As-Sa'diLuqman · 31:22–34

As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian

Luqman 31:22–34

31:22–24Page 413

۞ وَمَن يُسۡلِمۡ وَجۡهَهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٞ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰۗ وَإِلَى ٱللَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلۡأُمُورِ ٢٢

And whoever submits his face [i.e., self] to Allāh while he is a doer of good - then he has grasped the most trustworthy handhold. And to Allāh will be the outcome of [all] matters.

وَمَن كَفَرَ فَلَا يَحۡزُنكَ كُفۡرُهُۥٓۚ إِلَيۡنَا مَرۡجِعُهُمۡ فَنُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ٢٣

And whoever has disbelieved - let not his disbelief grieve you. To Us is their return, and We will inform them of what they did. Indeed, Allāh is Knowing of that within the breasts.

نُمَتِّعُهُمۡ قَلِيلٗا ثُمَّ نَضۡطَرُّهُمۡ إِلَىٰ عَذَابٍ غَلِيظٖ ٢٤

We grant them enjoyment for a little; then We will force them to a massive punishment.

"Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. Dan barangsiapa yang kafir maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. Hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka amal yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Me-ngetahui segala isi hati. Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras." (Luqman: 22-24).

(22) ﴾ وَمَن يُسۡلِمۡ وَجۡهَهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah," maksudnya, tunduk dan patuh kepadaNya dengan mengerjakan syariat-syariat(Nya) dengan menuluskan agama (hanya) kepadaNya ﴾ وَهُوَ مُحۡسِنٞ ﴿ "sedang dia orang yang berbuat kebaikan," di dalam Islam tersebut. Yaitu keberadaan amal yang di-kerjakannya adalah yang masyru' (dibenarkan agama) dan dengan mengikuti Rasulullah a; atau barangsiapa yang menyerahkan diri-nya kepada Allah dengan melakukan semua ibadah, sedangkan dia bersikap ihsan di dalamnya, yaitu dengan beribadah kepada Allah seolah-olah dia melihatNya, dan jika dia tidak melihatNya, maka Dia melihatnya. Atau barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah dengan cara melaksanakan hak-hakNya, sedangkan dia berbuat baik kepada hamba-hamba Allah dan melaksanakan hak-hak mereka. Makna-makna tersebut senada, tidak ada perbe-daan di antara semua itu kecuali dari sudut perbedaan sumber dua lafazh tersebut. Dan jika tidak demikian, maka semuanya sepakat atas (maksud) menunaikan seluruh syariat-syariat agama dengan semampu mungkin untuk diterima dan sesempurna mungkin. Maka siapa saja yang telah melakukan hal itu,﴾ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰۗ ﴿ "maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh," maksudnya, kepada buhul ikatan yang siapa saja berpegang teguh kepadanya, niscaya akan menjadi kuat, selamat dan bebas dari kebinasaan, serta meraih segala kebaikan. Dan siapa saja yang tidak menyerahkan dirinya kepada Allah, atau tidak bersikap ihsan, maka berarti dia tidak berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan apabila dia tidak berpegang kepada buhul tali yang kokoh, maka tidak ada jalan lain (baginya) selain kebinasaan dan kecelakaan. ﴾ وَإِلَى ٱللَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلۡأُمُورِ ﴿ "Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan," maksudnya, tempat kembalinya dan tempat berakhirnya (segala urusan). Lalu Dia memberikan keputusan terhadap hamba-hambaNya dan memberikan balasan kepada mereka sesuai dengan amal perbuatan mereka, dan sesuai dengan akhir kesudahan mere-ka yang sampai kepadaNya. Maka hendaklah mereka bersiap-siap untuk menghadapi urusan ini.

(23) ﴾ وَمَن كَفَرَ فَلَا يَحۡزُنكَ كُفۡرُهُۥٓۚ ﴿ "Dan barangsiapa yang kafir, maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu," sebab kamu telah melak-sanakan kewajibanmu untuk berdakwah dan menyampaikan. Maka apabila dia tidak juga berpegang kepada petunjuk, maka sungguh pahala untukmu sudah pasti dari Allah, dan sudah tidak ada lagi tempat untuk bersedih atas sikapnya yang tidak mau menerima hidayah, karena seandainya pada orang itu ada kebaikannya, tentu Allah telah memberinya petunjuk. Dan jangan pula kamu bersedih atas kelancangan mereka memusuhimu dan melawanmu dengan perang dan terus pada kesesatan dan kekafiran mereka, dan jangan pula kamu merasa gelisah atas mereka karena mereka belum segera ditimpa azab, sesungguhnya ﴾ إِلَيۡنَا مَرۡجِعُهُمۡ فَنُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوٓاْۚ ﴿ "hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka amal yang telah mereka kerjakan," yaitu berupa tindakan mereka kufur, memu-suhi dan upaya mereka untuk memadamkan cahaya Allah dan menyakiti para RasulNya, sesungguhnya Dia ﴾ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ﴿ "Maha Mengetahui segala isi hati," yang tidak diperbincangkan oleh manusia, lalu bagaimana dengan apa-apa yang tampak dan telah menjadi nyata? (Tentu Allah lebih mengetahuinya).

(24) ﴾ نُمَتِّعُهُمۡ قَلِيلٗا ﴿ "Kami biarkan mereka bersenang-senang se-bentar," di dunia ini agar dosa-dosa mereka bertambah dan sik-saannya berlipat-lipat, ﴾ ثُمَّ نَضۡطَرُّهُمۡ ﴿ "kemudian Kami paksa mereka," maksudnya, Kami pulangkan mereka, ﴾ إِلَىٰ عَذَابٍ غَلِيظٖ ﴿ "ke dalam siksa yang keras," maksudnya, yang memuncak kekerasan, keburukan, kepedihan, dan kedahsyatannya.

31:25–28Page 413

وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُۚ قُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِۚ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ٢٥

And if you asked them, "Who created the heavens and earth?" they would surely say, "Allāh." Say, "[All] praise is [due] to Allāh"; but most of them do not know.

لِلَّهِ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ٱلۡحَمِيدُ ٢٦

To Allāh belongs whatever is in the heavens and earth. Indeed, Allāh is the Free of need, the Praiseworthy.

وَلَوۡ أَنَّمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ مِن شَجَرَةٍ أَقۡلَٰمٞ وَٱلۡبَحۡرُ يَمُدُّهُۥ مِنۢ بَعۡدِهِۦ سَبۡعَةُ أَبۡحُرٖ مَّا نَفِدَتۡ كَلِمَٰتُ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ٢٧

And if whatever trees upon the earth were pens and the sea [was ink], replenished thereafter by seven [more] seas, the words1 of Allāh would not be exhausted. Indeed, Allāh is Exalted in Might and Wise.

مَّا خَلۡقُكُمۡ وَلَا بَعۡثُكُمۡ إِلَّا كَنَفۡسٖ وَٰحِدَةٍۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ بَصِيرٌ ٢٨

Your creation and your resurrection will not be but as that of a single soul.1 Indeed, Allāh is Hearing and Seeing.

"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' Tentu mereka akan menjawab, 'Allah.' Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah,' tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi. Sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan ke-padanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan ha-nyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Luq-man: 25-27).

(25) Maksudnya, ﴾ وَلَئِن سَأَلۡتَهُم ﴿ "Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka," yaitu kamu bertanya kepada kaum musy-rikin yang mendustakan kebenaran, ﴾ مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ ﴿ "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi," tentu mereka mengetahui bahwa berhala-berhala mereka sama sekali tidak menciptakan hal itu, dan tentu mereka segera mengatakan, ﴾ ٱللَّهُۚ ﴿ "Allah" semata yang menciptakan keduanya. Maka ﴾ قُلۡ ﴿ "katakanlah" kepada mereka dengan nada mematahkan hujjah atas mereka dengan argumen yang mereka akui atas apa yang mereka ingkari, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِۚ ﴿ "Segala puji bagi Allah," yang telah menjelaskan nur (cahaya) dan menam-pakkan dalil terhadap kalian dari kalian sendiri. Maka kalau mereka mengetahui, tentu mereka memastikan bahwa yang Esa (dengan penciptaan dan pengaturan alam semesta ini), Dia-lah yang diesa-kan dengan ibadah dan tauhid. Akan tetapi ﴾ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "keba-nyakan mereka tidak mengetahui," maka dari itu mereka memperseku-tukanNya dengan yang lain, dan mereka rela dengan kontradiksi keyakinan yang mereka anut dengan kebimbangan dan keraguan, bukan dengan dasar ilmu pengetahuan yang mendalam.

(26) Kemudian Allah menyebutkan di dalam dua ayat be-rikut ini satu contoh dari kemahaluasan sifat-sifatNya, untuk me-nyeru hamba-hambaNya agar mengenalNya, mencintaiNya dan memurnikan kepatuhan hanya kepadaNya. Di sini Dia menying-gung universalitas kerajaanNya, dan bahwa semua yang ada di langit dan bumi (yang semua ini meliputi seluruh alam atas dan alam bawah) adalah milikNya, Dia berbuat terhadap mereka ber-dasarkan hukum-hukum (aturan-aturan) kerajaanNya yang bersifat taqdiri (ketetapan) dan hukum-hukumNya yang bersifat perintah serta hukum-hukumnya yang bersifat balasan. Jadi semua mereka adalah hamba dan budak yang dikendalikan dan ditundukkan, mereka sama sekali tidak memiliki kepemilikan (kerajaan) apa pun, dan bahwa Dia Mahaluas kekayaanNya, maka Dia sama sekali tidak membutuhkan kepada apa-apa yang dibutuhkan seseorang dari makhlukNya, ﴾ مَآ أُرِيدُ مِنۡهُم مِّن رِّزۡقٖ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونِ 57 ﴿ "Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan." (Adz-Dzariyat: 57). Dan sesungguhnya amal perbuatan para nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-orang yang shalih, sama sekali tidak mendatangkan kemanfaatan bagi Allah. Sesungguhnya ia hanya berguna bagi para pelakunya, sedangkan Allah Mahakaya dari me-reka dan dari amal perbuatan mereka. Dan di antara kekayaanNya adalah, Allah menjadikan mereka kaya dan berkecukupan di dunia dan akhirat mereka. Kemudian Allah memberitakan tentang betapa luasnya keter-pujianNya, dan bahwa keterpujianNya merupakan keharusan DzatNya. Maka tidaklah Dia melainkan Maha Terpuji dari segala sisi, Dia Maha Terpuji pada DzatNya dan Maha Terpuji dalam sifat-sifatNya. Setiap sifat dari sifat-sifatNya berhak mendapatkan pujian yang tersempurna dan paling paripurna, sebab ia merupa-kan sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan; dan seluruh yang di-lakukanNya dan apa yang diciptakanNya pasti terpuji; dan semua yang diperintahkan dan yang dilarangNya, pasti terpuji; dan seluruh yang Dia putuskan terhadap hamba-hambaNya dan (keputusan) di antara hamba-hambaNya di dunia dan akhirat pasti terpuji.

(27) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang keluasan kalamNya dan keagungan FirmanNya dengan uraian yang me-nyentuh hati sedalam-dalamnya, akal pikiran menjadi tercengang kepadanya, jiwa menjadi terperangah padanya, dan orang-orang yang berakal dan berpengetahuan mendalam berpetualang dalam mengenalNya; seraya berfirman, ﴾ وَلَوۡ أَنَّمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ مِن شَجَرَةٍ أَقۡلَٰمٞ ﴿ "Dan se-andainya pohon-pohon di bumi menjadi pena"untuk menulisnya ﴾ وَٱلۡبَحۡرُ يَمُدُّهُۥ مِنۢ بَعۡدِهِۦ سَبۡعَةُ أَبۡحُرٖ ﴿ "dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut lagi sesudah (kering)nya," sebagai tinta untuk tambahannya, niscaya pena-pena itu akan remuk dan tinta itu akan habis, sedang-kan ﴾ كَلِمَٰتُ ٱللَّهِۚ ﴿ "kalimat Allah" tidak akan ada habis-habisnya. Ini bukan ungkapan berlebihan yang tidak mempunyai ke-nyataan, akan tetapi ketika Allah سبحانه وتعالى mengetahui bahwasanya akal manusia tidak akan mampu mengetahui sebagian sifat-sifatNya dan Dia mengetahui bahwa mengenalNya bagi hamba-hambaNya adalah merupakan nikmat yang paling utama yang dikaruniakan-Nya kepada mereka, dan merupakan tingkat yang paling mulia yang mereka raih, sementara pengetahuannya itu tidak mencakup keseluruhannya, akan tetapi apa yang tidak bisa dicapai keselu-ruhannya maka tidak patut ditinggalkan semuanya, maka Allah سبحانه وتعالى mengingatkan mereka dengan sebagiannya sebagai suatu peringat-an yang mana hati mereka dapat menjadi terang dan dada mereka menjadi lapang, dan mereka berdalil (berargumen) dengan apa yang telah mereka capai kepada apa yang belum mereka capai dan mengatakan seperti apa yang telah dikatakan oleh orang yang paling utama dan lebih mengetahui Rabbnya dari mereka, لَا نُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ. "Kami tidak akan mampu menghitung pujian untukMu, Engkau sebagaimana yang Engkau pujikan pada diriMu."[50] Dan bila tidak demikian, maka sesungguhnya permasalahan-nya lebih besar dan lebih agung dari itu. Perumpamaan tersebut termasuk dalam kategori upaya untuk mendekatkan makna yang tidak bisa dijangkau oleh pemahaman dan pemikiran. Dan bila tidak demikian, maka pohon-pohon itu sendiri, sekalipun berlipat-lipat ganda melebihi apa yang disebut-kan, dan lautan, sekalipun ditambah beberapa kali lipat lagi maka tetap bisa saja ia habis dan kering, sebab ia (pepohonan dan lautan itu) adalah makhluk. Sedangkan kalamullah سبحانه وتعالى tidak mungkin bisa habis, bahkan dalil syar'i dan aqli menunjukkan kepada kita bahwa ia tidak akan pernah habis dan tidak pernah ada ujungnya. Jadi, se-gala sesuatu itu akan habis (sirna) kecuali Allah dan sifat-sifatNya, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ 42 ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu)." (An-Najm: 42). Dan apabila akal pikiran membayangkan hakikat ke-awal-an dan ke-akhir-an Allah سبحانه وتعالى, dan bahwa segala apa yang dipastikan oleh akal pikiran berupa masa-masa silam, sekalipun anggapan dan perkiraan itu bermata rantai (berkesinambungan), maka Allah سبحانه وتعالى sudah ada sebelum itu semua, tanpa batas. Dan sesungguhnya, bagaimana pun akal memastikan dan menghitung masa-masa yang akan datang, dan perhitungan serta perkiraan itu bermata rantai dan ia dibantu oleh siapa pun untuk menghitungnya dengan hati dan lisannya, maka Allah سبحانه وتعالى ada sesudah itu semua, tanpa batas dan tanpa ujung. Allah سبحانه وتعالى dalam setiap dan sepanjang waktu memu-tuskan, berbicara, berfirman dan berbuat sebagaimana yang telah Dia kehendaki. Dan apabila Dia telah berkehendak, maka tidak ada apa pun yang bisa menghalangi Firman-firman dan perbuatan-perbuatanNya. Apabila akal sudah bisa membayangkan hal itu, niscaya ia mengetahui bahwa perumpamaan yang disampaikan oleh Allah bagi kalamNya adalah agar hamba-hambaNya menge-tahui sebagian darinya. Apabila tidak demikian, maka sebenarnya permasalahan ini jauh lebih agung dan lebih besar lagi. Kemudian Dia menjelaskan kebesaran, keperkasaanNya dan kesempurnaan hikmahNya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Se-sungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana," maksudnya, hanya milikNya-lah keperkasaan seluruhnya, yang mana tidak ada ke-kuatan di alam atas dan bawah melainkan berasal dariNya; Dia-lah yang memberikannya kepada manusia. Maka tidak ada daya dan tidak pula ada kekuatan melainkan dengan (pertolongan)Nya; dan dengan keperkasaanNya, Dia mengendalikan makhluk ini semua-nya, Dia berbuat dan mengatur mereka, dan dengan hikmahNya, Dia menciptakan makhluk ini semuanya, dan Dia memulainya dengan hikmah dan menjadikan tujuan dan maksudnya adalah hikmah. Demikian pula perintah dan larangan diadakan dengan hikmah, serta tujuan dan maksudnya pun adalah hikmah. Maka Dia-lah Yang Mahabijaksana di dalam ciptaan dan perintahNya.

(28) Kemudian Dia menjelaskan keagungan dan kesempur-naan kekuasaanNya, dan bahwa ia tidak bisa dibayangkan oleh akal pikiran, seraya berfirman, ﴾ مَّا خَلۡقُكُمۡ وَلَا بَعۡثُكُمۡ إِلَّا كَنَفۡسٖ وَٰحِدَةٍۚ ﴿ "Ti-daklah Allah menciptakan dan membangkitkanmu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti menciptakan dan membangkitkan satu jiwa saja," ini adalah sesuatu yang membingungkan akal, di mana bahwa penciptaan seluruh manusia yang begitu banyak dan pembang-kitan kembali mereka sesudah mati setelah mereka tercerai berai hanya dalam sekejap saja, sebagaimana Dia menciptakan satu jiwa. Maka tidak ada jalan untuk memungkiri kebangkitan, kehidupan kembali dan pembalasan terhadap amal perbuatan, kecuali karena kebodohan akan keagungan Allah dan kehebatan kekuasaanNya. Kemudian Dia menjelaskan keumuman (keuniversalan) pende-ngaranNya terhadap segala sesuatu yang bisa didengar, dan peng-lihatannya terhadap segala sesuatu yang bisa dilihat, seraya ber-firman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ بَصِيرٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

31:29–30Page 414

أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُولِجُ ٱلَّيۡلَ فِي ٱلنَّهَارِ وَيُولِجُ ٱلنَّهَارَ فِي ٱلَّيۡلِ وَسَخَّرَ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَۖ كُلّٞ يَجۡرِيٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى وَأَنَّ ٱللَّهَ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ٢٩

Do you not see [i.e., know] that Allāh causes the night to enter the day and causes the day to enter the night and has subjected the sun and the moon, each running [its course] for a specified term, and that Allāh, of whatever you do, is Aware?

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِ ٱلۡبَٰطِلُ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡكَبِيرُ ٣٠

That is because Allāh is the True Reality, and that what they call upon1 other than Him is falsehood, and because Allāh is the Most High, the Grand.

"Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan bahwa Allah Maha Mengetahui terhadap amal yang kamu kerja-kan. Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang haq dan bahwasanya apa saja yang mereka seru selain dariNya itulah yang batil; dan bahwa Allah Dia-lah Yang Mahatinggi lagi Maha-besar." (Luqman: 29-30).

(29) Ini juga, di dalamnya terdapat (penjelasan tentang) keesaanNya dalam berbuat dan mengatur, serta keluasan wewe-nangNya dalam berbuat memasukkan malam kepada siang dan memasukkan siang kepada malam. Apabila salah satunya masuk, maka yang satu lagi hilang. Dan Dia menundukkan matahari dan bulan di mana keduanya berotasi (berjalan) dengan suatu aturan yang tidak pernah rusak semenjak penciptaan keduanya; untuk membangun berbagai kemaslahatan dan manfaat bagi manusia dalam urusan agama dan dunia mereka yang dengannya mereka dapat mengambil pelajaran dan mengambil manfaat. Dan ﴾ كُلّٞ ﴿ "masing-masing" dari keduanya ﴾ يَجۡرِيٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى ﴿ "berjalan sampai ke-pada waktu yang telah ditentukan," apabila waktu yang telah ditentu-kan itu tiba, maka berhentilah perjalanannya dan hilanglah ke-kuatan keduanya. Dan hal ini (terjadi) pada Hari Kiamat pada saat matahari digulung, bulan ditenggelamkan dan negeri dunia ber-akhir serta dimulainya negeri akhirat. ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ بِمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan bahwa Allah terhadap amal yang kamu kerjakan" yang baik ataupun yang buruk, ﴾ خَبِيرٞ ﴿ "Maha Mengetahui," tidak ada sesuatu pun yang ter-sembunyi dariNya, dan Dia akan memberikan pembalasan kepada kalian atas amal perbuatan kalian berupa pahala bagi orang-orang yang taat dan siksa bagi orang-orang yang durhaka.

(30) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah," yang Dia jelaskan kepada kalian dari keagunganNya dan sifat-sifatNya itu adalah, ﴾ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang haq," pada Dzat dan sifat-sifatNya; dan agamaNya pun haq, para RasulNya haq, janjiNya haq, ancamanNya haq dan beribadah kepadaNya haq.﴾ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِ ٱلۡبَٰطِلُ ﴿ "Dan bahwasanya apa saja yang mereka seru selain dariNya itulah yang batil," pada dzat dan sifat-sifatnya. Kalau saja bukan penciptaan Allah padanya, tentu ia tidak akan pernah ada, dan kalau saja bukan karena karuniaNya, tentu tidak akan ada yang tersisa darinya. Maka kalau ia batil (palsu) maka menyembahnya pun tentu lebil batil dan lebih batil lagi. ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡعَلِيُّ ﴿ "Dan bahwa Allah Dia-lah Yang Mahatinggi," dengan DzatNya di atas seluruh makhlukNya, yang Mahatinggi sifat-sifatNya (Maha tidak mung-kin) kalau dianalogikan dengan sifat-sifat siapa pun di antara makh-lukNya, dan Dia Tinggi (menguasai) manusia dan mengendalikan mereka, ﴾ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "lagi Mahabesar," yang milikNya-lah kebesaran pada DzatNya dan sifat-sifatNya, dan milikNya-lah kebesaran di dalam jiwa penghuni langit dan bumi.

31:31–32Page 414

أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱلۡفُلۡكَ تَجۡرِي فِي ٱلۡبَحۡرِ بِنِعۡمَتِ ٱللَّهِ لِيُرِيَكُم مِّنۡ ءَايَٰتِهِۦٓۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّكُلِّ صَبَّارٖ شَكُورٖ ٣١

Do you not see that ships sail through the sea by the favor of Allāh that He may show you of His signs? Indeed in that are signs for everyone patient and grateful.

وَإِذَا غَشِيَهُم مَّوۡجٞ كَٱلظُّلَلِ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ فَمِنۡهُم مُّقۡتَصِدٞۚ وَمَا يَجۡحَدُ بِـَٔايَٰتِنَآ إِلَّا كُلُّ خَتَّارٖ كَفُورٖ ٣٢

And when waves come over them like canopies, they supplicate Allāh, sincere to Him in religion [i.e., faith]. But when He delivers them to the land, there are [some] of them who are moderate [in faith]. And none rejects Our signs except everyone treacherous and ungrateful.

"Tidakkah kamu memperhatikan bahwa kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkanNya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. Dan apabila me-reka digulung ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya, lalu tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, maka sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang menging-kari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang tidak setia lagi ingkar." (Luqman: 31-32).

(31) Maksudnya, tidakkah kamu melihat sebagian dari tanda-tanda kekuasaanNya, rahmatNya dan perhatianNya kepada hamba-hambaNya, yaitu menundukkan lautan, di mana kapal da-pat berlayar dengan perintahNya yang bersifat taqdiri (ketetapan) dan kehalusan dan kebaikanNya, ﴾ لِيُرِيَكُم مِّنۡ ءَايَٰتِهِۦٓۚ ﴿ "supaya diperlihat-kanNya kepadamu sebagian dari tanda-tandaNya," karena di dalamnya terdapat manfaat dan pelajaran. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّكُلِّ صَبَّارٖ شَكُورٖ ﴿ "Sesung-guhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur," merekalah yang memanfaatkan ayat-ayat tersebut, ﴾ صَبَّارٖ ﴿ "yang sangat sabar," atas segala kesempitan, ﴾ شَكُورٖ ﴿ "lagi banyak bersyukur" atas segala kela-pangan. Penyabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan terhadap maksiat serta terhadap takdir-takdirNya, lagi penuh syukur kepada Allah atas segala nikmatNya yang bersifat duniawi dan yang ukhrawi.

(32) Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kondisi manusia pada saat mereka mengarungi lautan dan berkecamuknya ombak seperti gunung berada di atas mereka, yaitu mereka menuluskan doa dan ibadah hanya kepada Allah, ﴾ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ ﴿ "lalu tatkala Allah menyelamat-kan mereka sampai di daratan" mereka terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok muqtashidah. Maksudnya, tidak bersyukur kepada Allah dengan sempurna, malah mereka adalah orang-orang yang melakukan dosa dan zhalim terhadap diri mereka sendiri; dan satu kelompok lagi kafir terhadap nikmat Allah dan mengingkarinya. Maka dari itu, Dia berfirman, ﴾ وَمَا يَجۡحَدُ بِـَٔايَٰتِنَآ إِلَّا كُلُّ خَتَّارٖ ﴿ "Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang mengkhianati," yaitu para pengkhianat. Di antara pengkhianatan-nya adalah bahwa sebelumnya dia telah berjanji kepada Allah, jika Engkau menyelamatkan kami dari lautan dan kesengsaraannya, maka kami akan menjadi orang-orang yang bersyukur. Namun dia merusak janjinya dan dia tidak memenuhinya, ﴾ كَفُورٖ ﴿ "lagi ingkar" terhadap nikmat-nikmat Allah. Tidaklah pantas bagi orang yang telah diselamatkan oleh Allah dari kesengsaraan (kesempitan) itu melainkan tindakan penuh bersyukur atas nikmat-nikmatNya.

Allah سبحانه وتعالى memerintahkan kepada manusia agar bertakwa kepadaNya, takwa yang berarti mematuhi perintah-perintahNya dan meninggalkan larangan-laranganNya, dan menarik perhatian mereka untuk takut kepada Hari Kiamat, yaitu hari yang sangat dahsyat yang pada saat itu setiap orang hanya sibuk dengan diri-nya sendiri, dan ﴾ لَّا يَجۡزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِۦ وَلَا مَوۡلُودٌ ﴿ "seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat pula menolong," bapak-nya sedikit pun; tidak bisa menambah kebaikan-kebaikannya dan tidak pula bisa mengurangi dosa-dosanya, karena sesungguhnya setiap orang sudah selesai amalnya dan sudah pasti balasannya. Jadi, memalingkan pandangan kepada hari yang sangat mengeri-kan ini termasuk hal yang dapat menguatkan sang hamba dan me-mudahkan baginya untuk bertakwa kepada Allah. Ini merupakan bentuk rahmat Allah kepada hamba-hambaNya; Dia memerintah mereka agar bertakwa kepadaNya yang di dalamnya terdapat kebahagiaan mereka, dan menjanjikan pahala kepada mereka atas ketakwaannya, dan Dia mengingatkan mereka dari siksaanNya, membuat mereka takut kepadaNya dengan nasihat-nasihat dan hal-hal yang menakutkan. Maka segala puji bagiMu, wahai Rabb semesta alam. ﴾ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞۖ ﴿ "Sesungguhnya janji Allah adalah benar," maka janganlah kalian meragukannya, dan janganlah kalian mengerjakan pekerjaan orang yang tidak membenarkan (janji). Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu" karena keindahan, kemerge-lapan dan segala apa yang terdapat di dalamnya berupa fitnah dan cobaan. ﴾ وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ ﴿ "Dan jangan pula penipu (setan) memper-dayakan kamu dalam (menaati) Allah," yaitu setan yang selalu menipu manusia dan tidak pernah melalaikannya sepanjang waktu. Yang demikian itu, karena Allah سبحانه وتعالى memiliki hak atas hamba-hambaNya, dan Dia pun sudah menjanjikan kepada mereka suatu janji yang mana Dia akan memberikan balasan kepada mereka sesuai dengan amal-amal perbuatan mereka, dan apakah mereka telah menunai-kan hakNya atau mengabaikannya? Ini adalah satu perkara yang wajib diperhatikan dan hendaklah dijadikan oleh seorang hamba sebagai pusat perhatiannya dan modal perniagaan yang diusaha-kannya. Dan di antara rintangan dan hambatan yang menghalangi-nya adalah dunia yang sangat menggiurkan dan setan yang selalu menggoda lagi berbisik. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى melarang hamba-hambaNya untuk tidak diperdaya oleh dunia atau ditipu oleh setan, ﴾ يَعِدُهُمۡ وَيُمَنِّيهِمۡۖ وَمَا يَعِدُهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ إِلَّا غُرُورًا 120 ﴿ "Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkit-kan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka kecuali tipuan belaka." (An-Nisa`: 120).

31:33Page 414

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمۡ وَٱخۡشَوۡاْ يَوۡمٗا لَّا يَجۡزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِۦ وَلَا مَوۡلُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِۦ شَيۡـًٔاۚ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ ٣٣

O mankind, fear your Lord and fear a Day when no father will avail his son, nor will a son avail his father at all. Indeed, the promise of Allāh is truth, so let not the worldly life delude you and be not deceived about Allāh by the Deceiver [i.e., Satan].

"Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat meno-long anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong ba-paknya sedikit pun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan pula penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah." (Luqman: 33).

31:34Page 414

إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡأَرۡحَامِۖ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسٞ مَّاذَا تَكۡسِبُ غَدٗاۖ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسُۢ بِأَيِّ أَرۡضٖ تَمُوتُۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرُۢ ٣٤

Indeed, Allāh [alone] has knowledge of the Hour and sends down the rain and knows what is in the wombs.1 And no soul perceives what it will earn tomorrow, and no soul perceives in what land it will die. Indeed, Allāh is Knowing and Aware.

"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisiNya sajalah pengeta-huan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakan-nya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Luqman: 34).

(34) Sudah pasti bahwa sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى, ilmu penge-tahuanNya meliputi apa-apa yang ghaib dan yang nampak, hal-hal yang lahir dan yang batin; dan kadang Allah سبحانه وتعالى memperlihatkan kepada hamba-hambaNya beberapa perkara-perkara ghaib. Se-dangkan perkara yang lima macam ini termasuk perkara-perkara yang ilmunya tersembunyi dari seluruh manusia. Ia tidak diketahui oleh seorang pun nabi yang diutus sebagai rasul dan tidak pula oleh seorang malaikat muqarrab (yang didekatkan), apalagi oleh yang lainnya. Maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ ﴿ "Sesungguhnya Allah, hanya pada sisiNya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat." Mak-sudnya, Dia mengetahui kapan terjadinya, sebagaimana yang di-firmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرۡسَىٰهَاۖ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ رَبِّيۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقۡتِهَآ إِلَّا هُوَۚ ثَقُلَتۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ لَا تَأۡتِيكُمۡ إِلَّا بَغۡتَةٗۗ ﴿ "Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat, 'Bilakah terjadi-nya.' Katakanlah, 'Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Rabbku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu keda-tangannya kecuali Dia.' Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makh-luk) yang di langit dan bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba." (Al-A'raf: 187). ﴾ وَيُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ ﴿ "Dan Dia-lah Yang menurunkan hujan," maksud-nya, hanya Dia semata yang bisa menurunkannya dan mengetahui waktu turunnya, ﴾ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡأَرۡحَامِۖ ﴿ "dan mengetahui apa yang ada dalam rahim." Dia-lah yang menciptakan apa yang ada di dalam rahim, dan Dia mengetahui hakikatnya, apakah dia laki-laki ataukah pe-rempuan? Maka dari itu malaikat yang bertugas mengurusi rahim ber-tanya kepada Allah, هَلْ هُوَ ذَكَرٌ أَمْ أُنْثَى؟ فَيَقْضِي اللّٰهُ مَا يَشَاءُ. "'Apakah janin ini laki-laki atau perempuan?' Lalu Allah memutus-kan apa yang dikehendakiNya."[51] ﴾ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسٞ مَّاذَا تَكۡسِبُ غَدٗاۖ ﴿ "Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan diusahakannya besok," dari usaha dalam urusan agamanya dan urusan dunianya, ﴾ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسُۢ بِأَيِّ أَرۡضٖ تَمُوتُۚ ﴿ "dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati." Tetapi hanya Allah sajalah yang mengetahui semua itu. Setelah Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan hal-hal tersebut (bagi diriNya), maka Dia menyatakan bahwa keluasan ilmuNya meliputi segala sesuatu, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Menge-tahui lagi Maha Mengenal." Dia meliputi segala sesuatu yang lahir, yang batin, yang tersembunyi, yang tersimpan, dan yang rahasia. Dan di antara hikmahNya yang sempurna adalah Dia merahasiakan lima perkara tersebut dari hamba-hambaNya, karena di dalamnya terkandung banyak maslahat yang sudah pasti tidak bisa diragukan lagi bagi siapa saja yang merenungkannya.

Selesailah tafsir Surat Luqman dengan berkat karunia dan pertolongan dari Allah, dan segala puji hanya bagi Allah.

Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences

Contents

Ayat al-Kursi36Al-Kahfpage 42juz 15Bukhari 1Muslim 2999

Style

Theme
Text size
Layout

Читать на русском