As-Sa'diAsh‑Shuraa · 42:19–39

As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian

Ash-Shuraa 42:19–39

42:19–20Page 485

ٱللَّهُ لَطِيفُۢ بِعِبَادِهِۦ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُۖ وَهُوَ ٱلۡقَوِيُّ ٱلۡعَزِيزُ ١٩

Allāh is Subtle1 with His servants; He gives provision to whom He wills. And He is the Powerful, the Exalted in Might.

مَن كَانَ يُرِيدُ حَرۡثَ ٱلۡأٓخِرَةِ نَزِدۡ لَهُۥ فِي حَرۡثِهِۦۖ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرۡثَ ٱلدُّنۡيَا نُؤۡتِهِۦ مِنۡهَا وَمَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ ٢٠

Whoever desires the harvest of the Hereafter - We increase for him in his harvest [i.e., reward]. And whoever desires the harvest [i.e., benefits] of this world - We give him thereof, but there is not for him in the Hereafter any share.

"Allah Mahalembut terhadap hamba-hambaNya; Dia mem-beri rizki kepada siapa yang dikehendakiNya dan Dia-lah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa. Barangsiapa yang menghendaki ke-untungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat." (Asy-Syura: 19-20).

(19) Allah سبحانه وتعالى menyampaikan sikap lembutNya terhadap hamba-hambaNya agar mereka mengenal dan mencintaiNya dan agar mereka membicarakan kelembutan dan kemurahanNya. Ke-lembutan itu merupakan bagian dari sifat-sifatNya yang artinya adalah: Dia yang mengetahui segala yang tersembunyi dan rahasia, yang mengantarkan hamba-hambaNya terutama orang-orang yang beriman kepada apa saja yang mengandung kebaikan bagi mereka tanpa mereka ketahui dan tanpa mereka duga. Di antara kelem-butanNya terhadap hamba-hambaNya yang beriman adalah Dia menunjuki mereka kepada kebaikan dengan petunjuk yang tidak pernah terlintas di benak mereka, dengan memudahkan baginya sebab-sebab yang mengarahkan mereka kepada kebaikan tersebut dari dalam fitrah mereka melalui kecintaannya kepada yang benar dan kepatuhannya kepada kebenaran itu serta perintahNya kepada para malaikat yang mulia untuk meneguhkan hamba-hambaNya yang beriman dan merangsang mereka untuk melakukan kebaikan dan meniupkan di dalam hati mereka ketertarikan kepada yang benar sehingga menjadi pemicu baginya untuk mengikutinya. Dan termasuk kelembutanNya juga adalah Dia memerintah-kan kepada orang-orang yang beriman untuk melakukan berbagai ibadah sosial yang dengannya tekad mereka menjadi kuat dan gairah mereka menggeliat serta terjadi perlombaan di antara me-reka untuk melakukan kebajikan dan menyenanginya serta saling menjadi teladan di antara yang satu sama lainnya. Termasuk kelembutanNya juga adalah Dia telah menetapkan segala sebab yang merintanginya dan mencegahnya dari perbuatan-perbuatan maksiat, hingga apabila Allah سبحانه وتعالى telah mengetahui bahwa dunia, harta dan tahta serta yang serupa dengannya yang diperlombakan oleh manusia itu merintangi hambaNya dari ke-taatan kepadaNya atau membuatnya lalai terhadap Allah atau menyeretnya kepada maksiat, maka Allah menjauhkan hal-hal tersebut darinya dan Allah mempersempit rizkinya. Maka dari itu, di sini Dia berfirman, ﴾ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُۖ ﴿ "Dia memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya," tergantung tuntutan hikmah (kebijaksanaan) dan kelembutanNya. ﴾ وَهُوَ ٱلۡقَوِيُّ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahakuat lagi Mahaper-kasa," yang milikNya sajalah seluruh kekuatan. Maka tiada daya dan tiada kekuatan bagi seseorang di antara makhluk ini kecuali dengan pertolonganNya, yang kepadaNya tunduk segala sesuatu.

(20 ) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَن كَانَ يُرِيدُ حَرۡثَ ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat" maksudnya, pahala dan ganjarannya, ia beriman dan membenarkannya dan berupaya keras untuknya, ﴾ نَزِدۡ لَهُۥ فِي حَرۡثِهِۦۖ ﴿ "akan Kami tambah keun-tungan itu baginya," dengan Kami lipatgandakan amal dan balasan-nya menjadi berlipat-lipat, sebagaimana Dia Firmankan, ﴾ وَمَنۡ أَرَادَ ٱلۡأٓخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعۡيَهَا وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَأُوْلَٰٓئِكَ كَانَ سَعۡيُهُم مَّشۡكُورٗا 19 ﴿ "Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan ber-usaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah Mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik." (Al-Isra`: 19). Di sisi lain, bagiannya dari dunia pasti dia peroleh.﴾ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرۡثَ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "Dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia," di mana dunia adalah yang diinginkannya dan puncak harapannya sehingga ia tidak berbuat untuk akhiratnya dan tidak pula meng-harapkan pahalanya serta tidak takut kepada siksanya, ﴾ نُؤۡتِهِۦ مِنۡهَا ﴿ "Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia," bagiannya yang telah ditentukan untuknya, ﴾ وَمَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ ﴿ "dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat." Sesungguhnya ia telah di-haramkan mendapatkan surga dan kenikmatannya dan ia berhak mendapat neraka dan apinya yang bernyala-nyala. Ayat ini mirip dengan FirmanNya, ﴾ مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيۡهِمۡ أَعۡمَٰلَهُمۡ فِيهَا وَهُمۡ فِيهَا لَا يُبۡخَسُونَ 15 أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَيۡسَ لَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَٰطِلٞ مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 16 ﴿ "Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyap-lah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (Hud: 15-16).

42:21–23Page 485

أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُۚ وَلَوۡلَا كَلِمَةُ ٱلۡفَصۡلِ لَقُضِيَ بَيۡنَهُمۡۗ وَإِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ٢١

Or have they partners [i.e., other deities] who have ordained for them a religion to which Allāh has not consented? But if not for the decisive word,1 it would have been concluded between them. And indeed, the wrongdoers will have a painful punishment.

تَرَى ٱلظَّٰلِمِينَ مُشۡفِقِينَ مِمَّا كَسَبُواْ وَهُوَ وَاقِعُۢ بِهِمۡۗ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فِي رَوۡضَاتِ ٱلۡجَنَّاتِۖ لَهُم مَّا يَشَآءُونَ عِندَ رَبِّهِمۡۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِيرُ ٢٢

You will see the wrongdoers fearful of what they have earned, and it will [certainly] befall them. And those who have believed and done righteous deeds will be in lush regions of the gardens [in Paradise] having whatever they will in the presence of their Lord. That is what is the great bounty.

ذَٰلِكَ ٱلَّذِي يُبَشِّرُ ٱللَّهُ عِبَادَهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِۗ قُل لَّآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ أَجۡرًا إِلَّا ٱلۡمَوَدَّةَ فِي ٱلۡقُرۡبَىٰۗ وَمَن يَقۡتَرِفۡ حَسَنَةٗ نَّزِدۡ لَهُۥ فِيهَا حُسۡنًاۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ شَكُورٌ ٢٣

It is that of which Allāh gives good tidings to His servants who believe and do righteous deeds. Say, [O Muḥammad], "I do not ask you for it [i.e., this message] any payment [but] only good will through [i.e., due to] kinship." And whoever commits a good deed - We will increase for him good therein. Indeed, Allāh is Forgiving and Appreciative.1

"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak di-izinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih. Kamu lihat orang-orang yang zhalim sangat ketakutan karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka kerjakan, sedang siksaan menimpa mereka. Dan orang-orang yang shalih di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Rabb mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar. Itulah yang disampaikan Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman dan mengerjakan amal shalih. Katakanlah, 'Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.' Dan siapa yang mengerjakan ke-baikan, akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikan-nya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Men-syukuri." (Asy-Syura: 21-23).

(21) Allah سبحانه وتعالى menyampaikan bahwa kaum musyrikin telah mengambil sekutu-sekutu (sembahan-sembahan) yang mereka cintai dan mereka percayai, mereka dan para sekutu itu sama dalam kekafiran dan perbuatan-perbuatan kufur. (Mereka) adalah setan-setan dari bangsa manusia yang mengajak kepada kekafiran ﴾ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُۚ ﴿ "yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah," berupa syirik, bid'ah-bid'ah, mengharam-kan apa-apa yang dihalalkan oleh Allah dan menghalalkan apa-apa yang telah diharamkan oleh Allah serta hal-hal yang serupa dengannya yang menjadi tuntutan hawa nafsu mereka. Padahal Agama itu hanya apa-apa yang telah disyariatkan oleh Allah سبحانه وتعالى agar dipatuhi oleh manusia dan mereka mendekatkan diri kepada-Nya dengannya. Hukum asalnya adalah dilarang bagi setiap orang membuat suatu aturan apa pun (syariat) yang tidak bersumber dari Allah dan dari RasulNya. Lalu bagaimana dengan orang-orang fasik yang bersekutu dengan bapak-bapak mereka, sedangkan mereka menganut kekafiran?! ﴾ وَلَوۡلَا كَلِمَةُ ٱلۡفَصۡلِ لَقُضِيَ بَيۡنَهُمۡۗ ﴿ "Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan, tentulah mereka telah dibinasakan." Artinya, kalau saja bukan karena ketetapan ajal yang telah ditentukan Allah sebagai pemisah antara berbagai golongan itu, dan bahwasanya Dia akan menangguhkan mereka kepadanya, tentu telah diputuskan di an-tara mereka pada saat itu juga dengan memberikan kebahagiaan kepada orang yang berpegang kepada kebenaran dan membinasa-kan orang yang berada pada kesesatan, karena penyebab untuk di-binasakan sudah ada. Namun, di hadapan mereka dan di hadapan setiap orang zhalim sudah ada azab pedih yang telah menanti di akhirat.

(22) Dan pada hari itu nanti, ﴾ تَرَى ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "kamu lihat orang-orang yang zhalim" terhadap diri mereka sendiri karena telah mela-kukan kekafiran dan berbagai maksiat ﴾ مُشۡفِقِينَ ﴿ "sangat ketakutan," yakni, sangat takut dan gemetar, ﴾ مِمَّا كَسَبُواْ ﴿ "karena apa-apa yang telah mereka kerjakan." (Mereka takut) kalau mereka akan disiksa karenanya. Oleh karena orang yang takut itu kadang-kadang apa yang dikhawatirkannya terjadi dan kadang-kadang tidak terjadi, maka di sini Allah menginformasikan bahwa pasti ﴾ وَاقِعُۢ بِهِمۡۗ ﴿ "me-nimpa mereka," yakni, azab yang mereka takuti itu, sebab mereka telah melakukan sebab yang sempurna yang memastikan siksaan tanpa ada penghalangnya lagi dalam bentuk taubat ataupun lain-nya, dan mereka telah sampai pada suatu tempat yang di situ me-reka sudah kehabisan waktu penangguhan. ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman," dengan hati mereka kepada Allah, kitab-kitabNya dan para rasulNya, serta kepada ajaran yang mereka bawa, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan beramal shalih," mencakup setiap amal shalih dari amalan-amalan kalbu (batin) dan amalan-amalan lahiriyah dari yang wajib-wajib dan yang sunnah-sunnah, mereka berada ﴾ فِي رَوۡضَاتِ ٱلۡجَنَّاتِۖ ﴿ "di dalam taman-taman surga." Maksudnya, taman-taman yang bersambung dengan surga. Yang disambungkan itu sangat tergantung kepada yang disambungkan kepadanya. Maka Anda jangan menanyakan tentang keindahan taman-taman yang sangat menarik itu, sungai-sungai yang mengalir yang ada padanya, ladang-ladang yang be-rumput, pemandangan-pemandangan yang sangat indah, pohon-pohon yang berbuah, burung-burung yang bersiul, suara-suara menarik yang sangat merdu, pertemuan dengan setiap orang yang dicintai, bergaul dan berkumpul bersama-sama dengan sepuas-puasnya. Taman-taman yang dari waktu ke waktu hanya semakin indah dan megah, dan para penghuninya semakin merindukan kelezatannya dan semakin menyukainya. ﴾ لَهُم مَّا يَشَآءُونَ ﴿ "Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki" di dalamnya, maksudnya, di dalam surga itu. Apa pun yang mereka inginkan pasti ada, dan apa pun yang mereka cari, pasti diperoleh, dari kenikmatan dan keindahan apa saja yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga dan belum pernah terlintas dalam hati manusia. Itulah ﴾ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "karunia yang besar." Apa-kah ada keuntungan yang lebih besar daripada keuntungan meraih keridhaan Allah سبحانه وتعالى dan menikmati kedekatan denganNya di negeri kemuliaanNya?

(23) ﴾ ذَٰلِكَ ٱلَّذِي يُبَشِّرُ ٱللَّهُ عِبَادَهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِۗ ﴿ "Itulah yang disam-paikan Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman dan mengerjakan amal shalih." Ini adalah berita gembira yang sangat agung yang merupakan berita gembira paling besar secara total yang disam-paikan oleh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang melalui manusia yang paling utama untuk orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Maka ia adalah tujuan yang paling tinggi, dan sarana yang bisa mengantarkan kepadanya merupakan sarana yang paling utama. ﴾ قُل لَّآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ ﴿ "Katakanlah (hai Muhammad), 'Aku tidak meminta kepadamu atasnya'," maksudnya, atas penyampaian al-Qur`an yang aku lakukan kepada kalian dan atas seruanku kepada hukum-hukumnya, ﴾ أَجۡرًا ﴿ "suatu upah pun." Jadi, aku tidak ingin mengambil harta kalian, tidak pula ingin menjadi penguasa terhadap kalian atau tujuan-tujuan lainnya, ﴾ إِلَّا ٱلۡمَوَدَّةَ فِي ٱلۡقُرۡبَىٰۗ ﴿ "kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan." Bisa jadi makna lainnya adalah: Aku tidak meminta kepada kalian atas seruan ini suatu upah pun selain satu saja, ia adalah milik kalian dan manfaatnya kembali kepada kalian, yaitu kalian menyayangi dan mencintaiku dalam kekerabatan, yakni, karena hubungan kerabat. Maka ini berarti kasih sayang lebih dari kasih sayang karena iman. Sebab kasih sayang karena iman kepada Rasul dan mengutamakan kecintaan kepadanya atas seluruh yang dicintai sesudah kecintaan kepada Allah itu fardhu atas setiap Muslim. Mereka diminta lebih dari itu, yaitu mencintainya karena hubungan kerabat. Sebab, Rasulullah a telah melakukan dakwah-nya kepada manusia yang paling dekat kepadanya, hingga dikata-kan bahwa tidak ada seorang pun dari suku Quraisy melainkan Rasulullah a memiliki hubungan kekerabatan dengannya. Bisa juga maksudnya adalah, kecuali mencintai Allah dengan kecintaan yang tulus, yaitu kecintaan yang disertai dengan taqarrub kepada Allah dan bertawassul dengan ketaatan kepadaNya yang membuktikan kebenaran dan ketulusan cintanya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِلَّا ٱلۡمَوَدَّةَ فِي ٱلۡقُرۡبَىٰۗ ﴿ "Kecuali kasih sayang dalam al-Qurba" yakni, taqarrub kepada Allah. Berdasarkan dua makna ini, maka pengecualian tersebut membuktikan bahwa Rasulullah a sama sekali tidak meminta upah apa pun atas seruannya, kecuali sesuatu yang manfaatnya kembali kepada mereka sendiri. Maka ini sama sekali bukan upah, bahkan itu adalah upah dari beliau untuk mereka, sebagaimana Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَمَا نَقَمُواْ مِنۡهُمۡ إِلَّآ أَن يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ 8 ﴿ "Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji." (Al-Buruj: 8). Dan seperti ucapan mereka: Si fulan itu tidak punya dosa padamu selain dia adalah seorang yang berbuat baik kepadamu. ﴾ وَمَن يَقۡتَرِفۡ حَسَنَةٗ ﴿ "Dan siapa yang mengerjakan kebaikan" berupa Shalat, Puasa, Haji atau perbuatan baik kepada manusia, ﴾ نَّزِدۡ لَهُۥ فِيهَا حُسۡنًاۚ ﴿ "akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu" yaitu berupa: Allah melapangkan dadanya, memudahkan urusan-nya dan ia menjadi sebab untuk memperoleh taufik untuk menger-jakan amal baik yang lain, yang dengannya amal seorang Mukmin bertambah dan derajatnya naik di sisi Allah dan di kalangan makh-lukNya, dan ia juga memperoleh pahala di dunia dan di akhirat. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ شَكُورٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri," Dia mengampuni dosa-dosa yang sangat besar, seka-lipun seperti apa pun besarnya dosa itu saat dilakukan taubat da-rinya, dan Dia mensyukuri amal yang sedikit (kecil) dengan pahala

42:24Page 486

أَمۡ يَقُولُونَ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗاۖ فَإِن يَشَإِ ٱللَّهُ يَخۡتِمۡ عَلَىٰ قَلۡبِكَۗ وَيَمۡحُ ٱللَّهُ ٱلۡبَٰطِلَ وَيُحِقُّ ٱلۡحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦٓۚ إِنَّهُۥ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ٢٤

Or do they say, "He has invented about Allāh a lie"? But if Allāh willed, He could seal over your heart.1 And Allāh eliminates falsehood and establishes the truth by His words. Indeed, He is Knowing of that within the breasts.

"Bahkan mereka mengatakan, 'Dia telah mengada-adakan dusta terhadap Allah.' Maka jika Allah menghendaki, niscaya Dia mengunci mati hatimu; dan Allah menghapuskan yang batil dan membenarkan yang haq dengan kalimat-kalimatNya. Sesungguh-nya Dia Maha Mengetahui segala isi hati." (Asy-Syura: 24).

(24) Maknanya, apakah orang-orang yang mendustakan Rasulullah a dengan lancang dan dusta akan berkata, ﴾ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗاۖ ﴿ "Dia telah mengada-adakan dusta terhadap Allah?" di mana me-reka menuduhmu dengan perkara yang paling keji dan paling buruk, yaitu perbuatan mengada-ada atas nama Allah dengan mengaku-ngaku sebagai nabi dan menyandarkan kepada Allah sesuatu yang Allah sendiri bebas darinya, padahal mereka menge-tahui kejujuran dan keamanahanmu, maka bagaimana mereka lancang berani berbuat dusta yang sangat jelas ini?! Bahkan dengan perbuatan itu mereka telah lancang terhadap Allah سبحانه وتعالى. Itu adalah pencemoohan terhadap Allah, di mana Allah telah meneguhkanmu untuk dakwah yang agung ini, yang menurut klaim mereka me-ngandung kerusakan terbesar di bumi ini. Allah telah meneguhkan beliau berdakwah secara terbuka, kemudian menisbatkan dakwah beliau kepadaNya dan kemudian menguatkan beliau dengan mukjizat-mukjizat yang jelas dan dalil-dalil yang melumpuhkan, kemenangan yang nyata, dan kekuasaan terhadap siapa saja yang menyalahiNya. Dan Allah Kuasa untuk memberangus dakwah ini dari dasar dan materinya, yaitu dengan mengunci rapat hati Rasu-lullah a sehingga beliau tidak menyadari apa pun dan sehingga tidak ada suatu kebaikan apa pun yang masuk kepadanya. Apabila ia telah mengunci rapat hati beliau, maka terputuslah semua per-kara dan terhentilah ia. Ini adalah satu bukti yang pasti atas ke-benaran ajaran yang dibawa oleh Rasul, dan satu kesaksian yang paling kuat dari Allah untuk beliau atas apa yang beliau katakan, dan tidak ada kesaksian yang lebih agung atau lebih besar darinya. Maka dari itu, di antara hikmah, rahmat dan sunnahNya yang berlaku adalah bahwasanya Dia menghapus kebatilan dan mele-nyapkannya, sekalipun dalam beberapa waktu tertentu kebatilan itu memiliki kekuatan, namun kesudahannya adalah kebinasaan. ﴾ وَيُحِقُّ ٱلۡحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦٓۚ ﴿ "Dan membenarkan yang haq dengan kalimat-kalimat-Nya," yang bersifat kauniyah (alamiah) yang tidak akan diganti atau-pun dirubah, dan dengan janjiNya yang Mahabenar, dan dengan kalimat-kalimatNya yang bersifat Agama yang merealisasikan kebenaran yang disyariatkanNya dan menguatkannya di dalam hati dan membuat sadar orang-orang yang mempunyai akal. Dan di antara cara Allah سبحانه وتعالى mewujudkan kebenaran itu ada-lah dengan menakdirkan bagi kebenaran itu kebatilan, agar ia me-lawannya. Apabila kebenaran itu telah melawan kebatilan, maka kebenaran pasti mengalahkannya dengan argumen-argumennya dan dengan bukti-buktinya, sehingga dari cahaya dan petunjukNya itu tampaklah apa yang dengannya kebatilan menjadi redup dan mati serta terbukti kepalsuannya bagi setiap orang, sedangkan yang benar tampak sejelas-jelasnya bagi setiap orang. ﴾ إِنَّهُۥ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ﴿ "Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati," dengan segala apa yang ada di dalamnya dan apa-apa yang menjadi sifatnya, berupa kebaikan ataupun keburukan serta apa saja yang ia sembunyikan dan tidak ia tampakkan.

42:25–28Page 486

وَهُوَ ٱلَّذِي يَقۡبَلُ ٱلتَّوۡبَةَ عَنۡ عِبَادِهِۦ وَيَعۡفُواْ عَنِ ٱلسَّيِّـَٔاتِ وَيَعۡلَمُ مَا تَفۡعَلُونَ ٢٥

And it is He who accepts repentance from His servants and pardons misdeeds, and He knows what you do.

وَيَسۡتَجِيبُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَيَزِيدُهُم مِّن فَضۡلِهِۦۚ وَٱلۡكَٰفِرُونَ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدٞ ٢٦

And He answers [the supplication of] those who have believed and done righteous deeds and increases [for] them from His bounty. But the disbelievers will have a severe punishment.

۞ وَلَوۡ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزۡقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٖ مَّا يَشَآءُۚ إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرُۢ بَصِيرٞ ٢٧

And if Allāh had extended [excessively] provision for His servants, they would have committed tyranny throughout the earth. But He sends [it] down in an amount which He wills. Indeed He is, of His servants, Aware and Seeing.

وَهُوَ ٱلَّذِي يُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ مِنۢ بَعۡدِ مَا قَنَطُواْ وَيَنشُرُ رَحۡمَتَهُۥۚ وَهُوَ ٱلۡوَلِيُّ ٱلۡحَمِيدُ ٢٨

And it is He who sends down the rain after they had despaired and spreads His mercy. And He is the Protector, the Praiseworthy.

"Dan Dia-lah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan, dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang shalih menerima seruanNya dan menambah kepada mereka bagian dari karuniaNya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras. Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hambaNya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehen-dakiNya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui hamba-hambaNya lagi Maha Melihat. Dan Dia-lah Yang menu-runkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rah-matNya. Dan Dia-lah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji." (Asy-Syura: 25-28).

(25) Ini adalah penjelasan tentang kesempurnaan kemu-rahan Allah سبحانه وتعالى, keluasan kedermawananNya serta kesempurnaan kelembutanNya dengan menerima taubat ﴾ عَنۡ عِبَادِهِۦ ﴿ "dari hamba-hambaNya" di saat mereka menanggalkan diri dari dosa-dosa dan menyesalinya, serta berbulat hati untuk tidak mengulanginya kembali jika itu semua ia lakukan semata-mata mengharapkan ridha Allah, Rabb mereka. Maka Allah سبحانه وتعالى menerimanya setelah sebelumnya ia telah menjadi sebab bagi kebinasaan dan turunnya siksaan-siksaan duniawi dan ukhrawi. Dia memaafkan ﴾ عَنِ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ﴿ "kesalahan-kesalahan," dan menghapuskannya dan menghapus bekas-bekasnya, yaitu yang berupa cela dan siksa-siksa yang di-akibatkannya sehingga orang yang bertaubat itu kembali menjadi seorang yang mulia di sisiNya hingga seakan-akan tidak pernah melakukan suatu kejahatan apa pun. Allah mencintainya dan membimbingnya kepada apa saja yang bisa membuatnya makin dekat kepadaNya. Oleh karena taubat itu termasuk amal yang sangat agung yang terkadang sempurna disebabkan kesempurnaan keikhlasan dan ketulusannya dan terkadang bisa jadi kurang sempurna karena berkurangnya kadar keikhlasan ketulusannya, dan bahkan terka-dang rusak apabila tujuannya adalah untuk mencapai tujuan-tujuan duniawi, sedangkan tempat keikhlasan dan ketulusan itu adalah hati yang hanya diketahui oleh Allah saja, maka Allah menutup ayat ini dengan FirmanNya, ﴾ وَيَعۡلَمُ مَا تَفۡعَلُونَ ﴿ "Dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan."

(26) Allah سبحانه وتعالى mengajak seluruh hamba-hambaNya untuk inabah (kembali) kepadaNya dan bertaubat dari kelalaian. Lalu mereka terbagi berdasarkan penerimaan mereka kepada seruan-Nya menjadi dua bagian: Yang memenuhi seruan, dan mereka diungkapkan dengan FirmanNya, ﴾ وَيَسۡتَجِيبُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang shalih meme-nuhi" maksudnya, mereka memenuhi seruan Rabb mereka tatkala mereka diseru oleh Allah kepadaNya, mereka tunduk kepadaNya dan menerima seruanNya, karena iman dan amal shalih yang me-reka miliki membawa mereka ke sana. Apabila mereka telah memenuhi seruan Allah, niscaya Allah bersyukur kepada mereka, Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri dan memberikan tambahan kepada mereka ﴾ مِّن فَضۡلِهِۦۚ ﴿ "bagian dari karuniaNya," berupa taufik dan semangat untuk beramal dan menambahkan kepada mereka pelipatan pahala mele-bihi apa yang dapat diraihnya dengan amal-amalnya, berupa pahala dan keuntungan yang sangat besar. Adapun orang-orang yang tidak memenuhi seruan Allah, mereka adalah orang-orang yang berkeras kepala, yang kafir kepadaNya dan kepada para RasulNya, maka mereka memperoleh azab yang sangat keras di dunia dan di akhirat kelak.

(27) Kemudian Allah menjelaskan bahwa di antara kelem-butanNya terhadap hamba-hambaNya adalah Dia tidak melimpah-kan dunia (harta benda) kepada mereka dengan pelimpahan yang dapat merusak agama mereka, seraya berfirman, ﴾ وَلَوۡ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزۡقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi," artinya, niscaya mereka lalai dari ketaatan kepada Allah dan tenggelam dalam menikmati syahwat kehidupan dunia. Jadi, hal itu pasti mem-buat mereka sibuk dengan apa-apa yang disenangi oleh nafsu me-reka sekalipun berupa maksiat dan kezhaliman. ﴾ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٖ مَّا يَشَآءُۚ ﴿ "Tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendakiNya dengan ukuran," menurut tuntutan kelembutan dan hikmahNya. ﴾ إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرُۢ بَصِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui hamba-hambaNya lagi Maha Melihat," sebagaimana disebutkan dalam salah satu riwayat (hadits Qudsi) bahwasanya Allah سبحانه وتعالى berfirman, إِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لَا يُصْلِحُ إِيْمَانَهُ إِلَّا الْغِنَى، وَلَوْ أَفْقَرْتُهُ لَأَفْسَدَهُ ذٰلِكَ، وَإِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لَا يُصْلِحُ إِيْمَانَهُ إِلَّا الْفَقْرُ، وَلَوْ أَغْنَيْتُهُ لَأَفْسَدَهُ ذٰلِكَ، وَإِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لَا يُصْلِحُ إِيْمَانَهُ إِلَّا الصِّحَّةُ، وَلَوْ أَمْرَضْتُهُ لَأَفْسَدَهُ ذٰلِكَ، وَإِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لَا يُصْلِحُ إِيْمَانَهُ إِلَّا الْمَرْضُ، وَلَوْ عَافَيْتُهُ لَأَفْسَدَهُ ذٰلِكَ، إِنِّيْ أُدَبِّرُ أَمْرَ عِبَادِيْ بِعِلْمِيْ بِمَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ، إِنِّيْ خَبِيْرٌ بَصِيْرٌ. "Sesungguhnya di antara hamba-hambaKu ada orang yang tidak bisa memperbaiki imannya kecuali kekayaan, dan kalau seandainya Aku jadikan ia fakir (miskin), niscaya kefakiran itu merusaknya. Dan sesung-guhnya di antara hamba-hambaKu ada orang yang tidak bisa memperbaiki imannya kecuali kefakiran, kalau sekiranya Aku menjadikannya kaya, niscaya kekayaan itu merusaknya; dan di antara hamba-hambaKu ada orang yang tidak akan bisa memperbaiki imannya kecuali kesehatan, dan kalau sekiranya Aku menjadikannya sakit, niscaya penyakit itu merusak-nya; dan di antara hamba-hambaKu ada orang yang tidak bisa memper-baiki imannya kecuali sakit, kalau sekiranya Aku menjadikannya sehat, niscaya ia merusaknya. Sesungguhnya Aku mengatur urusan hamba-hambaKu berdasarkan pengetahuanKu terhadap apa yang ada di dalam hati mereka. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui lagi Maha Melihat."[86]

(28) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي يُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ ﴿ "Dan Dia-lah Yang menurunkan hujan" maksudnya, hujan lebat yang dengannya negeri dan manusia men-jadi hidup bergairah, ﴾ مِنۢ بَعۡدِ مَا قَنَطُواْ ﴿ "sesudah mereka berputus asa," maksudnya, setelah hujan tidak turun dalam sekian lama yang membuat mereka mengira ia tidak akan turun lagi dan mereka berputus asa dan mereka telah mengupayakan segala hal untuk (mengatasi) kekeringan itu, lalu Allah menurunkan hujan lebat, ﴾ وَيَنشُرُ ﴿ "dan menyebarkan" dengannya ﴾ رَحۡمَتَهُۥۚ ﴿ "rahmatNya," yaitu seperti menumbuhkan makanan-makanan pokok untuk manusia dan hewan-hewan ternak mereka, sehingga hujan itu sangat ber-kesan sekali bagi mereka, mereka bersuka-ria karenanya dan ber-gembira ﴾ وَهُوَ ٱلۡوَلِيُّ ﴿ "dan Dia-lah Yang Maha Pelindung" yang melin-dungi hamba-hambaNya dengan berbagai macam bentuk penga-turan, dan Dia-lah yang mengatur berbagai kepentingan agama dan dunia mereka ﴾ ٱلۡحَمِيدُ ﴿ "lagi Maha Terpuji" dalam perlindungan dan pengaturanNya. Maha Terpuji Allah atas kesempurnaan yang dimilikiNya dan atas apa yang Dia limpahkan kepada makhlukNya dari berbagai macam bentuk karunia.

42:29Page 486

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦ خَلۡقُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِن دَآبَّةٖۚ وَهُوَ عَلَىٰ جَمۡعِهِمۡ إِذَا يَشَآءُ قَدِيرٞ ٢٩

And of His signs is the creation of the heavens and earth and what He has dispersed throughout them of creatures. And He, for gathering them when He wills, is competent.

"Dan di antara ayat-ayatNya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Mahakuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendakiNya." (Asy-Syura: 29).

(29) Maksudnya, di antara bukti-bukti kekuasaanNya yang luar biasa dan bahwa Dia akan menghidupkan kembali orang-orang mati sesudah kematian mereka adalah, ﴾ خَلۡقُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "mencipta-kan langit dan bumi," dengan begitu sangat besar dan luasnya, yang menunjukkan kepada kekuasaan dan kemahaluasan kerajaanNya, dan termasuk di dalamnya adalah kerapihan dan kekokohan yang menunjukkan hikmahNya, dan berbagai manfaat dan maslahat yang ada pada keduanya yang membuktikan rahmatNya. Dan semua itu menunjukkan bahwa sesungguhnya hanya Dia-lah yang berhak disembah, dan sesungguhnya ketuhanan selain Dia adalah palsu. ﴾ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا ﴿ "Dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia se-barkan pada keduanya," artinya, Dia menyebarluaskan berbagai jenis binatang melata di langit dan di bumi, yang Dia jadikan sebagai maslahat dan manfaat bagi hamba-hambaNya. ﴾ وَهُوَ عَلَىٰ جَمۡعِهِمۡ ﴿ "Dan Dia, untuk mengumpulkan semuanya." Maksudnya, menghimpun seluruh manusia sesudah mereka untuk perjumpaan di Hari Kiamat, ﴾ إِذَا يَشَآءُ قَدِيرٞ ﴿ "apabila dikehendakiNya benar-benar Mahakuasa," sebab kekuasaan dan kehendakNya memang bisa untuk itu semua. Me-ngenai kepastian terjadinya pengumpulan kembali manusia di Hari Kiamat nanti, itu sangat tergantung kepada berita (informasi) yang benar, dan sesungguhnya sudah diketahui bahwa sangat banyak sekali berita-berita dari para rasul dan dari kitab-kitab suci mereka yang mengabarkan kepastian terjadinya pengumpulan manusia itu.

42:30–31Page 486

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖ ٣٠

And whatever strikes you of disaster - it is for what your hands have earned; but He pardons much.

وَمَآ أَنتُم بِمُعۡجِزِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٖ ٣١

And you will not cause failure [to Allāh]1 upon the earth. And you have not besides Allāh any protector or helper.

"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaaf-kan sebagian besar. Dan kamu tidak dapat mengalahkan di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong selain Allah." (Asy-Syura: 30-31).

(30) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa apa pun musibah yang menimpa hamba-hambaNya, pada jasad mereka, pada harta atau-pun pada anak-anak mereka dan pada apa saja yang mereka cintai lagi sangat mereka sayangi, adalah akibat dosa-dosa yang mereka lakukan sendiri, dan sesungguhnya yang dimaafkan oleh Allah سبحانه وتعالى lebih banyak dari itu. Sebab, sesungguhnya Allah tidak berbuat zhalim terhadap hamba-hambaNya, akan tetapi diri mereka sen-dirilah yang menzhalimi diri mereka sendiri. ﴾ وَلَوۡ يُؤَاخِذُ ٱللَّهُ ٱلنَّاسَ بِظُلۡمِهِم مَّا تَرَكَ عَلَيۡهَا مِن دَآبَّةٖ وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمۡ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗىۖ ﴿ "Jikalau Allah menghukum manusia karena kezhalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkanNya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan." (An-Nahl: 61).

(31) Penangguhan hukuman-hukuman bukanlah karena Allah mengabaikan dan bukan pula karena Allah tidak mampu, sebab ﴾ أَنتُم بِمُعۡجِزِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "kamu tidak dapat mengalahkan di muka bumi," maksudnya, (kalian tidak mungkin) mengalahkan kuasa Allah terhadap kalian, melainkan kalianlah yang lemah, tidak berdaya di muka bumi ini, kalian tidak bisa menghindar dari apa yang di-lakukan Allah سبحانه وتعالى terhadap kalian, ﴾ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ ﴿ "dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung pun selain Allah," yang bisa me-lindungi kalian, sehingga kalian mendapat keuntungan-keuntung-an darinya ﴾ وَلَا نَصِيرٖ ﴿ "dan tidak pula seorang penolong" yang dapat menolak marabahaya dari kalian.

42:32–35Page 487

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِ ٱلۡجَوَارِ فِي ٱلۡبَحۡرِ كَٱلۡأَعۡلَٰمِ ٣٢

And of His signs are the ships in the sea, like mountains.

إِن يَشَأۡ يُسۡكِنِ ٱلرِّيحَ فَيَظۡلَلۡنَ رَوَاكِدَ عَلَىٰ ظَهۡرِهِۦٓۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّكُلِّ صَبَّارٖ شَكُورٍ ٣٣

If He willed, He could still the wind, and they would remain motionless on its surface. Indeed in that are signs for everyone patient and grateful.

أَوۡ يُوبِقۡهُنَّ بِمَا كَسَبُواْ وَيَعۡفُ عَن كَثِيرٖ ٣٤

Or He could destroy them1 for what they earned; but He pardons much.

وَيَعۡلَمَ ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِيٓ ءَايَٰتِنَا مَا لَهُم مِّن مَّحِيصٖ ٣٥

And [that is so] those who dispute concerning Our signs may know that for them there is no place of escape.

"Dan di antara tanda-tandaNya ialah kapal-kapal di laut seperti gunung-gunung. Jika Dia menghendaki, Dia akan menenang-kan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tandaNya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur, atau kapal-kapal itu dibinasakanNya karena perbuatan mereka atau Dia memberi maaf sebagian besar. Dan supaya orang-orang yang membantah ayat-ayat Kami mengetahui bahwa mereka se-kali-kali tidak akan memperoleh jalan keluar." (Asy-Syura: 32-35).

(32) Di antara bukti-bukti rahmat (kasih sayang)Nya dan perhatianNya terhadap hamba-hambaNya, ﴾ ٱلۡجَوَارِ فِي ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "ialah kapal-kapal di laut," berupa bahtera-bahtera dan berbagai kapal motor dan kapal layar yang karena sangat besarnya ﴾ كَٱلۡأَعۡلَٰمِ ﴿ "seperti gunung-gunung," yakni gunung-gunung besar. Dan Allah-lah yang telah menundukkan lautan yang berkecamuk itu untuknya dan men-jaganya dari gempuran gelombang. Dia menjadikannya mampu membawa kalian dan membawa berbagai barang yang sangat ba-nyak milik kalian menuju negeri-negeri dan penjuru-penjuru nan jauh di sana, dan Dia menundukkan pula untuk berbagai sebab (fasilitas) yang mempermudah semua itu.

(33-34) Kemudian Allah menyinggung sebab-sebab (fasi-litas-fasilitas) tersebut dengan FirmanNya, ﴾ إِن يَشَأۡ يُسۡكِنِ ٱلرِّيحَ ﴿ "Jika Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin," yang dijadikan oleh Allah sebagai sebab yang membuatnya bisa berjalan, ﴾ فَيَظۡلَلۡنَ ﴿ "maka jadilah," yakni, kapal-kapal itu ﴾ رَوَاكِدَ ﴿ "terhenti" di permukaan lautan, tidak bisa maju dan tidak bisa mundur. Ini tidak menjadi batal karena adanya kapal-kapal motor, sebab di antara syaratnya untuk bisa berangkat adalah adanya angin. Dan jika Allah سبحانه وتعالى meng-hendaki, niscaya Dia membinasakan kapal-kapal tersebut karena perbuatan para penumpangnya. Maksudnya, Allah menenggelam-kannya di dalam lautan dan menghancurkannya. Namun Allah masih berlaku lembut dan memaafkan kebanyakan (perbuatan mereka. Pent). ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّكُلِّ صَبَّارٖ شَكُورٍ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tandaNya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur," maksudnya, sangat penyabar terhadap hal-hal yang tidak disuka oleh jiwanya dan menyusahkannya sehingga ia tidak menyukainya, seperti kesusahan dalam menjalankan ketaatan atau dalam menolak bujukan untuk berbuat maksiat, atau untuk menghentikan jiwanya bersikap murka di saat ditimpa musibah. Dan suka berterima kasih di waktu senang dan di saat menerima berbagai nikmat, dia mengakui karunia Tuhannya, ia tunduk patuh kepadaNya dan menggunakannya dalam rangka mencari keridha-anNya. Itulah orang yang akan dapat banyak mengambil manfaat dari ayat-ayat Allah. Adapun orang yang tidak mempunyai kesa-baran dan tidak mempunyai rasa syukur terhadap nikmat-nikmat Allah, maka ia pasti berpaling atau bersikap keras kepala, tidak mau mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah.

(35) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَيَعۡلَمَ ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِيٓ ءَايَٰتِنَا ﴿ "Dan supaya orang-orang yang membantah ayat-ayat Kami mengetahui," untuk membatalkannya (merusaknya) dengan kebatilan mereka, ﴾ مَا لَهُم مِّن مَّحِيصٖ ﴿ "bahwa mereka sekali-kali tidak akan memperoleh jalan keluar," artinya, tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka dari siksa yang menimpa mereka.

42:36–39Page 487

فَمَآ أُوتِيتُم مِّن شَيۡءٖ فَمَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ خَيۡرٞ وَأَبۡقَىٰ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ ٣٦

So whatever thing you have been given - it is but [for] enjoyment of the worldly life. But what is with Allāh is better and more lasting for those who have believed and upon their Lord rely

وَٱلَّذِينَ يَجۡتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡفَوَٰحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُواْ هُمۡ يَغۡفِرُونَ ٣٧

And those who avoid the major sins and immoralities, and when they are angry, they forgive,

وَٱلَّذِينَ ٱسۡتَجَابُواْ لِرَبِّهِمۡ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَمۡرُهُمۡ شُورَىٰ بَيۡنَهُمۡ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ٣٨

And those who have responded to their Lord and established prayer and whose affair is [determined by] consultation among themselves, and from what We have provided them, they spend,

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ ٱلۡبَغۡيُ هُمۡ يَنتَصِرُونَ ٣٩

And those who, when tyranny strikes them, they retaliate [in a just manner].1

"Maka sesuatu apa pun yang diberikan kepadamu, itu ada-lah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Rabb, mereka bertawakal, dan orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah, mereka memberi maaf. Dan orang-orang yang menerima seruan Rabbnya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka adalah musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Dan orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim mereka membela diri." (Asy-Syura: 36-39).

(36) Ini adalah anjuran zuhud terhadap dunia dan rang-sangan untuk mencintai akhirat dan penjelasan tentang amal-amal yang bisa mengantarkan kepadanya, seraya berfirman, ﴾ فَمَآ أُوتِيتُم مِّن شَيۡءٖ ﴿ "Maka sesuatu apa pun yang diberikan kepadamu" berupa kerajaan, kekuasaan, harta kekayaan, anak-anak, kesehatan, dan keselamat-an fisik, ﴾ فَمَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "itu adalah kenikmatan hidup di dunia," suatu kelezatan yang akan punah dan akan terputus, ﴾ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "dan yang ada pada sisi Allah," yaitu pahala yang berlimpah dan balasan yang sangat mulia dan kenikmatan abadi, adalah ﴾ خَيۡرٞ ﴿ "lebih baik," dari kelezatan-kelezatan dunia; suatu perbandingan kebaikan yang jauh di antara keduanya, ﴾ وَأَبۡقَىٰ ﴿ "dan lebih kekal," sebab ia adalah kenikmatan yang tidak ada kesusahannya, tidak ada kekeruhannya, dan tidak ada perpindahan. Kemudian Dia menjelaskan milik siapa pahala itu, seraya berfirman, ﴾ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ ﴿ "Bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakal," maksudnya, me-reka memadukan antara iman yang benar yang melahirkan amal-amal iman yang nampak dan yang tidak tampak, dengan tawakal (sikap berserah diri) yang merupakan alat bagi setiap amal. Sebab, setiap amal (perbuatan) yang tidak disertai tawakal adalah tidak sempurna. Tawakal adalah bersandar kepada Allah dengan hati dalam mencari apa-apa yang dicintai dan menolak apa-apa yang tidak disukai, disertai dengan sikap percaya sepenuhnya kepada Allah سبحانه وتعالى.

(37) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَجۡتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡفَوَٰحِشَ ﴿ "Dan (juga bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji." Perbeda-an antara dosa-dosa besar dengan perbuatan-perbuatan keji, sekali-pun semuanya merupakan dosa besar, adalah bahwa perbuatan-perbuatan keji adalah dosa-dosa yang sangat besar yang di dalam jiwa terdapat nafsu dorongan untuk melakukannya, seperti zina dan yang serupa dengannya. Sedangkan dosa-dosa besar adalah yang tidak seperti itu. Pengertian ini adalah bila keduanya disebut-kan secara bersamaan. Adapun kalau masing-masing disebutkan secara terpisah (tersendiri), maka yang terakhir masuk kepada yang sebelumnya. ﴾ وَإِذَا مَا غَضِبُواْ هُمۡ يَغۡفِرُونَ ﴿ "Dan (juga bagi orang-orang yang) apabila mereka marah, mereka memberi maaf." Maksudnya, mereka telah berakhlak mulia dan berbudi luhur, sehingga sifat lembut telah menjadi karakter mereka, akhlak mulia telah menjadi tabiat mereka hingga apabila ada seseorang yang membuatnya marah dengan ucapan ataupun perbuatannya, mereka menahan kema-rahannya itu, mereka tidak melepaskannya, bahkan mereka me-maafkannya. Mereka tidak membalas orang yang berbuat buruk kecuali dengan ihsan (sikap baik), memaafkan, dan berlapang dada. Maka sikap memaafkan dan berlapang dada ini melahirkan banyak maslahat dan banyak mencegah timbulnya kerusakan pada diri mereka sendiri dan pada orang lain. Ini sebagaimana FirmanNya, ﴾ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ 34 وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٖ 35 ﴿ "Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak di-anugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianu-gerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." (Fushshilat: 34-35).

(38) ﴾ وَٱلَّذِينَ ٱسۡتَجَابُواْ لِرَبِّهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang menerima seruan Rabbnya," maksudnya, mereka tunduk untuk menaatiNya, meme-nuhi seruanNya dan tujuan mereka pun adalah keridhaanNya dan tujuan akhir mereka adalah meraih kedekatan denganNya. Terma-suk memenuhi seruan Allah adalah menegakkan shalat dan menu-naikan zakat. Maka dari itu Allah menyambung keduanya dengan yang sebelumnya sebagai 'athful-am 'alal-khash (pengikutan yang umum kepada yang khusus) yang menunjukkan kemuliaan dan keutamaan yang khusus itu, seraya berfirman, ﴾ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Dan mendirikan shalat" yang lahir dan yang batinnya, yang fardhu dan yang sunnahnya, ﴾ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ﴿ "dan mereka menginfakkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka," infak yang wajib seperti zakat, infak terhadap kerabat dekat dan yang semisal mereka, dan infak yang sunnah seperti bersedekah kepada masyarakat awam. ﴾ وَأَمۡرُهُمۡ ﴿ "Sedang urusan mereka," yang bersifat religi dan yang ber-sifat duniawi ﴾ شُورَىٰ بَيۡنَهُمۡ ﴿ "adalah musyawarah antara mereka," maksud-nya, tidak seorang pun dari mereka yang bersikap otoriter dengan pendapatnya dalam suatu urusan bersama di antara mereka. Ini tidak akan terjadi kecuali merupakan bagian dari keber-samaan, kekompakan, kecintaan, dan saling sayang-menyayangi di antara mereka, dan merupakan kesempurnaan (kematangan) pikiran mereka adalah bahwa apabila mereka hendak melakukan suatu perkara yang memerlukan pengerahan pikiran dan pendapat, maka mereka berkumpul, bermusyawarah, serta melakukan pem-bahasan tentangnya, hingga jika kemaslahatan sudah terbukti, maka mereka segera mengambilnya. Ini seperti pendapat (ide) dalam peperangan dan jihad, penugasan para petugas untuk menduduki suatu jabatan kekuasaan atau hakim atau yang semisal dengannya. Juga seperti pembahasan tentang masalah-masalah agama secara umum, sebab semua itu termasuk permasalahan bersama. Mela-kukan pembahasan terhadapnya adalah untuk menjelaskan yang tepat dari yang dicintai Allah. Itu semua masuk dalam ayat ini.

(39) ﴾ وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ ٱلۡبَغۡيُ ﴿ "Dan orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim," maksudnya, kezhaliman yang sampai kepada mereka dari musuh, ﴾ هُمۡ يَنتَصِرُونَ ﴿ "mereka membela diri," karena kekuatan dan keperkasaan (harga diri) mereka. Mereka tidak men-jadi manusia yang hina dan lemah untuk membela diri. Ringkasnya, Allah menyifati mereka dengan iman, tawakal kepada Allah, menjauhi perbuatan-perbuatan keji dan dosa-dosa besar yang dengannya dosa-dosa kecil dihapuskan, kepatuhan yang sempurna dan memenuhi seruan Tuhan mereka, menegakkan shalat, berinfak di jalan-jalan kebajikan, bermusyawarah dalam urusan-urusan mereka, kekuatan dan membela diri terhadap musuh. Inilah karakter-karakter kesempurnaan, mereka telah me-milikinya semua, dan keberadaan karakter-karakter mulia dalam diri mereka tersebut memastikan mereka melakukan karakter-karakter lainnya dan menjauhi lawan-lawannya.

Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences

Contents

Ayat al-Kursi36Al-Kahfpage 42juz 15Bukhari 1Muslim 2999

Style

Theme
Text size
Layout

Читать на русском