As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian
Az-Zumar 39:39–61
39:39–40Page 462
قُلۡ يَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ إِنِّي عَٰمِلٞۖ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ ٣٩
Say, "O my people, work according to your position, [for] indeed, I am working; and you are going to know
مَن يَأۡتِيهِ عَذَابٞ يُخۡزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيۡهِ عَذَابٞ مُّقِيمٌ ٤٠
To whom will come a torment disgracing him and on whom will descend an enduring punishment."
"Katakanlah, 'Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keada-anmu, sesungguhnya aku akan bekerja pula, maka kelak kamu akan mengetahui, siapa yang akan mendapat siksa yang menghinakan-nya dan lagi ditimpa oleh azab yang kekal'." (Az-Zumar: 39-40).
(39-40) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka wahai Rasul, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ ﴿ "Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keada-anmu." Maksudnya, menurut keadaan kalian yang kalian suka untuk diri kalian, yaitu beribadah kepada sembahan yang tidak berhak diibadahi sedikitpun dan tidak pula dia mempunyai ke-kuasaan sedikitpun. ﴾ إِنِّي عَٰمِلٞۖ ﴿ "Sesungguhnya aku akan bekerja pula" menurut apa yang aku serukan kepada kalian, yaitu menuluskan ketaatan beragama hanya kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ ﴿ "maka kelak kamu akan mengetahui" untuk siapa kesudahan yang baik dan ﴾ مَن يَأۡتِيهِ عَذَابٞ يُخۡزِيهِ ﴿ "siapa yang akan mendapat siksa yang menghina-kannya" di dunia ini, ﴾ وَيَحِلُّ عَلَيۡهِ ﴿ "dan lagi ditimpa" di akhirat ﴾ عَذَابٞ مُّقِيمٌ ﴿ "oleh azab yang kekal," yang dia tidak dipindah darinya dan tidak pernah ada habis-habisnya. Ini adalah ancaman yang sangat berat bagi mereka, dan mereka mengetahui bahwa sesungguhnya merekalah yang berhak mendapat azab yang kekal, akan tetapi kezhaliman dan sikap keras kepala telah menghalangi mereka untuk beriman.
39:41Page 463
إِنَّآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ لِلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّۖ فَمَنِ ٱهۡتَدَىٰ فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيۡهَاۖ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡهِم بِوَكِيلٍ ٤١
Indeed, We sent down to you the Book for the people in truth. So whoever is guided - it is for [the benefit of] his soul; and whoever goes astray only goes astray to its detriment. And you are not a manager [i.e., authority] over them.
"Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu al-Kitab untuk manusia dengan membawa kebenaran; barangsiapa yang berpe-doman kepadanya (Muhammad), maka itu untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat, maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggungjawab terhadap mereka." (Az-Zumar: 41).
(41) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwasanya Dia telah menurun-kan kepada RasulNya al-Kitab yang mengandung kebenaran dalam berita-beritanya, perintah-perintah dan larangan-laranganNya, yang merupakan materi hidayah dan penjelasan bagi orang yang menginginkan sampai kepada Allah سبحانه وتعالى dan kepada negeri kemulia-anNya, dan sesungguhnya dengan al-Kitab tersebut berarti tegaklah hujjah atas segenap umat manusia. ﴾ فَمَنِ ٱهۡتَدَىٰ ﴿ "Barangsiapa yang berpedoman" kepada cahayanya dan mengikuti perintah-perintah-nya, maka sesungguhnya manfaatnya akan kembali kepada dirinya sendiri ﴾ وَمَن ضَلَّ ﴿ "dan siapa yang sesat" setelah hidayah menjadi jelas baginya, ﴾ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيۡهَاۖ ﴿ "maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat dirinya sendiri," tidak membahayakan Allah sedikitpun. ﴾ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡهِم بِوَكِيلٍ ﴿ "Dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggungjawab terhadap mereka," untuk menjaga amal perbuatan mereka, yang akan menghisab mereka atas amal perbuatannya dan juga tidak bisa memaksa mereka untuk menganut apa yang kamu kehendaki, sebab kamu hanya seorang penyampai, kamu menyampaikan kepada mereka apa-apa yang diperintahkan kepada kamu (untuk menyampaikannya).
39:42Page 463
ٱللَّهُ يَتَوَفَّى ٱلۡأَنفُسَ حِينَ مَوۡتِهَا وَٱلَّتِي لَمۡ تَمُتۡ فِي مَنَامِهَاۖ فَيُمۡسِكُ ٱلَّتِي قَضَىٰ عَلَيۡهَا ٱلۡمَوۡتَ وَيُرۡسِلُ ٱلۡأُخۡرَىٰٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمًّىۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ ٤٢
Allāh takes the souls at the time of their death, and those that do not die [He takes] during their sleep. Then He keeps those for which He has decreed death and releases the others for a specified term. Indeed in that are signs for a people who give thought.
"Allah memegang jiwa ketika matinya dan jiwa yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Az-Zumar: 42).
(42) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa hanya Dia semata yang bertindak mengatur hamba-hambaNya pada saat mereka terjaga dan tidur, serta saat mereka hidup dan mereka mati, seraya ber-firman, ﴾ ٱللَّهُ يَتَوَفَّى ٱلۡأَنفُسَ حِينَ مَوۡتِهَا ﴿ "Allah memegang jiwa ketika matinya," yakni kematian besar atau meninggal dunia, dan pemberitahuan dariNya bahwasanya Dia-lah yang mewafatkan jiwa. Dan penyan-daran perbuatan (mematikan) kepada DiriNya tidak berlawanan dengan kenyataan bahwa sesungguhnya Dia telah menugaskan malaikat maut dan para pembantunya untuk mematikan tersebut, sebagaimana FirmanNya, ﴾ قُلۡ يَتَوَفَّىٰكُم مَّلَكُ ٱلۡمَوۡتِ ٱلَّذِي وُكِّلَ بِكُمۡ ﴿ "Katakanlah, 'Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu'." (As-Sajdah: 11), ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ تَوَفَّتۡهُ رُسُلُنَا وَهُمۡ لَا يُفَرِّطُونَ 61 ﴿ "Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya." (Al-An'am: 61). Hal itu karena Allah سبحانه وتعالى menisbatkan banyak hal kepada Diri-Nya dengan melihat kepada kenyataan bahwa Dia-lah Pencipta lagi Pengatur; dan Dia juga (kadang) menisbatkannya kepada sebab-sebabnya dengan melihat pada kenyataan bahwa di antara sunnah dan hikmahNya adalah Dia menjadikan sebab-musabab bagi tiap-tiap sesuatu. Dan FirmanNya, ﴾ وَٱلَّتِي لَمۡ تَمُتۡ فِي مَنَامِهَاۖ ﴿ "Dan jiwa yang belum mati di waktu tidurnya," dan ini adalah kematian kecil, maksudnya, Dia menahan jiwa yang belum mati di saat tidur, ﴾ فَيُمۡسِكُ ﴿ "maka Dia tahanlah" dari dua jiwa ini, jiwa ﴾ ٱلَّتِي قَضَىٰ عَلَيۡهَا ٱلۡمَوۡتَ ﴿ "yang telah Dia tetapkan kematiannya," yaitu jiwa orang yang telah mati atau telah ditetapkan untuk mati di dalam tidurnya, ﴾ وَيُرۡسِلُ ﴿ "dan Dia melepaskan" jiwa ﴾ ٱلۡأُخۡرَىٰٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمًّىۚ ﴿ "yang lain sampai waktu yang ditentukan." Maksudnya, hingga rizki dan ajalnya sempurna. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demi-kian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir," atas kemaha-kuasaanNya dan atas KuasaNya menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati. Di dalam ayat ini terdapat satu dalil yang menunjukkan bahwa ruh dan jiwa merupakan jism (makhluk) yang berdiri sendiri, yang esensinya sangat berbeda dengan esensi tubuh, dan bahwasanya ia adalah makhluk yang dikendalikan. Allah mengendalikannya dalam mematikan, menahan dan melepasnya, dan bahwa sesung-guhnya ruh orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati saling berjumpa di alam Barzakh, mereka berkumpul dan saling berbicara, kemudian Allah melepas ruh-ruh orang-orang yang hidup dan menahan ruh-ruh orang-orang yang sudah mati.
39:43–44Page 463
أَمِ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ شُفَعَآءَۚ قُلۡ أَوَلَوۡ كَانُواْ لَا يَمۡلِكُونَ شَيۡـٔٗا وَلَا يَعۡقِلُونَ ٤٣
Or have they taken other than Allāh as intercessors? Say, "Even though they do not possess [power over] anything, nor do they reason?"
قُل لِّلَّهِ ٱلشَّفَٰعَةُ جَمِيعٗاۖ لَّهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ثُمَّ إِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ٤٤
Say, "To Allāh belongs [the right to allow] intercession entirely. To Him belongs the dominion of the heavens and the earth. Then to Him you will be returned."
"Atau apakah mereka mengambil pemberi syafa'at selain Allah. Katakanlah, 'Dan apakah meskipun mereka tidak memiliki sesuatu pun dan tidak berakal?' Katakanlah, 'Hanya kepunyaan Allah syafa'at itu semuanya. KepunyaanNya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepadaNya-lah kamu dikembalikan'." (Az-Zumar: 43-44).
(43) Allah سبحانه وتعالى mengingkari orang yang menjadikan selain Dia sebagai pemberi syafa'at, dengan bergantung kepada mereka, memohon kepada mereka, dan menyembah mereka. ﴾ قُلۡ ﴿ "Kata-kanlah" kepada mereka sambil menjelaskan kebodohan mereka dan bahwa sesungguhnya mereka sama sekali tidak berhak diibadahi (disembah). ﴾ أَوَلَوۡ كَانُواْ ﴿ "Dan apakah meskipun mereka," yakni, apa-apa yang kalian jadikan sebagai pemberi syafa'at itu ﴾ لَا يَمۡلِكُونَ شَيۡـٔٗا ﴿ "tidak memiliki sesuatu pun," maksudnya, sebesar biji sawi sekalipun di langit dan tidak pula di bumi ini, dan tidak pula lebih kecil da-rinya, apalagi yang lebih besar! Bahkan mereka tidak mempunyai akal yang karenanya mereka berhak dipuji, sebab mereka adalah benda-benda mati yang terbuat dari batu, pohon, gambar dan orang-orang mati? Maka apakah bisa dikatakan, bahwa sesung-guhnya orang yang menyembahnya itu mempunyai akal, atau dia adalah benar-benar manusia yang paling sesat, paling bodoh, dan paling besar kezhalimannya?
(44) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka, ﴾ لِّلَّهِ ٱلشَّفَٰعَةُ جَمِيعٗاۖ ﴿ "Hanya kepunyaan Allah syafa'at itu semuanya," karena semua urusan adalah kepunyaan Allah, dan setiap pemberi syafa'at pasti takut kepadaNya, dan tidak seorang pun dapat memberikan syafa'at di sisiNya kecuali berdasarkan izin dariNya. Apabila Dia menghen-daki rahmat (belas kasih) bagi hambaNya, maka Dia memberi izin kepada pemberi syafa'at terhormat di sisiNya untuk memberikan syafa'at, sebagai rahmat dariNya kepada keduanya. Kemudian Allah menetapkan bahwasanya semua syafa'at adalah milikNya berdasarkan FirmanNya, ﴾ لَّهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "KepunyaanNya kerajaan langit dan bumi." Maksudnya, semua apa yang ada di dalamnya, berupa benda, perbuatan, dan sifat. Maka yang wajib adalah, syafa'at diminta kepada siapa yang memilikinya dan ibadah diikhlaskan hanya kepadaNya. ﴾ ثُمَّ إِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Kemudian kepadaNya-lah kamu dikembalikan," lalu Dia akan memberikan balasan kepada orang yang ikhlas kepa-daNya dengan pahala yang berlipat ganda, dan kepada orang yang mempersekutukanNya dengan azab yang membinasakan.
39:45–46Page 463
وَإِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَحۡدَهُ ٱشۡمَأَزَّتۡ قُلُوبُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِۖ وَإِذَا ذُكِرَ ٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦٓ إِذَا هُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ ٤٥
And when Allāh is mentioned alone, the hearts of those who do not believe in the Hereafter shrink with aversion, but when those [worshipped] other than Him are mentioned, immediately they rejoice.
قُلِ ٱللَّهُمَّ فَاطِرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ عَٰلِمَ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ أَنتَ تَحۡكُمُ بَيۡنَ عِبَادِكَ فِي مَا كَانُواْ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ ٤٦
Say, "O Allāh, Creator of the heavens and the earth, Knower of the unseen and the witnessed, You will judge between your servants concerning that over which they used to differ."
"Dan apabila nama Allah saja yang disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati. Katakanlah, 'Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Engkaulah Yang memutuskan antara hamba-hambaMu tentang apa yang selalu mereka perselisihkan." (Az-Zumar: 45-46).
(45-46) Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kondisi orang-orang musy-rikin dan apa yang ditimbulkan oleh kesyirikan mereka, yaitu bahwa sesungguhnya mereka ﴾ وَإِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَحۡدَهُ ﴿ "apabila nama Allah saja yang disebut" untuk mengesakanNya dan sebagai perintah untuk mengikhlaskan ketaatan hanya kepadaNya serta mening-galkan apa-apa yang disembah selain Dia, mereka merasa kesal, bosan, dan sangat tidak menyukainya. ﴾ وَإِذَا ذُكِرَ ٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦٓ ﴿ "Dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut" seperti berhala dan pujaan-pujaan, dan ada penyeru yang menyerukan supaya menyembah dan memujinya, ﴾ إِذَا هُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "tiba-tiba mereka bergirang hati" karenanya, karena senang sembahan-sembahan me-reka disebut dan karena syirik sejalan dengan hawa nafsu mereka. Kondisi seperti ini adalah kondisi yang paling jahat dan paling keji; namun saat mereka adalah di Hari Pembalasan nanti! Di sana-lah hak akan diambil dari mereka dan dilihat, apakah tuhan-tuhan mereka itu berguna bagi mereka yang dahulu mereka sembah dari selain Allah?! Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ قُلِ ٱللَّهُمَّ فَاطِرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Katakanlah, 'Ya Allah, Pencipta langit dan bumi'," Pencipta dan Penge-lola keduanya, ﴾ عَٰلِمَ ٱلۡغَيۡبِ ﴿ "Yang mengetahui yang ghaib" yaitu yang lepas dari jangkauan penglihatan dan pengetahuan kita ﴾ وَٱلشَّهَٰدَةِ ﴿ "dan yang nyata," yang dapat kita saksikan,﴾ أَنتَ تَحۡكُمُ بَيۡنَ عِبَادِكَ فِي مَا كَانُواْ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Engkaulah Yang memutuskan antara hamba-hambaMu tentang apa yang selalu mereka perselisihkan." Sesungguhnya di antara perselisihan yang sangat besar ada-lah perselisihan orang-orang yang bertauhid yang tulus ikhlas yang meyakini bahwa apa yang mereka anut itulah yang haq, dan bahwa milik merekalah al-Husna (surga) di akhirat, bukan milik orang lain; dengan orang-orang musyrikin yang menjadikan selain Engkau sembahan-sembahan dan berhala, mereka menyamakan denganMu siapa yang sama sekali tidak sama sedikitpun, dan mereka benar-benar melecehkanMu dengan sebenar-benar pelecehan, mereka bersenang hati di kala sembahan-sembahan mereka disebut, dan mereka kesal ketika Engkau disebutkan. Sudah seperti itu keadaan-nya, mereka beranggapan bahwa mereka berada di atas kebenaran, sedangkan yang lain di atas kebatilan, dan bahwa surga adalah milik mereka. Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱلَّذِينَ هَادُواْ وَٱلصَّٰبِـِٔينَ وَٱلنَّصَٰرَىٰ وَٱلۡمَجُوسَ وَٱلَّذِينَ أَشۡرَكُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ يَفۡصِلُ بَيۡنَهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ 17 ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabiin, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada Hari Kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu." (Al-Hajj: 17). Dan Allah سبحانه وتعالى telah menginformasikan kepada kita akan ada-nya pemberian keputusan di antara mereka sesudahnya, melalui FirmanNya, ﴾ هَٰذَانِ خَصۡمَانِ ٱخۡتَصَمُواْ فِي رَبِّهِمۡۖ فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ قُطِّعَتۡ لَهُمۡ ثِيَابٞ مِّن نَّارٖ يُصَبُّ مِن فَوۡقِ رُءُوسِهِمُ ٱلۡحَمِيمُ 19 يُصۡهَرُ بِهِۦ مَا فِي بُطُونِهِمۡ وَٱلۡجُلُودُ 20 وَلَهُم مَّقَٰمِعُ مِنۡ حَدِيدٖ 21 كُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَا مِنۡ غَمٍّ أُعِيدُواْ فِيهَا وَذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ 22 إِنَّ ٱللَّهَ يُدۡخِلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ يُحَلَّوۡنَ فِيهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٖ وَلُؤۡلُؤٗاۖ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 23 ﴿ "Inilah dua golongan (golongan Mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Di-siramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), 'Rasailah azab yang membakar ini.' Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang shalih ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi per-hiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutra." (Al-Hajj: 23). Dan Allah سبحانه وتعالى juga telah berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ 82 ﴿ "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-An'am: 82). ﴾ إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ ﴿ "Sesungguhnya orang yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka." (Al-Ma`idah: 72). Pada ayat ini terkandung penjelasan tentang keumuman (keluasan cakupan) ciptaan Allah سبحانه وتعالى, kemutlakan ilmuNya dan keumuman hukumNya yang berlaku di antara hamba-hambaNya. MakakuasaNya yang dariNya semua makhluk ini terlahir dan ilmuNya yang meliputi segala sesuatu membuktikan adanya kepu-tusanNya di antara hamba-hambaNya, kebangkitan mereka dan ilmu pengetahuan Allah kepada amal-amal perbuatan mereka yang baik dan yang buruk, dan ukuran-ukuran balasannya. CiptaanNya membuktikan ilmuNya; tidakkah Tuhan yang menciptakan itu mengetahui?
39:47–48Page 463
وَلَوۡ أَنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُواْ مَا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا وَمِثۡلَهُۥ مَعَهُۥ لَٱفۡتَدَوۡاْ بِهِۦ مِن سُوٓءِ ٱلۡعَذَابِ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۚ وَبَدَا لَهُم مِّنَ ٱللَّهِ مَا لَمۡ يَكُونُواْ يَحۡتَسِبُونَ ٤٧
And if those who did wrong had all that is in the earth entirely and the like of it with it, they would [attempt to] ransom themselves thereby from the worst of the punishment on the Day of Resurrection. And there will appear to them from Allāh that which they had not taken into account.1
وَبَدَا لَهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا كَسَبُواْ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ٤٨
And there will appear to them the evils they had earned, and they will be enveloped by what they used to ridicule.
"Dan sekiranya orang-orang yang zhalim mempunyai apa yang di bumi semuanya dan ada pula sebanyak itu besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk pada Hari Kiamat. Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. Dan jelaslah bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkannya." (Az-Zumar: 47-48).
(47) Setelah Allah menjelaskan bahwasanya Dia-lah Pem-beri keputusan di antara hamba-hambaNya, maka di sini Allah menjelaskan perkataan kaum musyrikin yang begitu keji, seakan-akan jiwa merasa penasaran kepada apa yang akan dilakukan oleh Allah terhadap mereka pada Hari Kiamat kelak. Maka Allah meng-informasikan bahwasanya untuk mereka adalah ﴾ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "siksa" yang terburuk, yakni, yang paling dahsyat lagi paling berat, (setimpal) sebagaimana mereka telah mengatakan kekufuran yang paling berat dan paling keji; dan seandainya saja mereka memiliki semua apa yang ada di bumi berupa emas, perak, mutiara, hewan-hewan, pohon-pohon, tanaman-tanaman, bejana dan segala perlengkapan-nya dan yang serupa dengan itu lagi, kemudian mereka menjadi-kannya sebagai tebusan ﴾ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۚ ﴿ "pada Hari Kiamat"untuk mene-bus diri mereka dari azab dan agar mereka selamat darinya, niscaya tidak diterima dan tidak pula bisa menyelamatkan mereka dari azab Allah sedikitpun jua. Yaitu pada hari yang tidak berguna lagi harta kekayaan ataupun anak-anak keturunan, kecuali orang yang datang menghadap kepada Allah dengan hati yang selamat,﴾ وَبَدَا لَهُم مِّنَ ٱللَّهِ مَا لَمۡ يَكُونُواْ يَحۡتَسِبُونَ ﴿ "dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan." Maksudnya, yang tidak pernah mereka duga, seperti kemurkaan yang amat luar biasa dan kema-rahan yang amat besar, sedangkan mereka dahulu memutuskan lain dari itu bagi diri mereka sendiri.
(48) ﴾ وَبَدَا لَهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا كَسَبُواْ ﴿ "Dan jelaslah bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat," maksudnya, perkara-per-kara yang memperburuk mereka disebabkan oleh perilaku dan usaha mereka sendiri, ﴾ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkannya," yaitu ancaman dan siksaan. Hukuman (siksaan) pun menimpa dan melanda mereka.
39:49–52Page 464
فَإِذَا مَسَّ ٱلۡإِنسَٰنَ ضُرّٞ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلۡنَٰهُ نِعۡمَةٗ مِّنَّا قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلۡمِۭۚ بَلۡ هِيَ فِتۡنَةٞ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ٤٩
And when adversity touches man, he calls upon Us; then when We bestow on him a favor from Us, he says, "I have only been given it because of [my] knowledge." Rather, it is a trial, but most of them do not know.
قَدۡ قَالَهَا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ فَمَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ٥٠
Those before them had already said it, but they were not availed by what they used to earn.
فَأَصَابَهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا كَسَبُواْۚ وَٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنۡ هَٰٓؤُلَآءِ سَيُصِيبُهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا كَسَبُواْ وَمَا هُم بِمُعۡجِزِينَ ٥١
And the evil consequences of what they earned struck them. And those who have wronged of these [people] will be struck [i.e., afflicted] by the evil consequences of what they earned; and they will not cause failure.1
أَوَلَمۡ يَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ٥٢
Do they not know that Allāh extends provision for whom He wills and restricts [it]? Indeed in that are signs for a people who believe.
"Maka apabila manusia ditimpa bahaya, ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami, ia berkata, 'Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah berdasar-kan pengetahuan.' Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui. Sungguh orang-orang yang sebelum mereka juga telah mengatakan itu pula, maka tiadalah berguna bagi mereka apa yang dahulu mereka usahakan. Maka mereka di-timpa oleh akibat buruk dari apa yang mereka usahakan. Dan orang-orang yang zhalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya dan mereka tidak dapat melepaskan diri. Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rizki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendakiNya? Sesungguh-nya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang beriman." (Az-Zumar: 49-52).
(49) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang kondisi dan tabiat manusia, yaitu apabila ia ditimpa hal yang membahayakan, seperti penyakit, kesempitan atau kesusahan ﴾ دَعَانَا ﴿ "ia menyeru Kami" dengan merengek-rengek (sangat serius) untuk membebaskan diri dari apa yang menimpanya, ﴾ ثُمَّ إِذَا خَوَّلۡنَٰهُ نِعۡمَةٗ مِّنَّا ﴿ "kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami," Kami mengangkat bahaya yang menimpanya dan Kami hilangkan kesulitannya, maka ia kembali kafir kepada Rabbnya dan mengingkari kebaikanNya dan malah ﴾ قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلۡمِۭۚ ﴿ "ia berkata, 'Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah berdasarkan pengetahuan'." Maksudnya, pengetahuan Allah bahwasanya aku memang ahlinya dan aku berhak menda-patkannya, sebab aku sangat pemurah dengan harta tersebut; atau karena kepintaranku akan cara-cara memperolehnya. Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ بَلۡ هِيَ فِتۡنَةٞ ﴿ "Sebenarnya itu adalah ujian" yang dengannya Allah menguji hamba-hambaNya agar Dia melihat siapa yang ber-syukur kepadaNya dan siapa pula yang mengingkariNya. ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui," maka dari itu mereka menganggap ujian itu sebagai pemberian kebaikan yang murni, dan tidak jelas bagi mereka antara yang jelas baik de-ngan apa-apa yang kadang bisa menjadi sebab bagi kebaikan dan bisa menjadi sebab keburukan.
(50) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قَدۡ قَالَهَا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ ﴿ "Sungguh orang-orang yang sebelum mereka juga telah mengatakan itu pula," maksud-nya, telah mengatakan seperti perkataan mereka, ﴾ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلۡمِۭۚ ﴿ "Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah berdasarkan pengetahuan," dan ia menjadi warisan bagi orang-orang yang mendustakan, me-reka tidak mengakui nikmat Tuhan mereka dan mereka juga tidak meyakini hakNya. Demikianlah kebiasaan dan tabiat mereka yang berlanjut hingga mereka dibinasakan kemudian, dan tidak berguna ﴾ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "bagi mereka apa yang dahulu mereka usahakan" saat siksaan datang menimpa mereka.
(51) ﴾ فَأَصَابَهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا كَسَبُواْۚ ﴿ "Maka mereka ditimpa oleh akibat buruk dari apa yang mereka usahakan," keburukan-keburukan yang dimaksud di sini adalah siksaan-siksaan, sebab keburukan-kebu-rukan tersebut berakibat buruk bagi manusia dan membuatnya sedih. ﴾ وَٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنۡ هَٰٓؤُلَآءِ سَيُصِيبُهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا كَسَبُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang zhalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya," maka mereka tidak lebih baik dari orang-orang sebelumnya itu, dan tidak ditetapkan di dalam catatan tertulis kitab-kitab terdahulu suatu kebebasan bagi mereka.
(52) Setelah Allah menjelaskan bahwasanya mereka terpe-daya dengan harta benda dan mereka mengklaim berdasarkan ke-bodohannya bahwasanya (nikmat yang diberikan kepada mereka itu) membuktikan baiknya kondisi pemiliknya, maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan kepada mereka bahwa rizkiNya tidak menunjukkan kepada yang demikian, dan sesungguhnya Allah, ﴾ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ ﴿ "melapangkan rizki bagi siapa yang Dia kehendaki" di antara hamba-hambaNya, yang shalih ataupun yang durhaka, ﴾ وَيَقۡدِرُۚ ﴿ "dan me-nyempitkan" rizki, artinya, menyempitkan rizki bagi siapa saja di antara hambaNya yang shalih atau yang durhaka. Jadi rizki Allah itu diberikan sama kepada semua manusia, sedangkan iman dan amal shalih diistimewakan hanya kepada manusia-manusia terbaik. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang beriman." Maksudnya, Allah melapangkan rizki dan menahannya; karena mereka mengetahui bahwa semua itu kembali kepada hikmah (kebijaksanaan) dan rahmat(Nya); dan mengetahui bahwa Dia lebih mengetahui tentang kondisi hamba-hambaNya. Kadang-kadang Dia menyempitkan rizkiNya terhadap mereka karena sifat lembutNya kepada mereka, sebab kalau seandainya Dia melapangkannya, niscaya mereka akan berbuat congkak di muka bumi ini. Jika demikian, maka itu berarti Allah تعالى dalam memberikan rizki tersebut selalu memperhatikan kebaikan agama mereka yang merupakan materi dasar kebahagiaan dan keberuntungan mereka. Wallahu a'lam.
39:53–59Page 464
۞ قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ٥٣
Say, "O My servants who have transgressed against themselves [by sinning], do not despair of the mercy of Allāh. Indeed, Allāh forgives all sins.1 Indeed, it is He who is the Forgiving, the Merciful."
وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُواْ لَهُۥ مِن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَكُمُ ٱلۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ ٥٤
And return [in repentance] to your Lord and submit to Him before the punishment comes upon you; then you will not be helped.
وَٱتَّبِعُوٓاْ أَحۡسَنَ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَكُمُ ٱلۡعَذَابُ بَغۡتَةٗ وَأَنتُمۡ لَا تَشۡعُرُونَ ٥٥
And follow the best of what was revealed to you from your Lord [i.e., the Qur’ān] before the punishment comes upon you suddenly while you do not perceive,
أَن تَقُولَ نَفۡسٞ يَٰحَسۡرَتَىٰ عَلَىٰ مَا فَرَّطتُ فِي جَنۢبِ ٱللَّهِ وَإِن كُنتُ لَمِنَ ٱلسَّٰخِرِينَ ٥٦
Lest a soul should say,1 "Oh, [how great is] my regret over what I neglected in regard to Allāh and that I was among the mockers."
أَوۡ تَقُولَ لَوۡ أَنَّ ٱللَّهَ هَدَىٰنِي لَكُنتُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ ٥٧
Or [lest] it say, "If only Allāh had guided me, I would have been among the righteous."
أَوۡ تَقُولَ حِينَ تَرَى ٱلۡعَذَابَ لَوۡ أَنَّ لِي كَرَّةٗ فَأَكُونَ مِنَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ٥٨
Or [lest] it say when it sees the punishment, "If only I had another turn1 so I could be among the doers of good."
بَلَىٰ قَدۡ جَآءَتۡكَ ءَايَٰتِي فَكَذَّبۡتَ بِهَا وَٱسۡتَكۡبَرۡتَ وَكُنتَ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٥٩
But yes, there had come to you My verses, but you denied them and were arrogant, and you were among the disbelievers.
"Katakanlah, 'Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semua-nya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.' Dan kembalilah kamu kepada Rabbmu, dan berserah dirilah kepadaNya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong. Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah di-turunkan kepadamu dari Rabbmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya, supaya jangan ada orang yang mengatakan, 'Amat besar penyesalanku atas ke-lalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan.' Atau supaya jangan ada yang berkata, 'Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku, tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa.' Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab, 'Kalau sekiranya aku dapat kembali, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang berbuat baik.' Sebenarnya telah datang ayat-ayatKu kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan kamu adalah termasuk orang-orang yang kafir." (Az-Zumar: 53-59).
(53) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan kepada hamba-hambaNya yang melampaui batas akan keluasan kebaikanNya, dan menghimbau mereka untuk berinabah (kembali) kepadaNya sebelum hal itu menjadi tidak mungkin mereka lakukan, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" wahai Rasul, dan wahai orang-orang yang mengganti-kan posisi beliau, yaitu para da'i yang menyerukan kepada Agama Allah seraya menyampaikan berita kepada hamba-hambaNya dari Rabb mereka, ﴾ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri," dengan menuruti apa saja yang diinginkan oleh hawa nafsunya, yaitu dosa-dosa dan perbuatan yang dapat mengundang murka Allah Yang Maha me-ngetahui segala yang ghaib, ﴾ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ ﴿ "janganlah kamu ber-putus asa dari rahmat Allah." Maksudnya, janganlah berputus harap darinya lalu kalian menceburkan diri kalian ke dalam kebinasaan dan kalian mengatakan, "Dosa-dosaku sudah terlanjur sangat ba-nyak dan keburukan-keburukan sudah menggunung, maka sudah tidak ada lagi jalan untuk bisa menghilangkannya dan tidak ada cara untuk menjauhkannya"; lalu kalian tetap, disebabkan yang demikian itu, terus melakukan kemaksiatan, memperbekali diri dengan apa yang dapat menyebabkan Allah Yang Maha Pengasih murka terhadap kalian! Akan tetapi kenalilah Tuhan kalian melalui nama-namaNya yang menunjukkan pada kemurahan dan kederma-wananNya, dan ketahuilah bahwasanya Dia mengampuni semua dosa-dosa, seperti dosa syirik, pembunuhan, zina, riba, kezhaliman dan lain sebagainya dari dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," yakni, sifatNya yang memberikan ampunan dan rahmat adalah dua sifat yang lazim bagiNya, yang DzatNya tidak pernah lepas dari keduanya. Dan pengaruh kedua sifat ini terus berlangsung di alam ini bahkan memenuhi jagat raya ini, kedua TanganNya mencurahkan berbagai kebaikan sepanjang malam dan siang, dan Dia melimpahkan berbagai nikmat kepada hamba-hambaNya dan berbagai keutamaan-keutamaan secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan; dan memberi lebih disukaiNya daripada menahan, dan rahmat (kasih sayang)Nya mendahului dan mengalahkan sifat murkaNya.
(54) Akan tetapi untuk meraih ampunan dan rahmatNya mempunyai sebab-sebab yang jika sang hamba tidak melakukan-nya, maka berarti sesungguhnya ia telah menutup pintu rahmat dan ampunan terhadap dirinya sendiri. Dan sebab yang paling besar dan paling mulia, bahkan tidak ada yang selain darinya, ada-lah inabah (kembali) kepada Allah سبحانه وتعالى dengan taubat yang sebenar-benarnya, berdoa dan bersimpuh (merendahkan diri), mengham-bakan diri dan beribadah (kepadaNya). Maka marilah melakukan sebab yang termulia dan teragung ini. Maka dari itu Allah meme-rintahkan inabah kepadaNya dan segera melakukannya seraya ber-firman, ﴾ وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ ﴿ "Dan kembalilah kamu kepada Rabbmu" dengan sepenuh hati kalian, ﴾ وَأَسۡلِمُواْ ﴿ "dan berserah dirilah kepadaNya," de-ngan seluruh anggota tubuh kalian. Apabila keduanya digabung seperti pada uraian tadi, maka maknanya adalah apa yang telah disebutkan itu. Dan pada FirmanNya, ﴾ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُواْ لَهُۥ ﴿ "Kepada Rabbmu dan berserah dirilah kepadaNya" terdapat dalil bahwa inabah itu harus dengan ikhlas, dan sesungguhnya tanpa adanya ikhlas, maka amal-amal lahiriyah dan batiniyah tidak berguna sama sekali. ﴾ مِن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَكُمُ ٱلۡعَذَابُ ﴿ "Sebelum datang azab kepadamu" dengan kedatangan yang tidak bisa ditolak, ﴾ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ ﴿ "kemudian kamu tidak dapat ditolong."
(55) Mungkin muncul pertanyaan: Apa itu inabah dan Islam, apa partikel-partikel dan amalan-amalannya? Maka Allah men-jawab, ﴾ وَٱتَّبِعُوٓاْ أَحۡسَنَ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُم ﴿ "Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu" dari apa-apa yang diperintahkan kepada kalian, yaitu amalan-amalan batin, seperti cinta kepada Allah, takut kepadaNya, berharap kepadaNya dan tulus kepada hamba-hambaNya, mencintai kebaikan untuk mereka dan meninggalkan apa-apa yang bertentangan dengannya; dan juga amalan-amalan lahiriyah seperti shalat, zakat, puasa, menunaikan ibadah haji, sedekah dan semua bentuk ihsan (perbuatan baik), serta semua apa yang diperintahkan oleh Allah سبحانه وتعالى. Itu semua adalah hal-hal yang terbaik yang diturunkan oleh Allah kepada kita. Maka orang yang mengikuti perintah-perintah Rabbnya dalam perkara-perkara tersebut dan yang serupa dengannya, itulah orang yang munib (kembali) lagi berserah diri. ﴾ مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَكُمُ ٱلۡعَذَابُ بَغۡتَةٗ وَأَنتُمۡ لَا تَشۡعُرُونَ ﴿ "Sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya." Semua ini adalah himbauan untuk segera (kembali kepadaNya) dan me-manfaatkan kesempatan sebaik-baiknya.
(56) Kemudian Allah mewanti-wanti mereka ﴾ أَن ﴿ "supaya" mereka jangan berlanjut dalam kelalaian hingga datang kepada mereka suatu hari di mana mereka menyesal, sedangkan penye-salan sudah tidak berguna lagi, dan ﴾ تَقُولَ نَفۡسٞ يَٰحَسۡرَتَىٰ عَلَىٰ مَا فَرَّطتُ فِي جَنۢبِ ٱللَّهِ ﴿ "jangan ada orang yang mengatakan, 'Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah'," maksudnya, terhadap hakNya. ﴾ وَإِن كُنتُ ﴿ "Sedang aku sungguh-sungguh" di dunia ﴾ لَمِنَ ٱلسَّٰخِرِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan" adanya pembalasan, hingga saat ini aku melihatnya langsung dengan mata kepala.
(57) ﴾ أَوۡ تَقُولَ لَوۡ أَنَّ ٱللَّهَ هَدَىٰنِي لَكُنتُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Atau supaya jangan ada yang berkata, 'Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku, tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa'." Ungkapan ﴾ لَوۡ ﴿ (kalau sekiranya) pada ayat ini bermakna "angan-angan." Maksud-nya, kalau seandainya Allah memberiku petunjuk, maka tentu aku menjadi seorang yang bertakwa kepadaNya sehingga aku selamat dari siksa dan berhak mendapat pahala. Jadi, ﴾ لَوۡ ﴿ di sini bukan kata syarat, sebab kalau sekiranya bermakna syarat tentu mereka akan beralasan (berargumen) dengan Qadha` dan Qadar atas ke-sesatan mereka; dan itu adalah hujjah (argumen) yang palsu, dan semua argumen palsu pada Hari Kiamat nanti akan lenyap (tidak berguna).
(58) ﴾ أَوۡ تَقُولَ حِينَ تَرَى ٱلۡعَذَابَ ﴿ "Atau supaya jangan ada yang ber-kata ketika ia melihat azab" dan memastikan kedatangannya,﴾ لَوۡ أَنَّ لِي كَرَّةٗ ﴿ "Kalau sekiranya aku dapat kembali," maksudnya, kembali ke dunia, niscaya aku ﴾ مِنَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "akan termasuk orang-orang yang berbuat baik."
(59) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa yang demikian itu sangat tidak mungkin dan tidak berguna, dan bahwa semua itu adalah angan-angan palsu yang tidak punya hakikat, sebab tidak akan ada perubahan bagi sang hamba kalau dia dikembalikan untuk menda-pat penjelasan sesudah penjelasan yang pertama. ﴾ بَلَىٰ قَدۡ جَآءَتۡكَ ءَايَٰتِي ﴿ "Sebenarnya telah datang ayat-ayatKu kepadamu" yang menunjukkan dengan petunjuk yang tidak bisa diragukan lagi kepada kebenaran, ﴾ فَكَذَّبۡتَ بِهَا وَٱسۡتَكۡبَرۡتَ ﴿ "lalu kamu mendustakannya dan kamu menyom-bongkan diri" untuk mengikutinya, ﴾ وَكُنتَ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "dan kamu adalah termasuk orang-orang yang kafir." Jadi, permintaan dikembali-kan ke dunia adalah satu bentuk perbuatan sia-sia, sebab kalaupun mereka dikembalikan, pasti mereka kembali lagi melakukan apa-apa yang dilarang, dan sesungguhnya mereka adalah orang-orang pendusta.
39:60–61Page 465
وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ تَرَى ٱلَّذِينَ كَذَبُواْ عَلَى ٱللَّهِ وُجُوهُهُم مُّسۡوَدَّةٌۚ أَلَيۡسَ فِي جَهَنَّمَ مَثۡوٗى لِّلۡمُتَكَبِّرِينَ ٦٠
And on the Day of Resurrection you will see those who lied about Allāh [with] their faces blackened. Is there not in Hell a residence for the arrogant?
وَيُنَجِّي ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ بِمَفَازَتِهِمۡ لَا يَمَسُّهُمُ ٱلسُّوٓءُ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ٦١
And Allāh will save those who feared Him by their attainment;1 no evil will touch them, nor will they grieve.
"Dan pada Hari Kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bu-kankah dalam Neraka Jahanam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri? Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka tidak akan disentuh oleh keburukan dan tidak pula mereka berduka cita." (Az-Zumar: 60-61).
(60) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang kehinaan, ﴾ ٱلَّذِينَ كَذَبُواْ ﴿ "orang-orang yang berbuat dusta" terhadapNya, dan bahwasanya, wajah mereka pada Hari Kiamat, ﴾ مُّسۡوَدَّةٌۚ ﴿ "menjadi hitam" seakan-akan malam yang gelap gempita, mereka dikenali oleh semua ma-nusia di padang mahsyar dengan ciri tersebut. Sesungguhnya kebenaran itu terang benderang seperti pagi hari. Dan karena mereka telah menghitamkan wajah kebenaran dengan kedustaan, maka Allah menghitamkan wajah mereka sebagai balasan yang setimpal dengan perbuatan mereka. Mereka memperoleh wajah yang hitam pekat dan juga azab yang dahsyat di dalam Neraka Jahanam. Maka dari itu Allah berfirman,﴾ أَلَيۡسَ فِي جَهَنَّمَ مَثۡوٗى لِّلۡمُتَكَبِّرِينَ ﴿ "Bukankah dalam Neraka Jahanam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri" terhadap kebenaran dan menyombongkan diri untuk beribadah kepada Allah, yaitu orang-orang yang berbuat dusta terhadapNya. Jangan sekali-kali demi-kian, sebab demi Allah, sesungguhnya di dalamnya terdapat siksa, kehinaan, dan kemurkaan yang menimpa orang-orang yang me-nyombongkan diri dari segala sisinya, dan hak diambil dari mereka dengan kedua siksa itu. Kedustaan terhadap Allah mencakup kedustaan terhadapNya dengan menjadikan sekutu, anak dan istri bagiNya, menginforma-sikan tentang Allah dengan informasi-informasi yang sangat tidak layak bagi kebesaranNya, atau mengklaim menjadi nabi, atau mengatakan sesuatu tentang syariatNya yang tidak pernah dikata-kanNya dan menginformasikan bahwasanya Allah telah mengata-kannya dan mensyariatkannya.
(61) Setelah Allah menjelaskan kondisi orang-orang yang menyombongkan diri, Allah kemudian menjelaskan kondisi orang-orang yang bertakwa, seraya berfirman, ﴾ وَيُنَجِّي ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ بِمَفَازَتِهِمۡ ﴿ "Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena keme-nangan mereka," maksudnya, karena keselamatan mereka. Hal itu terjadi karena mereka mempunyai alat (bekal) keselamatan, yaitu takwa kepada Allah سبحانه وتعالى, yang merupakan perbekalan dalam setiap kondisi susah dan kesempitan, yaitu ﴾ لَا يَمَسُّهُمُ ٱلسُّوٓءُ ﴿ "mereka tidak akan disentuh oleh keburukan," maksudnya, oleh azab yang berakibat buruk bagi mereka, ﴾ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ﴿ "dan tidak pula mereka berduka cita." Dengan demikian Allah menafikan sentuhan azab dan rasa takut dari mereka. Ini adalah puncak rasa damai. Mereka mem-peroleh rasa aman yang sempurna yang selalu menyertai mereka hingga mengantarkan mereka ke Darus Salam (negeri kedamaian), maka pada saat mereka benar-benar aman dari segala keburukan dan segala yang tidak dikehendaki, mereka selalu diliputi oleh berbagai kenikmatan dan mereka mengatakan, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِيٓ أَذۡهَبَ عَنَّا ٱلۡحَزَنَۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٞ شَكُورٌ 34 ﴿ "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan rasa duka cita dari kami. Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri." (Fathir: 34).
Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences