As-Sa'diMaryam · 19:27–53

As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian

Maryam 19:27–53

19:27–33Page 307

فَأَتَتۡ بِهِۦ قَوۡمَهَا تَحۡمِلُهُۥۖ قَالُواْ يَٰمَرۡيَمُ لَقَدۡ جِئۡتِ شَيۡـٔٗا فَرِيّٗا ٢٧

Then she brought him to her people, carrying him. They said, "O Mary, you have certainly done a thing unprecedented.

يَٰٓأُخۡتَ هَٰرُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ ٱمۡرَأَ سَوۡءٖ وَمَا كَانَتۡ أُمُّكِ بَغِيّٗا ٢٨

O sister [i.e., descendant] of Aaron, your father was not a man of evil, nor was your mother unchaste."

فَأَشَارَتۡ إِلَيۡهِۖ قَالُواْ كَيۡفَ نُكَلِّمُ مَن كَانَ فِي ٱلۡمَهۡدِ صَبِيّٗا ٢٩

So she pointed to him. They said, "How can we speak to one who is in the cradle a child?"

قَالَ إِنِّي عَبۡدُ ٱللَّهِ ءَاتَىٰنِيَ ٱلۡكِتَٰبَ وَجَعَلَنِي نَبِيّٗا ٣٠

[Jesus] said, "Indeed, I am the servant of Allāh. He has given me the Scripture and made me a prophet.

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيۡنَ مَا كُنتُ وَأَوۡصَٰنِي بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ مَا دُمۡتُ حَيّٗا ٣١

And He has made me blessed wherever I am and has enjoined upon me prayer and zakāh as long as I remain alive

وَبَرَّۢا بِوَٰلِدَتِي وَلَمۡ يَجۡعَلۡنِي جَبَّارٗا شَقِيّٗا ٣٢

And [made me] dutiful to my mother, and He has not made me a wretched tyrant.

وَٱلسَّلَٰمُ عَلَيَّ يَوۡمَ وُلِدتُّ وَيَوۡمَ أَمُوتُ وَيَوۡمَ أُبۡعَثُ حَيّٗا ٣٣

And peace is on me the day I was born and the day I will die and the day I am raised alive."

"Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.' Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang penjahat, dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.' Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata, 'Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan.' Isa berkata, 'Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku al-Kitab (Injil), dan Dia menjadikanku seorang nabi, dan Dia men-jadikanku seorang yang berbakti di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikanku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejah-teraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali'." (Maryam: 27-33).

(27) Maksudnya, setelah bersih dari masa nifasnya, Maryam mendatangi kaumnya sambil membawa Isa. (Keberaniannya untuk datang) lantaran dia mengetahui kesucian dan kebersihan dirinya (dari zina). Ia datang tanpa peduli, lagi tanpa beban. Kaumnya mengatakan, ﴾ لَقَدۡ جِئۡتِ شَيۡـٔٗا فَرِيّٗا ﴿ "Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar," yaitu dosa besar lagi bejat. Maksud mereka adalah perbuatan zina. Alangkah terpeliharanya dia dari perbuatan itu.

(28) ﴾ يَٰٓأُخۡتَ هَٰرُونَ ﴿ "Hai saudara perempuan Harun," zahir ayat ini menunjukkan bahwa Harun adalah saudara aslinya, sehingga mereka menisbatkannya kepada Harun. [Kebiasaan mereka pada zaman dahulu adalah menggunakan nama-nama para nabi. Akan tetapi, Harun ini bukan Harun putra 'Imran, saudara Nabi Musa عليهما السلام, karena antara keduanya ada jarak masa berabad-abad lamanya]. ﴾ مَا كَانَ أَبُوكِ ٱمۡرَأَ سَوۡءٖ وَمَا كَانَتۡ أُمُّكِ بَغِيّٗا 28 ﴿ "Ayahmu sekali-kali bukanlah seorang penjahat, dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina," mak-sudnya tidaklah dua orang tuamu melainkan orang-orang shalih, selamat dari perbuatan jelek, terutama perbuatan jelek yang mereka isyaratkan (yaitu zina). Maksud ucapan mereka, "Kenapa sifatmu berbeda dengan sifat mereka berdua, dengan melakukan perbuatan yang tidak pernah mereka lakukan?" Hal ini disebabkan biasanya, anak keturunan itu mengikuti sebagian sifat baik atau buruk orang tua. Maka, mereka merasa heran berdasarkan pengetahuan yang ada dalam hati mereka, bagaimana mungkin perbuatan ini terjadi pada Maryam?!

(29) ﴾ فَأَشَارَتۡ ﴿ "Maka Maryam menunjuk," maka Maryam mengacungkan isyarat kepada mereka ﴾ إِلَيۡهِۖ ﴿ "kepada anaknya" ke arah Isa. Maksudnya, "Berbicaralah kalian dengan dia!" Maryam memberikan isyarat karena dia diperintahkan ketika hendak ber-bicara dengan kaumnya, agar mengatakan, ﴾ إِنِّي نَذَرۡتُ لِلرَّحۡمَٰنِ صَوۡمٗا فَلَنۡ أُكَلِّمَ ٱلۡيَوۡمَ إِنسِيّٗا 26 ﴿ "Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk Dzat Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang ma-nusia pun pada hari ini," (Maryam: 26). Dikala Maryam memberikan isyarat kepada mereka agar melakukan komunikasi dengan Isa, mereka terheran-heran dan mengatakan, ﴾ كَيۡفَ نُكَلِّمُ مَن كَانَ فِي ٱلۡمَهۡدِ صَبِيّٗا 29 ﴿ "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?" Karena hal itu merupakan perkara yang tidak biasa (aneh), dan tidak pernah terjadi pada seorang pun pada usia itu.

(30) Pada saat itulah, Isa putra Maryam mengatakan (pada-hal dia bayi yang berada di ayunan), ﴾ إِنِّي عَبۡدُ ٱللَّهِ ءَاتَىٰنِيَ ٱلۡكِتَٰبَ وَجَعَلَنِي نَبِيّٗا 30 ﴿ "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku al-Kitab (Injil), dan Dia menjadikanku seorang nabi." Isa menerangkan kepada mereka dengan menggunakan predikat 'hamba', dan bahwa dia tidak memiliki sifat yang membuatnya pantas menjadi tuhan, atau anak tuhan. Mahatinggi Allah dari perkataan orang-orang Nasrani yang menyelisihi perkataan Isa dalam pernyataannya ﴾ إِنِّي عَبۡدُ ٱللَّهِ ﴿ "Sesung-guhnya aku ini hamba Allah," sementara itu, mereka mengaku-ngaku mengikuti Nabi Isa. ﴾ ءَاتَىٰنِيَ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Dia memberiku al-Kitab (Injil)." Allah telah menetapkan akan memberikan al-Kitab kepadaku ﴾ وَجَعَلَنِي نَبِيّٗا ﴿ "dan Dia menjadikanku seorang nabi," lalu dia memberitahukan kepada mereka bahwa dirinya itu hamba Allah, dan bahwa Allah telah mengajarinya sebuah kitab dan memasukkannya ke dalam golongan para nabi. Ini adalah penjelasan Isa tentang kesempurnaan dirinya.

(31) Lantas, dia menyebutkan (upaya) penyempurnaannya untuk kemaslahatan orang lain. Dia mengatakan, ﴾ وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيۡنَ مَا كُنتُ ﴿ "Dan Dia menjadikanku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada," yaitu di setiap tempat dan waktu. Allah mencurahkan keberkahan padaku, berupa mengajarkan kebaikan dan mendak-wahkannya, melarang dari perbuatan jahat, dan berdakwah kepada Allah dengan perkataan dan perbuatan. Jadi, semua orang yang bergaul, atau berkumpul dengannya, niscaya memperoleh keber-kahan ini, dan orang yang berinteraksi dengan beliau akan berbaha-gia. ﴾ وَأَوۡصَٰنِي بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ مَا دُمۡتُ حَيّٗا 31 ﴿ "Dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup," maksud-nya aku diperintahkan untuk melaksanakan hak-hak Allah. Di antara hak Allah teragung adalah penegakan shalat. Aku juga di-perintahkan (untuk melaksanakan) hak-hak para hamba. Di antara hak terbesar mereka adalah pembayaran zakat, selama hidupku. Maksudnya, aku taat kepada perintah Rabbku, mengamalkannya dan menunaikannya.

(32) Allah juga memerintahkan kepadaku agar berbakti kepada ibuku. Maka aku melakukan sikap yang terbaik kepadanya. Aku mengerjakan buat ibuku apa yang sudah semestinya dilaku-kan, karena kemuliaan dan keutamaannya, dan juga karena dia adalah seorang ibu yang memiliki hak (yang muncul atas) kelahiran dan hak-hak penyertanya. ﴾ وَلَمۡ يَجۡعَلۡنِي جَبَّارٗا ﴿ "Dan Dia tidak menjadi-kanku seorang yang sombong," maksudnya sombong kepada Allah dan kepada para hamba Allah ﴾ شَقِيّٗا 32 ﴿ "lagi celaka," di dunia atau akhirat. Allah tidak menjadikanku seperti itu. Namun, menjadikan-ku sebagai orang yang taat kepadaNya, tunduk, khusyu dan me-rendahkan diri kepada para hamba Allah, bahagia di dunia dan akhirat, aku dan orang yang mengikutiku.

(33) Sesudah tercapai kesempurnaan dan perilaku-perilaku terpuji baginya, dia mengatakan, ﴾ وَٱلسَّلَٰمُ عَلَيَّ يَوۡمَ وُلِدتُّ وَيَوۡمَ أَمُوتُ وَيَوۡمَ أُبۡعَثُ حَيّٗا 33 ﴿ "Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali," maksudnya lantaran karunia Rabbku dan kemurahan-Nya, telah terwujud keselamatan bagiku dari kejahatan setan dan siksa pada hari kelahiranku, hari kematianku dan Hari Kebangkitan-ku. Ini menunjukkan bahwa Isa selamat dari kengerian-kengerian dan tempat orang-orang jahat (neraka), bahkan dia termasuk peng-huni surga. Ini merupakan mukjizat yang luar biasa dan bukti yang terang bahwa dia itu adalah benar-benar utusan Allah dan hamba Allah.

19:34–36Page 307

ذَٰلِكَ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَۖ قَوۡلَ ٱلۡحَقِّ ٱلَّذِي فِيهِ يَمۡتَرُونَ ٣٤

That is Jesus, the son of Mary - the word of truth about which they are in dispute.

مَا كَانَ لِلَّهِ أَن يَتَّخِذَ مِن وَلَدٖۖ سُبۡحَٰنَهُۥٓۚ إِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ٣٥

It is not [befitting] for Allāh to take a son; exalted is He!1 When He decrees an affair, He only says to it, "Be," and it is.

وَإِنَّ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمۡ فَٱعۡبُدُوهُۚ هَٰذَا صِرَٰطٞ مُّسۡتَقِيمٞ ٣٦

[Jesus said], "And indeed, Allāh is my Lord and your Lord, so worship Him. That is a straight path."

"Itulah Isa putra Maryam, (yang mengatakan) perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenaran-nya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Mahasuci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka hanya berkata ke-padanya, 'Jadilah,' maka jadilah ia. Sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabbmu, maka kalian sembahlah Dia. Ini adalah jalan yang lurus." (Maryam: 34-36).

(34-35) Maksudnya, orang yang disebut-sebut dengan sifat-sifat itu adalah Isa putra Maryam, tanpa ada keraguan maupun sangsi padanya. Bahkan ﴾ قَوۡلَ ٱلۡحَقِّ ﴿ "(yang mengatakan) perkataan yang benar." Dan kalamullah (perkataan Allah) yang tidak ada per-kataan yang lebih benar daripadanya dan tidak ada yang lebih baik perkataannya daripada Allah. Berita yang meyakinkan itu menge-nai Isa عليه السلام. Sementara berita-berita tentangnya yang berbeda dengan ini, maka itu dipastikan batil. Puncak (sumber permasalahannya) merupakan keragu-raguan dari si pengucapnya, yang tidak tahu-menahu tentangnya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِي فِيهِ يَمۡتَرُونَ ﴿ "yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya," maksudnya mereka ragu-ragu, sehingga berbantah-bantahan dengan keraguan mereka dan berdebat berdasarkan perkiraan mereka. Di antaranya, ada orang yang mengatakan tentang dirinya, "Isa itu adalah Allah, atau anak Allah atau ketiga dari yang tiga. Sungguh Mahatinggi Allah dari kebohongan mereka." ﴾ مَا كَانَ لِلَّهِ أَن يَتَّخِذَ مِن وَلَدٖۖ ﴿ "Tidak layak bagi Allah mempunyai anak," maksudnya tidak wajar dan tidak layak. Karena itu adalah suatu yang mustahil. Allah Mahakaya (tidak membutuhkan orang lain), Maha Terpuji, yang memiliki segala se-suatu, bagaimana mungkin Allah mengangkat seorang anak dari kalangan para hamba?! ﴾ سُبۡحَٰنَهُۥٓۚ ﴿ "Mahasuci Dia," Mahasuci Allah dari segala kekurangan dan anak. ﴾ إِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا ﴿ "Apabila Dia telah me-netapkan sesuatu," baik dari perkara yang kecil ataupun yang besar, niscaya tidak akan terhalang dan tidak akan sulit ﴾ فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ﴿ "maka Dia hanya berkata kepadanya, 'Jadilah,' maka jadilah ia," jika ketentuan dan kehendakNya pasti terlaksana di langit dan bumi, bagaimana mungkin Dia memiliki anak?! Kalau memang demikian adanya, jika Allah menginginkan sesuatu, maka cukup dengan mengatakan "Jadilah" maka jadilah ia, lalu mengapa dianggap se-buah perkara mustahil, Allah menciptakan Isa tanpa bapak?

(36) Oleh sebab itu, Isa memberitahukan bahwa dirinya seorang hamba yang diasuh sebagaimana manusia lainnya. Isa mengatakan, ﴾ وَإِنَّ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabb kalian," yang menciptakan kita, membentuk rupa kita, penga-turanNya terealisasikan pada kita dan takdirNya mengondisikan kita, ﴾ فَٱعۡبُدُوهُۚ ﴿ "maka kalian sembahlah Dia." Ikhlaskanlah ibadah hanya kepadaNya, dan bersungguh-sungguhlah dalam bertaubat. Dalam ungkapan ini terdapat pengakuan terhadap tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah serta mengambil dalil dengan jenis yang pertama (tauhid rububiyah) sebagai dalil bagi tauhid jenis kedua (tauhid uluhiyah). Oleh karena itu, dia mengatakan, ﴾ هَٰذَا صِرَٰطٞ مُّسۡتَقِيمٞ 36 ﴿ "Ini adalah jalan yang lurus," yaitu jalan lurus yang menghantarkan menuju Allah. Karena ia merupakan jalan para rasul dan pengikut mereka. Sedangkan jalan selain itu, maka ia termasuk jalan yang menyimpang dan sesat.

19:37–38Page 307

فَٱخۡتَلَفَ ٱلۡأَحۡزَابُ مِنۢ بَيۡنِهِمۡۖ فَوَيۡلٞ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن مَّشۡهَدِ يَوۡمٍ عَظِيمٍ ٣٧

Then the factions differed [concerning Jesus] from among them, so woe to those who disbelieved - from the scene of a tremendous Day.

أَسۡمِعۡ بِهِمۡ وَأَبۡصِرۡ يَوۡمَ يَأۡتُونَنَا لَٰكِنِ ٱلظَّٰلِمُونَ ٱلۡيَوۡمَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ٣٨

How [clearly] they will hear and see the Day they come to Us, but the wrongdoers today are in clear error.

"Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar. Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka pada hari (ketika) mereka datang kepada Kami. Tetapi orang-orang yang zhalim pada hari ini (di dunia) berada dalam kesesatan yang nyata." (Maryam: 37-38).

(37) Usai menjelaskan keadaan Isa putra Maryam yang tidak perlu diragukan dan disangsikan, Allah تعالى memberitahukan bahwa kelompok-kelompok sesat dari kalangan Yahudi dan Nasrani serta selain mereka dengan perbedaan tingkatnya, berselisih tentang Isa putra Maryam. Di antara mereka ada yang berlebihan (meng-agungkannya) dan ada pula yang terlalu melecehkannya. Di antara mereka ada pihak yang mengatakan bahwa Isa itu adalah Allah! Sebagian menganggapnya anak Allah! Pihak yang lain mengatakan bahwa dia itu ketiga dari tiga (tuhan, trinitas). Sebagian yang lain (justru) tidak menilainya sebagai rasul, bahkan menuduhnya seba-gai anak zina, semisal golongan Yahudi! Semua perkataan mereka adalah perkataan-perkataan batil, pendapat yang rusak, yang di-landasi oleh keraguan dan pembangkangan, bukti-bukti yang rusak, syubhat-syubhat yang murahan. Orang-orang ini berhak mendapat-kan ancaman yang keras. Allah berfirman, ﴾ فَوَيۡلٞ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang kafir," kepada Allah dan para RasulNya serta Kitab-kitabNya. Termasuk dalam kelompok ini yaitu golongan Yahudi dan Nasrani, yang mengutarakan ucapan kufur tentang Isa putra Maryam ﴾ مِن مَّشۡهَدِ يَوۡمٍ عَظِيمٍ 37 ﴿ "pada waktu me-nyaksikan hari yang besar," maksudnya suasana Hari Kiamat, yang disaksikan oleh orang-orang generasi pertama dan terakhir, peng-huni langit sampai para penghuni bumi, al-Khaliq (Pencipta) dan Makhluk, (hari) yang penuh dengan kegoncangan dan peristiwa menakutkan serta memuat pembalasan amal perbuatan. Pada hari itu, akan nampak semua yang mereka rahasiakan ataupun yang mereka perlihatkan dan sembunyikan.

(38) ﴾ أَسۡمِعۡ بِهِمۡ وَأَبۡصِرۡ يَوۡمَ يَأۡتُونَنَا ﴿ "Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka pada hari (ketika) mereka datang kepada Kami," maksudnya alangkah baik pendengaran dan penglihatan mereka kala itu. Sehingga mereka mengakui kekufuran dan kesyirikan serta ucapan-ucapan mereka. Mereka mengatakan, ﴾ رَبَّنَآ أَبۡصَرۡنَا وَسَمِعۡنَا فَٱرۡجِعۡنَا نَعۡمَلۡ صَٰلِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ 12 ﴿ "Ya Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembali-kanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal shalih. Sesungguh-nya kami adalah orang-orang yang yakin." (As-Sajdah: 12). Pada Hari Kiamat, mereka benar-benar meyakini apa yang sebenarnya telah mereka lakukan. ﴾ لَٰكِنِ ٱلظَّٰلِمُونَ ٱلۡيَوۡمَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ 38 ﴿ "Tetapi orang-orang yang zhalim pada hari ini (di dunia) berada dalam kesesatan yang nyata." Mereka tidak memiliki argumen dalam kesesatan ini. Karena mereka itu antara orang yang menentang lagi sesat di atas bukti nyata, (atau mengetahui kebenaran tetapi menabraknya), dengan orang yang sesat dari jalan kebenaran, mampu mengenal kebenaran dengan baik, tapi dia lebih menyukai kesesatan dan amal kejelekan, tanpa mau berusaha untuk mengetahui perbedaan yang haq dari yang batil. Renungilah, bagaimana Allah berfirman, ﴾ فَوَيۡلٞ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang kafir," setelah ayat ﴾ فَٱخۡتَلَفَ ٱلۡأَحۡزَابُ مِنۢ بَيۡنِهِمۡۖ ﴿ "Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka." Allah tidak mengatakan "Kecelakaan bagi mereka" (dengan meng-gunakan kata ganti) yang kembali kepada kata al-ahzab (kelompok-kelompok). Karena di antara kelompok-kelompok yang berselisih itu, ada kelompok yang berpandangan dengan benar, sesuai de-ngan yang benar. Kelompok yang benar ini menyatakan bahwa Isa itu adalah hamba Allah dan RasulNya. Mereka beriman kepadanya dan mengikutinya. Mereka ini adalah orang yang beriman, tidak termasuk dalam golongan yang terkena ancaman. Oleh karena itu, Allah hanya mengancam orang-orang kafir saja.

19:39–40Page 308

وَأَنذِرۡهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡحَسۡرَةِ إِذۡ قُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ وَهُمۡ فِي غَفۡلَةٖ وَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ٣٩

And warn them, [O Muḥammad], of the Day of Regret, when the matter will be concluded;1 and [yet], they are in [a state of] heedlessness, and they do not believe.

إِنَّا نَحۡنُ نَرِثُ ٱلۡأَرۡضَ وَمَنۡ عَلَيۡهَا وَإِلَيۡنَا يُرۡجَعُونَ ٤٠

Indeed, it is We who will inherit the earth and whoever is on it, and to Us they will be returned.

"Dan berilah mereka peringatan tentang Hari Penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian, dan mereka tidak (pula) beriman. Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang-orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan." (Maryam: 39-40).

(39-40) Kata اَلْإِنْذَارُ bermakna pemberitahuan tentang hal-hal yang menakutkan dengan nada mengancam dan menyampai-kan tentang sifat-sifatnya. Dan obyek yang paling pantas menjadi bahan peringatan dan ancaman bagi para hamba adalah Hari Penye-salan (Kiamat), saat semua perkara diputuskan dan orang-orang terdahulu sampai generasi terakhir dikumpulkan pada satu tempat. Mereka akan ditanya mengenai amal perbuatan mereka. Maka barangsiapa beriman kepada Allah dan mengikuti para RasulNya, niscaya akan menikmati kebahagiaan, tanpa pernah mengalami penderitaan setelah itu. Sedangkan orang yang tidak beriman serta tidak mengikuti para RasulNya, niscaya akan merasakan hidup celaka tanpa akan pernah mengenyam kebahagiaan setelahnya. Dia merugi atas diri dan keluarganya. Pada saat itu, dia bersedih dan menyesal dengan penyesalan yang membuat kalbu terputus (dari pengharapan) dan menjadikan hati hancur tak karuan. Ada-kah kesedihan yang lebih besar daripada kesedihan lantaran luput dari mendapatkan ridha dan surga Allah, lalu menerima kepastian murka Allah serta dimasukkan ke neraka, dalam keadaan yang tidak memiliki kemungkinan kembali (ke dunia lagi) untuk memu-lai amalan baru dan tidak ada cara lain untuk merubah keadaan dirinya dengan kembali ke dunia? Inilah keadaan yang menyong-song mereka. Sementara di dunia, mereka lalai dari persoalan besar ini. Masalah ini tidak pernah terbetik dalam hati-hati mereka. Kalaupun terngiang-ngiang, maka dalam suasana yang lalai. Kela-laian menyelimuti mereka dengan merata dan keterlenaan telah menguasai diri mereka. Mereka tidak beriman kepada Allah dan tidak mengikuti para rasul. (Kenikmatan) dunia telah memerdayai mereka. Godaan-godaan syahwat yang akan sirna lagi fana telah menjadi faktor penghalang antara mereka dan keimanan. Dunia beserta isinya, dari permulaan sampai penghujungnya, akan pergi meninggalkan pemiliknya, dan para penghuninya pun berpisah dengannya. Kemudian Allah mengambil alih dunia dan semua isinya, mengembalikan mereka semua kepadaNya. Selanjutnya, Allah memberikan balasan bagi mereka sesuai dengan amal per-buatan, baik berupa kerugian maupun keuntungan mereka di dunia. Barangsiapa melakukan perbuatan baik, hendaklah dia memuji Allah. Sedangkan, orang yang menjumpai amalan selain itu (amalan buruk), janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri saja.

Kitab teragung, paling utama lagi tinggi adalah kitab yang nyata dan peringatan yang bijaksana ini (al-Qur`an), jika disebut-kan kabar-kabar di dalamnya, maka kabar itu adalah kabar yang paling jujur, paling haq dan yang paling mendatangkan manfaat. Jika diketengahkan di dalamnya perintah dan larangan, maka perintah dan larangan itu merupakan perintah dan larangan yang paling agung, dan paling adil serta seimbang. Jika dikemukakan balasan, janji, dan ancaman, maka itu semua merupakan berita yang paling benar dan haq, paling terang dalam menjelaskan kebijak-sanaan, keadilan, dan keutamaan. Apabila disebut-sebut nama-nama para Nabi dan Rasul di dalamnya, maka nama-nama yang disebutkan itu merupakan utusan Allah yang lebih sempurna dan lebih utama daripada yang lain. Oleh karena itu, al-Qur`an kerap memulai dan mengulang-ulangi sejarah para nabi yang mana Allah mengutamakan mereka di atas para nabi yang lain, mengangkat derajat dan menaikkan citra mereka, dengan sebab amal perbuatan yang telah mereka lakukan berupa ibadah kepada Allah, rasa cinta dan bertaubat kepadaNya, menunaikan hak-hak Allah dan hak para hamba, mendakwahi umat manusia agar menuju Allah, bersabar dalam menjalankannya dan (menempatkan mereka pada) kedu-dukan yang mewah dan derajat yang tinggi. Maka, Allah menceri-takan dalam surat ini beberapa nabi; memerintahkan RasulNya, Muhammad untuk menyebut-nyebut mereka, karena dengan mengangkat berita tentang mereka berarti menampakkan pujian kepada Allah dan juga kepada para nabi tersebut, (juga) bermakna menjelaskan karunia dan curahan kebaikanNya buat mereka. Dalam cerita itu, terkandung motivasi untuk beriman kepada me-reka, mencintai mereka serta menjadikan mereka sebagai panutan. Allah berfirman,

19:41–50Page 308

وَٱذۡكُرۡ فِي ٱلۡكِتَٰبِ إِبۡرَٰهِيمَۚ إِنَّهُۥ كَانَ صِدِّيقٗا نَّبِيًّا ٤١

And mention in the Book [the story of] Abraham. Indeed, he was a man of truth and a prophet.

إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ يَٰٓأَبَتِ لِمَ تَعۡبُدُ مَا لَا يَسۡمَعُ وَلَا يُبۡصِرُ وَلَا يُغۡنِي عَنكَ شَيۡـٔٗا ٤٢

[Mention] when he said to his father, "O my father, why do you worship that which does not hear and does not see and will not benefit you at all?

يَٰٓأَبَتِ إِنِّي قَدۡ جَآءَنِي مِنَ ٱلۡعِلۡمِ مَا لَمۡ يَأۡتِكَ فَٱتَّبِعۡنِيٓ أَهۡدِكَ صِرَٰطٗا سَوِيّٗا ٤٣

O my father, indeed there has come to me of knowledge that which has not come to you, so follow me; I will guide you to an even path.

يَٰٓأَبَتِ لَا تَعۡبُدِ ٱلشَّيۡطَٰنَۖ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ كَانَ لِلرَّحۡمَٰنِ عَصِيّٗا ٤٤

O my father, do not worship [i.e., obey] Satan. Indeed Satan has ever been, to the Most Merciful, disobedient.

يَٰٓأَبَتِ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يَمَسَّكَ عَذَابٞ مِّنَ ٱلرَّحۡمَٰنِ فَتَكُونَ لِلشَّيۡطَٰنِ وَلِيّٗا ٤٥

O my father, indeed I fear that there will touch you a punishment from the Most Merciful so you would be to Satan a companion [in Hellfire]."

قَالَ أَرَاغِبٌ أَنتَ عَنۡ ءَالِهَتِي يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُۖ لَئِن لَّمۡ تَنتَهِ لَأَرۡجُمَنَّكَۖ وَٱهۡجُرۡنِي مَلِيّٗا ٤٦

[His father] said, "Have you no desire for my gods, O Abraham? If you do not desist, I will surely stone you, so avoid me a prolonged time."

قَالَ سَلَٰمٌ عَلَيۡكَۖ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ بِي حَفِيّٗا ٤٧

[Abraham] said, "Peace [i.e., safety] will be upon you.1 I will ask forgiveness for you of my Lord. Indeed, He is ever gracious to me.

وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدۡعُواْ رَبِّي عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا ٤٨

And I will leave you and those you invoke other than Allāh and will invoke1 my Lord. I expect that I will not be in invocation to my Lord unhappy [i.e., disappointed]."

فَلَمَّا ٱعۡتَزَلَهُمۡ وَمَا يَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَهَبۡنَا لَهُۥٓ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَۖ وَكُلّٗا جَعَلۡنَا نَبِيّٗا ٤٩

So when he had left them and those they worshipped other than Allāh, We gave him Isaac and Jacob, and each [of them] We made a prophet.

وَوَهَبۡنَا لَهُم مِّن رَّحۡمَتِنَا وَجَعَلۡنَا لَهُمۡ لِسَانَ صِدۡقٍ عَلِيّٗا ٥٠

And We gave them of Our mercy, and We made for them a mention [i.e., reputation] of high honor.

"Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab (al-Qur`an) ini. Sesungguhnya dia adalah seorang yang sa-ngat membenarkan lagi seorang nabi. Ingatlah ketika dia berkata kepada bapaknya, 'Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun. Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Dzat Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab oleh Dzat Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan.' Bapaknya berkata, 'Benci-kah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim. Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.' Ibrahim berkata, 'Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku.' Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka, dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishaq, dan Ya'qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi. Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami, dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi." (Maryam: 41-50).

(41) ﴾ وَٱذۡكُرۡ فِي ٱلۡكِتَٰبِ إِبۡرَٰهِيمَۚ إِنَّهُۥ كَانَ صِدِّيقٗا نَّبِيًّا 41 ﴿ "Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab (al-Qur`an) ini. Sesung-guhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi." (Dalam ayat ini) Allah memadukan dua sifat bagi Ibrahim yaitu shiddiqiyah (kejujuran yang banyak) dan nubuwwah (kenabian). Shiddiq maknanya orang yang banyak kejujurannya. Beliau jujur dalam ucapan-ucapan, tindak-tanduk serta semua dinamika ke-hidupannya, mempercayai segala yang diperintahkan oleh Allah untuk dipercayai. Sifat semacam ini menuntut keberadaan ilmu yang agung yang mengakar di hati, yang membekaskan pengaruh padanya, lagi mengharuskan keyakinan dan amal shalih. Dan Nabi Ibrahim عليه السلام adalah nabi terbaik setelah Nabi Muhammad ﷺ. Beliau merupakan bapak moyang ketiga dari tiga komunitas yang mulia, lantaran Allah memberikan anugerah kenabian dan kitab kepada anak keturunannya. Beliaulah yang mendakwahi umat manusia agar kembali kepada Allah, bersabar atas siksaan pedih yang beliau alami, menyeru keluarga dekat serta kerabat yang jauh dan tekun dalam mengajak ayahnya (ke jalan yang benar) dengan mengerahkan segala kemampuannya.

(42) Allah menceritakan pembicaraannya dengan sang bapak. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ ﴿ "Ingatlah ketika dia berkata kepada bapaknya," dengan nada mendiskreditkan peribadatan kepada patung yang dilakukan oleh bapaknya ﴾ يَٰٓأَبَتِ لِمَ تَعۡبُدُ مَا لَا يَسۡمَعُ وَلَا يُبۡصِرُ وَلَا يُغۡنِي عَنكَ شَيۡـٔٗا 42 ﴿ "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun," maksudnya kenapa bapak menyembah berhala-berhala yang memiliki kekurangan secara fisik dan perbuatannya; sehingga ia tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat, dan juga tidak memiliki kemampuan untuk memberikan manfaat dan (menyelamatkan para penyembahnya) dari bahaya. Bahkan tidak memiliki kesanggupan sama sekali untuk memberikan manfaat untuk dirinya sendiri dan tidak memiliki kekuasaan sedikit pun untuk menolak malapetaka. Keterangan ini merupakan bukti nyata yang kasat mata yang me-nunjukkan bahwa menyembah sesuatu yang memiliki kekurangan secara fisik dan perbuatannya, merupakan tindakan jelek menurut akal dan syari'at. Dan peringatan dan isyaratnya menunjukkan bahwa yang wajib dan pantas untuk disembah adalah Dzat yang memiliki kesempurnaan, yang para hamba tidak memperoleh ke-nikmatan kecuali berasal dariNya, dan tidak sanggup menghalangi (bahaya) dari mereka kecuali Dia. Dan Dia-lah Allah تعالى.

(43) ﴾ يَٰٓأَبَتِ إِنِّي قَدۡ جَآءَنِي مِنَ ٱلۡعِلۡمِ مَا لَمۡ يَأۡتِكَ ﴿ "Wahai bapakku, sesung-guhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu yang tidak datang kepadamu," maksudnya wahai bapakku, janganlah engkau menghinaku dengan mengatakan, "Aku ini adalah putramu, dan engkau memiliki ilmu yang tidak aku miliki." Justru Allah telah memberikan kepadaku ilmu yang tidak diberikan kepadamu. Yang dimaksud dengan ayat ini adalah perkataannya, ﴾ فَٱتَّبِعۡنِيٓ أَهۡدِكَ صِرَٰطٗا سَوِيّٗا 43 ﴿ "maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus," yaitu ber-ibadah kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan me-naatiNya dalam segala kondisi. Dalam kisah ini nampak jelas kelembutan dan keluwesan dalam berkomunikasi dengan lawan bicara. Beliau tidak menga-takan, "Wahai bapakku, aku ini orang berilmu sedangkan engkau orang jahil," atau (dengan berkata, "Engkau tidak mempunyai ilmu sedikit pun." Akan tetapi, beliau menggunakan bentuk ungkapan [yang memberikan pengertian] bahwa aku dan engkau mempunyai ilmu, dan bahwa ilmu yang telah sampai kepadaku belum sampai dan belum datang kepadamu, maka engkau (wahai bapakku) wajib mengikuti dan tunduk kepada hujjah.

(44) ﴾ يَٰٓأَبَتِ لَا تَعۡبُدِ ٱلشَّيۡطَٰنَۖ ﴿ "Wahai bapakku, janganlah kamu me-nyembah setan," karena orang yang menyembah selain Allah, maka sungguh dia telah menyembah setan, sebagaimana Allah berfirman, ﴾ أَلَمۡ أَعۡهَدۡ إِلَيۡكُمۡ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ أَن لَّا تَعۡبُدُواْ ٱلشَّيۡطَٰنَۖ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ 60 ﴿ "Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu." (Yasin: 60). ﴾ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ كَانَ لِلرَّحۡمَٰنِ عَصِيّٗا 44 ﴿ "Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Dzat Yang Maha Pemurah (Rahman)," maka barangsiapa yang meng-ikuti langkah-langkah setan, berarti telah menjadikan setan sebagai pelindungnya dan telah berbuat kemaksiatan kepada Allah, layak-nya perbuatan setan. Pada penyandaran kata اَلْعِصْيَانُ (maksiat) kepada nama اَلرَّحْمٰنُ, mengandung makna isyarat bahwa perbuatan maksiat itu berpotensi menghalangi seorang hamba dari rahmat Allah dan menutup pintu-pintu rahmat baginya. Sebagaimana hal-nya, amalan ketaatan menjadi faktor terkuat untuk mendapatkan rahmat Allah.

(45) Oleh karenanya, Nabi Ibrahim mengatakan,﴾ يَٰٓأَبَتِ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يَمَسَّكَ عَذَابٞ مِّنَ ٱلرَّحۡمَٰنِ ﴿ "Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir, kamu akan ditimpa azab dari Dzat Yang Maha Pemurah," yaitu dengan sebab tindakanmu berulang-ulang dalam kekufuran dan tindakan-mu yang terus menerus tenggelam dalam melampaui batas ﴾ فَتَكُونَ لِلشَّيۡطَٰنِ وَلِيّٗا 45 ﴿ "sehingga kamu menjadi kawan bagi setan," di dunia dan akhirat. Akibatnya, engkau akan menempati kedudukannya yang tercela, menjalani kehidupan pada wilayah kekuasaannya yang buruk. Nabi Ibrahim menempuh cara bertahap dalam mendakwahi bapaknya dengan memulai dengan cara paling lunak lalu cara-cara terlunak (setelahnya). (Pertama) Ibrahim memberitahukan tentang ilmunya seraya berkata, "Keunggulan ilmu itu menuntut ayah untuk mengikutiku, jika engkau menaatiku, maka engkau telah mendapat-kan petunjuk ke jalan yang lurus." Setelah itu, Ibrahim melarang bapaknya menyembah setan serta memberitahukan akibat-akibat buruknya. Selanjutnya (yang kedua), beliau mengingatkan bapak-nya tentang azab dan siksa Allah, jika sang bapak tetap seperti itu, dan bahwa dia akan menjadi teman setan.

(46) Namun, dakwah ini tidak mempan bagi bapaknya yang celaka itu. Bahkan dia meresponsnya dengan jawaban orang yang jahil. Bapaknya mengatakan, ﴾ أَرَاغِبٌ أَنتَ عَنۡ ءَالِهَتِي يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُۖ ﴿ "Apakah kamu benci kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim?" Dia membanggakan diri dengan tuhan-tuhannya yang terbuat dari batu dan berhala, lalu mencela Ibrahim karena benci kepada tuhan-tuhan ini. Sikap ini termasuk bentuk kebodohan yang parah dan kekufuran yang begitu buruk. Dia memuji diri sendiri dengan peribadatannya ke-pada setan dan (ditambah dengan) menyeru kepadanya. ﴾ لَئِن لَّمۡ تَنتَهِ ﴿ "Jika kamu tidak berhenti," maksudnya berhenti dari mencela tuhan-tuhanku dan tidak berhenti mendakwahiku kepada peribadahan kepada Allah ﴾ لَأَرۡجُمَنَّكَۖ ﴿ "maka niscaya kamu akan kurajam" yaitu di-bunuh dengan batu ﴾ وَٱهۡجُرۡنِي مَلِيّٗا 46 ﴿ "dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama," maksudnya, janganlah engkau mengajakku berbicara dalam waktu yang lama.

(47) Maka Ibrahim menanggapinya dengan tanggapan para hamba Allah ketika berbicara dengan orang-orang jahil, dan tidak mencelanya. Bahkan sebaliknya bersabar dan tidak membalas perkataan bapaknya dengan sesuatu yang tidak disukainya. Ibrahim mengatakan, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَيۡكَۖ ﴿ "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu," maksudnya engkau selamat dalam perbincanganku dengan ayah, yaitu terhindar dari celaanku, hinaanku, dan segala yang engkau benci ﴾ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ بِي حَفِيّٗا 47 ﴿ "aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku," mak-sudnya saya akan senantiasa memohonkan hidayah dan ampunan kepada Allah buat ayah, agar Allah memberikan hidayah kepada ayah untuk memeluk Islam yang akan menjadi penyebab datang-nya ampunan. ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ بِي حَفِيّٗا ﴿ "Sesungguhnya Dia sangat baik kepa-daku," maksudnya Dia (Allah) sangat sayang kepadaku, sangat perhatian kepadaku. Beliau terus saja memohonkan ampun buat bapaknya, berharap Allah berkenan memberikan petunjuk. Sete-lah jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya adalah musuh Allah, dan bahwasanya ia tidak akan memberikan manfaat sama sekali buat ayahnya, maka Ibrahim berhenti memohonkan ampun baginya dan berlepas diri dari bapaknya. Allah telah memerintahkan kepada kita sekalian agar meng-ikuti millah (ajaran) Ibrahim. Di antara bentuk mengikuti ajaran Ibrahim, adalah mengikuti metode beliau dalam berdakwah ke jalan Allah, yaitu dengan ilmu, hikmah, lemah-lembut dan (dengan metode yang) memudahkan, menempuh satu tahapan ke tahapan berikutnya, bersabar dalam menjalankan dakwah dan tidak bosan, bersabar terhadap segala gangguan dari orang lain yang menimpa seorang da'i, baik berupa perkataan atau perbuatan, membalasnya dengan pemberian maaf, atau bahkan dengan berlaku baik, dengan perkataan ataupun perbuatan.

(48) Setelah merasa putus asa dari kaum dan bapaknya, Ibrahim mengatakan, ﴾ وَأَعۡتَزِلُكُمۡ وَمَا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah," yaitu dari kalian dan arca-arca kalian ﴾ وَأَدۡعُواْ رَبِّي ﴿ "dan aku akan berdoa kepada Rabbku." Ini mencakup doa ibadah dan doa mas'alah (doa permohonan). ﴾ عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّي شَقِيّٗا 48 ﴿ "Mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbku," maksudnya semoga Allah membahagiakanku dengan mengabulkan doaku dan menerima amalan-amalanku. Ini adalah kewajiban (yang mesti ditempuh oleh) orang yang merasa putus asa dari (respon) orang-orang yang menjadi obyek dakwahnya, (mereka justru mengikuti hawa nafsu, nasihat-nasihatnya sudah tidak bermanfaat buat mereka, mereka larut dalam pelanggaran dalam keadaan buta), hendaknya ia (orang yang merasa putus asa) memperbaiki dirinya, berharap agar amalnya diterima oleh Allah, menjauhi perbuatan jelek dan para pelakunya.

(49) Lantaran meninggalkan negeri, kampung halaman, keluarga dan orang-orang sebangsanya merupakan perkara berat bagi seseorang, karena alasan yang banyak yang sudah dimaklumi bersama, di antaranya (menjalani hidup) sebatang kara jauh dari komunitas yang menjadikannya merasa kuat lagi merasa diper-hitungkan jumlah populasinya; maka barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Dia akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik, lantas Ibrahim meninggalkan kaumnya. Maka, Allah berfirman tentangnya, ﴾ فَلَمَّا ٱعۡتَزَلَهُمۡ وَمَا يَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَهَبۡنَا لَهُۥٓ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَۖ وَكُلّٗا ﴿ "Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepada-nya Ishaq, dan Ya'qub. Dan masing-masingnya," yaitu Ishaq dan Ya'qub ﴾ جَعَلۡنَا نَبِيّٗا 49 ﴿ "Kami angkat menjadi nabi." Anugerah itu berhasil di-raih oleh beliau dan orang-orang shalih yang diutus (sebagai rasul) kepada umat manusia, yang diistimewakan oleh Allah dengan wahyunya, dipilih untuk mengemban risalahNya, dan telah diseleksi di antara semua manusia.

(50) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُم ﴿ "Dan Kami anugerahkan kepada mereka," Ibrahim dan kedua anak cucunya, Ishaq dan Ya'qub ﴾ مِّن رَّحۡمَتِنَا ﴿ "sebagian dari rahmat Kami." Hal ini mencakup semua rahmat Allah kepada mereka berupa ilmu-ilmu yang bermanfaat, amal-amal shalih, anak keturunan yang banyak dan tersebar kemana-mana yang banyak di antara mereka yang menjadi rasul, nabi, dan orang-orang shalih. ﴾ وَجَعَلۡنَا لَهُمۡ لِسَانَ صِدۡقٍ عَلِيّٗا 50 ﴿ "Dan Kami jadikan mereka tutur kata yang baik lagi tinggi." Ini juga termasuk rahmat yang Allah berikan kepada mereka. Karena Allah menjanjikan bagi orang-orang yang melaku-kan kebaikan, akan disebarluaskan pujiannya yang murni sesuai dengan kadar kebaikannya. Sementara mereka ini (Nabi Ibrahim dan anak keturunannya) adalah para panutan orang-orang yang berbuat baik. Maka, Allah pun menghembuskan pujian yang baik lagi sejati, bukan sebuah kedustaan yang meninggi, tidak tersem-bunyi. Penyebutan nama-nama mereka memenuhi dua ufuk dunia. Pujian dan kecintaan kepada mereka memenuhi seluruh hati dan membasahi lisan-lisan. Maka, jadilah mereka panutan dan imam bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Nama-nama mereka selalu disebut-sebut berulang kali di setiap masa. Ini merupakan karunia Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendaki. Dan sesungguhnya Allah Maha Memiliki karunia yang besar.

19:51–53Page 308

وَٱذۡكُرۡ فِي ٱلۡكِتَٰبِ مُوسَىٰٓۚ إِنَّهُۥ كَانَ مُخۡلَصٗا وَكَانَ رَسُولٗا نَّبِيّٗا ٥١

And mention in the Book, Moses. Indeed, he was chosen, and he was a messenger and a prophet.1

وَنَٰدَيۡنَٰهُ مِن جَانِبِ ٱلطُّورِ ٱلۡأَيۡمَنِ وَقَرَّبۡنَٰهُ نَجِيّٗا ٥٢

And We called him from the side of the mount1 at [his] right and brought him near, confiding [to him].

وَوَهَبۡنَا لَهُۥ مِن رَّحۡمَتِنَآ أَخَاهُ هَٰرُونَ نَبِيّٗا ٥٣

And We gave him out of Our mercy his brother Aaron as a prophet.

"Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Musa di dalam al-Kitab (al-Qur`an) ini. Sesungguhnya dia adalah seorang yang dipilih dan seorang rasul dan nabi. Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur, dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia bermunajat (kepada Kami). Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya sebagian rahmat Kami, yaitu saudaranya, Harun menjadi seorang nabi." (Maryam: 51-53).

(51) Maksudnya, sebutlah kisah Nabi Musa bin Imran dalam al-Qur`an yang mulia ini dengan nada mengagungkan dan memuliakannya, serta memperkenalkan kedudukannya yang mulia dan serta akhlaknya yang sempurna. ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ مُخۡلَصٗا ﴿ "Sesungguhnya dia adalah seorang yang dipilih." Cara membaca dengan memfathah-kan huruf lam (menjadi mukhlash) mempunyai pengertian bahwa Allah telah memilihnya di antara semua manusia di seluruh alam. Lafazh itu dibaca juga dengan mengkasrahkan huruf lamnya (men-jadi mukhlish) yang bermakna orang yang ikhlas kepada Allah dalam semua perbuatan, perkataan dan niatnya. Jadi, predikatnya adalah sifat ikhlas di seluruh kondisinya. Dua makna ini saling berkorelasi erat. Sesungguhnya Allah menjadikannya memiliki sifat ikhlash karena keikhlasannya, dan keikhlasannya itulah yang menyebabkan pemilihan dirinya. Sifat paling luhur yang menjadi sifat seorang hamba yaitu keikhlasan hamba dan terpilih oleh Rabbnya. ﴾ وَكَانَ رَسُولٗا نَّبِيّٗا 51 ﴿ "Dan dia itu seorang rasul dan nabi," mak-sudnya Allah menyatukan baginya dua hal yaitu risalah (kerasulan) dan nubuwwah (kenabian). Risalah (pengutusan sebagai rasul) menuntutnya menyampaikan perkataan Dzat yang mengutusnya dan menyampaikan semua syariat yang dibawa, baik yang kecil ataupun yang besar. Sedangkan sifat nubuwwah mengharuskan pengertian bahwa Allah memberikan wahyu kepadanya dan meng-istimewakannya dengan menurunkan wahyu kepadanya. Jadi nubuwwah itu kaitannya antara dia dan Rabb, sedangkan risalah antara dia dan makhluk.

(52) Bahkan Allah mengistimewakannya dengan (cara pe-nyampaian) wahyu yang teragung dan terbaik. Yaitu mengajaknya berbicara (langsung) dan mendekatkannya saat dia bermunajat kepada Allah تعالى. Dengan anugerah ini, dia menerima sebuah keistimewaan di kalangan para nabi sebagai kalimurrahman (yang diajak berbicara secara langsung oleh ar-Rahman). Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ مِن جَانِبِ ٱلطُّورِ ٱلۡأَيۡمَنِ ﴿ "Dan Kami telah memanggil-nya dari sebelah kanan gunung Thur," yaitu sebelah kanan Nabi Musa saat dia berjalan. Atau maksud al-Aiman adalah yang paling berkah, berasal dari kata al-Yumnu dan al-Barakatu (yang memiliki keber-kahan). Makna ini diisyaratkan oleh kandungan Firman Allah, ﴾ أَنۢ بُورِكَ مَن فِي ٱلنَّارِ وَمَنۡ حَوۡلَهَا ﴿ "Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya." (An-Naml: 8) ﴾ وَقَرَّبۡنَٰهُ نَجِيّٗا 52 ﴿ "Dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia bermunajat (kepada Kami)." Beda antara kata اَلنِّدَاءُ (panggilan) dan اَلنَّجَاءُ (memohon) yaitu, pengertian nida' itu (panggilan) dengan suara keras, sedangkan naja` (seruan) dengan suara yang lebih rendah. Dalam ayat ini terdapat penetapan sifat (berbicara) bagi Allah dan juga penetapan jenis-jenisnya berupa nida' dan munajat, ber-dasarkan pandangan Ahlu Sunnah wal Jama'ah. Berbeda dengan golongan Jahmiyah, Mu'tazilah dan kelompok yang mengikuti pan-dangan mereka.

(53) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥ مِن رَّحۡمَتِنَآ أَخَاهُ هَٰرُونَ نَبِيّٗا 53 ﴿ "Dan Kami telah menganu-gerahkan kepadanya sebagian rahmat Kami, yaitu saudaranya, Harun menjadi seorang nabi." Anugerah ini termasuk sifat keutamaan Nabi Musa, kebaikan, dan ketulusannya yang paling besar kepada sau-daranya. Dia memohon agar Allah menjadikan saudaranya sebagai teman dalam urusannya dan menjadikannya juga sebagai rasul. Maka Allah pun mengabulkan permohonannya itu. Allah mem-berikan rahmat bagi Musa kepada saudaranya yaitu Harun sebagai seorang nabi. Maka (dengan demikian) kenabian Harun mengikuti kenabian Musa عليه السلام. Maka dia membantu tugas Musa dan meno-longnya.

Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences

Contents

Ayat al-Kursi36Al-Kahfpage 42juz 15Bukhari 1Muslim 2999

Style

Theme
Text size
Layout

Читать на русском