As-Sa'diAl‑Anbya · 21:26–50

As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian

Al-Anbya 21:26–50

21:26–29Page 324

وَقَالُواْ ٱتَّخَذَ ٱلرَّحۡمَٰنُ وَلَدٗاۗ سُبۡحَٰنَهُۥۚ بَلۡ عِبَادٞ مُّكۡرَمُونَ ٢٦

And they say, "The Most Merciful has taken a son." Exalted is He! Rather, they1 are [but] honored servants.

لَا يَسۡبِقُونَهُۥ بِٱلۡقَوۡلِ وَهُم بِأَمۡرِهِۦ يَعۡمَلُونَ ٢٧

They cannot precede Him in word, and they act by His command.

يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡ وَلَا يَشۡفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ٱرۡتَضَىٰ وَهُم مِّنۡ خَشۡيَتِهِۦ مُشۡفِقُونَ ٢٨

He knows what is [presently] before them and what will be after them,1 and they cannot intercede except on behalf of one whom He approves. And they, from fear of Him, are apprehensive.

۞ وَمَن يَقُلۡ مِنۡهُمۡ إِنِّيٓ إِلَٰهٞ مِّن دُونِهِۦ فَذَٰلِكَ نَجۡزِيهِ جَهَنَّمَۚ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلظَّٰلِمِينَ ٢٩

And whoever of them should say, "Indeed, I am a god besides Him" - that one We would recompense with Hell. Thus do We recompense the wrongdoers.

"Dan mereka berkata, 'Dzat Yang Maha Pemurah telah meng-ambil (mempunyai) anak.' Mahasuci Allah, sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka itu tidak mendahuluiNya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya. Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tidak memberi syafa'at melainkan kepada orang-orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepadaNya. Dan barangsiapa di antara mereka mengatakan, 'Se-sungguhnya aku adalah tuhan selain dari Allah,' maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang zhalim." (Al-Anbiya`: 26-29) .

(26) Allah تعالى memberitahukan tentang kebodohan kaum musyrikin yang mendustakan Rasulullah. Mereka mengklaim bahwa –semoga Allah memperburuk keadaan mereka– bahwa Allah telah mengangkat seorang anak. Kata mereka, "Para malaikat adalah putri-putri Allah!" Mahatinggi Allah dari perkataan mereka. Allah telah mengabarkan tentang posisi malaikat sebagai hamba yang dimiliki dan diatur. Tidak ada hak kewenangan peng-aturan alam semesta bagi mereka sedikit pun. Mereka itu (para malaikat) dimuliakan di sisi Allah. Allah telah menetapkan dan menjadikan mereka dari kalangan hamba mulia dan sayangNya. De-mikian ini karena keutamaan-keutamaan dan kesucian mereka dari perkara-perkara yang menghinakan yang sudah dijadikan oleh Allah sebagai keistimewaan bagi mereka. Mereka itu berada di puncak kesopanan terhadap Allah dalam menaati perintah-perintahNya.

(27) ﴾ لَا يَسۡبِقُونَهُۥ بِٱلۡقَوۡلِ ﴿ "Mereka tidak mendahuluiNya dengan perkataan," maksudnya mereka tidak mengatakan sebuah ucapan yang berkaitan dengan pengaturan kerajaan alam semesta, sampai Allah menetapkan sesuatu melalui FirmanNya. Hal itu merupakan (cerminan) kesempurnaan adab mereka (di hadapan Allah) dan pengetahuan mereka mengenai kesempurnaan hikmah dan ilmu Allah. ﴾ وَهُم بِأَمۡرِهِۦ يَعۡمَلُونَ 27 ﴿ "Dan mereka mengerjakan perintah-perin-tahNya," maksudnya apa pun yang Allah perintahkan kepada mereka, pasti mereka taati. Bagaimana pun Allah mengatur mereka, pasti mereka kerjakan. Mereka tidak melanggar ketentuan Allah meskipun sekejap pandangan mata saja. Tidak ada aktifitas yang mereka jalankan berdasarkan hasrat-hasrat mereka sendiri tanpa titah dari Allah

(28) Kendatipun begitu, ilmu Allah meliputi mereka semua. Dia mengetahui ﴾ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡ ﴿ "segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka," maksudnya, urusan-urusan mereka yang telah berlalu dan yang akan terjadi di kemu-dian hari. Mereka tidak pernah lepas dari ilmu Allah, sebagaimana mereka tidak bisa terpisah dari ketetapan dan pengaturanNya. Dan di antara muatan makna karakteristik mereka yang lebih terperinci dari sifat "Tidak mendahului Allah dengan perkataan" adalah mereka tidak memberikan syafa'at bagi siapa pun tanpa seizin dan ridhaNya. Jika Allah sudah mengizinkan mereka dan ridha ter-hadap orang yang akan menerima syafa'at mereka, baru mereka dapat mengeluarkan syafa'at. Hanya saja, Allah تعالى tidak meridhai perkataan dan tindakan kecuali yang murni hanya untuk wajahNya, dan mengikuti Rasulullah dalam perkataan dan tindakannya. Ayat ini termasuk dalil yang menunjukkan ketetapan adanya syafa'at, dan bahwa para malaikat memohonkan s y a f a ' a t ﴾ وَهُم مِّنۡ خَشۡيَتِهِۦ مُشۡفِقُونَ 28 ﴿ "dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepadaNya," maksudnya mereka itu diliputi rasa takut dan khawatir, mereka telah merendahkan diri di hadapan keagunganNya, wajah-wajah mereka telah tertunduk kepada kemuliaan dan keindahanNya.

(29) Setelah Allah menjelaskan bahwa mereka (para malai-kat) tidak mempunyai hak uluhiyah (sebagai ilah) dan tidak berhak untuk diibadahi sedikit pun, menilik sifat-sifat yang sudah Allah sebutkan tentang mereka yang menuntut (makna bahwa) mereka tidak pantas untuk diibadahi, maka Allah menerangkan pula bahwa mereka tidak punya bagian (uluhiyah) walaupun dengan dasar klaim belaka, dan bahwa bila ada di antara mereka yang mengklaim diri sebagai sesembahan selain Allah kendatipun dalam bentuk imajina-tif dan mengakomodasi pendapat lain yang keliru,﴾ فَذَٰلِكَ نَجۡزِيهِ جَهَنَّمَۚ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلظَّٰلِمِينَ 29 ﴿ "maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang zhalim," apakah ada kezhaliman yang lebih parah dari klaim seorang makhluk yang lemah lagi membutuhkan (bantuan) Allah dalam segala aspek kehi-dupannya (yang mengaku-ngaku) bersekutu dengan Allah dalam hak-hak istimewa ilahiyah dan rububiyah?

21:30Page 324

أَوَلَمۡ يَرَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ كَانَتَا رَتۡقٗا فَفَتَقۡنَٰهُمَاۖ وَجَعَلۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ كُلَّ شَيۡءٍ حَيٍّۚ أَفَلَا يُؤۡمِنُونَ ٣٠

Have those who disbelieved not considered that the heavens and the earth were a joined entity, and then We separated them and made from water every living thing? Then will they not believe?

"Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasa-nya langit dan bumi itu, keduanya dulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?" (Al-Anbiya`: 30).

(30) Apakah mereka (yang kafir terhadap Rabb mereka dan mengingkari pengikhlasan ibadah bagiNya) tidak menyaksikan sebuah obyek kasat mata yang akan mengantarkan mereka menuju keyakinan bahwa Allah, Dia-lah Rabb segala sesuatu, Dzat Yang Maha Terpuji, Dzat Yang Mahamulia dan Dzat yang disembah semata. Dengan menyaksikan langit dan bumi, maka mereka akan menjumpainya dalam keadaan ﴾ رَتۡقٗا ﴿ "suatu yang padu," bagian ini (langit) tidak terlihat adanya mendung ataupun hujan. Sementara itu, bagian yang lain (bumi) terlihat diam mati, tanpa tumbuh-tumbuhan padanya. ﴾ فَفَتَقۡنَٰهُمَاۖ ﴿ "Kemudian Kami pisahkan," langit dengan hujan dan bumi dengan tumbuhan. Bukankah Dzat yang menciptakan men-dung di langit, setelah kondisi cuaca cerah tanpa ada awan-awan tipis, dan menempatkan air yang deras di dalamnya, kemudian menghalaunya menuju daerah yang mati, yang penjuru-penjuru wilayahnya sudah penuh dengan debu dan airnya sudah semakin menipis, selanjutnya Dia menurunkan hujan di tempat itu, sehingga tanah menjadi bergoyang dan bergerak serta berkembang dan menumbuhkan tanaman indah dari setiap jenisnya, yang beragam bentuk dan manfaatnya, bukankah demikian itu merupakan pe-tunjuk bahwa Dia-lah Dzat Yang Mahabenar, sedangkan selainNya merupakan sesembahan yang batil. Dia-lah Dzat Yang Menghidup-kan orang-orang yang mati dan Dia-lah Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang? Karena itu, Allah berfirman, ﴾ أَفَلَا يُؤۡمِنُونَ 30 ﴿ "Maka mengapa mereka tiada juga beriman," dengan keimanan yang benar, tanpa diselipi unsur keraguan dan kesyirikan.

Kemudian Allah menyebutkan sejumlah dalil cakrawala seraya berfirman,

21:31–33Page 324

وَجَعَلۡنَا فِي ٱلۡأَرۡضِ رَوَٰسِيَ أَن تَمِيدَ بِهِمۡ وَجَعَلۡنَا فِيهَا فِجَاجٗا سُبُلٗا لَّعَلَّهُمۡ يَهۡتَدُونَ ٣١

And We placed within the earth firmly set mountains, lest it should shift with them, and We made therein [mountain] passes [as] roads that they might be guided.

وَجَعَلۡنَا ٱلسَّمَآءَ سَقۡفٗا مَّحۡفُوظٗاۖ وَهُمۡ عَنۡ ءَايَٰتِهَا مُعۡرِضُونَ ٣٢

And We made the sky a protected ceiling, but they, from its signs,1 are turning away.

وَهُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَۖ كُلّٞ فِي فَلَكٖ يَسۡبَحُونَ ٣٣

And it is He who created the night and the day and the sun and the moon; all [heavenly bodies] in an orbit are swimming.

"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi ini (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. Dan Kami jadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya. Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya." (Al-Anbiya`: 31-33)

(31) Di antara bukti kekuasaanNya dan kesempurnaan ke-esaan dan rahmatNya, yaitu bahwa tatkala bumi tidak dapat diam kecuali dengan keberadaan gunung-gunung, maka Allah meman-cangkannya, dan menempatkannya sebagai pasak padanya, agar bumi tidak bergoncang menggoncangkan para manusia. Maksud-nya tidak bergerak-gerak, hingga manusia tidak bisa menenang-kan diri padanya, tidak dapat membajak (tanah)nya dan tidak bisa menghuninya. Selanjutnya, Allah memancangkannya dengan gunung-gunung. Dengan itu, terwujudlah berbagai maslahat dan kemanfaatan yang dapat dinikmati. Ketika keberadaan gunung-gunung yang saling menyambung dengan bagian lainnya, dalam bentuk barisan yang begitu banyak sekali, bila tetap dalam bentuknya, gunung-gunung yang tinggi, puncak-puncaknya menjulang, tentulah menyebabkan kelumpuhan hubungan antara banyak wilayah. Di antara (cerminan) hikmah Allah dan rahmatNya, Allah menjadikan antara gunung-gunung tersebut ﴾ فِجَاجٗا سُبُلٗا ﴿ "jalan-jalan yang luas," yaitu jalan-jalan yang mudah dilalui tanpa ada kesulitan dalam menempuhnya. ﴾ لَّعَلَّهُمۡ يَهۡتَدُونَ 31 ﴿ "Agar mereka mendapat petunjuk," menuju negeri-negeri yang diinginkan. Semoga mereka mendapatkan petunjuk dengan itu tentang keesaan al-Mannan (Allah Dzat Yang Maha Memberi).

(32-33) ﴾ وَجَعَلۡنَا ٱلسَّمَآءَ سَقۡفٗا ﴿ "Dan Kami jadikan langit itu sebagai atap," bagi bumi yang kalian berada di atasnya ﴾ مَّحۡفُوظٗاۖ ﴿ "yang ter-pelihara," dari kerobohan, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ أَن تَزُولَاۚ ﴿ "Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap." (Fathir: 41), juga terlindungi dari pencurian pendengaran yang dilakukan oleh setan-setan ﴾ وَهُمۡ عَنۡ ءَايَٰتِهَا مُعۡرِضُونَ 32 ﴿ "sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya," maksudnya, lalai dan lupa diri. Ini umum sifatnya pada semua tanda-tanda kebesaran Allah yang berada di langit, berupa ketinggian, keluasan, kebesaran, dan warnanya yang elok serta keharmonisannya yang mengagumkan dan panorama-panorama lainnya. Di dalamnya, terdapat planet-planet yang statis dan yang beredar, matahari dan bulannya yang terang benderang yang mengakibatkan terjadinya malam dan siang, dan sifat keberadaannya yang senantiasa beredar di dalam porosnya. Begitu pula, bintang-bintang yang memunculkan keman-faatan bagi umat manusia, karena berpengaruh atas kemunculan cuaca panas, dingin, dan (pergantian) musim-musim dalam seta-hun. (Dengan itu) mereka pun menjadi tahu mengenai perhitungan waktu-waktu ibadah dan muamalah mereka. Di malam hari, mereka beristirahat, merasakan ketenangan dan ketentraman. Di siang harinya, mereka bertebaran dan mencari penghidupan. Semua perkara ini bila direnungi oleh seseorang yang cerdas dan memandangnya dengan cermat, niscaya dia akan yakin dengan seyakin-yakinnya tanpa ada keraguan apa pun bahwasanya Allah-lah yang mengaturnya berdasarkan ketentuan-ketentuan waktu pada tempo yang sudah dicanangkan sampai batas akhir yang pasti. Pada rentang waktu itu, manusia memenuhi hajat-hajatnya, dan kemanfaatan mereka terpenuhi dengannya. Tujuannya, supaya mereka dapat bersenang-senang dan memperoleh kemaslahatan. Setelah itu, (berbagai hal tadi) akan sirna dan lenyap. Dzat yang melenyapkannya adalah Dzat yang telah menciptakannya. Dan yang akan menjadikannya diam tidak bergerak adalah Dzat yang telah menggerakkannya. Orang-orang mukallaf akan berpindah dari tempat tinggal mereka menuju tempat lain. Di sana, mereka akan menjumpai balasan amal mereka (di dunia) secara penuh dan lengkap. Sehingga dapat diketahui bahwa kegunaan tempat ini (dunia) sebagai ladang (amalan) untuk membidik tempat hunian abadi (di akhirat), dan bahwa dunia hanya merupakan lintasan perjalanan seseorang, bukan tempat huniannya.

21:34–35Page 324

وَمَا جَعَلۡنَا لِبَشَرٖ مِّن قَبۡلِكَ ٱلۡخُلۡدَۖ أَفَإِيْن مِّتَّ فَهُمُ ٱلۡخَٰلِدُونَ ٣٤

And We did not grant to any man before you eternity [on earth]; so if you die - would they be eternal?

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ ٣٥

Every soul will taste death. And We test you with evil and with good as trial; and to Us you will be returned.

"Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan." (Al-Anbiya`: 34-35).

(34) Ketika para musuh Rasulullah mengatakan seperti yang diceritakan oleh Allah, ﴾ نَّتَرَبَّصُ بِهِۦ رَيۡبَ ٱلۡمَنُونِ 30 ﴿ "Kami menunggu-nunggu kecelakaan menimpanya." (Ath-Thur: 30), maka Allah تعالى berfirman, "Ini merupakan jalan hidup yang dilewati (setiap orang) dan jalan setapak yang meletihkan. Kami belum pernah menetapkan keabadian bagi seorang manusia pun di dunia, wahai Muhammad. Jika engkau meninggal, maka itulah kondisi orang-orang sepertimu, dari kalangan para rasul, nabi, wali, [dan lainnya]. ﴾ أَفَإِيْن مِّتَّ فَهُمُ ٱلۡخَٰلِدُونَ 34 ﴿ "Maka jikalau engkau mati, apakah mereka itu kekal," maksudnya apakah bila engkau meninggal, me-reka akan kekal abadi sepeninggalmu? Kalau memang demikian adanya, maka hendaknya keabadian menghalangi mereka (dari kematian). Namun, realitanya tidak demikian adanya. Bahkan setiap makhluk yang berada di atasnya (bumi) akan hancur.

(35) Oleh karenanya, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ ﴿ "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati." Pengertian ini mencakup segenap nyawa para makhluk. Dan bahwa ajal ibarat gelas yang harus ditenggak oleh setiap makhluk, kendatipun masa hidup seorang hamba lama dan dikarunia umur panjang. Akan tetapi, Allah تعالى menciptakan para hambaNya di dunia, untuk diperintah dan dikekang dengan larangan. Serta untuk menguji mereka dengan takdir yang baik ataupun buruk, dengan kekayaan dan kemiskinan, dengan kemuliaan dan kehinaan, dengan kehidupan dan kematian, sebagai bentuk ujian dari Allah تعالى, ﴾ لِنَبۡلُوَهُمۡ أَيُّهُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗا 7 ﴿ "Supaya Kami menguji mereka siapakah yang paling baik amalan-nya." (Al-Kahfi: 7), siapa orang yang akhirnya terjebak dalam lubang-lubang fitnah, dan siapa yang berhasil selamat. Selanjutnya, ﴾ إِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ ﴿ "hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan." Kemudian Kami akan mem-balas mereka sesuai dengan amalan-amalan mereka. Apabila baik, maka balasannya baik pula. Jika amalannya buruk, niscaya balasan-nya buruk pula. Allah tidak berbuat aniaya terhadap para hamba-Nya. Ayat ini menunjukkan kebatilan perkataan orang yang me-nyatakan kelanggengan hidup Khidhir, bahwasanya beliau abadi di dunia ini. Ini merupakan pernyataan yang tidak ada buktinya, bertentangan dengan dalil-dalil agama.

21:36–41Page 325

وَإِذَا رَءَاكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِن يَتَّخِذُونَكَ إِلَّا هُزُوًا أَهَٰذَا ٱلَّذِي يَذۡكُرُ ءَالِهَتَكُمۡ وَهُم بِذِكۡرِ ٱلرَّحۡمَٰنِ هُمۡ كَٰفِرُونَ ٣٦

And when those who disbelieve see you, [O Muḥammad], they take you not except in ridicule, [saying], "Is this the one who mentions [i.e., insults] your gods?" And they are, at the mention of the Most Merciful, disbelievers.

خُلِقَ ٱلۡإِنسَٰنُ مِنۡ عَجَلٖۚ سَأُوْرِيكُمۡ ءَايَٰتِي فَلَا تَسۡتَعۡجِلُونِ ٣٧

Man was created of haste [i.e., impatience]. I will show you My signs [i.e., vengeance], so do not impatiently urge Me.

وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٣٨

And they say, "When is this promise, if you should be truthful?"

لَوۡ يَعۡلَمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ حِينَ لَا يَكُفُّونَ عَن وُجُوهِهِمُ ٱلنَّارَ وَلَا عَن ظُهُورِهِمۡ وَلَا هُمۡ يُنصَرُونَ ٣٩

If those who disbelieved but knew the time when they will not avert the Fire from their faces or from their backs and they will not be aided...1

بَلۡ تَأۡتِيهِم بَغۡتَةٗ فَتَبۡهَتُهُمۡ فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ رَدَّهَا وَلَا هُمۡ يُنظَرُونَ ٤٠

Rather, it will come to them unexpectedly and bewilder them, and they will not be able to repel it, nor will they be reprieved.

وَلَقَدِ ٱسۡتُهۡزِئَ بِرُسُلٖ مِّن قَبۡلِكَ فَحَاقَ بِٱلَّذِينَ سَخِرُواْ مِنۡهُم مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ٤١

And already were messengers ridiculed before you, but those who mocked them were enveloped by what they used to ridicule.

"Dan apabila orang-orang kafir itu melihatmu, mereka hanya membuatmu menjadi olok-olok. (Mereka mengatakan), 'Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu,' padahal mereka adalah orang-orang yang ingkar mengingat Allah Yang Maha Pemurah. Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (azab)Ku. Maka janganlah kamu minta kepadaKu mendatangkan(nya) dengan segera. Mereka berkata, 'Kapankah janji itu akan datang, jika kamu sekalian adalah orang-orang yang benar.' Andaikata orang-orang kafir itu mengetahui, waktu (di mana) mereka tidak mampu untuk mengelak-kan api neraka dari muka mereka dan (tidak pula) dari punggung mereka, sedang mereka tidak (pula) mendapatkan pertolongan, (tentulah mereka tidak meminta disegerakan). Sebenarnya (azab) itu akan datang kepada mereka dengan sekonyong-konyong lalu membuat mereka menjadi panik, maka mereka tidak sanggup meno-laknya dan tidak (pula) mereka diberi tangguh. Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu maka turunlah kepada orang yang mencemoohkan rasul-rasul itu azab yang selalu mereka perolok-olokkan." (Al-Anbiya`: 36-41).

(36) Ini lantaran dahsyatnya kekufuran mereka. Kaum musyrikin jika menyaksikan Rasulullah, niscaya mereka mengolok-olok beliau dengan berkata, ﴾ أَهَٰذَا ٱلَّذِي يَذۡكُرُ ءَالِهَتَكُمۡ ﴿ "Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu," maksudnya apakah orang hina ini –menurut pandangan mereka– yang mencela tuhan-tuhan kalian, memaki dan menghinanya. Maknanya, janganlah kalian pedulikan dia, dan jangan mengerubutinya. Kejadian ini merupakan bentuk pengolokan dan penghinaan terhadap beliau dengan aspek yang menjadi kesempurnaan beliau. Beliau adalah insan yang paling sempurna dan paling utama. Di antara keutamaan dan ketinggian akhlak beliau, yaitu mengikh-laskan ibadah hanya kepada Allah, mencela segala yang disembah selain Allah dan mendiskreditkannya, serta menyebutkan posisi Allah dan (ketinggian) kedudukanNya. Akan tetapi, justru obyek olokan dan hinaan (yang pantas) adalah (kepada) orang-orang kafir yang telah menghimpun setiap perilaku tercela. Sekiranya tidak ada pada mereka kecuali kekufuran mereka kepada Rabb dan peng-ingkaran terhadap para utusanNya, maka dengan hal itu cukup sudah membuat mereka menjadi makhluk-makhluk yang paling nista dan paling hina. Kendatipun demikian, penyebutan mereka tentang ar-Rahman (yang merupakan kondisi terbaik mereka) ada-lah keadaan kafir mereka kepada Allah. Pasalnya tidaklah mereka menyebutkan nama ini dan tidak mengimaniNya melainkan dalam keadaan menyekutukanNya dengan makhluk lain. Maka ucapan dzikir mereka merupakan bentuk kekufuran dan kesyirikan. Lalu bagaimana halnya dengan tindakan-tindakan lainnya? Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ وَهُم بِذِكۡرِ ٱلرَّحۡمَٰنِ هُمۡ كَٰفِرُونَ 36 ﴿ "Padahal mereka adalah orang-orang yang ingkar mengingat Allah Yang Maha Pemurah." Dalam penyebutan nama Allah ar-Rahman me-ngandung petunjuk betapa buruknya perilaku mereka. Bagaimana bisa mereka bersikap kepada ar-Rahman –Dzat yang mencurahkan segala kenikmatan dan menyingkirkan segala malapetaka yang mana tidak ada kenikmatan pada hamba-hamba melainkan pasti berasal dariNya, dan tidak dapat menghalau kejelekan selainNya– dengan sikap kekufuran dan kesyirikan.

(37) ﴾ خُلِقَ ٱلۡإِنسَٰنُ مِنۡ عَجَلٖۚ ﴿ "Manusia telah dijadikan (bertabiat) ter-gesa-gesa," maksudnya tercipta dengan sifat bawaan tergesa-gesa, ingin menyegerakan segala sesuatu dan ingin cepat untuk mengeta-hui hasilnya. Kaum Mukminin menginginkan percepatan hukuman Allah bagi orang-orang kafir dan menilainya lamban. Sementara itu, orang-orang kafir berpaling dan mempunyai kehendak agar dipercepat siksaan (bagi mereka) dalam rangka untuk mendusta-kan dan penentangan, seraya berkata, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ 38 ﴿ "Bilakah (terjadinya) janji (Hari Kebangkitan) ini jika kamu adalah orang-orang yang benar." (Al-Anbiya`: 38). (Ketahuilah) Allah sedang menunda, bukan melupakan, ingin bersikap lembut, dan sudah menetapkan waktu tertentu bagi mereka. ﴾ إِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ فَلَا يَسۡتَـٔۡخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ 49 ﴿ "Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengun-durkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan(nya)." (Yunus: 49). Karena itu, Allah berfirman, ﴾ سَأُوْرِيكُمۡ ءَايَٰتِي ﴿ "Kelak akan Aku per-lihatkan kepadamu tanda-tanda (azab)Ku," yaitu mengenai balas den-damKu terhadap orang-orang yang mengingkari Aku dan durhaka kepadaKu. ﴾ فَلَا تَسۡتَعۡجِلُونِ 37 ﴿ "Maka janganlah kamu meminta kepadaKu mendatangkan segera," hal tersebut.

(38) Begitu pula, orang-orang kafir mengatakan,﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ 38 ﴿ "Bilakah (terjadinya) janji (Hari Kebangkitan) ini jika kamu adalah orang-orang yang benar." Mereka itu melontarkan pernyataan ini lantaran terpedaya dengan kondisi mereka (yang akan selamat) karena hukuman yang belum menimpa mereka dan siksa belum turun menerjang mereka.

(39) Sekiranya ﴾ يَعۡلَمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "orang-orang kafir itu mengeta-hui," keadaan buruk mereka ﴾ حِينَ لَا يَكُفُّونَ عَن وُجُوهِهِمُ ٱلنَّارَ وَلَا عَن ظُهُورِهِمۡ ﴿ "waktu (di mana) mereka tak mampu untuk mengelakkan api neraka dari muka mereka dan (tidak pula) dari punggung mereka," pasalnya, (pada waktu itu), neraka telah mengitari mereka dari semua sisi, dan me-nyelubungi mereka dari semua tempat, ﴾ وَلَا هُمۡ يُنصَرُونَ 39 ﴿ "sedang mereka tidak mendapat pertolongan (tentulah mereka tiada meminta di-segerakan)," maksudnya tidak ada orang lain yang (dapat) menolong mereka. Mereka tidak ditolong dan tidak pula dapat menolong diri mereka sendiri.

(40) ﴾ بَلۡ تَأۡتِيهِم ﴿ "Bahkan api neraka datang kepada mereka," dalam keadaan ﴾ بَغۡتَةٗ ﴿ "dengan sekonyong-konyong," menghenyakkan mereka karena kepanikan, kebingungan, dan lantaran rasa takut yang sangat mengerikan. ﴾ فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ رَدَّهَا ﴿ "Maka mereka tidak sanggup menolaknya," sebab mereka benar-benar hina dan lemah untuk bisa melakukannya ﴾ وَلَا هُمۡ يُنظَرُونَ ﴿ "dan tidak (pula) mereka diberi (waktu) tangguh," maksudnya memperoleh penundaan tempo sehingga diakhirkan siksaan mereka. Seandainya mereka menge-tahui hakikat ini dengan sebenarnya, niscaya mereka tidak akan meminta penyegeraan siksaan bagi mereka dan akan benar-benar merasa sangat takut terhadapnya. Hanya saja, karena pengetahuan ini kosong dari diri mereka, akhirnya mereka mengatakan apa yang telah mereka lontarkan.

(41) Dan setelah Allah menyebutkan penghinaan mereka terhadap RasulNya dengan perkataan, ﴾ أَهَٰذَا ٱلَّذِي يَذۡكُرُ ءَالِهَتَكُمۡ ﴿ "Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu." (Al-Anbiya`: 36), maka Allah menghibur beliau, bahwa kejadian seperti itu merupa-kan kebiasaan umat-umat terdahulu saat menghadapi para utusan Allah (yang diutus kepada mereka). Allah berfirman,﴾ وَلَقَدِ ٱسۡتُهۡزِئَ بِرُسُلٖ مِّن قَبۡلِكَ فَحَاقَ بِٱلَّذِينَ سَخِرُواْ مِنۡهُم ﴿ "Dan sungguh telah diperolok-olok beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemo-ohkan dari mereka," menghampiri mereka, ﴾ مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "balasan (azab) olok-olokan mereka." Maksudnya telah datang siksaan kepada mereka. Segala faktor untuk menolaknya pun lenyap. Hendaknya mereka berhati-hati akan turunnya bencana, hukuman yang telah melanda kaum yang mendustakan para utusan Allah.

21:42–44Page 325

قُلۡ مَن يَكۡلَؤُكُم بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ مِنَ ٱلرَّحۡمَٰنِۚ بَلۡ هُمۡ عَن ذِكۡرِ رَبِّهِم مُّعۡرِضُونَ ٤٢

Say, "Who can protect you at night or by day from the Most Merciful?" But they are, from the remembrance of their Lord, turning away.

أَمۡ لَهُمۡ ءَالِهَةٞ تَمۡنَعُهُم مِّن دُونِنَاۚ لَا يَسۡتَطِيعُونَ نَصۡرَ أَنفُسِهِمۡ وَلَا هُم مِّنَّا يُصۡحَبُونَ ٤٣

Or do they have gods to defend them other than Us? They are unable [even] to help themselves, nor can they be protected from Us.

بَلۡ مَتَّعۡنَا هَٰٓؤُلَآءِ وَءَابَآءَهُمۡ حَتَّىٰ طَالَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡعُمُرُۗ أَفَلَا يَرَوۡنَ أَنَّا نَأۡتِي ٱلۡأَرۡضَ نَنقُصُهَا مِنۡ أَطۡرَافِهَآۚ أَفَهُمُ ٱلۡغَٰلِبُونَ ٤٤

But, [on the contrary], We have provided good things for these [disbelievers] and their fathers until life was prolonged for them. Then do they not see that We set upon the land, reducing it from its borders?1 Is it they who will overcome?

"Katakanlah, 'Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah.' Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari meng-ingat Rabb mereka. Atau adakah mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari (azab) Kami. Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri mereka sendiri, dan tidak (pula) mereka dilindungi dari (azab) Kami itu. Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan (hidup di dunia) hingga panjanglah umur mereka. Maka apakah mereka tidak melihat bahwasanya Kami mendatangi negeri (orang kafir), lalu Kami kurangi luasnya dari segala penjurunya. Maka apakah mereka yang menang." (Al-Anbiya`: 42-44).

(42) Allah تعالى berfirman untuk memaparkan betapa lemah-nya orang-orang yang menetapkan sesembahan selain Allah, dan bahwa mereka membutuhkan serta sangat berkepentingan dengan Rabb mereka ar-Rahman (Yang Maha Penyayang) yang kasih sa-yangNya meliputi orang-orang baik dan jahat di malam dan siang hari. Allah berfirman, ﴾ قُلۡ مَن يَكۡلَؤُكُم ﴿ "Siapakah yang dapat memeli-hara kamu," maksudnya, siapakah yang akan menjaga dan memeli-hara kalian ﴾ بِٱلَّيۡلِ ﴿ "di malam hari," saat kalian tidur di atas ranjang-ranjang kalian, tanpa panca indera (yang berfungsi) dan tatkala di siang hari ketika kalian bertebaran (untuk mengais rizki) dan ketika kalian lalai ﴾ مِنَ ٱلرَّحۡمَٰنِۚ ﴿ "selain ar-Rahman (Dzat Yang Maha Pemurah)," maksudnya, selainNya menggantikan posisiNya. Apakah ada dzat lain yang menjaga kalian selainNya? Jawabnya, tidak ada penjaga selainNya. ﴾ بَلۡ هُمۡ عَن ذِكۡرِ رَبِّهِم مُّعۡرِضُونَ 42 ﴿ "Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingat Rabb mereka," Oleh karena itu, mereka menyekutukan sesuatu denganNya. Dan kalau tidak demikian, seandainya mereka mau menyambut peringatan Rabb mereka, mau menerima nasihat-nasihatNya, niscaya mereka akan mendapatkan petunjuk dan memperoleh taufik dalam setiap urusan mereka.

(43) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ ءَالِهَةٞ تَمۡنَعُهُم مِّن دُونِنَاۚ ﴿ "Atau adakah mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari (azab) Kami," maksud-nya jika Kami berkehendak mendatangkan sebuah keburukan pada mereka, apakah ada sesembahan mereka yang akan mampu melindungi mereka dari keburukan dan kejahatan yang melanda mereka? ﴾ لَا يَسۡتَطِيعُونَ نَصۡرَ أَنفُسِهِمۡ وَلَا هُم مِّنَّا يُصۡحَبُونَ 43 ﴿ "Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri mereka sendiri dan tidak (pula) mereka di-lindungi dari (azab) Kami itu," maksudnya, mereka tidak memperoleh pertolongan dari sisi Kami. Jika mereka tidak mendapatkan per-tolongan dari Allah, maka mereka merupakan orang-orang yang terlantarkan dalam (menjalankan) urusan-urusan mereka. Mereka tidak mampu mendatangkan maslahat dan menepis mara bahaya.

(44) Faktor yang menyebabkan mereka kontinyu dalam kekufuran dan kesyirikan ialah, Firman Allah, ﴾ بَلۡ مَتَّعۡنَا هَٰٓؤُلَآءِ وَءَابَآءَهُمۡ حَتَّىٰ طَالَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡعُمُرُۗ ﴿ "Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan (hidup di dunia) hingga panjanglah umur mereka," maksudnya, Kami telah menopang kehidupan mereka dengan limpahan harta dan keturunan, dan Kami telah mengaruniakan umur panjang bagi mereka. Akhirnya, mereka menyibukkan diri untuk menikmatinya dan melupakan untuk misi apa mereka di-ciptakan di dunia ini. Seiring dengan perjalanan masa bersama mereka, kalbu-kalbu mereka menjadi keras, kepongahan mereka semakin menjadi-jadi serta kekufuran mereka pun semakin mengen-tal. Andai mereka mau mengarahkan pandangan mereka kepada orang-orang yang berada di sisi bumi sebelah kanan dan kiri, nis-caya mereka tidak akan menjumpai kecuali orang yang telah binasa. Tidaklah mereka mendengarkan melainkan suara-suara ratapan wanita. Dan tidaklah mereka menyadari melainkan masa-masa yang saling bergantian, berujung pada kehancuran. Kematian telah berdiri tegak di tengah jalan –untuk menyambar jiwa-jiwa– menye-barkan tali-tali jeratnya. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ أَفَلَا يَرَوۡنَ أَنَّا نَأۡتِي ٱلۡأَرۡضَ نَنقُصُهَا مِنۡ أَطۡرَافِهَآۚ ﴿ "Maka apakah mereka tidak melihat bahwasanya Kami mendatangi negeri (orang kafir), lalu Kami kurangi luasnya dari segala penjurunya," yaitu kabar tentang kematian para penduduk-nya, dan kehancuran mereka secara pelan-pelan sampai akhirnya Allah mewarisi bumi dan seisinya. Dia-lah sebaik-baik Dzat yang mewarisi. Jika mereka menyaksikan kejadian ini, niscaya mereka tidak akan terpedaya dan tidak akan keras kepala dengan kondisi mereka saat itu ﴾ أَفَهُمُ ٱلۡغَٰلِبُونَ 44 ﴿ "maka apakah mereka itu menang," yang dengan keleluasaan yang dimiliki, mereka bisa keluar dari takdir Allah dan dengan kemampuan yang dimiliki, mereka dapat menahan diri dari kematian. Apakah seperti ini keadaan mereka hingga tertipu dengan masa kehidupan mereka yang panjang (di dunia ini)? Ataukah mereka itu, bila utusan Allah (malaikat) datang untuk mencabut ruh-ruh, mereka akan patuh dan merasa hina, tidak tampak unsur penentangan dari mereka sedikit pun?

21:45–46Page 326

قُلۡ إِنَّمَآ أُنذِرُكُم بِٱلۡوَحۡيِۚ وَلَا يَسۡمَعُ ٱلصُّمُّ ٱلدُّعَآءَ إِذَا مَا يُنذَرُونَ ٤٥

Say, "I only warn you by revelation." But the deaf do not hear the call when they are warned.

وَلَئِن مَّسَّتۡهُمۡ نَفۡحَةٞ مِّنۡ عَذَابِ رَبِّكَ لَيَقُولُنَّ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ٤٦

And if [as much as] a whiff of the punishment of your Lord should touch them, they would surely say, "O woe to us! Indeed, we have been wrongdoers."

"Katakanlah (hai Muhammad), 'Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu dan tidaklah orang-orang yang tuli mendengar seruan, apabila mereka diberi peringatan.' Dan sesungguhnya, jika mereka ditimpa sedikit saja dari azab Rabbmu, pastilah mereka berkata, 'Aduhai, celaka-lah kami, bahwasanya kami adalah orang yang menganiaya diri sendiri'." (Al-Anbiya`: 45-46).

(45) Maksudnya, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," wahai Muhammad kepada seluruh manusia ﴾ إِنَّمَآ أُنذِرُكُم بِٱلۡوَحۡيِۚ ﴿ "Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu," maksudnya saya hanyalah seorang rasul, tidak membawa sesuatu dari diriku sendiri. Saya tidak mempunyai perbendaharaan kekayaan Allah, tidak mengetahui alam ghaib, dan tidak pula mengatakan bahwa diriku seorang malaikat. Saya hanyalah bertugas memberikan peringatan kepada kalian dengan wahyu yang Allah wahyukan kepadaku. Kalau kalian menyambut hal tersebut, maka sungguh kalian telah menyambut (panggilan) Allah, dan Dia akan memberi-kan balasan bagi kalian atas respons tersebut. Apabila kalian ber-paling dan melakukan penentangan, maka saya tidak mempunyai kewenangan sedikit pun dalam mengatur alam semesta ini. Segala urusan adalah milik Allah, dan ketetapan takdir hanya milik Allah semuanya. ﴾ وَلَا يَسۡمَعُ ٱلصُّمُّ ٱلدُّعَآءَ ﴿ "Dan tidaklah orang-orang yang tuli mende-ngar seruan," maksudnya orang tuli tidak mampu lagi mendengar-kan suara. Sebab, pendengarannya telah rusak dan tidak berfungsi lagi. Syarat dapat mendengarkan suara, adalah mesti ada media yang dapat menerimanya. Begitu pula wahyu, merupakan faktor kehidupan bagi hati dan ruh serta piranti untuk memahami maksud dari Allah. Tetapi, bila hati menolak mendengarkan hidayah, maka hati tersebut saat berinteraksi dengan hidayah dan cahaya iman, layaknya orang tuli terhadap suara-suara yang ada. Orang-orang musyrik, mereka itu tuli terhadap hidayah. Oleh karena itu, ja-nganlah dipandang dengan keheranan bila mereka tidak dapat meraih hidayah. Terlebih lagi, dalam kondisi seperti ini, di mana siksaan belum mendatangi mereka, dan rasa sakitnya siksaan belum mengenai mereka.

(46) Seandainya sudah benar-benar mengenai mereka ﴾ نَفۡحَةٞ مِّنۡ عَذَابِ رَبِّكَ ﴿ "sedikit saja dari azab Rabbmu," yaitu walaupun bagian kecil dari siksaNya, namun tidak ada istilah sedikit pada siksa Allah ﴾ لَيَقُولُنَّ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ 46 ﴿ "pastilah mereka berkata, 'Aduhai celakalah kami, bahwasanya kami adalah orang-orang yang menganiaya diri sendiri'," maksudnya tiada perkataan yang mereka sampaikan kecuali ratapan celaka, kebinasaan, penyesalan dan pengakuan atas perbuatan aniaya dan kekufuran mereka serta pengakuan menjadi orang yang berhak tertimpa siksa.

21:47Page 326

وَنَضَعُ ٱلۡمَوَٰزِينَ ٱلۡقِسۡطَ لِيَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ فَلَا تُظۡلَمُ نَفۡسٞ شَيۡـٔٗاۖ وَإِن كَانَ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٍ أَتَيۡنَا بِهَاۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَٰسِبِينَ ٤٧

And We place the scales of justice for the Day of Resurrection, so no soul will be treated unjustly at all. And if there is [even] the weight of a mustard seed,1 We will bring it forth. And sufficient are We as accountant.

"Kami akan memasang timbangan yang tepat pada Hari Kiamat, maka tidaklah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan." (Al-Anbiya`: 47).

(47) Allah تعالى mengabarkan mengenai ketetapan hukumNya yang adil dan keputusanNya yang berimbang (tidak berat sebelah) di antara para hambaNya ketika Dia menghimpun mereka semua di Hari Kiamat. Dia memasang timbangan-timbangan yang adil bagi mereka. Dalam timbangan-timbangan itu menjadi tampak jelas beratnya biji sawi yang dengan itu kebaikan dan kejelekan akan ditimbang. ﴾ فَلَا تُظۡلَمُ نَفۡسٞ ﴿ "Maka tidaklah dirugikan seseorang," baik jiwa yang Muslim ataupun yang kafir ﴾ شَيۡـٔٗاۖ ﴿ "barang sedikit pun," dalam bentuk pengurangan dari sebagian kebaikannya atau penambahan kejelekannya. Kendatipun seberat biji sawi yang merupakan partikel terkecil dan tidak diperhitungkan, yang berasal dari kebaikan maupun kejelekan, Kami akan membawa dan meng-hadirkannya. Tujuannya, agar pemiliknya mendapatkan balasan dengannya. Makna ini seperti kandungan ayat, ﴾ فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ 7 وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَرَهُۥ 8 ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, nis-caya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." (Az-Zalzalah: 7-8). ﴾ وَيَقُولُونَ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya, dan mereka mendapati apa yang telah mereka kerja-kan ada (tertulis)'." (Al-Kahfi: 49). ﴾ وَكَفَىٰ بِنَا حَٰسِبِينَ 47 ﴿ "Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat per-hitungan," maksudnya Dzat Allah yang mulia sebagai pembuat perhitungan hal tersebut. Cukuplah Allah sebagai Dzat yang mem-perhitungkan amalan-amalan. Maksudnya, mengetahui seluruh amaliah para hambaNya, memeliharanya dan menempatkannya dalam sebuah kitab catatan, mengetahui perhitungannya dan ke-tentuan pahala atau hukumannya serta hak-haknya untuk menye-rahkan balasan bagi para pelakunya.

21:48–50Page 326

وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ ٱلۡفُرۡقَانَ وَضِيَآءٗ وَذِكۡرٗا لِّلۡمُتَّقِينَ ٤٨

And We had already given Moses and Aaron the criterion and a light and a reminder1 for the righteous

ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ وَهُم مِّنَ ٱلسَّاعَةِ مُشۡفِقُونَ ٤٩

Who fear their Lord unseen,1 while they are of the Hour apprehensive.

وَهَٰذَا ذِكۡرٞ مُّبَارَكٌ أَنزَلۡنَٰهُۚ أَفَأَنتُمۡ لَهُۥ مُنكِرُونَ ٥٠

And this [Qur’ān] is a blessed message which We have sent down. Then are you with it unacquainted?1

"Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun Kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Rabb me-reka, sedang mereka tidak melihatnya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) Hari Kiamat. Dan al-Qur`an ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya?" (Al-Anbiya`: 48-50).

(48) Kerapkali Allah تعالى memadukan antara dua kitab agung ini, yang mana alam semesta ini tidak pernah menunjukkan kitab yang lebih utama, lebih agung penyebutannya, lebih mengandung berkah dan lebih besar muatan hidayah dan penjelasannya (bagi umat manusia) dari pada keduanya. Dua kitab tersebut yakni Taurat dan al-Qur`an. Allah memberitahukan bahwa Dia memberi al-Furqan (kitab yang membedakan) kepada Musa sebagai orang inti dan Harun sebagai pengikut. Yaitu Taurat yang membedakan antara kebenaran dan kebatilan, petunjuk dan kesesatan. Ia meru-pakan, ﴾ ضِيَآءٗ ﴿ "penerangan," yaitu cahaya yang menjadi obor bagi orang-orang yang mencari hidayah, menjadi pemandu bagi orang-orang yang berjalan serta piranti untuk mengetahui hukum-hukum Allah dan alat yang membedakan antara hal-hal yang halal dan haram, menyebarkan penerangan dalam kegelapan kebodohan, bid'ah, dan kesesatan, serta berfungsi sebagai pengingat bagi orang-orang yang bertakwa. Dengan itu, mereka mengingat hal-hal yang bermanfaat dan hal-hal yang berbahaya bagi mereka, dan meng-ingat-ingat kebaikan dan kejelekan. Allah mengkhususkan penye-butan orang-orang bertakwa dalam konteks ini, karena mereka itulah pihak-pihak yang meraup manfaat darinya dalam bentuk ilmu maupun amalan.

(49) Selanjutnya, Allah menerangkan siapa orang-orang yang bertakwa itu. Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Rabb mereka sedang mereka tidak melihatNya," maksudnya mereka takut kepada Allah saat mereka sendirian, tidak ada pandangan orang lain yang mengarah kepada mereka, sehingga pasti saat bersama orang lain, akan lebih takut kepada Allah. Mereka menahan diri (wara`) dari apa yang diha-ramkan oleh Allah dan melaksanakan perkara-perkara yang harus dikerjakan. ﴾ وَهُم مِّنَ ٱلسَّاعَةِ مُشۡفِقُونَ 49 ﴿ "Dan mereka merasa takut akan (tibanya) Hari Kiamat," maksudnya, mereka takut lagi khawatir. Hal ini muncul karena kesempurnaan ma'rifat (pengetahuan) mereka tentang Rabb mereka. Sehingga mereka memadukan sikap untuk berbuat baik dan merasa takut kepadaNya. Bentuk 'athaf (kata sambung "dan") di sini untuk menghubungkan sifat-sifat yang berbeda-beda yang diperuntukkan bagi sesuatu yang (berjumlah) satu dan obyek yang satu.

(50) ﴾ وَهَٰذَا ﴿ "Dan ini," yaitu al-Qur`an ﴾ ذِكۡرٞ مُّبَارَكٌ أَنزَلۡنَٰهُۚ ﴿ "adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turun-kan." Allah menyifatinya dengan dua sifat agung. (Pertama) sebagai pengingat, dengan itu semua tuntutan agama menjadi tidak terlu-pakan, seperti mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat dan perbuatan-perbuatanNya, mengenal sifat-sifat para rasul, para wali, dan seluk-beluk tentang mereka, mengetahui hukum-hukum syariat, dalam bentuk peribadahan, muamalah dan lain sebagainya, mengetahui pula kepastian pembalasan amalan, surga dan neraka. Dengannya (al-Qur`an), berbagai masalah, petunjuk-petunjuk logika, dan dalil-dalil naqli dapat diingat. Allah menamakannya sebagai dzikr (pengingat) karena akan mengingatkan perkara-per-kara yang telah Allah tanamkan pada akal-akal dan fitrah manusia berupa pembenaran terhadap berita-berita yang haq, perintah melakukan hal-hal yang baik, dan larangan dari perkara-perkara buruk menurut nalar manusia. (Kedua) bersifat penuh berkah. Sifat ini menuntut makna banyaknya kebaikannya dan pertumbuhan serta pertambahannya. Tidak ada sesuatu pun yang lebih besar nilai keberkahannya dari pada al-Qur`an ini. Sesungguhnya setiap kebaikan, kenikmatan, dan tambahan nikmat agama, duniawi ataupun ukhrawi, berasal darinya dan efek dari pengamalannya. Jika ia bersifat sebagai pem-beri peringatan yang mengandung berkah, maka wajib menerima-nya dengan tulus, tunduk dan penyerahan diri, serta bersyukur kepada Allah atas karunia besar ini dan mengamalkannya, menggali keberkahannya, melalui mempelajari kata-kata dan makna-makna-nya. Sementara sikap menyikapinya dengan sifat-sifat yang ber-lawanan dengan keadaan ini, seperti berpaling darinya, mengabai-kannya, mengingkarinya dan tidak mengimaninya merupakan bentuk kekufuran yang sangat besar, kebodohan dan tindakan aniaya yang sangat fatal. Oleh sebab itu, Allah تعالى mengingkari orang-orang yang mengingkari al-Qur`an. Allah berfirman, ﴾ أَفَأَنتُمۡ لَهُۥ مُنكِرُونَ 50 ﴿ "Maka mengapakah kamu mengingkarinya?"

Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences

Contents

Ayat al-Kursi36Al-Kahfpage 42juz 15Bukhari 1Muslim 2999

Style

Theme
Text size
Layout

Читать на русском