٰلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٞ وَقَدۡ خَلَقۡتُكَ مِن قَبۡلُ وَلَمۡ تَكُ شَيۡـٔٗا ٩

[An angel] said, "Thus [it will be]; your Lord says, 'It is easy for Me, for I created you before, while you were nothing.'"

قَالَ رَبِّ ٱجۡعَل لِّيٓ ءَايَةٗۖ قَالَ ءَايَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ ٱلنَّاسَ ثَلَٰثَ لَيَالٖ سَوِيّٗا ١٠

[Zechariah] said, "My Lord, make for me a sign." He said, "Your sign is that you will not speak to the people for three nights, [being] sound."1

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنَ ٱلۡمِحۡرَابِ فَأَوۡحَىٰٓ إِلَيۡهِمۡ أَن سَبِّحُواْ بُكۡرَةٗ وَعَشِيّٗا ١١

So he came out to his people from the prayer chamber and signaled to them to exalt [Allāh] in the morning and afternoon.

"Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengannya." Zakaria berkata, "Ya Rabbku, bagaimana (mungkin) akan ada anak bagiku, sedangkan istriku adalah seorang yang mandul, dan aku (sendiri) sungguh sudah mencapai umur yang sangat tua." Dia berfirman, "Demikianlah." Rabbmu berfirman, "Hal itu adalah mudah bagiKu, dan sungguh telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali." Zakaria berkata, "Ya Rabbku, berilah aku suatu tanda." Dia berfirman, "Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat." Maka dia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu memberi isyarat kepada mereka, hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang." (Maryam: 7-11).

(7) Maksudnya, Allah تعالى memberinya kabar gembira ten-tang (kelahiran) Yahya melalui para malaikat. Allah menamakan-nya dengan sebutan Yahya. Sebuah nama yang selaras dengan pemiliknya. Dia hidup dengan nyata lagi tampak oleh indera (hissi) sampai nikmat (Allah) sempurna pada dirinya dan juga hidup secara maknawi. Yaitu kehidupan hati dan ruhnya disertai wahyu, ilmu dan agama. ﴾ لَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ مِن قَبۡلُ سَمِيّٗا 7 ﴿ "Yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengannya," maksudnya belum pernah ada seorang pun yang menggunakan nama ini se-belumnya. Ada kemungkinan (juga), makna ayat ini adalah Kami belum pernah menciptakan orang yang setara dan sama namanya dengannya dibanding masa sebelumnya. Sehingga, jadilah ini se-bagai kabar gembira (bagi Zakaria) karena kesempurnaan Yahya, yang menyandang sifat-sifat yang yang terpuji, dan bahwa Yahya itu mengungguli orang-orang sebelumnya. Akan tetapi, berdasar-kan kemungkinan ini, maka keumumannya harus ditakhsis (diper-sempit) dengan Nabi Ibrahim, Musa, Nuh dan lain sebagainya, yang mereka ini dipastikan lebih baik dibandingkan dengan Yahya.

(8) Ketika itu, saat Nabi Zakaria menerima kabar gembira kelahiran anak ini yang dimintanya, maka beliau justru merasa aneh dan keheranan. Beliau mengatakan, ﴾ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَٰمٞ ﴿ "Ya Rabbku, bagaimana (mungkin) akan ada anak bagiku," sementara kon-disinya bahwa faktor penghalang untuk mendapatkan anak, ada pada diri saya dan istri saya? Seakan-akan pada saat berdoa, beliau tidak menyadari keberadaan faktor penghalang ini, lantaran ke-inginan kuat di hatinya serta dahsyatnya hasrat yang besar untuk mendapatkan anak. Dalam kondisi seperti ini, saat doanya dikabul-kan, maka beliau merasa keheranan.

(9) Maka Allah menjawab keheranannya dengan Firman-Nya, ﴾ كَذَٰلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٞ ﴿ "Demikianlah." Rabbmu berfirman, "Hal itu adalah mudah bagiKu," maksudnya masalah ini memang aneh menurut kebiasaan, dan aneh juga dalam sunnatullah pada pencip-taan makhlukNya. Akan tetapi, kekuasaan Allah تعالى memungkin-kan penciptaan Yahya, tanpa melalui sebab-sebab (yang lumrah) dan masalah ini ringan bagiNya. Tidak lebih sulit bagi Allah dari-pada menciptakan Zakaria sebelumnya, padahal sebelumnya beliau tidak ada sama sekali.

(10) ﴾ قَالَ رَبِّ ٱجۡعَل لِّيٓ ءَايَةٗۖ ﴿ "Zakaria berkata, 'Ya Rabbku, berilah aku suatu tanda'," yaitu bukti yang membuat hatiku menjadi tenang. Ini bukanlah bentuk keragu-raguan (Zakaria) terhadap kabar dari Allah. Akan tetapi, perkataan ini semakna dengan ucapan yang dikatakan oleh Nabi Ibrahim, kekasih Allah, ﴾ رَبِّ أَرِنِي كَيۡفَ تُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰۖ قَالَ أَوَلَمۡ تُؤۡمِنۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطۡمَئِنَّ قَلۡبِيۖ ﴿ "Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau meng-hidupkan orang-orang yang mati." Allah berfirman, "Apakah kamu belum percaya." Ibrahim menjawab, "Saya telah percaya, akan tetapi agar hatiku tenang (mantap)." (Al-Baqarah: 260). Beliau memohon tambahan ilmu dan pencapaian ke derajat 'ainul yaqin setelah diberikan ilmul yaqin. Lalu Allah mengabulkan permintaannya sebagai wujud kasih sayang Allah kepadanya. ﴾ قَالَ ءَايَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ ٱلنَّاسَ ثَلَٰثَ لَيَالٖ سَوِيّٗا 10 ﴿ "Allah berfirman, 'Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat'." Dalam ayat yang lain, Allah berfirman, ﴾ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٍ إِلَّا رَمۡزٗاۗ ﴿ "Selama tiga hari, kecuali dengan isyarat." (Ali Imran: 41). Keduanya bermakna sama, karena terkadang Allah meng-ungkapkannya dengan kata layali (malam) dan terkadang dengan kata ayyam (siang hari), tapi arah maksudnya sama. Ini termasuk bukti (kebesaran Allah) yang menakjubkan. Karena, saat dirinya terhalang untuk berbicara selama tiga hari dan tidak mampu bicara tanpa disertai penyakit bisu dan cacat, bahkan dia dalam keadaan normal, tidak ada kekurangan apa pun, ini termasuk bukti-bukti kekuasaan Allah yang menerjang bentuk kewajaran. Meskipun dalam keadaan normal, Nabi Zakaria terhalangi untuk berbicara dengan pembicaraan yang berkaitan dengan manusia dan ber-komunikasi dengan mereka, sedangkan yang berkaitan dengan ucapan tasbih, [tahlil] dan dzikir serta ucapan serupa lainnya, maka beliau tidak dilarang darinya. Oleh karena itu, dalam ayat yang lain Allah berfirman, ﴾ وَٱذۡكُر رَّبَّكَ كَثِيرٗا وَسَبِّحۡ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِبۡكَٰرِ 41 ﴿ "Dan sebutlah (nama) Rabbmu sebanyak-banyaknya serta bertasbih-lah di waktu petang dan pagi hari." (Ali Imran: 41).

(11) Maka, hati Zakaria menjadi tenang dan bersuka-cita dengan kabar gembira ini. Dia pun taat kepada perintah Allah untuk bersyukur dengan cara beribadah kepadaNya dan selalu berdzikir. Zakaria berdiam diri di tempat ibadahnya dan keluar (menemui) kaumnya ﴾ فَأَوۡحَىٰٓ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "lalu dia memberi isyarat kepada kaumnya," yaitu dengan isyarat dan kode ﴾ أَن سَبِّحُواْ بُكۡرَةٗ وَعَشِيّٗا 11 ﴿ "hen-daklah kalian bertasbih di waktu pagi dan petang," karena kabar gembira dengan kedatangan Yahya bagi semua orang merupakan kemas-lahatan agamis (bagi mereka).

19:12–15Page 306

يَٰيَحۡيَىٰ خُذِ ٱلۡكِتَٰبَ بِقُوَّةٖۖ وَءَاتَيۡنَٰهُ ٱلۡحُكۡمَ صَبِيّٗا ١٢

[Allāh said], "O John, take the Scripture [i.e., adhere to it] with determination." And We gave him judgement [while yet] a boy

وَحَنَانٗا مِّن لَّدُنَّا وَزَكَوٰةٗۖ وَكَانَ تَقِيّٗا ١٣

And affection from Us and purity, and he was fearing of Allāh

وَبَرَّۢا بِوَٰلِدَيۡهِ وَلَمۡ يَكُن جَبَّارًا عَصِيّٗا ١٤

And dutiful to his parents, and he was not a disobedient tyrant.

وَسَلَٰمٌ عَلَيۡهِ يَوۡمَ وُلِدَ وَيَوۡمَ يَمُوتُ وَيَوۡمَ يُبۡعَثُ حَيّٗا ١٥

And peace be upon him the day he was born and the day he dies and the day he is raised alive.

"Hai Yahya, ambillah al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi dia masih kanak-kanak, dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami, dan kesucian (dari dosa). Dan dia adalah seorang yang bertakwa, dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah dia seorang yang sombong lagi durhaka. Kesejahteraan atas dirinyalah pada hari dia dilahirkan, dan pada hari dia me-ninggal dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali." (Maryam: 12-15).

(12) Pembicaraan yang telah lewat menunjukkan kelahiran, masa remaja, dan pertumbuhan Yahya. Pada saat dia sudah men-capai usia yang memungkinkannya untuk memahami arah pem-bicaraan, maka Allah memerintahkannya untuk mengambil kitab dengan penuh kekuatan, maksudnya dengan ketelatenan dan ke-sungguhan. Yaitu dengan bersungguh-sungguh dalam menghafal lafazh-lafazhnya, memahami makna-maknanya dan menaati semua perintah dan larangan-larangannya. Inilah wujud kesempurnaan mengambil kitab dengan penuh kekuatan. Lantas, Yahya menaati perintah Rabbnya, memberi perhatian kepadanya, menghafal dan memahaminya. Lalu Allah meletakkan kecerdasan dan kepandaian pada Yahya yang tidak ditemukan pada orang lain. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَءَاتَيۡنَٰهُ ٱلۡحُكۡمَ صَبِيّٗا 12 ﴿ "Dan Kami berikan kepada-nya hikmah selagi dia masih kanak-kanak," [maksudnya, mengetahui hukum-hukum Allah serta hikmah-hikmahNya saat masih kecil, dan kekanak-kanakan].

(13) Dan Kami juga memberikan kepadanya ﴾ وَحَنَانٗا مِّن لَّدُنَّا ﴿ "rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami," maksudnya rasa kasih dan sayang, sehingga urusan-urusannya menjadi gampang, kondisinya menjadi baik dan amalan-amalannya juga lurus, ﴾ وَزَكَوٰةٗۖ ﴿ "dan kesucian," maksudnya suci dari kekurangan-kekurangan dan dosa-dosa, maka hatinya bersih dan akalnya pun jernih. Ini meli-puti hilangnya sifat-sifat tercela dan perilaku-perilaku yang nista dari dirinya, dan sebagai tambahan akhlak-akhlak yang baik dan karakter-karakter yang terpuji. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَكَانَ تَقِيّٗا 13 ﴿ "Dan dia adalah seorang yang bertakwa," maksudnya orang yang melakukan perintah serta meninggalkan larangan.

(14) Siapa saja yang beriman dan bertakwa kepada Allah, maka dia menjadi salah satu wali Allah, dan termasuk salah satu (calon) penghuni surga yang dipersiapkan untuk orang-orang yang bertakwa. Dia mendapatkan pahala dunia akhirat yang Allah tetap-kan sebagai balasan atas ketakwaan. Yahya juga ﴾ ب َ ر ّ َ م ا بِوَٰلِدَيۡهِ ﴿ "banyak berbakti kepada kedua orang tuanya," maksudnya tidak durhaka dan tidak berbuat jelek kepada kedua orang tuanya, bahkan dia berbuat baik kepada keduanya lewat perkataan dan perbuatan. ﴾ وَلَمۡ يَكُن جَبَّارًا عَصِيّٗا 14 ﴿ "Dan bukanlah dia seorang yang sombong lagi durhaka," mak-sudnya, dia bukanlah sosok yang bersifat diktator, tinggi hati untuk beribadah kepada Allah, tidak sombong kepada sesama hamba Allah dan kedua orang tuanya. Bahkan sebaliknya, dia seorang yang selalu bertawadhu', rendah hati, taat dan bertaubat kepada Allah. Jadi, Nabi Yahya telah memadukan antara menunaikan hak-hak Allah dan menjalankan hak-hak makhluk Allah.

(15) Oleh sebab itu, dia dianugerahi keselamatan dari Allah, dalam segala kondisi, sejak permulaan sampai penghujung hayat-nya. Karenanya, Allah berfirman, ﴾ وَسَلَٰمٌ عَلَيۡهِ يَوۡمَ وُلِدَ وَيَوۡمَ يَمُوتُ وَيَوۡمَ يُبۡعَثُ حَيّٗا 15 ﴿ "Kesejahteraan atas dirinyalah pada hari dia dilahirkan, dan pada hari ia meninggal dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali." Hal tersebut menuntut selamatnya Yahya dari (godaan) setan, kejahatan dan hukuman (siksaan) dalam tiga kondisi ini (kelahiran, kematian dan waktu kebangkitan kembali) pada rentang waktu di antara ketiga peristiwa tersebut. Dia selamat dari neraka dan siksa, dan dia ter-masuk penghuni surga. Maka, semoga curahan shalawat dan salam Allah senantiasa tercurahkan kepada Yahya, kedua orang tuanya dan semua rasul. Dan semoga Allah berkenan menjadikan kita se-kalian termasuk pengikut-pengikut mereka. Sesungguhnya Allah itu Maha Dermawan lagi Mahamulia.

19:16–21Page 306

وَٱذۡكُرۡ فِي ٱلۡكِتَٰبِ مَرۡيَمَ إِذِ ٱنتَبَذَتۡ مِنۡ أَهۡلِهَا مَكَانٗا شَرۡقِيّٗا ١٦

And mention, [O Muḥammad], in the Book [the story of] Mary, when she withdrew from her family to a place toward the east.

فَٱتَّخَذَتۡ مِن دُونِهِمۡ حِجَابٗا فَأَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرٗا سَوِيّٗا ١٧

And she took, in seclusion from them, a screen. Then We sent to her Our Angel [i.e., Gabriel], and he represented himself to her as a well-proportioned man.

قَالَتۡ إِنِّيٓ أَعُوذُ بِٱلرَّحۡمَٰنِ مِنكَ إِن كُنتَ تَقِيّٗا ١٨

She said, "Indeed, I seek refuge in the Most Merciful from you, [so leave me], if you should be fearing of Allāh."

قَالَ إِنَّمَآ أَنَا۠ رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَٰمٗا زَكِيّٗا ١٩

He said, "I am only the messenger of your Lord to give you [news of] a pure boy [i.e., son]."

قَالَتۡ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَٰمٞ وَلَمۡ يَمۡسَسۡنِي بَشَرٞ وَلَمۡ أَكُ بَغِيّٗا ٢٠

She said, "How can I have a boy while no man has touched me and I have not been unchaste?"

قَالَ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٞۖ وَلِنَجۡعَلَهُۥٓ ءَايَةٗ لِّلنَّاسِ وَرَحۡمَةٗ مِّنَّاۚ وَكَانَ أَمۡرٗا مَّقۡضِيّٗا ٢١

He said, "Thus [it will be]; your Lord says, 'It is easy for Me, and We will make him a sign to the people and a mercy from Us. And it is a matter [already] decreed.'"

"Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam al-Qur`an, yaitu ketika dia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur maka dia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka, lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya, maka dia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata, 'Sesungguhnya aku berlindung darimu kepada Dzat Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.' Ia (Jibril) berkata, 'Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Rabbmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.' Maryam berkata, 'Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku, dan aku bukan (pula) seorang pezina!' Jibril berkata, 'Demikianlah.' Rabbmu berfirman, 'Hal itu adalah mudah bagiKu, dan agar Kami dapat menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami, dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan'." (Maryam: 6-21).

(16) Setelah Allah menceritakan kisah Zakaria dan Yahya, yang merupakan salah satu tanda kebesaran Allah yang mengagum-kan, maka Allah beralih darinya menuju fakta yang lebih menga-gumkan, secara berurutan dari peristiwa yang tingkat keanehan-nya relatif lebih rendah kepada yang lebih tinggi. Allah berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرۡ فِي ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "Dan ceritakanlah di dalam al-Qur`an," yang mulia ﴾ مَرۡيَمَ ﴿ "(kisah) Maryam," عليها السلام. Ini termasuk keutamaannya yang paling agung, yaitu namanya disebut-sebut di dalam al-Qur`an yang agung, yang dibaca oleh seluruh kaum Muslimin, di belahan bumi bagian Timur dan Barat. Ia singgung dengan sebutan terbaik dan sanjungan yang paling istimewa, sebagai balasan dari tindakannya yang luhur serta usahanya yang sempurna. Maksudnya, sebutlah kisah Maryam dalam al-Qur`an dalam kondisinya yang baik saat ﴾ ٱنتَبَذَتۡ ﴿ "dia menjauhkan diri," maksudnya menjauhkan diri dari ke-luarganya ﴾ مَكَانٗا شَرۡقِيّٗا 16 ﴿ "ke suatu tempat di sebelah timur," ke sebelah timur dari (daerah) kaumnya.

(17) ﴾ فَٱتَّخَذَتۡ مِن دُونِهِمۡ حِجَابٗا ﴿ "Maka dia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka," yaitu sebagai penutup dan pengaman. Keinginan untuk menjauhkan diri (dari kaumnya) dan pembuatan pembatas ini dengan tujuan untuk mengasingkan diri dan menyen-diri dalam rangka beribadah kepada Allah dan melakukan ketaatan kepadaNya dengan ikhlas dan ketundukan serta dengan (rasa) hina kepadaNya. Ini adalah bentuk ketaatannya kepada Allah, berdasarkan FirmanNya, ﴾ وَإِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰكِ وَطَهَّرَكِ وَٱصۡطَفَىٰكِ عَلَىٰ نِسَآءِ ٱلۡعَٰلَمِينَ 42 يَٰمَرۡيَمُ ٱقۡنُتِي لِرَبِّكِ وَٱسۡجُدِي وَٱرۡكَعِي مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ 43 ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu dan melebihkanmu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). Hai Maryam, taatlah kepada Rabbmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk'." (Ali Imran: 42-43). Firman Allah, ﴾ فَأَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهَا رُوحَنَا ﴿ "Lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya," yaitu Jibril عليه السلام ﴾ فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرٗا سَوِيّٗا 17 ﴿ "maka dia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna," yaitu seperti lelaki yang sempurna, dalam rupa yang tampan dan fisik yang sempurna, tidak memiliki aib dan cela. Lantaran Maryam tidak mampu menyaksikan Jibril dalam bentuk rupa aslinya.

(18) Saat Maryam melihat lelaki (jelmaan Jibril) dalam kondisi seperti ini, sementara dia sedang jauh dari keluarganya dan mengasingkan diri dari manusia, dan telah meletakkan hijab (penutup diri) dari orang yang paling terhormat baginya yaitu keluarganya, maka dia khawatir lelaki itu akan melancarkan per-buatan jahat dan tergiur padanya. Karena itu, dia bertawakal dan berlindung kepada Allah dari lelaki ini. Ia mengatakan, ﴾ إِنِّيٓ أَعُوذُ بِٱلرَّحۡمَٰنِ مِنكَ ﴿ "Sesungguhnya aku berlindung kepada Dzat Yang Maha Pemurah darimu," maksudnya aku berlindung dan mencari pemeliharaan (kepada Allah) dengan sifat rahmatNya dari keinginan jahatmu padaku ﴾ إِن كُنتَ تَقِيّٗا 18 ﴿ "jika kamu seorang yang bertakwa," maksudnya jika engkau takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya, maka janganlah engkau menggangguku. Di sini, Maryam menyatukan antara permohonan perlindung-an kepada Rabbnya dengan pemberian ancaman dan peringatan kepada si lelaki dan menyuruhnya bertakwa kepada Allah. Pada-hal Maryam berada dalam kondisi sepi (hanya berduaan), masih remaja dan jauh dari keramaian manusia. Sementara itu, pemuda ini dalam rupa tampan rupawan, penampilan yang sempurna lagi normal, tidak mengucapkan kata-kata kotor kepada Maryam dan juga tidak mengganggunya. Ini hanyalah kekhawatiran dari Maryam. Dan merupakan bagian tertinggi dari sifat iffah (pemeli-haraan diri) dan menghindari kejahatan serta segala faktor pemi-cunya. Iffah seperti ini termasuk amal yang paling baik, terutama saat faktor-faktor pemicunya ada, serta tidak ada penghalang. Karenanya, Allah memuji Maryam. Allah berfirman, ﴾ وَمَرۡيَمَ ٱبۡنَتَ عِمۡرَٰنَ ٱلَّتِيٓ أَحۡصَنَتۡ فَرۡجَهَا فَنَفَخۡنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا ﴿ "Dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami." (At-Tahrim: 12). ﴾ وَٱلَّتِيٓ أَحۡصَنَتۡ فَرۡجَهَا فَنَفَخۡنَا فِيهَا مِن رُّوحِنَا وَجَعَلۡنَٰهَا وَٱبۡنَهَآ ءَايَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ 91 ﴿ "Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatan-nya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami, dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam." (Al-Anbiya`: 91). Allah membalas penjagaan Maryam terhadap kehormatan dirinya dengan seorang anak, yang merupakan salah satu bukti kekuasaan Allah, dan sebagai seorang rasul dari rasul-rasul Allah.

(19) Saat malaikat Jibril عليه السلام melihat gejala gemetaran dan ketakutan pada diri Maryam عليها السلام, maka dia mengatakan ﴾ إِنَّمَآ أَنَا۠ رَسُولُ رَبِّكِ ﴿ "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Rabbmu," maksudnya tugas dan pekerjaanku hanya melaksanakan perintah Rabbku padamu ﴾ لِأَهَبَ لَكِ غُلَٰمٗا زَكِيّٗا 19 ﴿ "untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci." Ini adalah kabar gembira dengan kehadiran seorang anak dan kesuciannya. Sesungguhnya kesucian diri meng-haruskan bersihnya anak itu dari sifat-sifat tercela dan menyandang sifat-sifat yang terpuji.

(20) Maryam merasa keheranan berkaitan dengan kelahiran seorang anak tanpa memiliki bapak. Maryam mengatakan ﴾ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَٰمٞ وَلَمۡ يَمۡسَسۡنِي بَشَرٞ وَلَمۡ أَكُ بَغِيّٗا 20 ﴿ "Bagaimana bisa aku memiliki seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah ada seorang manusia pun menyen-tuhku, dan aku bukan (pula) seorang pezina," padahal seorang anak tidak akan terlahir tanpa proses itu.

(21) ﴾ قَالَ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٞۖ وَلِنَجۡعَلَهُۥٓ ءَايَةٗ لِّلنَّاسِ ﴿ "Jibril berkata, 'Demikianlah.' Rabbmu berfirman, 'Hal itu adalah mudah bagiKu, dan agar Kami menjadikannya sebagai suatu tanda bagi manusia'." Ini me-nunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah تعالى dan menandakan bahwa semua faktor penyebab itu tidak memberikan efek dengan sendirinya, akan tetapi yang memberikan pengaruh adalah takdir Allah. Maka, Allah memperlihatkan kepada para hambaNya pen-dobrakan kejadian-kejadian yang biasa pada sebagian hukum sebab-akibat yang biasa (terjadi), supaya mereka tidak hanya terpaku pada faktor penyebab saja, tanpa peduli dengan Dzat yang me-nakdirkan dan menyebabkannya. ﴾ وَرَحۡمَةٗ مِّنَّاۚ ﴿ "Dan sebagai rahmat dari Kami," [maksudnya] Kami hendak menjadikan anak Maryam itu sebagai rahmat dari Kami buat dirinya, ibunya, dan sekalian manusia. Adapun wujud rahmat Allah kepada diri anak Maryam, yaitu Allah mengistimewakannya dengan pemberian wahyu kepadanya, menganugerahkan kepadanya kenikmatan yang dianugerahkan kepada para ulul azmi. Sedangkan rahmat buat ibunya, lantaran teraihnya kebanggaan, pujian yang baik dan manfaat-manfaat yang besar baginya. Dan wujud rahmatnya bagi umat manusia, maka sesungguhnya nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada umat manusia adalah pengutusan seorang rasul di tengah-tengah mereka, seorang rasul yang akan membacakan ayat-ayat Allah, yang menyucikan mereka, mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan hikmah. Lalu mereka pun beriman kepada rasul itu, menaati-nya sehingga akan terwujud bagi mereka kebahagiaan dunia dan akhirat. ﴾ وَكَانَ ﴿ "Dan hal itu," eksistensi Isa عليه السلام dalam kondisi seperti ini, ﴾ أَمۡرٗا مَّقۡضِيّٗا 21 ﴿ "adalah suatu perkara yang sudah diputuskan," ke-tentuan yang sudah ditentukan di masa lalu. Maka ketentuan dan keputusan ini pasti terlaksana. Lalu Jibril عليه السلام meniupkan pada kerah baju di lehernya.

19:22–26Page 306

۞ فَحَمَلَتۡهُ فَٱنتَبَذَتۡ بِهِۦ مَكَانٗا قَصِيّٗا ٢٢

So she conceived him, and she withdrew with him to a remote place.

فَأَجَآءَهَا ٱلۡمَخَاضُ إِلَىٰ جِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ قَالَتۡ يَٰلَيۡتَنِي مِتُّ قَبۡلَ هَٰذَا وَكُنتُ نَسۡيٗا مَّنسِيّٗا ٢٣

And the pains of childbirth drove her to the trunk of a palm tree. She said, "Oh, I wish I had died before this and was in oblivion, forgotten."

فَنَادَىٰهَا مِن تَحۡتِهَآ أَلَّا تَحۡزَنِي قَدۡ جَعَلَ رَبُّكِ تَحۡتَكِ سَرِيّٗا ٢٤

But he1 called her from below her, "Do not grieve; your Lord has provided beneath you a stream.

وَهُزِّيٓ إِلَيۡكِ بِجِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ تُسَٰقِطۡ عَلَيۡكِ رُطَبٗا جَنِيّٗا ٢٥

And shake toward you the trunk of the palm tree; it will drop upon you ripe, fresh dates.

فَكُلِي وَٱشۡرَبِي وَقَرِّي عَيۡنٗاۖ فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ ٱلۡبَشَرِ أَحَدٗا فَقُولِيٓ إِنِّي نَذَرۡتُ لِلرَّحۡمَٰنِ صَوۡمٗا فَلَنۡ أُكَلِّمَ ٱلۡيَوۡمَ إِنسِيّٗا ٢٦

So eat and drink and be contented. And if you see from among humanity anyone, say, 'Indeed, I have vowed to the Most Merciful abstention, so I will not speak today to [any] man.'"

"Maka Maryam mengandungnya, lalu dia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata, 'Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan.' Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah, 'Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Rabbmu telah men-jadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menjatuhkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan ber-senang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, 'Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk Dzat Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini'." (Maryam: 22-26).

(22) Saat Maryam mengandung Isa عليه السلام, dia khawatir akan menghadapi celaan, maka dia pun menjauh dari manusia ke tempat yang terpencil.

(23) Ketika masa kelahiran sudah dekat, rasa sakit menje-lang persalinan memaksanya bersandar pada pangkal pohon kurma. Tatkala dia mulai didera rasa sakit (menjelang) melahirkan, perih-nya jauh dari makanan dan minuman, pedihnya hatinya karena komentar miring orang banyak, dan mencemaskan kemampuan-nya untuk bersabar, maka dia berandai-andai, bahwa dia mati sebelum mengalami kejadian ini, hingga menjadi tak berarti lagi dilupakan (oleh manusia), dan tidak disebut-sebut (lagi). Pengan-daian itu bertolak dari kondisi yang merisaukan(nya) tadi, padahal tidak ada nilai kebaikan dan kemaslahatan sama sekali baginya saat menginginkan kematian itu. Kebaikan hanya terwujud dengan menghargai apa yang telah terjadi.

(24) Ketika itu, malaikat datang menenangkan rasa kekha-watirannya dan meneguhkan hati serta memanggilnya dari bawah. Mungkin saja malaikat berada di tempat yang lebih rendah dari-pada tempat Maryam. Malaikat mengatakan, "Janganlah engkau bersedih hati ! Maksudnya janganlah engkau mengeluh dan jangan pula menghiraukan (keadaanmu). ﴾ قَدۡ جَعَلَ رَبُّكِ تَحۡتَكِ سَرِيّٗا 24 ﴿ "Sesungguh-nya Rabbmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu," maksudnya sebuah sungai yang bisa engkau minum airnya.

(25) ﴾ وَهُزِّيٓ إِلَيۡكِ بِجِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ تُسَٰقِطۡ عَلَيۡكِ رُطَبٗا جَنِيّٗا 25 ﴿ "Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menjatuh-kan buah kurma yang masak kepadamu," yaitu kurma yang segar, lezat, dan bermanfaat.

(26) ﴾ فَكُلِي ﴿ "Maka makanlah," dari kurma itu ﴾ وَٱشۡرَبِي ﴿ "dan minumlah," dari (air) sungai itu ﴾ وَقَرِّي عَيۡنٗاۖ ﴿ "bersenang hatilah kamu," dengan kehadiran Nabi Isa عليه السلام. Ini adalah pelipur lara baginya, dari sisi selamat (terhindar) dari rasa sakit saat melahirkan, dan memperoleh makan dan minum serta ketenangan. Sedangkan (penghibur) baginya dari masalah ejekan manusia, maka Allah memerintahkannya (jika melihat seseorang) agar mengatakan dengan bahasa isyarat, ﴾ إِنِّي نَذَرۡتُ لِلرَّحۡمَٰنِ صَوۡمٗا ﴿ "Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk Dzat Yang Maha Pemurah," maksudnya bernadzar untuk diam ﴾ فَلَنۡ أُكَلِّمَ ٱلۡيَوۡمَ إِنسِيّٗا 26 ﴿ "maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini," maksudnya, janganlah engkau mengajak mereka berbicara agar engkau bisa selamat dari perkataan dan omongan mereka. Pada saat itu, sudah dimaklumi bahwa diam merupakan sejenis ibadah yang disyari'at-kan. Maryam tidak diperintahkan untuk berbincang-bincang de-ngan mereka dalam rangka menepis tuduhan dari dirinya, karena masyarakat tidak mempercayainya, dan tidak ada manfaatnya, serta supaya rehabilitasi namanya melalui penjelasan Nabi Isa saat masih dalam ayunan menjadi kesaksian yang paling kuat atas kesuciannya. Karena, sesungguhnya kemunculan seorang wanita dengan membawa anak tanpa memiliki suami dan mengaku bahwa si anak bukan berasal dari seseorang (lelaki), termasuk bualan ko-song yang besar, yang meskipun telah dihadirkan beberapa saksi, niscaya si wanita itu tidak akan dipercayai. Lalu, Allah menjadikan bukti kejadian luar biasa ini dengan peristiwa yang serupa (luar biasa pula), yaitu ucapan Nabi Isa pada saat masih mungil sekali. Oleh karena itu, Allah berfirman,

Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences

Contents

Ayat al-Kursi36Al-Kahfpage 42juz 15Bukhari 1Muslim 2999

Style

Theme
Text size
Layout

Читать на русском