As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian
Taha 20:56–82
20:56–73Page 315
وَلَقَدۡ أَرَيۡنَٰهُ ءَايَٰتِنَا كُلَّهَا فَكَذَّبَ وَأَبَىٰ ٥٦
And We certainly showed him [i.e., Pharaoh] Our signs - all of them - but he denied and refused.
قَالَ أَجِئۡتَنَا لِتُخۡرِجَنَا مِنۡ أَرۡضِنَا بِسِحۡرِكَ يَٰمُوسَىٰ ٥٧
He said, "Have you come to us to drive us out of our land with your magic, O Moses?
فَلَنَأۡتِيَنَّكَ بِسِحۡرٖ مِّثۡلِهِۦ فَٱجۡعَلۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكَ مَوۡعِدٗا لَّا نُخۡلِفُهُۥ نَحۡنُ وَلَآ أَنتَ مَكَانٗا سُوٗى ٥٨
Then we will surely bring you magic like it, so make between us and you an appointment, which we will not fail to keep and neither will you, in a place assigned."1
قَالَ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى ٥٩
[Moses] said, "Your appointment is on the day of the festival when the people assemble at mid-morning."1
فَتَوَلَّىٰ فِرۡعَوۡنُ فَجَمَعَ كَيۡدَهُۥ ثُمَّ أَتَىٰ ٦٠
So Pharaoh went away, put together his plan, and then came [to Moses].
قَالَ لَهُم مُّوسَىٰ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ وَقَدۡ خَابَ مَنِ ٱفۡتَرَىٰ ٦١
Moses said to them [i.e., the magicians summoned by Pharaoh], "Woe to you! Do not invent a lie against Allāh or He will exterminate you with a punishment; and he has failed who invents [such falsehood]."
فَتَنَٰزَعُوٓاْ أَمۡرَهُم بَيۡنَهُمۡ وَأَسَرُّواْ ٱلنَّجۡوَىٰ ٦٢
So they disputed over their affair among themselves and concealed their private conversation.
قَالُوٓاْ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا وَيَذۡهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ ٱلۡمُثۡلَىٰ ٦٣
They said, "Indeed, these are two magicians who want to drive you out of your land with their magic and do away with your most exemplary way [i.e., religion or tradition].
فَأَجۡمِعُواْ كَيۡدَكُمۡ ثُمَّ ٱئۡتُواْ صَفّٗاۚ وَقَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡيَوۡمَ مَنِ ٱسۡتَعۡلَىٰ ٦٤
So resolve upon your plan and then come [forward] in line. And he has succeeded today who overcomes."
قَالُواْ يَٰمُوسَىٰٓ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَلۡقَىٰ ٦٥
They said, "O Moses, either you throw or we will be the first to throw."
قَالَ بَلۡ أَلۡقُواْۖ فَإِذَا حِبَالُهُمۡ وَعِصِيُّهُمۡ يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ مِن سِحۡرِهِمۡ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ ٦٦
He said, "Rather, you throw." And suddenly their ropes and staffs seemed to him from their magic that they were moving [like snakes].
فَأَوۡجَسَ فِي نَفۡسِهِۦ خِيفَةٗ مُّوسَىٰ ٦٧
And he sensed within himself apprehension, did Moses.
قُلۡنَا لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ ٦٨
We [i.e., Allāh] said, "Fear not. Indeed, it is you who are superior.
وَأَلۡقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَٰحِرٖۖ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ ٦٩
And throw what is in your right hand; it will swallow up what they have crafted. What they have crafted is but the trick of a magician, and the magician will not succeed wherever he is."
فَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ سُجَّدٗا قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ هَٰرُونَ وَمُوسَىٰ ٧٠
So the magicians fell down in prostration.1 They said, "We have believed in the Lord of Aaron and Moses."
قَالَ ءَامَنتُمۡ لَهُۥ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ إِنَّهُۥ لَكَبِيرُكُمُ ٱلَّذِي عَلَّمَكُمُ ٱلسِّحۡرَۖ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمۡ فِي جُذُوعِ ٱلنَّخۡلِ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ ٧١
[Pharaoh] said, "You believed him [i.e., Moses] before I gave you permission. Indeed, he is your leader who has taught you magic. So I will surely cut off your hands and your feet on opposite sides, and I will crucify you on the trunks of palm trees, and you will surely know which of us is more severe in [giving] punishment and more enduring."
قَالُواْ لَن نُّؤۡثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَآءَنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ وَٱلَّذِي فَطَرَنَاۖ فَٱقۡضِ مَآ أَنتَ قَاضٍۖ إِنَّمَا تَقۡضِي هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَآ ٧٢
They said, "Never will we prefer you over what has come to us of clear proofs and [over] He who created us.1 So decree whatever you are to decree. You can only decree for this worldly life.
إِنَّآ ءَامَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغۡفِرَ لَنَا خَطَٰيَٰنَا وَمَآ أَكۡرَهۡتَنَا عَلَيۡهِ مِنَ ٱلسِّحۡرِۗ وَٱللَّهُ خَيۡرٞ وَأَبۡقَىٰٓ ٧٣
Indeed, we have believed in our Lord that He may forgive us our sins and what you compelled us [to do] of magic. And Allāh is better and more enduring."1
"Dan sesungguhnya Kami telah memperlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya, maka dia men-dustakan dan enggan (menerima kebenaran). Fir'aun berkata, 'Ada-kah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa? Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka tentu-kanlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, (yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu) di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Musa berkata, 'Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendak-lah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik.' Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang. Musa berkata kepada mereka, 'Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan ter-hadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa.' Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedusta-an. Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). Mereka berkata, 'Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusirmu dari negerimu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukanmu yang utama. Maka him-punlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sesungguhnya beruntunglah orang yang me-nang pada hari ini.' (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata, 'Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?' Musa berkata, 'Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan.' Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa, seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka. Musa me-rasa takut dalam hatinya. Kami berkata, 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lem-parkanlah sesuatu yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya sesuatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.' Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya ber-kata, 'Kami telah percaya kepada Rabb Harun dan Musa.' Fir'aun berkata, 'Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku beri izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemim-pinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesung-guhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma, dan sesung-guhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.' Mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Rabb yang menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melaku-kannya. Dan Allah lebih baik (pahalaNya) dan lebih kekal (azab-Nya)'." (Thaha: 56-73).
(56) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia telah memper-tontonkan kepada Fir'aun seluruh jenis ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) dan pelajaran-pelajaran serta petunjuk-petunjuk yang sangat akurat yang bersifat jasmani, rohani, dan astrologis, (tapi) dia tidak memperbaiki diri dan tidak jera, justru mendusta-kan dan berpaling. Mendustakan berita wahyu dan memalingkan diri dari perintah dan larangan Allah, menyulap kebenaran men-jadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran, melancarkan per-debatan untuk menyesatkan umat manusia.
(57) Dia berkata, ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتُخۡرِجَنَا مِنۡ أَرۡضِنَا بِسِحۡرِكَ ﴿ "Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu," dia mengklaim bahwa tanda-tanda kebesaran Allah (muk-jizat-mukjizat itu) yang diperlihatkan Musa kepadanya merupakan bentuk sihir dan kepalsuan belaka, yang ditujukan untuk mengusir mereka dari tanah mereka dan menguasai (tanah)nya, agar perkata-annya menorehkan pengaruh di hati orang-orang. Sesungguhnya tabiat manusia condong menyukai tanah kelahirannya, sulit untuk keluar dan meninggalkannya. Lalu Fir'aun memberitahukan kepada mereka bahwa Musa hendak mewujudkannya, agar mereka mem-benci Musa dan menyiapkan usaha untuk melawannya.
(58) ﴾ فَلَنَأۡتِيَنَّكَ بِسِحۡرٖ ﴿ "Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu," serupa dengan sihirmu. Berilah kami kesempatan dan tentukanlah untukku,﴾ مَوۡعِدٗا لَّا نُخۡلِفُهُۥ نَحۡنُ وَلَآ أَنتَ مَكَانٗا سُوٗى 58 ﴿ "suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya)," tempat yang netral, pengetahuan kami dan pengetahuanmu sama tentangnya. Atau tempat yang datar lagi rata, supaya kita dapat menyaksikan apa saja yang ada di sana.
(59) Musa berkata, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya," hari perayaan mereka yang mereka sedang kosong tanpa pekerjaan dan menghentikan kesibukan-kesibukan mereka padanya ﴾ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik," maksudnya mereka semua dihimpun jadi satu di waktu dhuha. Musa memilih hari raya dan waktu pagi hari, karena banyak-nya kerumunan orang dan penglihatan terhadap segala sesuatu sesuai dengan aslinya, yang tidak terpenuhi pada waktu lainnya."
(60) ﴾ فَتَوَلَّىٰ فِرۡعَوۡنُ فَجَمَعَ كَيۡدَهُۥ ﴿ "Maka Fir'aun meninggalkan (tem-pat itu), lalu mengatur tipu dayanya," maksudnya seluruh upaya yang dapat dia tempuh untuk memperdayai Musa dengannya. Maka dia mengutus orang di seluruh kota untuk mengumpulkan tukang-tukang sihir yang piawai dalam keahlian sihirnya. Pada waktu itu, praktik sihir begitu merata, dan pendalamannya sangat diminati. Ia pun berhasil mendatangkan tukang sihir dalam jumlah besar. Kemudian masing-masing dari mereka datang pada waktu yang sudah ditentukan. Pertemuan itu begitu padat, dihadiri oleh kaum lelaki dan wanita, para petinggi, orang-orang bangsawan, rakyat awam, anak-anak kecil dan orang-orang tua. Mereka menghimbau orang-orang untuk ikut serta berkumpul. Dan mereka berkata, ﴾ وَقِيلَ لِلنَّاسِ هَلۡ أَنتُم مُّجۡتَمِعُونَ 39 لَعَلَّنَا نَتَّبِعُ ٱلسَّحَرَةَ إِن كَانُواْ هُمُ ٱلۡغَٰلِبِينَ 40 ﴿ "Dan dikatakan kepada orang banyak, 'Berkumpullah kamu seka-lian. Semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang'." (Asy-Syu'ara`: 39-40).
(61) Setelah tukang-tukang sihir berkumpul dari segenap wilayah, Musa عليه السلام menyampaikan nasihat kepada mereka dan menegakkan hujah di hadapan mereka. Beliau mengatakan, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu meng-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa," maksudnya janganlah kalian dukung kebatilan (yang kalian pegangi) dengan praktik sihir kalian dan berencana mempecun-dangi kebenaran, membuat kedustaan atas nama Allah. Akibatnya Allah akan menghabisi kalian sampai tak tersisa dengan siksa dari sisiNya, dan menggagalkan usaha dan kedustaan kalian. Akhirnya, kalian tidak dapat menggapai sesuatu yang kalian kehendaki berupa kemenangan dan jabatan di sisi Fir'aun dan para pembesar-nya, serta kalian tidak lolos dari siksa Allah.
(62) Perkataan yang benar pasti memiliki pengaruh pada hati. Tak ayal lagi, timbullah keributan dan pertentangan di tengah tukang-tukang sihir, manakala mereka mendengarkan perkataan Musa dan terjadilah kegaduhan. Boleh jadi, muara pertentangan (pada mereka) adalah rancunya jati diri Musa, apakah ia berada di atas (rel) kebenaran atau tidak? Akan tetapi, sampai di sini, polemik mereka belum menemui titik terang. Agar Allah menentukan per-kara yang mesti dilaksanakan, yaitu agar binasalah orang yang binasa dengan keterangan yang nyata dan agar hiduplah orang yang hidup dengan keterangan yang nyata. Saat itulah, mereka saling berbisik-bisik di antara mereka dan bahwa mereka telah menyepakati sebuah pernyataan agar mereka selamat dalam ucapan dan tindakan mereka serta agar orang-orang memegangi doktrin Fir'aun dan orang-orangnya.
(63) Perbincangan yang mereka rahasiakan, dijelaskan oleh Firman Allah, ﴾ قَالُوٓاْ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesung-guhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," persis seperti pernyataan Fir'aun sebelumnya, baik ini terjadi secara kebetulan atas pernya-taan ini dari para tukang sihir dan Fir'aun tanpa kesengajaan atau-pun merupakan pendiktean dari Fir'aun kepada mereka yang telah direncanakan dan dipersaksikan oleh Fir'aun di hadapan orang-orang. Para tukang sihir itu mengimbuhi lontaran Fir'aun dengan ungkapan, ﴾ وَيَذۡهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ ٱلۡمُثۡلَىٰ 63 ﴿ "Dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama," yaitu praktik sihir. Ia iri dengki terhadap kalian atas (kedudukan) itu dan berminat untuk mengungguli kalian, agar dia dapat menggenggam kebanggaan, ketenaran, dan popularitas. Itulah sasaran Musa dengan ilmu (sihir) ini, yang mana kalian telah menghabiskan waktu-waktu kalian untuknya dan melenyapkan mata pencaharian kalian yang mana kalian makan darinya dan menghilangkan hal-hal yang mengikutinya berupa jabatan-jabatan.
(64) Ini adalah himbauan dari sebagian mereka kepada kelompoknya untuk berusaha keras dalam menumbangkan Musa. Oleh karena itu, mereka berkata, ﴾ فَأَجۡمِعُواْ كَيۡدَكُمۡ ﴿ "Maka himpunlah segala daya (sihir) kamu sekalian," maksudnya, tunjukkanlah (kemam-puan kalian) sekaligus dengan cara bahu-membahu, saling men-dukung, dan menolong dalam keadaan perkataan dan hati kalian bersatu. ﴾ ثُمَّ ٱئۡتُواْ صَفّٗاۚ ﴿ "Kemudian datanglah dengan berbaris," agar kalian lebih leluasa menjalankan pekerjaan kalian dan lebih disegani dalam hati. Dan supaya sebagian kalian tidak menyisihkan kemam-puannya. Ketahuilah, siapa saja yang beruntung hari ini, sukses dan berhasil mengalahkan yang lain, maka sesungguhnya dia menjadi seorang yang beruntung lagi menang. Inilah hari keberuntungan baginya, tiada hari setelah ini. Alangkah teguhnya mereka dalam kebatilan dan betapa dahsyatnya mereka berada di dalamnya! Pasalnya, mereka mengusahakan setiap cara, piranti, dan tipu daya untuk melancarkan makar kepada al-Haq.
(65) Dan Allah enggan kecuali (hanya) hendak menyem-purnakan cahayaNya dan mengunggulkan al-Haq di atas kebatilan. Setelah tipu daya mereka komplit, dan motivasi mereka telah me-ngerucut, serta tidak ada yang tertinggal melainkan pelaksanaan-nya saja ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata," kepada Musa ﴾ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ ﴿ "(pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu)," tongkatmu ﴾ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَلۡقَىٰ 65 ﴿ "atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?" Mereka mengajukan alternatif pilihan disertai dengan prasangka bahwa mereka pasti akan menang melawan Musa dalam kondisi apa pun.
(66) Musa berkata kepada mereka, ﴾ بَلۡ أَلۡقُواْۖ ﴿ "Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan," mereka pun melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka ﴾ فَإِذَا حِبَالُهُمۡ وَعِصِيُّهُمۡ يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ ﴿ "maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepadanya," yaitu kepada Musa ﴾ مِن سِحۡرِهِمۡ ﴿ "lantaran sihir mereka," yang klimaks ﴾ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ 66 ﴿ "seakan-akan ia merayap cepat," [ular-ular yang datang dengan segera].
(67) Ketika pemandangan itu terbayang pada pandangan Musa, beliau merasakan ketakutan, sebagaimana rasa takut yang manusiawi. Kalau tidak demikian, maka beliau teguh pendirian dengan janji Allah dan pertolonganNya.
(68) ﴾ قُلۡنَا ﴿ "Kami berkata," untuk meneguhkan dan mene-nangkan hati, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ 68 ﴿ "Janganlah kamu takut, sesung-guhnya kamulah yang paling unggul (menang)," atas mereka. Maksud-nya engkau akan mengungguli mereka dan mengalahkan mereka hingga mereka patuh dan tunduk di hadapanmu.
(69) ﴾ وَأَلۡقِ مَا فِي يَمِينِكَ ﴿ "Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu," yaitu tongkatmu ﴾ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَٰحِرٖۖ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ ﴿ "niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya se-suatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang," maksud-nya tipu daya dan makar mereka tidak membuahkan hasil bagi diri mereka, lagi tidak sukses. Ia sekedar tipu daya dari para tukang sihir yang mengelabui (pandangan) khalayak dan mengaburkan (potret) kebatilan serta mengopinikan bahwa mereka berada di atas kebenaran.
(70) Lalu, Musa melemparkan tongkatnya, maka ia menelan segala sesuatu (ular jelmaan) yang mereka buat dan memangsanya. Sementara itu, orang-orang memperhatikan kejadian tersebut. Para tukang sihir pun sadar dengan yakin bahwa itu bukanlah sihir, akan tetapi dari Allah. Maka mereka pun bersegera untuk beriman. ﴾ فَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur," dengan bersujud, ﴾ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 121 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 122 ﴿ "Seraya berkata, 'Kami telah beriman kepada Rabb semesta alam, yaitu Rabb Musa dan Harun'," (Al-A'raf: 121-122), kebenaran pun terkuak, nampak dan mencuat. Sedangkan praktik sihir, tipu daya, dan makar (mereka) tertolak pada tempat perkum-pulan yang ramai itu. Jadilah momentum itu sebagai bukti nyata dan rahmat bagi kaum Mukminin serta menjadi hujjah atas orang-orang yang menentang.
(71) Fir'aun berkata kepada para tukang sihir, ﴾ ءَامَنتُمۡ لَهُۥ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian," maksudnya, bagaimana bisa kalian lancang beriman tanpa konsultasi dan izin denganku. Fir'aun begitu terheran-heran mengapa sikap ini muncul dari mereka lan-taran tata krama mereka kepada dirinya, sikap menghinakan diri dan ketundukan mereka kepadanya pada setiap urusan mereka. Dia ingin agar masalah keimanan para tukang sihir ini termasuk dari bagian perilaku mereka sebelumnya (untuk selalu taat kepada-nya). Kemudian Fir'aun semakin membabi-buta dalam kekufuran dan sikapnya melampaui batas setelah adanya petunjuk kebenaran ini. Dia mengolok-olok kaumnya melalui perkataannya dan menam-pakkan kepada mereka bahwa keunggulan Musa atas para tukang sihir itu, bukan karena syariat yang dibawanya merupakan kebe-naran. Justru (yang terjadi) dia telah menjalin kerja sama dengan para tukang sihir, menyusun tipu daya dan mengatur skenario untuk mengusir Fir'aun dan kaumnya dari negeri mereka. Kaum-nya pun mengiyakan rekayasa jahat ini darinya dan menyangkanya sebagai kebenaran. ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54), padahal pernyataan yang dilontarkan oleh Fir'aun ini tidak bisa menembus akal orang yang mempunyai kecerdasan dan pengeta-huan tentang fakta dalam level terendah sekalipun. Karena Musa datang dari Madyan seorang diri. Saat tiba, dia tidak berinteraksi dengan salah satu dari para tukang sihir atau siapapun selain me-reka. Bahkan yang beliau tempuh, langsung menyerukan dakwah kepada Fir'aun dan kaumnya. Beliau memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah kepada mereka. Kemudian Fir'aun ingin melawan misi yang dibawa oleh Musa. Dia pun berusaha semaksimal mungkin. Mengutus seseorang di seluruh pelosok negeri untuk mendatangkan setiap tukang sihir yang piawai. Mereka pun ber-datangan kepadanya. Fir'aun menjanjikan upah dan kedudukan manakala kemenangan berhasil direngkuh. Para tukang sihir itu begitu antusias dan menyusun tipu daya yang jitu untuk menang atas Musa. Setelah itu, terjadilah pada mereka, peristiwa keimanan kepada Musa. Apakah (dengan fakta-fakta ini semua), mungkin dibayangkan bahwa para tukang sihir itu dan Musa telah mengatur kondisi dan menjalin kesepakatan atas peristiwa yang muncul? Ini termasuk kejadian yang paling mustahil. Selanjutnya, Fir'aun menebar ancaman kepada para tukang sihir dengan berkata, ﴾ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ﴿ "Maka sungguh aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik." Sebagaimana hukuman yang diperlakukan bagi pemberontak yang selalu menimbulkan kerusakan, tangan kanan dan kaki kirinya dipotong. ﴾ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمۡ فِي جُذُوعِ ٱلنَّخۡلِ ﴿ "Dan sungguh aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma," agar kalian dapat disaksikan orang banyak dan merasakan kehinaan. ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya," tentu atas dasar persang-kaannya dan persangkaan pengikutnya bahwa dia adalah orang yang paling dahsyat siksanya daripada Allah dan lebih kekal, untuk memutarbalikkan fakta dan mengintimidasi orang yang mudah dibodohi.
(72) Oleh sebab itu, tatkala para tukang sihir itu mengetahui kebenaran yang nyata, dan Allah telah mencurahkan kemampuan berpikir pada mereka untuk dapat melacak fakta-fakta sesungguh-nya, mereka pun merespon (ancaman Fir'aun) dengan berkata, ﴾ لَن نُّؤۡثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَآءَنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu dari-pada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami," [maksudnya kami tidak akan mengutamakan engkau dan apa yang engkau janjikan kepada kami berupa upah dan kedekatan posisi denganmu daripada apa yang telah Allah perlihatkan kepada kami yang berupa ayat-ayat yang jelas]: yang menunjukkan bahwa Allah-lah Rabb yang patut disembah, satu-satunya, yang diagungkan dan dihormati, dan bahwa selain Allah merupakan kebatilan, dan kami (tidak akan) mengutamakan dirimu daripada Dzat yang telah menciptakan kami dan mengadakan kami, ini tidak akan terjadi. ﴾ فَٱقۡضِ مَآ أَنتَ قَاضٍۖ ﴿ "Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putus-kan," dari sesuatu yang telah engkau ancamkan kepada kami, be-rupa potong tangan dan kaki, penyaliban jasad kami dan siksaan. ﴾ إِنَّمَا تَقۡضِي هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَآ 72 ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memu-tuskan pada kehidupan di dunia ini saja," maksudnya apa yang kamu ancamkan kepada kami, paling maksimal hanya terjadi di kehidupan dunia ini saja, nanti akan selesai, hilang, dan tidak membahayakan kami (di akhirat kelak). Berbeda halnya dengan azab Allah bagi orang yang tetap berada di atas kekufuran, azab itu kontinyu, lagi dahsyat. Sepertinya inilah jawaban dari mereka terhadap perkataan Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71). Dalam pembicaraan para tukang sihir ini terdapat petunjuk bahwa seorang yang berakal hendaklah menimbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat dengan azab dunia dan akhirat.
(73) ﴾ إِنَّآ ءَامَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغۡفِرَ لَنَا خَطَٰيَٰنَا ﴿ "Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami," yaitu kekufuran dan maksiat-maksiat kami. Sesungguhnya keiman-an menghapuskan kesalahan-kesalahan, dan taubat menutup dosa silam. Perkataan mereka, ﴾ وَمَآ أَكۡرَهۡتَنَا عَلَيۡهِ مِنَ ٱلسِّحۡرِۗ ﴿ "Dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami untuk melakukannya," yang kami gunakan untuk melawan kebenaran. Ini merupakan dalil bahwa mereka tidak berkehendak sendiri dalam perbuatan mereka tadi. Fir'aun-lah yang memaksa mereka dengan sekuat tenaga. Secara eksplisit nampak -wallahu a'lam– bahwasanya ketika Musa menyampaikan nasihat kepada mereka sebagaimana tertuang pada Firman Allah, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa." (Thaha: 61), ternyata telah mempengaruhi mereka dan membekas pada diri mereka dengan kuat. Oleh karena itu, mereka saling berbantahan usai mendengarkan perkataan dan nasihat Musa. Kemudian Fir'aun menuntut dan memaksa mereka untuk melakukan makar yang telah mereka perbuat. Karena itu, para tukang sihir itu mengemukakan pernyataan Fir'aun tadi sebe-lum dia mendatangi mereka, di mana mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," (Thaha: 63), jadi mereka berbuat sesuai dengan cara yang sudah digariskan Fir'aun dan dipaksakannya. Boleh jadi goresan yang mengendap di hati-hati mereka ini adalah disebabkan kebencian mereka untuk melawan kebenaran dengan kebatilan, dan tindakan-tindakan yang telah mereka kerjakan dengan menu-tup mata. Itulah yang berpengaruh positif pada mereka, dan Allah merahmati mereka dengan itu dan mencurahkan taufik kepada mereka untuk beriman dan bertaubat. ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرٞ ﴿ "Dan Allah lebih baik (pahalaNya)," dari apa yang engkau janjikan berupa upah, kedudukan, dan jabatan ﴾ وَأَبۡقَىٰٓ 73 ﴿ "dan lebih kekal," ganjaran dan kebaikanNya, tidak seperti yang di-omongkan oleh Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71), dia bermaksud bahwa dirinya lebih pedih dan kekal siksaannya. Seluruh yang dikemukakan tentang kisah Musa dan Fir'aun telah disebutkan oleh Allah di dalamnya, yaitu apabila datang berdasarkan kisah para tukang sihir bahwasanya Fir'aun telah mengancam mereka dengan hukuman potong anggota badan dan penyaliban. Namun Allah tidak menyebutkan tentang pelaksana-annya. Begitu pula tidak ada hadits shahih yang menyinggungnya. Kepastian terjadi atau tidaknya tergantung pada keberadaan dalil. Allah-lah Yang Mahatahu tentang kejadian itu dan kejadian lainnya. [Akan tetapi, ancaman Fir'aun kepada para tukang sihir dengan hukuman itu bersamaan dengan kemampuannya untuk melaku-kannya adalah menjadi bukti peristiwa itu terjadi. Pasalnya, bila tidak berlangsung, sudah pasti Allah menyebutkannya dan para ulama yang menyampaikan ilmu pun tentu akan menyepakatinya].
20:74–76Page 316
إِنَّهُۥ مَن يَأۡتِ رَبَّهُۥ مُجۡرِمٗا فَإِنَّ لَهُۥ جَهَنَّمَ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحۡيَىٰ ٧٤
Indeed, whoever comes to his Lord as a criminal - indeed, for him is Hell; he will neither die therein nor live.
وَمَن يَأۡتِهِۦ مُؤۡمِنٗا قَدۡ عَمِلَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَأُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلدَّرَجَٰتُ ٱلۡعُلَىٰ ٧٥
But whoever comes to Him as a believer having done righteous deeds - for those will be the highest degrees [in position]:
جَنَّٰتُ عَدۡنٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ مَن تَزَكَّىٰ ٧٦
Gardens of perpetual residence beneath which rivers flow, wherein they abide eternally. And that is the reward of one who purifies himself.1
"Sesungguhnya barangsiapa yang datang kepada Rabbnya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya dia mendapatkan Neraka Jahanam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. Dan barangsiapa datang kepada Rabbnya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh beramal shalih, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), (yaitu) Surga 'Adn yang mengalir sungai-sungai di bawah-nya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan)." (Thaha: 74-76).
(74) Allah تعالى memberitahukan bahwa orang yang men-datangiNya dan menghadapNya dalam keadaan berdosa, –sifat kejahatan menjadi cirinya dari setiap aspek, dan itu bisa menyebab-kan kekufuran dan tetap menjalankannya sampai dia mati–, maka dia mendapatkan Neraka Jahanam yang pedih siksanya, yang besar rantai-rantainya, yang dasarnya sangat dalam, yang hawa panasnya sangat menyakitkan, yang berisi hukuman yang sanggup melumerkan hati dan jantung. Di antara bukti kedahsyatannya, orang yang tersiksa di dalamnya tidak mati juga tidak hidup. Ia tidak mati hingga dapat terbebas (dari deraan siksa) dan tidak juga menikmati hidup yang enak. Kehidupannya hanya sarat dengan siksaan yang mengenai hati, jiwa dan raganya, yang tidak dapat diukur kadarnya dan tidak pernah mengendor sekejap saja. Ia berteriak minta tolong, tapi tidak ditolong. Dia memohon, akan tetapi tidak disambut permin-taannya. Memang benar (ada pertolongan) bila dia meminta perto-longan. Dia ditolong dengan cairan semisal nanah yang membakar wajah-wajah mereka. Dan jika dia memohon, niscaya dijawab (pula dengan perkataan), "Celakalah kamu di dalamnya, janganlah kamu mengajakKu bicara."
(75-76) Barangsiapa yang mendatangi Rabbnya dalam keadaan beriman, membenarkan para RasulNya, mengikuti kitab-kitabNya, dan telah beramal shalih yang wajib maupun yang sunnah ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلدَّرَجَٰتُ ٱلۡعُلَىٰ 75 ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia)," yaitu tempat-tempat yang tinggi di kamar-kamar yang penuh dengan hiasan, kenik-matan-kenikmatan yang berlangsung terus-menerus, sungai-sungai yang mengalir, keabadian yang langgeng, keceriaan yang men-dalam, yang tidak pernah tersaksikan oleh mata, didengar oleh telinga dan tidak terbetik di hati seseorang pun. ﴾ وَذَٰلِكَ ﴿ "Dan itu," pahala ﴾ جَزَآءُ مَن تَزَكَّىٰ 76 ﴿ "adalah balasan bagi orang yang bersih," yaitu bersih dari syirik, kekufuran, kefasikan, dan kedurhakaan, baik dengan cara tidak pernah menjamahnya secara keseluruhan atau telah bertaubat dari apa yang telah dia kerjakan. Dia pun membersihkan jiwanya, dan memupuknya dengan ke-imanan dan amal shalih. Sesungguhnya proses tazkiyah memuat dua makna: Membersihkan dan menghilangkan keburukan serta menambah raihan kebaikan. Kata "zakat" disebut dengan zakat atas dasar dua hal ini.
20:77–79Page 317
وَلَقَدۡ أَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَسۡرِ بِعِبَادِي فَٱضۡرِبۡ لَهُمۡ طَرِيقٗا فِي ٱلۡبَحۡرِ يَبَسٗا لَّا تَخَٰفُ دَرَكٗا وَلَا تَخۡشَىٰ ٧٧
And We had inspired to Moses, "Travel by night with My servants and strike for them a dry path through the sea; you will not fear being overtaken [by Pharaoh] nor be afraid [of drowning]."
فَأَتۡبَعَهُمۡ فِرۡعَوۡنُ بِجُنُودِهِۦ فَغَشِيَهُم مِّنَ ٱلۡيَمِّ مَا غَشِيَهُمۡ ٧٨
So Pharaoh pursued them with his soldiers, and there covered them from the sea that which covered them,1
وَأَضَلَّ فِرۡعَوۡنُ قَوۡمَهُۥ وَمَا هَدَىٰ ٧٩
And Pharaoh led his people astray and did not guide [them].
"Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa, 'Pergilah kamu dengan hamba-hambaKu (Bani Isra`il) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam).' Maka Fir'aun dengan bala tentaranya mengejar me-reka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka. Dan Fir'aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi pe-tunjuk." (Thaha: 77-79).
(77-79) Setelah Musa unggul dengan bukti-bukti kebe-narannya atas Fir'aun dan kaumnya, maka beliau menetap di Mesir guna menyeru mereka ke pangkuan Islam, mengusahakan penye-lamatan Bani Isra`il dari Fir'aun dan siksanya. Sementara itu, Fir'aun masih dalam penentangan dan antipatinya. Sepak terjangnya mem-beratkan Bani Isra`il. Allah telah memperlihatkan kepada Musa tanda-tanda kebesaranNya dan pelajaran-pelajaran penting yang telah Allah ceritakan kepada kita sekalian dalam al-Qur`an. Adapun Bani Isra`il tidak berdaya untuk memperlihatkan keimanan mereka dan memproklamirkannya. Mereka menjadikan rumah-rumah mereka sebagai tempat ibadah, menahan kesabaran dari bahaya Fir'aun dan gangguannya. Maka, Allah berkehendak menyelamatkan mereka dari musuh mereka dan menempatkan mereka di dunia ini sebagai penguasa. Tujuannya, supaya mereka menyembahNya dengan terang-terangan dan menegakkan perin-tahNya. Maka Allah mewahyukan kepada NabiNya, Musa agar membuat janji kepada Bani Isra`il secara rahasia dan berjalan di awal malam hingga mereka dapat menempuh jarak yang jauh di bumi. Allah (juga) mengabarkan bahwa Fir'aun dan kaumnya akan mengejarnya. Maka mereka pun keluar di permulaan malam, semua orang dari kalangan Bani Isra`il (kaum lelaki), [mereka] dan wanita-wanita serta keturunan-keturunan mereka. Pada pagi harinya, para penduduk Mesir tidak menjumpai di tengah mereka ada orang yang menyeru dan orang yang menja-wab dari kalangan Bani Isra`il. Geramlah musuh mereka, Fir'aun. Maka dia mengutus utusan di Mada`in untuk mengumpulkan orang-orang dan memprovokasi mereka untuk mau mengejar Bani Isra`il, [untuk menimpakan (hukuman) pada Bani Isra`il dan me-lampiaskan kemurkaannya. Namun, Allah mengalahkan ambisinya. Terkumpullah pasukan Fir'aun. Maka Fir'aun merangsek berjalan bersama mereka untuk membuntuti Bani Isra`il]. Mereka berhasil menyusul Bani Isra`il di waktu matahari terbit. Ketika dua kelom-pok sudah dapat saling menyaksikan kelompok lainnya, para pengikut Musa berkata, "Sesungguhnya kita benar-benar akan ter-susul." Mereka pun dilanda kegelisahan dan ketakutan. Sementara itu, lautanlah yang ada di hadapan mereka, sedangkan Fir'aun (bersama pasukannya) berada di belakang mereka, dengan penuh marah dan murka kepada mereka. Adapun Musa, maka beliau dalam keadaan hati yang tenang, pikiran yang tentram, percaya dengan janji Rabbnya. Beliau berkata, ﴾ كـَلَّآۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهۡدِينِ 62 ﴿ "Sekali-kali tidak akan tersusul. Sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku." (Asy-Syua'ara: 62). Kemudian Allah mewahyukan kepada beliau untuk memu-kulkan tongkatnya ke lautan. Beliau pun melakukannya. Maka terbelahlah dua belas jalan, air terlihat bagaikan gunung-gunung yang tinggi di sisi kanan dan kiri jalan. Allah mengeringkan jalan-jalan mereka yang mana air laut menyingkir darinya. Allah meme-rintahkan mereka agar tidak merasa khawatir akan kejaran Fir'aun dan agar tidak takut tenggelam di laut. Kemudian mereka melintasi jalan-jalan itu. Fir'aun dan pasu-kannya tiba lalu mengikuti di belakang mereka. Sampai akhirnya, seluruh kaum Musa telah berhasil keluar dari laut, sedangkan para pengikut Fir'aun masih berada di dalamnya. (Saat itulah) Allah memerintahkan lautan untuk menyatu hingga melumat mereka. Lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka. Semuanya tenggelam. Tidak ada seorang pun yang selamat. Bani Isra`il menyaksikan (kehancuran) musuh mereka. Allah telah menyejukkan pandangan mereka dengan (melihat) kehancuran musuh. Inilah kesudahan kekufuran, kesesatan, dan keengganan memegangi hidayah Allah. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَأَضَلَّ فِرۡعَوۡنُ قَوۡمَهُۥ ﴿ "Dan Fir'aun telah menyesatkan kaumnya," dengan cara mempercantik gambaran keku-furan pada mereka dan mencoreng syariat yang dibawa oleh Musa serta pelecehannya terhadap mereka. Fir'aun tidak memberikan hidayah kepada mereka dalam kesempatan apapun. Akibatnya, dia menjerumuskan mereka di lembah-lembah kekeliruan dan kese-satan, lantas menjebloskan mereka ke tempat siksa dan hukuman.
20:80–82Page 317
يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ قَدۡ أَنجَيۡنَٰكُم مِّنۡ عَدُوِّكُمۡ وَوَٰعَدۡنَٰكُمۡ جَانِبَ ٱلطُّورِ ٱلۡأَيۡمَنَ وَنَزَّلۡنَا عَلَيۡكُمُ ٱلۡمَنَّ وَٱلسَّلۡوَىٰ ٨٠
O Children of Israel, We delivered you from your enemy, and We made an appointment with you1 at the right side of the mount, and We sent down to you manna and quails,
كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡ وَلَا تَطۡغَوۡاْ فِيهِ فَيَحِلَّ عَلَيۡكُمۡ غَضَبِيۖ وَمَن يَحۡلِلۡ عَلَيۡهِ غَضَبِي فَقَدۡ هَوَىٰ ٨١
[Saying], "Eat from the good things with which We have provided you and do not transgress [or oppress others] therein, lest My anger should descend upon you. And he upon whom My anger descends has certainly fallen [i.e., perished]."
وَإِنِّي لَغَفَّارٞ لِّمَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا ثُمَّ ٱهۡتَدَىٰ ٨٢
But indeed, I am the Perpetual Forgiver of whoever repents and believes and does righteousness and then continues in guidance.
"Hai Bani Isra`il, sesungguhnya Kami telah menyelamatkan kamu sekalian dari musuhmu, dan Kami telah mengadakan per-janjian dengan kamu sekalian (untuk munajat) di sebelah kanan gunung itu, dan Kami telah menurunkan kepada kamu sekalian manna dan salwa. Makanlah di antara rizki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas pada-nya, yang menyebabkan kemurkaanKu menimpamu. Dan barang-siapa ditimpa oleh kemurkaanKu, maka sungguh binasalah ia. Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar." (80-82).
(80) Allah mengingatkan Bani Isra`il tentang kenikmatan besar yang tercurahkan pada mereka berupa pembinasaan musuh mereka dan penyelenggaraan perjanjian dengan Musa عليه السلام di sisi kanan gunung Thursina untuk Kami turunkan kitab kepadanya, yang berisi hukum-hukum yang agung dan berita-berita yang baik. Maka lengkaplah kenikmatan agama pada mereka usai pelimpahan nikmat duniawi. Dia juga mengingatkan kenikmatanNya pada mereka saat mereka berada dalam suasana tersesat jalan dengan menurunkan manna dan salwa, serta rizki yang lapang lagi menye-nangkan, yang hadir pada mereka tanpa perlu susah payah. Dan Dia berkata kepada mereka, ﴾ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡ ﴿ "Makan-lah di antara rizki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu," mak-sudnya dan syukurilah apa yang telah Allah curahkan kepada kalian dalam bentuk kenikmatan-kenikmatan. ﴾ وَلَا تَطۡغَوۡاْ فِيهِ ﴿ "Dan janganlah kalian melampaui batas padanya," yaitu dalam menyikapi rizkiNya, dengan mempergunakannya untuk bermaksiat dan menolak kenikmatan. Jika kalian melakukannya, niscaya datang kepada kalian kemurkaanKu. Artinya Aku marah kepada kalian kemudian menyiksa kalian. ﴾ وَمَن يَحۡلِلۡ عَلَيۡهِ غَضَبِي فَقَدۡ هَوَىٰ 81 ﴿ "Dan barangsiapa ditimpa oleh kemur-kaanKu, maka sesungguhnya binasalah dia," maksudnya hancur, binasa, menyesal lagi merugi. Lantaran dia tidak memperoleh ridha dan kebaikanNya, ditimpa kemurkaan dan kerugian.
(82) Walaupun demikian, kesempatan bertaubat masih di-tawarkan, meskipun seseorang telah berbuat maksiat. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَإِنِّي لَغَفَّارٞ ﴿ "Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun," maksudnya, yang banyak ampunan dan rahmatNya ﴾ لِّمَن تَابَ ﴿ "bagi orang yang bertaubat," dari kekufuran, bid'ah, dan tindakan fasik, ﴾ وَءَامَنَ ﴿ "dan beriman," kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasulNya dan Hari Akhir ﴾ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا ﴿ "dan beramal shalih," dari amalan-amalan hati, jasmani dan ucapan-ucapan lisan, ﴾ ثُمَّ ٱهۡتَدَىٰ 82 ﴿ "kemudian tetap di jalan yang benar," mak-sudnya dia menempuh jalan yang lurus, mengikuti Rasulullah yang mulia dan mengikuti ajaran agama yang lurus. Orang ini, Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya dan memaafkan dosa-dosa dan kenakalannya yang silam. Pasalnya, dia telah memenuhi syarat terpenting untuk meraih ampunan dan rahmatNya. Bahkan semua sebab-sebabnya terfokuskan pada perkara-perkara ini. Sesungguhnya taubat menutup kesalahan sebelumnya. Iman dan Islam menghancurkan dosa-dosa silam. Dan amalan shalih yang merupakan rangkaian kebaikan (dapat) melenyapkan kesa-lahan-kesalahan. Menempuh jalan-jalan hidayah dengan berbagai macamnya, berupa belajar ilmu agama, merenungi ayat atau hadits hingga maknanya jelas baginya adalah dapat memberikan hidayah. Seruan kepada agama yang benar, penolakan bid'ah, kekufuran atau kesesatan dan melaksanakan jihad, hijrah dan lain-lain, yang termasuk bagian terperinci dari hidayah. Semua itu akan meng-hapuskan dosa-dosa dan membuahkan tujuan yang ingin dicapai.
Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences