As-Sa'diLuqman · 31:1–21

As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian

لقمان

Luqman

Luqman · Meccan · 34 ayahs

31:1–5Page 411

الٓمٓ ١

Alif, Lām, Meem.1

تِلۡكَ ءَايَٰتُ ٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡحَكِيمِ ٢

These are verses of the wise1 Book,

هُدٗى وَرَحۡمَةٗ لِّلۡمُحۡسِنِينَ ٣

As guidance and mercy for the doers of good

ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ يُوقِنُونَ ٤

Who establish prayer and give zakāh, and they, of the Hereafter, are certain [in faith].

أُوْلَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدٗى مِّن رَّبِّهِمۡۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٥

Those are on [right] guidance from their Lord, and it is those who are the successful.

"Alif Lam Mim. Inilah ayat-ayat al-Qur`an yang mengandung hikmat, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang ber-buat kebaikan. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menu-naikan zakat, dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Rabbnya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Luqman: 1-5).

Makkiyah

"Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."

(2) Allah سبحانه وتعالى mengisyaratkan suatu isyarat yang bermakna ta'zhîm (mengagungkan) kepada ﴾ ءَايَٰتُ ٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡحَكِيمِ ﴿ "ayat-ayat al-Qur`an yang mengandung hikmat," maksudnya, ayat-ayat muhkamat yang bersumber dari Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Di antara kehikmahannya adalah, ia datang dengan lafazh-lafazh yang paling tinggi, paling fasih dan paling jelas, yang menun-jukkan kepada makna-makna yang paling tinggi dan paling baik. Di antara kehikmahannya juga adalah ia terpelihara dari perubahan, penggantian, penambahan, pengurangan dan tahrif (pemelencengan makna dan kata). Termasuk kehikmahannya juga adalah bahwa seluruh yang ada di dalamnya, berupa berita-berita tentang yang telah lampau dan yang akan datang serta perkara-perkara ghaib, semuanya sesuai dengan kenyataan, dan kenyataan pun sesuai dengannya, sama sekali tidak ditentang oleh satu kitab pun dari kitab-kitab suci Ilahi, dan tidak seorang nabi pun yang mengabarkan sesuatu yang bertentangan dengannya, dan tidak pernah datang dan tidak akan pernah datang suatu ilmu yang yang bersifat indrawi maupun yang logis nan shahih yang akan bertentangan dengan sesuatu yang dikandungnya. Termasuk kehikmahannya pula adalah bahwa ayat-ayat ter-sebut tidak pernah memerintahkan sesuatu kecuali ia adalah suatu yang murni kemaslahatan dan yang rajih. Dan tidak pula ia mela-rang sesuatu melainkan ia adalah suatu yang murni kerusakan atau yang dinyatakan marjuh pada kerusakan. Dan banyak sekali ia memadukan antara perintah pada sesuatu dengan menyebutkan hikmah dan faidahnya, dan larangan dari sesuatu disertai dengan menyebutkan bahayanya. Di antara kehikmahannya adalah ia memadukan antara targhib (memberikan motivasi) dan tarhib (memberikan ancaman), dan nasihat-nasihat yang dengannya jiwa yang baik menjadi lurus dan mampu mengambil keputusan lalu beramal dengan penuh tekad. Di antara kehikmahannya juga adalah, bahwa Anda menjum-pai ayat-ayatnya yang diulang-ulang, seperti kisah-kisah, hukum-hukum dan yang serupa dengannya, semuanya senada dan sepa-kat. Jadi, tidak ada kontradiksi ataupun perselisihan di dalamnya. Maka, apabila seseorang yang meneliti semakin menghayatinya dan semakin mengaktifkan akalnya untuk merenungkannya, nis-caya akalnya menjadi tercengang-cengang dan hatinya menjadi terpedaya karena keserasian dan kesamaannya, dan ia memastikan dengan sebenar-benarnya tanpa keraguan padanya, bahwasanya al-Qur`an ini berasal dari Dzat Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.

(3) Akan tetapi, sekalipun Dia Mahabijaksana yang meng-ajak kepada setiap akhlak mulia dan melarang dari setiap akhlak yang tercela, namun kebanyakan manusia tidak mendapat karunia untuk berpedoman kepadanya, tidak mau beriman dan meng-amalkannya, kecuali orang yang diberi taufik dan dilindungi oleh Allah سبحانه وتعالى, sedangkan mereka bersikap ihsan dalam beribadah kepada Rabbnya, dan berbuat ihsan kepada sesama manusia. Sesungguh-nya al-Qur`an ini ﴾ هُدٗى ﴿ "petunjuk," bagi mereka yang membimbing mereka kepada jalan yang lurus dan mengingatkan mereka dari jalan-jalan (yang dapat menjerumuskan. Pent.) ke Neraka Jahim. ﴾ وَرَحۡمَةٗ ﴿ "Dan rahmat," bagi mereka, yang dengannya mereka mem-peroleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat, kebaikan yang ber-limpah, pahala yang berlipat ganda, kesenangan dan kesukaan, serta tertolak dari mereka kesesatan dan kesengsaraan.

(4) Kemudian Allah menyifati (mendiskripsikan) orang-orang yang berbuat ihsan dengan ilmu yang sempurna, yaitu ke-yakinan yang membangkitkan untuk beramal dan takut kepada siksaan Allah, sehingga mereka meninggalkan segala maksiat. Dan Allah juga menyifati mereka dengan amal, dan Allah menekankan di antara amal itu dua bentuk amal yang utama, yaitu ﴾ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "shalat," yang meliputi keikhlasan, bermunajat kepada Allah سبحانه وتعالى dan meng-hambakan diri yang sempurna bagi hati, lisan dan seluruh anggota badan yang menolong seluruh amal perbuatan, ﴾ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "dan zakat," yang menyucikan orang yang menunaikannya dari sifat-sifat tercela, berguna bagi saudaranya yang Muslim dan menutupi kebutuhan-nya, dan dengannya terbukti bahwa sang hamba lebih mengutama-kan cinta Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaannya kepada harta benda. Maka dari itu dia mengeluarkan sebagian dari harta yang dicintainya demi sesuatu yang lebih dicintainya, yaitu mencari keridhaan Allah سبحانه وتعالى.

(5) Maka ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "mereka itulah" orang-orang yang berbuat ihsan, yang memadukan antara ilmu yang sempurna dan amal ﴾ عَلَىٰ هُدٗى ﴿ "(orang-orang yang) tetap mendapat petunjuk" yang sangat besar. Demikianlah yang dapat dipahami dari bentuk kata "nakirah." Pe-tunjuk tersebut mencapai dan sampai kepada mereka ﴾ مِّن رَّبِّهِمۡۖ ﴿ "dari Rabbnya," yang terus membimbing mereka dengan berbagai nikmat dan mencegah berbagai bencana dari mereka. Inilah petunjuk yang Dia sampaikan kepada mereka dari tarbiyah (bimbingan) khusus-Nya kepada para waliNya, dan ini merupakan bentuk tarbiyah yang paling utama. ﴾ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung," yaitu orang-orang yang meraih keridhaan Tuhannya dan pahala duniawi dan ukhrawiNya, mereka selamat dari murka dan siksa-anNya. Dan itu semua terjadi karena mereka menempuh jalan ke-beruntungan, yaitu jalan yang tidak ada jalan lain selain itu untuk mencapainya.

Setelah Allah menjelaskan orang-orang yang berpedoman kepada al-Qur`an dan berorientasi kepadanya, maka Dia menye-butkan orang yang berpaling darinya dan tidak menghiraukannya sama sekali, dan bahwa sesungguhnya orang itu disiksa karena sikapnya memilih setiap kebatilan perkataan. Ia mengabaikan per-kataan-perkataan yang paling bernilai dan ucapan-ucapan yang terbaik, dan menggantikannya dengan perkataan yang paling busuk lagi buruk. Maka dari itu, Allah berfirman,

31:6–9Page 411

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشۡتَرِي لَهۡوَ ٱلۡحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيۡرِ عِلۡمٖ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًاۚ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٞ مُّهِينٞ ٦

And of the people is he who buys the amusement of speech1 to mislead [others] from the way of Allāh without knowledge and who takes it [i.e., His way] in ridicule. Those will have a humiliating punishment.

وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا وَلَّىٰ مُسۡتَكۡبِرٗا كَأَن لَّمۡ يَسۡمَعۡهَا كَأَنَّ فِيٓ أُذُنَيۡهِ وَقۡرٗاۖ فَبَشِّرۡهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ٧

And when Our verses are recited to him, he turns away arrogantly as if he had not heard them, as if there was in his ears deafness. So give him tidings of a painful punishment.

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمۡ جَنَّٰتُ ٱلنَّعِيمِ ٨

Indeed, those who believe and do righteous deeds - for them are the Gardens of Pleasure,

خَٰلِدِينَ فِيهَاۖ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ٩

Wherein they abide eternally; [it is] the promise of Allāh [which is] truth. And He is the Exalted in Might, the Wise.

"Dan di antara manusia (ada) orang yang membeli perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan, dan menjadikan jalan Allah itu sebagai olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami maka dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengar-nya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka berilah dia kabar gembira dengan azab yang pedih. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, mereka memperoleh surga-surga yang penuh kenikmatan, mereka kekal di dalamnya; sebagai janji Allah yang benar. Dan Dia-lah Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana." (Luqman: 6-9).

(6) Maksudnya, ﴾ وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن ﴿ "dan di antara manusia ada orang" dia adalah orang yang sial lagi terlantar (tidak memperoleh per-tolongan) ﴾ يَشۡتَرِي ﴿ "yang membeli," maksudnya, memilih dan senang sebagaimana senangnya orang yang mengeluarkan harga pada sesuatu, ﴾ لَهۡوَ ٱلۡحَدِيثِ ﴿ "perkataan yang tidak berguna," maksudnya, perkataan-perkataan yang melalaikan hati, yang menghalang-ha-langinya dari nilai-nilai yang mulia. Termasuk dalam hal ini adalah setiap perkataan yang diharamkan dan setiap perkataan yang tidak berguna nan palsu lagi rendahan dari perkataan-perkataan yang mendorong kepada kekafiran, kefasikan dan maksiat, dan dari per-kataan-perkataan para penolak kebenaran, yang mendebat dengan kebatilan untuk mencampakkan yang benar, dan dari gunjingan, adu domba (memfitnah), dusta, cacian dan celaan, serta dari lagu, tiupan seruling-seruling setan, serta dari wanita-wanita penghibur yang melalaikan, yang tidak ada gunanya dalam agama maupun dunia. Maka golongan manusia semacam ini ﴾ يَشۡتَرِي لَهۡوَ ٱلۡحَدِيثِ ﴿ "mem-beli perkataan yang tidak berguna" dari perkataan yang berguna, ﴾ لِيُضِلَّ ﴿ "untuk menyesatkan" manusia ﴾ بِغَيۡرِ عِلۡمٖ ﴿ "tanpa pengetahuan." Maksud-nya, setelah dia sesat karena perbuatannya, maka dia menyesatkan orang lain. Sebab, penyesatan itu tumbuh dari kesesatan; dan pe-nyesatannya dalam perkataannya itu adalah sikapnya menghalang-halangi manusia dari perkataan yang berguna, amal yang berman-faat, dari kebenaran yang jelas dan jalan yang lurus. Dan semua itu tidak akan bisa terlaksana sehingga dia mencemoohkan petunjuk dan kebenaran, dan menjadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan, dia memperolok-oloknya dan juga orang (nabi) yang datang dengannya. Nah, apabila dia telah memadukan antara memuji kebatilan dan menganjurkannya dengan mencampakkan yang haq (yang benar) dan memperolok-oloknya serta ahlinya, maka (sung-guh) dia telah menyesatkan orang-orang yang tidak berilmu, dan dia menipunya dengan perkataan-perkataan yang disampaikannya, yaitu perkataan yang tidak bisa dibedakan oleh orang yang sesat dan dia pun tidak mengenal hakikatnya, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٞ مُّهِينٞ ﴿ "mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan," karena mereka sesat, menyesatkan, memperolok-olokkan ayat-ayat Allah dan mendusta-kan kebenaran yang sudah sangat jelas sekali.

(7) Maka dari itu, Dia berfirman, ﴾ وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا ﴿ "Dan apa-bila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami," supaya dia beriman dan tunduk patuh kepadanya, ﴾ وَلَّىٰ مُسۡتَكۡبِرٗا ﴿ "dia berpaling dengan me-nyombongkan diri." Maksudnya, dia berbalik ke belakang dengan menyombongkan diri terhadapnya dan menolaknya, dan ayat-ayat itu tidak bisa masuk ke dalam hatinya dan tidak pula ia berpenga-ruh padanya, akan tetapi ia membelakanginya, ﴾ كَأَن لَّمۡ يَسۡمَعۡهَا ﴿ "seolah-olah dia belum mendengarnya," bahkan, ﴾ كَأَنَّ فِيٓ أُذُنَيۡهِ وَقۡرٗاۖ ﴿ "seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya" maksudnya, penutup hingga tidak ada suara yang bisa memasukinya. Orang seperti ini sama sekali tidak ada jalan untuk memberinya petunjuk. ﴾ فَبَشِّرۡهُ ﴿ "Maka berilah dia kabar gembira" dengan suatu kabar gembira yang bisa membuat di dalam hatinya rasa sedih dan duka, dan pada raut wajahnya keburukan, kegelapan dan kemuraman, ﴾ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿ "dengan azab yang pedih," menyakitkan hati dan badan-nya, yang tidak dapat diukur kadarnya dan tidak dapat diketahui betapa hebatnya siksaan itu. Ini adalah berita gembira untuk para pelaku kejahatan. Sungguh berita gembira seperti itu sama sekali tidak ada kenikmatannya.

(8-9) Adapun berita gembira untuk para pelaku kebaikan, maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih," mereka telah memadukan antara ibadah batin dengan beriman dan (ibadah) lahiriyah dengan Islam dan amal shalih, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتُ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "mereka men-dapatkan surga-surga yang penuh kenikmatan," sebagai berita gembira bagi mereka disebabkan (apa) yang telah mereka persiapkan, dan sebagai hidangan bagi mereka disebabkan amal yang telah mereka kerjakan. ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَاۖ ﴿ "Mereka kekal di dalamnya," maksudnya, di dalam surga-surga yang penuh kenikmatan, kenikmatan hati, jiwa, dan raga. ﴾ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٗاۚ ﴿ "Sebagai janji Allah yang benar," yang tidak mungkin diingkari, dirubah atau diganti. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana," sempurna keperkasaanNya, pari-purna kebijaksanaanNya. Dari keperkasaan dan hikmahNya Dia memberikan taufikNya kepada orang yang dikehendakiNya, dan mengabaikan (orang yang Dia kehendaki) sesuai dengan tuntutan ilmu dan hikmahNya pada mereka.

31:10–11Page 411

خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ بِغَيۡرِ عَمَدٖ تَرَوۡنَهَاۖ وَأَلۡقَىٰ فِي ٱلۡأَرۡضِ رَوَٰسِيَ أَن تَمِيدَ بِكُمۡ وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٖۚ وَأَنزَلۡنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوۡجٖ كَرِيمٍ ١٠

He created the heavens without pillars that you see and has cast into the earth firmly set mountains, lest it should shift with you, and dispersed therein from every creature. And We sent down rain from the sky and made grow therein [plants] of every noble kind.

هَٰذَا خَلۡقُ ٱللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ ٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦۚ بَلِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ١١

This is the creation of Allāh. So show Me what those other than Him have created. Rather, the wrongdoers are in clear error.

"Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tum-buhan yang baik. Inilah ciptaan Allah, maka kalian perlihatkan-lah kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan-(mu) selain Allah. Sebenarnya orang-orang yang zhalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata." (Luqman: 10-11).

(10) Allah سبحانه وتعالى membacakan kepada hamba-hambaNya be-berapa tanda dari tanda-tanda kekuasaanNya, beberapa keajaiban dari keajaiban-kejaiban hikmahNya, dan beberapa nikmat dari tanda-tanda rahmatNya, seraya berfirman; ﴾ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ ﴿ "Dia men-ciptakan langit," yang tujuh lapis dengan keagungan, keluasan, kete-balan dan ketinggiannya yang luar biasa, ﴾ بِغَيۡرِ عَمَدٖ تَرَوۡنَهَاۖ ﴿ "tanpa tiang yang kamu melihatnya" maksudnya, ia tidak mempunyai tiang-tiang penyangga. Dan kalau seandainya ia mempunyai tiang pasti tiang-tiang itu terlihat. Sesungguhnya langit itu terpancang dan kokoh dengan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَأَلۡقَىٰ فِي ٱلۡأَرۡضِ رَوَٰسِيَ ﴿ "Dan Dia meletakkan gunung-gunung di bumi" yaitu gunung-gunung yang sangat besar yang Dia tancapkan di penjuru-penjurunya, supaya ﴾ تَمِيدَ بِكُمۡ ﴿ "bumi itu tidak menggoyang-kan kamu," maka kalau saja tidak ada gunung-gunung yang terpan-cang itu, niscaya bumi ini goncang dan niscaya tidak akan pernah diam dengan segenap penghuninya, ﴾ وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٖۚ ﴿ "dan memper-kembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang." Maksudnya, Dia menyebarluaskan di muka bumi yang luas ini segala macam binatang melata yang semua ditundukkan untuk anak cucu Adam, untuk kemaslahatan mereka dan kebaikan bagi mereka. Dan ketika Allah mengembangbiakkannya di muka bumi ini, Allah سبحانه وتعالى mengetahui bahwasanya semua binatang melata itu harus mempunyai rizki untuk kehidupannya, maka Dia menurunkan air yang penuh berkah dari langit, ﴾ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوۡجٖ كَرِيمٍ ﴿ "lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik," pe-mandangannya berguna lagi berkah. Maka binatang-binatang yang disebarluaskan itu dapat berkeliaran memakannya, dan setiap hewan tinggal di dalamnya.

(11) ﴾ هَٰذَا ﴿ "Ini" maksudnya, penciptaan alam atas dan alam bawah, yang terdiri dari benda-benda padat, hewan dan dialirkan-nya rizki kepada mereka adalah, ﴾ خَلۡقُ ٱللَّهِ ﴿ "ciptaan Allah" semata, tiada sekutu bagiNya. Semua orang mengakui hal ini, sampai kalian sendiri, wahai kaum musyrikin, ﴾ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ ٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦۚ ﴿ "maka kalian perlihatkanlah kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Dia," maksudnya, orang-orang yang telah kalian jadikan sekutu bagiNya, yang kalian berdoa dan menyembah kepa-danya, semua itu mengharuskan kalau mereka mempunyai ciptaan seperti ciptaan Allah dan rizki sepeti rizkiNya. Kalau mereka mem-punyai sedikit saja dari hal itu maka perlihatkanlah kepadaku agar apa yang kalian klaim itu, yaitu keberhakan mereka untuk diibadahi (disembah) menjadi benar. Sebagaimana sudah dimaklumi bahwa mereka tidak akan sanggup memperlihatkannya sedikit pun dari ciptaan miliknya, karena seluruh yang disebutkan (sekutu-sekutu, berhala) telah mereka akui sebagai ciptaan Allah semata, dan di sana tidak ada sesuatu apa pun (tuhan) yang dikenal selain tuhan berhala itu. Maka dengan demikian terbuktilah kelemahan mereka untuk membuktikan bahwa berhala-berhala itu berhak disembah. Namun, sebenarnya peribadahan mereka kepada berhala-berhala tersebut tidaklah berdasarkan ilmu dan pemikiran yang mendalam, melainkan berdasarkan kejahilan dan kesesatan. Dan maka dari itu Allah berfirman, ﴾ بَلِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "Se-benarnya orang-orang yang zhalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata." Maksudnya, (kesesatan) yang sangat jelas lagi terang, yang mana mereka menyembah apa-apa yang sama sekali tidak kuasa memberikan manfaat atau kemudaratan, mematikan atau meng-hidupkan atau menghidupkan kembali; mereka mengabaikan ke-tulusan kepada Sang Pencipta Yang Maha Pemberi rizki lagi Maha Pemilik segala sesuatu.

31:12–19Page 412

وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا لُقۡمَٰنَ ٱلۡحِكۡمَةَ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِلَّهِۚ وَمَن يَشۡكُرۡ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٞ ١٢

And We had certainly given Luqmān wisdom [and said], "Be grateful to Allāh." And whoever is grateful is grateful for [the benefit of] himself. And whoever denies [His favor] - then indeed, Allāh is Free of need and Praiseworthy.

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣

And [mention, O Muḥammad], when Luqmān said to his son while he was instructing him, "O my son, do not associate [anything] with Allāh. Indeed, association [with Him] is great injustice."

وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيۡكَ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ ١٤

And We have enjoined upon man [care] for his parents. His mother carried him, [increasing her] in weakness upon weakness, and his weaning is in two years. Be grateful to Me and to your parents; to Me is the [final] destination.

وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ١٥

But if they endeavor to make you associate with Me that of which you have no knowledge,1 do not obey them but accompany them in [this] world with appropriate kindness and follow the way of those who turn back to Me [in repentance]. Then to Me will be your return, and I will inform you about what you used to do.

يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٖ فَتَكُن فِي صَخۡرَةٍ أَوۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ يَأۡتِ بِهَا ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٞ ١٦

[And Luqmān said], "O my son, indeed if it [i.e., a wrong] should be the weight of a mustard seed and should be within a rock or [anywhere] in the heavens or in the earth, Allāh will bring it forth. Indeed, Allāh is Subtle1 and Aware.

يَٰبُنَيَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ١٧

O my son, establish prayer, enjoin what is right, forbid what is wrong, and be patient over what befalls you. Indeed, [all] that is of the matters [requiring] resolve.1

وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ ١٨

And do not turn your cheek [in contempt] toward people1 and do not walk through the earth exultantly. Indeed, Allāh does not like everyone self-deluded and boastful.

وَٱقۡصِدۡ فِي مَشۡيِكَ وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَۚ إِنَّ أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَٰتِ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ ١٩

And be moderate in your pace and lower your voice; indeed, the most disagreeable of sounds is the voice of donkeys."

"Dan sungguh telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, 'Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyu-kur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.' Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya, 'Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya memper-sekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.' Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua ta-hun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKu-lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada penge-tahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu, kemudian hanya kepadaKu-lah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu amal yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata), 'Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan membalasinya. Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui. Hai anak-ku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan ber-sabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai'." (Luqman: 12-19).

(12) Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang pemberian karu-niaNya kepada seorang hambaNya yang mulia, Luqman berupa hikmah, yaitu ilmu pengetahun tentang yang haq sesuai dengan Wajah dan hikmahNya, yaitu ilmu tentang hukum-hukum dan pengetahuan tentang rahasia dan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Seseorang bisa saja menjadi seorang alim (berilmu) akan tetapi belum tentu dia hakim (bijak, mendalam ilmunya). Se-bab hikmah itu pasti mengharuskan adanya ilmu, bahkan adanya amal. Maka dari itu hikmah ditafsirkan (diartikan) dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Ketika Allah mengaruniakan kepadanya karunia yang sangat agung ini, Allah memerintahkan kepadanya untuk bersyukur (berterima kasih) atas karunia besar yang diberikan kepadanya, agar Allah memberkahinya dan me-nambah karuniaNya kepadanya. Dan Allah mengabarkan kepadanya bahwa syukurnya orang-orang yang bersyukur itu manfaatnya kembali kepada diri mereka sendiri, dan bahwa siapa saja yang ingkar, lalu tidak bersyukur kepada Allah, maka bahayanya menimpa dirinya sendiri, sedang-kan Allah Mahakaya, tidak butuh kepadanya lagi Maha Terpuji dalam apa saja yang Dia takdirkan dan Dia putuskan terhadap orang yang menyalahi perintahNya. Jadi kekayaanNya (ketidak-butuhanNya kepada hamba-hambaNya) merupakan kepastian DzatNya. Dan keberadaanNya terpuji pada sifat-sifat kesempurna-anNya di dalam kebaikan yang dilakukanNya merupakan kepas-tian DzatNya. Setiap masing-masing dari dua ungkapan ini adalah sifat kesempurnaan, dan berkumpulnya salah satu kepada yang lain adalah tambahan kesempurnaan kepada kesempurnaan. Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang apakah Luqman ini seorang nabi atau seorang hamba shalih[49] Sementara itu, Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan tentangnya kecuali (penjelasan) bahwa Dia telah mengaruniakan hikmah kepadanya, dan Allah menyebutkan sebagian hal yang menunjukkan hikmahnya dalam nasihatnya kepada putranya. Allah menyebutkan dasar-dasar hikmah dan kaidah-kaidahnya yang pokok (besar) seraya berfirman,

(13) ﴾ وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ ﴿ "Dan ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya," atau dia mengata-kan perkataan kepadanya yang dengannya dia menasihatinya. Nasihat adalah perintah dan larangan yang disertai dengan targhib dan tarhib. Dia memerintahkan kepadanya untuk ikhlas (bertauhid) dan melarangnya berbuat syirik, dan dia menyebutkan sebabnya seraya berkata, ﴾ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya mempersekutu-kan adalah benar-benar kezhaliman yang besar." Sisi keberadaan syirik sebagai kezhaliman yang sangat besar adalah karena sesungguh-nya tidak ada yang lebih keji dan lebih buruk daripada orang yang menyamakan makhluk yang tercipta dari tanah dengan (Allah) Pemilik segala perkara, menyamakan manusia yang lemah lagi fakir dari segala sisinya dengan Rabb Yang Mahasempurna lagi Mahakaya dari segala sisiNya, dan menyamakan orang yang tidak bisa memberikan karunia sebesar biji sawi pun dengan Tuhan yang tidak ada suatu nikmat yang ada pada manusia dalam urusan agama, dunia, akhirat, hati dan jasad mereka melainkan pasti ber-asal dariNya, dan tidak dapat menghilangkan keburukan kecuali Dia. Apakah ada sesuatu yang lebih besar daripada hal ini? Dan apakah ada yang lebih besar kezhalimannya daripada orang yang diciptakan Allah supaya beribadah kepadaNya dan mengesakan-Nya, lalu ia pergi dengan jiwanya yang mulia itu, kemudian menem-patkannya pada martabat yang paling rendah dan menjadikannya sebagai penyembah sesuatu yang sama sekali tidak menandingi apa-apa. Oleh karena itu, dia benar-benar telah menzhalimi dirinya dengan kezhaliman yang sangat besar.

(14) Setelah Luqman memerintahkan agar menunaikan hakNya dengan cara meninggalkan perbuatan syirik yang di antara konsekuensinya adalah menegakkan tauhid, maka dia memerintah-kan kepada anaknya supaya menunaikan hak kedua orang tua. Allah berfirman, ﴾ وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan Kami perintahkan kepada manusia," Kami wajibkan kepadanya dan Kami menjadikannya sebagai wasiat baginya, yang Kami kelak akan meminta pertang-gungjawabannya, apakah dia memeliharanya ataukah tidak? Maka Kami pesankan kepadanya ﴾ بِوَٰلِدَيۡهِ ﴿ "(berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya," dan Kami katakan kepadaNya, ﴾ ٱشۡكُرۡ لِي ﴿ "Bersyukur-lah kepadaKu" dengan melakukan ibadah kepadaku, menunaikan hak-hakKu dan tidak menggunakan nikmat-nikmatKu untuk men-durhakaiKu, ﴾ وَلِوَٰلِدَيۡكَ ﴿ "dan kepada dua orang ibu bapakmu" dengan berbuat baik kepada mereka dengan perkataan yang lembut, ucapan yang santun, perbuatan baik, bersikap rendah hati kepada mereka, memuliakan dan menghormati mereka, memberi mereka belanja (nafkah) dan menjauhi perbuatan buruk terhadap mereka dari segala sisi dengan perkataan dan perbuatan. Maka Kami wasiatkan dengan pesan ini dan Kami kabarkan kepadanya bahwa ﴾ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "hanya kepadaKu-lah kembalimu." Mak-sudnya, kalian akan kembali, wahai manusia, kepada Tuhan yang telah memberimu wasiat dan membebanimu dengan hak-hak ter-sebut. Dia akan menanyakan kepadamu: Apakah kamu telah me-laksanakannya, lalu Dia akan memberimu balasan yang berlipat ganda, ataukah kamu menyia-nyiakannya, lalu Dia akan menyiksa-mu dengan siksaan yang sangat buruk. Kemudian Allah menjelaskan sebab yang mewajibkan berbuat baik kepada kedua ibu bapak terletak pada ibu, seraya berfirman, ﴾ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ ﴿ "Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah" maksudnya, dalam keadaan sengsara dan makin sengsara, dan dia terus merasakan penderitaan mulai dari sejak (sang bayi) masih berbentuk sperma, seperti rasa mual, sakit, lemah, berat dan berubahnya kondisi, kemudian sakitnya melahir-kan, yaitu rasa sakit yang sangat perih, kemudian ﴾ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ ﴿ "menyapihnya dalam dua tahun," di mana sang anak terus berada dalam asuhan, lindungan dan susuan ibunya. Tidakkah sangat pantas sekali kalau ditekankan kepada anaknya untuk berbuat baik kepada orang yang telah menanggung penderitaan-penderitaan dengan penuh rasa kasih sayang demi dia, dan dipesankan kepada-nya agar benar-benar berbakti kepadanya?

(15) ﴾ وَإِن جَٰهَدَاكَ ﴿ "Dan jika keduanya memaksamu," Maksud-nya, kedua ibu bapakmu bersikeras ﴾ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ ﴿ "untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengeta-huanmu tentang itu, maka janganlah kamu mematuhi keduanya," dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa yang demikian ini terma-suk berbuat baik kepada keduanya; sebab hak Allah harus lebih di-utamakan atas hak semua orang, dan tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam kemaksiatan terhadap sang Khaliq. Di sini Allah tidak mengatakan, "Dan jika keduanya memaksamu untuk memper-sekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka durhakailah mereka berdua," melainkan Allah mengatakan, ﴾ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ ﴿ "maka janganlah kamu mematuhi keduanya," yakni dalam kesyirikan. Adapun berbuat baik kepada keduanya, maka terus lakukanlah. Maka dari itu Allah berfirman sesudahnya,﴾ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ ﴿ "Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik" maksud-nya, dengan pergaulan ihsan kepada mereka dengan cara yang baik. Adapun tentang "mengikuti keduanya", sedangkan kedua-nya dalam kondisi kafir dan maksiat, maka (dalam hal ini) jangan kamu ikuti, ﴾ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ ﴿ "dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu." Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, kepada para malaikatNya, kitab-kitabNya dan para RasulNya, yang berserah diri kepada Rabb (Allah), yang kembali kepadaNya. Mengikuti jalan mereka berarti menempuh jalan mereka dalam ber-inabah kepada Allah, inabah yang merupakan ketertarikan hasrat-hasrat hati dan kemauannya kepada Allah, lalu diikuti oleh usaha dengan badan dalam hal-hal yang diridhai Allah dan mendekatkan kepadaNya. ﴾ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ ﴿ "Kemudian hanya kepadaKu-lah kembalimu," baik yang taat maupun yang durhaka, yang berinabah dan yang tidak, ﴾ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "maka Kuberitakan kepadamu amal yang telah kamu kerjakan," maka tidak ada satu pun dari amal perbuatan me-reka yang tersembunyi dari Allah.

(16) ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٖ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya jika ada satu perbuatan seberat biji sawi" yang merupakan biji yang paling kecil dan paling hina, ﴾ فَتَكُن فِي صَخۡرَةٍ ﴿ "dan berada dalam batu," di tengah-tengahnya, ﴾ أَوۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "atau di langit atau di dalam bumi," maksudnya di dalam salah satu penjurunya, ﴾ يَأۡتِ بِهَا ٱللَّهُۚ ﴿ "niscaya Allah akan membalasnya," karena betapa sangat luasnya pengetahuan Allah, kesempurnaan ilmuNya dan kesempurnaan kekuasaanNya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui," maksudnya, halus dalam ilmu dan pengetahuanNya sehingga Dia mengetahui segala hal yang tersembunyi, rahasia daratan dan lautan. Maksudnya adalah: Himbauan untuk bermuraqabah (mawas diri) kepada Allah dan beramal melakukan ketaatan kepadaNya semampu mungkin, dan peringatan dari melakukan perbuatan yang buruk, sedikit atau banyak.

(17) ﴾ يَٰبُنَيَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Hai anakku, dirikanlah shalat," Luqman mengajak anaknya shalat dan menganjurkannya, karena shalat merupakan ibadah badaniyah yang paling besar,﴾ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ ﴿ "dan suruhlah mengerjakan yang baik dan cegahlah dari perbuatan yang mungkar," hal ini mengharuskan adanya ilmu pengetahuan kepada yang baik untuk memerintahkan padanya, dan pengetahuan kepada yang mungkar agar ia bisa mengingkarinya, dan perintah melakukan hal-hal yang mana amar ma'ruf dan nahi mungkar tidak akan bisa dilakukan secara sempurna kecuali dengannya, seperti sikap lembut dan sabar. Sesungguhnya sabar ini telah ditegaskan dalam FirmanNya, ﴾ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ ﴿ "Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu," dan dari keberadaannya sebagai orang yang mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya, menahan diri dari apa yang dilarang. Maka hal ini mencakup penyempurnaan diri dengan cara mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan dan menyempurnakan orang lain dengannya melalui perintah dan larangannya. Dan ketika sudah dimaklumi bahwa pasti akan men-dapatkan cobaan apabila dia (seseorang) melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar, dan bahwa dalam melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar itu terdapat banyak rintangan bagi jiwa, maka Allah memerintahkan kepadanya untuk bersabar dalam menghadapi semua itu, seraya berkata, ﴾ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu," yang diajarkan dan dinasihatkan oleh Luqman kepada anaknya di atas ﴾ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ﴿ "termasuk hal-hal yang diwajibkan" maksudnya, ter-masuk perkara yang ditekankan dan diperhatikan, dan tidak ada yang dibimbing untuknya kecuali orang-orang yang mempunyai kemauan tinggi.

(18) ﴾ وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ ﴿ "Dan janganlah kamu memalingkan muka dari manusia" maksudnya, jangan kamu memalingkannya dan jangan memasamkan mukamu kepada manusia karena sombong terhadap mereka dan merasa lebih hebat. ﴾ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ ﴿ "Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh," dengan som-bong, berbangga dengan berbagai nikmat, seraya melupakan Sang Maha Pemberi nikmat, dan bangga diri. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong," dalam diri dan sikapnya dan penampilannya, ﴾ فَخُورٖ ﴿ "lagi membanggakan diri" dengan ucapannya.

(19) ﴾ وَٱقۡصِدۡ فِي مَشۡيِكَ ﴿ "Dan sederhanalah kamu dalam berjalan," maksudnya, berjalanlah dengan tawadhu' (merendahkan diri) dan tenang, tidak dengan angkuh dan sombong, dan juga bukan jalan pura-pura mati, ﴾ وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَۚ ﴿ "dan lunakkanlah suaramu," sebagai etika terhadap orang lain dan terhadap Allah. ﴾ إِنَّ أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَٰتِ ﴿ "Se-sungguhnya seburuk-buruk suara," yakni, yang paling keji dan paling norak ﴾ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ ﴿ "ialah suara keledai," kalau seandainya dalam me-ninggikan suara itu ada faidah dan maslahatnya, tentu Allah tidak mencontohkan dengan suara keledai yang telah dimaklumi kekejian dan kedunguannya.

Wasiat-wasiat yang dipesankan oleh Luqman kepada anak-nya ini menghimpun pokok-pokok hikmah dan mengharuskan adanya sesuatu yang belum disebutkan darinya. Setiap wasiat di-sertai dengan faktor-faktor yang mendorong untuk melakukannya jika wasiat itu berbentuk perintah, dan faktor pendorong untuk meninggalkannya jika wasiat itu berbentuk larangan, dan hal ini menunjukkan kepada apa yang telah kami sebutkan tentang tafsir hikmah, yaitu mengetahui hukum-hukum, hikmah-hikmahnya dan korelasi-korelasinya. Oleh karena itu, Allah memerintahkan pokok agama, yaitu tauhid, dan Allah melarangnya dari syirik, dan Allah menjelaskan kepadanya faktor yang mewajibkan meninggalkan syirik. Dan Dia juga memerintahkan berbakti kepada ibu dan bapak lalu Dia jelaskan pula sebab yang mewajibkan untuk berbakti kepada orang tua. Dan Allah memerintahkannya untuk bersyukur kepadaNya dan bersyukur kepada kedua ibu bapaknya, kemudian menggariskan bahwa letak berbuat baik kepada kedua orang tua dan mematuhi perintah mereka itu selagi mereka tidak memerin-tahkan kemaksiatan. Namun demikian, dia tidak boleh durhaka, akan tetapi harus tetap berbuat baik kepada mereka, sekalipun dia tidak boleh taat kepada mereka bila mereka memaksa untuk ber-buat syirik. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan bersikap muraqabah kepada Allah dan takut akan perjumpaan denganNya; dan bahwa Allah sama sekali tidak mengabaikan kebaikan ataupun keburukan se-kecil dan sebesar apa pun, melainkan pasti didatangkanNya; dan Allah melarangnya bersikap sombong dan memerintahkan kepa-danya bersikap tawadhu' (rendah diri) serta melarangnya bersikap angkuh, congkak dan sombong. Dan Dia juga memerintahnya ber-sikap tenang dalam gerak-gerik dan suara, dan Dia melarangnya dari lawan hal tersebut. Dan Allah pun memerintahnya beramar ma'ruf dan nahi mungkar, menegakkan shalat dan sabar, yang dengan keduanya segala persoalan menjadi ringan, seperti difir-mankan Allah, ﴾ وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ ﴿ "Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat." (Al-Baqarah: 45). Maka sangat pantas bagi orang yang mewasitkan wasiat-wasiat di atas, kalau dia diutamakan dengan hikmah dan terkenal dengannya. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan akan karunia-Nya kepadanya (Luqman) dan kepada segenap hamba-hambaNya dengan menceritakan kepada mereka sebagian dari hikmahNya yang dapat dijadikan suri teladan oleh mereka.

31:20–21Page 413

أَلَمۡ تَرَوۡاْ أَنَّ ٱللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَأَسۡبَغَ عَلَيۡكُمۡ نِعَمَهُۥ ظَٰهِرَةٗ وَبَاطِنَةٗۗ وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يُجَٰدِلُ فِي ٱللَّهِ بِغَيۡرِ عِلۡمٖ وَلَا هُدٗى وَلَا كِتَٰبٖ مُّنِيرٖ ٢٠

Do you not see that Allāh has made subject to you whatever is in the heavens and whatever is in the earth and amply bestowed upon you His favors, [both] apparent and unapparent? But of the people is he who disputes about Allāh without knowledge or guidance or an enlightening Book [from Him].

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُواْ بَلۡ نَتَّبِعُ مَا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآۚ أَوَلَوۡ كَانَ ٱلشَّيۡطَٰنُ يَدۡعُوهُمۡ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ ٢١

And when it is said to them, "Follow what Allāh has revealed," they say, "Rather, we will follow that upon which we found our fathers." Even if Satan was inviting them to the punishment of the Blaze?

"Tidakkah kamu perhatikan bahwa Allah telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyem-purnakan untukmu nikmatNya lahir dan batin. Dan di antara ma-nusia ada yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Ikutilah apa yang diturunkan Allah.' Mereka menjawab, '(Tidak), tapi kami hanya mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.' Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun setan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?" (Luqman: 20-21).

(20-21) Allah سبحانه وتعالى menyebut-nyebut kebaikanNya kepada hamba-hambaNya berupa nikmat-nikmatNya dan mengajak me-reka mensyukurinya, melihatnya dan tidak melupakannya, seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ تَرَوۡاْ ﴿ "Tidakkah kamu perhatikan." Maksudnya, Tidak-kah kalian saksikan dan melihat dengan mata kepala dan hati nurani kalian ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ ﴿ "bahwa Allah telah menundukkan untuk-mu apa yang di langit," berupa matahari, bulan dan bintang-bintang, semuanya ditundukkan untuk kepentingan manusia ﴾ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dan apa yang di bumi" berupa bermacam-macam hewan, pepohonan, tanaman, sungai, barang tambang dan lain-lain, sebagaimana yang dikatakan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا ﴿ "Dia-lah yang telah menciptakan untuk kamu apa-apa yang ada di bumi ini semuanya." (Al-Baqarah: 29). ﴾ وَأَسۡبَغَ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Dan menyempurnakan untukmu," maksudnya, meratakan dan melimpahruahkan kepada kalian ﴾ نِعَمَهُۥ ظَٰهِرَةٗ وَبَاطِنَةٗۗ ﴿ "nikmatNya lahir dan batin," yaitu yang kita ketahui dan yang tidak dapat kita ketahui, nikmat dunia dan nikmat agama, tercapainya berbagai kemaslahatan (manfaat) dan tercegahnya berbagai mu-darat. Maka kewajiban kalian adalah mensyukuri nikmat-nikmat tersebut dengan cara mencintai Sang Maha Pemberi nikmat, tunduk patuh kepadaNya dan menggunakannya dalam rangka menaati-Nya, dan tidak menggunakan sedikit pun untuk kemaksiatan ter-hadapNya. ﴾ وَ﴿ "Dan" akan tetapi, sekalipun berlimpahruahnya nikmat t e r s e b u t ﴾ م ِ ن َ ٱلنَّاسِ مَن ﴿ "ada di antara manusia orang," yang tidak mensyukurinya, bahkan malah mengingkarinya dan mengingkari Dzat yang telah mengaruniakan nikmat-nikmat tersebut, dan mengingkari kebenaran yang karenanya Dia menurunkan kitab-kitab suciNya, dan yang karenanya Dia mengutus para RasulNya. Maka dia pun mulai ﴾ يُجَٰدِلُ فِي ٱللَّهِ ﴿ "membantah tentang Allah" maksudnya, ia mendebat tentang kebatilan agar dengannya dia bisa mencampakkan kebenaran, dan agar dapat menolak apa-apa yang dibawa (diajarkan) oleh Rasulullah, yaitu perintah hanya beriba-dah kepada Allah سبحانه وتعالى saja. Dan si pembantah ini tidak mempunyai dasar pengetahuan yang mendalam. Jadi, debat yang dilakukannya tidak berdasarkan ilmu, maka biarkan saja dia begitu dan biarkan dia berbicara, ﴾ وَلَا هُدٗى ﴿ "tanpa petunjuk," yang dapat dijadikan pedoman oleh orang-orang yang mendapat petunjuk, ﴾ وَلَا كِتَٰبٖ مُّنِيرٖ ﴿ "dan tanpa Kitab yang memberi penerangan," maksudnya, yang sangat terang lagi menjelaskan yang benar. Maka tidak ada yang logis, atau nash yang dinukil dan tidak ada keteladanan dengan orang-orang yang mendapat petunjuk. Sesungguhnya debatnya tentang Allah hanya berdasarkan taklid buta kepada nenek moyang yang tidak pernah mendapat petunjuk, bahkan orang-orang sesat yang menyesatkan. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Ikutilah apa yang diturunkan Allah'," melalui para RasulNya, karena sesungguhnya itu yang benar, dan (ketika) dijelaskan kepada mereka dalil-dalilnya yang nampak, ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka menjawab," dengan nada menentangnya, ﴾ بَلۡ نَتَّبِعُ مَا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآۚ ﴿ "Tidak, tapi kami hanya mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya," maka kami tidak akan meninggalkan apa yang telah menjadi panutan bapak-bapak kami hanya karena perkataan seseorang, siapa pun dia. Lalu Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya membantah mereka dan bapak-bapak mereka, ﴾ أَوَلَوۡ كَانَ ٱلشَّيۡطَٰنُ يَدۡعُوهُمۡ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ ﴿ "Dan apakah walau-pun setan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala?" Yakni, lalu bapak-bapak mereka memenuhi seruannya dan berjalan mengekor kepadanya, dan mereka menjadi murid-murid setan, dan mereka pun diselimuti oleh kebimbangan. Apakah yang demikian ini berhak untuk diikuti dan ditelusuri jejak mereka? Ataukah yang demikian itu membuat mereka takut untuk menelusuri jalan mereka dan diserukan akan kesesatan mereka dan kesesatan orang-orang yang mengikutinya? Padahal seruan setan kepada bapak-bapak mereka dan kepada mereka bukan karena kecintaan dan kasih sayang setan kepada mereka, akan tetapi sesungguhnya hal itu adalah karena kebencian setan dan tipu muslihatnya terhadap mereka. Sebenarnya para pengikutnya adalah berasal dari musuh-musuhnya yang telah mampu dia taklukkan dan dia kalahkan, dan dia (setan) sangat senang karena mereka berhak mendapat azab api yang menyala-nyala disebabkan seruannya diterima.

Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences

Contents

Ayat al-Kursi36Al-Kahfpage 42juz 15Bukhari 1Muslim 2999

Style

Theme
Text size
Layout

Читать на русском