As-Sa'diAl‑Mu'minun · 23:45–71

As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian

Al-Mu'minun 23:45–71

23:45–49Page 345

ثُمَّ أَرۡسَلۡنَا مُوسَىٰ وَأَخَاهُ هَٰرُونَ بِـَٔايَٰتِنَا وَسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ٤٥

Then We sent Moses and his brother Aaron with Our signs and a clear authority1

إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦ فَٱسۡتَكۡبَرُواْ وَكَانُواْ قَوۡمًا عَالِينَ ٤٦

To Pharaoh and his establishment, but they were arrogant and were a haughty people.

فَقَالُوٓاْ أَنُؤۡمِنُ لِبَشَرَيۡنِ مِثۡلِنَا وَقَوۡمُهُمَا لَنَا عَٰبِدُونَ ٤٧

They said, "Should we believe two men like ourselves while their people are for us in servitude?"

فَكَذَّبُوهُمَا فَكَانُواْ مِنَ ٱلۡمُهۡلَكِينَ ٤٨

So they denied them and were of those destroyed.

وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَى ٱلۡكِتَٰبَ لَعَلَّهُمۡ يَهۡتَدُونَ ٤٩

And We certainly gave Moses the Scripture that perhaps they1 would be guided.

"Kemudian Kami utus Musa dan saudaranya Harun dengan membawa tanda-tanda (Kebesaran) Kami dan bukti yang nyata, kepada Fir'aun dan pembesar-pembesar kaumnya, maka mereka ini takabur dan mereka adalah orang-orang yang sombong. Dan mereka berkata, 'Apakah (patut) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita (juga), padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?' Maka (tetaplah) mereka mendustakan keduanya, sebab itu mereka terma-suk orang-orang yang dibinasakan. Dan sesungguhnya telah Kami berikan al-Kitab (Taurat) kepada Musa, agar mereka (Bani Israil) mendapat petunjuk." (Al-Mu`minun: 45-49).

(45) FirmanNya, ﴾ ثُمَّ أَرۡسَلۡنَا مُوسَىٰ ﴿ "Kemudian Kami utus Musa" putra Imran, Kalimurrahman, ﴾ وَأَخَاهُ هَٰرُونَ ﴿ "dan saudaranya Harun," ketika beliau memohon kepada Allah agar mengikutsertakan sau-daranya itu (Harun) dalam misinya. Allah menyambut permo-honan ini, ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan membawa tanda-tanda (kebesaran) Kami," yang menunjukkan kebenaran mereka berdua dan (kebenaran) risalah yang mereka emban, ﴾ وَسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "dan bukti yang nyata," mak-sudnya hujjah yang nyata, lantaran besarnya kekuatannya yang mampu memaksa hati-hati dan menguasainya karena kekuatannya. Maka, hati-hati kaum Mukminin pun menjadi tunduk, dan tegak-lah hujjah di hadapan orang-orang yang melakukan penentangan. Ini seperti Firman Allah, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَىٰ تِسۡعَ ءَايَٰتِۭ بَيِّنَٰتٖۖ ﴿ "Dan sungguh Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah ayat yang nyata." (Al-Isra`: 101). Oleh karena itu, pimpinan para penentang telah mengetahui kebenaran namun tetap berkeras kepala menentang. ﴾ فَسۡـَٔلۡ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ إِذۡ جَآءَهُمۡ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka," dengan membawa ayat-ayat yang nyata tersebut. Maka, [Fir'aun][9] berkata kepada beliau, ﴾ إِنِّي لَأَظُنُّكَ يَٰمُوسَىٰ مَسۡحُورٗا ﴿ "Sesungguhnya aku menyangkamu, hai Musa, seorang yang terkena sihir." (Al-Isra`: 101). Lalu, Musa menyanggah, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَآ أَنزَلَ هَٰٓؤُلَآءِ إِلَّا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ بَصَآئِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَٰفِرۡعَوۡنُ مَثۡبُورٗا 102 ﴿ "Sungguh kamu telah mengetahui, bahwa tidaklah yang menurun-kan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti nyata, dan sesungguhnya aku mengiramu, hai Fir'aun, seorang yang akan binasa." (Al-Isra`: 103). Allah تعالى juga berfirman, ﴾ وَجَحَدُواْ بِهَا وَٱسۡتَيۡقَنَتۡهَآ أَنفُسُهُمۡ ظُلۡمٗا وَعُلُوّٗاۚ ﴿ "Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya." (An-Naml: 14).

(46) Di sini, Allah berfirman,﴾ ثُمَّ أَرۡسَلۡنَا مُوسَىٰ وَأَخَاهُ هَٰرُونَ بِـَٔايَٰتِنَا وَسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ 45 إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦ ﴿ "Kemudian Kami utus Musa dan saudaranya Harun, dengan membawa tanda-tanda (Kebesaran) Kami, dan bukti yang nyata kepada Fir'aun dan pembesar-pembesar kaumnya," seperti sosok Haman dan tokoh lainnya yang berasal dari pembesar-pembesar mereka. ﴾ فَٱسۡتَكۡبَرُواْ ﴿ "Maka mereka ini takabur," maksudnya mereka bersikap sombong untuk beriman kepada Allah dan congkak ter-hadap para nabiNya. ﴾ وَكَانُواْ قَوۡمًا عَالِينَ ﴿ "Dan mereka adalah orang-orang yang sombong," maksudnya karakter mereka adalah merasa lebih tinggi, sok berkuasa dan suka melakukan kerusakan di muka bumi. Oleh sebab itu, meluncur sikap kesombongan dari mereka, dan itu tidak aneh terjadi dari mereka.

(47) ﴾ فَقَالُوٓاْ ﴿ "Dan mereka berkata," dalam kesombongan lagi kecongkakan untuk memperingatkan orang-orang yang lemah akal sehatnya dan mengelabuhi mereka, ﴾ أَنُؤۡمِنُ لِبَشَرَيۡنِ مِثۡلِنَا ﴿ "Apakah (patut) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita (juga)." Komentar ini senada dengan lontaran orang-orang sebelum mereka, persis benar. Hati-hati mereka saling menyerupai dalam kekufuran, hingga omongan dan ulah mereka pun mengalami kemiripan. Mereka mengingkari anugerah Allah yang tercurahkan pada mereka berdua berupa risalah (menjadi seorang rasul). ﴾ وَقَوۡمُهُمَا ﴿ "Padahal kaum mereka berdua," yaitu Bani Israil ﴾ لَنَا عَٰبِدُونَ ﴿ "adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita," diperbudak dengan kerja-kerja dan kesibukan yang berat. Seperti yang difirmankan oleh Allah تعالى, ﴾ وَإِذۡ نَجَّيۡنَٰكُم مِّنۡ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ يَسُومُونَكُمۡ سُوٓءَ ٱلۡعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبۡنَآءَكُمۡ وَيَسۡتَحۡيُونَ نِسَآءَكُمۡۚ وَفِي ذَٰلِكُم بَلَآءٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَظِيمٞ 49 ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatkanmu dari (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya, mereka menimpakan kepadamu siksaan yang se-berat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Rabbmu." (Al-Baqarah: 49). Bagaimana mungkin kami menjadi pengikut (mereka), pada-hal sebelumnya kami adalah pemimpin yang diikuti. Bagaimana mereka bisa menjadi orang yang memimpin kami? Perkataan me-reka serupa dengan ucapan kaum nabi Nuh, ﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ 111 ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" (Asy-Syu'ara: 111). ﴾ وَمَا نَرَىٰكَ ٱتَّبَعَكَ إِلَّا ٱلَّذِينَ هُمۡ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ ٱلرَّأۡيِ ﴿ "Dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu, melainkan orang-orang yang hina-dina di antara kami yang lekas percaya." (Hud: 27).

(48) Sudah dapat dimengerti, bahwa ungkapan semacam itu tidak bisa dipakai untuk menolak kebenaran. Ucapan itu (hanyalah) bentuk pendustaan dan penentangan. Karenanya, Allah berfirman, ﴾ فَكَذَّبُوهُمَا فَكَانُواْ مِنَ ٱلۡمُهۡلَكِينَ 48 ﴿ "Maka (tetaplah) mereka mendustakan ke-duanya, sebab itulah mereka termasuk orang-orang yang dibinasakan," dengan tenggelam di lautan, sementara Bani Isra`il menyaksikan peristiwa itu.

(49) ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَى ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami berikan al-Kitab (Taurat) kepada Musa," usai Allah membinasakan Fir'aun dan menyelamatkan bangsa Israil bersama Musa dan berhasil menegak-kan perintah Allah dan menampakkan simbol-simbol (agama)Nya, Allah menyampaikan janji kepadanya untuk menurunkan Taurat kepadanya dalam jangka empat puluh malam, maka beliau pergi untuk menepati waktu pertemuan dengan Rabbnya. Allah تعالى ber-firman, ﴾ وَكَتَبۡنَا لَهُۥ فِي ٱلۡأَلۡوَاحِ مِن كُلِّ شَيۡءٖ مَّوۡعِظَةٗ وَتَفۡصِيلٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada kepingan-kepingan (untuk menulis Taurat) segala sesuatu, sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu." (Al-A'raf: 145), karena itu, di sini Allah menga-takan, ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَهۡتَدُونَ ﴿ "Agar mereka (Bani Israil) mendapat petunjuk," dengan mengetahui perincian perintah-perintah dan larangan-larangan, pahala dan hukuman dan mengenal Rabb mereka melalui nama-nama dan sifat-sifatNya.

23:50Page 345

وَجَعَلۡنَا ٱبۡنَ مَرۡيَمَ وَأُمَّهُۥٓ ءَايَةٗ وَءَاوَيۡنَٰهُمَآ إِلَىٰ رَبۡوَةٖ ذَاتِ قَرَارٖ وَمَعِينٖ ٥٠

And We made the son of Mary and his mother a sign and sheltered them within a high ground having level [areas] and flowing water.

"Dan telah Kami jadikan (Isa) putra Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata (bagi kekuasaan Kami), dan Kami melin-dungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak ter-dapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir." (Al-Mu`minun: 50).

(50) Dan Kami melimpahkan karunia kepada 'Isa putra Maryam, dan Kami menjadikannya dan ibunya termasuk bagian dari ayat-ayat Allah yang mencengangkan. Pasalnya, ibunya me-ngandungnya dan melahirkannya tanpa keberadaan seorang ayah, mampu berbicara saat masih balita di dalam gendongan serta Allah memunculkan bukti-bukti kebesaranNya melalui tangannya. ﴾ وَءَاوَيۡنَٰهُمَآ إِلَىٰ رَبۡوَةٖ ﴿ "Dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar," maksudnya, tempat yang tinggi. Ini –wallahu a'lam– saat persalinannya. ﴾ ذَاتِ قَرَارٖ ﴿ "Yang banyak terdapat padang-padang rumput," maksudnya tempat yang memiliki ketenangan dan kenyamanan, ﴾ وَمَعِينٖ ﴿ "dan sumber-sumber mata air," yaitu air yang mengalir, dengan dasar Firman Allah, ﴾ قَدۡ جَعَلَ رَبُّكِ تَحۡتَكِ ﴿ "Sesungguh-nya Rabbmu telah menjadikan di bawahmu," yaitu di bawah permuka-an tanah yang engkau tempati karena berada di ketinggian ﴾ سَرِيّٗا ﴿ "anak sungai," yaitu sebuah sungai, itulah mata airnya. ﴾ وَهُزِّيٓ إِلَيۡكِ بِجِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ تُسَٰقِطۡ عَلَيۡكِ رُطَبٗا جَنِيّٗا 25 فَكُلِي وَٱشۡرَبِي وَقَرِّي عَيۡنٗاۖ ﴿ "Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan dan minum serta bersenang hatilah kamu." (Maryam: 24-25).

23:51–56Page 345

يَٰٓأَيُّهَا ٱلرُّسُلُ كُلُواْ مِنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَٱعۡمَلُواْ صَٰلِحًاۖ إِنِّي بِمَا تَعۡمَلُونَ عَلِيمٞ ٥١

[Allāh said], "O messengers, eat from the good foods and work righteousness. Indeed I, of what you do, am Knowing.

وَإِنَّ هَٰذِهِۦٓ أُمَّتُكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ وَأَنَا۠ رَبُّكُمۡ فَٱتَّقُونِ ٥٢

And indeed this, your religion, is one religion,1 and I am your Lord, so fear Me."

فَتَقَطَّعُوٓاْ أَمۡرَهُم بَيۡنَهُمۡ زُبُرٗاۖ كُلُّ حِزۡبِۭ بِمَا لَدَيۡهِمۡ فَرِحُونَ ٥٣

But they [i.e., the people] divided their religion among them into portions [i.e., sects] - each faction, in what it has,1 rejoicing.

فَذَرۡهُمۡ فِي غَمۡرَتِهِمۡ حَتَّىٰ حِينٍ ٥٤

So leave them in their confusion for a time.

أَيَحۡسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُم بِهِۦ مِن مَّالٖ وَبَنِينَ ٥٥

Do they think that what We extend to them of wealth and children

نُسَارِعُ لَهُمۡ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِۚ بَل لَّا يَشۡعُرُونَ ٥٦

Is [because] We hasten for them good things? Rather, they do not perceive.1

"Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Me-ngetahui apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Rabbmu, maka bertakwalah kepadaKu. Kemudian mereka (pengi-kut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga de-ngan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka biar-kanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu. Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka. Tidak, sebenarnya mereka tidak merasa." (Al-Mu`minun: 51-56).

(51) Ini adalah perintah Allah تعالى yang ditujukan kepada para utusanNya, agar mereka mengkonsumsi sesuatu yang baik, yaitu rizki dan sesuatu yang baik lagi halal, (perintah untuk) ber-syukur kepada Allah dengan mengamalkan amalan shalih yang akan memperbaiki hati, tubuh, dan dunia, serta akhirat. Dia mem-beritahukan kepada mereka, bahwa Dia Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Setiap amalan yang mereka perbuat dan usaha yang mereka tempuh, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya, dan Dia akan memberikan balasan kepada mereka atas dasar amalan tersebut dengan balasan yang paling sempurna dan terbaik. Fakta ini menunjukkan bahwa para rasul, semuanya bersepakat mengenai halalnya barang-barang yang baik, yang berupa bermacam-macam makanan dan haramnya makanan-makanan yang keji. Mereka telah bersepakat mengenai amalan shalih, walaupun terjadi perbedaan pada beberapa jenis perintah dan aturan syariatnya. Semua itu merupakan amalan shalih, akan tetapi, mengalami perbedaan sesuai dengan perbedaan masa. Karena itu, amalan-amalan shalih yang baik pada setiap masa, telah disepakati oleh para nabi dan seluruh ajaran syariat-syariat. Misalnya, perintah untuk mengesakan Allah dan memurnikan ibadah untukNya, men-cintaiNya, takut kepadaNya, berharap kepadaNya, beramal keba-jikan, jujur, menepati janji, menyambung tali silaturahim, berbakti kepada orang tua, berbuat baik kepada orang-orang lemah, miskin dan anak-anak yatim, beriba dan berbuat baik kepada sesama makhluk dan amalan-amalan shalih lainnya. Karena itu, para ulama dan pakar kitab-kitab terdahulu serta para cendekiawan ketika Allah mengutus Muhammad, mereka membuktikan kebenaran kenabian beliau dengan beberapa jenis perkara yang diperintah-kan dan larangan yang ditetapkan. Sebagaimana yang terjadi pada Heraklius dan lainnya. Bila beliau memerintahkan perkara yang diperintahkan juga oleh para nabi yang telah berlalu sebelumnya, dan melarang apa yang mereka larang pula, maka ini menandakan bahwa beliau ber-asal dari kalangan mereka (para nabi). Berbeda dengan pembohong (nabi palsu), maka dia mesti memerintahkan perkara yang buruk dan melarang kebaikan.

(52) Oleh karena itu, Allah تعالى berfirman kepada para rasul, ﴾ وَإِنَّ هَٰذِهِۦٓ أُمَّتُكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua," yaitu (agama) kelompok kalian, wahai para rasul, yaitu ﴾ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "agama yang satu," yang sepakat bulat dalam satu agama dan Rabb yang satu. ﴾ فَٱتَّقُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepadaKu," dengan melaksanakan perintah-perintahKu dan menjauhi larangan-la-ranganKu. Sungguh, Allah telah memerintahkan kaum Mukminin dengan perintah yang ditujukan kepada para rasul. Karena mereka mengikuti jalan para rasul dan menapaki jalan di belakang mereka. Allah berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِلَّهِ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ 172 ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah." (Al-Baqarah: 172). Maka kewajiban orang-orang yang mengikuti jejak para nabi dan (orang-orang baik) lainnya, agar menaati dan mengamalkan-nya.

(53) Akan tetapi, orang-orang zhalim lagi para pecundang enggan menyambut kecuali berbuat pelanggaran saja. Karenanya, Allah berfirman, ﴾ فَتَقَطَّعُوٓاْ أَمۡرَهُم بَيۡنَهُمۡ زُبُرٗاۖ ﴿ "Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah-belah menjadi be-berapa pecahan," maksudnya terputuslah (ikatan) orang-orang yang mengaku pengikut para nabi. ﴾ أَمۡرَهُم ﴿ "Urusan mereka," yaitu urusan agama mereka ﴾ بَيۡنَهُمۡ زُبُرٗاۖ ﴿ "terpecah belah menjadi beberapa pecahan pada mereka," beberapa kelompok. ﴾ كُلُّ حِزۡبِۭ بِمَا لَدَيۡهِمۡ ﴿ "Tiap-tiap golongan dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)," yaitu dengan ilmu dan agama yang mereka miliki, ﴾ فَرِحُونَ ﴿ "merasa bangga," mereka menyangka diri mereka berada di atas rel kebenaran, sementara orang lain tidak berada di garis yang lurus. Padahal orang yang berada di atas kebenaran dari mereka, ialah orang-orang yang berjalan mengikuti para rasul, dengan cara memakan makanan yang baik-baik dan beramal shalih. Selain mereka, berada dalam kubangan kebatilan.

(54) ﴾ فَذَرۡهُمۡ فِي غَمۡرَتِهِمۡ ﴿ "Maka biarkanlah mereka dalam kesesatan-nya," maksudnya di tengah kebodohan mereka terhadap kebenaran dan klaim (bohong) bahwa mereka berada di atas kebenaran. ﴾ حَتَّىٰ حِينٍ ﴿ "Sampai suatu waktu," yaitu sampai datang waktu siksa mener-jang mereka. Sesungguhnya nasihat sudah tidak bermanfaat lagi bagi mereka, begitu pun larangan. Bagaimana mungkin bermanfaat bagi orang yang mempunyai prasangka kalau dia berada di atas kebenaran dan berminat menyeru orang lain kepada keyakinannya.

(55-56) ﴾ أَيَحۡسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُم بِهِۦ مِن مَّالٖ وَبَنِينَ 55 نُسَارِعُ لَهُمۡ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِۚ ﴿ "Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka," maksudnya apakah mereka mengira bahwa tam-bahan yang Kami berikan kepada mereka berupa harta dan anak merupakan tanda jika mereka termasuk dari kalangan orang-orang yang baik dan (akan berhasil merengkuh) kebahagiaan, serta meraih kebaikan dunia dan akhirat. Apakah ini semua dicurahkan kepada mereka (karena itu)? Masalah ini tidak demikian adanya. ﴾ بَل لَّا يَشۡعُرُونَ ﴿ "Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar." Kami meng-ulur waktu dan menunda kesempatan bagi mereka serta menam-bah untuk mereka dengan kenikmatan-kenikmatan, agar mereka semakin bergelimang dalam dosa, dan hukuman mereka pun semakin bertambah di akhirat. Tujuannya, supaya mereka terlena dengan apa yang mereka raih, sampai pada suatu masa ketika me-reka menikmati kegembiraan dengan apa yang mereka dapatkan, tiba-tiba Allah menghukum mereka dengan seketika.

Ketika mengisahkan orang-orang yang menggabungkan antara perbuatan jelek dan perasaan aman (dari siksaanNya) dan orang-orang yang menyangka bahwa pemberian Allah yang tercurah pada mereka di dunia sebagai bukti atas kebaikan dan keutamaan mereka, maka Allah menceritakan orang-orang yang memadukan antara perbuatan baik dan kecemasan (dari siksaNya). Allah ber-firman,

23:57–62Page 345

إِنَّ ٱلَّذِينَ هُم مِّنۡ خَشۡيَةِ رَبِّهِم مُّشۡفِقُونَ ٥٧

Indeed, they who are apprehensive from fear of their Lord

وَٱلَّذِينَ هُم بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ يُؤۡمِنُونَ ٥٨

And they who believe in the signs of their Lord

وَٱلَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمۡ لَا يُشۡرِكُونَ ٥٩

And they who do not associate anything with their Lord

وَٱلَّذِينَ يُؤۡتُونَ مَآ ءَاتَواْ وَّقُلُوبُهُمۡ وَجِلَةٌ أَنَّهُمۡ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ رَٰجِعُونَ ٦٠

And they who give what they give while their hearts are fearful1 because they will be returning to their Lord -

أُوْلَٰٓئِكَ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَهُمۡ لَهَا سَٰبِقُونَ ٦١

It is those who hasten to good deeds, and they outstrip [others] therein.

وَلَا نُكَلِّفُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ وَلَدَيۡنَا كِتَٰبٞ يَنطِقُ بِٱلۡحَقِّ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ٦٢

And We charge no soul except [with that within] its capacity, and with Us is a record which speaks with truth; and they will not be wronged.

"Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Rabb mereka, dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka, dan orang-orang yang tidak memperseku-tukan dengan Rabb mereka (sesuatu apa pun), dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka, mereka itu bersegera untuk menda-pat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya." (Al-Mu`minun: 57-62).

(57) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ هُم مِّنۡ خَشۡيَةِ رَبِّهِم مُّشۡفِقُونَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Rabb mereka," maksudnya merasa was-was, hati mereka khawatir. Itu semua bersumberkan dari sifat ketakutan mereka kepada Rabb mereka, lantaran kekha-watiran bahwa Allah akan memutuskan sifat keadilanNya pada mereka, hingga tidak menyisakan kebaikan untuk mereka dan prasangka buruk terhadap diri mereka sendiri sekiranya belum melaksanakan hak Allah تعالى (dengan sepenuhnya), dan karena ke-khawatiran terhadap keimanan mereka yang akan lenyap, karena pengetahuan mereka tentang Rabb mereka dan keagungan serta penghormatan yang berhak Allah dapatkan (dari hambaNya). Rasa takut dan khawatir mereka berkonsekuensi pada mereka untuk mengekang diri dari dampak perkara yang menakutkan, berupa dosa dan peremehan dalam menjalankan kewajiban-kewajiban.

(58) ﴾ وَٱلَّذِينَ هُم بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka," yaitu jika dibacakan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran)Nya, maka akan menambah keimanan mereka dan (mengajak mereka) berpikir tentang ayat-ayat al-Qur`an dan merenunginya sehingga menjadi jelaslah makna-makna al-Qur`an dan keagungan serta keselarasannya, tiadanya unsur yang saling berselisih dan kontradiktif, dan perkara-perkara yang mengajak orang mengarah ke perenungan, seperti ma'rifa-tullah, rasa takut kepadaNya, menggantungkan harapan kepadaNya serta situasi dan kondisi proses pembalasan amalan. Hal-hal itu menimbulkan perincian (nilai-nilai) keimanan bagi mereka yang tidak bisa diungkapkan dengan bahasa verbal. Mereka memikirkan pula tanda-tanda kebesaranNya yang berada di angkasa, seperti tertuang dalam FirmanNya, ﴾ إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ 190 ﴿ "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih ber-gantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." (Ali Imran: 190).

(59) ﴾ وَٱلَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمۡ لَا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Dan orang-orang yang tidak mem-persekutukan dengan Rabb mereka (sesuatu apa pun)," maksudnya syirik yang sangat jelas, semisal menjadikan selain Allah sebagai sesembahan, yang dia seru dan harapkan (pertolongannya); dan tidak melakukan syirik yang tersembunyi, seperti riya` dan lainnya. Bahkan, mereka beribadah dengan ikhlas karena Allah dalam ucapan-ucapan, tindakan-tindakan, dan seluruh kondisi mereka.

(60) ﴾ وَٱلَّذِينَ يُؤۡتُونَ مَآ ءَاتَواْ ﴿ "Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan," maksudnya mereka memberikan dari diri mereka (dengan suka rela) sesuatu yang mereka diperintahkan untuk menjalankannya yaitu sesuatu yang telah mereka berikan, berupa amalan-amalan yang mereka mampu mengerjakannya, se-perti shalat, (membayar) zakat, haji, sedekah dan lain sebagainya, ﴾ وَّقُلُوبُهُمۡ وَجِلَةٌ ﴿ "dengan hati yang takut," merasa takut ﴾ أَنَّهُمۡ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ رَٰجِعُونَ ﴿ "(karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka," maksudnya mereka merasa takut saat amalan-amalan mereka ditampilkan kepada Allah dan berdiri di hadapanNya, sekiranya amalan mereka tidak bisa menyelamatkan mereka dari siksaan Allah. Hal ini merupakan wujud pengetahuan mereka ten-tang Allah dan hal-hal yang menjadi hak Allah, seperti berbagai macam ibadah.

(61) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan," yaitu dalam kancah perlombaan amalan kebaikan. Obsesi mereka adalah segala yang mendekatkan diri mereka kepada Allah. Minat mereka terforsirkan pada urusan-urusan yang me-nyelamatkan mereka dari siksaanNya. Setiap kebaikan yang telah mereka dengar, dan muncul kesempatan bagi mereka untuk [me-nyusulnya], niscaya mereka memanfaatkannya dan bersegera mengerjakannya. Sungguh, mereka telah memandang para wali Allah dan para kekasihNya di depan mereka di sisi kanan dan sisi kiri (dan ingin menyerupai mereka). Mereka sigap kepada setiap kebaikan, ber-kompetisi meraih kedekatan di sisi Rabb mereka. Mereka (berusaha) mendahului mereka (para wali kekasih Allah). Ketika ada orang yang berhasil mendahului dan lebih cepat daripada yang lain, karena ketekunan dan kesungguhannya, atau kadang tidak dapat mengalahkan (orang lain) lantaran sikap penye-pelean yang muncul darinya, maka Allah تعالى mengabarkan bahwa mereka itu masuk dalam golongan orang-orang yang berlomba. Allah berfirman, ﴾ وَهُمۡ لَهَا ﴿ "dan merekalah kepadanya," kepada kebaikan-kebaikan ﴾ سَٰبِقُونَ ﴿ "bersegera memperolehnya," sungguh mereka telah mencapai titik puncaknya dan saling berlomba dengan generasi awal. Kendatipun demikian, telah berlalu ketetapan kebahagiaan dari Allah bagi mereka, bahwa mereka adalah orang-orang sabiqun (yang bersegera dalam berbuat baik).

(62) Sesudah menyebutkan semangat berlomba dan kece-patan mereka menuju kebaikan, mungkin ada orang berpraduga salah bahwa perkara yang dituntut pada mereka dan orang lain merupakan perkara yang di luar kemampuan atau sulit, maka Allah memberitahukan bahwa, ﴾ وَلَا نُكَلِّفُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ ﴿ "Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya," maksudnya sesuai dengan kemampuan yang bisa dia perbuat, dengan tetap menyisa-kan kekuatannya, tidak menghabiskan seluruh kekuatannya seba-gai (cerminan) rahmat dan hikmahNya untuk memudahkan jalan kepadaNya, dan supaya jalan lurus yang biasa ditempuh para peniti (tetap) ramai di setiap waktu. ﴾ وَلَدَيۡنَا كِتَٰبٞ يَنطِقُ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan di sisi Kami ada suatu kitab yang mem-bicarakan kebenaran," yaitu kitab yang pertama yang memuat segala sesuatu, selaras dengan setiap fakta yang akan terjadi. Oleh karena itu, ia merupakan kebenaran. ﴾ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ﴿ "Dan mereka tidak dianiaya," dengan mengurangi kebaikan mereka atau menambahi hukuman dan pelanggaran mereka.

23:63–71Page 346

بَلۡ قُلُوبُهُمۡ فِي غَمۡرَةٖ مِّنۡ هَٰذَا وَلَهُمۡ أَعۡمَٰلٞ مِّن دُونِ ذَٰلِكَ هُمۡ لَهَا عَٰمِلُونَ ٦٣

But their hearts are covered with confusion over this, and they have [evil] deeds besides that [i.e., disbelief] which they are doing,

حَتَّىٰٓ إِذَآ أَخَذۡنَا مُتۡرَفِيهِم بِٱلۡعَذَابِ إِذَا هُمۡ يَجۡـَٔرُونَ ٦٤

Until when We seize their affluent ones with punishment,1 at once they are crying [to Allāh] for help.

لَا تَجۡـَٔرُواْ ٱلۡيَوۡمَۖ إِنَّكُم مِّنَّا لَا تُنصَرُونَ ٦٥

Do not cry out today. Indeed, by Us you will not be helped.

قَدۡ كَانَتۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ فَكُنتُمۡ عَلَىٰٓ أَعۡقَٰبِكُمۡ تَنكِصُونَ ٦٦

My verses had already been recited to you, but you were turning back on your heels

مُسۡتَكۡبِرِينَ بِهِۦ سَٰمِرٗا تَهۡجُرُونَ ٦٧

In arrogance regarding it,1 conversing by night, speaking evil.

أَفَلَمۡ يَدَّبَّرُواْ ٱلۡقَوۡلَ أَمۡ جَآءَهُم مَّا لَمۡ يَأۡتِ ءَابَآءَهُمُ ٱلۡأَوَّلِينَ ٦٨

Then have they not reflected over the word [i.e., the Qur’ān], or has there come to them that which had not come to their forefathers?

أَمۡ لَمۡ يَعۡرِفُواْ رَسُولَهُمۡ فَهُمۡ لَهُۥ مُنكِرُونَ ٦٩

Or did they not know their Messenger, so they are toward him disacknowledging?

أَمۡ يَقُولُونَ بِهِۦ جِنَّةُۢۚ بَلۡ جَآءَهُم بِٱلۡحَقِّ وَأَكۡثَرُهُمۡ لِلۡحَقِّ كَٰرِهُونَ ٧٠

Or do they say, "In him is madness"? Rather, he brought them the truth, but most of them, to the truth, are averse.

وَلَوِ ٱتَّبَعَ ٱلۡحَقُّ أَهۡوَآءَهُمۡ لَفَسَدَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهِنَّۚ بَلۡ أَتَيۡنَٰهُم بِذِكۡرِهِمۡ فَهُمۡ عَن ذِكۡرِهِم مُّعۡرِضُونَ ٧١

But if the Truth [i.e., Allāh] had followed their inclinations, the heavens and the earth and whoever is in them would have been ruined. Rather, We have brought them their message,1 but they, from their message, are turning away.

"Tetapi hati orang-orang kafir itu dalam kesesatan dari (memahami kenyataan) ini, dan mereka banyak mengerjakan per-buatan-perbuatan (buruk) selain dari itu, mereka tetap mengerja-kannya. Hingga apabila Kami timpakan azab kepada orang-orang yang hidup mewah dari mereka, dengan serta merta mereka me-mekik minta tolong. Janganlah kamu memekik minta tolong pada hari ini. Sesungguhnya kamu tiada akan mendapat pertolongan dari Kami. Sesungguhnya ayat-ayatKu (al-Qur`an) selalu dibacakan kepada kamu sekalian, maka kamu selalu berpaling ke belakang, dengan menyombongkan diri terhadap al-Qur`an itu dan meng-ucapkan perkataan-perkataan keji terhadapnya di waktu kamu bercakap-cakap di malam hari. Maka apakah mereka tidak mem-perhatikan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang me-reka dahulu? Ataukah mereka tidak mengenal rasul mereka, karena itu mereka memungkirinya? Atau (apakah patut) mereka berkata, 'Padanya (Muhammad) ada penyakit gila.' Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran. Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebang-gaan itu." (Al-Mu`minun: 63-71).

(63) Allah تعالى mengabarkan bahwa hati-hati (kaum kafir) yang mendustakan berada dalam kesesatan terhadap hal ini (me-mahami kenyataan). Maksudnya, berada di tengah kegelapan ke-bodohan, kezhaliman, kelalaian dan keberpalingan, yang meng-halangi untuk sanggup mengapai al-Qur`an. Mereka tidak dapat petunjuk dengannya. Tidak ada satu unsur pun dari al-Qur`an yang sampai kepada mereka. Allah berfirman, ﴾ وَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ جَعَلۡنَا بَيۡنَكَ وَبَيۡنَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ حِجَابٗا مَّسۡتُورٗا 45 وَجَعَلۡنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ أَكِنَّةً أَن يَفۡقَهُوهُ وَفِيٓ ءَاذَانِهِمۡ وَقۡرٗاۚ ﴿ "Dan apabila kamu membaca al-Qur`an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup. Dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya." (Al-Isra`: 45-46). Ketika hati-hati mereka berada di dalam kesesatan (untuk memahaminya), maka mereka mengerjakan amalan yang sesuai dengan kondisi mereka, berupa amalan-amalan yang kufur dan penentangan kepada aturan syariat, yang mengharuskan datang-nya hukuman bagi mereka. Akan tetapi ﴾ وَلَهُمۡ أَعۡمَٰلٞ مِّن دُونِ ذَٰلِكَ ﴿ "mereka banyak mengerjakan perbuatan-perbuatan (buruk) selain dari itu," mak-sudnya selain dari tindakan-tindakan ini ﴾ هُمۡ لَهَا عَٰمِلُونَ ﴿ "mereka tetap mengerjakan(nya)," maka janganlah mereka memandang aneh atas tidak turunnya siksa pada diri mereka. Sesungguhnya Allah sedang memberikan kesempatan bagi mereka, agar mereka melakukan amalan-amalan yang masih tersisa, yang sudah menjadi ketentuan takdir mereka. Maka, apabila mereka telah mengerjakan dan me-nuntaskannya, niscaya mereka akan beralih dari kondisi yang ter-jelek menuju kemurkaan dan siksaan Allah.

(64-65) ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَآ أَخَذۡنَا مُتۡرَفِيهِم ﴿ "Hingga apabila Kami timpakan ke-pada orang-orang yang hidup mewah dari mereka," yaitu orang-orang yang bergelimang kenikmatan, yang mereka itu tidaklah terbiasa hidup kecuali hidup dalam kemewahan, manja dan kenikmatan, tidak ada unsur keburukan yang menyergap mereka. Jika Kami telah menyiksa mereka ﴾ بِٱلۡعَذَابِ ﴿ "dengan azab," dan mereka telah merasakan dampak gesekannya ﴾ إِذَا هُمۡ يَجۡـَٔرُونَ ﴿ "dengan serta merta mereka memekik minta tolong," berteriak dan merintih kesakitan. Karena mereka ditimpa masalah yang menyelisihi kebiasaan yang melanda mereka. Mereka pun berteriak minta tolong. Maka diserukan kepada mereka ﴾ لَا تَجۡـَٔرُواْ ٱلۡيَوۡمَۖ إِنَّكُم مِّنَّا لَا تُنصَرُونَ ﴿ "Ja-nganlah kamu memekik minta tolong pada hari ini. Sesungguhnya kamu tiada akan mendapat pertolongan dari Kami." Jika tidak muncul ban-tuan dari Allah dan sudah lenyap pertolongan dari sisiNya, maka mereka tidak akan mampu mengentaskan diri mereka dan tidak ada seorang pun yang bisa menolong mereka.

(66) Seolah-olah ada yang mengatakan kepada mereka, "Apakah yang mendorong kalian sampai kepada kondisi ini?" Allah berfirman, ﴾ قَدۡ كَانَتۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Sungguh ayat-ayatKu (al-Qur`an) selalu dibacakan kepada kalian," supaya kalian mengimani dan me-nyambutnya, akan tetapi kalian tidak mengamalkannya. Bahkan ﴾ فَكُنتُمۡ عَلَىٰٓ أَعۡقَٰبِكُمۡ تَنكِصُونَ ﴿ "kalian selalu berpaling ke belakang," maksud-nya berjalan kembali dengan mundur ke arah belakang. Hal itu, karena dengan mengikuti al-Qur`an, maka mereka akan mengalami kemajuan. Dan berpaling membelakanginya menyebabkan mereka mundur dan merosot ke tempat yang paling rendah.

(67) ﴾ مُسۡتَكۡبِرِينَ بِهِۦ سَٰمِرٗا تَهۡجُرُونَ ﴿ "Dengan menyombongkan diri ter-hadap al-Qur`an itu dan mengucapkan perkataan-perkataan keji terhadap-nya di waktu kamu bercakap-cakap di malam hari." Para ulama tafsir menyatakan, "Maknanya: Mereka bersikap congkak di dalamnya. Kata ganti ketiga ini kembali kepada rumah yang sudah dimaklumi oleh orang-orang yang sedang menjadi lawan pembicaraan, atau tanah Haram. Pengertiannya, mereka menunjukkan kesombongan di tengah manusia karena alasan tersebut. Mereka berdalih: Kami adalah penduduk tanah Haram. Maka kami menjadi orang yang terbaik daripada orang lain dan lebih tinggi kedudukannya. ﴾ سَٰمِرٗا ﴿ "Orang yang bercakap-cakap di malam hari," maksudnya sekumpulan orang ada yang mengadakan pembicaraan di malam hari di sekitar Ka'bah. ﴾ تَهۡجُرُونَ ﴿ "Mengucapkan perkataan-perkataan keji," kalian mengucapkan perkataan yang tak senonoh, maksudnya perkataan buruk tentang al-Qur`an ini. Karakter orang-orang yang mendusta-kan, adalah memalingkan muka darinya, dan saling mengajak untuk melakukannya. ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَا تَسۡمَعُواْ لِهَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ وَٱلۡغَوۡاْ فِيهِ لَعَلَّكُمۡ تَغۡلِبُونَ 26 ﴿ "Dan orang-orang kafir berkata, 'Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan al-Qur`an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadap-nya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka)." (Fushshilat: 26). Allah berfirman tentang mereka, ﴾ أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ 59 وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ 60 وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ 61 ﴿ "Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan-(nya)." (An Najm: 59-61). ﴾ أَمۡ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُۥۚ ﴿ "Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) membuat-buat-nya'." (Ath-Thur: 33). Lantaran mereka itu sarat dengan keburukan-keburukan ini, maka tidak diragukan lagi, tentulah hukuman akan menimpa mereka. Ketika mereka telah terjatuh di dalamnya, maka tidak ada seorang penolong pun yang dapat membantu mereka dan tidak ada penyelamat yang menyelamatkan mereka. Dan mereka menjadi bahan olokan atas tingkah laku mereka yang murahan ini.

(68) ﴾ أَفَلَمۡ يَدَّبَّرُواْ ٱلۡقَوۡلَ ﴿ "Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami)," maksudnya, tidakkah mereka memikirkan al-Qur`an, mencermati dan merenunginya. Maksudnya, bila mereka mau merenunginya, niscaya akan mendatangkan keimanan bagi mereka dan menahan mereka dari kekufuran. Akan tetapi, musibah itulah yang menimpa mereka, karena sikap penyimpangan me-reka darinya. Ini mengindikasikan bahwa tadabbur al-Qur`an akan mengajak kepada kebaikan dan memelihara dari segala kejahatan. Alasan yang menghalangi mereka untuk bertadabur al-Qur`an, adalah keberadaan gembok-gembok (yang mengunci) pada hati mereka. ﴾ أَمۡ جَآءَهُم مَّا لَمۡ يَأۡتِ ءَابَآءَهُمُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Ataukah telah datang kepada mereka sesuatu yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu," maksudnya apakah faktor yang menghalangi mereka untuk ber-iman kepada al-Qur`an, sebab ada rasul dan kitab yang datang ke-pada mereka, yang tidak mendatangi para nenek moyang mereka. Hingga mereka lebih suka mengikuti jalan nenek moyang mereka yang sesat dan menolak segala yang bertentangan dengannya. Oleh karena itu, mereka dan orang-orang yang serupa dengan mereka dari kalangan orang-orang kafir berkata sebagaimana telah diberi-tahukan oleh Allah tentang mereka, ﴾ وَكَذَٰلِكَ مَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ فِي قَرۡيَةٖ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتۡرَفُوهَآ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّقۡتَدُونَ 23 ﴿ "Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan (pasti) orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, 'Sesungguhnya kami men-dapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami mengikuti jejak-jejak mereka'." (Az-Zukhruf: 23). Maka sang rasul menyanggah mereka dengan berkata, ﴾ قَٰلَ أَوَلَوۡ جِئۡتُكُم بِأَهۡدَىٰ مِمَّا وَجَدتُّمۡ عَلَيۡهِ ءَابَآءَكُمۡۖ ﴿ "(Rasul itu) berkata, 'Apakah (kamu akan mengikuti juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?" (Az-Zukhruf: 24). Tidakkah kalian mau mengikutinya, kalau memang motivasi kalian adalah kebenaran? Selanjutnya, mereka menjawab dengan jawaban yang membuka kedok watak mereka, ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّا بِمَآ أُرۡسِلۡتُم بِهِۦ كَٰفِرُونَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya'." (Az-Zukhruf: 24).

(69) Firman Allah, ﴾ أَمۡ لَمۡ يَعۡرِفُواْ رَسُولَهُمۡ فَهُمۡ لَهُۥ مُنكِرُونَ ﴿ "Ataukah me-reka tidak mengenal rasul mereka, karena itu mereka memungkirinya?" Maksudnya ataukah alasan yang merintangi mereka untuk meng-ikuti kebenaran bahwa Rasul mereka, Muhammad, adalah karena ia bukan sosok yang populer di kalangan mereka? Mereka meng-ingkari beliau sembari berkata, "Kami tidak mengenalnya, tidak mengetahui tingkat kejujurannya. Biarkan kami dulu begini [sam-pai] melihat keadaan dan menanyakannya kepada orang yang mengenalnya. Padahal tidak demikian adanya. Mereka mengenal Rasulullah dengan sebenar-benarnya, baik anak-anak kecil maupun orang dewasa. Mereka mengetahui setiap budi pekerti luhur dari beliau. Mereka mengetahui tingkat kejujuran dan amanah beliau. Sampai mereka menjuluki beliau sebelum masa kenabian dengan gelar al-amin (yang terpercaya).[10] Lalu mengapa mereka tidak mem-benarkannya ketika membawa kebenaran dan kejujuran yang nyata?

(70) ﴾ أَمۡ يَقُولُونَ بِهِۦ جِنَّةُۢۚ ﴿ "Atau (apakah patut) mereka berkata, 'Pada-nya (Muhammad) ada penyakit gila'," maksudnya kegilaan, sehingga mengatakan hal demikian. Omongan orang gila tidak bisa didengar-kan dan perkataannya tidak bisa dijadikan pedoman. Karena ia mengigau dengan ucapan yang batil dan omongan yang tolol. Allah berfirman dalam rangka membantah omongan mereka, ﴾ بَلۡ جَآءَهُم بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka," dengan perkara yang teguh, yang merupakan murni kejujuran, keadilan, tanpa ada unsur perbedaan dan kontradiktif. Bagaimana bisa orang yang mengembannya sedang kerasukan jin? Bukankah dia tidak berada melainkan (pasti) pada level kesempurnaan tertinggi, dari sudut ilmu, kematangan akal dan budi pekerti yang luhur? Sesung-guhnya di sini terdapat pengalihan pembicaraan dari fokus sebe-lumnya. Yaitu, sebenarnya, faktor yang menahan langkah mereka untuk beriman, bahwasanya, ﴾ جَآءَهُم بِٱلۡحَقِّ وَأَكۡثَرُهُمۡ لِلۡحَقِّ كَٰرِهُونَ ﴿ "telah datang kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran," yaitu kebenaran paling agung yang mendatangi mereka, kemurnian ibadah bagi Allah semata dan meninggalkan sesembahan selain Allah. Sungguh, Allah telah mengetahui kebencian mereka pada perkara ini dan pandangan antipati mereka kepadanya. Kenyataan bahwa Rasulullah membawa kebenaran, sementara mereka pada dasarnya membenci kebenaran tersebut, itulah faktor yang membuat mereka mendustakan kebenaran. Bukan lantaran keragu-raguan ataupun pendustaan terhadap Rasulullah. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ فَإِنَّهُمۡ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَٰكِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ يَجۡحَدُونَ 33 ﴿ "Karena sebenarnya mereka tidak mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zhalim itu mengingkari ayat-ayat Allah." (Al-An'am: 33).

(71) Jika ada lontaran pertanyaan, "Kenapa kebenaran itu tidak selaras saja dengan apa yang mereka inginkan, agar mereka mau beriman atau cepat tunduk patuh?" Maka Allah تعالى menjawab dengan berfirman, ﴾ وَلَوِ ٱتَّبَعَ ٱلۡحَقُّ أَهۡوَآءَهُمۡ لَفَسَدَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ ﴿ "Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini." Sisi penjelasannya bahwa hawa nafsu mereka berhubung-an dengan moral dan tindak-tanduk yang mengandung unsur ke-zhaliman, kekufuran dan kerusakan. Seandainya kebenaran menu-ruti hawa nafsu mereka, niscaya langit dan bumi akan mengalami kerusakan, karena kerusakan penanganan dan sistem pengaturan yang berasaskan kezhaliman dan ketidakadilan. Langit dan bumi tidak akan tegak berdiri kecuali dengan kebenaran dan keadilan. ﴾ بَلۡ أَتَيۡنَٰهُم بِذِكۡرِهِمۡ ﴿ "Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka," yaitu dengan al-Qur`an ini yang meng-ingatkan mereka kepada setiap kebaikan, yang menjadi sumber kebanggaan dan prestise mereka ketika mereka melaksanakannya, dan dengan al-Qur`an pula, mereka akan menjadi tokoh-tokoh besar di tengah manusia. ﴾ فَهُمۡ عَن ذِكۡرِهِم مُّعۡرِضُونَ ﴿ "Tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu," sebagai ketetapan kebinasaan dan ketiadaan taufik (Allah) pada mereka. ﴾ نَسُواْ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمۡ أَنفُسَهُمۡۚ ﴿ "Mereka lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri." (Al-Hasyr: 19). Al-Qur`an dan orang yang membawanya merupakan kenik-matan agung yang Allah sodorkan kepada mereka. Mereka tidak meresponnya melainkan dengan penolakan dan sikap berpaling. Apakah ada keterpasungan dari pahala yang lebih fatal darinya? Tidaklah hal itu berakibat kecuali kerugian yang parah?

Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences

Contents

Ayat al-Kursi36Al-Kahfpage 42juz 15Bukhari 1Muslim 2999

Style

Theme
Text size
Layout

Читать на русском