As-Sa'diAn‑Nahl · 16:84–105

As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian

An-Nahl 16:84–105

16:84–87Page 276

وَيَوۡمَ نَبۡعَثُ مِن كُلِّ أُمَّةٖ شَهِيدٗا ثُمَّ لَا يُؤۡذَنُ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ ٨٤

And [mention] the Day when We will resurrect from every nation a witness [i.e., their prophet]. Then it will not be permitted to the disbelievers [to apologize or make excuses], nor will they be asked to appease [Allāh].

وَإِذَا رَءَا ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلۡعَذَابَ فَلَا يُخَفَّفُ عَنۡهُمۡ وَلَا هُمۡ يُنظَرُونَ ٨٥

And when those who wronged see the punishment, it will not be lightened for them, nor will they be reprieved.

وَإِذَا رَءَا ٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْ شُرَكَآءَهُمۡ قَالُواْ رَبَّنَا هَٰٓؤُلَآءِ شُرَكَآؤُنَا ٱلَّذِينَ كُنَّا نَدۡعُواْ مِن دُونِكَۖ فَأَلۡقَوۡاْ إِلَيۡهِمُ ٱلۡقَوۡلَ إِنَّكُمۡ لَكَٰذِبُونَ ٨٦

And when those who associated others with Allāh see their "partners," they will say, "Our Lord, these are our partners [to You] whom we used to invoke [in worship] besides You." But they will throw at them the statement, "Indeed, you are liars."

وَأَلۡقَوۡاْ إِلَى ٱللَّهِ يَوۡمَئِذٍ ٱلسَّلَمَۖ وَضَلَّ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ٨٧

And they will impart to Allāh that Day [their] submission, and lost from them is what they used to invent.

"Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan dari tiap-tiap umat seorang saksi (rasul), kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang yang kafir (untuk membela diri), dan tidak (pula) me-reka dibolehkan meminta maaf. Dan apabila orang-orang zhalim telah menyaksikan azab, maka tidaklah diringankan azab bagi mereka dan tidak pula mereka diberi tangguh. Dan apabila orang-orang yang mempersekutukan (Allah) melihat sekutu-sekutu me-reka, mereka berkata, 'Ya Rabb kami, mereka inilah sekutu-sekutu kami yang mereka dahulu kami sembah selain dariMu.' Lalu seku-tu-sekutu mereka mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang dusta.' Dan mereka menyatakan ketunduk-annya kepada Allah pada hari itu, dan hilanglah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan." (An-Nahl: 84-87).

(84-85) Allah تعالى mengabarkan mengenai kondisi orang-orang kafir di Hari Kiamat, dan bahwa dalih alasan tidak diterima dari mereka dan tidak (pula) dihilangkan hukuman dari mereka, para sekutu mereka berlepas diri dari mereka (para penyembahnya) dan mengakui bahwa mereka berbuat kekufuran dan mengadakan kedustaan kepada Allah. Allah berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ نَبۡعَثُ مِن كُلِّ أُمَّةٖ شَهِيدٗا ﴿ "Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan dari tiap-tiap umat seorang saksi (rasul)," yang akan bersaksi atas mereka terhadap amal perbuatan mereka, dan apakah jawaban yang mereka sampaikan terhadap penyeru kepada hidayah. Saksi tersebut yang Allah bang-kitkan adalah saksi yang terbersih lagi paling adil. Mereka itu ada-lah para rasul yang bila telah mengeluarkan persaksian mereka, maka jatuhlah keputusan atas orang-orang kafir tersebut. ﴾ ثُمَّ لَا يُؤۡذَنُ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang yang kafir," untuk mengajukan alasan. Sebab pengajuan alasan pasca mereka mengetahui kebatilan keyakinan yang mereka pegangi, merupakan alasan yang dusta, tiada berguna bagi mereka sama sekali. Seandainya mereka meminta untuk (diberi kesempatan) kem-bali ke dunia lagi, untuk mengoreksi diri, niscaya tidak akan di-kabulkan dan tidak diberi masa penundaan. Akan tetapi, siksa yang dahsyat akan segera menghampiri mereka, tidak diringankan atas mereka, tanpa ada masa penungguan maupun penangguhan sejak pertama kali mereka melihat siksa itu. Karena mereka tidak mem-punyai kebaikan. Amal perbuatan (buruk) mereka akan dihitung. Mereka disuruh berdiri mempertanggungjawabkan amalan-amalan-nya, (disebutkan satu-persatu) agar mereka dibuat mengakuinya lalu dipermalukan.

(86) ﴾ وَإِذَا رَءَا ٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْ شُرَكَآءَهُمۡ ﴿ "Dan apabila orang-orang yang mempersekutukan (Allah) melihat sekutu-sekutu mereka," pada Hari Kiamat, dan mereka menyadari kebatilannya, tanpa mampu meng-ingkarinya, ﴾ قَالُواْ رَبَّنَا هَٰٓؤُلَآءِ شُرَكَآؤُنَا ٱلَّذِينَ كُنَّا نَدۡعُواْ مِن دُونِكَۖ ﴿ "mereka berkata, 'Ya Rabb kami, mereka inilah sekutu-sekutu kami yang mereka dahulu kami sembah selain dariMu'." Mereka itu tidak mempunyai keman-faatan dan bantuan pertolongan. Mereka mengisyaratkan pada (aspek) kebatilannya dan mengingkarinya. Mulailah benih kebencian dan permusuhan antara mereka dan sekutu-sekutu itu. ﴾ فَأَلۡقَوۡاْ إِلَيۡهِمُ ٱلۡقَوۡلَ ﴿ "Lalu sekutu-sekutu mereka mengatakan kepada mereka," maksud-nya para sekutu itu pun membantah perkataan mereka, dan berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّكُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang dusta," lantaran menjadikan kami sebagai sekutu bagi Allah dan menyembah kami bersamaNya. Kami tidak pernah me-nyuruh kalian untuk melakukannya, dan kami pun tidak pernah mengklaim bahwa kami pantas menyandang uluhiyah. Celaan itu hanya tertuju pada kalian (saja).

(87) Pada saat itulah, mereka pasrah kepada Allah, tunduk terhadap keputusanNya, meyakini bahwa mereka pantas menerima siksa ﴾ وَضَلَّ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ﴿ "dan hilanglah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan," maksudnya mereka masuk neraka, dalam ke-adaan hati mereka tersesak kegeraman terhadap diri sendiri, dan sarat dengan pujian kepada Rabb mereka, dan bahwa Dia tidak menghukum kecuali disebabkan perbuatan mereka.

16:88Page 277

ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ زِدۡنَٰهُمۡ عَذَابٗا فَوۡقَ ٱلۡعَذَابِ بِمَا كَانُواْ يُفۡسِدُونَ ٨٨

Those who disbelieved and averted [others] from the way of Allāh - We will increase them in punishment over [their] punishment for what corruption they were causing.

"Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, niscaya Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan." (An-Nahl: 88).

(88) Lantaran mereka sendiri berbuat kekufuran, mendusta-kan ayat-ayat Allah dan memerangi para RasulNya serta mengha-lang-halangi orang dari jalan Allah, dengan itu, mereka menjadi para penyeru kepada kesesatan, hingga berhak untuk menerima siksaan yang berlipatganda sebagaimana kejahatan mereka juga bertumpuk-tumpuk dan sebagaimana mereka telah melakukan ke-rusakan di bumi Allah.

16:89Page 277

وَيَوۡمَ نَبۡعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٖ شَهِيدًا عَلَيۡهِم مِّنۡ أَنفُسِهِمۡۖ وَجِئۡنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِۚ وَنَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ تِبۡيَٰنٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ وَبُشۡرَىٰ لِلۡمُسۡلِمِينَ ٨٩

And [mention] the Day when We will resurrect among every nation a witness over them from themselves [i.e., their prophet]. And We will bring you, [O Muḥammad], as a witness over these [i.e., your nation]. And We have sent down to you the Book as clarification for all things and as guidance and mercy and good tidings for the Muslims.1

"(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur`an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri." (An-Nahl: 89).

(89) Setelah Allah menyampaikan pada keterangan sebelum-nya, bahwa Dia membangkitkan seorang saksi pada setiap umat manusia, maka di sini Allah juga menyebutkan perihal tersebut. Secara khusus Allah membicarakan RasulNya yang mulia (Muham-mad). Allah berfirman, ﴾ وَجِئۡنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِۚ ﴿ "Dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas (seluruh) umat manusia," maksud-nya atas umatmu, bersaksi atas mereka dengan kebaikan dan ke-burukan. Ini termasuk kesempurnaan sifat keadilan Allah تعالى, bahwa setiap rasul bersaksi atas umatnya (sendiri). Pasalnya, dia adalah orang yang paling mengetahui amalan perbuatan umatnya daripada rasul lainnya, dan lebih adil lagi lebih sayang untuk (tidak) bersaksi atas mereka kecuali yang sesuai dengan apa yang berhak mereka terima. Keterangan ini seperti Firman Allah تعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةٗ وَسَطٗا لِّتَكُونُواْ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيۡكُمۡ شَهِيدٗاۗ ﴿ "Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." (Al-Baqarah: 143). Dan Allah تعالى juga berfirman, ﴾ فَكَيۡفَ إِذَا جِئۡنَا مِن كُلِّ أُمَّةِۭ بِشَهِيدٖ وَجِئۡنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ شَهِيدٗا 41 يَوۡمَئِذٖ يَوَدُّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَعَصَوُاْ ٱلرَّسُولَ لَوۡ تُسَوَّىٰ بِهِمُ ٱلۡأَرۡضُ ﴿ "Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila Kami men-datangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatang-kan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu. Pada hari itu, orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, ingin supaya mereka diratakan dengan tanah." (An-Nisa`: 41-42). FirmanNya, ﴾ وَنَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ تِبۡيَٰنٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur`an) untuk menjelaskan segala sesuatu," dalam masalah prinsip-prinsip agama atau cabang-cabangnya, tentang hukum-hukum di dunia dan akhirat serta segala yang diperlukan oleh para hamba. Ia benar-benar telah dijelaskan dengan paripurna, dengan teks-teks yang jelas dan makna-makna yang terang. Bahkan Allah kerap mengulang-ulang persoalan-persoalan besar yang di-butuhkan oleh hati karena (sering) bersentuhan dengannya setiap saat dan bolak-balik (mengerjakannya) setiap waktu, dan (Dia) me-nyuguhkan kembali dan memperlihatkannya dengan lafazh-lafazh yang berbeda-beda dan bukti-bukti (nyata) yang beraneka ragam, agar meresap dalam hati, sehingga membuahkan kebaikan dan kebajikan sesuai dengan kekonsistenannya di dalam hati. Bahkan Allah juga menyatukan dalam sebuah ungkapan ringan yang jelas, maknanya banyak, sehingga lafazh tersebut berperan sebagai kaidah dan dasar. Masuk dalam kategori ini, yaitu ayat-ayat yang datang setelah ayat ini, yang mengandung berbagai macam perintah dan larangan yang tidak terhitung banyaknya. Ketika al-Qur`an adalah penjelas bagi segala sesuatu, maka ia menjadi hujjah Allah di hadapan para hambaNya seluruhnya. Aki-batnya, hujjah-hujjah orang-orang yang berbuat aniaya terlumpuh-kan. Sementara kaum Muslimin mereguk kemanfaatan darinya, hingga menjadi sumber hidayah bagi mereka, menuntun dalam masalah agama dan dunia, dan sebagai rahmat yang mengantarkan mereka dapat menggapai kebaikan dunia dan akhirat. Hidayah yang mereka rengkuh berupa ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Se-dangkan bentuk rahmahnya adalah dampak (baik) dari hidayah tersebut, berupa pahala dunia dan akhirat, seperti keshalihan, ke-baikan dan ketenangan hati, kematangan akal yang tidak terwujud kecuali dengan membinanya berdasarkan nilai-nilainya yang me-rupakan nilai-nilai yang paling agung dan luhur, perbuatan-perbuat-an yang mulia, akhlak yang utama, rizki yang lapang, kemenangan atas para musuh dengan ucapan dan perbuatan, dan menggapai keridhaan Allah تعالى serta (suguhan) kemuliaanNya yang agung yang kenikmatan abadi di dalamnya tidak diketahui kecuali oleh Allah, Rabb Yang Maha Penyayang.

16:90Page 277

۞ إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ٩٠

Indeed, Allāh orders justice and good conduct and giving [help] to relatives and forbids immorality and bad conduct and oppression. He admonishes you that perhaps you will be reminded.

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan ber-buat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (An-Nahl: 90).

(90) Sikap keadilan yang Allah perintahkan, mencakup ke-adilan terhadap hakNya dan hak para hambaNya. Sikap keadilan dalam masalah itu, dengan cara menjalankan hak-hak yang ada secara komplet lagi utuh. Caranya, seorang hamba melaksanakan apa yang Allah wajibkan atas dirinya, berupa hak-hak yang berkait-an dengan kekayaan, fisik dan kombinasi antara keduanya berhu-bungan dengan hakNya dan hak-hak para hambaNya, bergaul de-ngan manusia dengan keadilan yang utuh. Setiap pemegang tang-gung jawab harus menjalankan kewajiban yang berada di bawah tanggungannya, baik ia memegang kekuasaan tertinggi atau kekuasa-an peradilan, atau wakil penguasa maupun wakil hakim. Jadi, ke-adilan hakikatnya adalah segala yang Allah wajibkan atas para hamba dalam kitabNya melalui lisan RasulNya dan memerintahkan mereka untuk menjalankannya. Termasuk (cermin) keadilan dalam bermuamalah, adalah engkau berinteraksi dengan mereka pada transaksi jual-beli dan transaksi timbal balik lainnya dengan meme-nuhi segala yang menjadi kewajibanmu. Jangan sekali-kali mengu-rangi hak mereka, jangan menipu mereka, atau memperdayai me-reka dan jangan pula menzhalimi mereka. Keadilan wajib (ditegak-kan). Perbuatan ihsan (baik) merupakan perilaku luhur lagi dianjur-kan. Misalnya, memberi bantuan kepada orang lain dalam bentuk uang, bantuan fisik, ilmu dan faidah lainnya. Masuk dalam penger-tian ini, berbuat baik kepada binatang, yang bisu dan dikonsumsi serta makhluk lainnya. Secara khusus Allah menyinggung pemberian kepada kaum kerabat, kendatipun sudah masuk dalam konteks umum, untuk menekankan tentang hak mereka dan keharusan untuk menjalin hubungan dengan mereka dan bersikap baik kepada mereka serta bersemangat untuk memenuhinya. Masuk dalam pengertian ini, seluruh kaum kerabat, yang dekat ataupun yang jauh. Akan tetapi, semakin dekat hubungan (darah)nya (dengan kita), maka ia semakin berhak menerima kebaikan. Firman Allah, ﴾ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ ﴿ "Dan Allah melarang dari perbuat-an keji," yaitu seluruh perbuatan dosa besar yang dinilai bejat oleh syariat dan fitrah manusia, semisal perbuatan syirik kepada Allah, membunuh tanpa alasan yang dibenarkan, zina, pencurian, bangga diri, sombong, menghinakan orang lain dan perbuatan keji lainnya. Termasuk dalam makna kemungkaran adalah, setiap dosa dan maksiat yang berkaitan dengan hak Allah تعالى. Sedangkan tin-dakan permusuhan yaitu setiap permusuhan terhadap sesama me-nyangkut darah, harta, dan kehormatan. Maka, ayat ini menghim-pun seluruh perintah dan larangan, tidak ada yang tersisa melain-kan pasti masuk ke dalamnya. Ini merupakan kaidah yang menjadi acuan dalam perkara-perkara parsial lainnya. Setiap persoalan yang menyangkut keadil-an, kebaikan atau pemberian kepada kaum kerabat, maka itu ter-masuk perkara yang Allah perintahkan. (Sebaliknya), setiap masalah yang memuat unsur kekejian, kemungkaran atau permusuhan, maka termasuk perkara yang Allah larang. Melalui ayat ini, dapat diketahui keindahan perintah yang Allah tetapkan, dan keburukan sesuatu yang Allah larang. Dengan dasar ayat ini pula, ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan yang ada pada orang-orang diperhitungkan dan diacukan kepadanya di se-tiap kondisi. Mahaberkah Allah, Dzat yang menjadikan pada Fir-man-firmanNya unsur hidayah, penyembuh dan cahaya serta pem-beda antara segala sesuatu. Karenanya, Allah berfirman, ﴾ يَعِظُكُمۡ ﴿ "Dia memberi pengajaran kepadamu," dengannya. Maksudnya dengan penjelasan yang disampaikan olehNya kepada kalian dalam Kitab-Nya, maka Dia memerintahkan kalian perkara yang berisi kebaikan bagi kalian dan melarang kalian dari perbuatan yang mengandung bahaya bagi kalian ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ﴿ "agar kamu dapat mengambil pelajaran," yaitu sesuatu yang memberimu pelajaran, sehingga kamu memahami dan menyerapnya. Sesungguhnya kalian jika dapat me-ngambil pelajaran dan memahaminya dan mengetahui isi kandu-ngannya, maka kalian pun akan berbahagia dengan kebahagiaan yang tidak disertai oleh celaka.

Setelah memerintahkan perkara yang wajib dalam substansi syariat, maka Allah memerintahkan untuk memenuhi apa yang di-wajibkan seorang hamba pada dirinya. Allah berfirman,

16:91–92Page 277

وَأَوۡفُواْ بِعَهۡدِ ٱللَّهِ إِذَا عَٰهَدتُّمۡ وَلَا تَنقُضُواْ ٱلۡأَيۡمَٰنَ بَعۡدَ تَوۡكِيدِهَا وَقَدۡ جَعَلۡتُمُ ٱللَّهَ عَلَيۡكُمۡ كَفِيلًاۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا تَفۡعَلُونَ ٩١

And fulfill the covenant of Allāh when you have taken it, [O believers], and do not break oaths after their confirmation while you have made Allāh, over you, a security [i.e., witness]. Indeed, Allāh knows what you do.

وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّتِي نَقَضَتۡ غَزۡلَهَا مِنۢ بَعۡدِ قُوَّةٍ أَنكَٰثٗا تَتَّخِذُونَ أَيۡمَٰنَكُمۡ دَخَلَۢا بَيۡنَكُمۡ أَن تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرۡبَىٰ مِنۡ أُمَّةٍۚ إِنَّمَا يَبۡلُوكُمُ ٱللَّهُ بِهِۦۚ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ مَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ ٩٢

And do not be like she who untwisted her spun thread after it was strong [by] taking your oaths as [means of] deceit between you because one community is more plentiful [in number or wealth] than another community.1 Allāh only tries you thereby. And He will surely make clear to you on the Day of Resurrection that over which you used to differ.

"Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji, dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesu-dah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah menge-tahui apa yang kamu perbuat. Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (per-janjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di Hari Kiamat akan dijelaskanNya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu." (An-Nahl: 91-92).

(91) Dan kandungan ayat ini mencakup seluruh hal yang dijanjikan seorang hamba kepada Rabbnya, berupa berbagai jenis ibadah, nadzar, sumpah yang telah dia tetapkan, jika pelaksanaan-nya merupakan sebuah kebajikan. Kandungan ayat ini juga menca-kup akad yang telah dia langsungkan dengan orang lain, seperti (isi) akad antara dua orang yang menjalin akad perjanjian, dan se-perti janji yang disampaikan oleh seorang hamba kepada orang lain dan ia telah meneguhkannya pada dirinya. Pada semua perka-ra itu, dia wajib memenuhi dan menyempurnakannya bila mampu. Oleh karena itu, Allah melarang pembatalannya. Allah berfirman, ﴾ وَلَا تَنقُضُواْ ٱلۡأَيۡمَٰنَ بَعۡدَ تَوۡكِيدِهَا ﴿ "Dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya," menetapkannya atas Nama Allah تعالى. ﴾ وَقَدۡ جَعَلۡتُمُ ٱللَّهَ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Sedang kamu telah menjadikan Allah atas kamu," wahai orang-orang yang saling membuat perjanjian-perjanjian ﴾ كَفِيلًاۚ ﴿ "sebagai saksi," maka kalian tidak boleh untuk tidak melangsungkan perkara yang mana Allah kamu jadikan sebagai saksinya. Akibatnya, engkau tidak mengagungkan Allah dan mela-kukan pelecehan terhadapNya. Pihak lain telah ridha dengan sum-pah dan penekanan yang mana kamu jadikan Allah padanya se-bagai saksi. Sebagaimana ia telah mempercayaimu dan berprasangka baik kepadamu, maka, tepatilah apa yang engkau ucapkan dan tegaskan kepadanya. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا تَفۡعَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya Allah me-ngetahui apa yang kamu perbuat," lalu Allah akan membalas setiap pelaku perbuatan atas dasar amalannya sesuai dengan niat dan maksudnya.

(92) ﴾ وَلَا تَكُونُواْ ﴿ "Dan janganlah kamu," saat membatalkan per-janjian-perjanjian, menjadi masuk dalam perumpamaan yang ter-buruk, paling jelek dan benar-benar menunjukkan kebodohan orang yang menjalankannya. Yaitu ﴾ كَٱلَّتِي ﴿ "seperti seorang perempuan," yang memintal (benang) dengan pintalan yang kuat, lalu ketika telah kokoh dan terealisasikan apa yang ia inginkan, maka dia mengurai-kannya dan menjadikannya ﴾ أَنكَٰثٗا ﴿ "bercerai berai kembali." Sudah kepayahan dalam memintal dan kelelahan untuk menguraikannya, namun dia tidak mendapatkan manfaat (dari perbuatannya) selain kegagalan, kepayahan, dan ketololan akalnya serta kepincangan pikiran. Begitu pula orang yang mengurai perjanjian yang telah dia tetapkan. Ia adalah orang yang berbuat zhalim, bodoh, idiot, kurang agama dan tata krama. Firman Allah, ﴾ تَتَّخِذُونَ أَيۡمَٰنَكُمۡ دَخَلَۢا بَيۡنَكُمۡ أَن تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرۡبَىٰ مِنۡ أُمَّةٍۚ ﴿ "Kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain," maksudnya, kondisi demikian ini tidak pantas terjadi pada kalian, yaitu menetapkan sumpah-sumpah yang diteguhkan dan menunggu-nunggu kesempatan, lalu ketika pembuat perjanjian lemah, tidak mampu mengalahkan pihak lain, maka dia memenuhi perjanjian tersebut, bukan karena niatan untuk mengagungkan perjanjian dan sumpah, tetapi untuk melemahkan-nya. Apabila posisinya kuat dan melihat adanya kepentingan dunia-wi dalam pembatalannya, maka dia menggugurkannya, tanpa peduli dengan janji dan sumpahnya kepada Allah. Kejadian-kejadian itu semua terjadi berdasarkan hawa nafsu jiwanya dan lebih mengu-tamakannya daripada keinginan Allah dan norma-norma kemanu-siaan dan moral yang terpuji. Agar kalian menjadi umat yang lebih besar jumlah dan kekuatannya dibandingkan umat lainnya. Ini me-rupakan ujian dan cobaan dari Allah agar [Allah] menguji kalian dengannya melalui cara mendatangkan berbagai sebab kausalitas terjadinya cobaan yang menjadi alat penguji bagi orang yang jujur lagi menepati (janjinya)(dibedakan) dari orang yang jahat lagi ce-laka. ﴾ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ مَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya di Hari Kiamat akan dijelaskanNya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu," maka Allah memberi alasan kepada setiap orang dengan amalan-nya, dan menghinakan orang yang melanggar janji.

16:93Page 277

وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ وَلَٰكِن يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ وَلَتُسۡـَٔلُنَّ عَمَّا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ٩٣

And if Allāh had willed, He could have made you [of] one religion, but He sends astray whom He wills and guides whom He wills.1 And you will surely be questioned about what you used to do.

"Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan." (An-Nahl: 93).

(93) Maksudnya, ﴾ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ ﴿ "Dan kalau Allah menghendaki," niscaya Dia menyatukan manusia di atas petunjuk dan menjadikan kalian ﴾ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "satu umat (saja)," akan tetapi, Allah-lah satu-satunya yang memegang kendali hidayah dan penyesatan. Pemberian hi-dayah dan penyesatanNya termasuk dalam perbuatan-perbuatan Allah yang mengacu pada ilmu dan hikmahNya. Dia memberikan hidayah kepada orang yang berhak sebagai bentuk keutamaanNya, dan Dia menghalang-halangi hidayah dari orang yang tidak pantas menerimanya sebagai bentuk keadilanNya. ﴾ وَلَتُسۡـَٔلُنَّ عَمَّا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan," berupa perbuatan yang baik dan buruk. Allah akan membalas me-reka atas amal perbuatan mereka dengan balasan yang setimpal dan paling adil.

16:94Page 278

وَلَا تَتَّخِذُوٓاْ أَيۡمَٰنَكُمۡ دَخَلَۢا بَيۡنَكُمۡ فَتَزِلَّ قَدَمُۢ بَعۡدَ ثُبُوتِهَا وَتَذُوقُواْ ٱلسُّوٓءَ بِمَا صَدَدتُّمۡ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَكُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ٩٤

And do not take your oaths as [means of] deceit between you, lest a foot slip after it was [once] firm, and you would taste evil [in this world] for what [people] you diverted from the way of Allāh,1 and you would have [in the Hereafter] a great punishment.

"Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan kaki(mu) tergelincir sesudah kokoh tegaknya, dan kamu rasakan keburukan karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan kamu mendapatkan azab yang pedih." (An-Nahl: 94).

(94) ﴾ وَلَا تَتَّخِذُوٓاْ أَيۡمَٰنَكُمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sum-pahmu," dan perjanjian-perjanjian serta fakta kerjasamamu mem-perturutkan hawa nafsu kalian. Kapan kalian mau menepatinya, maka kalian jalankan, dan kapan saja kalian ingin membatalkan, maka (langsung) kalian lakukan. Sesungguhnya jika kalian berbuat semacam ini, niscaya kaki kalian tergelincir sesudah kokoh tegak-nya di atas jalan lurus ﴾ وَتَذُوقُواْ ٱلسُّوٓءَ ﴿ "dan kamu rasakan keburukan," maksudnya siksa yang memperburuk dan menyedihkan kalian ﴾ بِمَا صَدَدتُّمۡ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah," lantaran kalian telah sesat dan menyesatkan orang lain ﴾ وَلَكُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "dan kamu mendapatkan azab yang pedih," yang berlipat-lipat.

16:95–97Page 278

وَلَا تَشۡتَرُواْ بِعَهۡدِ ٱللَّهِ ثَمَنٗا قَلِيلًاۚ إِنَّمَا عِندَ ٱللَّهِ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٩٥

And do not exchange the covenant of Allāh for a small price. Indeed, what is with Allāh is best for you, if only you could know.

مَا عِندَكُمۡ يَنفَدُ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ بَاقٖۗ وَلَنَجۡزِيَنَّ ٱلَّذِينَ صَبَرُوٓاْ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٦

Whatever you have will end, but what Allāh has is lasting. And We will surely give those who were patient their reward according to the best of what they used to do.

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧

Whoever does righteousness, whether male or female, while he is a believer - We will surely cause him to live a good life, and We will surely give them their reward [in the Hereafter] according to the best of what they used to do.

"Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah de-ngan harga yang sedikit (murah). Sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apa yang dari sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan ke-pada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya ke-hidupan yang baik, dan sungguh akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (An-Nahl: 95-97).

(95) Allah تعالى memperingatkan para hambaNya dari (tin-dakan) membatalkan janji-janji dan sumpah-sumpah karena (ingin mendapatkan) kenikmatan dan kekayaan dunia. Allah berfirman, ﴾ وَلَا تَشۡتَرُواْ بِعَهۡدِ ٱللَّهِ ثَمَنٗا قَلِيلًاۚ ﴿ "Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit (murah)," yaitu kalian mendapatkan dunia (ditukar) dengan membatalkan dan tidak menepatinya. ﴾ إِنَّمَا عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah," berupa balasan se-gera (di dunia) dan ganjaran menyusul (di akhirat) adalah bagi orang yang lebih mengutamakan ridha Allah dan menepati apa yang telah dia tetapkan kepada Allah ﴾ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "itulah yang lebih baik bagimu," daripada kenikmatan dunia yang fana ﴾ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "jika kamu mengetahui."

