As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian
Saba 34:43–54
34:43–45Page 433
وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُنَا بَيِّنَٰتٖ قَالُواْ مَا هَٰذَآ إِلَّا رَجُلٞ يُرِيدُ أَن يَصُدَّكُمۡ عَمَّا كَانَ يَعۡبُدُ ءَابَآؤُكُمۡ وَقَالُواْ مَا هَٰذَآ إِلَّآ إِفۡكٞ مُّفۡتَرٗىۚ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لِلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَهُمۡ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٞ ٤٣
And when Our verses are recited to them as clear evidences, they say, "This is not but a man who wishes to avert you from that which your fathers were worshipping." And they say, "This is not except a lie invented." And those who disbelieve say of the truth when it has come to them, "This is not but obvious magic."
وَمَآ ءَاتَيۡنَٰهُم مِّن كُتُبٖ يَدۡرُسُونَهَاۖ وَمَآ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمۡ قَبۡلَكَ مِن نَّذِيرٖ ٤٤
And We had not given them any scriptures which they could study, and We had not sent to them before you, [O Muḥammad], any warner.
وَكَذَّبَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَمَا بَلَغُواْ مِعۡشَارَ مَآ ءَاتَيۡنَٰهُمۡ فَكَذَّبُواْ رُسُلِيۖ فَكَيۡفَ كَانَ نَكِيرِ ٤٥
And those before them denied, and they [i.e., the people of Makkah] have not attained a tenth of what We had given them. But they [i.e., the former peoples] denied My messengers, so how [terrible] was My reproach.
"Dan apabila dibacakan kepada kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, mereka berkata, 'Orang ini tiada lain hanyalah seorang laki-laki yang ingin menghalangi kamu dari apa yang disembah oleh bapak-bapakmu.' Dan mereka berkata, '(Al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan saja.' Dan orang-orang kafir berkata terhadap kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, 'Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.' Dan Kami tidak pernah memberikan kepada mereka kitab-kitab yang mereka baca, dan sekali-kali tidak pernah pula meng-utus kepada mereka sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun. Dan orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan, sedang orang-orang kafir Makkah itu belum sampai menerima sepersepuluh dari sesuatu yang telah Kami berikan kepada orang-orang dahulu itu, lalu (tiba-tiba) mereka mendustakan Rasul-rasulKu. Maka (lihatlah) alangkah hebatnya akibat kemurkaan-Ku." (Saba`: 43-45).
(43) Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang kondisi orang-orang musyrik di saat dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah yang sangat jelas, hujjah-hujjahNya yang nyata dan argumen-argumen-Nya yang bersifat pasti yang menunjukkan kepada segala kebaikan, yang mencegah dari segala keburukan, yang sebenarnya ia meru-pakan nikmat terbesar yang datang kepada mereka dan karunia teragung yang sampai kepada mereka yang seharusnya diterima dengan (sikap) iman, membenarkan, mematuhi dan berserah diri, namun mereka menerimanya dengan berlawanan dari yang se-pantasnya, dan mereka mendustakan Rasul yang datang kepada mereka seraya mengatakan, ﴾ مَا هَٰذَآ إِلَّا رَجُلٞ يُرِيدُ أَن يَصُدَّكُمۡ عَمَّا كَانَ يَعۡبُدُ ءَابَآؤُكُمۡ ﴿ "Orang ini tiada lain hanyalah seorang laki-laki yang ingin menghalangi kamu dari apa yang disembah oleh bapak-bapakmu," maksudnya, inilah tujuannya saat ia menyuruh kalian ikhlas (bertauhid) kepada Allah agar kalian meninggalkan kebiasaan-kebiasaan bapak-bapak kalian yang kalian agungkan dan kalian berjalan di belakang (mengikuti) mereka. Lalu mereka menolak kebenaran dengan perkataan orang-orang yang sesat, mereka pun tidak mengemukakan dalil (argu-men) ataupun syubhat. Lalu syubhat jenis apa apabila para rasul memerintah kepada sebagian orang-orang yang sesat untuk meng-ikuti kebenaran, lalu mereka mengklaim bahwa saudara-saudara mereka yang sepaham dengan mereka masih berpegang teguh pada paham sesat itu? Kepicikan berpikir dan penolakan terhadap kebenaran dengan (dasar) perkataan-perkataan orang-orang yang sesat ini, apabila Anda mencermatinya dengan sebenar-benarnya, adalah (argumen-tasi) yang ditolak apabila ini referensi penolakannya, yaitu ditolak hanya dengan berdasarkan perkataan-perkataan orang-orang sesat dari kaum musyrikin, matrealis, kaum filosof, kaum Shabi'un dan kaum mulhidin (kafir) terhadap agama Allah, maka merekalah suri teladan bagi setiap orang yang menolak kebenaran hingga Hari Kiamat. Setelah mereka berargumen dengan perbuatan bapak-bapak mereka terdahulu, dan menjadikannya sebagai penolak terhadap ajaran yang dibawa oleh para Rasul, maka mereka setelah itu mulai melecehkan kebenaran ﴾ وَقَالُواْ مَا هَٰذَآ إِلَّآ إِفۡكٞ مُّفۡتَرٗىۚ ﴿ "dan mereka berkata, '(Al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan saja," maksudnya, kebohongan yang dibuat-buat oleh si lelaki yang datang membawanya, ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لِلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَهُمۡ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Dan orang-orang kafir berkata terhadap kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, 'Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata'," sihir yang jelas lagi nyata bagi setiap orang, (sebagai sikap) pendustaan ter-hadap kebenaran dan promosi kepada orang-orang yang dungu.
(44) Setelah Allah menjelaskan argumentasi yang mereka jadikan untuk menolak kebenaran, yaitu berupa perkataan-per-kataan yang masih di bawah tingkatan syubhat, dan sama sekali bukan hujjah (argumen), maka di sini Allah menjelaskan bahwa mereka, sekalipun ada seseorang yang akan membelanya, maka sesungguhnya mereka sama sekali tidak mempunyai sandaran dan tidak mempunyai sesuatu apa pun yang dapat dijadikan sebagai pegangan, seraya berfirman, ﴾ وَمَآ ءَاتَيۡنَٰهُم مِّن كُتُبٖ يَدۡرُسُونَهَاۖ ﴿ "Dan Kami tidak pernah memberikan kepada mereka kitab-kitab yang mereka baca," sehingga mereka mempunyai sandaran, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمۡ قَبۡلَكَ مِن نَّذِيرٖ ﴿ "dan sekali-kali tidak pernah pula mengutus kepada mereka sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun," sehingga mereka memiliki per-kataan-perkataan dan kondisi-kondisi yang dapat mereka jadikan sebagai alat untuk menolak syariat yang engkau bawa. Jadi, mereka tidak mempunyai ilmu ataupun secuil dari ilmu.
(45) Kemudian Allah menakut-nakuti mereka dengan azab yang telah Dia timpakan terhadap umat-umat terdahulu sebelum mereka, seraya berfirman, ﴾ وَكَذَّبَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَمَا بَلَغُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan, sedang orang-orang kafir Makkah itu belum sampai," maksudnya, mereka yang diseru belum sampai ﴾ مِعۡشَارَ مَآ ءَاتَيۡنَٰهُمۡ فَكَذَّبُواْ ﴿ "menerima sepersepuluh dari apa yang telah Kami berikan kepada mereka, lalu mendustakan," maksudnya, Kami berikan kepada umat terdahulu sebelum mereka, lalu mereka mendustakan ﴾ رُسُلِيۖ فَكَيۡفَ كَانَ نَكِيرِ ﴿ "para rasulKu. Maka (lihatlah) alang-kah hebatnya akibat kemurkaanKu," maksudnya, keingkaranKu dan siksaanKu terhadap mereka. Sesungguhnya Allah telah menginfor-masikan kepada kita tentang hukuman (azab) yang ditimpakan kepada mereka, dan di antara mereka ada yang Dia tenggelamkan, adapula yang Dia binasakan dengan badai angin topan yang mem-binasakan, dengan petir, dengan gempa bumi, dengan ditimbun tanah (tanah longsor) dan dengan badai berbatu dari langit. Maka waspadalah wahai orang-orang yang mendustakan, kalau kalian tetap bersikap mendustakan, karena Allah akan merenggut kalian sebagaimana telah merenggut umat-umat sebelum kalian dan menimpakan kepada kalian seperti apa yang telah Dia timpakan kepada mereka.
34:46–50Page 433
۞ قُلۡ إِنَّمَآ أَعِظُكُم بِوَٰحِدَةٍۖ أَن تَقُومُواْ لِلَّهِ مَثۡنَىٰ وَفُرَٰدَىٰ ثُمَّ تَتَفَكَّرُواْۚ مَا بِصَاحِبِكُم مِّن جِنَّةٍۚ إِنۡ هُوَ إِلَّا نَذِيرٞ لَّكُم بَيۡنَ يَدَيۡ عَذَابٖ شَدِيدٖ ٤٦
Say, "I only advise you of one [thing] - that you stand for Allāh, [seeking truth] in pairs and individually, and then give thought." There is not in your companion any madness. He is only a warner to you before a severe punishment.
قُلۡ مَا سَأَلۡتُكُم مِّنۡ أَجۡرٖ فَهُوَ لَكُمۡۖ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٞ ٤٧
Say, "Whatever payment I might have asked of you - it is yours. My payment is only from Allāh, and He is, over all things, Witness."
قُلۡ إِنَّ رَبِّي يَقۡذِفُ بِٱلۡحَقِّ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ ٤٨
Say, "Indeed, my Lord projects the truth, Knower of the unseen."
قُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَمَا يُبۡدِئُ ٱلۡبَٰطِلُ وَمَا يُعِيدُ ٤٩
Say, "The truth has come, and falsehood can neither begin [anything] nor repeat [it]."1
قُلۡ إِن ضَلَلۡتُ فَإِنَّمَآ أَضِلُّ عَلَىٰ نَفۡسِيۖ وَإِنِ ٱهۡتَدَيۡتُ فَبِمَا يُوحِيٓ إِلَيَّ رَبِّيٓۚ إِنَّهُۥ سَمِيعٞ قَرِيبٞ ٥٠
Say, "If I should err, I would only err against myself. But if I am guided, it is by what my Lord reveals to me. Indeed, He is Hearing and near."
"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad), tidak ada penyakit gila sedikit pun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras.' Katakanlah, 'Upah apa pun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.' Katakanlah, 'Sesungguhnya Rabbku mewahyukan kebe-naran. Dia Maha Mengetahui segala yang ghaib.' Katakanlah, 'Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak pula akan mengulangi.' Katakanlah, 'Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudaratan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk, maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Rabbku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat." (Saba`: 46-50).
(46) Maksudnya, ﴾ قُلۡ ﴿ "katakanlah" wahai Rasul, kepada mereka yang mendustakan lagi keras kepala yang bersikap meno-lak kebenaran dan mendustakannya serta mencela orang yang membawanya, ﴾ إِنَّمَآ أَعِظُكُم بِوَٰحِدَةٍۖ ﴿ "Sesungguhnya aku hendak memper-ingatkan kepadamu satu hal saja," maksudnya satu masalah saja yang akan aku pesankan kepada kalian dan aku nasihatkan agar kalian menjalaninya. Yaitu jalan pertengahan, aku tidak mengajak kalian untuk mengikuti perkataanku dan tidak mengajak untuk mening-galkan perkataan kalian tanpa ada sebabnya yang jelas. Yaitu ﴾ أَن تَقُومُواْ لِلَّهِ مَثۡنَىٰ وَفُرَٰدَىٰ ﴿ "supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri," maksudnya, supaya kalian bangkit dengan semangat dan giat serta dengan tujuan mengikuti yang benar dan ikhlas kepada Allah, saling mencari dan saling merenung secara bersama-sama dan sendiri-sendiri. Masing-masing berdialog dengan jiwanya dalam hal ini. Apabila kalian telah menghadap kepada Allah berdua-dua atau sendiri-sendiri, maka kalian telah menggunakan akal pikiran kalian sendiri, kalian telah menghargai-nya dan kalian telah menghayati (merenungkan) keadaan dan kondisi Rasul kalian, apakah dia seorang gila yang memiliki sifat-sifat, perbuatan-perbuatan gila dari perkataannya atau seorang Nabi nan jujur yang memberikan peringatan kepada kalian tentang sesuatu yang membahayakan kalian berupa azab yang sangat dahsyat yang ada di hadapan kalian? Kalau saja mereka menerima dan melaksanakan nasihat ini, tentu mereka akan mengetahui lebih jelas daripada selain mereka bahwa Rasulullah a ini bukanlah seorang gila, karena perilakunya tidak seperti perilaku orang-orang gila dalam pengamatan, per-hatian dan pandangan mereka. Malah perilakunya adalah perilaku yang terbaik, gerak-geriknya adalah gerak-gerik yang paling mulia, dan dia merupakan manusia yang paling sempurna budi pekerti dan ketenangannya, kerendahan hati dan kewibawaannya, dia tidak lain adalah lelaki yang paling matang akalnya. Kemudian apabila mereka mengamati perkataannya yang sangat fasih dan kata-katanya yang sangat manis dan kalimat-kalimatnya yang memenuhi hati dengan rasa aman dan keimanan, menyucikan jiwa dan membersihkan hati, memotivasi untuk ber-akhlak mulia, memberikan rangsangan untuk berbudi pekerti nan luhur serta mencegah perilaku buruk (akhlak tidak terpuji) lagi rendahan. Ketika dia berbicara, niscaya perhatian mata terarah kepadanya sebagai bentuk segan dan menghormati serta memulia-kan. Lalu apakah orang yang seperti ini sama dengan ketidaksa-daran orang-orang gila, keburukan perilaku dan perkataan mereka sama dengan keadaan dan kondisi mereka? Siapa saja yang memperhatikan kondisi dan perihal beliau, sedangkan maksudnya adalah mencari tahu, apakah dia seorang Rasul atau bukan? Apakah dia mengamati sendiri-sendiri atau bersama orang lain, maka pasti dia akan memastikan bahwa dia adalah Rasulullah sejati dan NabiNya yang sesungguhnya; apalagi orang-orang yang dijadikan lawan bicara, yang Muhammad a itu sendiri sahabat mereka, adalah orang-orang yang mengetahui keadaan dan perihalnya dari A sampai Z-nya.
(47) Di sana ada penghalang lain bagi jiwa untuk mengikuti orang yang menyeru kepada al-haq (kebenaran), yaitu kalau ia (penyeru) memungut harta orang yang diharapkan menerima seruannya, dan mengambil imbalan atas dakwahnya. Maka Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kebersihan RasulNya dari perkara seperti ini, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ مَا سَأَلۡتُكُم مِّنۡ أَجۡرٖ ﴿ "Katakanlah, 'Upah apa pun yang aku minta kepadamu'," maksudnya, dalam rangka kalian mengikuti kebenaran, ﴾ فَهُوَ لَكُمۡۖ ﴿ "maka itu untuk kamu." Maka aku persaksikan bahwa upah itu, kalaupun aku minta, maka itu adalah untuk kalian. ﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٞ ﴿ "Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." IlmuNya meliputi apa yang aku serukan. Maka kalau aku berdusta, tentu Dia akan merenggutku dengan siksaanNya. Dan Dia juga menyaksikan perbuatan kalian, Dia akan menyimpannya untuk kalian, lalu Dia akan memberikan balasannya kepada kalian.
(48) Setelah Allah menjelaskan argumen-argumen yang membuktikan kebenaran al-haq dan kepalsuan kebatilan, maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa yang demikian ini adalah sunnahNya dan kebiasaanNya, yaitu memenangkan yang haq atas yang batil, lalu mengenyahkannya, hingga kebatilan binasa. Sebab Allah سبحانه وتعالى menjelaskan yang haq di dalam tema ini agar Dia menggunakan-nya untuk membantah perkataan-perkataan orang-orang yang mendustakan, hingga bisa dijadikan ibrah (pelajaran) bagi orang-orang yang mengambil pelajaran dan ayat (tanda) bagi orang-orang yang merenungkan. Sesungguhnya Anda bisa melihat bagaimana perkataan-perkataan orang-orang yang mendustakan itu menjadi redup (tumbang, binasa), kedustaan dan sikap keras kepala mereka terungkap, sedangkan yang haq menjadi nampak dan berkilau, dan kebatilan menjadi batal dan padam. Semua itu disebabkan penjelasan dari ﴾ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ ﴿ "Dzat Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib" yang mengetahui segala sesuatu yang tersimpan di dalam hati, berupa bisikan-bisikan buruk dan syubhat; dan Mengetahui lawannya dan menolaknya dengan hujjah, lalu Dia mengajarkan kepada hamba-hambaNya dan menjelaskannya kepada mereka.
(49) Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ قُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "Katakanlah, 'Kebenaran telah datang'," maksudnya, kebenaran telah jelas, nampak dan menjadi laksana matahari, dan kekuatannya sudah jelas,﴾ وَمَا يُبۡدِئُ ٱلۡبَٰطِلُ وَمَا يُعِيدُ ﴿ "dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak pula akan mengulangi," maksudnya, ia menjadi redup dan keadaannya menjadi sirna serta hilang kekuatannya, maka ia tidak akan me-mulai dan tidak pula akan mengulangi.
(50) Setelah kebenaran menjadi jelas melalui seruan yang diserukan oleh Rasul, yang mana sebelumnya orang-orang yang mendustakannya menuduhnya sesat, maka Allah memberitakan kepada mereka tentang yang haq dan menjelaskannya kepada mereka dan menyingkap ketidakberdayaan mereka untuk menen-tangnya. Dan Allah memberitakan kepada mereka bahwa tuduhan sesat yang dialamatkan kepadanya (kepada rasul. Pent.) sama se-kali tidak membahayakan yang haq itu sedikit pun dan tidak pula bisa mencegah apa yang beliau bawa. Dan sesungguhnya, kalau beliau sesat (ini tidak mungkin, ini merupakan sikap merendahkan diri dalam berdebat), maka sesungguhnya kesesatannya hanya akan menimpa dirinya sendiri. Maksudnya, kesesatannya hanya terbatas menimpa dirinya, tidak berpengaruh kepada orang lain. ﴾ وَإِنِ ٱهۡتَدَيۡتُ ﴿ "Dan jika aku mendapat petunjuk," maka hal ini bukan dari diriku, bukan karena kemampuan atau kekuatanku. Sesung-guhnya petunjukku adalah karena sesuatu ﴾ يُوحِيٓ إِلَيَّ رَبِّيٓۚ ﴿ "yang di-wahyukan Rabbku kepadaku." Dia-lah sumber hidayahku, sebagai-mana Dia pulalah sumber hidayah bagi selainku. Sesungguhnya Rabbku Maha Mendengar semua perkataan dan semua suara. Dia Mahadekat dari orang yang berdoa kepadaNya, memohon dan beribadah kepadaNya.
34:51–54Page 434
وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذۡ فَزِعُواْ فَلَا فَوۡتَ وَأُخِذُواْ مِن مَّكَانٖ قَرِيبٖ ٥١
And if you could see1 when they are terrified but there is no escape, and they will be seized from a place nearby.
وَقَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِهِۦ وَأَنَّىٰ لَهُمُ ٱلتَّنَاوُشُ مِن مَّكَانِۭ بَعِيدٖ ٥٢
And they will [then] say, "We believe in it!" But how for them will be the taking1 [of faith] from a place far away?2
وَقَدۡ كَفَرُواْ بِهِۦ مِن قَبۡلُۖ وَيَقۡذِفُونَ بِٱلۡغَيۡبِ مِن مَّكَانِۭ بَعِيدٖ ٥٣
And they had already disbelieved in it before and would assault1 the unseen from a place far away.2
وَحِيلَ بَيۡنَهُمۡ وَبَيۡنَ مَا يَشۡتَهُونَ كَمَا فُعِلَ بِأَشۡيَاعِهِم مِّن قَبۡلُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ فِي شَكّٖ مُّرِيبِۭ ٥٤
And prevention will be placed between them and what they desire,1 as was done with their kind before. Indeed, they were in disquieting doubt [i.e., denial].
"Dan jikalau kamu melihat ketika mereka terperanjat keta-kutan (pada Hari Kiamat); maka mereka tidak dapat melepaskan diri dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat (untuk dibawa ke neraka), dan mereka berkata, 'Kami beriman kepada Allah,' bagaimanakah mereka dapat mencapai (keimanan) dari tempat yang jauh itu. Dan sesungguhnya mereka telah mengingkari Allah sebelum itu; dan mereka menduga-duga tentang yang ghaib dari tempat yang jauh. Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa dahulu. Sesungguhnya me-reka dahulu (di dunia) dalam keraguan yang mendalam." (Saba`: 51-54).
(51) Allah سبحانه وتعالى berfirman ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ ﴿ "Dan jikalau kamu melihat," wahai Rasul dan orang yang menduduki kedudukanmu, tentang keadaan mereka yang mendustakan ﴾ إِذۡ فَزِعُواْ ﴿ "ketika mereka terpe-ranjat ketakutan (pada Hari Kiamat)," di saat mereka melihat azab dan apa-apa yang telah diberitakan oleh para rasul serta apa-apa yang telah mereka dustakan, niscaya kamu melihat suatu perkara yang sangat mengerikan, pemandangan yang sangat menjijikkan dan suatu kondisi yang sangat memuakkan serta kesengsaraan yang sangat dahsyat. Dan hal ini akan terjadi pada saat azab sedang menimpa mereka, sedangkan mereka sama sekali tidak mempu-nyai tempat untuk melarikan atau melepaskan diri darinya. ﴾ وَأُخِذُواْ مِن مَّكَانٖ قَرِيبٖ ﴿ "Dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat," maksudnya, tidak jauh dari tempat azab. Malah mereka ditangkap lalu dilem-parkan ke dalam api neraka.
(52) ﴾ وَقَالُوٓاْ ﴿ "Dan mereka berkata," pada saat seperti itu, "Kami beriman kepada Allah dan kami membenarkan syariat yang telah kami dustakan, ﴾ و َ ﴿ "dan" akan tetapi ﴾ أَنَّىٰ لَهُمُ ٱلتَّنَاوُشُ ﴿ "bagaimanakah mereka dapat mencapai," maksudnya, mencapai iman ﴾ مِن مَّكَانِۭ بَعِيدٖ ﴿ "dari tempat yang jauh itu," karena sudah dihalangi antara mereka dengan iman, dan iman pun sudah menjadi hal yang mustahil pada kondisi ini.
(53) Kalau saja mereka beriman pada waktu mereka masih bisa beriman, tentu iman mereka diterima, akan tetapi ﴾ كَفَرُواْ بِهِۦ مِن قَبۡلُۖ وَيَقۡذِفُونَ ﴿ "mereka telah mengingkari Allah sebelum itu; dan mereka menduga-duga" maksudnya, mengira-ngira secara membabi buta ﴾ بِٱلۡغَيۡبِ مِن مَّكَانِۭ بَعِيدٖ ﴿ "tentang yang ghaib dari tempat yang jauh," dengan melemparkan kebatilan untuk memberantas yang haq. Akan tetapi sudah tidak ada jalan lagi untuk itu, sebagaimana juga tidak ada jalan bagi orang yang melemparkan dari tempat yang jauh untuk bisa tepat sasaran. Demikian pula kebatilan, ia mustahil akan bisa mengalahkan yang haq atau menolaknya. Ia hanya mempunyai kesempatan menikam pada saat yang haq lalai darinya. Lalu apa-bila yang haq itu muncul dan melawan kebatilan, maka ia dapat memadamkannya.
(54) ﴾ وَحِيلَ بَيۡنَهُمۡ وَبَيۡنَ مَا يَشۡتَهُونَ ﴿ "Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini," berupa berbagai syahwat, berbagai kele-zatan, anak-anak, harta kekayaan, para pembantu dan bala tentara; masing-masing mereka menanggung amal perbuatan mereka sendiri dan datang sendiri-sendiri sebagaimana mereka dahulu diciptakan, dan mereka meninggalkan apa yang pernah mereka miliki di belakang mereka ﴾ كَمَا فُعِلَ بِأَشۡيَاعِهِم ﴿ "sebagaimana yang dila-kukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka," dari umat-umat terdahulu saat kebinasaan menimpa mereka, dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka inginkan. ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُواْ فِي شَكّٖ مُّرِيبِۭ ﴿ "Sesungguhnya mereka dahulu dalam keraguan yang mendalam," yang membangkitkan keraguan dan kegoncangan hati. Maka dari itu, mereka tidak beriman, dan mereka tidak men-cela pada saat diminta mencela.
Selesailah tafsir Surat Saba`. Segala puji, karunia dan nikmat hanya bagi Allah, dan dari-Nya-lah pertolongan, dan hanya kepadaNya-lah kami bertawakal dan hanya kepadaNya kami yakin.
Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences