As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian
يس
Ya-Sin
Ya Sin · Meccan · 83 ayahs
36:1–12Page 440
يسٓ ١
Yā, Seen.1
وَٱلۡقُرۡءَانِ ٱلۡحَكِيمِ ٢
By the wise1 Qur’ān,
إِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ٣
Indeed you, [O Muḥammad], are from among the messengers,
عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ٤
On a straight path.
تَنزِيلَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ٥
[This is] a revelation of the Exalted in Might, the Merciful,
لِتُنذِرَ قَوۡمٗا مَّآ أُنذِرَ ءَابَآؤُهُمۡ فَهُمۡ غَٰفِلُونَ ٦
That you may warn a people whose forefathers were not warned, so they are unaware.
لَقَدۡ حَقَّ ٱلۡقَوۡلُ عَلَىٰٓ أَكۡثَرِهِمۡ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ٧
Already the word [i.e., decree] has come into effect upon most of them, so they do not believe.
إِنَّا جَعَلۡنَا فِيٓ أَعۡنَٰقِهِمۡ أَغۡلَٰلٗا فَهِيَ إِلَى ٱلۡأَذۡقَانِ فَهُم مُّقۡمَحُونَ ٨
Indeed, We have put shackles on their necks, and they are to their chins, so they are with heads [kept] aloft.
وَجَعَلۡنَا مِنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ سَدّٗا وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ سَدّٗا فَأَغۡشَيۡنَٰهُمۡ فَهُمۡ لَا يُبۡصِرُونَ ٩
And We have put before them a barrier and behind them a barrier and covered them, so they do not see.
وَسَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ١٠
And it is all the same for them whether you warn them or do not warn them - they will not believe.
إِنَّمَا تُنذِرُ مَنِ ٱتَّبَعَ ٱلذِّكۡرَ وَخَشِيَ ٱلرَّحۡمَٰنَ بِٱلۡغَيۡبِۖ فَبَشِّرۡهُ بِمَغۡفِرَةٖ وَأَجۡرٖ كَرِيمٍ ١١
You can only warn one who follows the message and fears the Most Merciful unseen. So give him good tidings of forgiveness and noble reward.
إِنَّا نَحۡنُ نُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَنَكۡتُبُ مَا قَدَّمُواْ وَءَاثَٰرَهُمۡۚ وَكُلَّ شَيۡءٍ أَحۡصَيۡنَٰهُ فِيٓ إِمَامٖ مُّبِينٖ ١٢
Indeed, it is We who bring the dead to life and record what they have put forth and what they left behind, and all things We have enumerated in a clear register.
"Ya, sin. Demi al-Qur`an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Agar kamu memberi peringat-an kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai. Sungguh telah pasti berlaku per-kataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang be-lenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di ha-dapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak me-lihatNya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauhil Mahfuzh)." (Yasin: 1-12).
Makkiyah
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
(2) Ini adalah sumpah dari Allah سبحانه وتعالى dengan al-Qur`an yang penuh hikmah, yang sifatnya adalah berisi hikmah (kebijaksanaan) yang artinya adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya; menempatkan perintah dan larangan pada tempat masing-masing dan meletakkan balasan dengan kebaikan dan keburukan pada tempat masing-masing yang laik bagi keduanya. Maka hukum-hukum syariat dan perdatanya, semuanya mencakup puncak ke-bijaksanaan. Dan di antara hikmah al-Qur`an ini adalah, ia mema-dukan antara penjelas hukum dan hikmahnya. Dengan demikian ia menyadarkan akal pikiran pada korelasi-korelasi dan ciri-ciri yang memastikan lahirnya hukum (keputusan) atasnya.
(3) ﴾ إِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Sesungguhnya kamu benar-benar salah se-orang dari rasul-rasul." Inilah yang disumpahkan, yaitu kerasulan Muhammad a. Dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad adalah termasuk golongan para rasul. Jadi, kamu bukan yang per-tama dari para rasul. Dan juga, kamu datang dengan membawa apa yang telah dibawa oleh para rasul, yaitu prinsip-prinsip agama. Dan juga, siapa saja yang mencermati hal-ihwal para rasul dan ciri-ciri mereka dan mengetahui perbedaan antara mereka dengan orang-orang selain mereka, niscaya ia mengetahui bahwa engkau termasuk para rasul yang terbaik, karena sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia yang ada padamu. Sudah tidak diragukan lagi adanya hubungan antara yang disumpahkan, yaitu al-Qur`an yang penuh hikmah dengan yang disumpahkan atasnya, yaitu ke-rasulan Muhammad a. Dan bahwa sesungguhnya, kalau saja tidak ada bukti (dalil) bagi kerasulannya dan tidak ada pula saksi selain al-Qur`an yang penuh hikmah ini, niscaya al-Qur`an itu sudah cukup sebagai dalil dan saksi atas kerasulan Muhammad a, bah-kan, al-Qur`an yang mulia ini sendiri adalah merupakan dalil yang terkuat dan terus menerus yang menunjukkan kerasulan Rasulullah a. Jadi, dalil-dalil al-Qur`an itu semuanya adalah merupakan dalil-dalil (bukti-bukti) bagi kerasulan Muhammad a.
(4) Kemudian Allah memberitakan tentang sifat Rasulullah a paling menonjol yang membuktikan kerasulannya, yaitu bah-wasanya dia ﴾ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "di atas jalan yang lurus," yakni, jalan lempeng yang dapat mengantarkan kepada Allah dan kepada ne-geri kemuliaanNya. Jalan yang lurus itu meliputi amal-amal, yaitu amal-amal shalih yang dapat memperbaiki hati, badan, dunia dan akhirat, serta akhlak yang utama yang dapat menyucikan jiwa, membersihkan kalbu, dan melipatgandakan pahala. Inilah jalan yang lurus yang merupakan ciri (sifat) Rasulullah a dan ciri agama yang dibawanya. Perhatikanlah keagungan al-Qur`an Suci ini, bagaimana ia memadukan antara sumpah dengan jenis sumpah yang paling mulia dan dengan yang disumpahkan yang juga termulia. Berita dari Allah itu sendiri sudah cukup, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى menegak-kan dalil-dalil yang sangat jelas dan argumen-argumen yang kon-kret pada bahasan ini yang menunjukkan kebenaran (kelegalan) apa yang Dia sumpahkan atasnya, yaitu kerasulan RasulNya, se-bagaimana telah kita uraikan dan kita singgung secara sederhana agar dijadikan pegangan.
(5) Jalan yang lurus ini ﴾ تَنزِيلَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ﴿ "diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." Dia-lah yang menurunkan kitab-Nya dan Dia menurunkannya sebagai jalan bagi hamba-hamba-Nya, yang dapat mengantarkan mereka kepadaNya. Oleh karena itu, Dia melindunginya dengan keperkasaanNya dari perubahan dan pergantian; dan dengannya Dia mengasihi hamba-hambaNya dengan belas kasih yang sampai kepada mereka hingga mengan-tarkan mereka kepada negeri rahmat (kasih-sayang)Nya. Maka dari itu Dia menutup ayat ini dengan dua nama yang sangat mulia, yaitu Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
(6) Setelah Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas kerasulan Nabi a dan menegakkan dalil-dalil atasnya, Dia menjelaskan betapa sangat mendesaknya kebutuhan kepada kerasulan itu dan betapa sangat diperlukan, seraya berfirman, ﴾ لِتُنذِرَ قَوۡمٗا مَّآ أُنذِرَ ءَابَآؤُهُمۡ فَهُمۡ غَٰفِلُونَ ﴿ "Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai." Mereka adalah bangsa Arab yang buta huruf, yaitu mereka yang masih kosong dari kitab-kitab, kehilangan para rasul. Mereka telah dilanda oleh kebodohan dan diliputi kesesatan, serta mereka telah membuat akal manusia di jagat raya ini menertawakan mereka karena kedunguan mereka. Maka Allah سبحانه وتعالى mengutus kepada mereka seorang rasul dari kala-ngan mereka sendiri yang menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan hikmah, dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. Maka dia pun memberikan peringatan kepada bangsa Arab yang ummi (buta huruf) dan kepada siapa saja yang dia jumpai dari setiap yang ummi. Dan dia juga mengingatkan para ahli kitab akan kitab-kitab yang ada pada mereka. Maka Nabi a menjadi nikmat bagi orang-orang Arab khususnya dan bagi bangsa-bangsa yang lain pada umumnya.
(7) Akan tetapi mereka, yakni orang-orang yang mana kamu (Nabi Muhammad a) diutus untuk memberikan peringatan di tengah mereka, setelah engkau berikan peringatan, mereka terbagi menjadi dua golongan: Satu golongan menolak apa yang engkau bawa dan tidak menerima peringatan. Mereka adalah orang-orang yang dikatakan tentang mereka, ﴾ لَقَدۡ حَقَّ ٱلۡقَوۡلُ عَلَىٰٓ أَكۡثَرِهِمۡ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sungguh telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) ter-hadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman." Maksudnya, takdir dan kehendak Allah berlaku kepada mereka, yaitu mereka terus pada kekafiran dan kesyirikannya. Sesungguhnya ketetapan Allah berlaku terhadap mereka setelah kebenaran ditawarkan kepada mereka lalu mereka menolaknya. Maka saat itulah mereka dihukum dengan dikunci mati hati mereka.
(8) Dan Allah menjelaskan penghalang-penghalang yang telah menghalangi iman untuk bisa sampai ke dalam hati mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَا فِيٓ أَعۡنَٰقِهِمۡ أَغۡلَٰلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka." أَغْلَالٌ adalah kata jamak dari غِلٌّ, yang artinya belenggu yang digunakan untuk membelenggu leher, ia serupa dengan borgol pengikat kaki. Belenggu-belenggu yang ada di leher ini sangat besar hingga sampai ﴾ إِلَى ﴿ "ke" dagu, se-dangkan kepala mereka diangkat ke atas, ﴾ فَهُم مُّقۡمَحُونَ ﴿ "maka karena itu mereka tertengadah," maksudnya, mereka mengangkat kepala karena kuat dan besarnya belenggu yang ada pada leher mereka, sehingga mereka tidak bisa menunduk.
(9) ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ سَدّٗا وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ سَدّٗا ﴿ "Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding." Maksud-nya, penghalang yang menghalangi mereka untuk beriman, ﴾ فَهُمۡ لَا يُبۡصِرُونَ ﴿ "sehingga mereka tidak dapat melihat," karena telah diliputi oleh kebodohan dan kesengsaraan dari segala arah mereka, maka peringatan sama sekali tidak berguna bagi mereka.
(10) ﴾ وَسَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman." Sebab, bagaimana akan bisa beriman orang yang hatinya telah dikunci rapat, yang melihat yang haq sebagai kebatilan dan yang batil se-bagai yang haq?
(11) Sedangkan golongan yang kedua adalah orang-orang yang menerima peringatan. Allah telah menyebutkan mereka dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّمَا تُنذِرُ ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan," maksudnya, sesungguhnya peringatanmu hanya akan berguna dan nasihatmu akan diterima oleh ﴾ مَنِ ٱتَّبَعَ ٱلذِّكۡرَ ﴿ "orang-orang yang mau mengikuti peringatan." Artinya, orang-orang yang niatnya adalah mengikuti yang haq dan apa yang diingatkan kepadanya, ﴾ وَخَشِيَ ٱلرَّحۡمَٰنَ بِٱلۡغَيۡبِۖ ﴿ "dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatNya," artinya, yaitu orang mempunyai dua karakter ini, yaitu niat yang baik dalam mencari kebenaran dan takut kepada Allah سبحانه وتعالى. Merekalah orang-orang yang bisa mengambil manfaat dari kerasulanmu dan menjadi suci dengan pengajaranmu. Dan orang yang dikaruniai dua perkara (karakter) ini adalah orang yang telah diberi kabar gembira ﴾ بِمَغۡفِرَةٖ ﴿ "dengan ampunan" bagi dosa-dosanya ﴾ وَأَجۡرٖ كَرِيمٍ ﴿ "dan pahala yang mulia" bagi amal-amal shalih dan niat baiknya.
(12) ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati," yakni, Kami membangkitkan mereka setelah mereka mati untuk memberikan balasan kepada mereka atas per-buatan-perbuatannya, ﴾ وَنَكۡتُبُ مَا قَدَّمُواْ ﴿ "dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan" yang baik dan yang buruk, yaitu amal-amal perbuatan yang telah mereka kerjakan dan mereka laksana-kan pada saat mereka masih hidup, ﴾ وَءَاثَٰرَهُمۡۚ ﴿ "dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan," yaitu, bekas-bekas kebaikan dan bekas-bekas keburukan yang mana mereka menjadi sebab diadakannya saat mereka masih hidup dan sesudah mereka mati. Amal perbuatan tersebut timbul dari perkataan, perbuatan, dan perihal keadaan mereka. Maka setiap kebaikan yang dilakukan oleh salah seorang manusia disebabkan oleh ilmu seorang hamba dan pengajarannya, atau nasihatnya, atau amar ma'rufnya, atau nahi mungkarnya, atau ilmu yang ia simpan pada para pelajar atau pada kitab-kitab yang digunakan pada saat masih hidup dan sesudah mati, atau melakukan kebaikan seperti shalat, zakat, sedekah atau suatu kebaikan yang diikuti oleh orang lain, atau membangun sebuah masjid atau salah satu tempat yang dimanfaatkan oleh masyarakat umum dan yang serupa dengannya, maka sesungguhnya semua itu termasuk bekas-bekas peninggalannya yang akan dicatat untuk-nya. Dan demikian pula perbuatan buruk. Maka dari itu, مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً، فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. "Barangsiapa yang mensunnahkan (mempelopori) satu sunnah yang baik, maka ia akan mendapat pahalanya dan pahala orang yang menger-jakannya hingga Hari Kiamat; dan barangsiapa yang mensunnahkan (mempelopori) satu sunnah yang buruk, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya hingga Hari Kiamat."[69] Bagian ini menjelaskan kepada Anda betapa tingginya kedu-dukan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى dan menunjukkan manusia ke-pada jalan Allah dengan segala sarana dan cara yang dapat meng-antarkan ke sana, dan (sebaliknya) betapa rendahnya derajat orang yang menyeru kepada keburukan dan menjadi pelopor dalam ke-burukan; dan sesungguhnya dia merupakan manusia yang paling hina, paling durjana, dan paling besar dosanya. ﴾ وَكُلَّ شَيۡءٍ ﴿ "Dan segala sesuatu," dari amal-amal perbuatan, niat, dan lain-lainnya ﴾ أَحۡصَيۡنَٰهُ فِيٓ إِمَامٖ مُّبِينٖ ﴿ "Kami kumpulkan dalam Kitab yang nyata," maksudnya, kitab yang merupakan kitab induk, dan ia merupakan rujukan semua kitab-kitab yang ada di tangan para malaikat. Ia adalah al-Lauhil Mahfuzh.
36:13–32Page 441
وَٱضۡرِبۡ لَهُم مَّثَلًا أَصۡحَٰبَ ٱلۡقَرۡيَةِ إِذۡ جَآءَهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ١٣
And present to them an example: the people of the city, when the messengers came to it -
إِذۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٖ فَقَالُوٓاْ إِنَّآ إِلَيۡكُم مُّرۡسَلُونَ ١٤
When We sent to them two but they denied them, so We strengthened [them] with a third, and they said, "Indeed, we are messengers to you."
قَالُواْ مَآ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا وَمَآ أَنزَلَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مِن شَيۡءٍ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَكۡذِبُونَ ١٥
They said, "You are not but human beings like us, and the Most Merciful has not revealed a thing. You are only telling lies."
قَالُواْ رَبُّنَا يَعۡلَمُ إِنَّآ إِلَيۡكُمۡ لَمُرۡسَلُونَ ١٦
They said, "Our Lord knows that we are messengers to you,
وَمَا عَلَيۡنَآ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ١٧
And we are not responsible except for clear notification."
قَالُوٓاْ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ ١٨
They said, "Indeed, we consider you a bad omen. If you do not desist, we will surely stone you, and there will surely touch you, from us, a painful punishment."
قَالُواْ طَٰٓئِرُكُم مَّعَكُمۡ أَئِن ذُكِّرۡتُمۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ١٩
They said, "Your omen [i.e., fate] is with yourselves. Is it1 because you were reminded? Rather, you are a transgressing people."
وَجَآءَ مِنۡ أَقۡصَا ٱلۡمَدِينَةِ رَجُلٞ يَسۡعَىٰ قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُواْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ٢٠
And there came from the farthest end of the city a man, running. He said, "O my people, follow the messengers.
ٱتَّبِعُواْ مَن لَّا يَسۡـَٔلُكُمۡ أَجۡرٗا وَهُم مُّهۡتَدُونَ ٢١
Follow those who do not ask of you [any] payment, and they are [rightly] guided.
وَمَالِيَ لَآ أَعۡبُدُ ٱلَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ٢٢
And why should I not worship He who created me and to whom you will be returned?
ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدۡنِ ٱلرَّحۡمَٰنُ بِضُرّٖ لَّا تُغۡنِ عَنِّي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يُنقِذُونِ ٢٣
Should I take other than Him [false] deities [while], if the Most Merciful intends for me some adversity, their intercession will not avail me at all, nor can they save me?
إِنِّيٓ إِذٗا لَّفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ٢٤
Indeed, I would then be in manifest error.
إِنِّيٓ ءَامَنتُ بِرَبِّكُمۡ فَٱسۡمَعُونِ ٢٥
Indeed, I have believed in your Lord, so listen to me."
قِيلَ ٱدۡخُلِ ٱلۡجَنَّةَۖ قَالَ يَٰلَيۡتَ قَوۡمِي يَعۡلَمُونَ ٢٦
It was said, "Enter Paradise."1 He said, "I wish my people could know
بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ٢٧
Of how my Lord has forgiven me and placed me among the honored."
۞ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِن جُندٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ ٢٨
And We did not send down upon his people after him any soldiers from the heaven, nor would We have done so.
إِن كَانَتۡ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ ٢٩
It was not but one shout,1 and immediately they were extinguished.
يَٰحَسۡرَةً عَلَى ٱلۡعِبَادِۚ مَا يَأۡتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ٣٠
How regretful for the servants. There did not come to them any messenger except that they used to ridicule him.
أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّنَ ٱلۡقُرُونِ أَنَّهُمۡ إِلَيۡهِمۡ لَا يَرۡجِعُونَ ٣١
Have they not considered how many generations We destroyed before them - that they to them1 will not return?
وَإِن كُلّٞ لَّمَّا جَمِيعٞ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُونَ ٣٢
And indeed, all of them will yet be brought present before Us.
"Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu pen-duduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka menjawab, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.' Mereka berkata, 'Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanya-lah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.' Mereka menja-wab, 'Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesung-guhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.' Utusan-utusan itu berkata, 'Kemalanganmu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.' Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas ia berkata, 'Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang menda-pat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepadaNya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selainNya? Jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemu-daratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku. Dikatakan (kepadanya), 'Masuklah ke surga.' Ia berkata, 'Alang-kah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.' Dan Kami tidak menurunkan ke-pada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tidaklah datang seorang rasul pun kepada me-reka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Tidakkah mereka mengetahui betapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." (Yasin: 13-32).
(13) Maksudnya, buatlah untuk mereka yang mendusta-kan kerasulanmu, yang menolak seruanmu sebuah perumpamaan yang dapat mereka jadikan pelajaran dan menjadi nasihat bagi mereka jika mereka diberi taufik untuk kebaikan. Perumpamaan itu adalah para penduduk suatu negeri dan apa yang terjadi dari perbuatan mereka, yaitu pendustaan terhadap para utusan Allah, serta apa-apa yang menimpa mereka berupa hukuman dan azab dariNya. Menyebutkan secara pasti negeri yang dimaksud, kalau saja ada gunanya tentu Allah menyebutkannya. Maka mencoba menebaknya atau yang serupa dengannya termasuk tindakan ceroboh dan berbicara tanpa dasar pengetahuan. Maka dari itu, apabila ada seseorang yang membicarakan tentang perkara semisal ini, Anda akan menjumpainya simpang siur dan berbeda-beda pendapat yang tidak mempunyai kepastian, yang dengan begitu Anda tahu bahwa sesungguhnya jalan ilmu yang shahih adalah berhenti pada data-data yang tepat dan tidak menyentuh hal-hal yang tidak ada gunanya. Dan dengan cara seperti ini jiwa akan menjadi bersih dan ilmunya makin bertambah. Sementara, orang yang jahil mengira bahwa bertambahnya ilmu itu dengan cara menyebutkan pendapat-pendapat yang tidak ada dalilnya, tidak ada argumennya dan tidak pula ada faidahnya selain mengacaukan pikiran dan terbiasa dengan perkara-perkara yang masih diragukan kebenarannya. Ringkasnya, negeri tersebut telah dijadikan oleh Allah sebagai perumpamaan bagi para mukhathabin (lawan bicara) ﴾ إِذۡ جَآءَهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "ketika utusan-utusan datang kepada mereka," dari Allah سبحانه وتعالى; memerintah mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata dan menuluskan kepatuhan hanya kepadaNya, dan mencegah mereka dari syirik dan maksiat-maksiat.
(14) ﴾ إِذۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٖ ﴿ "Yaitu ketika Kami meng-utus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan kedua-nya; kemudian kami kuatkan dengan ketiga." Maksudnya, Kami perkuat keduanya dengan orang ketiga, sehingga mereka menjadi tiga orang utusan, sebagai bentuk perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada mereka dan sebagai penegakan hujjah dengan berdatangannya para rasul (utusan) itu kepada mereka secara bergantian, ﴾ فَقَالُوٓاْ ﴿ "maka mereka berkata," kepada mereka (orang-orang yang musyrik itu),﴾ إِنَّآ إِلَيۡكُم مُّرۡسَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu."
(15) Lalu mereka menjawab para rasul itu dengan jawaban yang masih tetap populer di kalangan orang-orang yang menolak dakwah para rasul, seraya berkata, ﴾ قَالُواْ مَآ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami," artinya, apa yang membuat kalian merasa lebih utama dan unggul daripada kami? Para rasul berkata kepada umat mereka, Kami tiada lain manusia biasa seperti kalian, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. ﴾ وَمَآ أَنزَلَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مِن شَيۡءٍ ﴿ "Dan Allah Yang Maha Pemurah tidak me-nurunkan sesuatu pun," artinya, mereka mengingkari keseluruhan kerasulan; lalu mereka juga mengingkari orang-orang yang ber-bicara kepada mereka (tentang kerasulan tersebut), seraya mengata-kan, ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَكۡذِبُونَ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka."
(16) Rasul yang tiga itu mengatakan, ﴾ رَبُّنَا يَعۡلَمُ إِنَّآ إِلَيۡكُمۡ لَمُرۡسَلُونَ ﴿ "Rabb kami lebih mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu," maka jika kami adalah orang-orang pen-dusta, tentu Allah pasti telah menampakkan kehinaan kami dan pasti Dia segera menimpakan azabNya terhadap kami.
(17) ﴾ وَمَا عَلَيۡنَآ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan dengan jelas," yakni, menyampaikan dengan jelas yang dengannya perkara-perkara menjadi terjelaskan yang memang dituntut untuk dijelaskan. Adapun selain dari itu berupa ayat-ayat usulan atau minta dipercepatnya azab, maka bukan tugas kami. Tugas kami hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan kami telah melaksanakan dan menjelaskannya kepada kalian. Jika kalian menjadikannya sebagai petunjuk, maka itu adalah bagian yang baik dan taufik bagi kalian, namun jika kalian sesat, maka kami sama sekali tidak mempunyai urusan apa pun.
(18) Kemudian para penduduk negeri itu berkata kepada para rasulnya, ﴾ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu," artinya, kami tidak melihat dari kedatangan kalian dan hubungan kalian dengan kami selain keburukan. Ini adalah keanehan yang paling aneh, di mana orang yang datang kepada mereka dengan membawa nikmat yang paling mulia lagi paling besar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hambaNya dan karamah yang paling besar yang dianugerahkan kepada mereka serta kebutuhan mereka kepadanya di atas semua kebutuhan, dianggap datang dengan kondisi keburukan yang makin menambah keburukan yang mereka anut dan mereka me-rasa sial karenanya. Sesungguhnya tidak adanya pertolongan dan ketiadaan taufik dapat berakibat buruk terhadap seseorang yang lebih besar daripada apa yang dilakukan oleh musuhnya. Kemudian mereka mengancam para rasul seraya mengata-kan, ﴾ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ ﴿ "Sungguh jika kamu tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kamu." Maksudnya, niscaya kami membunuh kalian dengan cara melempari kalian dengan batu hingga menjadi pem-bunuhan yang paling sadis, ﴾ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami."
(19) Para rasul itu berkata kepada mereka, ﴾ طَٰٓئِرُكُم مَّعَكُمۡ ﴿ "Ke-malanganmu itu adalah karena kamu sendiri," yaitu syirik dan keja-hatan yang ada pada kalian yang berakibat pada terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, berupa bencana dan dicabutnya hal-hal yang dicintai dan nikmat. ﴾ أَئِن ذُكِّرۡتُمۚ ﴿ "Apakah jika kamu diberi peringatan," yakni, karena kami mengingatkan kalian kepada apa yang di situ terdapat kebaikan dan nasib baik kalian, maka kalian mengatakan kepada kami apa yang telah kalian katakan? ﴾ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ﴿ "Sebenarnya kamu adalah kaum yang berlebihan," melampaui batas lagi sombong dalam bicara. Maka seruan mereka (para rasul itu) tidak menambah selain mereka semakin jauh dan semakin sombong.
(20) ﴾ وَجَآءَ مِنۡ أَقۡصَا ٱلۡمَدِينَةِ رَجُلٞ يَسۡعَىٰ ﴿ "Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas," karena sangat bersemangat untuk memberikan nasihat kepada kaumnya ketika ia telah mendengar apa yang diserukan oleh para rasul dan ia beriman kepadanya serta mengetahui penolakan kaumnya terhadap mereka, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُواْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu." Orang itu memerintah mereka supaya mengikuti para rasul dan mena-sihatkan hal itu kepada mereka serta memberikan kesaksian akan kerasulan para rasul itu.
(21) Kemudian orang itu menjelaskan sebagai dukungan terhadap apa yang dipersaksikannya dan diserukannya, seraya ber-kata, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَن لَّا يَسۡـَٔلُكُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu." Ikutilah orang yang menasihati kalian dengan nasihat yang membawa kebaikan kepada kalian, dan ia tidak mengingin-kan harta ataupun imbalan dari kalian atas nasihat dan bimbingan-nya kepada kalian. Ini mengharuskan untuk mengikuti orang yang sifatnya seperti itu. Lebih dari itu bisa dikatakan, Bisa saja dia mengajak dan tidak mengambil upah, akan tetapi dia tidak berada di atas yang haq? Kemungkinan ini ditolak dengan FirmanNya, ﴾ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Sedangkan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk," karena mereka tidak mengajak kecuali kepada hal-hal yang dikukuhkan oleh akal sehat akan kebaikannya, dan mereka pun tidak mencegah kecuali apa yang dibenarkan oleh akal sehat akan keburukannya.
(22-25) Seolah-olah kaumnya belum juga menerima nasi-hatnya, bahkan mereka kembali mencelanya karena mengikuti para rasul dan mengikhlaskan kepatuhan hanya kepada Allah سبحانه وتعالى semata, maka ia berkata, ﴾ وَمَا لِيَ لَآ أَعۡبُدُ ٱلَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan?" Artinya, apa yang menghalangiku untuk beribadah kepada Yang berhak untuk diibadahi (disembah), sebab Dia-lah yang telah menjadikan dan menciptakanku serta memberiku rizki dan kepadaNya tempat kembali semua makhluk, lalu Dia akan memberikan balasan kepada mereka menurut amal-amal perbuatan mereka. Maka Tuhan yang di TanganNya pen-ciptaan, rizki, dan keputusan di antara manusia di dunia dan di akhirat, Dia-lah yang berhak disembah, disanjung dan dipuji, bukan yang tidak memiliki manfaat, tidak menimpakan bahaya, tidak bisa memberi dan menahan (keburukan), tidak pula memiliki hak mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan kembali. Maka dari itu Dia berfirman,﴾ ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدۡنِ ٱلرَّحۡمَٰنُ بِضُرّٖ لَّا تُغۡنِ عَنِّي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah selainNya? Jika Yang Maha Pemurah menghendaki kemudaratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku," karena tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafa'at di sisi Allah kecuali berdasarkan izin dariNya, maka syafa'at mereka sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka, ﴾ وَلَا يُنقِذُونِ ﴿ "dan mereka tidak pula dapat menyelamatkanku," yakni, dari bahaya (mudarat) yang Allah kehendaki menimpaku? ﴾ إِنِّيٓ إِذٗا ﴿ "Sesungguhnya aku kalau begitu," artinya, jika aku beribadah kepada sembahan-sembahan yang se-demikian rapuh sifat-sifatnya, ﴾ لَّفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "pasti (aku) berada dalam kesesatan yang nyata." Di dalam ungkapannya ini orang itu meng-kombinasikan antara pemberian nasihat kepada mereka, pemberian kesaksian kepada para rasul akan kerasulan dan hidayahnya dan pemberitaan akan dipastikannya ibadah hanya kepada Allah semata serta penyebutan dalil-dalil untuknya, dan bahwa sesungguhnya ibadah kepada selainNya adalah batil. Lalu ia menyebutkan argu-men-argumen terhadapnya, pemberitaan tentang kesesatan siapa saja yang menyembahnya dan maklumat tentang keimanannya secara terang-terangan, padahal ia sangat takut kalau mereka akan membunuhnya. Ia berkata, ﴾ إِنِّيٓ ءَامَنتُ بِرَبِّكُمۡ فَٱسۡمَعُونِ ﴿ "Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu; maka dengarkanlah aku."
(26-27) Lalu lelaki ini dibunuh oleh kaumnya sendiri sete-lah mereka mendengar darinya dan ia berdialog dengan mereka. ﴾ قِيلَ ﴿ "Dikatakan" kepadanya pada saat itu juga, ﴾ ٱدۡخُلِ ٱلۡجَنَّةَۖ ﴿ "Masuklah ke surga." Allah berfirman seraya mengabarkan karamah (kemuliaan) yang diraihnya karena tauhid dan keikhlasannya serta nasihatnya kepada kaumnya, sesudah wafatnya, sebagaimana dinasihatkannya saat masih hidup, ﴾ يَٰلَيۡتَ قَوۡمِي يَعۡلَمُونَ 26 بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي ﴿ "Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui; apa yang menyebab-kan Rabbku memberikan ampun kepadaku." Maksudnya, disebabkan apa Dia mengampuniku hingga Dia menjauhkan segala bentuk siksaan dariku, ﴾ وَجَعَلَنِي مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan" dengan berbagai macam pahala dan segala hal yang menyenangkan. Artinya, kalau sekiranya pengetahuan tentang hal ini sampai ke dalam hati mereka, tentu mereka tidak tetap berada dalam kesyirikan.
(28) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang siksaan bagi kaumnya, ﴾ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِن جُندٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia meninggal suatu pasukan pun dari langit," artinya, Kami tidak perlu bersusah-susah untuk menyiksa mereka dengan menurunkan pasukan dari langit untuk membinasakan mereka, ﴾ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ ﴿ "dan tidak layak Kami menurunkannya," karena tidak ada perlunya untuk itu, karena keagungan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى dan betapa sangat rapuhnya manusia, sehingga azab Allah yang paling ringan saja, sudah cukup buat mereka.
(29) ﴾ إِن كَانَتۡ ﴿ "Tidak ada ia," maksudnya, siksaan atas mereka, ﴾ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "melainkan satu teriakan suara saja," yakni, satu suara saja yang dilontarkan oleh salah seorang malaikat Allah, ﴾ فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ ﴿ "maka tiba-tiba mereka semuanya mati," hati mereka tercabik-cabik (hancur) di dalam rongga tubuh mereka dan mereka tersen-tak karena suara teriakan itu, maka mereka pun menjadi mati, tidak bersuara, tidak bergerak dan tidak pula hidup setelah kecongkakan dan kesombongan mereka serta setelah merespons orang-orang yang paling mulia (rasul) dengan perkataan kotor dan sikap semena-mena kepada mereka.
(30) Allah سبحانه وتعالى berfirman dengan nada prihatin kepada ma-nusia, ﴾ يَٰحَسۡرَةً عَلَى ٱلۡعِبَادِۚ مَا يَأۡتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidaklah datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, alangkah hebatnya kesengsaraan mereka dan betapa panjang penderitaan mereka serta betapa bodohnya mereka karena mereka bersifat buruk seperti itu, sifat yang menjadi sebab bagi segala kesengsaraan, azab, dan hukuman.
(31-32) ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّنَ ٱلۡقُرُونِ أَنَّهُمۡ إِلَيۡهِمۡ لَا يَرۡجِعُونَ 31 وَإِن كُلّٞ لَّمَّا جَمِيعٞ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُونَ 32 ﴿ "Tidakkah mereka mengetahui betapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya (orang-orang yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." Allah سبحانه وتعالى menyatakan, Tidakkah mereka melihat dan mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum mereka, yaitu generasi-generasi yang mendustakan para rasul yang telah dibinasakan oleh Allah سبحانه وتعالى dan ditimpa azabNya; dan sesungguhnya mereka semua sudah musnah dan binasa, tidak seorang pun yang kembali ke dunia dan tidak akan dikembalikan lagi kepadanya; dan kelak Allah akan mengem-balikannya sebagai makhluk baru, Dia akan menghidupkan kembali sesudah kematian mereka serta akan menghadirkan mereka di hadapanNya untuk diberikan keputusan dengan keputusan yang adil di antara mereka, yang di situ Dia tidak menzhalimi seberat biji sawi pun, jika kebaikan, maka Dia akan melipatgandakannya dan akan memberikan pahala yang sangat besar dari sisiNya.
36:33–36Page 442
وَءَايَةٞ لَّهُمُ ٱلۡأَرۡضُ ٱلۡمَيۡتَةُ أَحۡيَيۡنَٰهَا وَأَخۡرَجۡنَا مِنۡهَا حَبّٗا فَمِنۡهُ يَأۡكُلُونَ ٣٣
And a sign for them is the dead earth. We have brought it to life and brought forth from it grain, and from it they eat.
وَجَعَلۡنَا فِيهَا جَنَّٰتٖ مِّن نَّخِيلٖ وَأَعۡنَٰبٖ وَفَجَّرۡنَا فِيهَا مِنَ ٱلۡعُيُونِ ٣٤
And We placed therein gardens of palm trees and grapevines and caused to burst forth therefrom some springs -
لِيَأۡكُلُواْ مِن ثَمَرِهِۦ وَمَا عَمِلَتۡهُ أَيۡدِيهِمۡۚ أَفَلَا يَشۡكُرُونَ ٣٥
That they may eat of His fruit.1 And their hands have not produced it,2 so will they not be grateful?
سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡأَزۡوَٰجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلۡأَرۡضُ وَمِنۡ أَنفُسِهِمۡ وَمِمَّا لَا يَعۡلَمُونَ ٣٦
Exalted is He who created all pairs1 - from what the earth grows and from themselves and from that which they do not know.
"Dan suatu tanda bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka dari padanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? Mahasuci Allah Yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." (Yasin: 33-36).
(33) Maksudnya, ﴾ وَءَايَةٞ لَّهُمُ ﴿ "dan suatu tanda bagi mereka," atas (adanya) kebangkitan, kehidupan sesudah mati dan mengha-dap kepada Allah سبحانه وتعالى untuk menerima pembalasan atas amal-amal perbuatan, adalah ﴾ ٱلۡأَرۡضُ ٱلۡمَيۡتَةُ ﴿ "bumi yang mati" ini, di mana Allah menurunkan hujan kepadanya lalu menghidupkannya kembali sesudah sebelumnya mati, ﴾ أَحۡيَيۡنَٰهَا وَأَخۡرَجۡنَا مِنۡهَا حَبّٗا فَمِنۡهُ يَأۡكُلُونَ ﴿ "dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka dari padanya mereka makan," dari seluruh jenis tanaman dan dari seluruh jenis tumbuh-tum-buhan yang dimakan oleh hewan-hewan ternak kalian.
(34) ﴾ وَجَعَلۡنَا فِيهَا ﴿ "Dan Kami jadikan padanya," yakni, pada bumi (tanah) yang kering itu, ﴾ جَنَّٰتٖ ﴿ "kebun-kebun," artinya, kebun-kebun yang penuh dengan banyak pepohonan, terutama pohon kurma dan anggur yang keduanya merupakan pohon yang paling berharga, ﴾ وَفَجَّرۡنَا فِيهَا ﴿ "dan Kami pancarkan padanya," maksudnya, pada bumi tersebut ﴾ مِنَ ٱلۡعُيُونِ ﴿ "beberapa mata air," lalu Kami jadikan ber-aneka pohon, pohon kurma dan pohon anggur di sana.
(35) ﴾ لِيَأۡكُلُواْ مِن ثَمَرِهِۦ ﴿ "Supaya mereka dapat makan dari buahnya," sebagai makanan pokok, buah-buahan, penyedap makanan, dan kelezatan, ﴾ و َ ﴿ "dan" sesungguhnya buah-buahan itu ﴾ م َ ا ﴿ "dari apa" yang d i u s a h a k a n ﴾ أَيۡدِيهِمۡۚ ﴿ "oleh tangan mereka." Mereka sama sekali tidak mempunyai andil dalam menciptakan ataupun mem-buatnya. Itu semua sesungguhnya adalah ciptaan Allah Yang Ma-habijaksana dan Pemberi rizki yang terbaik. Dan juga, tidak dila-kukan oleh tangan mereka dalam bentuk memasaknya di atas api atau lainnya, melainkan Allah-lah yang mengadakan buah-buahan itu, yang tidak perlu dimasak atau diapakan saja, melainkan lang-sung diambil dari pohonnya lalu bisa dimakan saat itu juga. ﴾ أَفَلَا يَشۡكُرُونَ ﴿ "Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?" ke-pada yang telah melimpahkan berbagai nikmat ini dan mencurah-kan bagian dari kemurahan dan karuniaNya kepada mereka hingga permasalahan agama dan dunia mereka menjadi baik? Tidakkah yang telah menghidupkan tanah setelah kematiannya (kekeringan-nya) lalu menumbuhkan padanya berbagai tanaman dan pepo-honan, meletakkan padanya rasa lezat buah-buahan dan menge-luarkan benih-benih baru dari dahan-dahannya serta memancarkan dari tanah yang kering lagi mati beberapa sumber air, maka bu-kankah itu bukti Allah Kuasa untuk menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati?! Ya, sesungguhnya Dia Kuasa atas segala sesuatu.
(36) ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡأَزۡوَٰجَ كُلَّهَا ﴿ "Mahasuci Allah Yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya." Yakni, semua jenis makh-luk. ﴾ مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلۡأَرۡضُ ﴿ "Baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi," di mana Dia aneka-ragamkan berbagai jenis tumbuhan, yang sangat sulit untuk bisa dihitung. ﴾ وَمِنۡ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Dan dari diri mereka," Dia meragamkannya juga menjadi laki-laki dan perempuan, Dia beda-bedakan bentuk tubuh, perangai, dan sifat-sifat lahiriah dan batiniyah mereka, ﴾ وَمِمَّا لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "maupun dari apa yang tidak mereka ketahui," dari berbagai makhluk yang telah diciptakan dan alpa dari pengetahuan kita, dan juga yang belum diciptakan. Maka Mahasuci Allah سبحانه وتعالى dari sekutu, tandingan, penolong, pendukung atau istri, anak atau yang sama denganNya, serupa atau semisal denganNya dalam sifat-sifat kesempurnaanNya dan sifat-sifat keagunganNya, atau tidak mampu melakukan sesuatu yang dikehendakiNya. (Mahasuci Allah dari semua kekurangan itu).
Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences