As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian
Hud 11:84–109
11:84–95Page 231
۞ وَإِلَىٰ مَدۡيَنَ أَخَاهُمۡ شُعَيۡبٗاۚ قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ وَلَا تَنقُصُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَۖ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ وَإِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٖ مُّحِيطٖ ٨٤
And to Madyan [We sent] their brother Shuʿayb. He said, "O my people, worship Allāh; you have no deity other than Him. And do not decrease from the measure and the scale. Indeed, I see you in prosperity, but indeed, I fear for you the punishment of an all-encompassing Day.
وَيَٰقَوۡمِ أَوۡفُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَ بِٱلۡقِسۡطِۖ وَلَا تَبۡخَسُواْ ٱلنَّاسَ أَشۡيَآءَهُمۡ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ ٨٥
And O my people, give full measure and weight in justice and do not deprive the people of their due and do not commit abuse on the earth, spreading corruption.
بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَۚ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ٨٦
What remains [lawful] from Allāh is best for you, if you would be believers. But I am not a guardian over you."
قَالُواْ يَٰشُعَيۡبُ أَصَلَوٰتُكَ تَأۡمُرُكَ أَن نَّتۡرُكَ مَا يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَآ أَوۡ أَن نَّفۡعَلَ فِيٓ أَمۡوَٰلِنَا مَا نَشَٰٓؤُاْۖ إِنَّكَ لَأَنتَ ٱلۡحَلِيمُ ٱلرَّشِيدُ ٨٧
They said, "O Shuʿayb, does your prayer [i.e., religion] command you that we should leave what our fathers worship or not do with our wealth what we please? Indeed, you are the forbearing, the discerning!"1
قَالَ يَٰقَوۡمِ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٖ مِّن رَّبِّي وَرَزَقَنِي مِنۡهُ رِزۡقًا حَسَنٗاۚ وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ إِنۡ أُرِيدُ إِلَّا ٱلۡإِصۡلَٰحَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُۚ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ ٨٨
He said, "O my people, have you considered: if I am upon clear evidence from my Lord and He has provided me with a good provision from Him...?1 And I do not intend to differ from you in that which I have forbidden you; I only intend reform as much as I am able. And my success is not but through Allāh. Upon Him I have relied, and to Him I return.2
وَيَٰقَوۡمِ لَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شِقَاقِيٓ أَن يُصِيبَكُم مِّثۡلُ مَآ أَصَابَ قَوۡمَ نُوحٍ أَوۡ قَوۡمَ هُودٍ أَوۡ قَوۡمَ صَٰلِحٖۚ وَمَا قَوۡمُ لُوطٖ مِّنكُم بِبَعِيدٖ ٨٩
And O my people, let not [your] dissension from me cause you to be struck by that similar to what struck the people of Noah or the people of Hūd or the people of Ṣāliḥ. And the people of Lot are not from you far away.
وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ ٩٠
And ask forgiveness of your Lord and then repent to Him. Indeed, my Lord is Merciful and Affectionate."
قَالُواْ يَٰشُعَيۡبُ مَا نَفۡقَهُ كَثِيرٗا مِّمَّا تَقُولُ وَإِنَّا لَنَرَىٰكَ فِينَا ضَعِيفٗاۖ وَلَوۡلَا رَهۡطُكَ لَرَجَمۡنَٰكَۖ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡنَا بِعَزِيزٖ ٩١
They said, "O Shuʿayb, we do not understand much of what you say, and indeed, we consider you among us as weak. And if not for your family, we would have stoned you [to death]; and you are not to us one respected."
قَالَ يَٰقَوۡمِ أَرَهۡطِيٓ أَعَزُّ عَلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَٱتَّخَذۡتُمُوهُ وَرَآءَكُمۡ ظِهۡرِيًّاۖ إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ٩٢
He said, "O my people, is my family more respected for power by you than Allāh? But you put Him behind your backs [in neglect]. Indeed, my Lord is encompassing of what you do.
وَيَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ إِنِّي عَٰمِلٞۖ سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن يَأۡتِيهِ عَذَابٞ يُخۡزِيهِ وَمَنۡ هُوَ كَٰذِبٞۖ وَٱرۡتَقِبُوٓاْ إِنِّي مَعَكُمۡ رَقِيبٞ ٩٣
And O my people, work according to your position; indeed, I am working. You are going to know to whom will come a punishment that will disgrace him and who is a liar. So watch; indeed, I am with you a watcher, [awaiting the outcome]."
وَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا نَجَّيۡنَا شُعَيۡبٗا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ بِرَحۡمَةٖ مِّنَّا وَأَخَذَتِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلصَّيۡحَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دِيَٰرِهِمۡ جَٰثِمِينَ ٩٤
And when Our command came, We saved Shuʿayb and those who believed with him, by mercy from Us. And the shriek seized those who had wronged, and they became within their homes [corpses] fallen prone
كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَآۗ أَلَا بُعۡدٗا لِّمَدۡيَنَ كَمَا بَعِدَتۡ ثَمُودُ ٩٥
As if they had never prospered therein. Then, away with Madyan as Thamūd was taken away.
"Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara me-reka, Syu'aib. Dia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Ilah bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu), dan sesungguhnya aku khawatir terha-dapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).' (Dan Syu'aib berkata), 'Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu.' Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami mem-perbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguh-nya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal'." (Hud: 84-87) "Syu'aib berkata, 'Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku dan Dia menganu-gerahiku dari padaNya rizki yang baik (patutkah aku menyalahi perintahNya). Dan aku tidak berkehendak menyalahimu (dengan mengerjakan) sesuatu yang aku larangkan untukmu. Tidaklah aku bermaksud melainkan (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNya-lah aku kembali. Hai kaumku, janganlah per-tentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. Dan mohonlah ampun kepada Rabb-mu kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.' Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu, dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu, tentu-lah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami'." (Hud: 88-91). "Syu'aib menjawab, 'Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan.' Dan (dia berkata), 'Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesung-guhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang ber-dusta. Dan tunggulah azab (Rabb), sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu.' Dan tatkala datang azab Kami, maka Kami se-lamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka bergelimpangan di tempat tinggalnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi pen-duduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." (Hud: 92:95)
(84)(وَ) "Dan" Kami utus ﴾ إِلَىٰ مَدۡيَنَ ﴿ "kepada (penduduk) Mad-yan", Madyan adalah kabilah yang terkenal yang tinggal di Madyan, dekat Palestina, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara mereka", senasab, yaitu ﴾ شُعَيۡبٗاۚ ﴿ "Syu'aib." Karena mereka mengenalnya dan bisa mengambil agama darinya. Syu'aib berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada tuhan bagimu selain Dia." Maksudnya, ikhlaskanlah ibadah kepadaNya, karena mereka ketika itu menyekutukanNya dengan sesuatu, di samping itu me-reka berlaku culas dalam timbangan dan takaran. Oleh karena itu, Syu'aib melarang mereka melakukan itu, dia berkata,﴾ وَلَا تَنقُصُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَۖ ﴿ "Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan", akan tetapi penuhilah timbangan dan takaran dengan adil. ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu)." Maksudnya, berada dalam kenikmatan yang melimpah, kesehatan dan harta serta anak-anak, maka bersyukurlah kepada Allah atas pemberianNya kepadamu. Jangan kufur terhadap nikmat Allah karena Dia bisa mencabutnya darimu. ﴾ وَإِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٖ مُّحِيطٖ ﴿ "Dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang mem-binasakan (Kiamat)." Yakni azab yang mengelilingimu dan tidak menyisakan apa pun.
(85) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ أَوۡفُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَ بِٱلۡقِسۡطِۖ ﴿ "Hai kaumku, cukupkan-lah takaran dan timbangan dengan adil", yang mana kamu rela agar diperlakukan demikian. ﴾ وَلَا تَبۡخَسُواْ ٱلنَّاسَ أَشۡيَآءَهُمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka." Maksudnya, janganlah mengurangi hak-hak manusia dengan melakukan kecurangan de-ngan mengurangi timbangan dan takaran. ﴾ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat ke-rusakan." Karena terus-menerus berbuat maksiat akan merusak agama, akidah, dunia, dan membinasakan tanaman dan ternak.
(86) ﴾ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu." Maksudnya, sesuatu yang disisakan untukmu dari kebaikan dan sesuatu yang ada padamu adalah cukup bagimu. Ja-ngan tamak kepada sesuatu yang kamu tidak memerlukannya dan justru merugikanmu. ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَۚ ﴿ "Jika kamu orang-orang yang beriman," maka lakukanlah sesuai dengan tuntutan iman. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ﴿ "Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu." Aku bukanlah penjaga dan penanggung jawab amalmu. Yang menjaganya adalah Allah, aku cuma menyampaikan risalah yang diamanatkan kepa-daku.
(87) ﴾ قَالُوٓاْ يَٰشُعَيۡبُ أَصَلَوٰتُكَ تَأۡمُرُكَ أَن نَّتۡرُكَ مَا يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَآ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruhmu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami." Maksudnya, mereka mengatakan itu sebagai ejekan terhadap nabi mereka dan ketidak-mungkinan mengikutinya. Makna dari apa yang mereka katakan adalah bahwa laranganmu untuk kami, hanyalah mewajibkan agar kamu shalat dan beribadah kepada Allah (semata), jika kamu me-mang demikian maka apakah itu mengharuskan kami meninggal-kan tuhan yang disembah oleh nenek moyang kami karena suatu ucapan yang tak berdalil, melainkan hanya karena ia sesuai dengan-mu? Bagaimana kami mengikutimu dan meninggalkan nenek mo-yang kami orang-orang yang berakal dan berpemikiran? Begitu pula kata-katamu kepada kami, tidak mengharuskan kami melakukan pada harta kami seperti apa yang kamu katakan kepada kami berupa memenuhi takaran timbangan dan menunaikan hak-hak yang wajib padanya, akan tetapi kami tetap melakukan apa yang kami kehen-daki karena ia adalah harta kami, kamu tak memiliki hak apa pun. Oleh karena itu, mereka mengejeknya dengan berkata, ﴾ إِنَّكَ لَأَنتَ ٱلۡحَلِيمُ ٱلرَّشِيدُ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal." Maksudnya, bukankah kamu adalah orang dengan kelembutan, kasih sayang dan ketenangan yang telah menjadi sifat dan pembawaaanmu, tidak ada yang kamu lakukan kecuali kebaik-an, kamu tidak memerintahkan kecuali kebaikan dan kamu tidak melarang kecuali keburukan? Yakni perkaranya tidak begitu, mak-sud mereka adalah bahwa Syu'aib memiliki sifat yang bertentangan dengan dua sifat tersebut yaitu kebodohan dan kesesatan, jadi mak-sudnya adalah: bagaimana kamu menjadi orang yang penyantun lagi berakal sedangkan nenek moyang kami adalah orang-orang bodoh yang sesat? Kata-kata yang mereka lontarkan adalah dengan nada mengejek dan bahwa perkaranya adalah sebaliknya, tidaklah seperti yang mereka kira, justru perkaranya seperti yang mereka katakan bahwa shalatnya memintanya melarang kaumnya menyem-bah tuhan yang disembah oleh nenek moyang mereka yang sesat dan (melarang) memperbuat apa yang mereka inginkan pada harta mereka karena shalat melarang perbuatan keji dan mungkar. Ada-kah kemungkaran dan perbuatan keji yang lebih besar daripada penyembahan kepada selain Allah dan daripada mencurangi hak hamba-hamba Allah atau mencurinya dengan timbangan dan ta-karan. Syu'aiblah orang yang penyantun lagi berakal.
(88) ﴾ قَالَ ﴿ "Syu'aib berkata", kepada mereka,﴾ يَٰقَوۡمِ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٖ مِّن رَّبِّي ﴿ "Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku." Yakni keyakinan dan ketenangan ten-tang kebenaran agama yang aku bawakan, ﴾ وَرَزَقَنِي مِنۡهُ رِزۡقًا حَسَنٗاۚ ﴿ "dan Dia menganugerahiku dari padaNya rizki yang baik (patutkah aku menya-lahi perintahNya)?" Yakni Allah memberiku berbagai macam harta kekayaan. ﴾ و َ ﴿ "Dan" aku tidak ﴾ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "berke-hendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larangkan untukmu." Aku tidak ingin melarangmu dari perbuatan curang da-lam timbangan dan takaran sedangkan aku melakukannya sehingga akibatnya adalah aku dituduh dalam hal itu, justru tidaklah aku melarang suatu perkara melainkan akulah orang pertama yang meninggalkannya. ﴾ إِنۡ أُرِيدُ إِلَّا ٱلۡإِصۡلَٰحَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُۚ ﴿ "Tidaklah aku bermaksud melainkan (men-datangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan." Aku tidak me-miliki tujuan melainkan agar keadaanmu baik dan kemanfaatanmu lurus, aku tidak memiliki sedikit tujuan pribadi menurut kesang-gupanku. Ketika ini mengandung pujian terhadap diri sendiri maka dia menepisnya dengan ucapan, ﴾ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ ﴿ "Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah." Maksudnya, taufik yang aku dapatkan untuk melakukan kebaikan dan menghindari keja-hatan, tidak lain kecuali dari Allah, bukan karena daya dan kekuat-anku. ﴾ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ ﴿ "Hanya kepada Allah aku bertawakal." Aku bersandar kepadaNya dalam urusanku, dan aku percaya dengan jaminanNya. ﴾ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ ﴿ "Dan hanya kepadaNya-lah aku kembali," dalam menunaikan ibadah yang Dia perintahkan kepadaku. Dalam hal ini terdapat makna usaha mendekatkan diri kepadaNya dengan perbuatan-perbuatan baik. Dengan dua perkara ini, segala urusan seorang hamba menjadi lurus yaitu meminta pertolongan kepada Allah dan kembali kepadaNya sebagaimana FirmanNya, ﴾ فَٱعۡبُدۡهُ وَتَوَكَّلۡ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepadaNya."(Hud: 123), Dan Dia berfirman, ﴾ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ 5 ﴿ "Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan." (Al-Fatihah: 5).
(89) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ لَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شِقَاقِيٓ ﴿ "Hai kaumku, janganlah pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat." Yakni, pertentangan dan perselisihan antara kita, jangan memicumu ber-laku tidak baik ﴾ أَن يُصِيبَكُم ﴿ "hingga kamu ditimpa" azab,﴾ مِّثۡلُ مَآ أَصَابَ قَوۡمَ نُوحٍ أَوۡ قَوۡمَ هُودٍ أَوۡ قَوۡمَ صَٰلِحٖۚ وَمَا قَوۡمُ لُوطٖ مِّنكُم بِبَعِيدٖ ﴿ "seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tem-patnya) dari kamu." Tidak jauh tempatnya dan tidak pula masanya.
(90) ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ﴿ "Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu", dari dosa-dosa yang kamu lakukan, ﴾ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ ﴿ "kemudian bertaubat-lah kepadaNya," dalam sisa umurmu dengan taubat nasuhah, kembali kepadaNya dengan menaatiNya dan tidak menyelisihiNya.﴾ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih," bagi yang bertaubat dan kembali kepadaNya, Dia merahmatinya, mengampuninya, mencintainya dan menerima taubatnya. Al-Wadud adalah Nama Allah. Makna wadud adalah bahwa Allah mencintai hamba-hamba yang beriman, dan mereka pun men-cintaiNya. Ia adalah bentuk فَعُوْلٌ dengan makna فَاعِلٌ dan مَفْعُوْلٌ.
(91) ﴾ قَالُواْ يَٰشُعَيۡبُ مَا نَفۡقَهُ كَثِيرٗا مِّمَّا تَقُولُ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu." Mereka gerah dengan nasihat-nasihat dan wejangan-wejangannya kepada mereka, mereka pun berkata, "Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan." Itu karena kebencian mereka dan ketidak-senangannya terhadap kata-kata Syu'aib. ﴾ وَإِنَّا لَنَرَىٰكَ فِينَا ضَعِيفٗاۖ ﴿ "Dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami", kamu bukan seorang pemimpin besar, kamu hanya-lah orang rendahan. ﴾ وَلَوۡلَا رَهۡطُكَ ﴿ "Kalau tidaklah karena keluargamu." Yakni kabilahmu dan orang-orangmu ﴾ لَرَجَمۡنَٰكَۖ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡنَا بِعَزِيزٖ ﴿ "tentulah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwi-bawa di sisi kami." Kamu tidak memiliki harga di hati kami dan ke-hormatan pada diri kami, kami membiarkanmu karena kami me-mandang kabilahmu.
(92) ﴾ قَالَ ﴿ "Syu'aib menjawab", kepada mereka dengan lem-but, ﴾ يَٰقَوۡمِ أَرَهۡطِيٓ أَعَزُّ عَلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah." Yakni, bagaimana bisa kamu memperhatikanku demi kaumku dan bukan memperha-tikanku demi Allah sehingga kaumku lebih mulia daripada Allah. ﴾ وَٱتَّخَذۡتُمُوهُ وَرَآءَكُمۡ ظِهۡرِيًّاۖ ﴿ "Sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu?" Yakni kamu membuang perintah Allah di belakang punggungmu, tak mempedulikannya dan kamu tidak takut kepa-daNya. ﴾ إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ﴿ "Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan." Tidak ada sekecil pun amalmu yang di langit dan di bumi yang samar dariNya, sehingga Dia akan mem-balasmu sesuai dengan perbuatanmu dengan sempurna.
(93) Manakala mereka membuatnya lelah dan dia pun ber-putus asa dari mereka, maka Syu'aib berkata kepada mereka,﴾ وَيَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ ﴿ "Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu." Yakni sesuai dengan keadaan dan keyakinanmu. ﴾ إِنِّي عَٰمِلٞۖ سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن يَأۡتِيهِ عَذَابٞ يُخۡزِيهِ ﴿ "Sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya", azab yang kekal menimpanya, apakah aku atau kamu. Mereka me-ngetahui itu ketika azab benar-benar menimpa mereka. ﴾ وَٱرۡتَقِبُوٓاْ ﴿ "Dan tunggulah azab (Rabb)", yang akan menimpaku. ﴾ إِنِّي مَعَكُمۡ رَقِيبٞ ﴿ "Sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu," apa yang akan menimpamu.
(94) ﴾ وَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Dan tatkala datang azab Kami", yang mem-binasakan kaum Syu'aib, ﴾ نَجَّيۡنَا شُعَيۡبٗا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ بِرَحۡمَةٖ مِّنَّا وَأَخَذَتِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلصَّيۡحَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دِيَٰرِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿ "Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya." (Sehingga) kamu tidak lagi mendengar suara mereka, dan tidak melihat gerakan mereka.
(95) ﴾ كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَآۗ ﴿ "Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu." Maksudnya, seakan-akan mereka tidak pernah tinggal di kampung mereka itu dan tidak merasakan kemakmuran di da-lamnya ketika azab datang kepada mereka. ﴾ أَلَا بُعۡدٗا لِّمَدۡيَنَ ﴿ "Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Madyan." Ketika Allah membinasakan dan menghinakan mereka. ﴾ كَمَا بَعِدَتۡ ثَمُودُ ﴿ "Sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." Kedua kabilah ini sama-sama berserikat dalam kemur-kaan, laknat dan kebinasaan. Syu'aib عليه السلام terkenal dengan julukan, Khatibul Anbiya` karena dialognya yang bagus kepada kaumnya. Pada kisahnya terdapat banyak faidah dan pelajaran. Di antaranya: kaum kafir diazab dan diberi khitab tentang aki-dah Islam, demikian pula syariat dan cabang-cabang Islam karena Syu'aib menyeru kaumnya kepada tauhid dan kepada pemenuhan timbangan dan takaran, dan Syu'aib menyatakan bahwa ancaman Allah berkait dengan kedua hal tersebut. Di antaranya: Mengurangi takaran dan timbangan termasuk dosa besar. Barangsiapa yang melakukan itu, maka dikhawatirkan ditimpa azab dunia, hal itu termasuk mencuri harta orang-orang. Jika mencuri lewat takaran dan timbangan mengundang azab, maka mengambil dengan paksa dan terang-terangan adalah lebih meng-undang dan lebih layak mendapat azab. Di antaranya: balasan itu berasal dari jenis perbuatan. Barang-siapa yang mengurangi harta manusia untuk menambah hartanya maka dia akan dibalas dengan sebaliknya. Itu menjadi penyebab lenyapnya kebaikan dari rizki yang ada pada dirinya. Hal ini sesuai dengan ucapan Syu'aib, ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihatmu dalam kebaikan." (Hud: 84). Maksudnya, maka kamu jangan menjadi penyebab hilangnya kebaikan itu karena perbuatanmu. Di antaranya: Hendaknya seorang hamba merasa cukup de-ngan rizki Allah, merasa cukup dengan halal tanpa haram. Cukup dengan usaha-usaha yang halal tanpa usaha-usaha yang haram. Hal itu adalah lebih baik baginya berdasarkan ucapan Syu'aib, ﴾ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu." (Hud: 86). Hal itu mengandung keberkahan dan tambahan rizki yang tidak terkandung pada sikap rakus atas usaha-usaha yang haram yang mencabut keberkahan rizki. Di antaranya: Bahwa hal itu termasuk tuntutan dan buah iman, karena dia mengkaitkan hal itu dengan keberadaan iman, ini me-nunjukkan bahwa apabila amal perbuatan tidak ada, maka iman itu berkurang atau tidak ada. Di antaranya: Shalat senantiasa disyariatkan kepada para nabi terdahulu, ia termasuk amal perbuatan yang paling utama, sam-pai-sampai orang-orang kafir pun mengakui keutamaannya dan keunggulannya di atas amal-amal yang lain. Shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ia adalah timbangan bagi iman dan syariat-syariatnya. Dengan menegakkannya, keadaan seorang hamba menjadi sempurna dan dengan meninggalkannya, keadaan agamanya menjadi berantakan. Di antaranya: Harta yang Allah rizkikan kepada manusia, meskipun Allah telah memberikannya kepadanya, dia tetap tidak boleh berbuat pada harta itu sesukanya karena ia adalah amanat di tangannya. Dia harus menunaikan hak Allah pada harta itu de-ngan menunaikan kewajiban-kewajiban yang terkait dengannya, menjauhi usaha-usaha yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, tidak sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang kafir dan yang seperti mereka bahwa mereka boleh melakukan apa yang mereka sukai pada harta mereka, menyelarasi hukum Allah atau menye-lisihinya. Di antaranya: Termasuk kelengkapan dan kesempurnaan dakwah seorang da'i adalah hendaknya dia menjadi orang pertama yang melakukan perintahnya sendiri ketika dia memerintahkannya kepada orang lain, dan orang pertama yang meninggalkan larang-annya sendiri yang mana dia larangkan untuk orang lain sebagai-mana Syu'aib عليه السلام berkata, ﴾ وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "Dan aku tidak berkehendak menyalahimu dengan melakukan apa yang aku larang." (Hud: 88) Sebagaimana Firman Allah, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 2 كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 3 ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (Ash-Shaf: 2-3). Di antaranya: Tugas, agama dan Sunnah Rasul adalah berkehen-dak untuk memperbaiki menurut kemampuan dan kemungkinan, mereka berusaha mewujudkan kebaikan dan menyempurnakannya atau mewujudkan sesuatu yang mereka mampu untuk mewujud-kannya, menolak dan meminimalkan kerusakan serta menjaga kepentingan umum di atas kepentingan khusus. Hakikat kemaslahatan itu adalah sesuatu yang dengannya kemaslahatan manusia bisa diwujudkan, urusan agama dan dunia mereka menjadi lurus. Di antaranya: Barangsiapa melakukan perbaikan sebatas ke-mampuannya, maka dia tidak dicela dan disalahkan pada bagian yang dia tidak lakukan karena dia tidak mampu. Seorang hamba harus melakukan perbaikan pada diri dan orang lain semampunya. Di antaranya: Hendaknya seorang hamba tidak bergantung kepada dirinya sekejap pun, tetapi hendaklah dia senantiasa me-minta tolong kepada Rabbnya, bertawakal kepadaNya dan meminta taufik, jika dia mendapatkan taufik, maka hendaknya dia menis-batkannya kepada Pemberinya, dan jangan ujub terhadap dirinya sendiri sebagaimana Syu'aib berkata, ﴾ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ 88 ﴿ "Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNya-lah aku kem-bali." (Hud: 88) Di antaranya: Mewaspadai azab-azab yang menimpa umat-umat terdahulu dan apa yang terjadi pada mereka, hendaknya kisah-kisah tentang azab para pelaku dosa disampaikan untuk memberi nasihat dan peringatan, sebagaimana kisah-kisah tentang balasan Allah kepada orang-orang yang bertakwa disampaikan untuk me-macu dan mendorong kepada ketakwaan. Di antaranya: Orang yang bertaubat dari dosa sebagaimana dosanya dimaafkan dan diampuni, maka dia juga dicintai dan disu-kai oleh Allah, tidak perlu memandang ucapan orang yang berkata, "Bahwa orang yang bertaubat sudah cukup baginya kalau diampuni dan dimaafkan." Masalah dicintai dan disukai oleh Allah, maka itu tidak terjadi, (yang benar adalah yang pertama) karena Allah ber-firman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ 90 ﴿ "Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu, kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih." (Hud: 90) Di antaranya: Allah membela orang-orang Mukmin dengan banyak sebab, mereka mungkin mengetahui sebagian sebab dari-nya, dan mungkin pula tidak mengetahui sedikit pun darinya, dan mungkin saja Allah membelanya melalui kabilahnya dan penduduk negerinya yang kafir, sebagaimana Allah menjaga Syu'aib dari rajam kaumnya dengan sebab kabilahnya. Sesungguhnya hubungan seperti ini yang dengannya pem-belaan kepada Islam bisa diwujudkan boleh-boleh saja dilakukan, bahkan bisa jadi harus dilakukan, karena usaha perbaikan selalu dituntut berdasarkan kemungkinan dan kemampuan. Berdasarkan hal ini, seandainya kaum Muslimin yang berada di bawah kepemim-pinan orang-orang kafir berpartisipasi dan berusaha menjadikan pemerintahan dalam bentuk republik (atas dasar demokrasi, pent.) yang dengannya pribadi dan masyarakat Muslimin bisa menda-patkan hak-hak agama dan dunia, niscaya itu lebih baik daripada tunduk kepada negara yang membunuh hak-hak agama dan dunia mereka, dan berusaha memberangus mereka, menjadikan mereka hanya sebagai kuli dan pembantu untuk mereka. Benar, jika me-mungkinkan negara itu dipegang oleh kaum Muslimin dan kaum Musliminlah yang menjadi pemimpinnya, maka itu harus dipilih, akan tetapi jika ini tidak mungkin, maka tingkatan di bawahnya yang memberi perlindungan bagi agama dan dunia harus didahu-lukan. Wallahu a'lam.
11:96–101Page 232
وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا مُوسَىٰ بِـَٔايَٰتِنَا وَسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ٩٦
And We did certainly send Moses with Our signs and a clear authority1
إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦ فَٱتَّبَعُوٓاْ أَمۡرَ فِرۡعَوۡنَۖ وَمَآ أَمۡرُ فِرۡعَوۡنَ بِرَشِيدٖ ٩٧
To Pharaoh and his establishment, but they followed the command of Pharaoh, and the command of Pharaoh was not [at all] discerning.
يَقۡدُمُ قَوۡمَهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ فَأَوۡرَدَهُمُ ٱلنَّارَۖ وَبِئۡسَ ٱلۡوِرۡدُ ٱلۡمَوۡرُودُ ٩٨
He will precede his people on the Day of Resurrection and lead them into the Fire; and wretched is the place to which they are led.
وَأُتۡبِعُواْ فِي هَٰذِهِۦ لَعۡنَةٗ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۚ بِئۡسَ ٱلرِّفۡدُ ٱلۡمَرۡفُودُ ٩٩
And they were followed in this [world] with a curse and on the Day of Resurrection. And wretched is the gift1 which is given.
ذَٰلِكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡقُرَىٰ نَقُصُّهُۥ عَلَيۡكَۖ مِنۡهَا قَآئِمٞ وَحَصِيدٞ ١٠٠
That is from the news of the cities, which We relate to you; of them, some are [still] standing and some are [as] a harvest [mowed down].1
وَمَا ظَلَمۡنَٰهُمۡ وَلَٰكِن ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡۖ فَمَآ أَغۡنَتۡ عَنۡهُمۡ ءَالِهَتُهُمُ ٱلَّتِي يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖ لَّمَّا جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَمَا زَادُوهُمۡ غَيۡرَ تَتۡبِيبٖ ١٠١
And We did not wrong them, but they wronged themselves. And they were not availed at all by their gods which they invoked other than Allāh when there came the command of your Lord. And they did not increase them in other than ruin.
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan mukjizat yang nyata, kepada Fir'aun dan pemimpin-pemimpin kaumnya, tetapi mereka mengikuti perin-tah Fir'aun, padahal perintah Fir'aun sekali-kali bukanlah (perin-tah) yang benar. Ia berjalan di muka kaumnya di Hari Kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan. Dan mereka selalu diikuti dengan ku-tukan di dunia dan (begitu pula) di Hari Kiamat. Laknat itu sebu-ruk-buruk tempat yang didatangi. Itu adalah sebagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang kami ceritakan kepa-damu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah. Dan kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang meng-aniaya diri mereka sendiri, karena tiadalah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Rabbmu datang. Dan sembahan-sembahan itu ti-daklah menambah kepada mereka melainkan kebinasaan belaka." (Hud: 96-101)
(96) ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا مُوسَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa", bin Imran ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan tanda-tanda (kekuasaan) Kami", yang menunjukkan kebenaran agama yang dibawanya seperti tongkat, tangan dan tanda-tanda yang lain yang Allah berlakukan melalui tangan Musa, ﴾ وَسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "dan mukjizat yang nyata." Yakni hujjah yang jelas dan gamblang yang muncul seperti matahari.
(97) ﴾ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦ ﴿ "Kepada Fir'aun dan pemimpin-pemim-pin kaumnya", maksudnya tokoh kaumnya, karena mereka diikuti, sedangkan selain mereka adalah pengikut bagi mereka. Mereka tidak tunduk pada mukjizat yang dibawa oleh Musa dan ditunjuk-kannya kepada mereka seperti yang telah dirinci di surat al-A'raf, mereka justru ﴾ فَٱتَّبَعُوٓاْ أَمۡرَ فِرۡعَوۡنَۖ وَمَآ أَمۡرُ فِرۡعَوۡنَ بِرَشِيدٖ ﴿ "mengikuti perintah Fir'aun, padahal perintah Fir'aun sekali-kali bukanlah (perintah) yang benar." Fir'aun adalah sesat dan menyimpang, dia tidak memerintahkan kecuali kepada kemudaratan murni.
(98) Tidak aneh ketika kaumnya mengikutinya, maka Fir'aun mencelakakan dan membinasakan mereka. ﴾ يَقۡدُمُ قَوۡمَهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ فَأَوۡرَدَهُمُ ٱلنَّارَۖ وَبِئۡسَ ٱلۡوِرۡدُ ٱلۡمَوۡرُودُ ﴿ "Ia berjalan di muka kaumnya di Hari Kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi."
(99) ﴾ وَأُتۡبِعُواْ فِي هَٰذِهِۦ ﴿ "Dan mereka selalu diikuti" di dunia ini ﴾ لَعۡنَةٗ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۚ ﴿ "dengan kutukan dan (begitu pula) di Hari Kiamat." Allah, malaikat, dan semua manusia melaknat mereka di dunia dan akhirat. ﴾ بِئۡسَ ٱلرِّفۡدُ ٱلۡمَرۡفُودُ ﴿ "Laknat itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan." Maksudnya, ia adalah sejelek-jelek sesuatu yang terkumpul untuk mereka. Azab Allah dan laknat dunia dan akhirat menumpuk pada mereka.
(100) Tatkala Allah menyebutkan kisah-kisah umat dengan rasul-rasul mereka, maka Allah berfirman kepada RasulNya,﴾ ذَٰلِكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡقُرَىٰ نَقُصُّهُۥ عَلَيۡكَۖ ﴿ "Itu adalah sebagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad)", agar kamu memperingatkan manusia dengannya, sebagai bukti kerasulanmu, nasihat dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. ﴾ مِنۡهَا قَآئِمٞ ﴿ "Di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya", belum hilang sama sekali, masih ada bekas-bekas negeri yang me-nunjukkannya. ﴾ و َ ﴿ "Dan" darinya ﴾ ح َ ص ِ ي ْ د ٌ ﴿ "ada (pula) yang telah musnah." Tempat tinggal mereka terkikis habis, tak berbekas dan tidak ada tanda-tandanya.
(101) ﴾ وَمَا ظَلَمۡنَٰهُمۡ ﴿ "Dan Kami tidaklah menganiaya mereka", de-ngan menimpakan berbagai azab kepada mereka, ﴾ وَلَٰكِن ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡۖ ﴿ "tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri", dengan syirik, kufur dan penentangan. ﴾ فَمَآ أَغۡنَتۡ عَنۡهُمۡ ءَالِهَتُهُمُ ٱلَّتِي يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖ لَّمَّا جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ ﴿ "Karena itu tiadalah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sem-bahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Rabbmu datang." Begitulah semua orang yang berlindung kepada selain Allah, ia tidak dapat melindunginya pada waktu azab itu turun. ﴾ وَمَا زَادُوهُمۡ غَيۡرَ تَتۡبِيبٖ ﴿ "Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka melainkan kebinasaan belaka." Kerugian dan kebinasaan, tidak seperti yang terlintas di benak mereka.
11:102Page 233
وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ ١٠٢
And thus is the seizure of your Lord when He seizes the cities while they are committing wrong. Indeed, His seizure is painful and severe.
"Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab pendu-duk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azabNya itu sangat pedih lagi keras." (Hud: 102).
(102) Maksudnya, azab meluluhlantakkan dan menghancur-kan mereka. Tuhan yang mereka sembah selain Allah tidak berguna sedikit pun bagi mereka.
11:103–108Page 233
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّمَنۡ خَافَ عَذَابَ ٱلۡأٓخِرَةِۚ ذَٰلِكَ يَوۡمٞ مَّجۡمُوعٞ لَّهُ ٱلنَّاسُ وَذَٰلِكَ يَوۡمٞ مَّشۡهُودٞ ١٠٣
Indeed in that is a sign for those who fear the punishment of the Hereafter. That is a Day for which the people will be collected, and that is a Day [which will be] witnessed.
وَمَا نُؤَخِّرُهُۥٓ إِلَّا لِأَجَلٖ مَّعۡدُودٖ ١٠٤
And We do not delay it except for a limited term.
يَوۡمَ يَأۡتِ لَا تَكَلَّمُ نَفۡسٌ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ فَمِنۡهُمۡ شَقِيّٞ وَسَعِيدٞ ١٠٥
The Day it comes no soul will speak except by His permission. And among them will be the wretched and the prosperous.
فَأَمَّا ٱلَّذِينَ شَقُواْ فَفِي ٱلنَّارِ لَهُمۡ فِيهَا زَفِيرٞ وَشَهِيقٌ ١٠٦
As for those who were [destined to be] wretched, they will be in the Fire. For them therein is [violent] exhaling and inhaling.1
خَٰلِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ١٠٧
[They will be] abiding therein as long as the heavens and the earth endure, except what your Lord should will. Indeed, your Lord is an effecter of what He intends.
۞ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ سُعِدُواْ فَفِي ٱلۡجَنَّةِ خَٰلِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَۖ عَطَآءً غَيۡرَ مَجۡذُوذٖ ١٠٨
And as for those who were [destined to be] prosperous, they will be in Paradise, abiding therein as long as the heavens and the earth endure, except what your Lord should will - a bestowal uninterrupted.
"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat. Hari Kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disak-sikan (oleh segala sesuatu). Dan Kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu. Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izinNya, maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam ne-raka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih). Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Rabb-mu Maha Pelaksana terhadap sesuatu yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain), sebagai karunia yang tiada putus-putusnya." (Hud: 103-108).
(103) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu", azab Allah yang disebutkan yang menghancurkan orang-orang yang zhalim itu, ﴾ لَأٓيَةٗ لِّمَنۡ خَافَ عَذَابَ ٱلۡأٓخِرَةِۚ ﴿ "benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat." Maksudnya, sungguh me-ngandung pelajaran dan dalil bahwa orang-orang zhalim dan para pelaku kejahatan akan ditimpa hukuman dunia dan akhirat. Ke-mudian Allah berpindah dari pembahasan ini kepada penjelasan akhirat. Dia berfirman, ﴾ ذَٰلِكَ يَوۡمٞ مَّجۡمُوعٞ لَّهُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Hari Kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya." Maksudnya, mereka dikumpulkan pada hari itu untuk mendapat-kan balasan dan untuk memperlihatkan kepada mereka kebesaran dan keagungan serta keadilan Allah yang besar yang dengannya mereka akan mengenalNya dengan sebenarnya. ﴾ وَذَٰلِكَ يَوۡمٞ مَّشۡهُودٞ ﴿ "Dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala sesuatu)." Yakni disaksikan oleh Allah, malaikat, dan seluruh makhluk.
(104) ﴾ وَمَا نُؤَخِّرُهُۥٓ ﴿ "Dan Kami tiadalah mengundurkannya." Yakni kedatangan Hari Kiamat, ﴾ إِلَّا لِأَجَلٖ مَّعۡدُودٖ ﴿ "melainkan sampai waktu yang tertentu." Jika masa dunia telah habis dan penciptaan di dalamnya yang telah ditakdirkan oleh Allah (telah selesai), maka pada saat itu Dia memindahkan mereka ke alam akhirat dan memberlakukan kepada mereka hukum-hukumNya yang jaza`iyah (balasan) seba-gaimana di dunia Dia telah memberlakukan kepada mereka hukum-hukumNya syar'iyyah.
(105) ﴾ يَوۡمَ يَأۡتِ ﴿ "Di kala datang hari itu", di mana seluruh makhluk berkumpul, ﴾ لَا تَكَلَّمُ نَفۡسٌ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ ﴿ "tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izinNya", bahkan para malaikat, para nabi yang mulia tidak memberi syafa'at kecuali dengan izinNya. ﴾ فَمِنۡهُمۡ شَقِيّٞ وَسَعِيدٞ ﴿ "Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia." Orang-orang yang celaka adalah orang-orang yang kafir kepada Allah, mendustakan rasul-rasulNya dan menyelisihi perintahNya, sedangkan orang-orang yang berbahagia adalah orang-orang Mukmin yang bertakwa.
(106) Mengenai balasan mereka. ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ شَقُواْ ﴿ "adapun orang-orang yang celaka", kesengsaraan, kehinaan dan rasa malu terjadi pada mereka, ﴾ فَفِي ٱلنَّارِ ﴿ "maka (tempatnya) di dalam neraka", terbenam di dalam azabnya dengan hukuman yang berat di dalamnya. ﴾ لَهُمۡ فِيهَا ﴿ "Di dalamnya mereka", karena beratnya siksa ﴾ زَفِيرٞ وَشَهِيقٌ ﴿ "mengeluar-kan dan menarik nafas (dengan merintih)", suara yang paling jelek dan paling buruk.
(107) ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَا ﴿ "Mereka kekal di dalamnya", yakni, di neraka dengan azab yang demikian ﴾ مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَۚ ﴿ "selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain)." Yakni, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya kecuali batas waktu yang dikehendaki Allah agar mereka tidak berada di dalamnya. Hal itu sebelum mereka masuk ke dalamnya sebagaimana yang dikatakan oleh mayoritas ahli tafsir. Jadi pengecualian atas hal ini kembali kepada sebelum mereka memasukinya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya kecuali waktu di mana mereka belum memasukinya. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu Maha Pelak-sana terhadap apa yang Dia kehendaki." Semua yang diinginkan oleh Allah untuk dilakukan dan dituntut oleh hikmahNya maka Allah pasti melakukannya, tiada seorang pun yang menghalangi Allah dari keinginanNya.
(108) ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ سُعِدُواْ ﴿ "Adapun orang-orang yang berbahagia", yang meraih kebahagiaan, kemenangan, dan keberuntungan,﴾ فَفِي ٱلۡجَنَّةِ خَٰلِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَۖ ﴿ "maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain)", kemudian Dia menegaskannya dengan FirmanNya, ﴾ عَطَآءً غَيۡرَ مَجۡذُوذٖ ﴿ "sebagai karunia yang tiada putus-putusnya." Nikmat yang kekal dan kelezatan yang tinggi yang Allah berikan kepada mereka akan berlangsung terus, tak terputus sesaat pun. Kita memohon kepada Allah dari karuniaNya.
11:109Page 234
فَلَا تَكُ فِي مِرۡيَةٖ مِّمَّا يَعۡبُدُ هَٰٓؤُلَآءِۚ مَا يَعۡبُدُونَ إِلَّا كَمَا يَعۡبُدُ ءَابَآؤُهُم مِّن قَبۡلُۚ وَإِنَّا لَمُوَفُّوهُمۡ نَصِيبَهُمۡ غَيۡرَ مَنقُوصٖ ١٠٩
So do not be in doubt, [O Muḥammad], as to what these [polytheists] are worshipping. They worship not except as their fathers worshipped before. And indeed, We will give them their share undiminished.
"Maka janganlah kamu berada dalam keragu-raguan tentang apa yang disembah oleh mereka. Mereka tidaklah menyembah me-lainkan sebagaimana nenek moyang mereka menyembah dahulu. Dan sesungguhnya Kami pasti akan menyempurnakan dengan secukup-cukupnya pembalasan (terhadap) mereka dengan tidak dikurangi sedikit pun." (Hud: 109).
(109) Allah berfirman kepada RasulNya, Muhammad, ﴾ فَلَا تَكُ فِي مِرۡيَةٖ مِّمَّا يَعۡبُدُ هَٰٓؤُلَآءِۚ ﴿ "Maka janganlah kamu berada dalam keragu-raguan tentang apa yang disembah oleh mereka." Yaitu orang-orang musyrik, maksudnya jangan meragukan mereka, dan bahwa apa yang mereka kerjakan itu adalah kebatilan. Mereka tidak memiliki dalil aqli dan tidak pula syar'i. Dalil dan syubhat mereka adalah terbatas pada tindakan mereka mengikuti nenek moyang mereka saja, maka me-reka menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang mereka sebelumnya, dan termasuk hal yang sudah dimaklumi bahwa ini bukanlah syubhat, terlebih lagi menjadi dalil, karena ucapan selain Nabi bukanlah dalil, khususnya (ucapan) semisal orang-orang yang sesat itu yang kesalahannya banyak, pendapat mereka rusak dalam perkara pokok agama, karena pendapat mereka, meskipun mereka bersepakat, ia tetap salah dan sesat. ﴾ وَإِنَّا لَمُوَفُّوهُمۡ نَصِيبَهُمۡ غَيۡرَ مَنقُوصٖ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami pasti akan menyempurnakan dengan secukup-cukup-nya pembalasan (terhadap) mereka dengan tidak dikurangi sedikit pun." Maksudnya, mereka pasti mendapatkan bagian mereka di dunia dari apa yang telah ditulis untuk mereka meskipun bagian tersebut melimpah ruah dalam pandanganmu, karena ia tidak menunjukkan kebaikan mereka, karena Allah memberikan dunia kepada orang yang dicintaiNya dan yang tidak dicintaiNya, sementara Dia tidak memberikan iman dan agama yang benar kecuali kepada yang di-cintaiNya. Alhasil, jangan terkecoh dengan kesepakatan orang-orang sesat atas perkataan orang-orang yang sesat dari kalangan nenek moyang, dan jangan pula (terkecoh) dengan sesuatu yang Allah berikan kepada mereka di dunia ini.
Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences