As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian
الذاريات
Adh-Dhariyat
The Winnowing Winds · Meccan · 60 ayahs
51:1–6Page 520
وَٱلذَّٰرِيَٰتِ ذَرۡوٗا ١
By the [winds] scattering [dust], dispersing [it]
فَٱلۡحَٰمِلَٰتِ وِقۡرٗا ٢
And the [clouds] carrying a load [of water]
فَٱلۡجَٰرِيَٰتِ يُسۡرٗا ٣
And the ships sailing with ease
فَٱلۡمُقَسِّمَٰتِ أَمۡرًا ٤
And the [angels] apportioning [each] matter,
إِنَّمَا تُوعَدُونَ لَصَادِقٞ ٥
Indeed, what you are promised is true.
وَإِنَّ ٱلدِّينَ لَوَٰقِعٞ ٦
And indeed, the recompense is to occur.
"Demi (angin) yang menerbangkan debu yang sekuat-kuatnya, dan awan yang mengandung hujan, dan bintang-bintang yang berjalan dengan mudah, dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan, sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar, dan sesungguhnya (hari) pembalasan pasti terjadi." (Adz-Dzariyat: 1-6).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-6) Ini adalah sumpah Allah سبحانه وتعالى Yang Mahabenar dalam FirmanNya dengan makhluk-makhluk yang besar, yang padanya Allah سبحانه وتعالى menjadikan berbagai kepentingan dan manfaat, janji Allah سبحانه وتعالى adalah benar, Hari Pembalasan serta perhitungan amal perbuatan benar-benar akan terjadi dan bukan mustahil, dan tidak ada yang bisa menolaknya. Kalau Allah Yang Mahabenar dan Mahaagung bersumpah atas Hari Pembalasan dengan menyebutkan berbagai dalil dan bukti atas hal itu, lantas mengapakah masih ada orang-orang yang mendustakan dan tidak mau mempersiapkan amal untuk menghadapinya? ﴾ وَٱلذَّٰرِيَٰتِ ﴿ "Demi (angin) yang menerbangkan debu," yakni, angin yang menerbangkan tanah, ﴾ ذَرۡوٗا ﴿ "sekuat-kuatnya," dengan kelem-butan, kekuatan, dan suaranya yang riuh. ﴾ فَٱلۡحَٰمِلَٰتِ وِقۡرٗا ﴿ "Dan awan yang mengandung hujan," yakni, men-dung yang mengandung banyak air, yang dengan air itu Allah سبحانه وتعالى memberikan manfaat untuk manusia dan negeri. ﴾ فَٱلۡجَٰرِيَٰتِ يُسۡرٗا ﴿ "Dan bintang-bintang yang berjalan dengan mudah," bintang-bintang yang berjalan dengan mudah, menghiasi langit dan dijadikan sebagai petunjuk dalam gelapnya daratan dan lautan dan bisa dimanfaatkan melalui perenungan, dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi ﴾ أَمۡرًا ﴿ "urusan," para malaikat yang membagi-bagikan urusan dan mengaturnya dengan izin dari Allah سبحانه وتعالى. Ma-sing-masing dari para malaikat ditugaskan Allah سبحانه وتعالى untuk mengatur urusan dunia dan akhirat, mereka tidak melampaui batas wewe-nang yang diberikan, yang ditentukan dan ditakdirkan serta tidak melalaikan wewenangnya.
51:7–9Page 521
وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلۡحُبُكِ ٧
By the heaven containing pathways,1
إِنَّكُمۡ لَفِي قَوۡلٖ مُّخۡتَلِفٖ ٨
Indeed, you are in differing speech.1
يُؤۡفَكُ عَنۡهُ مَنۡ أُفِكَ ٩
Deluded away from it [i.e., the Qur’ān] is he who is deluded.
"Demi langit yang mempunyai jalan-jalan, sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat, dipa-lingkan darinya (Rasul dan al-Qur`an) orang yang dipalingkan." (Adz-Dzariyat: 7-9).
(7) ﴾ وَٱلسَّمَآءِ ﴿ "Demi langit" yang mempunyai jalan-jalan yang indah yang menyerupai jalan-jalan di padang pasir dan (bagaikan) air di pepohonan ketika digerakkan oleh angin sepoi.
(8) ﴾ إِنَّكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya kamu," hai orang-orang yang men-dustakan Muhammad a ﴾ لَفِي قَوۡلٖ مُّخۡتَلِفٖ ﴿ "benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat." Di antara kalian ada yang mengatakan, "Muhammad adalah tukang sihir," ada juga yang mengatakan, "Muhammad adalah dukun," ada yang mengatakan, "Muhammad adalah orang gila," dan perkataan-perkataan yang bermacam-macam lainnya yang menunjukkan kegamangan serta keraguan mereka dan menunjukkan bahwa mereka berada di atas kebatilan.
(9) ﴾ يُؤۡفَكُ عَنۡهُ مَنۡ أُفِكَ ﴿ "Dipalingkan darinya (Rasul dan al-Qur`an) orang yang dipalingkan." Artinya, dipalingkan darinya dan dipaling-kan dari keimanan sehingga hatinya pun berpaling dari dalil-dalil Allah سبحانه وتعالى yang meyakinkan serta berpaling dari bukti-buktiNya. Perbedaan pernyataan mereka merupakan bukti kerancuan serta batilnya perkataan mereka sendiri sebagaimana kebenaran yang dibawa Muhammad adalah sesuatu yang sama di mana yang satu sama lain saling membenarkan, tidak ada perbedaan dan kontra-diksi di dalamnya. Hal itu adalah bukti atas kebenarannya yang berasal dari Allah سبحانه وتعالى. Andai saja bukan berasal dari Allah سبحانه وتعالى, tentu mereka menemukan berbagai pertentangan yang banyak.
51:10–14Page 521
قُتِلَ ٱلۡخَرَّٰصُونَ ١٠
Destroyed are the misinformers1
ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي غَمۡرَةٖ سَاهُونَ ١١
Who are within a flood [of confusion] and heedless.
يَسۡـَٔلُونَ أَيَّانَ يَوۡمُ ٱلدِّينِ ١٢
They ask, "When is the Day of Recompense?"
يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ ١٣
[It is] the Day they will be tormented over the Fire
ذُوقُواْ فِتۡنَتَكُمۡ هَٰذَا ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تَسۡتَعۡجِلُونَ ١٤
[And will be told], "Taste your torment. This is that for which you were impatient."
"Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan lagi lalai, mereka bertanya, 'Bilakah Hari Pembalasan itu.' (Hari Pembalasan itu ialah) pada hari ketika mereka diazab di atas api neraka. (Dikata-kan kepada mereka), 'Rasakanlah azabmu itu. Inilah azab yang dahulu kamu minta supaya disegerakan'." (Adz-Dzariyat: 10-14).
(10) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُتِلَ ٱلۡخَرَّٰصُونَ ﴿ "Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta." Artinya semoga Allah سبحانه وتعالى membinasakan orang-orang yang mendustakanNya, menentang ayat-ayatNya, terbenam dalam kebatilan untuk membantah kebenaran, mereka mengatakan sesuatu atas nama Allah سبحانه وتعالى yang tidak mereka ketahui.
(11) ﴾ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي غَمۡرَةٖ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan," terbenam dalam gelombang kekufuran, kebodohan, dan kesesatan, ﴾ سَاهُونَ ﴿ "lagi lalai."
(12) ﴾ يَسۡـَٔلُونَ ﴿ "Mereka bertanya," berdasarkan keraguan dan mendustakan, ﴾ أَيَّانَ يَوۡمُ ٱلدِّينِ ﴿ "Bilakah Hari Pembalasan itu?" Artinya, kapankah mereka dibangkitkan? Seraya menganggap mustahil hal itu.
(13-14) Jangan kau tanyakan tentang kondisi mereka dan buruknya tempat kembali mereka, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ ﴿ "(Hari Pemba-lasan itu ialah) pada hari ketika mereka diazab di atas api neraka." Artinya, mereka disiksa karena banyak memiliki kekejian lahir dan batin, dikatakan kepada mereka, ﴾ ذُوقُواْ فِتۡنَتَكُمۡ ﴿ "Rasakanlah azabmu itu," yaitu azab dan neraka yang merupakan pengaruh dari ujian yang membuat mereka tersiksa, ujian yang membuat mereka menjadi kufur dan sesat. ﴾ هَٰذَا ﴿ "Inilah," azab yang menimpa kalian ini ada-lah ﴾ ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تَسۡتَعۡجِلُونَ ﴿ "yang dahulu kamu minta supaya disegerakan," kini, nikmatilah berbagai macam siksaan, rantai, belenggu, kemur-kaan, dan bencana.
51:15–19Page 521
إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِي جَنَّٰتٖ وَعُيُونٍ ١٥
Indeed, the righteous will be among gardens and springs,
ءَاخِذِينَ مَآ ءَاتَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَبۡلَ ذَٰلِكَ مُحۡسِنِينَ ١٦
Accepting what their Lord has given them. Indeed, they were before that doers of good.
كَانُواْ قَلِيلٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِ مَا يَهۡجَعُونَ ١٧
They used to sleep but little of the night,1
وَبِٱلۡأَسۡحَارِ هُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ ١٨
And in the hours before dawn they would ask forgiveness,
وَفِيٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ حَقّٞ لِّلسَّآئِلِ وَٱلۡمَحۡرُومِ ١٩
And from their properties was [given] the right of the [needy] petitioner and the deprived.
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sesungguh-nya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian." (Adz-Dzariyat: 15-19).
(15) Allah سبحانه وتعالى berfirman menyebutkan balasan orang-orang yang bertakwa serta amalan-amalan mereka yang menyampaikan mereka pada balasan itu, ﴾ إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa," yaitu orang-orang yang menjadikan takwa sebagai syiar dan ketaatan terhadap Allah سبحانه وتعالى sebagai pakaian mereka,﴾ فِي جَنَّٰتٖ ﴿ "berada di dalam taman-taman (surga)," yang di dalamnya ter-dapat semua jenis pohon dan buah-buahan, sebagiannya ada yang mirip dengan buah dunia serta ada yang tidak memiliki kesamaan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas dalam benak manusia, ﴾ وَعُيُونٍ ﴿ "dan di mata air-mata air," yang memancarkan air yang diserap oleh taman-taman surga, diminum oleh hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, dan memancarkan air dengan melimpah.
(16) ﴾ ءَاخِذِينَ مَآ ءَاتَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡۚ ﴿ "Sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka," kemungkinan makna ayat ini adalah penduduk surga diberi berbagai nikmat oleh Rabb mereka, mereka mengambilnya secara suka cita, jiwa mereka bahagia. Mereka tidak menginginkan pengganti nikmat tersebut dan mereka tidak ingin mencari yang lain. Masing-masing penduduk surga mendapatkan berbagai kenikmatan yang membuatnya tidak meminta lebih. Ke-mungkinan juga makna ayat ini menjelaskan sifat-sifat orang yang bertakwa di dunia, mereka menerima apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah سبحانه وتعالى, perintah dan larangan itu diterima dengan lapang dada seraya tunduk dan patuh terhadap perintah Allah سبحانه وتعالى dengan dilaksanakan secara sempurna dan menjauhi larangan Allah سبحانه وتعالى secara sempurna. Perintah dan larangan yang diberikan kepada mereka itu merupakan karunia terbesar yang berhak disyu-kuri dan ditaati. Makna pertama sesuai dengan redaksi ayat, sebab Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifat-sifat orang yang bertakwa ketika di dunia dan amalan-amalan mereka, ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَبۡلَ ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya mereka se-belum itu," pada saat mendapatkan kenikmatan adalah, ﴾ مُحۡسِنِينَ ﴿ "orang-orang yang berbuat baik." Kebaikan di sini mencakup kebaikan mereka dalam menyembah Rabb mereka, mereka menyembahNya seolah-olah mereka melihatNya, meski mereka tidak melihatNya tapi Dia melihat mereka. Kebaikan tersebut juga mencakup berbuat baik terhadap sesama hamba Allah سبحانه وتعالى dengan mencurahkan ber-bagai manfaat serta kebaikan berupa harta, ilmu, jabatan, nasihat, perintah untuk kebaikan, larangan dari kemungkaran atau kebaikan lainnya hingga kebaikan tersebut mencakup berbuat baik dalam perkataan lembut dan berbuat baik terhadap budak dan hewan, baik yang dimiliki maupun tidak.
(17)(Jenis) kebaikan yang paling utama dalam menyembah Sang Maha Pencipta adalah shalat malam yang menunjukkan ke-ikhlasan serta kesesuaian antara hati dan lisan. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَانُواْ ﴿ "Mereka," orang-orang yang berbuat baik ter-sebut, ﴾ قَلِيلٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِ مَا يَهۡجَعُونَ ﴿ "sedikit sekali tidur di waktu malam," artinya, tidur mereka hanya sebentar, kebanyakan mereka melakukan ketaatan terhadap Rabb mereka antara shalat, membaca al-Qur`an, berdzikir, berdoa, dan menundukkan hati.
(18) ﴾ وَبِٱلۡأَسۡحَارِ ﴿ "Dan di akhir-akhir malam," yaitu sebelum fajar, ﴾ هُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ ﴿ "mereka memohon ampun (kepada Allah)." Mereka melaksanakan shalat hingga waktu sahur, kemudian duduk di akhir shalat malamnya seraya memohon ampunan Allah سبحانه وتعالى layaknya orang berdosa yang memohon ampunan atas dosanya. Memohon ampunan di waktu menjelang fajar memiliki keutamaan khusus yang tidak dimiliki pada waktu-waktu lain sebagaimana yang di-firmankan Allah سبحانه وتعالى tentang ahli iman dan taat, ﴾ وَٱلۡمُسۡتَغۡفِرِينَ بِٱلۡأَسۡحَارِ 17 ﴿ "Dan orang-orang yang memohon ampunan di waktu sahur." (Ali Imran: 17).
(19) ﴾ وَفِيٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ حَقّٞ ﴿ "Dan pada harta-harta mereka ada hak," yang wajib dan sunnah, ﴾ لِّلسَّآئِلِ وَٱلۡمَحۡرُومِ ﴿ "untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian," yakni, orang-orang yang memerlukan, baik yang meminta-minta maupun tidak.
51:20–23Page 521
وَفِي ٱلۡأَرۡضِ ءَايَٰتٞ لِّلۡمُوقِنِينَ ٢٠
And on the earth are signs for the certain [in faith]
وَفِيٓ أَنفُسِكُمۡۚ أَفَلَا تُبۡصِرُونَ ٢١
And in yourselves. Then will you not see?
وَفِي ٱلسَّمَآءِ رِزۡقُكُمۡ وَمَا تُوعَدُونَ ٢٢
And in the heaven is your provision and whatever you are promised.
فَوَرَبِّ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ إِنَّهُۥ لَحَقّٞ مِّثۡلَ مَآ أَنَّكُمۡ تَنطِقُونَ ٢٣
Then by the Lord of the heaven and earth, indeed, it is truth - just as [sure as] it is that you are speaking.
"Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan. Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rizkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepada-mu." (Adz-Dzariyat: 20-22). "Maka demi Rabb langit dan bumi, sesungguhnya yang dijan-jikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan." (Adz-Dzariyat: 23).
(20) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menyeru hamba-hambaNya untuk berpikir dan merenung, ﴾ وَفِي ٱلۡأَرۡضِ ءَايَٰتٞ لِّلۡمُوقِنِينَ ﴿ "Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin," dan ini mencakup bumi serta segala sesuatu yang terdapat di bumi, seperti gunung, lautan, sungai, pepohonan, tanaman yang menun-jukkan bagi siapa pun yang memikirkan serta merenungkannya akan keagungan Penciptanya serta luas kekuasaanNya, kebaikan-Nya yang menyeluruh, pengetahuanNya yang meliputi segala sesuatu, baik yang nampak maupun tidak.
(21) Begitu juga terdapat pelajaran, hikmah serta rahmat pada diri manusia yang menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Esa, Tunggal dan Tempat Bergantung dan sesembahan yang tidak men-ciptakan makhluk dengan sia-sia.
(22) Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَفِي ٱلسَّمَآءِ رِزۡقُكُمۡ ﴿ "Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rizkimu," yaitu bahan baku rizki kalian berupa hujan dan berbagai jenis ketentuan takdir, rizki dunia dan akhirat serta janji balasan dunia dan akhirat yang diberikan kepada kalian. Ba-lasan itu turun dari sisi Allah سبحانه وتعالى seperti halnya takdir-takdir lainnya.
(23) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tanda-tanda kebesaranNya serta memperingatkannya yang hanya bisa dipahami oleh orang yang cerdas dan berakal, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى bersumpah bahwa janji dan balasanNya adalah benar, Allah سبحانه وتعالى menyamakan janji itu dengan segala sesuatu yang nampak pada kita, yaitu ucapan, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَوَرَبِّ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ إِنَّهُۥ لَحَقّٞ مِّثۡلَ مَآ أَنَّكُمۡ تَنطِقُونَ ﴿ "Maka demi Rabb langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan," sebagaimana kalian tidak ragu bahwa kalian bisa berbicara, seperti itulah seharusnya kalian tidak meragukan hari kebangkitan dan pembalasan.
51:24–37Page 521
هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ٢٤
Has there reached you the story of the honored guests of Abraham?1 -
إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ سَلَٰمٞ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ٢٥
When they entered upon him and said, "[We greet you with] peace." He answered, "[And upon you] peace; [you are] a people unknown."
فَرَاغَ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ فَجَآءَ بِعِجۡلٖ سَمِينٖ ٢٦
Then he went to his family and came with a fat [roasted] calf.
فَقَرَّبَهُۥٓ إِلَيۡهِمۡ قَالَ أَلَا تَأۡكُلُونَ ٢٧
And placed it near them; he said, "Will you not eat?"
فَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۖ قَالُواْ لَا تَخَفۡۖ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٖ ٢٨
And he felt from them apprehension.1 They said, "Fear not," and gave him good tidings of a learned boy.
فَأَقۡبَلَتِ ٱمۡرَأَتُهُۥ فِي صَرَّةٖ فَصَكَّتۡ وَجۡهَهَا وَقَالَتۡ عَجُوزٌ عَقِيمٞ ٢٩
And his wife approached with a cry [of alarm] and struck her face and said, "[I am] a barren old woman!"
قَالُواْ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡعَلِيمُ ٣٠
They said, "Thus has said your Lord; indeed, He is the Wise, the Knowing."
۞ قَالَ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ٣١
[Abraham] said, "Then what is your business [here], O messengers?"
قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ٣٢
They said, "Indeed, we have been sent to a people of criminals1
لِنُرۡسِلَ عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن طِينٖ ٣٣
To send down upon them stones of clay,
مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَ لِلۡمُسۡرِفِينَ ٣٤
Marked in the presence of your Lord for the transgressors."
فَأَخۡرَجۡنَا مَن كَانَ فِيهَا مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٣٥
So We brought out whoever was in them [i.e., the cities] of the believers.
فَمَا وَجَدۡنَا فِيهَا غَيۡرَ بَيۡتٖ مِّنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ٣٦
And We found not within them other than a [single] house of Muslims.1
وَتَرَكۡنَا فِيهَآ ءَايَةٗ لِّلَّذِينَ يَخَافُونَ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ ٣٧
And We left therein a sign for those who fear the painful punishment.
"Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab, 'Salamun' (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam me-nemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim ber-kata, 'Silahkan kamu makan.' (Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka. Mereka berkata, 'Janganlah kamu takut,' dan mereka memberi kabar gembira kepa-danya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). Kemu-dian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul.' Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan.' Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengeta-hui. Ibrahim bertanya, 'Apakah urusanmu hai para utusan.' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membina-sakan) orang-orang yang melampaui batas.' Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih'." (Adz-Dzariyat: 24-37).
(24) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ ﴿ "Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad)," artinya, bukankah telah datang kepadamu ﴾ حَدِيثُ ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "cerita tentang tamu Ibrahim (yakni malaikat-malaikat) yang dimuliakan," cerita mereka itu aneh dan ajaib, mereka adalah para malaikat yang diutus Allah سبحانه وتعالى untuk membinasakan kaum Nabi Luth عليه السلام, mereka diperintahkan untuk menemui Ibrahim dalam wujud para tamu.
(25) ﴾ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ ﴿ "(Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, 'Salaman,' Ibrahim menjawab" mereka, ﴾ سَلَٰمٞ ﴿ "Salamun," atas kalian. ﴾ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "(Kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal." Artinya, kalian adalah orang-orang yang tidak di-kenal, aku ingin kalian mengenalkan diri kalian kepadaku. Ibrahim belum mengenalnya kecuali setelah itu.
(26) Karena itu, Ibrahim pergi diam-diam ﴾ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ ﴿ "mene-mui keluarganya," yakni menyelinap pergi dengan segera secara diam-diam menemui keluarganya agar menghidangkan jamuan tamu ﴾ فَجَآءَ بِعِجۡلٖ سَمِينٖ ﴿ "kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar)."
(27) ﴾ فَقَرَّبَهُۥٓ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Lalu dihidangkannya kepada mereka," yakni, Nabi Ibrahim عليه السلام menawarkan mereka supaya makan, ﴾ قَالَ أَلَا تَأۡكُلُونَ ﴿ "Ibrahim berkata, 'Silahkan kamu makan'."
(28) ﴾ فَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۖ ﴿ "(Tetapi mereka tidak mau makan) karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka." Ketika tangan mereka tidak dapat mencapai jamuan makanan, ﴾ قَالُواْ لَا تَخَفۡۖ ﴿ "mereka berkata, 'Ja-nganlah kamu takut'." Para malaikat itu memberitahukan maksud kedatangannya, ﴾ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٖ ﴿ "dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (berilmu)," yaitu Ishak عليه السلام.
(29) Ketika istrinya mendengar berita gembira itu, ﴾ أَقْبَلَتْ﴿ "Ia datang," dengan penuh gembira, sambil ﴾ فِي صَرَّةٖ ﴿ "memekik," yakni, berteriak keras, ﴾ فَصَكَّتۡ وَجۡهَهَا ﴿ "lalu menepuk mukanya sendiri." Ini merupakan kebiasaan yang lazim dilakukan kaum wanita ketika merasa bahagia atau lainnya, baik berupa perkataan, maupun tin-dakan yang berbeda-beda berdasarkan watak dan adat, ﴾ وَقَالَتۡ عَجُوزٌ عَقِيمٞ ﴿ "seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul'." Artinya, bagaimana aku bisa akan punya anak sedangkan aku sudah tua, aku sudah berusia lanjut di mana wanita tidak bisa me-lahirkan dalam usia ini, di samping itu aku juga mandul, rahimku sama sekali tidak bisa dipakai untuk melahirkan. Ini adalah dua penghalang di mana masing-masing dari keduanya menghalangi seseorang untuk punya anak. Istri Ibrahim عليه السلام menyebutkan peng-halang ketiga sebagaimana yang disebutkan dalam surat Hud, ﴾ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ 72 ﴿ "Dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." (Hud: 72).
(30) ﴾ قَالُواْ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِۖ ﴿ "Mereka berkata, 'Demikianlah Rabbmu menfirmankan'." Artinya, Allah سبحانه وتعالى lah yang menentukan hal itu dan pasti akan mewujudkannya, tidak ada takdir Allah سبحانه وتعالى yang aneh. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Allah yang meletakkan segala sesuatu di tem-patnya masing-masing, ilmuNya meliputi segala sesuatu, karena itu terimalah kebijaksanaanNya dan bersyukurlah atas nikmatNya.
(31) ﴾ قَالَ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Ibrahim bertanya, 'Apakah urusan-mu hai para utusan'." Yakni Nabi Ibrahim bertanya kepada mereka, "Apa keperluan kalian wahai para utusan, dan apa yang kalian inginkan?" Karena Nabi Ibrahim merasa bahwa para tamunya itu adalah utusan yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى untuk suatu keperluan penting.
(32) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa'," yakni, kaum Nabi Luth, me-reka berbuat dosa dengan menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, mendustakan rasul mereka, melakukan perbuatan keji yang belum pernah dila-kukan seorang pun dari seluruh alam.
(33-34) ﴾ لِنُرۡسِلَ عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن طِينٖ 33 مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَ لِلۡمُسۡرِفِينَ 34 ﴿ "Agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas," yakni, masing-masing batu diberi tanda berupa nama orang yang ditimpakan padanya, karena mereka telah berlebih-lebihan dan melampaui batas, kemudian Ibrahim mendebat tamunya ten-tang kaum Nabi Luth عليه السلام agar Allah سبحانه وتعالى menolak azab dari mereka, dikatakan kepadanya, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76).
(35-36) ﴾ فَأَخۡرَجۡنَا مَن كَانَ فِيهَا مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 35 فَمَا وَجَدۡنَا فِيهَا غَيۡرَ بَيۡتٖ مِّنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ 36 ﴿ "Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri," yakni rumah keluarga Nabi Luth عليه السلام kecuali istrinya karena termasuk orang-orang yang akan dibinasakan.
(37) ﴾ وَتَرَكۡنَا فِيهَآ ءَايَةٗ لِّلَّذِينَ يَخَافُونَ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ ﴿ "Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih," agar mereka dapat mengambil pelajaran dan mengetahui bahwa siksaan Allah سبحانه وتعالى, sangat dahsyat dan sesungguhnya semua rasul-Nya adalah orang-orang yang benar lagi dibenarkan.
PASAL Di dalam kisah ini terdapat beberapa hikmah dan hukum: Pertama, di antara hikmah kisah yang dituturkan Allah سبحانه وتعالى kepada para hambaNya tentang orang-orang baik dan orang-orang keji, adalah agar para hamba bisa mengambil pelajaran dari mereka dan sampai di manakah kondisi mereka. Kedua, keutamaan Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memulai kisah kaum Nabi Luth عليه السلام dengan kisah Nabi Ibrahim عليه السلام, yang menunjukkan perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap kondisinya. Ketiga, anjuran menjamu tamu. Menjamu tamu termasuk salah satu sunnah Nabi Ibrahim عليه السلام, kekasih Allah سبحانه وتعالى, di mana Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Nabi Muhammad a dan umatnya untuk mengikuti Agama Ibrahim عليه السلام. Kisah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam topik ini adalah sebagai pujian dan sanjungan untuk Nabi Ibrahim عليه السلام. Keempat, tamu harus dihormati dengan berbagai macam penghormatan, baik dengan perkataan maupun perbuatan, sebab Allah سبحانه وتعالى menggambarkan tamu-tamu Ibrahim عليه السلام sebagai orang-orang yang dimuliakan. Artinya, mereka dimuliakan oleh Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى menggambarkan bagaimana jamuan yang dilakukan Nabi Ibrahim عليه السلام, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan para tamu Nabi Ibrahim عليه السلام juga dimuliakan di sisi Allah سبحانه وتعالى. Kelima, rumah Nabi Ibrahim عليه السلام menjadi tempat persing-gahan tamu yang datang di malam hari, sebab para tamu Ibrahim عليه السلام itu langsung masuk tanpa izin, namun menempuh cara beradab dengan memulai salam, kemudian Nabi Ibrahim عليه السلام membalas salam mereka secara lengkap dan sempurna. Balasan salam yang disebutkan Ibrahim berbentuk jumlah ismiyyah yang menunjukkan keteguhan dan ketetapan. Keenam, anjuran untuk mengenal orang yang datang atau ketika terjadi semacam interaksi dengan seseorang, karena hal itu memiliki banyak manfaat. Ketujuh, sopan santun Nabi Ibrahim عليه السلام dan kelembutannya ketika berbicara, karena beliau berkata, "Kaum yang tidak dikenal," tidak berkata, "Aku tidak mengenal kalian," terdapat perbedaan jelas antara kedua kata tersebut. Kedelapan, bersegera dalam menjamu tamu, sebab kebaikan yang paling utama adalah yang segera. Karena itulah Ibrahim عليه السلام segera menghidangkan jamuan makanan untuk para tamunya. Kesembilan, hewan sembelihan yang sudah ada yang telah disiapkan untuk selain tamu sebelum tamu datang lalu disuguh-kan untuk tamu bukan suatu penghinaan sama sekali, namun hal itu sebagai salah satu bentuk memuliakan tamu sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى sendiri memberitahukan bahwa para tamunya adalah terhormat. Kesepuluh, Ibrahim adalah orang yang menjamu tamunya meski dia adalah kekasih Allah Yang Maha Pengasih dan pemim-pin para orang yang menjamu tamu. Kesebelas, Ibrahim menyuguhkan makanan di tempat yang dekat dengan para tamu, tidak diletakkan di tempat yang agak jauh dengan mengatakan, "Silahkan," atau "Datangilah," karena hal itu lebih mudah dan lebih baik. Kedua belas, melayani tamu dengan perkataan yang lembut khususnya ketika menghidangkan makanan, seperti yang dilaku-kan Ibrahim عليه السلام yang menyuguhkan makanan dengan tutur kata yang lembut, "Apakah kalian tidak makan?" Bukan dengan tutur kata, "Makanlah," dan tutur kata lain yang lebih baik lagi, boleh meng-gunakan etika menawarkan makanan untuk tamu dengan kata, "Apakah kalian tidak makan?" "Apakah kalian tidak mempersilah-kan diri kalian?" "Kami mendapatkan kemuliaan dan kalian berbuat baik terhadap kami…" atau kata-kata yang lain. Ketiga belas, orang yang merasa takut pada seseorang karena adanya suatu sebab, maka yang ditakuti itu harus menghilangkan perasaan takutnya dengan menyebutkan sesuatu yang bisa mem-berinya rasa aman dari rasa takut dan menentramkan kegelisahan-nya, sebagaimana yang dikatakan oleh para malaikat itu kepada Nabi Ibrahim ketika Nabi Ibrahim takut terhadap mereka, "Jangan takut," kemudian mereka memberitahukan kabar gembira yang menyenangkan setelah sebelumnya Nabi Ibrahim ketakutan. Keempat belas, Sarah, istri Nabi Ibrahim عليه السلام, begitu gembira sehingga terjadilah apa yang terjadi, dengan memukul-mukul mukanya serta tingkah lakunya yang tidak seperti biasa. Kelima belas, kemuliaan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Ibrahim عليه السلام dan istri beliau berupa berita gembira akan lahir-nya seorang putra yang alim.
51:38–40Page 522
وَفِي مُوسَىٰٓ إِذۡ أَرۡسَلۡنَٰهُ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٖ ٣٨
And in Moses [was a sign], when We sent him to Pharaoh with clear authority.1
فَتَوَلَّىٰ بِرُكۡنِهِۦ وَقَالَ سَٰحِرٌ أَوۡ مَجۡنُونٞ ٣٩
But he turned away with his supporters and said, "A magician or a madman."
فَأَخَذۡنَٰهُ وَجُنُودَهُۥ فَنَبَذۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡيَمِّ وَهُوَ مُلِيمٞ ٤٠
So We took him and his soldiers and cast them into the sea, and he was blameworthy.
Firman Allah سبحانه وتعالى, "Dan juga pada Musa (terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengutusnya kepada Fir'aun dengan membawa mukjizat yang nyata. Maka dia (Fir'aun) berpaling (dari iman) bersama tentaranya dan berkata, 'Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila.' Maka Kami siksa dia dan tentaranya lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut, sedang dia melakukan pekerjaan yang tercela." (Adz-Dzariyat: 38-40).
(38) ﴾ وَفِي مُوسَىٰٓ ﴿ "Dan juga pada Musa (terdapat tanda-tanda ke-kuasaan Allah)," dan apa yang dititahkan Allah ketika mengutusnya kepada Fir'aun dan kaumnya, berupa ayat-ayat yang jelas serta mukjizat-mukjizat yang nyata, merupakan tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى bagi mereka yang takut akan siksaan yang pedih.
(39) Ketika Musa mendatangi Fir'aun dengan segala bukti yang nyata itu, Fir'aun berpaling ﴾ بِرُكۡنِهِۦ ﴿ "bersama tentaranya," yaitu berpaling dengan sisinya dari kebenaran tanpa mau menengoknya serta mencelanya dengan keras, mereka berkata, ﴾ سَٰحِرٌ أَوۡ مَجۡنُونٞ ﴿ "Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila," artinya, Musa itu datang membawa sihir atau sulap, bukan datang membawa kebenaran sama sekali, atau Musa itu orang gila yang perkataannya tidak bisa dipegang karena tidak berakal. Meski demikian, mereka –khususnya Fir'aun– mengetahui bahwa Nabi Musa itu benar sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَجَحَدُواْ بِهَا وَٱسۡتَيۡقَنَتۡهَآ أَنفُسُهُمۡ ظُلۡمٗا وَعُلُوّٗاۚ ﴿ "Mereka menentangnya, padahal diri-diri mereka meyakininya karena kezhaliman dan kesombongan." (An-Naml: 14). Nabi Musa عليه السلام berkata kepada Fir'aun, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَآ أَنزَلَ هَٰٓؤُلَآءِ إِلَّا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ بَصَآئِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَٰفِرۡعَوۡنُ مَثۡبُورٗا 102 ﴿ "Sungguh kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata, dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir'aun, seorang yang akan binasa." (Al-Isra`: 102).
(40) ﴾ فَأَخَذۡنَٰهُ وَجُنُودَهُۥ فَنَبَذۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡيَمِّ وَهُوَ مُلِيمٞ ﴿ "Maka Kami siksa dia dan tentaranya lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut, sedang dia mela-kukan pekerjaan yang tercela," yakni, pendosa, melampaui batas dan menentang Allah سبحانه وتعالى sehingga Allah سبحانه وتعالى menyiksanya dengan siksaan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahakuat.
51:41–42Page 522
وَفِي عَادٍ إِذۡ أَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمُ ٱلرِّيحَ ٱلۡعَقِيمَ ٤١
And in ʿAad [was a sign], when We sent against them the barren wind.1
مَا تَذَرُ مِن شَيۡءٍ أَتَتۡ عَلَيۡهِ إِلَّا جَعَلَتۡهُ كَٱلرَّمِيمِ ٤٢
It left nothing of what it came upon but that it made it like disintegrated ruins.
"Dan juga pada (kisah) kaum 'Ad ketika Kami kirimkan ke-pada mereka angin yang membinasakan, angin itu tidak membiar-kan suatu pun yang dilandanya, melainkan dijadikannya seperti serbuk." (Adz-Dzariyat: 41-42) .
(41) ﴾ و َ ﴿ "Dan," terdapat tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى untuk mereka ﴾ فِي عَادٍ ﴿ "pada (kisah) 'Ad," yaitu suatu kabilah yang terke-nal, ﴾ إِذۡ أَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمُ ٱلرِّيحَ ٱلۡعَقِيمَ ﴿ "ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan," yakni yang tidak membawa kebaikan, ketika mereka mendustakan nabi mereka, Nabi Hud عليه السلام.
(42) ﴾ مَا تَذَرُ مِن شَيۡءٍ أَتَتۡ عَلَيۡهِ إِلَّا جَعَلَتۡهُ كَٱلرَّمِيمِ ﴿ "Angin itu tidak membiar-kan suatu pun yang dilandanya, melainkan dijadikannya seperti serbuk," yakni seperti serbuk halus. Allah سبحانه وتعالى yang membinasakan mereka meski mereka memiliki kekuatan dan ketangguhan, merupakan bukti sempurnanya kekuatan Allah سبحانه وتعالى serta KuasaNya yang tidak terkalahkan oleh apa pun, dan membalas orang-orang yang men-durhakaiNya.
51:43–45Page 522
وَفِي ثَمُودَ إِذۡ قِيلَ لَهُمۡ تَمَتَّعُواْ حَتَّىٰ حِينٖ ٤٣
And in Thamūd, when it was said to them, "Enjoy yourselves for a time."
فَعَتَوۡاْ عَنۡ أَمۡرِ رَبِّهِمۡ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّٰعِقَةُ وَهُمۡ يَنظُرُونَ ٤٤
But they were insolent toward the command of their Lord, so the thunderbolt seized them while they were looking on.
فَمَا ٱسۡتَطَٰعُواْ مِن قِيَامٖ وَمَا كَانُواْ مُنتَصِرِينَ ٤٥
And they were unable to arise, nor could they defend themselves.
"Dan pada (kisah) kaum Tsamud ketika dikatakan kepada mereka, 'Bersenang-senanglah kamu sampai suatu waktu.' Maka mereka berlaku angkuh terhadap perintah Rabbnya, lalu mereka disambar petir sedang mereka melihatnya. Maka mereka sekali-kali tidak dapat bangun dan tidak pula mendapat pertolongan." (Adz-Dzariyat: 43-45).
(43) ﴾ وَفِي ثَمُودَ ﴿ "Dan pada (kisah) kaum Tsamud," terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang besar ketika Allah سبحانه وتعالى mengutus Nabi Shaleh عليه السلام kepada mereka, lalu mereka mendustakan serta me-nentangnya. Allah سبحانه وتعالى mengirimkan untuk menegaskan kerasulan beliau berupa unta sebagai tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas, namun hal itu hanya semakin menambah mereka tinggi hati dan lari, ﴾ إِذۡ قِيلَ لَهُمۡ تَمَتَّعُواْ حَتَّىٰ حِينٖ ﴿ "ketika dikatakan kepada mereka, 'Berse-nang-senanglah kamu sampai suatu waktu'."
(44) ﴾ فَعَتَوۡاْ عَنۡ أَمۡرِ رَبِّهِمۡ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّٰعِقَةُ ﴿ "Maka mereka berlaku angkuh terhadap perintah Rabbnya, lalu mereka disambar petir," yaitu petir yang besar dan membinasakan, ﴾ وَهُمۡ يَنظُرُونَ ﴿ "sedang mereka melihatnya," yakni, melihat hukuman mereka dengan mata kepala mereka sendiri.
(45) ﴾ فَمَا ٱسۡتَطَٰعُواْ مِن قِيَامٖ ﴿ "Maka mereka sekali-kali tidak dapat ba-ngun," untuk menyelamatkan diri mereka dari azab, ﴾ وَمَا كَانُواْ مُنتَصِرِينَ ﴿ "dan tidak pula mendapat pertolongan," untuk diri mereka.
51:46Page 522
وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ ٤٦
And [We destroyed] the people of Noah before; indeed, they were a people defiantly disobedient.
"Dan (Kami membinasakan) kaum Nuh sebelum itu. Sesung-guhnya mereka adalah kaum yang fasik." (Adz-Dzariyat: 46).
(46) Dan seperti itu juga tindakan yang dilakukan Allah سبحانه وتعالى terhadap kaum Nabi Nuh عليه السلام ketika mereka mendustakan Nuh عليه السلام serta menyimpang dari perintah Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى mengutus air bah dari langit dan bumi kepada mereka sehingga menengge-lamkan mereka semua hingga tidak tersisa seorang kafir pun di muka bumi. Ini merupakan kebiasaan Allah سبحانه وتعالى serta sunnahNya terhadap orang-orang yang mendurhakaiNya.
Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences