As-Sa'diAn‑Nur · 24:11–30

As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian

An-Nur 24:11–30

24:11–26Page 351

إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ مِنۡهُمۡ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ ١١

Indeed, those who came with falsehood1 are a group among you. Do not think it bad for you; rather, it is good for you. For every person among them is what [punishment] he has earned from the sin, and he who took upon himself the greater portion thereof2 - for him is a great punishment [i.e., Hellfire].

لَّوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ظَنَّ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمۡ خَيۡرٗا وَقَالُواْ هَٰذَآ إِفۡكٞ مُّبِينٞ ١٢

Why, when you heard it, did not the believing men and believing women think good of themselves [i.e., one another] and say, "This is an obvious falsehood"?

لَّوۡلَا جَآءُو عَلَيۡهِ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَۚ فَإِذۡ لَمۡ يَأۡتُواْ بِٱلشُّهَدَآءِ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ١٣

Why did they [who slandered] not produce for it four witnesses? And when they do not produce the witnesses, then it is they, in the sight of Allāh, who are the liars.

وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ لَمَسَّكُمۡ فِي مَآ أَفَضۡتُمۡ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ١٤

And if it had not been for the favor of Allāh upon you and His mercy in this world and the Hereafter, you would have been touched for that [lie] in which you were involved by a great punishment

إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ١٥

When you received it with your tongues1 and said with your mouths that of which you had no knowledge and thought it was insignificant while it was, in the sight of Allāh, tremendous.

وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ قُلۡتُم مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبۡحَٰنَكَ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ عَظِيمٞ ١٦

And why, when you heard it, did you not say, "It is not for us to speak of this. Exalted are You, [O Allāh]; this is a great slander"?

يَعِظُكُمُ ٱللَّهُ أَن تَعُودُواْ لِمِثۡلِهِۦٓ أَبَدًا إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ١٧

Allāh warns you against returning to the likes of this [conduct], ever, if you should be believers.

وَيُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۚ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ١٨

And Allāh makes clear to you the verses [i.e., His rulings], and Allāh is Knowing and Wise.

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ١٩

Indeed, those who like that immorality1 should be spread [or publicized] among those who have believed will have a painful punishment in this world and the Hereafter. And Allāh knows2 and you do not know.

وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ وَأَنَّ ٱللَّهَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ٢٠

And if it had not been for the favor of Allāh upon you and His mercy...1 and because Allāh is Kind and Merciful.

۞ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۚ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ٢١

O you who have believed, do not follow the footsteps of Satan. And whoever follows the footsteps of Satan - indeed, he enjoins immorality and wrongdoing. And if not for the favor of Allāh upon you and His mercy, not one of you would have been pure, ever, but Allāh purifies whom He wills, and Allāh is Hearing and Knowing.

وَلَا يَأۡتَلِ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ٢٢

And let not those of virtue among you and wealth swear not to give [aid] to their relatives and the needy and the emigrants for the cause of Allāh, and let them pardon and overlook. Would you not like that Allāh should forgive you? And Allāh is Forgiving and Merciful.

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ٱلۡغَٰفِلَٰتِ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ لُعِنُواْ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ٢٣

Indeed, those who [falsely] accuse chaste, unaware and believing women are cursed in this world and the Hereafter; and they will have a great punishment

يَوۡمَ تَشۡهَدُ عَلَيۡهِمۡ أَلۡسِنَتُهُمۡ وَأَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٢٤

On a Day when their tongues, their hands and their feet will bear witness against them as to what they used to do.

يَوۡمَئِذٖ يُوَفِّيهِمُ ٱللَّهُ دِينَهُمُ ٱلۡحَقَّ وَيَعۡلَمُونَ أَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ٱلۡمُبِينُ ٢٥

That Day, Allāh will pay them in full their true [i.e., deserved] recompense, and they will know that it is Allāh who is the manifest Truth [i.e., perfect in justice].

ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِيثَٰتِۖ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِۚ أُوْلَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَۖ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ٢٦

Evil words are for evil men, and evil men are [subjected] to evil words. And good words are for good men, and good men are [an object] of good words.1 Those [good people] are declared innocent of what they [i.e., slanderers] say. For them is forgiveness and noble provision.

"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu mendapat-kan azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, 'Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.' Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal ia pada sisi Allah adalah besar. Dan me-ngapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha-suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.' Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti lang-kah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan per-buatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa me-reka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Se-sungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka mendapat-kan laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenar-nya). Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang di-tuduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Mereka mendapatkan ampunan dan rizki yang mulia (surga)." (An-Nur: 11-26).

(11) Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu," yaitu kedustaan yang keji, berupa tuduhan kepada Ummul Mukminin, ﴾ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ ﴿ "adalah dari golongan kamu juga," maksudnya sekelompok orang yang menisbat-kan diri kepada kalian, wahai kaum Mukminin. Di antara mereka, ada seorang Mukmin yang sejati dalam keimanannya, akan tetapi termakan oleh isu yang dihembuskan oleh orang-orang munafik. Sebagian lagi adalah orang-orang munafik. ﴾ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ ﴿ "Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu," karena mengandung (keterangan) tentang rehabilitasi nama Ummul Mukminin dari tuduhan keji, kesucian pribadi dan pengangkatan citranya. Pujian yang umum ini pun mencakup juga seluruh istri Nabi. (Kejadian ini baik buat kalian) lantaran memuat (juga) penge-tengahan ayat-ayat yang sangat dibutuhkan oleh para hamba, yang akan terus berlaku sampai Hari Kiamat. Ini semua merupakan kebaikan yang sungguh besar, seandai-nya tidak ada isu komentar yang dilontarkan penyulut berita dusta ini, niscaya kebaikan-kebaikan itu tidak teraih. Bilamana Allah menghendaki suatu perkara, maka Dia akan menciptakan sebab kausalitas ke arahnya. Oleh karena itu, Allah menjadikan arah pembicaraan bersifat umum bagi seluruh kaum Mukminin. Allah mengabarkan bahwa celaan kepada sebagian kaum Mukminin hakikatnya seperti mencela dirinya sendiri. Dalam ayat ini, terdapat keterangan bahwasanya kaum Muk-minin dalam kecintaan, kasih sayang, kelembutan dan kebersama-an mereka sesuai dengan kemaslahatan mereka ibarat jasad yang satu, dan seorang Mukmin dengan orang Mukmin lainnya, bak bangunan yang saling menguatkan. Sebagaimana seseorang tidak suka menodai kehormatannya sendiri, maka hendaknya dia tidak menyukai siapa pun melukai kehormatan saudaranya yang Mukmin yang sudah seperti dirinya sendiri. Bila ternyata seorang hamba belum sampai kepada keadaan ini, maka sesungguhnya itu terjadi karena imannya kurang dan tidak mau bersikap baik terhadap dirinya. ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ ﴿ "Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya." Ini adalah ancaman bagi orang-orang yang telah membawa cerita dusta, bahwa mereka akan dihu-kum sesuai dengan materi yang telah mereka katakan. Nabi telah menjatuhkan hukum had kepada sebagian mereka. ﴾ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ ﴿ "Dan siapa (di antara mereka) yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu," yakni penyulut berita dusta, seorang munafik yang keji, 'Abdullah bin Ubay bin Salul, semoga laknat Allah tertuju kepadanya, ﴾ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "baginya azab yang besar." Ketahuilah, azabnya adalah kekal abadi di neraka yang paling bawah.

(12) Kemudian Allah memberikan petunjuk kepada para hambaNya bila mendengar perkataan seperti ini. FirmanNya, ﴾ لَّوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ظَنَّ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمۡ خَيۡرٗا ﴿ "Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri," maksudnya kaum Mukminin me-nyangka sebagian mereka dengan prasangka yang baik, yaitu bebas dari tuduhan mereka. Sesungguhnya keimanan yang mereka punya akan menyingkirkan tuduhan dusta yang batil tentang mereka. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka mengatakan," karena prasangka tersebut, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau," yakni untuk menyucikanMu dari segala keje-lekan serta menyucikanMu dari penetapan ujian kepada hamba-hambaMu yang setia dengan segala perbuatan yang keji. ﴾ هَٰذَآ إِفۡكٞ مُّبِينٞ ﴿ "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata," maksudnya dusta dan kebohongan termasuk perkara yang paling besar dan paling jelas. Ini adalah prasangka yang wajib dilakukan tatkala seorang Mukmin mendengar saudaranya seiman tertimpa tuduhan sema-cam ini, menjauhkannya dari lisannya dan mendustakan orang yang telah melontarkan itu.

(13) ﴾ لَّوۡلَا جَآءُو عَلَيۡهِ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَۚ ﴿ "Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu?" maksudnya, mengapa orang-orang yang telah menuduh tidak mendatangkan empat orang saksi, yaitu saksi-saksi yang adil lagi dipercaya. ﴾ فَإِذۡ لَمۡ يَأۡتُواْ بِٱلشُّهَدَآءِ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," walaupun mereka itu yakin dengan hal tersebut, namun sesungguhnya mereka termasuk telah mendusta-kan hukum Allah. Karena Allah telah melarang mereka untuk mengatakan yang demikian tanpa ada empat saksi. Karena itu, Allah mengatakan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," dan Allah tidak mengatakan, "Me-reka adalah para pendusta." Ini semua adalah untuk memuliakan kehormatan seorang Muslim, lantaran tidak boleh lancang untuk menuduh tanpa membawa saksi yang jujur.

(14) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat," di mana kebaikan Allah telah melingkupi kalian di dunia dan akhirat pada urusan agama dan dunia kalian ﴾ لَمَسَّكُمۡ فِي مَآ أَفَضۡتُمۡ ﴿ "niscaya kamu ditimpa karena pembicaraan kamu," maksudnya karena kalian larut (dalam pembicaraan itu) ﴾ فِيهِ ﴿ "di dalamnya," berkaitan de-ngan berita bohong itu ﴾ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿ "azab yang besar," kalian pantas mendapatkannya disebabkan ucapan yang telah kalian katakan. Akan tetapi, karena karunia Allah dan rahmatNya atas kalian, maka Dia mensyariatkan taubat atas kalian dan menjadikan hukuman sebagai pembersih dosa kalian.

(15) ﴾ إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ ﴿ "(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut," maksudnya kalian menerima, meng-gunjingkannya antara kalian dan menggencarkan pembicaraan itu, padahal merupakan perkataan yang batil. ﴾ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit pun juga." Dua perkara ini terlarang; pembicaraan yang batil dan berkata tanpa dasar ilmu. ﴾ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا ﴿ "Dan kamu menganggap-nya suatu yang ringan saja." Oleh sebab itu, orang yang lancang telah berani melakukannya dari kalangan kaum Mukminin yang telah bertaubat darinya, dan mereka membersihkan diri setelahnya. ﴾ وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ﴿ "Padahal ia pada sisi Allah adalah besar." Ini mengan-dung peringatan yang keras tentang membiasakan berbuat seba-gian dosa dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele. Sesungguhnya, persepsi seorang hamba tidak memberikan man-faat baginya sama sekali dan tidak (pula) meringankan hukuman dosanya, bahkan akan melipatgandakan dosanya dan dimudahkan untuk tergelincir melakukannya lagi.

(16) ﴾ وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak pada waktu men-dengar berita bohong itu," maksudnya, tidakkah kalian, wahai kaum Mukminin ketika mendengar berita bohong itu ﴾ قُلۡتُم ﴿ "kalian kata-kan," untuk mengingkari hal itu dan menganggapnya sebagai persoalan yang besar, ﴾ مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا ﴿ "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita mengatakan ini," maksudnya, tidak patut dan tidak layak bagi kami untuk mengucapkan perkataan yang sangat jelas kedusta-annya ini. Karena seorang Mukmin, keimanannya akan mencegah dirinya untuk melakukan kenistaan-kenistaan ini. ﴾ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ ﴿ "Ini adalah dusta," kebohongan ﴾ عَظِيمٞ ﴿ "yang besar."

(17) ﴾ يَعِظُكُمُ ٱللَّهُ أَن تَعُودُواْ لِمِثۡلِهِۦٓ ﴿ "Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali melakukan yang seperti itu," yaitu perbuatan serupa, seperti menuduh kaum Mukminin dengan perbuatan jahat. Allah menasihati dan memperingatkan kalian dari perkara itu. Sebaik-baik nasihat dan peringatan adalah dari Rabb kita. Maka wajib atas kita untuk meresponnya dengan penuh penerimaan, tulus, tunduk, pasrah dan rasa syukur atas keterangan yang sudah dijelaskan kepada kita. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik Dzat yang memberi nasihat kepada kalian ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "jika kalian orang-orang yang beriman." Ini mengindikasikan bahwa keimanan yang benar akan menghalangi pemiliknya dari melakukan perbuatan haram.

(18) ﴾ وَيُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۚ ﴿ "Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu," yang mencakup keterangan hukum-hukum, nasihat, ancaman, anjuran dan peringatan, dan menjelaskan kepada kalian dengan sejelas-jelasnya ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi (Mahabijaksana)[15]," maksudnya, ilmuNya sempurna dan sifat hikmahNya merata. Di antara (cerminan) ilmu dan hikmahNya, bahwa Allah mengajarkan kalian sebagian ilmuNya, walaupun hal ini, kembali pada maslahat yang akan kalian rasakan pada setiap waktu.

(19) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar," yaitu perkara yang keji lagi buruk, lalu mereka menyukai kejelekan lebih menyebar ﴾ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "di kalangan orang-orang yang beriman, maka mereka mendapatkan azab yang pedih," yaitu, azab yang memedihkan hati dan badan, lantaran tipuan mereka terhadap saudaranya sesama kaum Muslimin, gembira dengan keburukan yang menimpa mereka dan lancang menodai kehormatan mereka. Bilamana ancaman ini ditujukan hanya atas perasaan senang agar kekejian tersebar dan menikmatinya dengan hati mereka, lalu bagaimana (hukumannya) atas perbuatan yang lebih parah dari itu, dengan memunculkan dan menyebarkannya? Sama saja, apa-kah kekejian itu terjadi ataupun tidak terjadi. Semua ini berasal dari rahmat Allah untuk para hambaNya yang beriman, menjaga kehormatan-kehormatan mereka, sebagaimana Allah telah menjaga harta dan darah mereka, menyuruh mereka untuk menjalin soli-daritas, agar salah seorang di antara mereka mencintai kebaikan untuk saudaranya yang dia sukai bagi dirinya, serta membenci keburukan untuk saudaranya yang dia benci buat dirinya. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." Oleh karena itu, Allah memberitahu kalian dan menerangkan ke-pada kalian dengan apa yang tidak kalian ketahui.

(20) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Dan sekiranya tidaklah karena karu-nia Allah kepada kamu semua," yang telah melingkupi kalian dari segala sisi ﴾ وَرَحۡمَتُهُۥ ﴿ "dan rahmatNya," atas kalian ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang," niscaya Allah tidak menerangkan hukum-hukum, nasihat-nasihat, hikmah-hikmah yang berharga, dan niscaya Dia tidak akan memberikan kesem-patan bagi orang-orang yang menyelisihi perintahNya, akan tetapi (semuanya) karena karunia dan rahmat Allah. Inilah sifat yang melekat pada Allah yang membuahkan kebaikan dunia dan akhirat bagi kalian yang tidak dapat kalian hitung dan kalian membilang-nya.

(21) Setelah melarang dosa ini secara khusus, Allah juga melarang (kalian) dari dosa secara umum. Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan," maksudnya jalan-jalan dan godaan-godaannya. Langkah-langkah setan ini mencakup seluruh perbuatan maksiat yang berhubungan dengan hati, lisan, dan badan. Di antara hikmah Allah تعالى, dalam menerangkan hukum ini –yakni larangan untuk mengikuti langkah-langkah setan– adalah, penjelasan mengenai kejelekan yang ditimbulkan dan motivator untuk meninggalkan larangan itu. Allah berfirman, ﴾ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ ﴿ "Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia," yaitu setan ﴾ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ ﴿ "menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji," yaitu segala perbuatan yang dianggap jelek oleh akal dan syariat berupa dosa-dosa besar disertai adanya kecon-dongan hati kepadanya ﴾ وَٱلۡمُنكَرِۚ ﴿ "dan yang mungkar" yaitu segala yang diingkari oleh akal dan tidak dikenal (sebagai perbuatan baik). Jadi, perbuatan-perbuatan maksiat yang merupakan langkah-langkah setan, tidak keluar dari bingkai ini. Maka Allah melarang hambaNya dari hal tersebut sebagai wujud kenikmatanNya atas mereka, supaya bersyukur dan mengingatNya. Karena yang demi-kian merupakan tameng penjagaan bagi mereka dari noda, kenis-taan, dan kejelekan-kejelekan mereka. Dan termasuk dari kebaikan Allah atas mereka, adalah melarang mereka dari semua itu seba-gaimana Allah melarang mereka dari (makan) racun-racun pem-bunuh dan semacamnya. ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا ﴿ "Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak se-orang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya," maksudnya tidak ada seorang pun yang bersih (selamat) dari mengikuti langkah-langkah setan. Karena setan ber-sama tentaranya itu akan selalu berupaya untuk menyeru kepada-nya dan memolesnya menjadi indah. Sementara itu, jiwa selalu cenderung kepada keburukan dan menyeru kepadanya. Keku-rangan terus menguasai diri seorang hamba dari segala penjuru, sementara iman tidak kuat. Bila ia dibiarkan terpengaruh oleh faktor-faktor itu, niscaya tidak ada seorang pun yang suci dengan membersihkan diri dari dosa-dosa dan kejelekan-kejelekannya serta (tidak mampu) meningkatkan amal kebaikannya. Sesungguhnya penyucian diri itu memuat unsur pembersihan dan peningkatan diri. Akan tetapi, karunia dan rahmatNya-lah yang menjadikan seseorang menyucikan dirinya. Termasuk doa nabi, اَللّٰهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا، أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. "Ya Allah, berikanlah kepada diriku ketakwaan, dan sucikanlah ia, karena Engkau-lah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkau adalah pe-nolong dan penguasanya."[16] Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya," yaitu orang yang Allah ketahui akan membersihkan diri dengan menyucikan jiwanya. Oleh sebab itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

(22) ﴾ وَلَا يَأۡتَلِ ﴿ "Dan janganlah bersumpah," maksudnya me-ngeluarkan sumpah ﴾ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ ﴿ "orang-orang yang mempunyai kelebihan dan ke-lapangan di antara kamu bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada." Di antara orang yang larut dalam berita dusta ini adalah Misthah bin Utsasah, dia masih kerabat Abu Bakar ash-Shiddiq. Misthah seorang yang fakir dari golongan Muhajirin di jalan Allah. Abu Bakar bersumpah untuk tidak memberikan nafkah lagi kepada Misthah, karena ia telah mengatakan kabar dusta. Maka turunlah ayat ini, [Allah melarangnya] dari sumpah (yang mengandung substansi) menghentikan pemberian nafkah baginya, menganjurkan Abu Bakar untuk memaafkan dan berlapang dada dan menjanjikan kepadanya ampunan bila ia berkenan mema-afkannya. Lalu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Bila kalian memperlakukan ham-baNya dengan sikap maaf dan lapang dada, niscaya Allah akan memperlakukan kalian seperti itu. Mendengar ayat ini, Abu Bakar berkata, "Ya, demi Allah, sungguh aku benar-benar senang bila Allah mengampuniku." Selanjutnya, Abu Bakar kembali memberi-kan nafkah kepada Misthah. Dalam ayat ini, termuat dalil tentang pemberian nafkah ke-pada kerabat, dan bahwa pemberian nafkah dan curahan kebaikan (dari seseorang) tidak boleh diputus disebabkan perbuatan maksiat yang dia lakukan, serta anjuran untuk memberikan maaf dan ber-lapang dada, walaupun para pelaku kejelekan tersebut (masih terus) melakukan kejelekannya.

(23) Kemudian Allah menyebutkan ancaman yang keras atas tindakan penuduhan kepada para wanita Mukminah yang menjaga kehormatannya (dari zina). Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik," maksudnya wanita-wanita yang menjaga kehormatannya dari perbuatan maksiat (zina) ﴾ ٱلۡغَٰفِلَٰتِ ﴿ "yang lengah," yang tidak terlintas dalam hati mereka ﴾ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ لُعِنُواْ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "lagi beriman (berbuat zina) mereka mendapat laknat di dunia dan akhirat," laknat tidak jatuh kecuali pada perbuatan dosa besar. Kemudian, Allah menegaskan jatuhnya laknat dengan (memberitahukan) bahwa laknat tersebut berlangsung kontinyu pada mereka di dunia dan akhirat, ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "dan mereka mendapatkan azab yang besar." Ini sebagai tambahan atas laknat. Allah menjauhkan mereka dari rahmatNya dan menurunkan dahsyatnya hukumanNya kepada mereka. Inilah azab yang terjadi pada Hari Kiamat.

(24) ﴾ يَوۡمَ تَشۡهَدُ عَلَيۡهِمۡ أَلۡسِنَتُهُمۡ وَأَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap amal yang dahulu mereka kerjakan," maksudnya setiap anggota badan bersaksi atas amal yang telah dilakukannya. Dzat yang membuat-nya berbicara adalah Dzat yang memberikan kemampuan komuni-kasi kepada segala sesuatu (yaitu Allah), sehingga tidak mungkin ia dapat mengingkarinya. Allah telah berbuat adil kepada hamba-Nya dengan menjadikan saksi dari diri mereka sendiri.

(25) ﴾ يَوۡمَئِذٖ يُوَفِّيهِمُ ٱللَّهُ دِينَهُمُ ٱلۡحَقَّ ﴿ "Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya," maksudnya Allah memberi balasan atas perbuatan mereka dengan penuh keadilan dan tidak berat sebelah. Mereka mendapatkan balasan yang penuh, sedikit pun tidak ada yang dirasa hilang oleh mereka. ﴾ وَيَقُولُونَ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا 49 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia (pasti) mencatat semuanya,' dan mereka mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun." (Al-Kahfi: 49). ﴾ وَيَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan tahulah mereka," di tempat yang dahsyat itu ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "bahwa Allah-lah yang benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)," mereka mengetahui bahwa kebenaran yang nyata terbatas pada Allah تعالى saja, sifat-sifatNya yang agung adalah benar, perbuatan-perbuatanNya merupakan kebenaran, peribadahan kepadaNya adalah kebenaran, pertemuan denganNya (juga) benar, [janjiNya] dan ancamanNya adalah benar, hukum agama dan ketetapan balasanNya benar, RasulNya adalah benar, dan tidaklah di sana ada kebenaran melainkan pada Dzat Allah dan segala sesuatu yang datang dariNya.

(26) ﴾ ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِيثَٰتِۖ ﴿ "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wa-nita-wanita yang keji (pula)," maksudnya, setiap yang keji dari kaum lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan bersesuaian, sejalan dan serupa dengan yang keji. Dan setiap yang baik, dari kalangan lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan selaras, bertalian dan menyerupai de-ngan kebaikan. Ini adalah ungkapan umum, dan pembingkaian yang tidak ada sesuatu pun yang keluar darinya. Dan komponen-nya yang paling agung adalah bahwa para nabi, (khususnya dari kalangan ulul 'azmi, terutama penghulu mereka, Nabi Muhammad, yang merupakan sebaik-baik insan secara mutlak) mereka tidak sederajat kecuali dengan wanita-wanita yang baik. Jadi, mencoreng kehormatan Aisyah dengan tuduhan ini (perzinaan) berarti telah mencoreng Nabi. Sebenarnya, beliaulah yang dibidik oleh orang-orang munafik dengan dusta mereka. Dengan status Aisyah sebagai istri Rasulullah semata sudah dapat diketahui bahwa Aisyah adalah wanita yang baik lagi bersih dari perkara nista itu. Bagaimana mungkin (fitnah) itu terjadi sedangkan dia adalah wanita yang paling besar kepercayaannya (kepada Nabi), paling utama, paling berilmu dan terbaik, seorang kekasih bagi utusan Allah yang tidak pernah terjadi wahyu ditu-runkan kepada beliau ketika berada dalam selimut bersama para istri-istri selain dia?![17] Kemudian Allah menegaskan hal ini, di mana tidak menyisa-kan komentar lagi bagi para penolak, dan tidak ada ruang untuk ragu-ragu dan syubhat. Allah berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَۖ ﴿ "Me-reka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu)," pada asalnya, isyarat ini mengarah kepada Aisyah, sedangkan para wanita Mukminah yang baik-baik, yang tidak pernah berpikir untuk berbuat tak senonoh ikut masuk ke dalam konteksnya yaitu mendapatkan ﴾ مَّغۡفِرَةٞ ﴿ "ampunan," yang meng-hapuskan semua dosa ﴾ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ﴿ "dan rizki yang mulia," di surga, yang berasal dari Rabb Yang Mahamulia.

24:27–29Page 352

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَدۡخُلُواْ بُيُوتًا غَيۡرَ بُيُوتِكُمۡ حَتَّىٰ تَسۡتَأۡنِسُواْ وَتُسَلِّمُواْ عَلَىٰٓ أَهۡلِهَاۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ٢٧

O you who have believed, do not enter houses other than your own houses until you ascertain welcome and greet1 their inhabitants. That is best for you; perhaps you will be reminded [i.e., advised].

فَإِن لَّمۡ تَجِدُواْ فِيهَآ أَحَدٗا فَلَا تَدۡخُلُوهَا حَتَّىٰ يُؤۡذَنَ لَكُمۡۖ وَإِن قِيلَ لَكُمُ ٱرۡجِعُواْ فَٱرۡجِعُواْۖ هُوَ أَزۡكَىٰ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ عَلِيمٞ ٢٨

And if you do not find anyone therein, do not enter them until permission has been given you. And if it is said to you, "Go back,"1 then go back; it is purer for you. And Allāh is Knowing of what you do.

لَّيۡسَ عَلَيۡكُمۡ جُنَاحٌ أَن تَدۡخُلُواْ بُيُوتًا غَيۡرَ مَسۡكُونَةٖ فِيهَا مَتَٰعٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ وَمَا تَكۡتُمُونَ ٢٩

There is no blame upon you for entering houses not inhabited in which there is convenience1 for you. And Allāh knows what you reveal and what you conceal.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sehingga meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sehingga kamu men-dapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu, 'Kembali (saja)lah,' maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Tidak ada dosa atas-mu memasuki rumah yang disediakan tidak untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan." (An-Nur: 27-29).

(27) Allah mengarahkan para hambaNya yang Mukmin untuk tidak memasuki rumah orang lain tanpa izin, karena hal ini menyebabkan beberapa bahaya: Pertama, hadits yang disebutkan oleh Rasulullah, إِنَّمَا جُعِلَ الْاِسْتِئْذَانُ مِنْ أَجْلِ الْبَصَرِ. "Sesungguhnya diberlakukannya meminta izin (bagi kalian) untuk alasan (penjagaan) pandangan."[18] Lantaran meremehkan perkara ini, pandangan mata menge-nai aurat-aurat (hal-hal yang tidak patut diketahui) dalam rumah. Sesungguhnya rumah itu bagi seorang manusia dalam menjaga auratnya, seperti kedudukan baju dalam menjaga aurat tubuhnya. Kedua, orang yang masuk tanpa izin akan memunculkan kecurigaan, ia akan disangka buruk sebagai pencuri dan lainnya. Karena masuk dengan sembunyi-sembunyi menunjukkan kejelekan. Allah melarang kaum Mukminin untuk memasuki selain rumah mereka ﴾ حَتَّىٰ تَسۡتَأۡنِسُواْ ﴿ "sehingga kalian meminta izin." Meminta izin (untuk masuk) dinamakan isti`nas karena, melalui izin akan meng-hasilkan keramahan, sedangkan ketiadaannya akan mengakibatkan kekakuan. ﴾ وَتُسَلِّمُواْ عَلَىٰٓ أَهۡلِهَاۚ ﴿ "Dan memberi salam kepada penghuninya," mekanismenya sebagaimana yang tertuang dalam salah satu hadits, اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ، أَأَدْخُلُ؟ "Assalamu alaikum, apakah saya boleh masuk?"[19] ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Yang demikian itu," izin yang telah disinggung ﴾ خَيۡرٞ لَّكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ﴿ "lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat," karena me-ngandung beberapa maslahat, termasuk budi pekerti mulia yang wajib dilakukan. Bila diizinkan, maka orang yang meminta izin itu boleh masuk ke dalam.

(28) ﴾ فَإِن لَّمۡ تَجِدُواْ فِيهَآ أَحَدٗا ﴿ "Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya," maka janganlah kalian masuk ke dalamnya ﴾ حَتَّىٰ يُؤۡذَنَ لَكُمۡۖ وَإِن قِيلَ لَكُمُ ٱرۡجِعُواْ فَٱرۡجِعُواْۖ ﴿ "sehingga kamu mendapat izin. Dan jika dikata-kan kepadamu, 'Kembali (saja)lah,' maka hendaklah kamu kembali," mak-sudnya jangan kalian menampik untuk kembali dan jangan kalian marah karena tidak diizinkan. Karena, pemilik rumah tidak sedang menghalangi hak kalian yang harus dipenuhi. Pemberian izin sifat-nya sukarela. Terserah dia, mau memberi izin atau menolaknya. Maka, janganlah sampai terbawa oleh kesombongan dan perasaan antipati dengan keadaan seperti ini. ﴾ هُوَ أَزۡكَىٰ لَكُمۡۚ ﴿ "Itu lebih bersih bagimu," maksudnya lebih maksimal untuk membersihkan dari kejelekan dan menambah kebaikan-kebaikan kalian. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." Dia akan membalas setiap orang sesuai dengan apa yang diamalkannya, tergantung banyak atau sedikit, baik atau jeleknya.

(29) Hukum ini berlaku di rumah yang dihuni, baik di da-lamnya terdapat perabotan seseorang ataupun tidak. Juga berlaku di rumah yang tidak dihuni yang di dalamnya tidak tersimpan barang miliknya. Adapun rumah yang tidak berpenghuni, yang di dalamnya terdapat barang keperluan orang yang masuk ke dalam-nya sementara tiada seorang pun yang dapat dimintai izin, –demi-kian ini seperti rumah-rumah yang kosong dan sejenisnya–. Maka Allah telah menyebutkannya dalam FirmanNya, ﴾ لَّيۡسَ عَلَيۡكُمۡ جُنَاحٌ ﴿ "Tidak ada dosa atasmu," maksudnya (tidak ada) hukuman dan kesa-lahan. Hal ini menunjukkan bahwa memasuki rumah-rumah yang telah disebutkan sebelumnya (yang berpenghuni) tanpa izin hu-kumnya haram dan menimbulkan kesalahan. ﴾ أَن تَدۡخُلُواْ بُيُوتًا غَيۡرَ مَسۡكُونَةٖ فِيهَا مَتَٰعٞ لَّكُمۡۚ ﴿ "Memasuki rumah yang disedia-kan untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu." Ini termasuk bentuk pengecualian yang mengagumkan dalam al-Qur`an, karena Firman Allah, ﴾ لَا تَدۡخُلُواْ بُيُوتًا غَيۡرَ بُيُوتِكُمۡ ﴿ "Janganlah kamu memasuki rumah selain rumah kamu," adalah lafazh umum, mencakup setiap rumah yang bukan hak milik seseorang. Allah mengecualikan dari rumah-rumah ini, rumah yang bukan hak milik seseorang, tetapi di dalamnya terdapat barang keperluannya, dan tidak berpenghuni. Allah memperbolehkan memasukinya. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ وَمَا تَكۡتُمُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan," yaitu keadaan kalian yang nampak ataupun tidak, dan mengetahui kemaslahatan kalian. Karenanya, Allah mensya-riatkan untuk kalian hukum-hukum syar'i yang kalian butuhkan dan perlukan.

24:30Page 353

قُل لِّلۡمُؤۡمِنِينَ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِمۡ وَيَحۡفَظُواْ فُرُوجَهُمۡۚ ذَٰلِكَ أَزۡكَىٰ لَهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا يَصۡنَعُونَ ٣٠

Tell the believing men to reduce [some] of their vision1 and guard their private parts.2 That is purer for them. Indeed, Allāh is [fully] Aware of what they do.

"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, 'Hendak-lah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya,' yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (An-Nur: 30).

(30) Maksudnya, berilah pengarahan dan katakan kepada kaum Mukminin, yang masih mempunyai keimanan yang dapat mencegah mereka terjerumus dalam perbuatan yang menodai keimanan mereka, ﴾ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِمۡ ﴿ "Hendaklah mereka menahan pandangannya," dari melihat aurat-aurat (hal-hal yang tak pantas dilihat) dan wanita-wanita asing (yang bukan mahram) dan anak-anak kecil yang rupawan, yang ditakutkan terjadi fitnah bila me-lihatnya, atau (menahan) dari melihat perhiasan dunia yang dapat memperdayai dan menjerumuskan pada perkara yang diharamkan ﴾ وَيَحۡفَظُواْ فُرُوجَهُمۡۚ ﴿ "dan memelihara kemaluannya," dari perbuatan jimak yang haram, baik lewat jalan depan (qubul) ataupun jalan belakang (dubur) atau selainnya, dan usaha untuk memegang dan melihat kepadanya (kemaluan). ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yaitu menjaga pandangan dan ke-maluan ﴾ أَزۡكَىٰ لَهُمۡۚ ﴿ "adalah lebih suci bagi mereka," lebih suci, lebih baik serta lebih meningkatkan amal-amal mereka. Karena sesungguh-nya orang yang menjaga kemaluan dan pandangannya, akan ter-sucikan dari kejelekan yang mengotori para pelaku kemaksiatan, amalan-amalan mereka menjadi bersih lantaran telah meninggalkan sesuatu yang haram, yang disukai oleh hawa nafsu secara bawaan dan mengajak ke sana. Barangsiapa yang meninggalkan suatu kejelekan karena Allah, niscaya Allah akan memberikan ganti baginya dengan sesuatu yang lebih baik darinya. Barangsiapa yang menjaga pandangannya dari perkara haram, maka Allah akan menyinari mata hatinya. Dan lantaran seorang hamba jika dia berhasil menjaga kema-luan dan pandangannya dari perkara haram dan pencetus rang-sangan syahwat, maka penjagaannya terhadap perkara lainnya, akan lebih maksimal. Karenanya, Allah menyebutnya dengan istilah hifzh (penjagaan). Sesuatu yang terjaga, jika pemiliknya tidak serius dalam mengawasinya dan menjaganya, dan menempuh usaha-usaha yang akan membantu pemeliharaannya, maka tidak akan dapat terpelihara. Begitu pula pandangan dan kemaluannya, bila tidak ada usaha dari seorang hamba untuk menjaga keduanya, maka akan menjatuhkan dirinya kepada malapetaka dan musibah. Perhatikanlah, bagaimana Allah memerintahkan penjagaan kemaluan secara mutlak, karena ia tidak boleh (ditelantarkan) dalam keadaan apa pun. Sementara itu, berkaitan dengan pandangan, Allah berfirman, ﴾ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِمۡ ﴿ "Hendaklah mereka menahan seba-gian pandangannya." Allah menggunakan kata yang menunjukkan arti sebagian, karena dalam keadaan tertentu diperbolehkan untuk melihat (sesuatu yang diharamkan) untuk suatu kebutuhan, seperti melihatnya ketika menjadi saksi, orang yang mengoperasi, pemi-nang dan lain sebagainya. Kemudian Allah mengingatkan mereka tentang ilmuNya terhadap amal-amal mereka, supaya mereka berusaha secara maksimal dalam menjaga diri mereka dari hal-hal yang diharamkan.

Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences

Contents

Ayat al-Kursi36Al-Kahfpage 42juz 15Bukhari 1Muslim 2999

Style

Theme
Text size
Layout

Читать на русском