As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian
Al-Baqarah 2:17–29
2:17–20Page 4
مَثَلُهُمۡ كَمَثَلِ ٱلَّذِي ٱسۡتَوۡقَدَ نَارٗا فَلَمَّآ أَضَآءَتۡ مَا حَوۡلَهُۥ ذَهَبَ ٱللَّهُ بِنُورِهِمۡ وَتَرَكَهُمۡ فِي ظُلُمَٰتٖ لَّا يُبۡصِرُونَ ١٧
Their example is that of one who kindled a fire, but when it illuminated what was around him, Allāh took away their light and left them in darkness [so] they could not see.
صُمُّۢ بُكۡمٌ عُمۡيٞ فَهُمۡ لَا يَرۡجِعُونَ ١٨
Deaf, dumb and blind - so they will not return [to the right path].
أَوۡ كَصَيِّبٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ فِيهِ ظُلُمَٰتٞ وَرَعۡدٞ وَبَرۡقٞ يَجۡعَلُونَ أَصَٰبِعَهُمۡ فِيٓ ءَاذَانِهِم مِّنَ ٱلصَّوَٰعِقِ حَذَرَ ٱلۡمَوۡتِۚ وَٱللَّهُ مُحِيطُۢ بِٱلۡكَٰفِرِينَ ١٩
Or [it is] like a rainstorm from the sky within which is darkness, thunder and lightning. They put their fingers in their ears against the thunderclaps in dread of death. But Allāh is encompassing1 of the disbelievers.
يَكَادُ ٱلۡبَرۡقُ يَخۡطَفُ أَبۡصَٰرَهُمۡۖ كُلَّمَآ أَضَآءَ لَهُم مَّشَوۡاْ فِيهِ وَإِذَآ أَظۡلَمَ عَلَيۡهِمۡ قَامُواْۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمۡعِهِمۡ وَأَبۡصَٰرِهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٢٠
The lightning almost snatches away their sight. Every time it lights [the way] for them, they walk therein; but when darkness comes over them, they stand [still]. And if Allāh had willed, He could have taken away their hearing and their sight. Indeed, Allāh is over all things competent.
"Perumpamaan mereka itu (orang-orang munafik) adalah se-perti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; me-reka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mende-ngar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka ber-henti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pen-dengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu." (Al-Baqarah: 17-20).
(17) Maksudnya, perumpamaan mereka yang sesuai de-ngan kondisi mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, yakni seperti seseorang yang berada dalam kegelapan yang pekat, dan sangat membutuhkan api, lalu api dinyalakan dari orang lain, dan ia sendiri tidak memiliki persiapan, akan tetapi di luar kesiapan-nya, dan ketika api itu telah menerangi sekitarnya, dan ia mampu melihat tempat di mana ia berada dan segala yang ia rasakan be-rupa kekhawatiran, ia menenangkan diri dan memanfaatkan api tersebut, lalu tenanglah pandangannya, dan ia mengira bahwa ia menguasai kondisi itu, lalu ketika ia berada dalam kondisi seperti itu, Allah memadamkan cahayanya hingga hilanglah cahaya dari api itu dan lenyaplah kebahagiaannya, lalu ia berada kembali dalam kegelapan yang pekat sedangkan api masih menyala-nyala namun telah hilang cahaya darinya dan tinggallah padanya api yang menyala-nyala, dan ia berada dalam kegelapan yang berma-cam-macam; kegelapan malam, kegelapan awan, kegelapan hujan, dan kegelapan yang terjadi setelah adanya cahaya, maka bagaimana-kah kondisi orang yang seperti ini? Demikianlah juga orang-orang munafik yang menyalakan api keimanan dari kaum Mukminin namun tidak menjadi ciri bagi mereka, mereka menjadikannya pe-nerangan untuk sementara waktu dan memanfaatkannya, hingga terjagalah darah mereka dan selamatlah harta mereka, serta mereka mendapatkan suatu keamanan di muka bumi ini, lalu ketika mereka dalam kondisi seperti ini, tiba-tiba kematian menyergap mereka, dan menghentikan pemanfaatan mereka terhadap cahaya tersebut, hingga terjadilah kegundahan, kebimbangan, dan siksaan, dan mereka mendapatkan kegelapan kubur, kegelapan kekufuran, ke-gelapan kemunafikan, dan kegelapan kemaksiatan dengan segala perbedaan coraknya, lalu kemudian setelah itu kegelapan api neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal. Oleh karena itu Allah berfirman tentang mereka.
(18) ﴾ صُمُّۢ ﴿ "Mereka tuli," maksudnya tuli dari mendengarkan kebaikan, ﴾ بُكۡمٌ ﴿ "bisu," maksudnya bisu dari membicarakannya, ﴾ عُمۡيٞ ﴿ "dan buta" dari melihat kebenaran, ﴾ فَهُمۡ لَا يَرۡجِعُونَ ﴿ "maka tidaklah mereka akan kembali ke jalan yang benar," karena mereka meninggal-kan kebenaran setelah mereka mengetahuinya, lalu mereka tidak kembali kepadanya, berbeda dengan orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan tersesat, karena sesungguhnya ia tidak berpikir, dan ini lebih dekat untuk kembali daripada orang-orang munafik itu.
(19) Kemudian Allah تعالى berfirman, ﴾ أَوۡ كَصَيِّبٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Atau seperti orang-orang yang ditimpa hujan lebat dari langit," yakni yang disiram hujan, yaitu hujan yang mengalir yang turun dengan derasnya, ﴾ فِيهِ ظُلُمَٰتٞ ﴿ "disertai gelap gulita," yakni kegelapan malam, kegelapan awan, dan kegelapan hujan yang ada padanya, ﴾ وَرَعۡدٞ ﴿ "dan guruh," yaitu suara yang terdengar dari awan dan juga ada padanya ﴾ وَبَرۡقٞ ﴿ "kilat," yaitu cahaya yang menyala dan terlihat dari awan.
(20) ﴾ كُلَّمَآ أَضَآءَ لَهُم ﴿ "Setiap kali kilat itu menyinari mereka," yakni kilat dalam kegelapan-kegelapan tersebut, ﴾ مَّشَوۡاْ فِيهِ وَإِذَآ أَظۡلَمَ عَلَيۡهِمۡ قَامُواْۚ ﴿ "mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti," yakni, mereka diam. Seperti itulah kondisi orang-orang munafik ketika mereka mendengarkan al-Qur`an, perintah-perintahnya, larangan-larangannya, janji dan ancamannya. Mereka meletakkan jari jemari mereka pada telinga-telinga mereka dan mereka berpaling dari perintahnya, larangannya, janjinya dan ancamannya, lalu ancamannya mengusik mereka, janji-janjinya mengganggu mereka, dan mereka berpaling darinya dengan sekuat tenaga, hingga membuat mereka lebih kokoh, mereka membenci-nya seperti seorang yang terkena hujan dan ia mendengar guruh lalu meletakkan jari jemarinya pada kedua telinganya karena takut dari kematian. Orang seperti ini masih mempunyai kemungkinan memperoleh keselamatan, adapun orang-orang munafik, dari manakah mereka memperoleh keselamatan, padahal Allah تعالى mengawasi mereka, baik dengan Kuasa maupun ilmuNya, dan mereka tidak akan lepas dariNya dan tidak mampu melemahkan-Nya, bahkan Dia akan mencatat perbuatan-perbuatan mereka lalu kelak akan memberikan balasan atasnya dengan balasan yang setimpal. Dan ketika mereka diuji dengan ketulian, kebutaan, dan kebisuan maknawi serta tertutupnya pintu-pintu keimanan bagi mereka, Allah berfirman, ﴾ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمۡعِهِمۡ وَأَبۡصَٰرِهِمۡۚ ﴿ "Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka" yaitu yang bersifat nyata. Ini merupakan sebuah tindakan agar mereka takut, dan peringatan dari hukuman dunia, agar me-reka berhati-hati lalu mengambil pelajaran dari sebagian kejahatan dan kemunafikan mereka. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu." Dia tidaklah lemah terhadap apa pun, dan di antara KuasaNya adalah bahwa apabila Dia menghendaki sesuatu, niscaya Dia lakukan, tanpa ada yang bisa menghalangi dan tanpa ada yang bisa merintangi. Dalam ayat ini dan ayat-ayat yang semisalnya ada sebuah jawaban terhadap golongan al-Qadariyah yang berpendapat bah-wasanya perbuatan-perbuatan mereka tidaklah termasuk dalam Kuasa Allah تعالى, karena perbuatan-perbuatan mereka termasuk bagian dari hal-hal yang masuk dalam FirmanNya, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu."
2:21–22Page 4
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ٢١
O mankind, worship your Lord, who created you and those before you, that you may become righteous -
ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَٰشٗا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءٗ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٢٢
[He] who made for you the earth a bed [spread out] and the sky a ceiling and sent down from the sky, rain and brought forth thereby fruits as provision for you. So do not attribute to Allāh equals while you know [that there is nothing similar to Him].
"Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah mencipta-kanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit se-bagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan segala buah-buahan dengan hujan itu sebagai rizki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui." (Al-Baqarah: 21-22).
(21) Ini adalah perintah yang bersifat umum bagi seluruh manusia dengan sebuah perintah yang umum, yaitu ibadah yang mencakup menaati perintah-perintah Allah, menjauhi larangan-laranganNya, dan mempercayai kabar-kabarNya. Allah تعالى meme-rintahkan mereka kepada tujuan diciptakannya mereka, di mana Allah berfirman, ﴾ وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ 56 ﴿ "Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu." (Adz-Dzariyat: 56). Kemudian Allah mengemukakan dalil yang menunjukkan kewajiban beribadah kepadaNya semata, yaitu karena Dia-lah Rabb kalian yang telah menganugerahkan kepada kalian berbagai macam nikmat, lalu Dia menciptakan kamu setelah (sebelumnya) kamu tidak ada dan Dia juga yang menciptakan orang-orang se-belum kamu.
(22) Dan Dia memberikan nikmat kepada kamu dengan nikmat-nikmat lahiriyah maupun batiniyah, Dia menjadikan untukmu dunia ini sebagai hamparan yang menjadi tempat kamu menetap, dan kamu mengambil manfaatnya dengan membangun rumah, pertanian, pembajakan, dan berkelana dari suatu tempat menuju tempat lain, dan lain sebagainya dari bentuk-bentuk pe-manfaatannya, lalu Dia menjadikan langit sebagai atap bagi rumah tempat tinggal kalian dan menyediakan manfaat-manfaat yang merupakan kebutuhan pokok hidup kalian dan kebutuhan dasar, seperti matahari, bulan, dan bintang, ﴾ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ ﴿ "dan Dia menurunkan air hujan dari langit." Langit adalah segala yang ada di atas kalian, oleh karena itu para ahli tafsir berkata, "Maksud dari langit di sini adalah awan, di mana Allah تعالى menurunkan air hujan darinya, ﴾ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ ﴿ "lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan," seperti biji-bijian dan hasil-hasil dari pohon kurma, buah-buahan, tanaman dan lain sebagainya, ﴾ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ ﴿ "sebagai rizki untukmu," yang dengannya kamu mendapatkan rizki, kamu makan, kamu hidup, dan kamu bahagia. ﴾ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا ﴿ "Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah," yakni yang diserupakan dan yang disepadankan dari makhluk-makhlukNya, lalu kamu menyembahnya sebagaimana kamu me-nyembah Allah, kamu mencintainya sebagaimana kamu mencintai Allah, padahal mereka itu sama saja seperti kalian, mereka adalah makhluk yang diciptakan, diberi rizki, dan diatur, di mana mereka tidak memiliki seberat biji atom pun di bumi dan tidak pula di langit, serta mereka tidak dapat memberikan manfaat kepadamu dan tidak juga menimpakan mudarat. ﴾ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Padahal kamu mengetahui," bahwasanya Allah tidak memiliki sekutu, tidak pula kesamaan, tidak pada mencipta, memberi rizki, dan mengatur semesta, tidak pula pada peribadahan dan kesempurnaan, lalu bagaimanakah kamu menyembah tuhan-tuhan lain bersamaNya padahal kalian mengetahuinya? Hal ini merupakan perkara yang paling mengherankan dan yang paling bodoh. Ayat ini menyatukan antara perintah untuk beribadah hanya kepada Allah semata dan larangan dari beribadah kepada selain Allah, dan penjelasan akan dalil yang sangat jelas atas kewajiban beribadah kepadaNya dan batilnya beribadah kepada selainNya, yaitu penyebutan tauhid rububiyah yang mengandung keesaanNya dalam mencipta, memberi rizki, dan mengatur semesta. Lalu apa-bila setiap orang menetapkan bahwasanya tidak ada sekutu bagi Allah dalam hal itu, maka itulah yang seharusnya, maka haruslah seperti itu juga penetapannya bahwasanya Allah itu tidak ada se-kutu bagiNya dalam beribadah kepadaNya. Ini adalah dalil logika yang paling terang atas keesaan Sang Pencipta, Allah تعالى dan batil-nya kesyirikan. Dan FirmanNya, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ﴿ "Agar kamu bertakwa," kemung-kinan maknanya adalah, bahwasanya karena kamu sekalian ber-ibadah hanya kepada Allah semata, maka dengan hal itu kalian telah menjaga diri kalian sendiri dari murka dan azabNya, karena kalian telah melakukan sebab yang mendorong hal tersebut. Ke-mungkinan lain maknanya adalah, bahwasanya jika kamu menyem-bah Allah semata, niscaya kamu menjadi golongan orang-orang bertakwa yang memiliki sifat ketakwaan. Kedua arti ini adalah benar, dan keduanya saling berkaitan, karena barangsiapa yang melakukan ibadah secara sempurna, niscaya ia menjadi golongan orang-orang bertakwa, dan barangsiapa yang tergolong dalam orang-orang bertakwa, pastilah ia akan memperoleh keselamatan dari azab dan murka Allah.
2:23–24Page 4
وَإِن كُنتُمۡ فِي رَيۡبٖ مِّمَّا نَزَّلۡنَا عَلَىٰ عَبۡدِنَا فَأۡتُواْ بِسُورَةٖ مِّن مِّثۡلِهِۦ وَٱدۡعُواْ شُهَدَآءَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٢٣
And if you are in doubt about what We have sent down [i.e., the Qur’ān] upon Our Servant [i.e., Prophet Muḥammad (ﷺ)], then produce a sūrah the like thereof and call upon your witnesses [i.e., supporters] other than Allāh, if you should be truthful.
فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُواْ وَلَن تَفۡعَلُواْ فَٱتَّقُواْ ٱلنَّارَ ٱلَّتِي وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُۖ أُعِدَّتۡ لِلۡكَٰفِرِينَ ٢٤
But if you do not - and you will never be able to - then fear the Fire, whose fuel is people and stones, prepared for the disbelievers.
"Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur`an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur`an itu, dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir." (Al-Baqarah: 23-24).
(23) Ini merupakan dalil logika atas kebenaran Rasulullah ﷺ dan keshahihan apa yang dibawa beliau di mana Allah berfir-man, "Dan jika kamu tetap -wahai sekalian orang-orang yang menentang Rasulullah ﷺ dan menolak dakwah beliau serta yang menuduhnya berdusta- dalam keraguan, dan kebimbangan ter-hadap wahyu yang Kami turunkan atas hamba Kami, apakah itu benar ataukah bohong belaka? Maka di sinilah suatu perkara (baca: tindakan) yang adil sebagai pemutus perkara antara kalian dengannya, yaitu, bahwasanya ia adalah seorang manusia juga seperti kalian dan bukan dari jenis makhluk yang lain,[4] dan kalian mengenalnya sejak lahirnya di tengah kehidupan kalian, ia tidak menulis dan tidak pula membaca, lalu ia datang kepada kalian dengan membawa sebuah kitab suci yang ia katakan berasal dari sisi Allah, dan kalian berkata bahwasanya ia membuat-buatnya dan melakukan kedustaan, maka jika itu sebagaimana yang kalian se-butkan, maka hadirkanlah sebuah surat saja yang semisal dengan-nya, mintalah bantuan kepada orang-orang yang kalian anggap mampu membuatnya dari sahabat dan sejawat-sejawat kalian, karena hal itu adalah suatu perkara yang mudah saja bagi kalian, apalagi kalian adalah pakar-pakar bidang bahasa, pakar orator, dan permusuhan terhadap Rasul ﷺ. Apabila kalian mampu menghadirkan satu surat yang semi-salnya, maka perkaranya adalah seperti yang kalian sebutkan, na-mun bila kalian tidak mampu menghadirkan satu surat pun yang semisal dan kalian tidak mampu lagi berusaha [dan kalian tidak akan pernah mampu menghadirkan satu surat pun yang semisal-nya, akan tetapi tantangan ini adalah tantangan yang obyektif dan mencoba memahami keberatan kalian], maka ayat ini merupakan ayat yang agung dan dalil yang jelas lagi terang akan kebenarannya dan kebenaran wahyu yang dibawanya, maka wajiblah atas kalian untuk mengikutinya, dan sebagai tindakan penjagaan diri dari api neraka yang panasnya sangat tinggi dan membara, di mana bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan, yang bukan seperti api dunia yang hanya dibakar dengan kayu saja, api ini seperti yang telah dijelaskan, telah disiapkan dan dipersembahkan bagi orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-rasulNya, maka jangan-lah kalian kafir terhadap RasulNya setelah jelas bagi kalian bahwa-sanya ia adalah Rasulullah ﷺ.
(24) Ayat ini dan ayat-ayat yang semisalnya dinamakan de-ngan ayat tantangan. Maksudnya adalah membuktikan kelemahan makhluk dalam hal menghadirkan sesuatu yang semisal dengan al-Qur`an, atau karena mengkritiknya dari suatu sisi. Allah تعالى berfirman, ﴾ قُل لَّئِنِ ٱجۡتَمَعَتِ ٱلۡإِنسُ وَٱلۡجِنُّ عَلَىٰٓ أَن يَأۡتُواْ بِمِثۡلِ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ لَا يَأۡتُونَ بِمِثۡلِهِۦ وَلَوۡ كَانَ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٖ ظَهِيرٗا 88 ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur`an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain'." (Al-Isra`: 88). Bagaimana mungkin makhluk yang berasal dari tanah mampu agar perkataannya sama seperti perkataan Rabb segala makhluk, atau bagaimana mungkin seorang yang miskin lagi papa dalam segala bentuknya dapat menghadirkan sebuah perkataan yang sama dengan perkataan Dzat yang sempurna, yang memiliki ke-sempurnaan mutlak, Dzat yang Mahakaya lagi luas dalam segala bentuknya? Hal ini tidaklah mungkin dan di luar kemampuan manusia, dan setiap orang yang memiliki sekecil-kecilnya rasa dan pengetahuan terhadap corak dan bentuk perkataan. Apabila seseorang membanding-bandingkan al-Qur`an yang agung ini de-ngan selainnya dari perkataan-perkataan para ahli sastra, niscaya nampaklah baginya suatu perbedaan yang luar biasa besarnya. Dan dalam FirmanNya, ﴾ وَإِن كُنتُمۡ فِي رَيۡبٖ مِّمَّا نَزَّلۡنَا عَلَىٰ عَبۡدِنَا فَأۡتُواْ بِسُورَةٖ مِّن مِّثۡلِهِۦ وَٱدۡعُواْ شُهَدَآءَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur`an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur`an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang memang benar," terkandung sebuah dalil yang menunjukkan bahwasanya orang yang diharapkan hidayah baginya dari kesesatan adalah seorang yang ragu dan bingung, yang belum mengetahui kebenaran dari kesesatan, maka orang seperti ini bila dijelaskan kebenaran baginya, niscaya ia segera mengikutinya jika ia memang benar-benar mencari kebenaran. Adapun orang yang keras kepala yang mengetahui kebenaran namun ia meninggalkannya, maka yang seperti ini tidaklah mung-kin kembali, karena ia telah meninggalkan kebenaran setelah jelas baginya kebenaran itu, di mana ia tidak meninggalkannya karena sebuah kebodohan, maka tidak ada alasan lain untuknya. Demikian juga orang yang ragu dan tidak benar-benar mencari kebenaran, bahkan ia berleha-leha dan tidak bersungguh-sungguh dalam men-carinya, maka yang seperti ini secara garis besar tidaklah dibimbing ke sana. Dalam penjelasan tentang Rasulullah ﷺ sebagai hamba Allah dalam konteks yang agung ini adalah sebuah dalil bahwasanya sifat beliau ﷺ yang paling besar adalah realisasi beliau ﷺ dalam penghambaan yang tidak dapat disaingi oleh siapa pun dari orang-orang terdahulu maupun yang akan datang, sebagaimana Allah juga menjelaskan tentang beliau dengan predikat hamba Allah dalam surat al-Isra` seraya berfirman, ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا ﴿ "Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam." (Al-Isra`: 1). Dan dalam konteks menurunkan, Allah berfirman, ﴾ تَبَارَكَ ٱلَّذِي نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِيَكُونَ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا 1 ﴿ "Mahasuci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (al-Qur`an) kepada hambaNya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam." (Al-Furqan: 1). Dan dalam Firman Allah, ﴾ أُعِدَّتۡ لِلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Yang disediakan bagi orang-orang kafir," dan ayat-ayat yang semacamnya adalah sebuah dalil bagi Ahlus Sunnah wal Jama'ah bahwasanya surga dan neraka itu telah diciptakan, berbeda dengan al-Mu'tazilah. Ayat ini juga mengandung isyarat bahwasanya orang-orang yang bertauhid walaupun mereka terkadang melakukan beberapa dosa besar, namun tidak akan kekal dalam neraka, karena Allah berfirman, ﴾ أُعِدَّتۡ لِلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Yang disediakan bagi orang-orang kafir," se-kiranya orang-orang yang melakukan maksiat dari ahli tauhid itu kekal dalam neraka, maka neraka tidaklah disiapkan hanya untuk orang-orang kafir semata. Ini berbeda dengan faham al-Khawarij dan al-Mu'tazilah. Demikian juga isyarat lain tentang suatu dalil bahwa siksaan itu diperoleh dengan adanya sebab-sebabnya yaitu kekufuran dan segala corak kemaksiatan yang berbeda-beda.
2:25Page 5
وَبَشِّرِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ كُلَّمَا رُزِقُواْ مِنۡهَا مِن ثَمَرَةٖ رِّزۡقٗا قَالُواْ هَٰذَا ٱلَّذِي رُزِقۡنَا مِن قَبۡلُۖ وَأُتُواْ بِهِۦ مُتَشَٰبِهٗاۖ وَلَهُمۡ فِيهَآ أَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞۖ وَهُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ٢٥
And give good tidings to those who believe and do righteous deeds that they will have gardens [in Paradise] beneath which rivers flow. Whenever they are provided with a provision of fruit therefrom, they will say, "This is what we were provided with before." And it is given to them in likeness. And they will have therein purified spouses, and they will abide therein eternally.
"Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang ber-iman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Setiap mereka diberi rizki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan, 'Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.' Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci, dan mereka kekal di dalamnya." (Al-Baqarah: 25).
(25) Setelah Allah menyebutkan tentang balasan orang-orang kafir, Dia menyebutkan juga balasan orang-orang beriman yang selalu mengerjakan amal-amal shalih. Ini adalah suatu metode Allah dalam kitabNya, yaitu Dia menyatukan antara harapan dan ancaman, agar seorang hamba optimis, mengharap, khawatir dan takut, lalu Allah berfirman, ﴾ وَبَشِّرِ ﴿ "Dan sampaikanlah berita gembira," yakni, wahai Rasul dan siapa pun yang berada dalam posisimu (sebagai penyeru), ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "kepada mereka yang beriman" dengan hati mereka, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan berbuat baik" dengan anggota tubuh mereka, maka mereka membenarkan (baca: membuktikan benarnya) keimanan mereka dengan tindakan nyata dari perbuatan-perbuatan baik mereka. Perbuatan-perbuatan baik disifati dengan kata shalih karena dengan perbuatan-perbuatan itu akan memper-baiki keadaan seorang hamba, memperbaiki perkara agama dan dunianya, dan penghidupan dunia maupun akhiratnya, serta menghilangkan kerusakan dirinya, yang pada akhirnya ia menjadi golongan orang-orang yang shalih lagi baik, karena berdekatan dengan ar-Rahman dalam surgaNya. Maka berikanlah mereka kabar gembira, ﴾ أَنَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ ﴿ "bahwa bagi mereka disediakan surga-surga," yakni kebun-kebun yang meliputi pohon-pohon yang indah, buah-buahan yang menggiurkan, naungan yang sejuk, dahan-dahan dan ranting-ranting pohon yang rimbun. Dengan itu semua, jadilah ia sebagai taman-taman yang di-nikmati oleh orang yang masuk ke dalamnya dan dirasakan oleh orang-orang yang tinggal di dalamnya, ﴾ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ ﴿ "yang mengalir sungai-sungai di bawahnya," yakni sungai-sungai air, susu, madu dan khamar, di mana mereka mengalirkannya bagaimana-pun cara yang mereka kehendaki dan mengalirkannya kemana pun mereka inginkan, dan darinya pohon-pohon itu disiram, hingga tumbuhlah buah-buahan yang bermacam-macam. ﴾ كُلَّمَا رُزِقُواْ مِنۡهَا مِن ثَمَرَةٖ رِّزۡقٗا قَالُواْ هَٰذَا ٱلَّذِي رُزِقۡنَا مِن قَبۡلُۖ ﴿ "Setiap mereka diberi rizki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan, 'Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu'." Maksudnya buah-buahan ini sama dari sisi jenis dan sifatnya, semuanya sama rata dalam kelezatan dan keung-gulannya, tidak ada buah-buahan yang busuk, dan mereka tidak memiliki waktu yang kosong dari kenikmatan, mereka selalu berada dalam kenikmatan dengan buah-buahannya. Dan FirmanNya, ﴾ وَأُتُواْ بِهِۦ مُتَشَٰبِهٗاۖ ﴿ "Mereka diberi buah-buahan yang serupa," menurut suatu pendapat, serupa dalam namanya namun berbeda dalam rasanya. Ada juga yang berpendapat, serupa dalam warnanya namun berbeda dalam namanya. Ada juga yang berpen-dapat, sebagian serupa dengan sebagiannya lagi dalam keunggulan, kelezatan, dan kenik-matannya, dan yang terakhir ini mungkin pendapat yang terbaik.[5] Kemudian, setelah Allah menyebutkan tentang kediaman mereka, makanan mereka dari makanan dan minuman, dan buah-buahan mereka, Allah menyebutkan pula istri-istri mereka, lalu Dia menjelaskan tentang sifat mereka dengan sifat yang paling ideal, Dia meringkasnya dan membahasnya seraya berfirman,﴾ وَلَهُمۡ فِيهَآ أَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞۖ ﴿ "Dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci," dan Allah tidak mengatakan suci dari satu aib saja, demi mencakup segala macam kesucian, mereka itu suci akhlaknya, suci tubuhnya, suci lisannya, suci penglihatannya, akhlak-akhlak mereka penuh cinta yang disukai oleh suami-suami mereka dengan akhlak yang baik, berhias diri yang paling indah dan bertata krama, baik lisan maupun perbuatan, juga suci tubuh mereka dari haid, nifas, mani, air seni, kotoran, lendir hidung, air ludah dan bau yang tidak sedap, dan juga suci penampilan mereka dengan kesempurnaan kecan-tikan, di mana tidak ada aib sama sekali pada diri mereka, tidak pula buruk rupa, akan tetapi mereka itu baik-baik lagi cantik-cantik, suci lisan dan pandangan mereka, yang sopan lagi menundukkan pandangan mereka terhadap suami-suami mereka, sopan lisan mereka dalam bertutur kata yang jauh dari perkataan yang buruk. Dalam ayat ini disebutkan yang menyampaikan kabar gem-bira, yang diberikan kabar gembira, dan apa-apa yang menjadi kabar gembira, serta sebab-sebab yang menyampaikan kepadanya. Yang menyampaikan kabar gembira itu adalah Rasulullah ﷺ atau umatnya yang berada dalam posisinya, dan penerima kabar gem-bira adalah orang-orang yang beriman yang beramal shalih, se-dangkan hal yang menjadi kabar gembira itu adalah surga-surga yang telah disebutkan sifat-sifatnya, dan sebab-sebab yang menyam-paikan kepadanya adalah keimanan dan amal shalih, karena tidak ada jalan lain yang menyampaikan kepada berita gembira itu ke-cuali dengan kedua sebab tersebut. Ini merupakan kabar gembira terbesar yang diucapkan oleh semulia-mulia makhluk dengan se-baik-baik faktor penyebabnya. Ayat ini juga menunjukkan sunnah-nya memberikan kabar gembira bagi kaum Mukminin dan mem-bangkitkan semangat mereka untuk beramal lebih giat yaitu dengan menyebutkan balasan perbuatan mereka dan hasilnya, karena dengan hal tersebut perbuatan akan lebih mudah dan ringan. Dan sebesar-besar berita gembira bagi seorang manusia adalah taufik-Nya kepada keimanan dan amal shalih, dan hal tersebut merupa-kan awal dan asal dari berita gembira, dan yang setelahnya adalah berita gembira ketika mati, dan yang setelahnya adalah sampai kepada kenikmatan tersebut yang abadi. Kita memohon kepada Allah dari karuniaNya.
2:26–27Page 5
۞ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسۡتَحۡيِۦٓ أَن يَضۡرِبَ مَثَلٗا مَّا بَعُوضَةٗ فَمَا فَوۡقَهَاۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡۖ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۘ يُضِلُّ بِهِۦ كَثِيرٗا وَيَهۡدِي بِهِۦ كَثِيرٗاۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦٓ إِلَّا ٱلۡفَٰسِقِينَ ٢٦
Indeed, Allāh is not timid to present an example - that of a mosquito or what is smaller1 than it. And those who have believed know that it is the truth from their Lord. But as for those who disbelieve, they say, "What did Allāh intend by this as an example?" He misleads many thereby and guides many thereby. And He misleads not except the defiantly disobedient,
ٱلَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهۡدَ ٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ مِيثَٰقِهِۦ وَيَقۡطَعُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ وَيُفۡسِدُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ٢٧
Who break the covenant of Allāh after contracting it and sever that which Allāh has ordered to be joined and cause corruption on earth. It is those who are the losers.
"Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka mengetahui (yakin) bahwa pe-rumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan, 'Apa maksud Allah menjadikan ini untuk perumpa-maan?' Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberiNya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik. (Yaitu) orang-orang yang melanggar per-janjian Allah sesudah perjanjian itu diteguhkan, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubung-kannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi." (Al-Baqarah: 26-27).
(26) Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسۡتَحۡيِۦٓ أَن يَضۡرِبَ مَثَلٗا مَّا ﴿ "Sesung-guhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan," maksudnya perum-pamaan apa pun itu, ﴾ بَعُوضَةٗ فَمَا فَوۡقَهَاۚ ﴿ "berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu," karena perumpamaan meliputi kebijaksanaan dan penjelasan akan kebenaran, sedang Allah tidaklah segan mengung-kapkan kebenaran. Dalam hal ini seakan-akan ada sebuah jawaban bagi orang yang mengingkari pemakaian perumpamaan dalam hal-hal yang remeh dan memprotes Allah dalam hal tersebut, pa-dahal dalam hal itu tidak ada yang patut diprotes, bahkan hal itu adalah suatu pengajaran Allah تعالى kepada hamba-hambaNya serta kasih sayangNya kepada mereka, maka wajiblah diterima dengan terbuka dan penuh kesyukuran. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡۖ ﴿ "Adapun orang-orang yang ber-iman, maka mereka mengetahui (yakin) bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka," mereka memahami dan memikirkannya, lalu apabila mereka mengetahui apa yang meliputi hal tersebut dalam perinciannya, niscaya bertambahlah ilmu dan keimanan mereka dengan hal itu, namun bila tidak, niscaya mereka mengetahui bah-wasanya hal itu adalah suatu kebenaran dan apa pun yang dikan-dungnya adalah kebenaran, walaupun kandungan kebenarannya itu tidak dapat mereka mengerti, karena pengetahuan mereka bahwasanya Allah tidaklah membuat perumpamaan itu dengan sia-sia, akan tetapi karena sebuah hikmah yang tinggi dan nikmat yang dalam. ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۘ ﴿ "Tetapi mereka yang kafir mengatakan, 'Apa maksud Allah menjadikan ini untuk perum-pamaan?'" Yakni, mereka menyanggah dan bingung sehingga ber-tambahlah kekufuran kepada kekufuran yang telah ada pada me-reka, sebagaimana bertambahnya keimanan bagi kaum Mukminin kepada keimanan mereka. Oleh karena itulah Allah berfirman, ﴾ يُضِلُّ بِهِۦ كَثِيرٗا وَيَهۡدِي بِهِۦ كَثِيرٗاۚ ﴿ "Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberiNya petunjuk." Demikianlah kondisi kaum Mukminin dan kaum kafir ketika turunnya ayat-ayat al-Qur`an. Allah تعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا مَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ فَمِنۡهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمۡ زَادَتۡهُ هَٰذِهِۦٓ إِيمَٰنٗاۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَزَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَهُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ 124 وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَتۡهُمۡ رِجۡسًا إِلَىٰ رِجۡسِهِمۡ وَمَاتُواْ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ 125 ﴿ "Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, 'Siapakah di antara kamu yang bertam-bah imannya dengan (turunnya) surat ini?' Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambahlah kekafiran mereka, di samping kekafiran-nya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir." (At-Taubah: 124-125). Maka tidak ada kenikmatan yang lebih besar bagi hamba dari turunnya ayat-ayat al-Qur`an. Walaupun demikian, hal ini bagi suatu kaum menjadi sebuah ujian, kebingungan, kesesatan, dan bertambahnya keburukan kepada keburukan yang telah ada pada mereka, sedang bagi kaum yang lain menjadi ujian, rahmat, dan bertambahnya kebaikan kepada kebaikan yang telah ada pada mereka. Maka Mahasuci Dzat yang telah membeda-bedakan antara hamba-hambaNya dan keesaanNya dalam memberikan petunjuk dan kesesatan. Kemudian Allah menyebutkan hikmah di balik penyesatan yang dilakukan olehNya kepada seseorang yang tersesat, seraya berfirman, ﴾ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦٓ إِلَّا ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik," yaitu orang-orang yang berpaling dari ketaatan kepada Allah dan yang menentang Rasul-rasul Allah yang akhirnya kefasikan itu menjadi sifat paten mereka, dan mereka sendiri tidak ingin merubahnya, maka berjalanlah hikmah Allah bagi mereka dalam menyesatkan mereka, karena mereka tidaklah pantas mendapatkan petunjuk, sebagaimana berjalannya hikmah dan keutamaanNya dalam memberikan petunjuk kepada orang yang memiliki sifat keimanan dan menghiasi diri mereka dengan amalan-amalan shalih. Kefasikan itu ada dua macam: Yang pertama adalah kefasikan yang mengeluarkan seseorang dari Islam yaitu kefasikan yang mengakibatkan keluar dari keimanan seperti yang disebutkan dalam ayat ini dan yang semacamnya, sedangkan yang kedua adalah kefasikan yang tidak mengeluarkan dari keimanan, seperti dalam Firman Allah تعالى, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti." (Al-Hujurat: 6).
Kemudian Allah menjelaskan sifat-sifat kaum fasik dalam FirmanNya,
(27) ﴾ ٱلَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهۡدَ ٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ مِيثَٰقِهِۦ ﴿ "Yaitu orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu diteguhkan." Hal ini bersifat umum yang meliputi perjanjian antara mereka dengan Rabb mereka, atau juga perjanjian yang terjadi antara mereka dengan sesama makhluk, yang dikukuhkan atas mereka dengan ikatan-ikatan yang erat dan komitmen-komitmen, namun mereka tidak peduli terhadap ikatan-ikatan tersebut bahkan mereka membatal-kannya dan mereka meninggalkan perintah-perintahNya, melaku-kan larangan-laranganNya, dan mereka juga membatalkan janji-janji antara mereka dengan sesama makhluk, ﴾ وَيَقۡطَعُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ ﴿ "dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya." Banyak hal yang termasuk ke dalam ayat ini, dan Allah تعالى telah memerintahkan kepada kita untuk menghubungkan antara kita dengan DiriNya yaitu dengan keimanan kepadaNya, melak-sanakan ibadah hanya semata kepadaNya, atau antara kita dengan RasulNya yaitu dengan beriman kepada beliau, mencintai beliau, menghormati beliau, menunaikan segala hak-hak beliau, atau di antara kita dengan kedua orang tua, karib kerabat, teman sahabat dan seluruh makhluk yaitu dengan menunaikan hak-hak mereka yang mana Allah telah memerintahkan untuk bersilaturahim. Orang-orang Mukmin, maka mereka akan menyambung silaturahim yang telah Allah perintahkan untuk disambung dari hak-hak tersebut, dan mereka menunaikannya dengan sebaik-baik pelaksanaan, sedangkan orang-orang fasik, maka mereka memutus-kannya dan membuangnya dari diri mereka dan menggantikannya dengan kefasikan, memutus hubungan, dan melakukan kemak-siatan, yaitu berbuat kerusakan di muka bumi. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," yakni orang-orang yang memiliki sifat seperti itu adalah, ﴾ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "orang-orang yang merugi" di dunia dan akhirat. Allah membatasi kerugian itu hanya bagi mereka, karena kerugian me-reka itu bersifat umum dalam segala kondisi mereka yang tidak ada sama sekali percikan dari keuntungan, karena setiap amalan shalih syaratnya adalah keimanan, maka barangsiapa yang tidak memiliki keimanan, niscaya ia tidak memiliki nilai amal, dan ke-rugian ini adalah kerugian kekufuran. Adapun kerugian yang ter-kadang menjadi kekufuran dan terkadang menjadi kemaksiatan dan terkadang menjadi suatu tindakan kelalaian dalam meninggalkan kesunnahan, yang disebutkan dalam FirmanNya تعالى, ﴾ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ 2 ﴿ "Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian." (Al-Ashr: 2), maka ini bersifat umum untuk seluruh makhluk, kecuali orang-orang yang bersifat dengan keimanan, amalan shalih, saling nasihat menasihati kepada kebenaran dan saling nasihat menasihati dengan kesabaran; maka pada hakikatnya adalah hilangnya kebaikan yang mana seorang hamba itu bertujuan memperolehnya dan itu masih dalam kemampuannya.
Kemudian Allah تعالى berfirman,
2:28Page 5
كَيۡفَ تَكۡفُرُونَ بِٱللَّهِ وَكُنتُمۡ أَمۡوَٰتٗا فَأَحۡيَٰكُمۡۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمۡ ثُمَّ يُحۡيِيكُمۡ ثُمَّ إِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ٢٨
How can you disbelieve in Allāh when you were lifeless and He brought you to life; then He will cause you to die, then He will bring you [back] to life, and then to Him you will be returned.
"Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkanNya kembali, kemudian kepadaNya-lah kamu dikembalikan?" (Al-Baqarah: 28).
(28) Ini adalah sebuah pertanyaan yang bermakna keheranan dan sekaligus celaan serta pengingkaran, yakni bagaimana bisa terjadi kekufuran dari kalian kepada Allah yang telah menciptakan kalian dari tidak ada, lalu memberikan nikmatNya kepada kalian dengan berbagai macam nikmat, kemudian Dia mematikan kalian bila telah sampai ajal kalian lalu Dia membalas kalian dalam kubur, kemudian Dia membangkitkan kalian kembali setelah Hari Kebang-kitan dan berdiri di padang mahsyar, kemudian kepadaNya-lah kalian akan kembali, maka Dia akan memberikan balasan kepada kalian dengan balasan yang sepadan, dan bila kalian berada dalam tindak-tandukNya, pengaturanNya, kebaikanNya dan dalam kerangka perintah-perintahNya yang bersifat agama, kemudian setelah itu dalam kerangka pembalasanNya; maka apakah pantas bagi kalian kufur kepadaNya? Dan bukankah hal ini hanyalah suatu kebodohan dan kedunguan yang besar? Akan tetapi yang sepantasnya bagi kalian adalah agar kalian bertakwa kepadaNya, mensyukuriNya, beriman kepadaNya, takut akan azabNya, dan mengharap balasan baikNya.
2:29Page 5
هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَسَوَّىٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ٢٩
It is He who created for you all of that which is on the earth. Then He directed Himself1 to the heaven, [His being above all creation], and made them seven heavens, and He is Knowing of all things.
"Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia bermaksud (menciptakan) langit, lalu dijadi-kanNya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al-Baqarah: 29).
(29) Maksudnya, Dia menciptakan segala sesuatu di muka bumi ini sebagai suatu kebaikan dan kasih sayang untukmu agar dapat diambil manfaatnya, dinikmati, dan dijadikan pelajaran. Ayat yang mulia ini merupakan sebuah dalil yang menunjuk-kan bahwasanya segala sesuatu itu pada dasarnya adalah mubah dan suci, karena disebutkan dalam kerangka suatu anugerah, dengan nash tersebut, maka hal-hal yang kotor tidak termasuk di dalamnya, dan sesungguhnya keharaman hal-hal yang kotor itu pun telah diambil dari pemahaman utama ayat ini (fahwa al-ayat), penjelasan akan maksudnya dan bahwasanya Allah menciptakan-nya untuk kemaslahatan kita. Maka apa pun yang ada bahayanya dalam hal itu, maka tidak termasuk di dalamnya, dan sebagai pe-nyempurnaan nikmatNya, Dia melarang kita dari hal-hal yang kotor demi untuk membersihkan kita. Dan FirmanNya, ﴾ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَسَوَّىٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ 29 ﴿ "Dan Dia bermaksud (menciptakan) langit, lalu dijadikanNya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al-Baqarah: 29). Kata اِسْتَوَى yang disebutkan dalam al-Qur`an hadir dengan tiga makna: Terkadang tidak dijadikan kata kerja muta'addi (transitif yang membutuhkan obyek) dengan huruf, maka berarti kesempur-naan dan kepurnaan, sebagaimana FirmanNya tentang Musa عليه السلام, ﴾ وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَٱسۡتَوَىٰٓ ﴿ "Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya." (Al-Qa-shash: 14). Terkadang juga bermakna عَلَا وَارْتَفَعَ (tinggi dan jauh di atas), hal ini bila kata kerja ini dijadikan kata kerja muta'addi dengan عَلَى seperti Firman Allah (yaitu), ﴾ ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ٱسۡتَوَىٰ 5 ﴿ "Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam (tinggi) di atas 'Arasy." (Thaha: 5). Dan juga (FirmanNya), ﴾ لِتَسۡتَوُۥاْ عَلَىٰ ظُهُورِهِۦ ﴿ "Supaya kamu duduk di atas punggungnya." (Az-Zukhruf: 13). Dan juga terkadang berarti, bermaksud, sebagaimana bila dijadikan kata kerja muta'addi (transitif) dengan إِلَى yaitu kepada, sebagaimana yang ada pada ayat ini. Maksudnya, ketika Allah تعالى telah menciptakan bumi, Dia bermaksud menciptakan langit dan dijadikannya tujuh langit, maka Dia menciptakannya, menyeim-bangkannya dan mengukuhkannya, dan Allah Mahatahu akan segala sesuatu, Dia mengetahui apa yang masuk dalam bumi dan apa yang keluar darinya, mengetahui apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya, dan Dia mengetahui juga apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian perlihatkan, dan Dia mengetahui yang rahasia dan yang tersembunyi. Sangat sering sekali Allah menyandingkan penciptaanNya terhadap sesuatu dengan penetapan akan ilmuNya, sebagaimana dalam ayat ini dan juga dalam Firman Allah تعالى, ﴾ أَلَا يَعۡلَمُ مَنۡ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ 14 ﴿ "Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); sedangkan Dia Mahahalus lagi Maha Menge-tahui." (Al-Mulk: 14). Karena penciptaan Allah terhadap makhluk-makhluk adalah dalil yang paling jelas akan pengetahuan, hikmah, dan kekuasaan-Nya.
Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences