As-Sa'diAl‑Baqarah · 2:145–157

As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian

Al-Baqarah 2:145–157

2:145Page 22

وَلَئِنۡ أَتَيۡتَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ بِكُلِّ ءَايَةٖ مَّا تَبِعُواْ قِبۡلَتَكَۚ وَمَآ أَنتَ بِتَابِعٖ قِبۡلَتَهُمۡۚ وَمَا بَعۡضُهُم بِتَابِعٖ قِبۡلَةَ بَعۡضٖۚ وَلَئِنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم مِّنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ إِنَّكَ إِذٗا لَّمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ١٤٥

And if you brought to those who were given the Scripture every sign, they would not follow your qiblah. Nor will you be a follower of their qiblah. Nor would they be followers of one another's qiblah. So if you were to follow their desires after what has come to you of knowledge, indeed, you would then be among the wrongdoers.

"Dan sungguh jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Dan sungguh jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zhalim." (Al-Baqarah: 145).

(145) Di antara semangat Nabi Muhammad ﷺ yang besar dalam menyampaikan hidayah kepada manusia adalah, beliau mengerahkan segala daya dan upaya untuk mereka dari nasihat dan lemah lembut dalam memberi hidayah kepada mereka, beliau sangat sedih bila mereka tidak tunduk kepada perintah Allah. Di antara kaum kafir ada yang membangkang terhadap perintah Allah, berlaku sombong terhadap Rasul-rasul Allah dan meninggalkan hidayah dengan sengaja dan melampaui batas; di antara mereka itu ada orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani, yaitu ahli kitab pertama yang mengingkari Nabi Muhammad ﷺ dengan keyakinan, bukan dengan kebodohan. Oleh karena itu Allah تعالى mengabarkan bahwasanya sekiranya, ﴾ أَتَيۡتَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ بِكُلِّ ءَايَةٖ ﴿ "kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan)," maksudnya, dengan segala bukti nyata dan dalil yang menjelaskan perkataan-mu dan menerangkan apa yang kamu dakwahkan kepadanya,﴾ مَّا تَبِعُواْ قِبۡلَتَكَۚ ﴿ "mereka tidak akan mengikuti kiblatmu," maksudnya, mereka tidak akan mengikutimu; karena mengikuti dalam hal kiblat me-nunjukkan akan ketundukan kepada beliau, dan karena sebabnya adalah dalam perkara kiblat, dan perkara tersebut bisa seperti itu adalah karena mereka durhaka, di mana mereka telah mengetahui kebenaran namun mereka meninggalkannya, maka ayat-ayat itu hanya akan bermanfaat bagi orang yang mencari kebenaran, namun perkaranya samar menurutnya, maka ayat-ayat yang jelas akan (berfungsi) menerangkan untuknya. Adapun orang yang telah bertekad untuk tidak mengikuti kebenaran, maka tidak ada alasan lagi baginya, dan juga perpecah-an di antara mereka benar-benar terjadi, di mana sebagian mereka tidak mengikuti kiblat sebagian yang lain. Oleh karena itu, bukan-lah suatu hal yang aneh, apabila mereka tidak mengikuti kiblatmu wahai Muhammad ﷺ, dan mereka itu adalah musuh yang benar-benar dengki. FirmanNya, ﴾ وَمَآ أَنتَ بِتَابِعٖ قِبۡلَتَهُمۡۚ ﴿ "Dan kamu pun tidak akan meng-ikuti kiblat mereka," ini lebih mantap daripada kalimat "janganlah kamu mengikuti," karena hal itu mengandung suatu dugaan bahwa Muhammad ﷺ memiliki sifat tampil beda dengan mereka, maka hal itu tidaklah mungkin terjadi dari beliau. Allah juga tidak ber-firman "sekiranya didatangkan kepada mereka setiap ayat," karena mereka tidak memiliki dalil atas apa yang mereka katakan. Demi-kian juga apabila telah jelas kebenaran itu dengan dalil-dalilnya yang yakin, maka tidaklah harus menjawab hal yang syubhat yang muncul darinya, karena dia tidak memiliki batas dan juga karena dia mengetahui kebatilannya, atas dasar pengetahuan bahwa setiap yang bertentangan dengan kebenaran yang jelas itu adalah suatu kebatilan, maka menjawab hal yang syubhat itu hanyalah sebatas suatu tindakan derma semata (yang tidak harus). ﴾ وَلَئِنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم ﴿ "Dan sungguh jika kamu mengikuti keinginan mereka." Allah berkata, "keinginan mereka" dan tidak berkata "agama mereka"; karena apa yang mereka anut saat itu adalah sebatas hawa nafsu diri mereka, hingga dalam hati mereka pun mengetahui bahwa hal itu bukanlah agama, dan barangsiapa yang meninggal-kan agama, maka dia hanya mengikuti hawa nafsu, tidak ada lain-nya. Allah تعالى berfirman, ﴾ أَفَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ ﴿ "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsu-nya sebagai tuhannya?" (Al-Jatsiyah: 23). ﴾ مِّنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ ﴿ "Setelah datang ilmu kepadamu," bahwa-sanya engkau berada di atas kebenaran sedangkan mereka dalam kebatilan, ﴾ إِنَّكَ إِذٗا ﴿ "sesungguhnya kamu kalau begitu," maksudnya, jika kamu mengikuti mereka, hal ini adalah sebuah tindakan pen-cegahan agar kalimat ini tidak terputus dengan kalimat yang se-belumnya, walaupun hanya dalam pikiran, ﴾ لَّمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "termasuk golongan orang-orang yang zhalim," yakni, tergolong bersama mereka dan tergabung di antara kelompok mereka. Dan kezhaliman apa-kah yang paling keji dari kezhaliman orang yang mengetahui kebenaran dan kebatilan lalu dia lebih memilih kebatilan daripada kebenaran? Hal ini walaupun pembicaraannya kepada Muhammad ﷺ, namun umatnya termasuk di dalamnya. Demikian juga apabila beliau ﷺ melakukan hal itu -dan ini tentu sangatlah mustahil- niscaya beliau juga zhalim, meskipun dengan kedudukannya yang tinggi dan kebaikannya yang banyak, maka orang-orang yang selainnya tentunya lebih pantas dan patut.

2:146–147Page 23

ٱلَّذِينَ ءَاتَيۡنَٰهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ يَعۡرِفُونَهُۥ كَمَا يَعۡرِفُونَ أَبۡنَآءَهُمۡۖ وَإِنَّ فَرِيقٗا مِّنۡهُمۡ لَيَكۡتُمُونَ ٱلۡحَقَّ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ ١٤٦

Those to whom We gave the Scripture know him [i.e., Prophet Muḥammad (ﷺ)] as they know their own sons. But indeed, a party of them conceal the truth while they know [it].

ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُمۡتَرِينَ ١٤٧

The truth is from your Lord, so never be among the doubters.

"Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka me-ngetahui. Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu." (Al-Baqarah: 146-147).

(146) Allah تعالى mengabarkan bahwasanya ahli kitab itu telah jelas bagi mereka dan telah mereka ketahui bahwa Nabi Muhammad ﷺ itu adalah Rasulullah dan bahwa apa yang dibawa oleh beliau itu adalah haq dan benar. Bahkan mereka sangat yakin akan hal itu sebagaimana mereka yakin terhadap anak-anak mereka, di mana mereka tidak mungkin saling tertukar dengan anak-anak yang lain. Oleh karena itu pengetahuan mereka tentang Nabi Muhammad ﷺ telah sampai pada batas tidak ada keraguan dan tidak ada perde-batan padanya. Akan tetapi kelompok mayoritas di antara mereka mengingkari beliau, mereka menyembunyikan kesaksian yang meyakinkan tersebut padahal mereka mengetahuinya. Maka siapa-kah yang lebih zhalim dari orang yang menyembunyikan kesaksian dari sisi Allah? Termasuk dalam kandungan ayat ini adalah hiburan bagi Rasulullah ﷺ dan kaum Mukminin, juga peringatan untuk mereka dari kejahatan orang-orang kafir dan syubhat mereka. Namun ada sekelompok dari mereka yang tidak menyembunyikan kebenaran tersebut dan mereka mengetahui hal itu, dan di antara mereka ada yang beriman dan ada juga yang tetap kafir kepadanya karena kebodohan. Seorang yang berilmu wajib memperlihatkan kebenaran, menjelaskan, dan menghiasinya dengan segala yang mampu dia lakukan dari penjelasan kalimat, pengungkapan keterangan, contoh, dan lain sebagainya. Dan wajib baginya mengingkari kebatilan, membedakannya dari kebenaran, dan menjadikannya dibenci oleh jiwa dengan segala cara yang menyampaikan kepada hal tersebut. Dan oleh karena orang-orang yang telah menyembunyikan kebe-naran tersebut telah berlaku kebalikan dari yang seharusnya, maka kondisi mereka pun terimbas dengannya.

(147) ﴾ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ ﴿ "Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu," mak-sudnya, kebenaran ini adalah yang paling benar untuk dinamakan sebagai kebenaran dari segala sesuatu, karena apa yang ia kandung dari cita-cita yang tinggi, perintah-perintah yang baik, penyucian jiwa, mengajaknya kepada hal-hal yang mendatangkan manfaat dan menolak mudarat adalah bersumber dari Tuhanmu, dan yang termasuk dalam bimbinganNya bagimu adalah bahwa Dia menu-runkan kepadamu al-Qur`an yang berisi pendidikan bagi akal, jiwa dan segala kemaslahatan. ﴾ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُمۡتَرِينَ ﴿ "Sebab itu janganlah se-kali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu," yakni, jangan sampai ada sedikit saja keraguan dan kebimbangan darimu, akan tetapi renungkan dan pikirkanlah hal itu hingga kamu sampai kepada keyakinan, karena berpikir tentangnya sudah pasti akan menghi-langkan keraguan dan akan menyampaikan kepada keyakinan.

2:148Page 23

وَلِكُلّٖ وِجۡهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَاۖ فَٱسۡتَبِقُواْ ٱلۡخَيۡرَٰتِۚ أَيۡنَ مَا تَكُونُواْ يَأۡتِ بِكُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًاۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ١٤٨

For each [religious following] is a [prayer] direction toward which it faces. So race to [all that is] good. Wherever you may be, Allāh will bring you forth [for judgement] all together. Indeed, Allāh is over all things competent.

"Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam mem-buat) kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada Hari Kiamat). Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (Al-Baqarah: 148).

(148) Maksudnya, setiap pemeluk suatu agama pasti memi-liki arah yang menjadi tujuan dalam menghadap ketika beribadah, dan masalahnya bukan menghadap kiblat, karena sesungguhnya dia adalah sebuah syariat di mana waktu dan kondisi bisa berubah, dan terkena hukum nasakh dan peralihan dari suatu arah ke arah yang lain, akan tetapi masalahnya adalah dalam menunaikan ke-taatan kepada Allah, mendekatkan diri kepadaNya, dan memohon derajat dariNya. Inilah tanda-tanda kebahagiaan dan kecintaan, yaitu suatu hal yang bila jiwa tidak bersifat dengannya, niscaya akan mengakibatkan kerugian dunia dan akhirat, sebagaimana juga bila dia bersifat dengannya, maka itulah keuntungan yang sesungguhnya. Ini adalah suatu perkara yang telah disepakati dalam seluruh syariat, karena Allah menciptakan makhluk untuk hal itu dan Dia perintahkan kepadanya. Perintah untuk berlomba kepada kebaikan merupakan suatu yang lebih dari sekedar perintah untuk berbuat baik, karena berlomba berbuat kebaikan meliputi beberapa hal, yaitu dengan melakukannya, menyempurnakannya, dan menem-patkannya dalam bentuk yang paling sempurna, serta bersegera kepadanya. Barangsiapa yang berlomba kepada kebaikan di dunia, maka dia akan menjadi pemenang di akhirat dengan surga, dan orang-orang yang terdepan dalam perlombaan adalah makhluk yang paling tinggi derajatnya. Kebaikan itu meliputi segala hal yang diwajibkan dan yang disunnahkan, seperti Shalat, Puasa, Zakat, Haji, Umrah dan Jihad serta memberikan manfaat secara luas maupun sempit. Ketika suatu hal yang paling mendorong jiwa untuk berlomba-lomba kepada kebaikan dan menggiatkannya adalah apa yang dijanjikan oleh Allah terhadapnya dari pahala, maka Allah berfirman,﴾ أَيۡنَ مَا تَكُونُواْ يَأۡتِ بِكُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًاۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada Hari Kiamat). Sesung-guhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu," Allah akan mengumpul-kan kalian pada Hari Kiamat dengan kuasaNya, kemudian Allah akan membalas segala perbuatan setiap orang sesuai dengan per-buatannya, ﴾ لِيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَسَٰٓـُٔواْ بِمَا عَمِلُواْ وَيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ بِٱلۡحُسۡنَى 31 ﴿ "Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga)." (An-Najm: 31). Ayat yang mulia ini dapat dijadikan dalil untuk mengadakan setiap hal yang mulia yang berkaitan dengan suatu perbuatan, seperti shalat pada awal waktu, bersegera dalam menunaikan ke-wajiban, seperti puasa, Haji, Umrah, mengeluarkan Zakat, menger-jakan sunnah-sunnah ibadah dan adab-adabnya. Sungguh hanya milik Allah sajalah ayat yang sangat lengkap dan paling berman-faat ini.

2:149–150Page 23

وَمِنۡ حَيۡثُ خَرَجۡتَ فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۖ وَإِنَّهُۥ لَلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ ١٤٩

So from wherever you go out [for prayer, O Muḥammad], turn your face toward al-Masjid al-Ḥarām, and indeed, it is the truth from your Lord. And Allāh is not unaware of what you do.

وَمِنۡ حَيۡثُ خَرَجۡتَ فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۚ وَحَيۡثُ مَا كُنتُمۡ فَوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ شَطۡرَهُۥ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيۡكُمۡ حُجَّةٌ إِلَّا ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنۡهُمۡ فَلَا تَخۡشَوۡهُمۡ وَٱخۡشَوۡنِي وَلِأُتِمَّ نِعۡمَتِي عَلَيۡكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ١٥٠

And from wherever you go out [for prayer], turn your face toward al-Masjid al-Ḥarām. And wherever you [believers] may be, turn your faces toward it in order that the people will not have any argument against you, except for those of them who commit wrong; so fear them not but fear Me. And [it is] so I may complete My favor upon you and that you may be guided,

Dan darimana saja kamu keluar, maka palingkanlah Wajah-mu ke arah Masjidil Haram, sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang haq dari Rabb. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajah-mu ke arahnya, agar tidak ada hujjah (alasan) bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zhalim di antara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepadaKu. Dan agar Aku sempurnakan nikmatKu atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk. (Al-Baqarah: 149-150).

(149) Maksudnya, ﴾ وَمِنۡ حَيۡثُ خَرَجۡتَ ﴿ "Dan dari mana saja kamu keluar" dalam perjalananmu atau selainnya; dan ini bersifat umum, ﴾ فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۖ ﴿ "maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram," maksudnya, menghadaplah kepadanya, kemudian Allah mengarahkan FirmanNya kepada seluruh umat secara umum,

(150) ﴾ وَحَيۡثُ مَا كُنتُمۡ فَوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ شَطۡرَهُۥ ﴿ "Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya," lalu Dia berfirman, ﴾ وَإِنَّهُۥ لَلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَۗ ﴿ "Sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang haq dari Rabbmu." Allah menegaskan dengan huruf "inna" dan "lam," agar tidak terjadi syubhat yang terkecil sekalipun pada seseorang, dan agar dia tidak mengira bahwa itu hanyalah kesenangan belaka dan bukannya melaksanakan perintah. ﴾ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan," akan tetapi Dia mengawasi kalian di segala kondisi kalian, maka berbuat baiklah kepadaNya dan cermatilah pengawasanNya dengan selalu melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-laranganNya, karena sesungguhnya perbuatan-perbuatan kalian itu tidaklah dilalaikan, akan tetapi akan mendapatkan balasannya dengan balasan yang paling sem-purna; bila baik, maka baiklah balasannya, dan bila buruk, maka buruk pulalah balasannya. Allah تعالى kemudian berfirman, ﴾ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيۡكُمۡ حُجَّةٌ ﴿ "Agar tidak ada hujjah (alasan) bagi manusia atas kamu," maksudnya, Kami menetapkan bagi kalian untuk menghadap Ka'bah yang mulia, agar tidak ada bantahan dari ahli Kitab dan kaum musyrikin kepada kalian, karena seandainya kalian masih tetap menghadap ke Baitul Maqdis, niscaya hujjah itu akan terus ada, karena sesungguhnya ahli Kitab mendapatkan dalam kitab mereka bahwa kiblat mereka yang tetap adalah Ka'bah Baitul Haram, sedang kaum musyrikin memandang bahwa di antara kehormatan milik mereka adalah al-Baitul Haram tersebut, dan bahwa dia adalah dari ajaran Nabi Ibrahim عليه السلام. Bila Nabi Muhammad ﷺ tidak berkiblat ke arahnya, niscaya bantahan-bantahan mereka akan tertuju kepada beliau dengan berkata, Bagaimana dia mengaku menganut ajaran Nabi Ibrahim sedangkan dia termasuk keturunannya, namun dia me-ninggalkan menghadap kiblatnya? Oleh karena itu, dengan meng-hadap ke arah kiblat, maka tegaklah hujjah atas ahli kitab dan kaum musyrikin sekaligus serta lenyaplah bantahan mereka atas beliau ﷺ kecuali orang-orang yang zhalim di antara mereka. Artinya orang yang berhujjah di antara mereka dengan hujjah yang dia berlaku zhalim dengannya yang tidak memiliki sandaran sama sekali kecuali hanya hawa nafsu dan kezhaliman, maka orang seperti ini tidak ada jalan untuk memuaskannya dan berhujjah atasnya, demikian pula tidak ada artinya menjadikan syubhat yang mereka utarakan dengan maksud membantah itu sebagai suatu masalah yang tidak perlu diperhatikan dan tidak perlu dipeduli-kan. Oleh karena itu Allah تعالى berfirman, ﴾ فَلَا تَخۡشَوۡهُمۡ ﴿ "Maka jangan-lah kau takut kepada mereka," karena hujjah mereka adalah batil, sedangkan batil itu adalah seperti namanya sendiri yaitu sesuatu yang ditinggalkan, dan ahli kebatilan ditinggalkan. Hal ini sangat berbeda jauh dengan ahli kebenaran, karena kebenaran itu memi-liki kekuatan dan kemuliaan yang menimbulkan rasa takut kepada mereka yang berada dalam kebenaran, Allah تعالى memerintahkan untuk takut kepadaNya di mana hal itu merupakan puncak dari segala kebaikan. Maka barangsiapa yang tidak takut kepada Allah, niscaya dia tidak akan menahan diri dari kemaksiatan kepadaNya, dan tidak menunaikan perintahNya. Perpindahan kiblat kaum Muslimin ke arah Ka'bah mengaki-batkan fitnah yang besar yang dimunculkan oleh ahli Kitab, kaum munafik dan kaum musyrikin. Mereka memperbesar fitnah itu dengan memperbanyak pembicaraan dan syubhat-syubhat tentang-nya. Oleh karena itu Allah membeberkan hal tersebut dan menjelas-kannya dengan sejelas-jelasnya serta menegaskannya dengan segala bentuk sarana-sarana penegasan yang dikandung dalam ayat ini: Pertama: Adanya perintah untuk memalingkan wajah ke arah Ka'bah sebanyak tiga kali, padahal dengan sekali saja sudah cukup. Kedua: Kesepakatan bahwa perintah itu ditujukan kepada Rasul yang tentunya umatnya termasuk di dalamnya sebagai suatu konsekuensi, atau ditujukan langsung kepada umat yang bersifat umum, dan dalam ayat ini perintah kepada Rasul secara khusus, ﴾ فَوَلِّ وَجۡهَكَ ﴿ "Palingkanlah wajahmu," dan kepada umat secara umum dalam Firman Allah, ﴾ فَوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ ﴿ "Maka palingkanlah wajah kalian ke arahnya." Ketiga: Bahwasanya Allah menolak segala bantahan batil yang dimunculkan oleh orang-orang durhaka, dan Allah meng-gugurkan semua syubhat satu demi satu sebagaimana yang telah dijelaskan. Keempat: Bahwasanya Allah memupus keinginan yang besar (ahli Kitab) agar Rasul ikut menghadap kiblat ahli kitab (Baitul Maqdis). Kelima: FirmanNya, ﴾ وَإِنَّهُۥ لَلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَۗ ﴿ "Sesungguhnya ketentuan itu adalah benar-benar suatu yang haq dari Rabbmu." Sudah cukup dan lengkap hanya dengan sebatas kabar dari Dzat yang Benar dan Agung, akan tetapi dengan hal itu juga Allah berfirman,﴾ وَإِنَّهُۥ لَلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَۗ ﴿ "Sesungguhnya ketentuan itu adalah benar-benar suatu yang haq dari Rabbmu." Keenam: Allah mengabarkan –dan Dia adalah Dzat yang Mahatahu segala yang tersembunyi– bahwasanya tentang kebe-naran hal itu telah diakui oleh ahli Kitab, akan tetapi mereka me-nyembunyikan pengakuan dan kesaksian itu. Dan karena perintahNya tentang peralihan dalam menghadap kiblat bagi kita adalah sebuah nikmat yang besar, kasih sayang dan rahmatNya terhadap umat ini senantiasa bertambah, dan setiap kali Dia mensyariatkan kepada mereka suatu syariat agama itu merupakan suatu kenikmatan yang besar, maka Dia berfirman, ﴾ وَلِأُتِمَّ نِعۡمَتِي عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Dan agar Kusempurnakan nikmatKu atas kamu." Maka dasar kenikmatan itu adalah hidayah kepada agamaNya dengan mengutus RasulNya dan penurunan kitabNya, kemudian setelah itu ada kenikmatan-kenikmatan pelengkap bagi nikmat dasar ini yang tidak dapat dihitung banyaknya dan tidak dapat dibatasi sejak Allah mengutus RasulNya hingga mendekati kepergian beliau dari dunia. Allah تعالى telah memberikan kepadanya segala nikmat, serta memberikan kepada umatnya apa yang menyempurnakan nikmatnya itu kepada beliau dan kepada mereka lalu Allah menu-runkan wahyu kepadanya, ﴾ ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ ﴿ "Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu." (Al-Ma`idah: 3). Segala puji hanya milik Allah atas segala karuniaNya yang tidak mampu kita hitung, apalagi untuk mensyukurinya, ﴾ وَلَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ﴿ "dan supaya kamu mendapat petunjuk," maksudnya, kalian mengetahui kebenaran lalu mengamalkannya. Merupakan rahmat Allah تعالى terhadap hamba-hambaNya, yaitu Dia memudahkan bagi mereka sebab-sebab hidayah dengan sangat mudah sekali, dan Dia mengingatkan mereka untuk me-nempuh jalannya, lalu Allah menjelaskan kepada mereka dengan keterangan yang paling sempurna. Dan di antara hal itu adalah Dia menakdirkan bagi kebenaran itu adanya para pembangkang terhadapnya, lalu mereka berdebat tentangnya, hingga jelaslah kebenaran dan nampaklah ayat-ayat dan tanda-tandaNya, serta teranglah batilnya kebatilan itu dan bahwa kebatilan itu tidak ada hakikatnya sama sekali. Sekiranya bukan karena adanya perlawanan kebatilan terhadap kebenaran, mungkin saja keadaannya tidak akan jelas bagi sebagian besar makhluk, karena dengan hal yang kontradiksi, jelaslah segala sesuatu. Sekiranya bukan karena adanya malam hari, tidaklah diketahui keutamaan siang hari, sekiranya bukan karena kejelekan, tidaklah diketahui keutamaan keindahan, sekiranya bukan karena kegelapan, tidaklah diketahui manfaatnya cahaya, dan sekiranya bukan karena kebatilan, maka kebenaran tidak akan benar-benar jelas. Akhirnya segala puji hanya bagi Allah atas semua itu.

2:151–152Page 23

كَمَآ أَرۡسَلۡنَا فِيكُمۡ رَسُولٗا مِّنكُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡكُمۡ ءَايَٰتِنَا وَيُزَكِّيكُمۡ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمۡ تَكُونُواْ تَعۡلَمُونَ ١٥١

Just as We have sent among you a messenger from yourselves reciting to you Our verses and purifying you and teaching you the Book and wisdom1 and teaching you that which you did not know.

فَٱذۡكُرُونِيٓ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِي وَلَا تَكۡفُرُونِ ١٥٢

So remember Me; I will remember you. And be grateful to Me and do not deny Me.

"Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah) serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)Ku." (Al-Baqarah: 151-152).

(151) Allah تعالى menyatakan, "Sesungguhnya pemberian nikmat Kami atas kalian dengan menghadap ke Ka'bah dan pe-nyempurnaannya dengan dasar-dasar syariat serta nikmat-nikmat penyempurna, bukanlah suatu yang aneh dalam kebaikan Kami dan bukan pula yang pertama, bahkan Kami telah memberikan nikmat atas kalian dengan nikmat-nikmat dasar dan penyempurna-nya, dan yang paling besar adalah Kami mengutus kepada kalian seorang Rasul yang mulia dari kalangan kalian, di mana kalian mengetahui garis keturunannya, kejujuran, amanah, kesempurnaan, dan ketulusannya, ﴾ يَتۡلُواْ عَلَيۡكُمۡ ءَايَٰتِنَا ﴿ "yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu." Ini mencakup segala ayat-ayatNya, baik ayat al-Qur`an maupun ayat-ayat lainnya, beliau membacakan kepada kalian ayat-ayat yang menjelaskan kebenaran dari kebatilan dan hidayah dari kesesatan, yang menunjukkan kepada kalian, pertama, tentang keesaan Allah dan kesempurnaanNya, kedua, tentang kebenaran RasulNya, dan wajibnya beriman kepadanya, kemudian kepada segala hal yang dikabarkan olehnya berupa Hari Pembalasan mau-pun hal-hal yang ghaib, hingga kalian memperoleh hidayah yang sempurna dan ilmu yang meyakinkan. ﴾ وَيُزَكِّيكُمۡ ﴿ "Dan menyucikan kamu," maksudnya, menyucikan akhlak dan jiwa kalian dengan mendidiknya. Dengan akhlak yang mulia, dan membersihkannya dari akhlak yang tercela, yang de-mikian itu seperti menyucikan mereka dari kesyirikan kepada ke-tauhidan, dari riya` kepada keikhlasan, dari kebohongan kepada kejujuran, dari pengkhianatan kepada amanah, dari kesombongan kepada kerendahan hati, dari akhlak yang buruk kepada akhlak yang luhur, dan dari saling benci, saling bermusuhan, serta saling memutuskan hubungan kepada saling mencintai, saling bersilatu-rahim, dan saling kasih mengasihi, dan lain sebagainya dari bentuk-bentuk penyucian. ﴾ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Dan mengajarkan kepadamu al-Kitab," yaitu al-Qur`an, baik lafazhnya maupun maknanya, ﴾ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "dan al-Hikmah." Suatu pendapat berkata, al-Hikmah adalah as-Sunnah. Yang lain berpendapat, al-Hikmah adalah mengetahui rahasia-rahasia syariat dan fikih serta menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Maka dalam hal ini pengajaran as-Sunnah termasuk ke dalam pengajaran al-Kitab, karena as-Sunnah itu menjelaskan al-Qur`an, menafsirkannya, dan mengutarakan maksudnya, ﴾ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمۡ تَكُونُواْ تَعۡلَمُونَ ﴿ "dan mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui," karena mereka itu benar-benar ada dalam kesesatan yang nyata sebelum diutusnya beliau ﷺ, yang tidak berilmu dan tidak pula beramal. Setiap ilmu maupun amal yang diperoleh umat ini adalah dari Rasulullah ﷺ dan karena sebab beliaulah semua itu ada. Nikmat-nikmat tersebut adalah nikmat-nikmat dasar secara mutlak, dan dia adalah kenikmatan terbesar yang Allah berikan kepada hamba-hambaNya. Oleh karena itu tugas mereka selanjut-nya adalah bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat tersebut dan menegakkannya. Karena itu Allah berfirman,

(152) ﴾ فَٱذۡكُرُونِيٓ أَذۡكُرۡكُمۡ ﴿ "Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu, nis-caya Aku ingat (pula) kepadamu." Allah تعالى memerintahkan hamba-hambaNya untuk mengingatNya, dan menjanjikan baginya sebaik-baik balasan yaitu bahwa Allah akan mengingatnya pula, yaitu bagi orang yang ingat kepadaNya, sebagaimana yang disabdakan dari lisan RasulNya, مَنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِيْ نَفْسِيْ، وَمَنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِيْ مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ. "Barangsiapa yang menyebut (mengingat)Ku pada dirinya, niscaya Aku akan mengingatnya pada DiriKu, dan barangsiapa yang menyebut (mengingat)Ku pada khalayak ramai, niscaya Aku akan mengingatnya pula pada khalayak ramai yang lebih baik dari mereka."[1] Dzikir kepada Allah تعالى yang paling istimewa adalah dzikir yang dilakukan dengan hati dan lisan yaitu dzikir yang menum-buhkan ma'rifat kepada Allah, kecintaan padaNya, dan menghasil-kan ganjaran yang banyak dariNya. Dzikir adalah puncak rasa syukur. Oleh Karena itu Allah memerintahkan hal itu secara khusus, kemudian memerintahkan untuk bersyukur secara umum seraya berfirman, ﴾ وَٱشۡكُرُواْ لِي ﴿ "Dan bersyukurlah kepadaKu," maksudnya, terhadap apa yang telah Aku nikmatkan kepada kalian dengan nikmat-nikmat tersebut dan Aku jauhkan dari kalian berbagai ma-cam kesulitan. Syukur itu dilakukan dengan hati berupa pengakuan atas kenikmatan yang didapatkan, dengan lisan berupa dzikir dan pujian, dan dengan anggota tubuh berupa ketaatan kepada Allah serta kepatuhan terhadap perintahNya dan menjauhi laranganNya. Syukur itu menyebabkan kelanggengan nikmat yang telah dida-patkan dan menambah kenikmatan yang belum didapatkan. Allah تعالى berfirman, ﴾ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ ﴿ "Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah, (nikmat) kepa-damu." (Ibrahim: 7). Dengan adanya perintah untuk bersyukur setelah kenikmatan agama, seperti ilmu dan penyucian akhlak, serta taufik kepada pengamalan, merupakan penjelasan bahwa hal itu adalah sebesar-besarnya kenikmatan, bahkan dia adalah kenikmatan yang sebe-narnya yang akan selalu eksis bila yang lainnya lenyap. Dan seyog-yanya bagi orang yang diberikan taufik kepada ilmu dan amal agar bersyukur kepada Allah atas semua itu, agar Allah menambahkan nikmatNya dan menghindarkan dirinya dari rasa bangga diri hingga akhirnya dia hanya sibuk dengan bersyukur. Dan ketika kebalikan dari rasa syukur adalah pengingkaran, maka Allah تعالى melarang pengingkaran tersebut seraya berfirman, ﴾ وَلَا تَكۡفُرُونِ ﴿ "Dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu," maksud dari pengingkaran di sini adalah suatu hal yang bertolak belakang dengan bersyukur, yaitu ingkar terhadap kenikmatan yang diberi-kan dan menampiknya, serta tidak bersyukur kepadaNya. Kemungkinan juga maknanya adalah bersifat umum, maka pengingkaran itu ada bermacam-macam, dan yang paling besar adalah pengingkaran terhadap Allah, kemudian macam-macam kemaksiatan dengan segala bentuk dan jenisnya dari kesyirikan dan selainnya.

2:153Page 23

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٣

O you who have believed, seek help through patience and prayer. Indeed, Allāh is with the patient.

"Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (ke-pada Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah: 153).

(153) Allah تعالى memerintahkan kaum Mukminin untuk meminta pertolongan dalam segala urusan mereka, baik dunia maupun akhirat, ﴾ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ ﴿ "dengan sabar dan shalat." Kesabaran adalah pengendalian dan penjagaan diri terhadap hal yang dibenci. Dan kesabaran ada tiga macam, yaitu sabar dalam ketaatan kepada Allah hingga mampu menunaikannya, sabar dari kemaksiatan kepada Allah hingga menjauhinya, dan sabar atas takdir-takdir Allah yang memilukan agar tidak memakinya. Kesabaran adalah pertolongan yang besar terhadap segala sesuatu, karena sama sekali tidak ada jalan bagi orang yang tidak bersabar untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, khususnya dalam hal ketaatan yang sangat sulit dan berkesinambungan, di mana hal itu sangatlah membutuhkan kesabaran dan keberanian untuk merasakan kepahitan yang menyakitkan. Namun jika pela-kunya itu konsekuen dengan kesabaran, niscaya dia akan memper-oleh kemenangan, namun bila dia dijauhkan oleh hal yang tidak disukai dan hal yang sulit dari kesabaran dan konsekuen terhadap-nya, niscaya dia tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali keham-paan. Demikian pula dalam hal kemaksiatan yang mana dorongan nafsu dan godaannya yang begitu kuat untuk melakukannya dan dia sendiri mampu melakukannya, dan ini tidaklah mungkin ditinggalkan kecuali dengan kesabaran yang besar serta menahan dorongan dan godaan nafsunya karena Allah تعالى, lalu dia meminta pertolongan kepadaNya untuk memeliharanya dari perbuatan tersebut, karena hal itu adalah termasuk fitnah-fitnah yang besar. Demikian juga ujian yang paling berat, khususnya bila berlanjut. Dan ini akan lemah dengan adanya kekuatan rohani dan jasmani namun ujian tersebut akan menimbulkan kecaman bila dia tidak melawannya dengan kesabaran karena Allah, dan bertawakal padaNya dengan bersandar kepadaNya, serta melakukannya secara terus-menerus. Akhirnya Anda ketahui bahwa kesabaran itu sangatlah di-butuhkan oleh seorang hamba, bahkan menjadi suatu yang darurat dalam setiap kondisi. Oleh karena itu Allah تعالى memerintahkan kepadanya dan mengabarkan bahwasanya Dia, ﴾ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "beserta orang-orang yang sabar," maksudnya beserta orang yang menjadikan kesabaran sebagai akhlak, sifat, dan karakternya dengan adanya pertolongan, bimbingan, dan arahanNya, hingga kesulitan dan kemalangan itu terasa sepele, segala hal yang besar terasa mudah, dan segala kesusahan yang dia rasakan akan lenyap. Ini adalah kebersamaan khusus yang akan menyebabkan kecintaan, perto-longan, pembelaan, dan kedekatanNya, dan ini semua adalah keutamaan yang besar bagi orang-orang yang bersabar. Sekiranya orang-orang yang bersabar itu tidak memiliki keutamaan, kecuali mereka memperoleh kebersamaan dari Allah itu, niscaya cukuplah bagi mereka hal itu sebagai keutamaan dan kemuliaan. Adapun kebersamaan yang umum yaitu kebersamaan ilmu dan kekuasaan sebagaimana dalam FirmanNya, ﴾ وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡۚ ﴿ "Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada," (Al-Hadid: 4), maka ini bersifat umum untuk seluruh makhluk. Dan Allah تعالى memerintahkan untuk meminta pertolongan dengan Shalat, karena Shalat adalah tiang Agama dan cahaya kaum Mukminin, dan ia adalah penghubung antara seorang hamba de-ngan Rabbnya. Apabila shalat seorang hamba itu sempurna, ditam-bah dengan apa yang diwajibkan dan yang disunnahkan padanya, Shalat yang terisi oleh kehadiran hati yang merupakan intinya, hingga seorang hamba bila mulai melaksanakan Shalat, dia merasa masuk menemui Tuhannya dan berdiri berhadapan denganNya sebagaimana berdirinya seorang pembantu yang bersopan santun dan penuh perhatian dengan apa yang dia bicarakan dan apa yang ia lakukan, serta terbuai dalam bermunajat kepada Rabbnya dan berdoa kepadaNya; maka tidak salah lagi bahwa Shalat itu adalah sebesar-besar penolong dari segala perkara, karena shalat itu men-cegah dari perbuatan keji dan mungkar, dan karena kehadiran hati di dalam shalat itu mengharuskan adanya sebuah karakter dalam hati seorang hamba yang mengajaknya kepada pelaksanaan perin-tah Rabbnya dan menjauhi larangan-laranganNya. Inilah shalat yang diperintahkan oleh Allah untuk dijadikan penolong dalam segala perkara.

2:154Page 24

وَلَا تَقُولُواْ لِمَن يُقۡتَلُ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمۡوَٰتُۢۚ بَلۡ أَحۡيَآءٞ وَلَٰكِن لَّا تَشۡعُرُونَ ١٥٤

And do not say about those who are killed in the way of Allāh, "They are dead." Rather, they are alive, but you perceive [it] not.

"Dan janganlah kamu mengatakan tentang orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati, bahkan (sebenar-nya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya." (Al-Baqarah: 154).

(154) Ketika Allah تعالى menyebutkan perintah untuk men-jadikan kesabaran sebagai penolong dalam segala hal, lalu Dia menyebutkan sebuah contoh dalam menjadikan kesabaran sebagai penolong, yaitu berjihad di jalanNya, di mana jihad itu merupakan ketaatan paling utama yang bersifat jasmani dan suatu hal yang paling berat bagi jiwa karena kesulitan yang ada dalam dirinya berkaitan dengan nyawa, dan karena hal itu bisa mengakibatkan kematian serta kehilangan nyawa yang hanya disukai oleh orang-orang yang cinta kepada dunia agar mendapatkan kehidupan dan sumber-sumbernya, dan semua yang mereka lakukan adalah se-buah usaha untuk mendapatkan kehidupan dan menolak hal yang bertentangan dengannya. Dan telah diketahui bahwa sesuatu yang dicintai tidak akan ditinggalkan oleh seorang yang berakal kecuali kepada suatu hal yang dicintai yang lebih tinggi dan lebih agung. Maka Allah تعالى mengabarkan bahwa barangsiapa yang terbunuh di jalanNya yaitu berperang di jalan Allah dengan maksud untuk meninggikan kalimat Allah dan agamaNya yang jelas dan bukan karena tujuan lainnya, niscaya dia tidak akan kehilangan kehidupan yang dia cintai, bahkan dia akan memperoleh kehidupan yang lebih utama dan lebih sempurna daripada apa yang kalian perkirakan dan pikirkan. Maka orang-orang yang mati syahid itu, ﴾ أَحۡيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمۡ يُرۡزَقُونَ 169 فَرِحِينَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ وَيَسۡتَبۡشِرُونَ بِٱلَّذِينَ لَمۡ يَلۡحَقُواْ بِهِم مِّنۡ خَلۡفِهِمۡ أَلَّا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ 170 يَسۡتَبۡشِرُونَ بِنِعۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَفَضۡلٖ وَأَنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 171 ﴿ "Mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikanNya kepada mereka, dan mereka bergirang hati tentang orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman." (Ali Imran: 169-171). Adakah yang lebih agung dari kehidupan tersebut yang me-ngandung kedekatan dengan Allah تعالى dan menikmati rizkiNya yang bersifat jasmani seperti makanan dan minuman yang lezat serta rizki yang bersifat rohani seperti kesenangan, hilangnya se-gala kekhawatiran dan kesedihan? Inilah kehidupan Alam Barzakh yang lebih sempurna dari kehidupan dunia. Bahkan Nabi ﷺ telah mengabarkan bahwa ruh para syuhada ada dalam perut (tembolok) burung hijau yang minum dari sungai-sungai surga, makan buah-buahan surga, dan berlindung dalam sangkar-sangkar yang digan-tung di bawah Arasy.[2] Ayat ini mengandung anjuran paling besar untuk berjihad di jalan Allah dan konsisten di atas kesabaran padanya, jikalau hamba merasakan apa yang didapatkan oleh orang-orang yang terbunuh di jalan Allah berupa pahala, niscaya tidak akan ada seorang pun yang mau terlambat melakukannya, namun karena tidak adanya pengetahuan pasti yang sempurna itulah yang membuat hilang-nya tekad, bertambah lelaplah orang yang tidur serta terlewatlah ganjaran yang agung dan ghanimah, kenapa tidak begitu, padahal Allah تعالى telah ﴾ ٱشۡتَرَىٰ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَنفُسَهُمۡ وَأَمۡوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلۡجَنَّةَۚ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَيَقۡتُلُونَ وَيُقۡتَلُونَۖ ﴿ "membeli dari orang-orang Mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh." (At-Taubah: 111). Demi Allah, sekiranya manusia memiliki seribu jiwa yang kemudian jiwa tersebut akan pergi satu persatu di jalan Allah, tidaklah menjadi suatu yang agung dibanding dengan pahala yang besar tersebut. Oleh karena itu, tidaklah para syuhada berangan-angan setelah mereka pasti mendapatkan ganjaran dan pahala yang baik dari Allah تعالى, kecuali mereka ingin dikembalikan ke dunia hingga mereka dapat terbunuh lagi di jalanNya sekali lagi dan sekali lagi. Ayat ini adalah dalil yang menunjukkan adanya kenikmatan Alam Barzakh dan siksaannya, sebagaimana banyak sekali ayat yang menunjukkan hal tersebut.

2:155–157Page 24

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٥

And We will surely test you with something of fear and hunger and a loss of wealth and lives and fruits, but give good tidings to the patient,

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ ١٥٦

Who, when disaster strikes them, say, "Indeed we belong to Allāh, and indeed to Him we will return."

أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰتٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٞۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ ١٥٧

Those are the ones upon whom are blessings from their Lord and mercy. And it is those who are the [rightly] guided.

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.' Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-Baqarah: 155-157).

(155) Allah تعالى mengabarkan bahwa sudah menjadi keha-rusan bagi hamba-hambaNya untuk diuji dengan segala cobaan agar jelas orang yang benar dan orang yang dusta, orang yang sabar dengan orang yang tidak sabar. Dan ini adalah sunnah Allah pada hamba-hambaNya, karena suatu kesenangan itu bila terus berlanjut bagi orang yang beriman dan tidak diiringi dengan suatu cobaan, niscaya akan terjadi campur aduk yang merupakan kerusakan baginya. Kemahabijaksanaan Allah memastikan untuk memilah-milah antara orang-orang yang baik dari orang-orang yang jahat. Inilah manfaat dari cobaan dan ujian, bukannya untuk menghilang-kan keimanan yang ada pada seorang hamba yang beriman dan tidak pula untuk memalingkan mereka dari agamanya, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan keimanan kaum Mukminin. Allah تعالى mengabarkan bahwasanya Dia akan menguji hamba-hambaNya ﴾ بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ ﴿ "dengan sedikit ketakutan" dari musuh-mu-suh ﴾ وَٱلۡجُوعِ ﴿ "dan kelaparan," yakni dengan suatu yang sedikit dari keduanya, karena apabila Allah menguji mereka dengan seluruh ketakutan atau seluruh kelaparan, niscaya mereka akan binasa, sedangkan cobaan-cobaan itu hanya akan membersihkan, bukannya membinasakan, ﴾ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ ﴿ "dan kekurangan harta," yang meliputi seluruh kekurangan yang bersangkutan dengan harta, baik bencana dari langit, tenggelam, kehilangan, raja-raja yang zhalim dan pe-rompak jalanan yang merampas harta dan sebagainya. ﴾ وَٱلۡأَنفُسِ ﴿ "Dan jiwa," yaitu perginya orang-orang yang dicintai, baik anak-anak, kerabat karib, dan teman sejawat, dan dari berbagai macam penyakit pada tubuh seorang hamba atau tubuh orang yang dicintainya, ﴾ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ ﴿ "dan buah-buahan," yaitu biji-bijian, hasil pohon kurma dan segala macam pepohonan serta sayur mayur, dengan adanya hawa dingin, gemuruh, kebakaran, atau penyakit dari langit seperti adanya hama belalang atau semacamnya. Hal-hal tersebut pasti akan terjadi karena Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengamati telah mengabarkan tentangnya, yang akhirnya terjadi-lah apa yang Dia kabarkan. Maka apabila semua itu terjadi, terba-gilah manusia ke dalam dua golongan: Orang-orang yang berkeluh kesah dan orang-orang yang sabar. Orang yang tidak sabar mendapatkan dua musibah: Hilang-nya sesuatu yang dicintai yaitu adanya musibah tersebut, dan hilangnya sesuatu yang lebih besar dari hal pertama, yaitu pahala dengan menunaikan perintah Allah yaitu bersabar, akhirnya dia memperoleh kerugian dan kehampaan, serta kekurangan iman yang ada padanya, juga kehilangan kesabaran, ridha dan rasa syukur, namun yang ia dapatkan hanyalah kemurkaan yang menunjukkan banyaknya kekurangan. Adapun orang yang diberi taufik oleh Allah تعالى dengan ke-sabaran ketika terjadinya musibah-musibah, ia akan menahan diri dari mencaci-maki, baik secara lisan maupun perbuatan, ia hanya mengharap pahala dari sisi Allah dan ia tahu bahwa kesabarannya lebih besar daripada musibah yang menimpa dirinya, bahkan musibah itu menjadi sebuah kenikmatan tersendiri bagi dirinya, karena musibah itu telah menjadi jalan untuknya dalam memper-oleh sesuatu yang lebih baik baginya dan lebih bermanfaat dari musibah itu. Sesungguhnya ia telah menunaikan perintah Allah untuk bersabar yang akhirnya ia memperoleh pahala. Oleh karena itu Allah تعالى berfirman, ﴾ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Dan berikanlah berita gembira bagi orang-orang yang bersabar," maksudnya, kabarkan berita gembira bahwa mereka akan mendapatkan pahala mereka tanpa batas. Orang-orang yang bersabar adalah mereka yang berhasil dengan kabar gembira yang agung dan pemberian yang besar, kemudian Allah menjelaskan tentang mereka dengan FirmanNya,

(156) ﴾ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ ﴿ "Yaitu orang-orang yang apabila di-timpa musibah," yaitu segala hal yang menyakitkan hati atau tubuh atau keduanya dari segala hal yang telah disebutkan sebelumnya, ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ ﴿ "mereka mengucapkan; 'Inna lillah'," maksudnya, kami ada-lah milik Allah yang diatur di bawah perintah dan kekuasaanNya, kami tak punya hak sedikit pun terhadap harta maupun diri kami sendiri. Bila Dia menguji kami dengan (mengambil atau memus-nahkan) sesuatu darinya, maka pada hakikatnya Dia Yang Maha Pengasih telah melakukan tindakan terhadap hamba-hamba milikNya dan harta-harta mereka. Oleh karena itu tidak perlu ada gugatan sama sekali terhadap semua itu. Bahkan termasuk kesem-purnaan penghambaan seorang hamba adalah pengetahuannya bahwa terjadinya suatu cobaan itu adalah dari Yang Maha Memiliki lagi Mahabijaksana, yang mana Dia adalah Dzat yang paling Penga-sih terhadap hambaNya daripada diri hamba itu sendiri. Dengan demikian, hamba itu haruslah ridha terhadap Allah dan bersyukur kepadaNya atas pengaturanNya kepada sesuatu yang lebih baik bagi hambaNya, walaupun hamba itu sendiri tidak sadar akan hal tersebut. Dan keadaan bahwa kami ini milik Allah تعالى, bersama itu kami juga akan kembali kepadaNya pada Hari Kebangkitan nanti, lalu Dia akan membalas setiap perbuatan dari pelakunya. Bila kami bersabar dan hanya mengharap pahala di sisiNya, niscaya kami akan memperoleh ganjaran secara sempurna di sisiNya, namun bila kami tidak bersabar dan mencaci maki, niscaya kami tidak memiliki apa-apa kecuali hanya murka dan lenyapnya pahala. Keberadaan seorang hamba bahwa dia milik Allah dan akan kembali kepadaNya adalah faktor terbesar yang menyebabkan tumbuhnya kesabaran.

(157) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," yakni orang-orang yang ber-laku sabar yang disebutkan tadi, ﴾ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰتٞ مِّن رَّبِّهِمۡ ﴿ "yang mendapat-kan keberkahan yang sempurna dari Rabb mereka," yaitu pujian dan perubahan kondisi mereka, ﴾ وَرَحۡمَةٞۖ ﴿ "dan rahmat" yang agung. Dan di antara rahmatNya kepada mereka adalah bahwa Allah memberi taufik kepada mereka dengan kesabaran yang membuat mereka mendapatkan pahala yang sempurna, ﴾ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ ﴿ "dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk," yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran, yaitu pengetahuan mereka bahwa mereka itu adalah milik Allah dan mereka itu akan kembali kepadaNya, serta berbuat karenaNya, dalam hal ini kesabaran mereka, karena Allah سبحانه وتعالى. Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang tidak bersabar akan mendapatkan kebalikannya yaitu celaan dari Allah, hukuman, ke-sesatan, dan kerugian. Maka alangkah besarnya perbedaan antara kedua golongan itu. Alangkah sedikitnya kelelahan orang-orang yang bersabar dan alangkah besarnya kesulitan orang-orang yang tidak bersabar. Kedua ayat ini mengandung penguatan jiwa terhadap musi-bah-musibah sebelum terjadi, agar menjadi ringan dan mudah dihadapi bila terjadi, juga penjelasan tentang apa yang harus digu-nakan untuk menghadapinya pada saat terjadinya musibah yaitu kesabaran, penjelasan tentang hal yang membantu dalam bersabar, serta pahala yang diperoleh oleh orang-orang yang bersabar. Ayat ini juga memberitahukan kondisi orang-orang yang tidak bersabar dengan kebalikan dari kondisi orang-orang yang bersabar tadi, dan bahwasanya ujian dan cobaan itu adalah sunnatullah yang telah berlaku atas orang-orang terdahulu, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan pada sunnatullah, serta penjelasan bermacam-macam musibah.

Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences

Contents

Ayat al-Kursi36Al-Kahfpage 42juz 15Bukhari 1Muslim 2999

Style

Theme
Text size
Layout

Читать на русском