As-Sa'diSad · 38:30–54

As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian

Sad 38:30–54

38:30–40Page 455

وَوَهَبۡنَا لِدَاوُۥدَ سُلَيۡمَٰنَۚ نِعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ ٣٠

And to David We gave Solomon. An excellent servant, indeed he was one repeatedly turning back [to Allāh].

إِذۡ عُرِضَ عَلَيۡهِ بِٱلۡعَشِيِّ ٱلصَّٰفِنَٰتُ ٱلۡجِيَادُ ٣١

[Mention] when there were exhibited before him in the afternoon the poised [standing] racehorses.

فَقَالَ إِنِّيٓ أَحۡبَبۡتُ حُبَّ ٱلۡخَيۡرِ عَن ذِكۡرِ رَبِّي حَتَّىٰ تَوَارَتۡ بِٱلۡحِجَابِ ٣٢

And he said, "Indeed, I gave preference to the love of good [things] over the remembrance of my Lord until it [i.e., the sun] disappeared into the curtain [of darkness]."

رُدُّوهَا عَلَيَّۖ فَطَفِقَ مَسۡحَۢا بِٱلسُّوقِ وَٱلۡأَعۡنَاقِ ٣٣

[He said], "Return them to me," and set about striking1 [their] legs and necks.

وَلَقَدۡ فَتَنَّا سُلَيۡمَٰنَ وَأَلۡقَيۡنَا عَلَىٰ كُرۡسِيِّهِۦ جَسَدٗا ثُمَّ أَنَابَ ٣٤

And We certainly tried Solomon and placed on his throne a body;1 then he returned.2

قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَهَبۡ لِي مُلۡكٗا لَّا يَنۢبَغِي لِأَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِيٓۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ٣٥

He said, "My Lord, forgive me and grant me a kingdom such as will not belong to anyone after me. Indeed, You are the Bestower."

فَسَخَّرۡنَا لَهُ ٱلرِّيحَ تَجۡرِي بِأَمۡرِهِۦ رُخَآءً حَيۡثُ أَصَابَ ٣٦

So We subjected to him the wind blowing by his command, gently, wherever he directed,

وَٱلشَّيَٰطِينَ كُلَّ بَنَّآءٖ وَغَوَّاصٖ ٣٧

And [also] the devils [of jinn] - every builder and diver

وَءَاخَرِينَ مُقَرَّنِينَ فِي ٱلۡأَصۡفَادِ ٣٨

And others bound together in irons.

هَٰذَا عَطَآؤُنَا فَٱمۡنُنۡ أَوۡ أَمۡسِكۡ بِغَيۡرِ حِسَابٖ ٣٩

[We said], "This is Our gift, so grant or withhold without account."

وَإِنَّ لَهُۥ عِندَنَا لَزُلۡفَىٰ وَحُسۡنَ مَـَٔابٖ ٤٠

And indeed, for him is nearness to Us and a good place of return.

"Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat. Ketika dipertun-jukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan yang cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata, 'Se-sungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik ini sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.' Lalu ia mengusap-ngusap kaki dan lehernya. Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami tempatkan di atas kursinya sebatang tubuh, kemudian ia bertaubat. Ia berkata, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.' Kemudian Kami tundukkan kepa-danya angin yang berhembus dengan baik, yang menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan setan-setan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan setan yang lain yang terikat dalam belenggu. Inilah anugerah Kami; maka berikanlah atau tahanlah dengan tiada perhitungan. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." (Shad: 30-40).

(30) Setelah Allah سبحانه وتعالى memuji Nabi Dawud عليه السلام dan menje-laskan apa yang terjadi baginya dan darinya, Allah memuji putra beliau, yaitu Nabi Sulaiman عليه السلام, seraya berfirman, ﴾ وَوَهَبۡنَا لِدَاوُۥدَ سُلَيۡمَٰنَۚ ﴿ "Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman," maksudnya, Kami anugerahkan Nabi Sulaiman kepadanya dan Kami bahagiakan jiwanya dengannya, ﴾ نِعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ ﴿ "sebaik-baik hamba" adalah Sulaiman عليه السلام, sebab dia mempunyai sifat-sifat yang pantas dipuji, y a i t u ﴾ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ ﴿ "sesungguhnya dia amat taat," maksudnya, yang sangat kembali kepada Allah dalam seluruh keadaannya dengan menghambakan diri, berinabah, mencintai, berdzikir, berdoa, bertadharru' dan ber-sungguh-sungguh dalam mencari keridhaan Allah dan menguta-makannya atas segala sesuatu.

(31-33) Maka dari itu, tatkala diperlihatkan kepadanya kuda-kuda yang gagah lagi sangat kencang larinya. ﴾ ٱلصَّٰفِنَٰتُ ﴿ "yang tenang," maksudnya, yang salah satu cirinya adalah ash-shufun, yaitu salah satu kakinya terangkat tinggi saat berdiri, dan itu merupakan pemandangan yang sangat indah dan kegagahan yang sangat me-nakjubkan, terutama bagi orang yang membutuhkannya, seperti para raja. Kuda-kuda itu pun terus diperlihatkan kepadanya hingga matahari hilang dari penglihatan. Dengan demikian kuda-kuda itu telah membuatnya lupa melakukan shalat di waktu sore dan dzikir. Lalu ia berkata dengan penuh penyesalan atas apa yang telah terjadi dari dirinya dan sebagai taqarrubnya kepada Allah disebab-kan apa yang telah membuatnya lupa mengingatNya, dan demi mengutamakan cinta Allah atas cinta kepada yang lain,﴾ إِنِّيٓ أَحۡبَبۡتُ حُبَّ ٱلۡخَيۡرِ ﴿ "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik ini." Kata أَحْبَبْتُ (aku menyukai) mengandung makna آثَرْتُ (aku lebih mengutamakan). Artinya, aku lebih mengutamakan suka ke-pada barang baik ini, yaitu harta pada umumnya, dan yang dimak-sud di sini adalah kuda. ﴾ عَن ذِكۡرِ رَبِّي حَتَّىٰ تَوَارَتۡ بِٱلۡحِجَابِ 32 رُدُّوهَا عَلَيَّۖ ﴿ "Sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku." Maka mereka pun mengem-balikannya. ﴾ فَطَفِقَ ﴿ "Lalu ia" pada kuda-kuda itu ﴾ مَسۡحَۢا بِٱلسُّوقِ وَٱلۡأَعۡنَاقِ ﴿ "mengusap-ngusap kaki dan lehernya." Maksudnya, beliaupun lalu memotongnya dengan pedangnya pada bagian leher dan kakinya.

(34) ﴾ وَلَقَدۡ فَتَنَّا سُلَيۡمَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman." Kami memberinya cobaan dan ujian dengan kehilangan kerajaannya dan terlepasnya kerajaan itu darinya disebabkan ke-salahan-kesalahan yang terjadi akibat tabiat kemanusiaan, ﴾ وَأَلۡقَيۡنَا عَلَىٰ كُرۡسِيِّهِۦ جَسَدٗا ﴿ "dan Kami tempatkan di atas kursinya sebatang tubuh," yakni, setan yang telah ditakdirkan Allah untuk duduk di atas kursi kera-jaannya dan ia mengendalikan kerajaan pada masa ujian Sulaiman, ﴾ ثُمَّ أَنَابَ ﴿ "kemudian ia kembali" kepada Allah dan bertaubat.

(35-39) ﴾ قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَهَبۡ لِي مُلۡكٗا لَّا يَنۢبَغِي لِأَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِيٓۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ﴿ "Ia ber-kata, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Pemberi'." Allah pun mengabulkan doa beliau dan mengampuni beliau serta mengembalikan kerajaan kepadanya, dan bahkan Allah menambahkan untuknya kerajaan yang belum pernah terjadi bagi seorang pun sesudahnya, yaitu patuhnya setan-setan kepadanya, mereka membangun apa yang beliau kehendaki dan menyelam di dasar laut untuknya, mereka mengeluarkan mu-tiara-mutiara dan perhiasan. Dan siapa saja yang durhaka kepada-nya di antara mereka, maka ia membelenggu dan mengikatnya dengan belenggu, dan Kami katakan kepadanya, ﴾ هَٰذَا عَطَآؤُنَا ﴿ "Inilah anugerah Kami" maka berbahagialah dengannya, ﴾ فَٱمۡنُنۡ ﴿ "maka berikanlah" kepada siapa saja yang kamu kehendaki ﴾ أَوۡ أَمۡسِكۡ ﴿ "atau tahanlah" dari siapa saja yang kamu suka, ﴾ بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "dengan tiada perhitungan." Maksudnya, tidak ada dosa ataupun perhitungan bagimu dalam hal itu, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui kesem-purnaan keadilannya dan kebaikan keputusan-keputusannya.

(40) Dan jangan sekali-kali Anda mengira bahwa itu semua hanya di dunia saja yang didapat Nabi Sulaiman, sedangkan di akhiratnya tidak! Bahkan di akhirat nanti beliau akan mendapatkan kebaikan yang sangat besar. Maka dari itu Allah berfirman,﴾ وَإِنَّ لَهُۥ عِندَنَا لَزُلۡفَىٰ وَحُسۡنَ مَـَٔابٖ ﴿ "Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." Artinya, beliau termasuk orang-orang yang didekatkan di sisi Allah dan dimulia-kan dengan berbagai macam karamah oleh Allah.

PASAL Di antara pelajaran dan hikmah yang dapat kita petik dari kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman عليهما السلام adalah sebagai berikut: 1. Bahwasanya Allah سبحانه وتعالى menceritakan kepada nabiNya, Nabi Muhammad a, sejarah-sejarah orang-orang (para rasul) sebelum beliau supaya hati beliau teguh dan jiwa beliau tenang serta meng-ingatkan kepadanya sebagian dari ibadah mereka; betapa sabar dan berinabahnya mereka; hal yang membuat beliau berkeinginan (merindukan) untuk mengalahkan mereka dan bertaqarrub kepada Allah seperti yang mereka lakukan dalam bertaqarrub kepadaNya dan sabar dalam menghadapi gangguan kaumnya. Maka dari itu, dalam hal ini, setelah Allah menjelaskan sebagian dari gangguan kaumnya dan perkataan mereka terhadapnya dan terhadap apa yang ia bawa (ajarkan), Allah memerintahkannya agar sabar dan mengingat hambaNya, Dawud, sehingga beliau merasa terhibur dengannya. 2. Bahwasanya Allah سبحانه وتعالى memuji dan suka kepada kekuatan (keteguhan dan sikap konsisten) dalam mematuhiNya, yaitu ke-kuatan hati dan badan. Sebab dari kekuatan itu akan bisa dicapai banyak sekali bentuk-bentuk ketaatan, kesempurnaan, dan kuanti-tasnya yang tidak akan bisa dicapai oleh sikap lemah dan tidak adanya kekuatan. Dan seorang hamba hendaknya melakukan segala upaya ke arah sana dan tidak cenderung kepada sikap malas dan menganggur yang merusak kekuatan dan melemahkan jiwa. 3. Bahwasanya kembali kepada Allah dalam semua perma-salahan adalah termasuk sifat para Nabi dan manusia-manusia pilihanNya, sebagaimana Dia telah memuji Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman karenanya. Maka hendaklah orang-orang yang ingin mengambil teladan meneladani mereka dan hendaklah orang-orang yang meniti jalan keridhaan Allah mengikuti petunjuk mereka. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka." (Al-An'am: 90). 4. Hal-hal yang dengannya Allah memuliakan nabiNya, Dawud عليه السلام, yaitu suara yang agung yang karenanya Allah men-jadikan gunung-gunung yang bisu dan burung-burung yang tidak bisa berbicara memberikan respon kepadanya apabila Dawud mengalunkan suaranya dengan ucapan tasbih, dan mereka pun turut bertasbih bersamanya di waktu sore dan pagi hari. 5. Di antara nikmat Allah yang paling besar atas hambaNya adalah, Dia menganugerahkan ilmu yang bermanfaat kepadanya dan menguasai hukum dan cara memberikan keputusan di antara manusia, sebagaimana yang telah Allah karuniakan kepada hamba-Nya, Nabi Dawud عليه السلام. 6. Perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada para nabi dan manusia-manusia pilihanNya pada saat sebagian mereka terjerumus ke dalam keke-liruan karena ujian dan cobaanNya terhadap mereka yang dengan-nya apa-apa yang membahayakan menjadi terhapus dari mereka, dan mereka kembali kepada kondisi awal mereka yang paling sempurna, sebagaimana terjadi pada Nabi Sulaiman عليه السلام. 7. Bahwasanya para nabi k itu terpelihara dari kesalahan dalam hal apa yang mereka sampaikan dari Allah سبحانه وتعالى, karena tujuan risalah (misi kerasulan) tidak akan dicapai kecuali dengannya. Dan sesungguhnya bisa saja terjadi sebagian perbuatan maksiat dari mereka sebagai konsekuensi tabiat manusia, namun Allah سبحانه وتعالى segera mengampuni mereka dengan kelembutanNya. 8. Bahwasanya Nabi Dawud عليه السلام dalam kebanyakan kondisi-nya selalu berada di mihrab (tempat ibadah)nya guna berbakti kepada Rabbnya. Maka dari itu dua orang yang bersengketa me-manjat pagar menuju mihrabnya, karena apabila ia telah menyen-diri di mihrabnya, maka tidak seorang pun dapat menemuinya. Jadi, beliau tidak memberikan semua waktunya untuk masyarakat, sekalipun banyak sekali hukum-hukum yang datang kepadanya, melainkan ia menetapkan waktu khusus untuk beribadah kepada Rabbnya, dan jiwanya menjadi bahagia dengan beribadah kepada-Nya dan membantunya untuk tetap ikhlas dalam seluruh perma-salahannya. 9. Semestinya mematuhi etika ketika menghadap para pejabat dan lain-lainnya; sebab, ketika dua orang yang bersengketa masuk untuk menjumpai Nabi Dawud عليه السلام dalam kondisi yang tidak lazim dan bukan dari pintu yang biasa, Nabi Dawud sangat risih dan sangat merasa keberatan, dan beliau melihatnya tidak laik dengan keadaan. 10. Bahwasanya ketidaksopanan etika orang yang bersengketa dan perbuatannya yang tidak sepantasnya, tidak boleh menjadi penghalang bagi sang hakim untuk memberikan keputusan dengan haq. 11. Kesempurnaan sifat santun Nabi Dawud عليه السلام. Hal ini tam-pak pada sikapnya yang tidak marah kepada kedua orang yang bersengketa pada saat keduanya datang menjumpainya tanpa minta izin terlebih dahulu, padahal beliau adalah raja, dan beliau juga tidak membentak dan tidak pula mencela keduanya. 12. Orang yang terzhalimi (teraniaya) boleh mengatakan ke-pada yang menzhalimi, "Engkau telah menzhalimiku," atau, "Wahai orang zhalim," atau yang serupa dengannya, atau, "Orang yang telah menganiayaku." Ini berdasarkan perkataan keduanya: ﴾ خَصۡمَانِ بَغَىٰ بَعۡضُنَا عَلَىٰ بَعۡضٖ ﴿ "Kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zhalim kepada yang lain." (Shad: 22). 13. Bahwasanya orang yang diberi bimbingan dan arahan, sekalipun berkedudukan tinggi dan berilmu, apabila dinasihati oleh seseorang atau diberi arahan, maka ia tidak akan marah dan tidak pula merasa sempit hati, bahkan ia segera menerimanya dan berterima kasih. Sesungguhnya kedua orang yang berselisih ter-sebut telah memberi nasihat kepada Nabi Dawud, namun beliau tidak merasa sempit hati dan tidak pula marah karenanya, bahkan hal itu tidak membuat diri beliau berpaling dari yang haq, dan justru beliau memutuskan dengan kebenaran murni. 14. Bahwasanya suka bergaul dengan kaum kerabat dan sahabat-sahabat, dan banyaknya kegandrungan (kecintaan) pada dunia dan materi dapat menyebabkan permusuhan di antara me-reka, sebagian berbuat zhalim terhadap sebagian yang lain, dan tidak ada yang dapat mencegah hal ini kecuali takwa kepada Allah dan sabar dalam menghadapi berbagai permasalahan dengan ber-iman dan beramal shalih. Dan yang berbuat demikian ini jarang sekali ada pada manusia. 15. Bahwasanya istighfar (meminta ampun) dan ibadah, ter-utama shalat termasuk amal yang dapat menghapuskan dosa-dosa. Sebab Allah سبحانه وتعالى memberikan ampunan bagi dosa Nabi Dawud عليه السلام atas istighfar dan sujudnya. 16. Allah سبحانه وتعالى memuliakan hambaNya, yaitu Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman عليهما السلام dengan kedekatan padaNya dan pahala yang baik, dan juga dengan menepis dugaan bahwa apa yang terjadi pada mereka berdua itu mengurangi derajat mereka di sisi Allah سبحانه وتعالى. Ini bagian dari kemahalembutanNya kepada hamba-hambaNya yang tulus. Dan kalau Allah sudah mengampuni dan menghilang-kan bekas dosa-dosa mereka, maka Dia menghapus akibat-akibat yang ditimbulkannya semuanya, hingga apa saja yang terlintas di dalam hati manusia. Karena sesungguhnya apabila mereka menge-tahui sebagian dosa-dosanya dan hati mereka merasakan turunnya derajat mereka dari derajat yang semula, maka Allah سبحانه وتعالى pasti meng-hilangkan kesan-kesan tersebut, dan hal seperti itu sama sekali tidak sulit bagi Allah yang Mahamulia lagi Maha Pengampun. 17. Bahwasanya memberikan keputusan hukum di antara manusia merupakan kedudukan Agama yang dilaksanakan oleh para utusan Allah dan manusia-manusia pilihanNya, dan sesung-guhnya tugas orang yang melaksanakannya adalah memberikan keputusan dengan haq (benar) dan menjauhi hawa nafsu. Memberi-kan keputusan dengan haq itu menuntut adanya ilmu pengetahuan tentang permasalahan-permasalahan syar'i dan pengetahuan ten-tang bentuk permasalahan yang akan diberikan putusan dan cara memasukkannya ke dalam hukum syar'i. Maka orang yang bodoh (tidak mengerti) berada di antara salah satu dari dua perkara ini; tidak berwenang memberikan keputusan dan tidak halal baginya memberanikan diri untuk melakukannya. 18. Hendaknya seorang hakim mewaspadai hawa nafsu dan selalu menyadarinya, sebab rongrongan hawa nafsu itu tidak akan pernah lepas darinya, bahkan semestinya ia selalu bermujahadah melawan nafsu dengan cara menjadikan kebenaran sebagai tujuan-nya, dan hendaknya ia menanggalkan dari dirinya segala rasa cinta atau rasa benci terhadap salah satu dari dua orang yang berseng-keta pada saat akan mengeluarkan keputusan. 19. Sesungguhnya Nabi Sulaiman عليه السلام termasuk bagian dari keutamaan Nabi Dawud dan termasuk anugerah Allah سبحانه وتعالى kepada-nya, di mana Allah telah menganugerahkan Sulaiman kepadanya; dan sesungguhnya di antara nikmat Allah yang paling besar kepada hambaNya adalah kalau Dia mengaruniakan padanya seorang anak yang shalih. Jika anak shalih itu adalah seorang yang berilmu, maka itu adalah cahaya di atas cahaya. 20. Pujian dan sanjungan Allah سبحانه وتعالى kepada Nabi Sulaiman عليه السلام yang terdapat dalam FirmanNya, ﴾ نِّعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٞ 44 ﴿ "Dia adalah sebaik-baik hamba, sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat taat." (Shad: 44). 21. Betapa banyaknya kebaikan Allah سبحانه وتعالى dan karuniaNya ke-pada hamba-hambaNya, di mana Dia anugerahkan kepada mereka amal shalih dan akhlak mulia, kemudian Dia memuji mereka ka-renanya. Dan Dia adalah Yang Maha Pemberi karunia dan Maha Pemberi. 22. Sesungguhnya setiap sesuatu yang melalaikan seorang hamba dari Allah سبحانه وتعالى, maka ia adalah suatu kesialan dan dicela. Maka hendaklah ia meninggalkannya dan beralih kepada apa yang lebih bermanfaat. 23. Kaidah yang terkenal mengatakan, "Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah menggantikan-nya dengan yang lebih baik darinya." Nabi Sulaiman عليه السلام menyem-belih kuda yang sangat gagah lagi berlari kencang yang sangat disukai oleh jiwa, adalah demi mengutamakan cinta kepada Allah. Maka dari itu Allah menggantikannya dengan yang lebih baik dari itu, yaitu menundukkan kepadanya angin sepoi nan lembut yang bertiup berdasarkan perintahnya, kemana saja ia suka dan ia maksud. Bertiupnya di waktu pagi satu bulan dan di waktu sore satu bulan pula. Dan Allah juga menundukkan setan-setan kepada-nya yang mempunyai kemampuan mengerjakan pekerjaan-peker-jaan berat yang tidak bisa dilakukan oleh manusia. 24. Bahwasanya penundukan setan-setan tidak mungkin ter-jadi bagi seseorang pun setelah Nabi Sulaiman عليه السلام. 25. Bahwasanya Nabi Sulaiman عليه السلام adalah seorang raja se-kaligus seorang nabi. Beliau bisa melakukan apa saja yang beliau inginkan, akan tetapi ia tidak menghendaki kecuali keadilan; beda dengan seorang nabi yang hamba, karena kehendak nabi yang hamba mengikuti perintah Allah. Maka ia tidak mengerjakan dan tidak pula meninggalkan kecuali berdasarkan perintah, seperti halnya nabi kita, Nabi Muhammad a. Kondisi seperti ini lebih sempurna.

38:41–44Page 455

وَٱذۡكُرۡ عَبۡدَنَآ أَيُّوبَ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّي مَسَّنِيَ ٱلشَّيۡطَٰنُ بِنُصۡبٖ وَعَذَابٍ ٤١

And remember Our servant Job, when he called to his Lord, "Indeed, Satan has touched me with hardship and torment."

ٱرۡكُضۡ بِرِجۡلِكَۖ هَٰذَا مُغۡتَسَلُۢ بَارِدٞ وَشَرَابٞ ٤٢

[So he was told], "Strike [the ground] with your foot; this is a [spring for a] cool bath and drink."

وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ أَهۡلَهُۥ وَمِثۡلَهُم مَّعَهُمۡ رَحۡمَةٗ مِّنَّا وَذِكۡرَىٰ لِأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٤٣

And We granted him his family and a like [number] with them as mercy from Us and a reminder for those of understanding.

وَخُذۡ بِيَدِكَ ضِغۡثٗا فَٱضۡرِب بِّهِۦ وَلَا تَحۡنَثۡۗ إِنَّا وَجَدۡنَٰهُ صَابِرٗاۚ نِّعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٞ ٤٤

[We said], "And take in your hand a bunch [of grass] and strike with it and do not break your oath."1 Indeed, We found him patient, an excellent servant. Indeed, he was one repeatedly turning back [to Allāh].

"Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Rabbnya, 'Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.' 'Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum.' Dan Kami anugerahkan kepadanya keluarga-nya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula, sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat, maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Se-sungguhnya Kami dapati dia seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat." (Shad: 41-44).

(41) Maksudnya, ﴾ وَٱذۡكُرۡ ﴿ "dan ingatlah" di dalam kitab suci yang penuh pelajaran ini, ﴾ عَبۡدَنَآ أَيُّوبَ ﴿ "akan hamba Kami Ayyub" , de-ngan sebaik-baik mengingat, dan pujilah dia dengan sebaik-baik pujian, yaitu pada saat ia ditimpa penyakit, lalu ia sabar atas pe-nyakit yang dideritanya; ia tidak mengeluh kepada selain Rabbnya dan tidak pula pernah kembali kecuali hanya kepadaNya. Maka ﴾ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ ﴿ "ia menyeru Rabbnya," seraya berdoa kepadaNya, bukan kepada selainNya ia mengadu, seraya mengatakan, Rabbku,﴾ أَنِّي مَسَّنِيَ ٱلشَّيۡطَٰنُ بِنُصۡبٖ وَعَذَابٍ ﴿ "sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan." Artinya, dengan penyakit yang sangat menyusahkan, melelahkan, lagi menyiksa. Setan berhasil menguasai jasadnya dan meniupnya hingga sekujur tubuhnya berkoreng lalu bernanah sesudah itu, dan keadaannya pun makin parah, dan keluarga serta hartanya ikut binasa.

(42) Lalu dikatakan kepada beliau, ﴾ ٱرۡكُضۡ بِرِجۡلِكَۖ ﴿ "Hantamkan-lah kakimu." Maksudnya, pukullah tanah dengan kakimu agar ter-pancar sumber air untukmu, dari situ kamu mandi dan minum, hingga mudarat dan penyakit sembuh dari badanmu. Nabi Ayyub pun melakukannya dan hilanglah penyakit yang memudaratkan itu dari jasadnya dan Allah menyembuhkannya.

(43) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ أَهۡلَهُۥ ﴿ "Dan Kami anugerahkan kepadanya keluarga-nya." Menurut suatu pendapat, Allah سبحانه وتعالى menghidupkan kembali mereka, ﴾ وَمِثۡلَهُم مَّعَهُمۡ ﴿ "dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula" di dunia, kemudian Allah menjadikannya kaya dan mengaruniakan harta yang berlimpah kepadanya, ﴾ رَحۡمَةٗ مِّنَّا ﴿ "sebagai rahmat dari Kami" kepada hamba Kami Ayyub, karena ia telah sabar, maka Kami tetapkan bagian dari rahmat Kami padanya sebagai pahala yang segera di dunia dan nanti di akhirat, ﴾ وَذِكۡرَىٰ لِأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran." Maksudnya, dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran dan ibrah dari kondisi Ayyub, sehingga mereka mengetahui bahwa siapa saja yang sabar atas musibah, maka Allah سبحانه وتعالى akan membalasnya dengan pahala dunia dan akhirat, dan Allah kabulkan doanya apabila ia berdoa.

(44) ﴾ وَخُذۡ بِيَدِكَ ضِغۡثٗا ﴿ "Dan ambillah dengan tanganmu seikat," maksudnya, seikat rumput, ﴾ فَٱضۡرِب بِّهِۦ وَلَا تَحۡنَثۡۗ ﴿ "maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah." Para ahli tafsir mengata-kan, Ayyub dalam penderitaan dan sakitnya pernah marah ter-hadap istrinya karena beberapa persoalan, sehingga ia bersumpah kalau ia disembuhkan oleh Allah, niscaya ia akan mencambuk istrinya sebanyak 100 kali. Nah, setelah beliau disembuhkan oleh Allah, sedangkan istrinya sudah menjadi shalihah dan berbuat baik kepadanya –semoga Allah merahmati mereka berdua–, lalu Allah memerintahkan kepadanya agar menderanya dengan seikat yang berisi seratus batang rumput satu kali deraan saja, sehingga dengan demikian ia berarti telah melaksanakan sumpahnya dengan baik. ﴾ إِنَّا وَجَدۡنَٰهُ ﴿ "Sesungguhnya kami dapati dia," maksudnya, Ayyub, ﴾ صَابِرٗاۚ ﴿ "seorang yang sabar." yakni: Kami telah mengujinya dengan musibah besar, dan ia bersabar karena mencari ridha Allah سبحانه وتعالى. ﴾ نِّعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ ﴿ "Dialah sebaik-baik hamba" yang telah menyempurnakan ting-katan-tingkatan ubudiyah pada saat kondisi senang dan susah, sulit dan lapang. ﴾ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٞ ﴿ "Sesungguhnya dia amat taat," maksudnya, orang yang selalu kembali kepada Allah dalam segala keperluan agama dan dunianya, banyak berdzikir, berdoa, mencintai dan mengabdikan diri kepada RabbNya.

38:45–47Page 456

وَٱذۡكُرۡ عِبَٰدَنَآ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ أُوْلِي ٱلۡأَيۡدِي وَٱلۡأَبۡصَٰرِ ٤٥

And remember Our servants, Abraham, Isaac and Jacob - those of strength and [religious] vision.

إِنَّآ أَخۡلَصۡنَٰهُم بِخَالِصَةٖ ذِكۡرَى ٱلدَّارِ ٤٦

Indeed, We chose them for an exclusive quality: remembrance of the home [of the Hereafter].

وَإِنَّهُمۡ عِندَنَا لَمِنَ ٱلۡمُصۡطَفَيۡنَ ٱلۡأَخۡيَارِ ٤٧

And indeed they are, to Us, among the chosen and outstanding.

"Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai kekuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang baik." (Shad: 45-47).

(45) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرۡ عِبَٰدَنَآ ﴿ "Dan ingatlah hamba-hamba Kami" yang menuluskan ibadah kepada Kami, dengan ingatan yang baik, (yaitu) ﴾ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Ibrahim," al-khalil, ﴾ وَ﴿ "dan" putranya ﴾ إِسۡحَٰقَ ﴿ "Ishaq" dan putranya, ﴾ وَيَعۡقُوبَ أُوْلِي ٱلۡأَيۡدِي ﴿ "Ya'qub yang mempu-nyai kekuatan," maksudnya, kekuatan dalam beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱلۡأَبۡصَٰرِ ﴿ "dan ilmu-ilmu yang tinggi," pemahaman yang benar tentang Agama Allah. Allah menyifati mereka dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih yang banyak.

(46) ﴾ إِنَّآ أَخۡلَصۡنَٰهُم بِخَالِصَةٖ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan akhlak yang tinggi," yang agung dan keunggulan yang besar, yaitu, ﴾ ذِكۡرَى ٱلدَّارِ ﴿ "selalu mengingatkan kepada negeri akhirat." Kami telah menjadikan ingat selalu kepada negeri akhirat terus ada dalam hati mereka dan beramal untuknya dalam kebanyakan waktu. Ikhlas dan selalu merasa diawasi Allah menjadi ciri mereka yang abadi. Dan Kami jadikan mereka sebagai peringatan akan negeri akhirat, kondisi dan perihal mereka dapat diambil pelajaran-nya oleh orang yang mau mengambil pelajaran, dan mereka dapat dijadikan sebagai ibrah (suri teladan) oleh orang-orang yang mau meneladani.

(47) ﴾ وَإِنَّهُمۡ عِندَنَا لَمِنَ ٱلۡمُصۡطَفَيۡنَ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan," yaitu orang-orang yang dipilih oleh Allah di antara manusia-manusia pilihanNya, ﴾ ٱلۡأَخۡيَارِ ﴿ "yang baik," yaitu yang memiliki segala sifat mulia dan amal yang istiqamah.

38:48–49Page 456

وَٱذۡكُرۡ إِسۡمَٰعِيلَ وَٱلۡيَسَعَ وَذَا ٱلۡكِفۡلِۖ وَكُلّٞ مِّنَ ٱلۡأَخۡيَارِ ٤٨

And remember Ishmael, Elisha and Dhul-Kifl, and all are among the outstanding.

هَٰذَا ذِكۡرٞۚ وَإِنَّ لِلۡمُتَّقِينَ لَحُسۡنَ مَـَٔابٖ ٤٩

This is a reminder. And indeed, for the righteous is a good place of return -

"Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa', dan Dzulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik. Ini adalah pelajaran." (Shad: 48-49).

(48) Maksudnya, ingatlah para nabi itu dengan sebaik-baik mengingat, dan pujilah mereka dengan sebaik-baik pujian, karena masing-masing mereka termasuk manusia-manusia pilihan, yang dipilih oleh Allah di antara manusia, dan Allah memilihkan untuk mereka kondisi-kondisi terbaik berupa amal-amal perbuatan, akhlak, sifat-sifat terpuji dan sikap-sikap yang lurus.

(49) ﴾ هَٰذَا ﴿ "Ini," maksudnya, mengingat para nabi pilihan ini dan mengingat sifat-sifat mereka, ﴾ ذِكۡرٞۚ ﴿ "adalah pelajaran," di dalam al-Qur`an yang penuh dengan pelajaran ini, di mana kondisi dan perihal mereka dijadikan pelajaran oleh orang-orang yang mau mengambil pelajaran, dan meneladani sifat-sifat terpuji mereka dirindukan oleh orang-orang yang mau meneladaninya; dan dapat diketahui apa-apa yang Allah anugerahkan kepada mereka, seperti sihat-sifat yang mulia dan apa-apa yang tersebar luas di kalangan manusia, yaitu pujian. Ini semua adalah salah satu bentuk meng-ingat, yaitu mengingat ahlul khair (para pelaku kebaikan).

Artinya, ﴾ وَإِنَّ لِلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa" kepada Rabbnya dengan cara mematuhi perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya dari setiap orang laki-laki dan perempuan yang beriman ﴾ لَحُسۡنَ مَـَٔابٖ ﴿ "benar-benar di-sediakan sebaik-baik tempat kembali," yakni tempat kembali yang sangat baik dan tempat pulang yang terindah.

38:50–54Page 456

جَنَّٰتِ عَدۡنٖ مُّفَتَّحَةٗ لَّهُمُ ٱلۡأَبۡوَٰبُ ٥٠

Gardens of perpetual residence, whose doors will be opened to them.

مُتَّكِـِٔينَ فِيهَا يَدۡعُونَ فِيهَا بِفَٰكِهَةٖ كَثِيرَةٖ وَشَرَابٖ ٥١

Reclining within them, they will call therein for abundant fruit and drink.

۞ وَعِندَهُمۡ قَٰصِرَٰتُ ٱلطَّرۡفِ أَتۡرَابٌ ٥٢

And with them will be women limiting [their] glances1 and of equal age.

هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِيَوۡمِ ٱلۡحِسَابِ ٥٣

This is what you, [the righteous], are promised for the Day of Account.

إِنَّ هَٰذَا لَرِزۡقُنَا مَا لَهُۥ مِن نَّفَادٍ ٥٤

Indeed, this is Our provision; for it there is no depletion.

"Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar disediakan sebaik-baik tempat kembali, yaitu Surga 'Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka, di dalamnya mereka bertelekan sambil meminta buah-buahan yang banyak dan mi-numan di surga itu. Dan pada sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan sebaya umurnya. Inilah apa yang dijanjikan kepadamu pada hari berhisab. Sesungguhnya ini adalah benar-benar rizki dari Kami yang tiada habis-habisnya." (Shad: 50-54).

(50) Kemudian Allah menjelaskan dan merincikannya, seraya berfirman, ﴾ جَنَّٰتِ عَدۡنٖ ﴿ "Yaitu Surga 'Adn," yakni surga-surga tempat tinggal yang penghuninya sama sekali tidak mau diganti dengan apa pun karena kesempurnaannya dan kelengkapan nik-mat-nikmatnya, dan mereka tidak akan pernah keluar darinya dan tidak pula dikeluarkan. ﴾ مُّفَتَّحَةٗ لَّهُمُ ٱلۡأَبۡوَٰبُ ﴿ "Yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka." Maksudnya, dibuka untuk mereka pintu-pintu setiap tingkatannya dan tempat-tempat tinggalnya, mereka sudah tidak perlu membukanya sendiri, melainkan mereka selalu dilayani. Ini juga adalah bukti atas keamanan mereka yang paripurna, dan bahwa di Surga 'Adn itu tidak ada sesuatu pun yang mengharus-kan pintu-pintunya ditutup.

(51) ﴾ مُتَّكِـِٔينَ فِيهَا ﴿ "Di dalamnya mereka bersandar" pada dipan-dipan yang terhias dan tempat-tempat duduk yang berukiran indah, ﴾ يَدۡعُونَ فِيهَا ﴿ "sambil meminta," maksudnya, mereka menyuruh para pembantu untuk menghidangkan ﴾ بِفَٰكِهَةٖ كَثِيرَةٖ وَشَرَابٖ ﴿ "buah-buahan yang banyak dan minuman di surga itu," dari segala yang di-inginkan oleh nafsu mereka dan yang lezat dipandang mata mereka. Ini menunjukkan pada kesempurnaan nikmat, kesempurnaan ke-senangan dan ketenangan, serta kesempurnaan kelezatan.

(52) ﴾ وَعِندَهُمۡ ﴿ "Dan pada sisi mereka" ada istri-istri mereka dari bidadari-bidadari ﴾ قَٰصِرَٰتُ ﴿ "yang tidak liar," pandangannya hanya tertuju kepada suami-suaminya saja, dan pandangan mata suami-suaminya pun tertuju kepada mereka karena kecantikan mereka semua dan karena kecintaan masing-masing kepada pasangannya dan tidak ada hasrat kepada yang lain, dan sang suami tidak meng-hendaki wanita lain sebagai ganti dari istrinya ﴾ أَتۡرَابٌ ﴿ "dan sebaya umurnya," maksudnya, usianya sama, yaitu usia remaja matang, usia terindah dan paling nikmat.

(53) ﴾ هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ ﴿ "Inilah apa yang dijanjikan kepadamu" wahai orang-orang yang bertakwa, ﴾ لِيَوۡمِ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "pada hari berhisab" sebagai balasan atas amal-amal shalih kalian.

(54) ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَرِزۡقُنَا ﴿ "Sesungguhnya ini adalah benar-benar rizki dari Kami" yang Kami anugerahkan kepada para penghuni negeri kenikmatan, ﴾ مَا لَهُۥ مِن نَّفَادٍ ﴿ "yang tiada habis-habisnya," yakni, tidak pernah putus, melainkan ia selalu ada dan tersedia sepanjang waktu, dan selalu bertambah setiap saat. Dan hal seperti ini sama sekali tidak sulit bagi Rabb yang Mahamulia, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Mahabaik lagi Pemberi karunia, Mahaluas lagi Mahakaya, Maha Terpuji lagi Mahalembut, Maha Pengasih Maha-raja yang Merajai, Mahatinggi lagi Mahaindah lagi Maha Pemberi, Pemilik karunia yang luar biasa, kemurahan yang berlimpah ruah, yang nikmat-nikmatNya tidak terhitung dan tidak bisa diketahui sebagian kebaikanNya (apalagi keseluruhannya. Pent).

Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences

Contents

Ayat al-Kursi36Al-Kahfpage 42juz 15Bukhari 1Muslim 2999

Style

Theme
Text size
Layout

Читать на русском