As-Sa'diAl‑Baqarah · 2:259–274

As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian

Al-Baqarah 2:259–274

2:259–260Page 43

أَوۡ كَٱلَّذِي مَرَّ عَلَىٰ قَرۡيَةٖ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىٰ يُحۡيِۦ هَٰذِهِ ٱللَّهُ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۖ فَأَمَاتَهُ ٱللَّهُ مِاْئَةَ عَامٖ ثُمَّ بَعَثَهُۥۖ قَالَ كَمۡ لَبِثۡتَۖ قَالَ لَبِثۡتُ يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖۖ قَالَ بَل لَّبِثۡتَ مِاْئَةَ عَامٖ فَٱنظُرۡ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمۡ يَتَسَنَّهۡۖ وَٱنظُرۡ إِلَىٰ حِمَارِكَ وَلِنَجۡعَلَكَ ءَايَةٗ لِّلنَّاسِۖ وَٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡعِظَامِ كَيۡفَ نُنشِزُهَا ثُمَّ نَكۡسُوهَا لَحۡمٗاۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥ قَالَ أَعۡلَمُ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٢٥٩

Or [consider such an example] as the one who passed by a township which had fallen into ruin. He said, "How will Allāh bring this to life after its death?" So Allāh caused him to die for a hundred years; then He revived him. He said, "How long have you remained?" He [the man] said, "I have remained a day or part of a day." He said, "Rather, you have remained one hundred years. Look at your food and your drink; it has not changed with time. And look at your donkey; and We will make you a sign for the people. And look at the bones [of this donkey] - how We raise them and then We cover them with flesh." And when it became clear to him, he said, "I know that Allāh is over all things competent."

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِـۧمُ رَبِّ أَرِنِي كَيۡفَ تُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰۖ قَالَ أَوَلَمۡ تُؤۡمِنۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطۡمَئِنَّ قَلۡبِيۖ قَالَ فَخُذۡ أَرۡبَعَةٗ مِّنَ ٱلطَّيۡرِ فَصُرۡهُنَّ إِلَيۡكَ ثُمَّ ٱجۡعَلۡ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٖ مِّنۡهُنَّ جُزۡءٗا ثُمَّ ٱدۡعُهُنَّ يَأۡتِينَكَ سَعۡيٗاۚ وَٱعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ٢٦٠

And [mention] when Abraham said, "My Lord, show me how You give life to the dead." [Allāh] said, "Have you not believed?" He said, "Yes, but [I ask] only that my heart may be satisfied." [Allāh] said, "Take four birds and commit them to yourself.1 Then [after slaughtering them] put on each hill a portion of them; then call them - they will come [flying] to you in haste. And know that Allāh is Exalted in Might and Wise."

"Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melewati suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata, 'Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?' Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya, 'Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?' Dia menjawab, 'Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.' Allah berfirman, 'Sebe-narnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manu-sia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.' Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata, 'Saya yakin bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.' Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, 'Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagai-mana Engkau menghidupkan orang-orang mati.' Allah berfirman, 'Belum yakinkah kamu?' Ibrahim menjawab, 'Aku telah meyakini-nya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku), Allah berfirman, '(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman), 'Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemu-dian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.' Dan ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa lagi Mahabijak-sana." (Al-Baqarah: 259-260).

(259) Kedua ayat ini adalah dalil yang agung yang nyata di dunia sebelum di akhirat tentang akan datangnya kebangkitan kem-bali dan pembalasan amal. Salah satunya adalah Allah perlihatkan kepada seseorang yang ragu akan kebangkitan -menurut pendapat yang benar- sebagaimana yang ditunjukkan oleh ayat yang mulia ini. Sedangkan lainnya, Allah perlihatkan pada kekasihNya Ibrahim عليه السلام, sebagaimana Allah perlihatkan dalil tauhid sebelumnya juga pada diri beliau. Orang tersebut melewati sebuah desa yang telah luluh lantah dan temboknya telah roboh menutupi atapnya, pendu-duknya telah meninggal dan bangunan-bangunannya telah hancur berantakan, lalu dia berkata dengan rasa ragu dan suatu yang tidak mungkin, ﴾ أَنَّىٰ يُحۡيِۦ هَٰذِهِ ٱللَّهُ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۖ ﴿ "Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?" Artinya, hal tersebut sangatlah mustahil dengan kondisi desa yang seperti itu. Maksudnya, selain desa itu pun seperti itu, seperti apa yang terbesit di dalam hatinya pada waktu itu. Maka Allah menghendaki rahmat bagi orang tersebut dan bagi seluruh manusia di mana Allah mematikannya selama seratus tahun. Ketika itu dia bersama seekor keledai, lalu Allah juga me-matikannya bersama orang itu, demikian juga makanan dan mi-numan, lalu Allah mengawetkan makanan dan minumannya itu seperti keadaannya semula, dalam waktu yang panjang tersebut. Setelah tahun demi tahun berlalu hingga seratus tahun, maka Allah membangkitkannya seraya berfirman, ﴾ كَمۡ لَبِثۡتَۖ قَالَ لَبِثۡتُ يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖۖ ﴿ "Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?" Dia menjawab, "Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari." Hal itu menurut sangkaan dirinya, maka Allah berfirman, ﴾ بَل لَّبِثۡتَ مِاْئَةَ عَامٖ ﴿ "Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya." Tampaknya tanya jawab itu melalui perantaraan salah seorang Nabi dari Nabi-nabi Allah yang mulia. Dan di antara kesempurnaan rahmat Allah kepadanya dan kepada seluruh manusia, adalah bahwa Allah memperlihatkan kepadanya tanda-tanda secara nyata, agar ia puas dengan hal ter-sebut. Dan setelah ia mengetahui bahwa ia adalah mayit yang telah dihidupkan kembali oleh Allah, dikatakan kepadanya, "Lihatlah ﴾ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمۡ يَتَسَنَّهۡۖ ﴿ "kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah." Artinya, tidak berubah dalam masa yang panjang ini. Hal itu adalah di antara tanda-tanda kekuasaan Allah, karena makanan dan minuman tersebut -khususnya yang disebutkan oleh ahli-ahli tafsir bahwa hal itu adalah berupa buah-buahan dan minuman perasan buah- tidak lama berubah. Ini semua telah dijaga oleh Allah selama seratus tahun. Lalu dikatakan kepadanya,﴾ وَٱنظُرۡ إِلَىٰ حِمَارِكَ ﴿ "Dan lihatlah kepada keledaimu," yang ternyata telah terpisah-pisah dan terpecah-pecah, dan telah menjadi tulang-belulang yang telah rapuh. ﴾ وَٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡعِظَامِ كَيۡفَ نُنشِزُهَا ﴿ "Dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali," maksudnya Kami mengangkat sebagiannya kepada sebagian yang lain, kemudian Kami menyambung sebagian pada sebagian yang lain, setelah terpisah-pisah dan terpecah-pecah, ﴾ ثُمَّ نَكۡسُوهَا ﴿ "kemudian Kami membalutnya" setelah menyatu kembali, ﴾ لَحۡمٗاۚ ﴿ "dengan daging," kemudian Kami mengembalikan kehidupan padanya. ﴾ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥ ﴿ "Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati)," dengan penglihatan mata yang tidak mungkin ada keraguan, ﴾ قَالَ أَعۡلَمُ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "dia pun berkata, 'Saya yakin bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu'." Maka ia pun mengakui akan Kuasa Allah atas segala sesuatu, ke-mudian ini menjadi bukti bagi manusia, karena mereka telah me-ngetahui kematiannya, kematian keledainya, dan mereka mengeta-hui permasalahannya, kemudian mereka menyaksikan bukti yang agung ini. Dan inilah yang benar pada orang tersebut. Adapun pendapat sebagian besar ahli tafsir, bahwasanya orang tersebut adalah seorang Mukmin, atau seorang Nabi dari Nabi-nabi Allah, baik Uzair atau selainnya, dan bahwasanya Fir-manNya, ﴾ أَنَّىٰ يُحۡيِۦ هَٰذِهِ ٱللَّهُ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۖ ﴿ "Bagaimana Allah menghidupkan kem-bali negeri ini setelah hancur?," maksudnya, bagaimana desa ini bisa kembali ramai setelah hancur lebur seperti itu, dan bahwasanya Allah mematikannya agar memperlihatkan kepadanya bagaimana Allah mengembalikan desa itu menjadi ramai dengan menciptakan-nya kembali, dan bahwa desa itu telah diramaikan kembali pada masa panjang itu dan manusia kembali membangunnya yang akhirnya kembali ramai padahal sebelumnya hancur berantakan, ini semua tidaklah ditunjukkan oleh lafazh (yang ada dalam rang-kaian kisah ini) namun malah meniadakannya, dan tidak juga ditunjukkan oleh maknanya. Tanda dan bukti nyata mana yang menunjukkan tentang kembalinya desa yang hancur lebur itu menjadi desa yang ramai lagi? Dan ini masih terus dapat disaksi-kan, di mana suatu desa hidup dan ramai sementara desa-desa lain hancur. Adapun ayat yang agung ini adalah tentang dihidupkannya kembali orang itu setelah kematiannya dan dihidupkannya kembali keledainya serta dibiarkannya makanan dan minumannya dan tidak membusuk dan tidak berubah. Kemudian FirmanNya,﴾ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥ ﴿ "Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah meng-hidupkan yang telah mati)." Semua itu adalah sangat jelas tentang ketidaktahuannya, kecuali setelah dia menyaksikan sendiri kondisi itu secara nyata yang menunjukkan kesempurnaan KuasaNya.

(260) Sedangkan bukti nyata yang lain, adalah bahwa Nabi Ibrahim عليه السلام berkata seraya memohon kepada Allah agar memper-lihatkan untuknya bagaimana Allah menghidupkan yang sudah mati. Maka Allah berfirman kepadanya, ﴾ أَوَلَمۡ تُؤۡمِنۖ ﴿ "Belum yakinkah kamu?" untuk menghilangkan syubhat (keragu-raguan) pada ke-kasihNya, (Nabi Ibrahim). Dia ﴾ قَالَ ﴿ "berkata," yakni Ibrahim عليه السلام, ﴾ بَلَىٰ ﴿ "Tentu aku telah meyakininya" wahai Rabb, sungguh saya telah beriman bahwa Engkau Kuasa atas segala sesuatu, dan Engkau menghidupkan yang telah mati dan Engkau akan membalas semua amal hamba-hamba. Akan tetapi saya ingin agar hatiku tenang dan agar saya sampai kepada derajat keyakinan yang sebenar-benarnya. Maka Allah menjawab permohonannya sebagai kemuliaan baginya dan rahmat bagi hamba-hambaNya, ﴾ قَالَ فَخُذۡ أَرۡبَعَةٗ مِّنَ ٱلطَّيۡرِ ﴿ "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung," dan tidak dijelaskan burung apakah itu. Ayat ini bisa terjadi dengan jenis burung apa pun dan itulah yang dikehendaki, ﴾ فَصُرۡهُنَّ إِلَيۡكَ ﴿ "lalu cincanglah semuanya olehmu," artinya, kumpulkanlah dan sembelihlah mereka dan cincanglah mereka.﴾ ثُمَّ ٱجۡعَلۡ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٖ مِّنۡهُنَّ جُزۡءٗا ثُمَّ ٱدۡعُهُنَّ يَأۡتِينَكَ سَعۡيٗاۚ وَٱعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera." Dan ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Maka Nabi Ibrahim melakukan itu, dan beliau memisah-misahkan bagian-bagiannya pada beberapa gunung yang ada di sekitarnya lalu beliau memanggil mereka dengan nama-nama mereka dan akhirnya mereka kembali kepadanya dengan sangat cepat. Karena kata سَعْيًا berarti cepat, dan bukanlah yang dimaksud-kan burung-burung itu datang dengan berjalan dengan kaki-kaki mereka, akan tetapi mereka datang dengan terbang dalam kondisi hidup yang paling sempurna. Allah mengkhususkan burung dalam hal itu karena meng-hidupkan mereka lebih mantap dan lebih jelas dari selain mereka. Demikian juga dalam hal ini Allah menghilangkan semua dugaan yang batil yang terbersit dalam hati orang yang membantah. Maka menjadikan jumlah mereka empat ekor, mencincang-cincang mereka, dan meletakkan setiap bagian itu di atas gunung-gunung, agar hal itu nampak nyata dan jelas hingga dapat disaksikan dari dekat maupun dari jauh, dan menjauhkan potongan-potongan dengan jarak yang banyak agar tidak dikira bahwa hal itu adalah sebuah tindakan tipu daya. Dan Allah juga memerintahkan kepa-danya agar memanggil mereka hingga mereka datang dengan segera. Maka ayat ini menjadi bukti-bukti nyata yang paling besar terhadap kesempurnaan kemuliaan Allah dan hikmahNya. Dalam ayat ini terdapat peringatan bahwa kebangkitan itu menunjukkan keperkasaan Allah, hikmahNya, keagunganNya, luasnya kekuasaanNya, kesempurnaan keadilan dan karuniaNya.

2:261–262Page 44

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنۢبُلَةٖ مِّاْئَةُ حَبَّةٖۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ ٢٦١

The example of those who spend their wealth in the way of Allāh is like a seed [of grain] which grows seven spikes; in each spike is a hundred grains. And Allāh multiplies [His reward] for whom He wills. And Allāh is all-Encompassing and Knowing.

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ثُمَّ لَا يُتۡبِعُونَ مَآ أَنفَقُواْ مَنّٗا وَلَآ أَذٗى لَّهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ٢٦٢

Those who spend their wealth in the way of Allāh and then do not follow up what they have spent with reminders [of it] or [other] injury will have their reward with their Lord, and there will be no fear concerning them, nor will they grieve.

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkan-nya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al-Baqarah: 261-262).

(261) Ini merupakan anjuran yang agung dari Allah terha-dap hamba-hambaNya untuk menafkahkan harta mereka di jalan-Nya; yaitu jalan yang menyampaikannya kepadaNya. Termasuk dalam hal ini adalah menafkahkan hartanya dalam meningkatkan ilmu yang bermanfaat, dalam mengadakan persiapan berjihad di jalanNya, dalam mempersiapkan para tentara maupun membekali mereka, dan dalam segala macam kegiatan-kegiatan sosial yang berguna bagi kaum Muslimin. Kemudian disusul berinfak kepada orang-orang yang membutuhkan, fakir miskin, dan kemungkinan saja dua cara itu dapat disatukan hingga menjadi nafkah untuk menolong orang-orang yang membutuhkan dan sekaligus bakti sosial dan ketaatan. Nafkah-nafkah seperti ini akan dilipatgandakan. Kelipatan ini dengan tujuh ratus kali lipat hingga berlipat ganda banyaknya lagi dari itu. Karena itu Allah berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُۚ ﴿ "Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki." Itu tentu-nya sesuai dengan apa yang ada dalam hati orang yang berinfak tersebut dari keimanan dan keikhlasan yang tulus, dan juga sesuai dengan kebaikan dan manfaat yang dihasilkan dari infaknya ter-sebut, karena beberapa jalan kebajikan dengan berinfak padanya akan mengakibatkan manfaat-manfaat yang terus menerus dan kemaslahatan yang bermacam-macam, maka balasan itu tentunya sesuai dengan jenis perbuatannya.

(262) Kemudian Allah juga menyebutkan ada pahala lain bagi orang-orang yang menafkahkan harta mereka di jalanNya dengan infak yang yang dikeluarkan dengan syarat-syarat yang cukup dan terbebas dari segala penghalang-penghalangnya. Maka orang yang berinfak itu tidak boleh mengiringi infaknya itu dengan menyebut-nyebutnya dan menghitung-hitung kebaikannya, serta tidak menyakiti perasaan si penerima dengan perkataan maupun perbuatan. Maka mereka itu ﴾ لَّهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ ﴿ "memperoleh pahala di sisi Rabb mereka" sesuai dengan apa yang Dia ketahui dari mereka dan sesuai dengan kadar infak-infak mereka dan manfaatnya dan tentu saja karuniaNya yang tidak akan diperoleh dan tidak akan digapai oleh nafkah-nafkah mereka. ﴾ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ﴿ "Tidak ada ke-khawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." Allah menjauhkan dari mereka perkara yang dibenci yang telah berlalu dengan menghilangkan dari mereka kesedihan, dan yang akan datang dengan menghilangkan kekhawatiran dari me-reka, hingga mereka memperoleh apa yang dicintainya dan dijauh-kan dari perkara yang dibenci.

2:263Page 44

۞ قَوۡلٞ مَّعۡرُوفٞ وَمَغۡفِرَةٌ خَيۡرٞ مِّن صَدَقَةٖ يَتۡبَعُهَآ أَذٗىۗ وَٱللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٞ ٢٦٣

Kind speech and forgiveness are better than charity followed by injury. And Allāh is Free of need and Forbearing.

"Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Mahakaya lagi Maha Penyantun." (Al-Baqa-rah: 263).

(263) Allah menyebutkan empat tingkatan dalam kebajikan: Tingkatan pertama: Nafkah yang terlahir dari niat yang shalih dan pemberi nafkah tidak mengiringinya dengan menyebut-nye-butnya dan menyinggung perasaan si penerima. Tingkatan kedua: Berkata yang baik, yaitu kebajikan berupa perkataan dengan segala bentuknya yang mengandung kebahagia-an bagi seorang Muslim, meminta maaf dari orang yang meminta apabila dia tidak memiliki apa yang diminta, dan sebagainya dari perkataan yang baik. Tingkatan ketiga: Kebajikan dengan memberi maaf dan am-punan kepada orang yang telah berlaku buruk kepada Anda, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Dua yang terakhir ini lebih utama dan lebih baik dari tingkatan berikut. Tingkatan Keempat: Pemberi infak itu mengiringi infaknya dengan perlakuan menyakitkan kepada penerimanya karena dia telah mengotori kebaikannya tersebut dan dia telah berbuat baik dan jahat (sekaligus). Kebajikan yang murni walaupun sangat sedikit adalah lebih baik daripada kebajikan yang dicampuri oleh keburukan walaupun kebajikan itu banyak. Ini merupakan an-caman yang keras terhadap orang yang berinfak yang menyakiti orang yang diberikan nafkahnya tersebut, sebagaimana yang di-lakukan oleh orang-orang yang suka mencela, pandir, dan bodoh. ﴾ وَٱللَّهُ ﴿ "Dan Allah" yang Mahatinggi adalah juga ﴾ غَنِيٌّ ﴿ "Maha Kaya" dari sedekah-sedekah mereka dan dari seluruh hamba-ham-baNya, ﴾ حَلِيمٞ ﴿ "lagi Maha Penyantun"; di samping kesempurnaan kekayaanNya dan luasnya pemberian dariNya, Dia Penyantun terhadap pelaku-pelaku maksiat. Dia tidak menyegerakan hukuman bagi mereka, akan tetapi Dia memberikan keselamatan kepada me-reka, memberi mereka rizki, meluaskan bagi mereka kebaikanNya; namun mereka menentang Allah dengan bermaksiat kepadaNya. Kemudian Allah melarang dengan sangat keras dari meng-ungkit-ungkit pemberian dan menyakiti orang yang diberi. Allah membuat perumpamaan tentang itu dengan FirmanNya,

2:264–266Page 44

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُبۡطِلُواْ صَدَقَٰتِكُم بِٱلۡمَنِّ وَٱلۡأَذَىٰ كَٱلَّذِي يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَيۡهِ تُرَابٞ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٞ فَتَرَكَهُۥ صَلۡدٗاۖ لَّا يَقۡدِرُونَ عَلَىٰ شَيۡءٖ مِّمَّا كَسَبُواْۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٢٦٤

O you who have believed, do not invalidate your charities with reminders [of it] or injury as does one who spends his wealth [only] to be seen by the people and does not believe in Allāh and the Last Day. His example is like that of a [large] smooth stone upon which is dust and is hit by a downpour that leaves it bare. They are unable [to keep] anything of what they have earned. And Allāh does not guide the disbelieving people.

وَمَثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمُ ٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ ٱللَّهِ وَتَثۡبِيتٗا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ كَمَثَلِ جَنَّةِۭ بِرَبۡوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٞ فَـَٔاتَتۡ أُكُلَهَا ضِعۡفَيۡنِ فَإِن لَّمۡ يُصِبۡهَا وَابِلٞ فَطَلّٞۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٌ ٢٦٥

And the example of those who spend their wealth seeking means to the approval of Allāh and assuring [reward for] themselves is like a garden on high ground which is hit by a downpour - so it yields its fruits in double. And [even] if it is not hit by a downpour, then a drizzle [is sufficient]. And Allāh, of what you do, is Seeing.

أَيَوَدُّ أَحَدُكُمۡ أَن تَكُونَ لَهُۥ جَنَّةٞ مِّن نَّخِيلٖ وَأَعۡنَابٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ لَهُۥ فِيهَا مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ وَأَصَابَهُ ٱلۡكِبَرُ وَلَهُۥ ذُرِّيَّةٞ ضُعَفَآءُ فَأَصَابَهَآ إِعۡصَارٞ فِيهِ نَارٞ فَٱحۡتَرَقَتۡۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِ لَعَلَّكُمۡ تَتَفَكَّرُونَ ٢٦٦

Would one of you like to have a garden of palm trees and grapevines underneath which rivers flow in which he has from every fruit? But he is afflicted with old age and has weak [i.e., immature] offspring, and it is hit by a whirlwind containing fire and is burned. Thus does Allāh make clear to you [His] verses that you might give thought.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meng-hilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkah-kan hartanya karena riya` kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu jadilah dia bersih (tidak bertanah). Me-reka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-su-ngai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempu-nyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah ia. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu supaya kamu memikirkannya." (Al-Baqarah: 264-266).

(264-266) Allah membuat tiga perumpamaan dalam ayat-ayat ini, yaitu: Pertama, untuk orang yang berinfak karena semata mengharap keridhaan Allah dan tidak mengiringi nafkahnya itu dengan mengungkit-ungkit dan menyakiti orang yang menerima. Kedua, untuk orang yang mengiringi infaknya dengan mengungkit-ungkit dan menyakiti (si penerima) dan ketiga, untuk orang yang riya`. Perumpamaan pertama, adalah tatkala infaknya diterima dan dilipat gandakan pahalanya karena terlahir dari keimanan dan keikhlasan yang total, ﴾ ٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ ٱللَّهِ وَتَثۡبِيتٗا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka," artinya, mereka menafkahkan harta di mana mereka teguh hati (dalam memberi nafkah) dan lapang dada serta penuh kejujuran. Maka perumpama-an perbuatan ini, adalah ﴾ كَمَثَلِ جَنَّةِۭ بِرَبۡوَةٍ ﴿ "seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi," yaitu, tempat yang tinggi yang sangat baik diterpa angin dan matahari, dan air akan sangat cukup padanya. Karena apabila hujan yang deras tidak menimpanya, paling tidak ia akan disirami hujan rintik yang mencukupinya karena areanya yang baik dan tanahnya yang gembur, serta adanya sebab-sebab yang memenuhi perkembangan, keturunan, dan pembuahannya. Karena itu, ﴾ فَـَٔاتَتۡ أُكُلَهَا ضِعۡفَيۡنِ ﴿ "maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat," artinya, berlipat ganda. Taman (kebun) yang seperti itu adalah yang paling diinginkan oleh manusia, dan perbuatan yang mulia ini pun merupakan tingkatan yang paling tinggi. Perumpamaan kedua, yaitu orang yang menafkahkan harta-nya karena Allah kemudian ia mengiringi nafkahnya itu dengan mengungkit-ungkitnya dan menyakiti penerimanya, atau ia mela-kukan suatu perbuatan yang dapat membatalkannya, maka yang seperti ini adalah sama dengan pemilik taman tadi, akan tetapi ia ditimpa oleh ﴾ إِعۡصَارٞ ﴿ "angin keras," yaitu, angin yang sangat ken-cang, ﴾ فِيهِ نَارٞ فَٱحۡتَرَقَتۡۗ ﴿ "yang mengandung api, lalu terbakarlah." Padahal ia memiliki anak keturunan yang masih kecil-kecil lagi lemah, dan dia sendiri lemah yang telah tua renta. Kondisi seperti ini adalah kondisi yang paling sulit, karena itu Allah سبحانه وتعالى membuat perumpamaan ini dengan FirmanNya, ﴾ أَيَوَدُّ أَحَدُكُمۡ . . . ﴿ "Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin..." hingga akhir ayat, dengan menggunakan rangkaian kalimat pertanyaan yang kengeriannya dapat dipahami secara benar oleh orang-orang yang menjadi sasaran pesan (ayat ini). Karena musnahnya dalam sekali waktu sekaligus setelah keindahan pepohonannya dan ranumnya buah-buahnya, maka itu menjadi musibah yang sangat besar. Kemudian terjadinya musibah yang tiba-tiba ini, sedangkan pemiliknya telah tua dan tidak mampu lagi bekerja, dan dia memi-liki keturunan yang masih kecil-kecil yang tidak mampu memban-tunya dan meringankan bebannya adalah masalah lain. Maka subyek dari perumpamaan ini yang telah beramal karena Allah kemudian dia membatalkan amalannya itu dengan sikap yang menafikannya, menyerupai kondisi pemilik taman tadi yang terjadi padanya apa yang telah terjadi ketika kebutuhan-nya sangat mendesak kepadanya. Perumpamaan ketiga, adalah orang yang ingin dilihat oleh orang lain, tidak disirami iman kepada Allah dan tidak karena mengharap pahala di sisiNya, di mana Allah mengumpamakan hatinya seperti batu licin yang di atasnya ada tanah. Orang yang riya` itu mengira bahwa akan tumbuh tanaman darinya bila di-timpa hujan sebagaimana tanaman tumbuh di tanah yang subur. Akan tetapi itu adalah batu yang bila ditimpa hujan deras, maka lenyaplah apa yang ada di atas batu tersebut. Hal ini adalah perumpamaan yang pas bagi hati orang yang riya` yang tidak ada keimanan padanya, bahkan hati yang keras yang tidak akan lembut dan tidak khusyu'. Inilah amal perbuatan-nya dan infak-infaknya, tidaklah ada asasnya sama sekali yang mendasarinya dan juga tidak memiliki tujuan yang digapai, bahkan apa yang dilakukannya adalah batil karena tidak ada syaratnya. Yang sebelumnya batal setelah adanya syarat, namun juga ada penghalangnya, sedang yang pertama diterima dan dilipat gandakan karena terpenuhi syarat-syaratnya, yaitu keimanan dan keikhlasan niat, keteguhan (hati) dan terbebasnya dari penghalang-penghalang yang merusaknya. Tiga perumpamaan ini sesuai untuk seluruh orang-orang yang beramal. Maka seorang hamba hendaklah menimbang diri-nya atau selainnya dengan timbangan-timbangan yang adil dan perumpamaan-perumpamaan yang sesuai tersebut. ﴾ وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِۖ وَمَا يَعۡقِلُهَآ إِلَّا ٱلۡعَٰلِمُونَ 43 ﴿ "Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu." (Al-Ankabut: 43).

2:267–268Page 45

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا كَسَبۡتُمۡ وَمِمَّآ أَخۡرَجۡنَا لَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِۖ وَلَا تَيَمَّمُواْ ٱلۡخَبِيثَ مِنۡهُ تُنفِقُونَ وَلَسۡتُم بِـَٔاخِذِيهِ إِلَّآ أَن تُغۡمِضُواْ فِيهِۚ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ ٢٦٧

O you who have believed, spend from the good things which you have earned and from that which We have produced for you from the earth. And do not aim toward the defective therefrom, spending [from that] while you would not take it [yourself] except with closed eyes. And know that Allāh is Free of need and Praiseworthy.

ٱلشَّيۡطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلۡفَقۡرَ وَيَأۡمُرُكُم بِٱلۡفَحۡشَآءِۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغۡفِرَةٗ مِّنۡهُ وَفَضۡلٗاۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ ٢٦٨

Satan threatens you with poverty and orders you to immorality, while Allāh promises you forgiveness from Him and bounty. And Allāh is all-Encompassing and Knowing.

"Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan jangan-lah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahui-lah, bahwa Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji. Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dari padaNya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karu-niaNya) lagi Maha Mengetahui." (Al-Baqarah: 267-268).

(267-268) Allah menganjurkan kepada hamba-hambaNya untuk menginfakkan sebagian apa yang mereka dapatkan dalam berniaga, dan sebagian dari apa yang mereka panen dari tanaman dari biji-bijian maupun buah-buahan, hal ini mencakup zakat uang maupun seluruh perdagangan yang dipersiapkan untuk dijual belikan, juga hasil pertanian dari biji-bijian dan buah-buahan. Ter-masuk dalam keumuman ayat ini, infak yang wajib maupun yang sunnah. Allah تعالى memerintahkan untuk memilih yang baik dari itu semua dan tidak memilih yang buruk, yaitu yang jelek lagi rendah (mutunya) lalu mereka sedekahkan karena Allah, yang seandainya mereka memberikan barang yang seperti itu kepada orang-orang yang berhak menerimanya, pastilah mereka pun tidak akan me-ridhainya, mereka tidak akan menerimanya kecuali dengan kedong-kolan dan memicingkan mata. Maka yang seharusnya adalah mengeluarkan yang tengah-tengah dari semua itu, dan yang lebih sempurna adalah mengeluarkan yang paling baik. Dan yang di-larang adalah mengeluarkan yang jelek, karena yang ini tidaklah memenuhi infak yang wajib dan tidak akan memperoleh pahala yang sempurna dalam infak yang sunnah. ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ ﴿ "Dan ketahuilah, bahwa Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji." Allah Mahakaya atas seluruh makhluk, Allah Maha-kaya dari infak orang-orang yang berinfak, dan Allah Mahakaya atas ketaatan orang-orang yang taat. Allah memerintahkan hal itu kepada mereka dan menganjurkan mereka untuk itu demi kemas-lahatan mereka sendiri, dan semata-mata karena karunia dan ke-muliaanNya atas mereka. Di samping kesempurnaan kekayaanNya dan luasnya pemberianNya, Dia pun Maha Terpuji dalam segala perkara yang disyariatkanNya untuk hamba-hambaNya dari hu-kum-hukum yang menyampaikan mereka kepada negeri kesela-matan. Dia Terpuji dalam perbuatan-perbuatanNya yang tidak akan keluar dari koridor karunia, keadilan, dan hikmahNya. Terpuji sifat-sifatNya, karena sifat-sifat Allah semuanya baik dan sempurna, yang tidak ada seorang pun dari hamba-hambaNya yang mampu sampai kepada eksistensinya dan tidak akan mengerti seperti apa persisnya sifat-sifat tersebut. Ketika Allah menganjurkan mereka untuk berinfak yang berguna, Allah juga melarang mereka dari menahan harta mereka yang dapat merugikan, dan Allah menjelaskan kepada mereka bahwa mereka itu di antara dua seruan: Pertama, seruan Yang Maha Penyayang, yang mengajak kepada kebaikan, menjanjikan kepada-nya kebaikan, karunia, dan pahala yang segera maupun yang ter-tunda serta mengganti apa yang telah mereka infakkan, dan kedua, seruan dari setan yang mengajak mereka untuk menahan harta dan menakut-nakuti mereka bila mereka menginfakkan harta mereka, pastilah mereka akan menjadi miskin. Siapa yang memenuhi seruan ar-Rahman lalu ia menginfak-kan sebagian dari apa yang Allah rizkikan kepadanya, maka ber-gembiralah dengan ampunan dosa dan mendapatkan apa yang dicarinya. Dan barangsiapa yang mengikuti penyeru setan, maka sesungguhnya setan hanya mengajak kelompoknya agar menjadi penghuni-penghuni neraka. Karena itu, seorang hamba harus memilih di antara kedua perkara itu yang lebih pantas dan cocok untuknya. Lalu Allah menutup ayat ini bahwasanya Dia ﴾ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui," maksudnya, luas sifat-sifatNya, banyak pemberianNya, Maha Mengetahui orang yang berhak untuk dilipat gandakan pahalanya dari orang-orang yang beramal dan Maha Mengetahui orang yang pantas yang akan dibimbing kepada perbuatan kebajikan dan meninggalkan ke-mungkaran.

2:269Page 45

يُؤۡتِي ٱلۡحِكۡمَةَ مَن يَشَآءُۚ وَمَن يُؤۡتَ ٱلۡحِكۡمَةَ فَقَدۡ أُوتِيَ خَيۡرٗا كَثِيرٗاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٢٦٩

He gives wisdom1 to whom He wills, and whoever has been given wisdom has certainly been given much good. And none will remember except those of understanding.

"Allah menganugerahkan al-Hikmah (kepahaman yang dalam tentang al-Qur`an dan as-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-Hikmah, dia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari Firman Allah)." (Al-Baqarah: 269).

(269) Tatkala Allah menjelaskan tentang kondisi orang-orang yang menafkahkan hartanya, dan bahwa Allah-lah yang memberikan kepada mereka dan mengaruniakan untuk mereka harta yang mampu mereka keluarkan nafkahnya di jalan-jalan kebajikan, dan dengan itu mereka memperoleh kedudukan yang mulia, Allah menyebutkan apa yang lebih besar dari hal tersebut, yaitu bahwasanya Allah akan memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya dan siapa yang Dia kehendaki kebaikan padanya dari hamba-hambaNya. Hikmah itu adalah ilmu-ilmu yang bermanfaat, pengetahuan yang benar, akal yang lurus, pemikiran yang matang, dan tercipta-nya kebenaran dalam perkataan maupun perbuatan. Inilah anu-gerah yang paling utama dan karunia yang paling baik. Karena itu Allah berfirman, ﴾ وَمَن يُؤۡتَ ٱلۡحِكۡمَةَ فَقَدۡ أُوتِيَ خَيۡرٗا كَثِيرٗاۗ ﴿ "Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, dia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak." Karena dia telah keluar dari gelapnya kebodohan kepada cahaya petunjuk, dari kepandiran penyimpangan dalam perkataan dan perbuatan menuju tepatnya kebenaran padanya, serta tercipta-nya kebenaran, dan karena ia telah menyempurnakan dirinya de-ngan kebajikan yang agung dan bermanfaat untuk makhluk dengan manfaat yang paling besar dalam agama dan dunia mereka. Seluruh perkara tidak akan berjalan baik kecuali dengan hikmah, yaitu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dan me-nempatkan segala perkara pada posisinya masing-masing, menda-hulukan perkara yang harus didahulukan, mengulur perkara yang memang harus diulur. Akan tetapi perkara yang agung ini tidak akan diingat dan tidak akan mengetahui derajat pemberian yang besar ini, ﴾ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "kecuali orang-orang yang berakal." Mereka itu adalah orang-orang yang memiliki akal sehat dan cita-cita yang sempurna. Mereka itulah yang mengetahui yang berguna lalu mereka melakukannya dan juga mengetahui yang mudarat lalu mereka meninggalkannya. Kedua perkara ini yaitu mengerahkan nafkah-nafkah harta dan mengerahkan hikmah keilmuan adalah lebih utama bagi orang yang mendekatkan diri dengannya kepada Allah dan perkara yang paling tinggi yang menyampaikannya kepada kemuliaan yang paling agung. Kedua perkara itulah yang disebutkan oleh Nabi ﷺ dalam sabdanya, لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللّٰهُ مَالًا فَسلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللّٰهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يُعَلِّمُهَا النَّاسَ. "Tidak boleh hasad kecuali dalam dua perkara:(Pertama), seseorang yang diberikan oleh Allah harta lalu ia menguasainya dengan mengha-biskannya dalam kebenaran, dan (kedua), seseorang yang diberikan oleh Allah al-Hikmah lalu dia mengajarkannya kepada manusia."[30]

2:270–271Page 46

وَمَآ أَنفَقۡتُم مِّن نَّفَقَةٍ أَوۡ نَذَرۡتُم مِّن نَّذۡرٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُهُۥۗ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٍ ٢٧٠

And whatever you spend of expenditures or make of vows - indeed, Allāh knows of it. And for the wrongdoers there are no helpers.

إِن تُبۡدُواْ ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۖ وَإِن تُخۡفُوهَا وَتُؤۡتُوهَا ٱلۡفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّـَٔاتِكُمۡۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ٢٧١

If you disclose your charitable expenditures, they are good; but if you conceal them and give them to the poor, it is better for you, and He will remove from you some of your misdeeds [thereby]. And Allāh, of what you do, is [fully] Aware.

"Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nadzarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zhalim tidak ada seorang penolong pun bagi-nya. Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan darimu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Baqarah: 270-271).

(270-271) Allah تعالى mengabarkan bahwa bagaimanapun orang-orang yang berinfak itu menginfakkan hartanya, orang-orang yang bersedekah itu menyedekahkan hartanya dan orang-orang yang bernadzar itu menunaikan nadzarnya, sesungguhnya Allah mengetahui semua itu. Kandungan dari kabar tentang pengeta-huanNya itu menunjukkan tentang adanya balasan, dan bahwa Allah tidak akan melalaikannya di sisiNya walau seberat biji atom. Allah mengetahui apa yang terbesit dalam hati dari niat yang baik maupun yang buruk. Dan bahwasanya orang-orang yang zhalim yang tidak mengajarkan apa yang telah diwajibkan oleh Allah atas mereka, atau mereka melanggar apa yang telah Allah haramkan atas mereka; mereka tidak memiliki seorang penolong pun selain-Nya yang mampu menolong dan melindungi mereka. Mereka pasti akan dihukum. Allah mengabarkan juga bahwa sedekah yang ditampakkan oleh orang yang bersedekah itu adalah baik, dan bila dia menyem-bunyikannya dan menyerahkannya kepada orang yang fakir ada-lah lebih utama, karena menyembunyikan sedekah kepada orang fakir adalah kebaikan lain dan juga hal itu menunjukkan kuatnya keikhlasan. Salah satu dari tujuh kelompok yang akan dinaungi oleh naungan Allah di Hari Kiamat nanti adalah orang yang ber-sedekah dengan sebuah pemberian, lalu dia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. Dan dalam Firman Allah,﴾ وَإِن تُخۡفُوهَا وَتُؤۡتُوهَا ٱلۡفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ ﴿ "Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu beri-kan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagi-mu," terkandung sebuah faidah yang lembut yaitu bahwa tindakan menyembunyikan sedekah adalah lebih baik daripada menampak-kannya apabila Anda memberikannya kepada seorang fakir. Adapun bila Anda menafkahkan harta dalam kegiatan-ke-giatan sosial, dalam ayat ini tidak ada indikasi yang menunjukkan tentang keutamaan menyembunyikan infak, bahkan ada sebuah kaidah syariat yang menunjukkan perlunya mempertimbangkan kemaslahatan, sehingga mungkin saja menampakkannya untuk memberikan suri tauladan dan contoh, serta mendorong orang lain untuk berbuat dengan amalan kebaikan (yang sama), akan menjadi lebih baik. Dan FirmanNya, ﴾ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّـَٔاتِكُمۡۗ ﴿ "Dan Allah akan menghapuskan darimu sebagian kesalahan-kesalahanmu." Dalam ayat ini terdapat indiksi bahwa dalam sedekah terkumpul dua hal: Pertama, memperoleh kebaikan, yaitu banyaknya balasan baik dan pahala serta ganjarannya, dan kedua, menolak kejahatan dan musibah dunia dan akhirat dengan penghapusan dosa-dosa, ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ﴿ "dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan," maka Allah membalas dengan hikmahNya setiap orang sesuai amal-amalnya.

2:272Page 46

۞ لَّيۡسَ عَلَيۡكَ هُدَىٰهُمۡ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهۡدِي مَن يَشَآءُۗ وَمَا تُنفِقُواْ مِنۡ خَيۡرٖ فَلِأَنفُسِكُمۡۚ وَمَا تُنفِقُونَ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ ٱللَّهِۚ وَمَا تُنفِقُواْ مِنۡ خَيۡرٖ يُوَفَّ إِلَيۡكُمۡ وَأَنتُمۡ لَا تُظۡلَمُونَ ٢٧٢

Not upon you, [O Muḥammad], is [responsibility for] their guidance, but Allāh guides whom He wills. And whatever good you [believers] spend is for yourselves, and you do not spend except seeking the face [i.e., approval] of Allāh. And whatever you spend of good1 - it will be fully repaid to you, and you will not be wronged.

"Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendakiNya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu me-lainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup, sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya (di-rugikan)." (Al-Baqarah: 272).

(272) Maksudnya, sesungguhnya kewajibanmu wahai Rasul, hanyalah menyampaikan dan mengajak manusia kepada kebaikan dan memperingatkan mereka dari keburukan; adapun petunjuk, maka hanya di Tangan Allah تعالى. Dan Allah mengabarkan tentang orang-orang Mukmin secara benar, bahwasanya mereka tidaklah bersedekah kecuali hanya untuk mengharapkan Wajah Allah, karena keimanan mereka me-ngajak mereka kepada hal tersebut. Maka kabar ini adalah sebuah kebaikan dan pernyataan baik bagi kaum Mukminin, dan juga mengingatkan mereka untuk ikhlas, dan Allah mengulang-ulang pengetahuanNya tentang sedekah-sedekah mereka demi membe-ritahu mereka bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan sedikitpun di sisiNya dari amal hamba walaupun seberat biji atom, dan bila hal itu adalah kebaikan, maka Allah akan melipat gandakan dan akan memberikan pahala yang besar.

2:273–274Page 46

لِلۡفُقَرَآءِ ٱلَّذِينَ أُحۡصِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ ضَرۡبٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ يَحۡسَبُهُمُ ٱلۡجَاهِلُ أَغۡنِيَآءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعۡرِفُهُم بِسِيمَٰهُمۡ لَا يَسۡـَٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلۡحَافٗاۗ وَمَا تُنفِقُواْ مِنۡ خَيۡرٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ ٢٧٣

[Charity is] for the poor who have been restricted for the cause of Allāh, unable to move about in the land. An ignorant [person] would think them self-sufficient because of their restraint, but you will know them by their [characteristic] sign. They do not ask people persistently [or at all]. And whatever you spend of good - indeed, Allāh is Knowing of it.

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُم بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ فَلَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ٢٧٤

Those who spend their wealth [in Allāh's way] by night and by day, secretly and publicly - they will have their reward with their Lord. And no fear will there be concerning them, nor will they grieve.

"(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersem-bunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al-Baqarah: 273-274).

(273) Maksudnya adalah bahwa seyogyanya kalian ber-usaha dalam memberikan sedekah-sedekah kalian kepada orang-orang fakir yang menahan diri mereka pada jalan Allah dan pada ketaatan kepadaNya, dan mereka tidak memiliki (jalan untuk mewujudkan) kehendak mencari nafkah atau malah mereka tidak memiliki kemampuan untuk itu. Mereka menahan diri dari me-minta-minta, yang bila mereka dilihat oleh orang-orang bodoh, pastilah mereka akan menduga bahwa mereka adalah orang-orang kaya. ﴾ لَا يَسۡـَٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلۡحَافٗاۗ ﴿ "Mereka tidak meminta kepada orang se-cara mendesak"; mereka tidak meminta secara umum, dan bila mereka harus meminta pun karena darurat, mereka tidak akan meminta-nya dengan memaksa. Kelompok orang-orang fakir yang satu ini adalah lebih utama untuk diberikan nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka dan menolong mereka dalam menyampaikan mereka kepada tujuan mereka dan kepada jalan yang baik, dan sebagai ucapan terima kasih buat mereka karena kesabaran yang mereka lakukan dan orientasi mereka kepada Allah Yang Maha Mencipta dan bukan kepada makhluk. Walaupun demikian, ber-infak dalam segala jalan kebaikan dan menutupi segala kebutuhan di mana pun didapatkan maka semua itu adalah kebaikan, dan pahala serta ganjarannya ada di sisi Allah. Oleh karena itu Allah berfirman,

(274) ﴾ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُم بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ فَلَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ﴿ "Orang-orang yang menafkahkan harta-nya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati," karena Allah تعالى akan menaungi mereka dengan naunganNya pada hari di mana tidak ada naungan selain naunganNya. Allah akan memberi me-reka kebaikan-kebaikan dan menolak dari mereka kesedihan, pera-saan takut, dan khawatir, serta segala perkara yang dibenci. Dan FirmanNya, ﴾ فَلَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ ﴿ "Maka mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya," setiap orang dari mereka menurut kondisinya masing-masing. Pengkhususan bahwa semua itu di sisi Tuhan mereka, menunjukkan atas kemuliaan kondisi tersebut dan keberadaannya pada suatu tempat yang besar, sebagaimana dalam hadits shahih, إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَصَدَّقُ بِالتَّمْرَةِ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ فَيَتَقَبَّلُهَا الْجَبَّارُ بِيَدِهِ فَيُرْبِيْهَا لِأَحَدِكُمْ كَمَا يُرْبِي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ الْعَظِيْمِ. "Sesungguhnya seorang hamba bersedekah dengan sebiji kurma dari hasil usaha yang baik lalu diterima oleh Yang Maha Memaksa dengan TanganNya lalu Dia mengembangkannya untuk salah seorang di antara kalian sebagaimana salah seorang dari kalian mengembangkan anak kuda-nya hingga menjadi seperti gunung yang besar."[31]

Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences

Contents

Ayat al-Kursi36Al-Kahfpage 42juz 15Bukhari 1Muslim 2999

Style

Theme
Text size
Layout

Читать на русском