(96) Maka utamakanlah kenikmatan yang lestari di atas ke-nikmatan yang fana. Sesungguhnya ﴾ م َ ا عِندَكُمۡ ﴿ "apa yang ada di sisimu," meskipun berjumlah banyak sekali, pasti akan lenyap dan hilang ﴾ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ بَاقٖۗ ﴿ "dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal," dengan ke-abadian yang Allah tetapkan baginya, tidak hilang dan tidak sirna. Maka bukanlah insan yang cerdik orang yang lebih mengedepankan barang yang (akan) sirna lagi bernilai rendah di atas kenikmatan yang lestari lagi bernilai tinggi. Pengertian ini senada dengan kan-dungan Firman Allah, ﴾ بَلۡ تُؤۡثِرُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا 16 وَٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ وَأَبۡقَىٰٓ 17 ﴿ "Tetapi kamu (orang-orang kafir) lebih mengutamakan kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal." (Al-A'la: 16-17). ﴾ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لِّلۡأَبۡرَارِ 198 ﴿ "Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti." (Ali Imran: 198). Padanya terdapat himbauan dan anjuran untuk bersifat zuhud di dunia, terutama sifat zuhud yang sudah semestinya ditempuh. Yaitu zuhud dari perkara-perkara yang akan menjadi bahaya pada seorang hamba dan menimbulkan kesibukan seorang hamba se-hingga melupakan hal-hal yang diwajibkan Allah atas dirinya dan mendahulukannya atas hak Allah. Sesungguhnya zuhud inilah yang mesti ada. Di antara faktor pendorong untuk berzuhud, adalah hendak-nya seorang hamba membandingkan kenikmatan-kenikmatan dunia dan godaan-godaan syahwatnya dengan kebaikan-kebaikan di akhi-rat. (Dengan itu), dia akan menjumpai perbedaan dan jenjang yang berpotensi mengajaknya untuk lebih mengutamakan perkara yang paling luhur dari dua perkara itu. Bukanlah termasuk zuhud yang terpuji, yaitu dengan mengasingkan diri untuk beribadah saja dengan ibadah qashirah (yang hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri), seperti Shalat, puasa, dzikir dan lainnya. Bahkan seorang hamba tidak di-sebut zuhud dengan cara yang benar, sampai dia mengerjakan perin-tah-perintah agama yang mampu dia kerjakan, yang zahir dan batin, dakwah kepada Allah dan kepada agamaNya melalui ucapan dan tindakan. Zuhud yang sebenarnya, ialah merasa tidak butuh kepada sesuatu yang tidak bermanfaat bagi agama dan dunia, dan beranimo serta berusaha berbuat yang bermanfaat. ﴾ وَلَنَجۡزِيَنَّ ٱلَّذِينَ صَبَرُوٓاْ ﴿ "Dan se-sungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar," atas ketaatan kepada Allah dan bersabar dari maksiat kepadaNya dan mengekang jiwa-jiwa mereka dari jeratan syahwat dunia yang berbahaya bagi agamanya, ﴾ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan," satu kebaikan di-ganjar sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat, sampai peng-gandaan hitungan yang banyak sekali. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik

(97) Oleh karena itu, Allah menyebutkan balasan bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia dan akhirat, ﴾ مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman." Sesungguhnya keberada-an iman menjadi syarat sah dan diterimanya amalan shalih. Bahkan tidak bisa disebut amal shalih kecuali disertai dengan keimanan. (Karena) iman menuntut (munculnya) amal shalih. Sesungguhnya iman adalah pembenaran yang teguh lagi membuahkan amalan-amalan anggota badan, baik perbuatan yang wajib maupun sunnah. Barangsiapa telah mengkombinasikan antara iman dan amal shalih, ﴾ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ ﴿ "maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik." Hal tersebut dengan pemberian ketentraman hati dan ketenangan jiwa serta tiada menoleh kepada obyek yang mengganggu hatinya, dan Allah memberinya rizki yang halal lagi baik dari arah yang tidak disangka-sangkanya ﴾ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ ﴿ "dan sung-guh akan Kami berikan balasan kepada mereka," di akhirat ﴾ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan," berupa aneka kenikmatan (surgawi) yang tidak pernah dilihat oleh pandangan mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terbetik di dalam hati manusia. Maka Allah mem-berinya kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. 9

16:98–100Page 278

فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ ٩٨

So when you recite the Qur’ān, [first] seek refuge in Allāh from Satan, the expelled [from His mercy].

إِنَّهُۥ لَيۡسَ لَهُۥ سُلۡطَٰنٌ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ ٩٩

Indeed, there is for him no authority over those who have believed and rely upon their Lord.

إِنَّمَا سُلۡطَٰنُهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ يَتَوَلَّوۡنَهُۥ وَٱلَّذِينَ هُم بِهِۦ مُشۡرِكُونَ ١٠٠

His authority is only over those who take him as an ally and those who through him associate others with Allāh.

"Apabila kamu membaca al-Qur`an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sesungguh-nya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang ber-iman dan bertawakal kepada Rabbnya. Sesungguhnya kekuasaan-nya (setan) hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya seba-gai pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah." (An-Nahl: 98-100).

(98-100) Maksudnya, jika kamu hendak membaca Kitabullah yang merupakan kitab termulia dan paling agung, -di dalamnya terkandung muatan yang memperbaiki hati dan ilmu yang banyak-, maka sesungguhnya setan sangat antusias menggoda seorang hamba saat ia akan memulai mengerjakan amalan-amalan yang utama, lalu berusaha untuk membelokkannya dari tujuan dan nilai-nilainya. Jalan menuju keselamatan dari gangguan setan ialah kembali ke-pada Allah dan berlindung kepada Allah dari kejahatannya, mem-baca, أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ (aku berlindung kepadaNya dari godaan setan yang terkutuk) dengan merenungi maknanya dan hatinya berserah diri kepada Allah agar menyingkirkan setan darinya, tekun untuk mengenyahkan bisikan-bisikan dan imajinasi-imajinasinya, mengerahkan tenaga untuk menempuh faktor paling kuat guna mengusirnya. Yaitu menghiasi diri dengan baju iman dan tawakal. Sesungguhnya setan itu ﴾ لَيۡسَ لَهُۥ سُلۡطَٰنٌ ﴿ "tidak ada kekuasaannya," mak-sudnya, penguasaan ﴾ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ ﴿ "atas orang-orang yang beriman, dan kepada Rabbnya," semata, tiada sekutu bagiNya ﴾ يَتَوَكَّلُونَ ﴿ "mereka bertawakal," maka Allah menyingkirkan keburukan setan dari kaum Mukminin yang bertawakal kepadaNya, hingga tiada celah tersisa baginya atas mereka. ﴾ إِنَّمَا سُلۡطَٰنُهُۥ ﴿ "Sesungguhnya ke-kuasaannya (setan) hanyalah," maksudnya, p e n g u a s a a n n y a ﴾ عَلَى ٱلَّذِينَ يَتَوَلَّوۡنَهُۥ ﴿ "atas orang-orang yang menjadikannya sebagai pemimpin," men-jadikannya sebagai pemimpin bagi mereka. Demikian itu, dengan cara melepaskan diri dari (bimbingan) kepemimpinan Allah dan masuk ke dalam ketaatan kepada setan serta bergabung dengan pasukannya. Mereka sendirilah yang memberikan (tongkat) kepe-mimpinan bagi setan atas diri mereka. Maka setan betul-betul men-dorong mereka ke kubangan maksiat dan menghalau mereka ke neraka dengan sungguh-sungguh.

16:101–102Page 278

وَإِذَا بَدَّلۡنَآ ءَايَةٗ مَّكَانَ ءَايَةٖ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا يُنَزِّلُ قَالُوٓاْ إِنَّمَآ أَنتَ مُفۡتَرِۭۚ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ١٠١

And when We substitute a verse in place of a verse - and Allāh is most knowing of what He sends down - they say, "You, [O Muḥammad], are but an inventor [of lies]." But most of them do not know.

قُلۡ نَزَّلَهُۥ رُوحُ ٱلۡقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِٱلۡحَقِّ لِيُثَبِّتَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهُدٗى وَبُشۡرَىٰ لِلۡمُسۡلِمِينَ ١٠٢

Say, [O Muḥammad], "The Pure Spirit [i.e., Gabriel] has brought it down from your Lord in truth to make firm those who believe and as guidance and good tidings to the Muslims."

"Dan apabila Kami mengganti suatu ayat dengan ayat yang lain padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkanNya, me-reka berkata, 'Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja.' Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui. Kata-kanlah, 'Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan al-Qur`an itu dari Rabbmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)'." (An-Nahl: 101-102).

(101) Allah تعالى memperingatkan bahwa kaum yang mendus-takan al-Qur`an ini, mencari-cari ayat yang bisa mereka pakai untuk pembelaan diri, yaitu bahwa Allah تعالى adalah Dzat Yang Maha Menetapkan lagi Bijaksana, mensyariatkan hukum-hukum dan meng-ganti hukum di tempat lainnya karena (dorongan) sifat bijaksana dan rahmatNya. Bila mereka menyaksikan penggantian ini, maka mereka mencela kehormatan Rasulullah dan risalah yang beliau bawa. ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّمَآ أَنتَ مُفۡتَرِۭۚ ﴿ "Mereka berkata, 'Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja'," maka Allah membantah mereka dengan berfirman, ﴾ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui," mereka itu bodoh (tentang masalah ini), tidak mem-punyai ilmu tentang Rabb mereka dan syariatNya. Sudah diketahui (bersama), bahwasanya tuduhan yang dilancarkan orang bodoh, tanpa dasar ilmu, adalah tidak perlu diperhitungkan. Sesungguh-nya komentar (miring) tentang sesuatu merupakan bagian dari pe-ngetahuannya tentang masalah tersebut dan merupakan isi kandu-ngannya yang menghasilkan keluarnya pujian atau cemoohan.

(102) Oleh karena itu, Allah تعالى menyebutkan (sifat) hikmah-Nya dalam perkara ini. Allah berfirman, ﴾ قُلۡ نَزَّلَهُۥ رُوحُ ٱلۡقُدُسِ ﴿ "Kata-kanlah, 'Ruhul Qudus menurunkan al-Qur`an itu'," yaitu Jibril, utusan yang suci lagi bebas dari sifat cacat, pengkhianatan dan kekurangan yang lain, ﴾ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "dengan benar," maksudnya turunnya dengan ke-benaran, berisi kebenaran dalam berita-beritanya, perintah-perintah-nya dan larangan-larangannya. Tidak ada cara bagi siapa pun untuk melancarkan kritikan (miring) kepadanya dengan alasan yang akurat. Pasalnya, bila telah diketahui bahwa al-Qur`an adalah ke-benaran, maka diketahui pula bahwa yang melawan dan menen-tangnya berarti batil ﴾ لِيُثَبِّتَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman," ketika ayat turun dan datang kepada mereka, dari waktu ke waktu. Kebenaran senantiasa mengalir ke kalbu-kalbu mereka sedikit demi sedikit, sampai keimanan mereka lebih kokoh daripada gunung yang terpancang kokoh. Begitu pula, mereka mengetahui bahwa al-Qur`an adalah se-buah kebenaran, jika Allah mensyariatkan sebuah hukum kemudian menghapusnya (diganti dengan hukum yang lain) niscaya mereka mengetahui bahwa Allah menggantinya dengan yang semisalnya atau yang lebih baik darinya bagi mereka, dan mereka meyakini bahwasanya penggantian hukum tersebut itulah yang sejalan dengan hikmah ilahi dan korelasi yang rasional ﴾ وَهُدٗى وَبُشۡرَىٰ لِلۡمُسۡلِمِينَ ﴿ "dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)," maksudnya, petunjuk yang menuntun mereka ke-pada inti-inti permasalahan, menjelaskan bagi mereka kebenaran dari kebatilan, hidayah dari kesesatan, memberi kabar gembira kepada mereka bahwa mereka mendapatkan pahala yang baik, me-netap di sana selama-lamanya. Begitu pula, setiap sesuatu turun sedikit demi sedikit, maka itu menjadi lebih besar pengaruh hidayah dan kabar gembiranya bagi mereka, daripada datang kepada mereka sekali saja secara sekaligus. Pikiran pun tercerai-berai menghadapi-nya. Akan tetapi, (cara yang ditempuh), Allah menurunkan satu hukum atau kadang-kadang lebih. Bila mereka telah memahami dan mencernanya serta mengetahui maksud kandungan dari hukum tersebut dan telah menguasainya, maka Allah menurunkan hukum yang semisalnya… demikian seterusnya. Karena itu, para sahabat telah mencapai tingkatan tinggi dalam menguasainya. Perilaku dan tabiat mereka berubah baik, beralih ke akhlak dan kebiasaan serta tindak-tanduk yang sanggup mengalah-kan generasi pertama manusia dan generasi terakhir dengannya. Maka, idealnya dan sepatutnya generasi setelah mereka terdidik dengan ilmu-ilmu al-Qur`an, dan menghiasi diri dengan akhlaknya, mencari bimbingan melalui cahayanya di dalam kegelapan kesesat-an dan kebodohan-kebodohan, mendaulatnya sebagai panutan me-reka dalam seluruh kondisi. Dengan itu, urusan-urusan agama dan duniawi mereka akan lurus.

16:103–105Page 279

وَلَقَدۡ نَعۡلَمُ أَنَّهُمۡ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُۥ بَشَرٞۗ لِّسَانُ ٱلَّذِي يُلۡحِدُونَ إِلَيۡهِ أَعۡجَمِيّٞ وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيّٞ مُّبِينٌ ١٠٣

And We certainly know that they say, "It is only a human being who teaches him [i.e., the Prophet (ﷺ)]." The tongue of the one they refer to is foreign,1 and this [recitation, i.e., Qur’ān] is [in] a clear Arabic language.

إِنَّ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ لَا يَهۡدِيهِمُ ٱللَّهُ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ ١٠٤

Indeed, those who do not believe in the verses of Allāh - Allāh will not guide them, and for them is a painful punishment.

إِنَّمَا يَفۡتَرِي ٱلۡكَذِبَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ١٠٥

They only invent falsehood who do not believe in the verses of Allāh, and it is those who are the liars.

"Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, 'Sesungguhnya al-Qur`an itu diajarkan oleh seorang manusia ke-padanya (Muhammad).' Padahal bahasa orang yang mereka tuduh-kan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya adalah bahasa 'Ajam, sedang al-Qur`an adalah dalam Bahasa Arab yang terang. Sesung-guhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (al-Qur`an), maka Allah tidak akan memberi petunjuk kepada me-reka, dan mereka mendapatkan azab yang pedih. Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta." (An-Nahl: 103-105).

(103) Allah تعالى mengabarkan mengenai komentar kaum musyrikin yang mendustakan RasulNya, ﴾ أَنَّهُمۡ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُۥ ﴿ "Bahwa mereka berkata, 'Sesungguhnya al-Qur`an itu diajarkan kepadanya (Mu-hammad)'," maksudnya kitab yang ia bawa ini (diajarkan oleh) ﴾ بَشَرٞۗ ﴿ "seorang manusia," padahal orang yang mereka maksud adalah ber-bahasa A'jam. ﴾ وَهَٰذَا ﴿ "Sedang ini," yaitu al-Qur`an ﴾ لِسَانٌ عَرَبِيّٞ مُّبِينٌ ﴿ "adalah dalam Bahasa Arab yang terang," apakah ucapan semacam ini mungkin terjadi atau masih mengandung sisi kebenaran? Akan tetapi, seorang pendusta hanya ingin berbohong, tanpa berpikir tentang muara omongan dustanya. Karena itu, dalam ungkapan-nya terkandung unsur saling bertolak belakang dan kerusakan yang mengharuskan penolakannya, dengan hanya mengimajinasikan faktanya (yang tidak mungkin terjadi).

(104) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (al-Qur`an)," yang menunjukkan dengan tegas kepada kebenaran yang nyata, maka mereka justru menolak dan tidak (sudi) menerimanya. ﴾ لَا يَهۡدِيهِمُ ٱللَّهُ ﴿ "Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka," lantaran hidayah telah datang kepada mereka, namun mereka menolak. Akibatnya, mereka didera hukuman, berupa terhalangi (dari rahmat) dan dibiarkan oleh Allah tanpa bimbingan. ﴾ وَلَهُمۡ ﴿ "Dan mereka mendapatkan," di akhirat ﴾ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿ "azab yang pedih."

(105) ﴾ إِنَّمَا يَفۡتَرِي ٱلۡكَذِبَ ﴿ "Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah," maksudnya aksi kebohongan semata-mata muncul dari ﴾ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِۖ ﴿ "orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah," semisal para penentang Rasulullah, setelah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata ﴾ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "dan mereka itulah orang-orang pendusta," maksudnya praktik kedusta-an sudah terpola pada mereka. Predikat ini lebih pantas dilontar-kan kepada mereka daripada orang lain. Sementara itu, Muhammad yang beriman kepada ayat-ayat Allah, yang patuh kepada Rabbnya, mustahil beliau berdusta atas Nama Allah dan mengada-adakan perkataan atas NamaNya yang tidak pernah difirmankanNya. Para musuh menuduh beliau dengan kedustaan yang sebenarnya men-jadi predikat mereka. Maka, Allah memperlihatkan kehinaan mereka dan menerangkan keburukan-keburukan mereka. BagiNya تعالى se-gala pujian.

(106-108 ) Allah تعالى memberitahukan tentang kebejatan kon-disi orang yang mengingkariNya setelah sebelumnya pernah ber-iman. Ia menjadi buta setelah dapat memandang (dengan mata-nya), ia kembali kepada kesesatan sesudah (mengenyam) hidayah, melapangkan dadanya untuk kekufuran dalam keadaan ridha dan tenang dengannya, mereka itu mendapatkan kemurkaan yang besar dari Rabb yang Maha Penyayang, yang jika Dia marah, maka tidak ada sesuatu pun yang bisa menahan kemarahanNya, dan semua akan ikut memurkai mereka. ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "Dan mereka menda-patkan azab yang besar," yaitu pada puncak kedahsyatannya, serta bersifat abadi selama-lamanya. Demikian itu, karena mereka, ﴾ بِأَنَّهُمُ ٱسۡتَحَبُّواْ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا عَلَى ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat," mereka berbalik murtad lagi, lantaran rakus untuk mengais secuil harta dunia dan menyukainya, kurang perhatian terhadap kebaikan akhirat. Ketika mereka lebih memilih kekufuran dibandingkan keiman-an, maka Allah menghalangi hidayah dari mereka, lalu tidak me-nunjuki mereka. Karena kekufuran sudah menjadi sifat mereka sehingga terpatri pada hati-hati mereka, maka kebaikan pun tidak mampu menembusnya. Hati dan pandangan mereka pun terpatri. Maka hal-hal yang bermanfaat bagi mereka tidak bisa masuk pada alat indera itu dan tidak bisa mencapai hati mereka. Kelalaian telah menyelimuti mereka dan keterlantaran (dari perhatian Allah) telah melingkupi mereka. Maka, mereka terganjal (untuk dapat meraih) rahmat Allah yang meliputi segala sesuatu. Demikian ini, karena telah datang hidayah kepada mereka, namun mereka tolak. Dan telah disuguhkan kepada mereka, akan tetapi mereka tidak sudi menerimanya.

Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences

Contents

Ayat al-Kursi36Al-Kahfpage 42juz 15Bukhari 1Muslim 2999

Style

Theme
Text size
Layout

Читать на русском