As-Sa'diAl‑An'am · 6:93–111

As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian

Al-An'am 6:93–111

6:93–94Page 139

وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوۡ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمۡ يُوحَ إِلَيۡهِ شَيۡءٞ وَمَن قَالَ سَأُنزِلُ مِثۡلَ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُۗ وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي غَمَرَٰتِ ٱلۡمَوۡتِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓاْ أَيۡدِيهِمۡ أَخۡرِجُوٓاْ أَنفُسَكُمُۖ ٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ ٱلۡهُونِ بِمَا كُنتُمۡ تَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ غَيۡرَ ٱلۡحَقِّ وَكُنتُمۡ عَنۡ ءَايَٰتِهِۦ تَسۡتَكۡبِرُونَ ٩٣

And who is more unjust than one who invents a lie about Allāh or says, "It has been inspired to me," while nothing has been inspired to him, and one who says, "I will reveal [something] like what Allāh revealed." And if you could but see when the wrongdoers are in the overwhelming pangs of death while the angels extend their hands,1 [saying], "Discharge your souls! Today you will be awarded the punishment of [extreme] humiliation for what you used to say against Allāh other than the truth and [that] you were, toward His verses, being arrogant."

وَلَقَدۡ جِئۡتُمُونَا فُرَٰدَىٰ كَمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَتَرَكۡتُم مَّا خَوَّلۡنَٰكُمۡ وَرَآءَ ظُهُورِكُمۡۖ وَمَا نَرَىٰ مَعَكُمۡ شُفَعَآءَكُمُ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُمۡ أَنَّهُمۡ فِيكُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْۚ لَقَد تَّقَطَّعَ بَيۡنَكُمۡ وَضَلَّ عَنكُم مَّا كُنتُمۡ تَزۡعُمُونَ ٩٤

[It will be said to them], "And you have certainly come to Us alone [i.e., individually] as We created you the first time, and you have left whatever We bestowed upon you behind you. And We do not see with you your 'intercessors' which you claimed that they were among you associates [of Allāh]. It has [all] been severed between you,1 and lost from you is what you used to claim."

"Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mem-buat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata, 'Telah diwah-yukan kepada saya,' padahal tidak ada sesuatu pun diwahyukan kepadanya, dan orang yang berkata, 'Saya akan menurunkan se-perti apa yang diturunkan Allah.' Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), 'Keluarkan nyawamu.' Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya. Dan sungguh kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana Kami menciptakanmu pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu, dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa'at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap dari kamu sesuatu yang dahulu kamu berdusta dengannya (di dunia)." (Al-An'am : 93-94).

(93) Allah menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun yang kezhaliman dan kejahatannya lebih besar daripada orang yang berdusta atas Nama Allah dengan menisbatkan ucapan atau hukum kepada Allah padahal Allah terbebas darinya. Orang ini adalah orang terzhalim, karena perbuatannya mengandung kedustaan, dia mengubah agama, furu' dan ushulnya, dan menisbatkannya kepada Allah, dan ini adalah kerusakan terbesar. Termasuk dalam hal ini adalah klaim kenabian, bahwa Allah mewahyukan kepada-nya, padahal dalam hal tersebut dia dusta. Di samping dia telah berdusta atas Nama Allah dan kelancangannya terhadap kebesaran dan kekuasaanNya, dia juga telah mewajibkan manusia untuk meng-ikutinya, dan berjihad melawan mereka di atas dasar itu (jika tidak mau mengikutinya) serta menghalalkan darah dan harta orang-orang yang menyelisihinya. Termasuk di dalam ayat ini adalah setiap orang yang mengaku sebagai nabi seperti Musailamah al-Kadzdzab, al-Aswad al-Ansi, al-Mukhtar, dan lain-lain yang mengikuti sifat ini. ﴾ وَمَن قَالَ سَأُنزِلُ مِثۡلَ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُۗ ﴿ "Dan orang yang berkata, 'Saya akan menu-runkan seperti apa yang diturunkan Allah'." Maksudnya, siapa yang lebih zhalim daripada orang yang mengklaim bahwa dirinya mampu melakukan apa yang dilakukan oleh Allah, menandingi hukum-hukumNya, dan membuat syariat seperti Allah? Termasuk di da-lamnya semua orang yang mengklaim bahwa dia mampu menan-tang al-Qur`an, bahwa dia mampu menghadirkan yang sepertinya. Kezhaliman mana yang lebih besar daripada klaim orang miskin lagi lemah lagi kurang dari berbagai segi bahwa dirinya mampu menandingi Yang Mahakuat, Mahakaya, pemilik kesempurnaan yang mutlak dari berbagai segi, pada dzat, nama, dan sifatNya? Manakala Allah mencela orang-orang zhalim, maka Dia me-nyebutkan siksa yang Dia siapkan untuk mereka pada waktu mereka hadir di Hari Kiamat. Dia berfirman, ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي غَمَرَٰتِ ٱلۡمَوۡتِ ﴿ "Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut." Maksudnya, berada dalam kesulitan dan sekarat yang menyakitkan dan pende-ritaannya yang berat, niscaya kamu akan melihat perkara yang menakutkan dan keadaan yang sulit untuk digambarkan. ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓاْ أَيۡدِيهِمۡ ﴿ "Sedang para malaikat memukul dengan tangannya," kepada orang-orang zhalim yang kematiannya diiringi oleh pukulan dan siksaan. Para malaikat itu berkata kepada mereka pada waktu me-narik ruhnya dan (sulitnya ia) keluar dari badannya, ﴾ أَخۡرِجُوٓاْ أَنفُسَكُمُۖ ٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ ٱلۡهُونِ ﴿ "Keluarkan nyawamu." Di hari ini kamu dibalas de-ngan siksaan yang sangat menghinakan." Maksudnya, azab yang keras yang menghinakanmu. Dan balasan itu dari jenis perbuatan itu sendiri, karena azab ini ﴾ بِمَا كُنتُمۡ تَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ غَيۡرَ ٱلۡحَقِّ ﴿ "disebabkan kamu se-lalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar." Karena Kedustaanmu atasnya dan penolakanmu terhadap kebenaran yang dibawa oleh para Rasul. ﴾ وَكُنتُمۡ عَنۡ ءَايَٰتِهِۦ تَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "Dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya." Maksudnya, kamu tidak mau tunduk dan berserah diri kepada hukum-hukumNya. Ini mengandung dalil atas azab dan nikmat kubur. Pembica-raan dan azab yang diarahkan kepada mereka ini terjadi pada waktu hadirnya kematian, sebelum dan sesudahnya. Ini juga menunjuk-kan bahwa ruh adalah materi, ia keluar dan masuk, diajak bicara, tinggal di dalam tubuh dan meninggalkannya.

(94) Ini adalah keadaan mereka di alam Barzakh. Adapun pada Hari Kiamat, maka mereka menghadirinya dalam keadaan tidak membawa apa-apa, sendiri-sendiri tanpa keluarga, tanpa harta, tanpa anak, tanpa tentara dan penolong sebagaimana keada-annya saat pertama kali diciptakan oleh Allah, ia telanjang dari segala sesuatu, karena segala sesuatu hanya diraih dan didapatkan setelah itu dengan sebab-sebabnya yang mana faktor tersebut merupakan sebab-sebabnya, dan pada hari itu segala perkara yang berhubungan dengan hamba di dunia terputus kecuali amal baik dan amal buruk yang menjadi bahan rumah akhirat yang tumbuh darinya. Kebaikan, keburukan, kebahagiaan, kesedihan, azab dan nikmatnya adalah berdasarkan amal. Amallah yang bermanfaat atau bermudarat, menyedihkan atau membahagiakan, sedang selain itu berupa keluarga, anak, harta dan penolong, maka semua itu adalah faktor luar, dan semua itu tidak termasuk kriteria. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ جِئۡتُمُونَا فُرَٰدَىٰ كَمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَتَرَكۡتُم مَّا خَوَّلۡنَٰكُمۡ ﴿ "Dan sungguh kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana Kami menciptakanmu pada mulanya, dan kamu tinggalkan apa yang telah Kami karuniakan kepadamu," yakni, yang Kami berikan sebagai nikmat kepadamu, ﴾ وَرَآءَ ظُهُورِكُمۡۖ ﴿ "di belakangmu," karena ia tidak berguna apa pun untukmu. ﴾ وَمَا نَرَىٰ مَعَكُمۡ شُفَعَآءَكُمُ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُمۡ أَنَّهُمۡ فِيكُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْۚ ﴿ "Dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa'at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu." Orang-orang musyrik menyekutukan Allah, mereka menyem-bah para malaikat, para Nabi, orang-orang shalih, dan lain-lain ber-samaNya, padahal mereka semua adalah milik Allah, akan tetapi mereka memberikan bagian dari diri mereka kepada makhluk-makhluk ini dan melakukan kesyirikan dalam beribadah. Ini adalah klaim batil dan kezhaliman dari mereka, karena semuanya adalah hamba Allah, Allah adalah Maharaja yang berhak mereka sembah. Kesyirikan mereka dalam ibadah dengan memberikannya kepada para hamba adalah mengangkat mereka menduduki posisi pen-cipta dan pemilik. Maka pada Hari Kiamat mereka dicela dan dika-takan kepada mereka ucapan ini, ﴾ م َ ا نَرَىٰ مَعَكُمۡ شُفَعَآءَكُمُ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُمۡ أَنَّهُمۡ فِيكُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْۚ لَقَد تَّقَطَّعَ بَيۡنَكُمۡ ﴿ "Dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa'at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu, sungguh terputuslah pertalian antara kamu." Maksudnya, terputuslah hubungan dan ikatan antara kamu dengan sekutu-sekutumu da-lam bentuk syafa'at dan lain-lain. Ia tidak bermanfaat dan tidak berguna apa pun. ﴾ وَضَلَّ عَنكُم مَّا كُنتُمۡ تَزۡعُمُونَ ﴿ "Dan telah lenyap darimu sesuatu yang dahulu kamu berdusta dengannya (di dunia)," berupa keun-tungan, keamanan, kebahagiaan, dan keselamatan yang dihiasi dan dijadikan indah oleh setan dalam hatimu, dan lisanmu meng-ucapkan itu. Kamu terkecoh dengan klaim batil yang tidak ada hakikatnya pada waktu terbuktinya lawan dari klaimmu, dan ter-nyata kamu adalah orang yang merugi pada diri, harta, dan jiwamu.

6:95–98Page 140

۞ إِنَّ ٱللَّهَ فَالِقُ ٱلۡحَبِّ وَٱلنَّوَىٰۖ يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَمُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتِ مِنَ ٱلۡحَيِّۚ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُۖ فَأَنَّىٰ تُؤۡفَكُونَ ٩٥

Indeed, Allāh is the cleaver of grain and date seeds.1 He brings the living out of the dead and brings the dead out of the living. That is Allāh; so how are you deluded?

فَالِقُ ٱلۡإِصۡبَاحِ وَجَعَلَ ٱلَّيۡلَ سَكَنٗا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ حُسۡبَانٗاۚ ذَٰلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡعَلِيمِ ٩٦

[He is] the cleaver of daybreak and has made the night for rest and the sun and moon for calculation.1 That is the determination of the Exalted in Might, the Knowing.

وَهُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلنُّجُومَ لِتَهۡتَدُواْ بِهَا فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۗ قَدۡ فَصَّلۡنَا ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ٩٧

And it is He who placed for you the stars that you may be guided by them through the darknesses of the land and sea. We have detailed the signs for a people who know.

وَهُوَ ٱلَّذِيٓ أَنشَأَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ فَمُسۡتَقَرّٞ وَمُسۡتَوۡدَعٞۗ قَدۡ فَصَّلۡنَا ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يَفۡقَهُونَ ٩٨

And it is He who produced you from one soul and [gave you] a place of dwelling and of storage.1 We have detailed the signs for a people who understand.

"Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling? Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristi-rahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Dan Dia-lah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan laut. Sungguh Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui. Dan Dia-lah yang menciptakan kamu dari diri yang satu, maka (bagimu) ada tempat menetap dan tempat penyimpanan. Sungguh telah Kami jelaskan tanda-tanda kebe-saran Kami kepada orang-orang yang mengetahui." (Al-An'am: 95-98).

(95) Allah menyampaikan tentang kesempurnaanNya, ke-agungan kekuasaanNya, potensi kekuatanNya, keluasan rahmatNya, kemurahanNya yang universal dan perhatianNya yang mendalam kepada makhlukNya. Dia berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ فَالِقُ ٱلۡحَبِّ ﴿ "Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan." Mencakup seluruh biji-bijian yang ditanam oleh manusia dan yang tidak mereka tanam seperti biji-bijian yang Allah tebarkan di tanah-tanah yang sepi lagi kosong. Biji-bijian itu tumbuh menjadi tanaman-tanaman yang bermacam-macam, serta berbeda-beda bentuk dan kegunaannya. Allah juga menumbuhkan biji-bijian dari pohon, berupa pohon kurma, buah-buahan, dan lain-lain, maka makhluk Allah seperti manusia, ternak, dan binatang memanfaatkannya. Mereka menikmati apa yang telah ditumbuhkan dari butir dan biji-bijian itu, mereka menjadikannya sebagai bahan makanan dan mengambil manfaat dengan berbagai macam pemanfaatan yang Allah jadikan padanya. Allah menunjukkan kepada mereka kebaik-an dan kemurahanNya yang mengagumkan akal dan menakjubkan orang-orang yang berakal cemerlang. Dia menunjukkan kepada mereka keunikan penciptaanNya dan kesempurnaan hikmahNya kepada mereka di mana dengannya mereka mengenalNya, mentau-hidkanNya, menyadari bahwa Dia-lah Yang Mahabenar dan bahwa penghambaan kepada selainNya adalah batil. ﴾ يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ ﴿ "Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati," sebagaimana Dia mengeluarkan hewan dari air mani, anak ayam dari telur, dan tanaman serta tumbuh-tumbuhan dari biji-bijian. ﴾ وَمُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتِ ﴿ "Dan mengeluarkan yang mati," yang tidak tumbuh atau tidak bernyawa ﴾ مِنَ ٱلۡحَيِّۚ ﴿ "dari yang hidup," sebagaimana Dia menge-luarkan biji-bijian dari tanaman dan tumbuh-tumbuhan dan Dia mengeluarkan telur dari burung dan sebagainya. ﴾ ذَٰلِكُمُ ﴿ "(Yang memiliki sifat-sifat) demikian," maksudnya yang melakukan apa yang dilakukan dan bersendirian dalam penciptaan dan pengaturan se-gala sesuatu ﴾ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡۖ ﴿ "Ialah Allah Tuhanmu." Pemilik hak uluhiyah dan ibadah atas seluruh makhluk. Dia-lah yang menumbuhkan seluruh alam dengan nikmatNya dan memberi makan mereka de-ngan kemurahanNya. ﴾ فَأَنَّىٰ تُؤۡفَكُونَ ﴿ "Maka mengapa kamu masih ber-paling?" Maksudnya, mengapa kamu berpaling dan menolak ibadah dari Dzat yang keadaanNya adalah demikian, dengan berpaling menuju ibadah kepada sesuatu yang tidak memiliki manfaat, mu-darat dan tidak memiliki hak mematikan, menghidupkan, dan membangkitkan dirinya?

(96) Manakala Allah menyebutkan bahan penciptaan makan-an pokok, maka Dia juga menyebutkan nikmatNya dengan menye-diakan tempat tinggal, dan Dia menciptakan cahaya dan kegelapan yang dibutuhkan oleh para hamba dan manfaat serta maslahat yang diakibatkannya. Dia berfirman, ﴾ فَالِقُ ٱلۡإِصۡبَاحِ ﴿ "Dia menyingsingkan pagi," sebagaimana Dia menumbuhkan biji-bijian, maka Dia juga membelah kegelapan malam yang menyelimuti permukaan bumi dengan cahaya pagi yang melenyapkannya sedikit demi sedikit sampai kegelapan malam sirna seluruhnya dan berganti dengan cahaya yang menyebar. Dengan pergantian masa tersebut, manusia beraktifitas dalam maslahat dan kehidupan mereka, dan dalam kemanfaatan agama dan dunia mereka. Ketika manusia membutuhkan ketenangan dan ketentram-an, serta istirahat yang tidak terjadi kecuali dengan adanya siang dan cahaya, maka ﴾ جَعَلَ ﴿ "Dia menjadikan" malam untuk istirahat. Manusia beristirahat di rumah-rumah dan tempat tidur mereka di malam hari, ternak ke kandangnya, burung ke sarangnya, maka masing-masing mengambil bagian istirahatnya. Kemudian Allah menggantikannya dengan cahaya, dan begitulah seterusnya sampai Hari Kiamat. ﴾ و َ ﴿ "Dan Allah" menjadikan ﴾ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ حُسۡبَانٗاۚ ﴿ "matahari dan bulan untuk perhitungan." Dengan keduanya diketahui waktu dan masa. Dengan itu waktu-waktu ibadah dan muamalat dipatok dan diketahui. Dengannya diketahui waktu-waktu yang telah ber-lalu, yang mana kalau bukan karena matahari, rembulan, dan per-gantian keduanya silih berganti, niscaya orang-orang tidaklah mengetahuinya, akan tetapi yang mengetahuinya hanyalah bebe-rapa orang, itu pun setelah upaya yang keras yang karenanya ada beberapa kemaslahatan yang tidak tercapai. ﴾ ذَٰلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡعَلِيمِ ﴿ "Itulah ketentuan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui." Yang mana di antara keperkasaanNya adalah tunduknya makhluk yang besar ini, maka ia pun berjalan dengan tunduk dan patuh kepada perintahNya, yang mana ia tidak me-lampaui batasan yang diletakkan oleh Allah, tidak maju dan tidak mundur darinya. Dia Maha Mengetahui, di mana ilmuNya meliputi yang lahir, yang batin, yang pertama dan yang terakhir. Di antara dalil aqli atas keluasan ilmuNya adalah pengendalian makhluk-makhluk yang besar ini dengan tatanan dan aturan yang konkret yang mencengangkan akal dalam kebaikan, kesempurnaan, dan kesesuaiannya dengan kemaslahatan dan hikmah.

(97) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلنُّجُومَ لِتَهۡتَدُواْ بِهَا فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۗ ﴿ "Dan Dia-lah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan laut." Manakala jalan-jalan mem-bingungkanmu, peniti jalan tidak mengetahui jalan mana yang diambil, maka Allah menjadikan bintang-bintang sebagai petunjuk bagi manusia ke jalan yang harus mereka lalui kepada kepenting-an perniagaan dan perjalanan mereka. Di antaranya adalah bintang-bintang tertentu yang selalu terlihat dan tetap di tempat, ada pula yang selalu bergerak. Gerakannya diketahui oleh ahlinya, dan dengannya mereka mengetahui waktu dan arah. Ayat ini dan yang semisal dengannya menunjukkan anjuran mempelajari gerakan-gerakan dan orbit-orbitnya yang dinamakan dengan ilmu per-gerakan bintang karena fungsi bintang sebagai petunjuk tidak ter-capai kecuali dengan itu. ﴾ قَدۡ فَصَّلۡنَا ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Sungguh Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran Kami," maksudnya, Kami telah menjelaskan dan mene-rangkannya, dan Kami telah membedakan setiap jenis dan macam-nya dengan selainnya yang mana tanda-tanda kebesaran Allah menjadi nampak dan jelas, ﴾ لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ﴿ "kepada orang-orang yang mengetahui," maksudnya, bagi ahli ilmu dan ahli pengetahuan alam, karena merekalah yang dituju oleh khithabullah (titah Allah), dan jawabannya dituntut dari mereka. Hal ini berbeda dengan kaum jahil dan keras kepala yang berpaling dari tanda-tanda kebesaran Allah dan berpaling dari ilmu yang dibawa oleh para rasul, karena penjelasan tidak akan bermanfaat bagi mereka sama sekali, peme-rincian tidak akan menghilangkan kerancuan mereka, dan pene-rangan tidak akan membuka kesulitan mereka.

(98) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِيٓ أَنشَأَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ ﴿ "Dan Dia-lah yang menciptakan kamu dari diri yang satu." Yaitu Adam, Allah menciptakan bangsa manusia yang memenuhi bumi adalah berasal darinya dan mereka terus bertambah dan berkembang dengan perangai, bentuk pencip-taan, dan karakter yang berbeda-beda, sehingga sulit untuk dipa-parkan dan dijelaskan. Allah menjadikan untuk mereka tempat kembali, yakni akhir hidup mereka dan tujuan di mana mereka nanti akan digiring ke sana yaitu alam akhirat yang tidak ada lagi alam sesudahnya dan tidak ada waktu akhir sesudahnya, sedang-kan alam ini di mana makhluk diciptakan untuk tinggal di dalam-nya, maka mereka diciptakan di dunia agar berusaha memperoleh sarana-sarananya, di mana dia tumbuh dan berkembang dengannya. Allah menitipkan mereka di tulang punggung (sulbi) bapak mereka dan rahim ibu mereka kemudian ke alam dunia dan akhirnya alam Barzakh. Semua itu hanyalah sementara, tidak menetap dan kekal, akan tetapi dia berpindah darinya, sehingga sampai ke alam yang menjadi tempat tinggal permanen. Adapun dunia ini, maka ia ha-nyalah tempat berlalu dan simpanan. ﴾ قَدۡ فَصَّلۡنَا ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يَفۡقَهُونَ ﴿ "Sung-guh telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui" tentang ayat-ayatNya dan memahami hujjah-hujjah dan keterangan-keteranganNya.

6:99Page 140

وَهُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجۡنَا بِهِۦ نَبَاتَ كُلِّ شَيۡءٖ فَأَخۡرَجۡنَا مِنۡهُ خَضِرٗا نُّخۡرِجُ مِنۡهُ حَبّٗا مُّتَرَاكِبٗا وَمِنَ ٱلنَّخۡلِ مِن طَلۡعِهَا قِنۡوَانٞ دَانِيَةٞ وَجَنَّٰتٖ مِّنۡ أَعۡنَابٖ وَٱلزَّيۡتُونَ وَٱلرُّمَّانَ مُشۡتَبِهٗا وَغَيۡرَ مُتَشَٰبِهٍۗ ٱنظُرُوٓاْ إِلَىٰ ثَمَرِهِۦٓ إِذَآ أَثۡمَرَ وَيَنۡعِهِۦٓۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكُمۡ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ٩٩

And it is He who sends down rain from the sky, and We produce thereby the growth of all things. We produce from it greenery from which We produce grains arranged in layers. And from the palm trees - of its emerging fruit are clusters hanging low. And [We produce] gardens of grapevines and olives and pomegranates, similar yet varied. Look at [each of] its fruit when it yields and [at] its ripening. Indeed in that are signs for a people who believe.

"Dan Dia-lah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak, dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Per-hatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pula) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." (Al-An'am: 99).

(99) Ini adalah salah satu nikmatNya yang besar yang di-perlukan oleh manusia dan lain-lainnya yaitu bahwa Allah menu-runkan air dari langit yang datang silih berganti di saat orang-orang memerlukannya. Lalu Allah menumbuhkan segala sesuatu yang dimakan oleh manusia dan binatang, maka makhluk menikmati karunia Allah, hidup lapang dengan rizkiNya, dan bersuka cita dengan kebaikanNya. Kekeringan, kekurangan dan paceklik lenyap dari mereka. Hati berbunga-bunga, wajah berseri-seri, para hamba meraih rahmat Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang berupa sesuatu yang dengannya mereka merasakan nikmat dan suka cita. Hal itu mengharuskan mereka mengeluarkan upaya untuk mensyukuri Dzat yang telah melimpahkan nikmat-nikmat, dengan menyembahNya, kembali kepadaNya, dan mencintaiNya. Manakala Dia menyebutkan bermacam pohon dan tumbuhan yang ditumbuhkan oleh air, Dia menyebutkan tanaman pangan dan pohon kurma karena manfaatnya yang banyak, dan dia sebagai makanan pokok bagi manusia. Dia berfirman, ﴾ فَأَخۡرَجۡنَا مِنۡهُ خَضِرٗا نُّخۡرِجُ مِنۡهُ ﴿ "Maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang meng-hijau, Kami keluarkan darinya," maksudnya, dari tanaman yang hijau itu, ﴾ حَبّٗا مُّتَرَاكِبٗا ﴿ "butir yang banyak," sebagian di atas sebagian yang lain, berupa gandum, jewawut, jagung, padi, dan tanaman-tanaman pangan lainnya. Dan dari penjelasan ini menunjukkan bahwa butir-nya bermacam-macam. Semuanya berasal dari bahan yang satu yang tidak tercampur aduk. Bahkan ia berupa butir-butir yang terpisah-pisah dari asal yang satu, dan ia juga menunjukkan ke-pada banyaknya dan keluasan hasil dan produknya, agar asal bijinya tetap ada sementara sisanya dalam jumlah yang besar dimakan dan disimpan. ﴾ وَمِنَ ٱلنَّخۡلِ ﴿ "Dan dari pohon kurma," Allah mengeluarkan ﴾ مِن طَلۡعِهَا ﴿ "dari mayangnya," yaitu janjang dan manggar sebelum tangkai-tangkai yang menjulai itu muncul, maka dari janjang tersebut ﴾ قِنۡوَانٞ دَانِيَةٞ ﴿ "terurai tangkai-tangkai yang menjulai," Maksudnya, tangkai yang dekat, mudah diambil, merunduk kepada orang yang ingin memetiknya tanpa kesulitan. Walaupun ia panjang, namun pada-nya terdapat pelepah dan tatakan yang memudahkan untuk me-manjatnya. ﴾ و َ ﴿ "Dan," dengan air itu Allah m e n g e l u a r k a n ﴾ وَجَنَّٰتٖ مِّنۡ أَعۡنَابٖ وَٱلزَّيۡتُونَ وَٱلرُّمَّانَ ﴿ "kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima." Ini termasuk pohon yang banyak dan besar manfaat dan kegunaannya. Oleh karena itu, Allah menyebutkan secara khusus setelah menyebutkan pohon dan tumbuhan secara umum. FirmanNya, ﴾ مُشۡتَبِهٗا وَغَيۡرَ مُتَشَٰبِهٍۗ ﴿ "Yang serupa dan yang tidak seru-pa." Ada kemungkinan ia kembali kepada delima dan zaitun, yakni serupa pohon dan daunnya namun tidak serupa buahnya. Ada ke-mungkinan lain, ia kembali kepada semua pohon dan buah-buahan. Sebagian darinya mirip dengan sebagian yang lain dan ciri-cirinya tidak jauh berbeda, dan sebagian yang lain benar-benar berbeda. Dari semuanya itu manusia mengambil manfaat, menikmati buah-buahan dan menjadikannya sebagai bahan makanan dan mereka juga bisa mengambil pelajaran. Oleh karena itu, Allah memerintahkan agar mengambil pela-jaran darinya. Dia berfirman, ﴾ ٱنظُرُوٓاْ ﴿ "Perhatikanlah," dengan pere-nungan demi mendapatkan pelajaran ﴾ إِلَىٰ ثَمَرِهِۦٓ ﴿ "buahnya," buah seluruh pohon, khususnya kurma, ﴾ إِذَآ أَثۡمَرَ وَيَنۡعِهِۦٓۚ ﴿ "di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pula) kematangannya." Maksudnya, perhati-kanlah waktu ia muncul dan waktu ia matang dan ranum. Karena hal itu mengandung pelajaran-pelajaran dan tanda-tanda kebesaran Allah sebagai bukti rahmatNya, keluasan karunia dan kemurahan-Nya, serta kesempurnaan kodrat, dan perhatianNya kepada hamba-hambaNya. Akan tetapi tidak semua orang mau memperhatikan dan mengambil pelajaran, dan tidak semua yang merenungkan pasti mengetahui rahasia yang dimaksud. Oleh karena itu, Allah membatasi pengambilan manfaat dari tanda-tanda kebesaran Allah pada orang-orang Mukmin. Dia berfirman, ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكُمۡ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." Karena orang-orang Mukmin terdorong oleh iman mereka untuk beramal sesuai dengan tuntutan dan kelazimannya yang mana salah satunya adalah tafakkur terhadap ayat-ayat Allah, meng-ambil hasil dari maksud dan targetnya dari segi akal, fitrah, dan syariat.

6:100–104Page 140

وَجَعَلُواْ لِلَّهِ شُرَكَآءَ ٱلۡجِنَّ وَخَلَقَهُمۡۖ وَخَرَقُواْ لَهُۥ بَنِينَ وَبَنَٰتِۭ بِغَيۡرِ عِلۡمٖۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يَصِفُونَ ١٠٠

But they have attributed to Allāh partners - the jinn, while He has created them - and have fabricated for Him sons and daughters without knowledge. Exalted is He and high above what they describe.

بَدِيعُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُۥ وَلَدٞ وَلَمۡ تَكُن لَّهُۥ صَٰحِبَةٞۖ وَخَلَقَ كُلَّ شَيۡءٖۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ١٠١

[He is] Originator of the heavens and the earth. How could He have a son when He does not have a companion [i.e., wife] and He created all things? And He is, of all things, Knowing.

ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡءٖ فَٱعۡبُدُوهُۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ وَكِيلٞ ١٠٢

That is Allāh, your Lord; there is no deity except Him, the Creator of all things, so worship Him. And He is Disposer of all things.

لَّا تُدۡرِكُهُ ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَهُوَ يُدۡرِكُ ٱلۡأَبۡصَٰرَۖ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ ١٠٣

Vision perceives Him not,1 but He perceives [all] vision; and He is the Subtle,2 the Aware.3

قَدۡ جَآءَكُم بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَنۡ أَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ عَمِيَ فَعَلَيۡهَاۚ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ١٠٤

There has come to you enlightenment from your Lord. So whoever will see does so for [the benefit of] his soul, and whoever is blind [does harm] against it. And [say], "I am not a guardian over you."1

"Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka bohong (dengan mengatakan), 'Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan,' tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah, Tuhan kamu, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Pen-cipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia, dan Dia adalah Peme-lihara segala sesuatu, Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dia-lah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang, maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri, dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemu-daratannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu)." (Al-An'am: 100-104).

(100) Allah memberitakan -walaupun Dia telah memberi-kan kebaikan kepada hamba-hambaNya, menjelaskan kepada mereka dengan ayat-ayat yang jelas dan hujjah yang nyata- bahwa orang-orang musyrik dari kalangan Quraisy dan lain-lain mengangkat tandingan untukNya. Mereka berdoa dan beribadah kepada makh-luk dari kalangan jin dan malaikat, di mana mereka adalah makhluk Allah yang tidak sedikit pun memiliki keistimewaan rububiyah dan uluhiyah. Mereka menjadikannya sebagai tandingan bagi pemilik hak penciptaan dan pemberi perintah, pemberi seluruh nikmat yang bermacam-macam, dan penolak seluruh kesulitan. Begitulah orang-orang musyrik membuat kebohongan dan kedustaan dari diri mereka bahwa Allah mempunyai anak-anak laki-laki dan perempuan tanpa dasar ilmu sama sekali. Siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang berkata atas Nama Allah tanpa ilmu, dan berdusta atasNya dengan menisbatkan kekurang-an paling buruk di mana Allah wajib disucikan darinya? Oleh karena itu, Allah menyucikan DiriNya dari kedustaan orang-orang musyrik. Dia berfirman, ﴾ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dan Maha-tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan." Karena Dia adalah Allah, Dzat yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan yang disucikan dari segala aib, cacat, dan kekurangan.

(101) ﴾ بَدِيعُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Dia Pencipta langit dan bumi." Mak-sudnya, pencipta keduanya dengan sangat baik dan kokoh dengan penciptaan terbaik, pengaturan dan kemegahan tanpa contoh sebelumnya, di mana akal orang-orang yang berakal tidak dapat mengusulkan sepertinya. Dan Dia tidak mempunyai rekan dalam menciptakan keduanya. ﴾ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُۥ وَلَدٞ وَلَمۡ تَكُن لَّهُۥ صَٰحِبَةٞۖ ﴿ "Bagaimana Dia mempunyai anak pada-hal Dia tidak mempunyai istri." Maksudnya, bagaimana Allah mem-punyai anak sementara Dia adalah Tuhan, pemilik dan tempat bergantung (bagi seluruh makhluk) dan yang tidak beristri? Dia Mahakaya dari makhluk-makhlukNya, sementara makhluk-makhlukNya memerlukan dan membutuhkanNya, dan anak harus berasal dari jenis orang tuanya, sedangkan Allah adalah pencipta segala sesuatu dan tiada satu pun makhluk yang menyerupai Allah dari segi mana pun. Manakala Dia menyebutkan penciptaanNya yang menyeluruh terhadap seluruh makhluk, Dia menyebutkan keluasan ilmuNya terhadap makhlukNya. Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ﴿ "Dia menge-tahui segala sesuatu." Dalam penyebutan ilmu setelah penciptaan mengandung isyarat kepada dalil aqli tentang ketetapan ilmuNya, yaitu makhluk-makhluk ini dengan keserasiannya yang sempurna dan penciptaan yang mengagumkan. Hal itu benar-benar mengan-dung bukti atas keluasan ilmu sang pencipta dan kesempurnaan hikmahNya sebagaimana Allah berfirman, ﴾ أَلَا يَعۡلَمُ مَنۡ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ 14 ﴿ "Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui." (Al-Mulk: 14). Dan sebagaimana Allah berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱلۡخَلَّٰقُ ٱلۡعَلِيمُ 81 ﴿ "Dan Dia-lah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui." (Yasin: 81).

(102) Dzat yang menciptakan apa yang diciptakan dan menentukan apa yang ditentukan, ﴾ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡۖ ﴿ "Dia-lah Allah, Tuhan-mu," maksudnya, Dzat yang dipertuhankan dan disembah, yang berhak mendapatkan ketundukan dan kecintaan sempurna. Tuhan yang mengurusi seluruh makhluk dengan melimpahkan nikmat-nikmatNya dan menolak seluruh kesulitan dari mereka. Dia adalah Pencipta segala sesuatu yang tidak ada tuhan yang berhak disem-bah kecuali Dia. ﴾ فَٱعۡبُدُوهُۚ ﴿ "Maka sembahlah Dia." Maksudnya, jika telah terbukti dengan meyakinkan bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, maka berikan kepadaNya seluruh bentuk ibadah, ikhlaskanlah ia untukNya, dan maksudkanlah untuk wajah-Nya, karena inilah maksud dari penciptaan manusia, ﴾ وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ 56 ﴿ "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu." (Adz-Dzariyat: 56). ﴾ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ وَكِيلٞ ﴿ "Dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu." Maksudnya, segala sesuatu berada di bawah pemeliharaan dan pengawasan Allah, baik dari segi penciptaan, penataan, dan peng-aturan. Sudah diketahui bahwa perkara yang diatur, kesempurnaan-nya, kelengkapan dan keserasiannya tergantung kepada keadaan pemeliharanya, dan pemeliharaan Allah terhadap segala sesuatu tidak seperti pemeliharaan makhluk, karena pemeliharaan makh-luk adalah pemeliharaan yang bersifat penggantian, dan pelaksana hanya menginduk kepada pemberi hak pemeliharaan tersebut. Lain halnya dengan Allah Yang Maha Pencipta, pemeliharaanNya ada-lah berasal dari DiriNya sendiri untuk DiriNya, yang mencakup kesempurnaan ilmu, kebaikan pengurusan dan adil. Maka tidak seorang pun yang mungkin bisa mengkritik Allah dan tidak mung-kin melihat ada kekurangan tidak juga kelemahan pada makhluk ciptaanNya dan tidak pula ketimpangan dan cacat pada pengatur-anNya. Di antara pemeliharaan Allah adalah bahwa Dia menjelas-kan agamaNya dan menjaganya dari perkara-perkara yang bisa menghapus dan merubahnya, dan bahwa Dia-lah yang menjaga orang-orang Mukmin dan memelihara mereka dari perkara-perkara yang merusak iman dan akidahnya.

(103) ﴾ لَّا تُدۡرِكُهُ ٱلۡأَبۡصَٰرُ ﴿ "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata," karena kebesaran, keagungan dan kesempurnaanNya, mak-sudnya, mata penglihatan tidak bisa mengetahuiNya dari segala segi walaupun mata bisa melihatNya dan bergembira dengan melihat kepada wajahNya yang mulia. Penafian terhadap penge-tahuan tidak berarti menafikan penglihatan, justru ia menetapkan-nya dengan cara pemahaman (mafhum), karena ketika ayat tersebut menafikan "pengetahuan" (idrak) yang mana ia merupakan sifat "penglihatan" (ru'yah) yang paling khusus, maka hal itu menunjuk-kan bahwa "penglihatan" adalah tetap (tsabit) dan tidak dinafikan. Seandainya ayat ini hendak menafikan "penglihatan" niscaya ia akan mengatakan, "Tidak dilihat oleh mata," atau ucapan lain yang sejenis. Dari sini diketahui bahwa dalam ayat ini tidak terdapat dalil yang mendukung pendapat para pengingkar sifat Allah yang meniadakan kemungkinan melihat Allah di Akhirat. Justru ayat ini mengandung bantahan terhadap pendapat tersebut. ﴾ وَهُوَ يُدۡرِكُ ٱلۡأَبۡصَٰرَۖ ﴿ "Sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu." Maksudnya, Dia-lah yang ilmuNya meliputi lahir dan batin. Pen-dengaranNya meliputi seluruh suara yang samar dan yang jelas, dan penglihatanNya meliputi segala yang terlihat, baik kecil mau-pun yang besar. Oleh karenanya, Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui." Maksudnya, ilmu dan penge-tahuanNya cermat dan teliti sehingga Dia mengetahui sesuatu yang rahasia, yang samar, yang tersembunyi dan yang tersimpan. Dan di antara kelembutan Allah adalah bahwa Dia membimbing hamba-Nya kepada kemaslahatan agamanya, mengantarkannya kepadanya dengan cara di mana hamba itu tidak merasa dan tidak berusaha padanya. Dia mengantarkannya pada kebahagiaan abadi dan keberun-tungan yang kekal dari arah yang tidak diduga, bahkan Dia mentak-dirkan perkara-perkara yang tidak disukai dan dirasa sakit oleh hamba sehingga dia memohon kepadaNya agar menyembuhkan-nya. Hal tersebut karena Dia mengetahui bahwa agamaNya lebih baik dan bahwa kesempurnaan agamaNya bergantung kepada ujian tersebut. Mahasuci Allah Yang Mahalembut kepada apa yang Dia Kehendaki, Maha Penyayang kepada orang-orang Mukmin.

(104) ﴾ قَدۡ جَآءَكُم بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَنۡ أَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ عَمِيَ فَعَلَيۡهَاۚ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ﴿ "Sungguh bukti-bukti yang terang telah datang dari Rabbmu, maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri, dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemu-daratannya kembali kepadanya. Dan aku (maksudnya Muhammad) sekali-kali bukanlah pemeliharamu." Manakala Allah menjelaskan ayat-ayat yang jelas dan bukti-bukti yang nyata yang menunjukkan kepada kebenaran dalam seluruh tuntutan dan tujuan, maka Dia mengingat-kan hamba-hambaNya terhadapnya dan Dia menyatakan bahwa petunjuk dan kesesatan mereka adalah untuk mereka sendiri. Dia berfirman, ﴾ قَدۡ جَآءَكُم بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمۡۖ ﴿ "Sungguh telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang." Maksudnya, ayat-ayat yang menjelaskan kebenaran dan menjadikannya di dalam hati seperti matahari bagi mata karena sesuatu yang dikandungnya, berupa kefasihan dan kegamblangan ditambah dengan kesesuaiannya dengan makna-makna yang mulia dan hakikat-hakikat yang indah karena ia datang dari Tuhan yang mengatur makhluk dengan seluruh nikmatNya, lahir dan batin di mana yang paling utama dan paling berharga adalah penjelasan ayat-ayat dan keterangan tentang persoalan-persoalan yang dibutuhkan. ﴾ فَمَنۡ أَبۡصَرَ ﴿ "Maka barangsiapa melihat (kebenaran itu)," maksud-nya dengan ayat-ayat itu tempat-tempat pelajaran dan beramal dengan sesuatu yang ditunjukkannya, ﴾ فَلِنَفۡسِهِۦۖ ﴿ "maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri." Karena Allah adalah Dzat Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Dan barangsiapa buta, dia ditunjukkan, akan tetapi ia tidak membuka matanya, diperingatkan tetapi tidak mengindah-kan, dijelaskan kebenaran kepadanya akan tetapi dia menolak tun-duk dan mengikutinya, maka mudarat kebutaan itu menimpa dirinya sendiri. Katakanlah wahai Rasul, ﴾ وَمَآ أَنَا۠ ﴿ "Dan aku bukanlah," yakni, Rasulullah ﷺ ﴾ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ﴿ "pemelihara(mu)." Maksudnya, memelihara dan mengawasi amalmu secara terus menerus. Akan tetapi tugasku hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan aku telah melaksanakannya dan menyampaikan apa yang Allah turunkan kepadaku. Inilah tugasku dan selain itu bukanlah urusanku.

6:105–108Page 141

وَكَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ ٱلۡأٓيَٰتِ وَلِيَقُولُواْ دَرَسۡتَ وَلِنُبَيِّنَهُۥ لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ١٠٥

And thus do We diversify the verses so they [i.e., the disbelievers] will say, "You have studied,"1 and so We may make it [i.e., the Qur’ān] clear for a people who know.

ٱتَّبِعۡ مَآ أُوحِيَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ١٠٦

Follow, [O Muḥammad], what has been revealed to you from your Lord - there is no deity except Him - and turn away from those who associate others with Allāh.

وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَآ أَشۡرَكُواْۗ وَمَا جَعَلۡنَٰكَ عَلَيۡهِمۡ حَفِيظٗاۖ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡهِم بِوَكِيلٖ ١٠٧

But if Allāh had willed, they would not have associated. And We have not appointed you over them as a guardian, nor are you a manager over them.1

وَلَا تَسُبُّواْ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّواْ ٱللَّهَ عَدۡوَۢا بِغَيۡرِ عِلۡمٖۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمۡ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرۡجِعُهُمۡ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٠٨

And do not insult those they invoke other than Allāh, lest they insult Allāh in enmity without knowledge. Thus We have made pleasing to every community their deeds. Then to their Lord is their return, and He will inform them about what they used to do.

"Demikianlah Kami mengulang-ulangi ayat-ayat Kami supa-ya (orang-orang yang beriman mendapat petunjuk) dan yang meng-akibatkan orang-orang musyrik berkata, 'Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari Ahli Kitab),' dan supaya Kami menjelaskan al-Qur`an itu kepada orang-orang yang mengetahui. Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mempersekutukan(Nya). Dan Kami tidak menjadikan kamu pemelihara bagi mereka, dan kamu sekali-kali bukanlah pemeli-hara bagi mereka.[63] Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik peker-jaan mereka. Kemudian mereka kembali kepada Tuhan mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan." (Al-An'am: 105-108).

(108) Allah melarang orang-orang Mukmin dari satu per-kara yang pada dasarnya dibolehkan bahkan dianjurkan, yaitu mencela tuhan-tuhan milik orang-orang musyrik yang disembah dan dipertuhankan bersama Allah, di mana menghinanya dan men-celanya mendekatkan kepada Allah. Akan tetapi karena celaan terhadap tuhan mereka merupakan jalan bagi mereka untuk men-cela Allah, Rabbul alamin, yang mana Dia harus disucikan dari se-gala aib, cacat, celaan, dan hinaan, maka Allah melarang mencela tuhan-tuhan kaum musyrikin, karena mereka membela dan fanatik kepada agamanya. Karena Allah menghiasi amal setiap umat, maka mereka memandangnya baik, membelanya, dan memperjuangkan-nya dengan berbagai cara bahkan mereka mencela Allah, -Rabbul alamin di mana keagunganNya telah terpatri di hati orang-orang baik dan durhaka- apabila kaum Muslimin mencelanya. Akan te-tapi tempat kembali semua manusia pada Hari Kiamat adalah kepada Allah. Mereka akan menghadap kepadaNya, amal-amal mereka akan disodorkan lalu Dia akan menjelaskan kepada mereka kebaikan dan keburukan apa yang mereka lakukan. Ayat yang mulia ini adalah dalil bagi kaidah syar'i yaitu bahwa sarana ditimbang dengan tujuannya, sarana kepada yang haram -walaupun pada dasarnya dibolehkan- adalah haram jika ia menye-ret kepada keburukan.

6:109–111Page 141

وَأَقۡسَمُواْ بِٱللَّهِ جَهۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡ لَئِن جَآءَتۡهُمۡ ءَايَةٞ لَّيُؤۡمِنُنَّ بِهَاۚ قُلۡ إِنَّمَا ٱلۡأٓيَٰتُ عِندَ ٱللَّهِۖ وَمَا يُشۡعِرُكُمۡ أَنَّهَآ إِذَا جَآءَتۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ١٠٩

And they swear by Allāh their strongest oaths that if a sign came to them, they would surely believe in it. Say, "The signs are only with [i.e., from] Allāh." And what will make you perceive that even if it [i.e., a sign] came, they would not believe.

وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَنَذَرُهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ١١٠

And We will turn away their hearts and their eyes just as they refused to believe in it [i.e., the revelation] the first time. And We will leave them in their transgression, wandering blindly.

۞ وَلَوۡ أَنَّنَا نَزَّلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَحَشَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ كُلَّ شَيۡءٖ قُبُلٗا مَّا كَانُواْ لِيُؤۡمِنُوٓاْ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ يَجۡهَلُونَ ١١١

And even if We had sent down to them the angels [with the message] and the dead spoke to them [of it] and We gathered together every [created] thing in front of them, they would not believe unless Allāh should will. But most of them, [of that], are ignorant.

"Mereka bersumpah dengan Nama Allah dengan segala kesung-guhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mukjizat, pastilah mereka beriman kepadaNya. Katakanlah, 'Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah.' Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman? Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada permulaannya dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." (Al-An'am: 109-110). "Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya me-reka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Al-An'am: 111).

(109) Orang-orang musyrik yang mendustakan Rasul Muhammad bersumpah ﴾ بِٱللَّهِ جَهۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡ ﴿ "dengan Nama Allah dengan segala kesungguhan." Maksudnya, sumpah yang mereka tegaskan dan mereka tekankan, ﴾ لَئِن جَآءَتۡهُمۡ ءَايَةٞ ﴿ "sungguh jika datang kepada me-reka sesuatu mukjizat," yang menunjukkan kebenaran Muhammad, ﴾ لَّيُؤۡمِنُنَّ بِهَاۚ ﴿ "pastilah mereka beriman kepadaNya." Ucapan yang mereka katakan ini tidak bertujuan baik, akan tetapi tujuannya hanyalah menyangkal bantahan yang ditujukan kepada mereka dan menolak apa yang dibawa oleh Rasul dengan pasti, Allah telah mendukung RasulNya dengan mukjizat-mukjizat yang jelas dan dalil yang kuat di mana jika ia dilihat, maka tidak tersisa sedikit pun syubhat dan persoalan tentang kebenaran sesuatu yang dibawanya. Permintaan mereka terhadap mukjizat setelah itu hanyalah permintaan yang menyusahkan yang tidak perlu dipenuhi. Bahkan terkadang pelarangan untuk menjawab pertanyaan mereka adalah lebih banyak kemaslahatannya bagimu karena sunnatullah yang berlaku pada manusia adalah bahwa orang-orang yang menuntut turunnya mukjizat kepada Rasul-rasul mereka, apabila ia diturun-kan lalu mereka tidak beriman kepadanya, maka Allah menyege-rakan azab kepada mereka. Oleh karena itu Allah berfirman,﴾ قُلۡ إِنَّمَا ٱلۡأٓيَٰتُ عِندَ ٱللَّهِۖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah'." Maksudnya, Allah-lah yang menurunkannya jika Dia berkehendak, dan menahannya jika Dia berkehendak. Urusannya sedikit pun bukanlah di tanganku, tuntutanmu kepa-daku terhadap mukjizat bukanlah pada tempatnya. Tuntutan ter-hadap apa yang tidak aku miliki. Seharusnya tuntutan tersebut ditujukan untuk meminta penjelasan ayat yang aku sampaikan kepadamu dan tuntutan penjelasan tentang pembenarannya. Itu telah terjadi. Walaupun begitu tidak bisa dipastikan bahwa sean-dainya mukjizat itu turun, mereka akan beriman dan memperca- yainya. Justru pada umumnya orang yang keadaannya begini malah tidak beriman. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ وَمَا يُشۡعِرُكُمۡ أَنَّهَآ إِذَا جَآءَتۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman?"

(110) ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَنَذَرُهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka se-perti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada permu-laannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." Kami menghukum mereka jika mereka tidak beriman pertama kali, pada saat itu penyeru mendatangi mereka dan hujjah pun telah tegak atas mereka dengan memalingkan hati mereka, menghalangi mereka dari keimanan, dan tidak memberi mereka taufik kepada jalan yang lurus. Ini adalah keadilan Allah dan hik-mahNya kepada hamba-hambaNya, karena merekalah yang mena-nam untuk diri mereka, pintu telah dibuka di depan mereka tetapi mereka tidak memasukinya. Jalan telah dijelaskan tetapi mereka tidak melewatinya. Jika setelah itu mereka gagal mendapatkan taufik, maka itu sudah sesuai dengan kondisi mereka.

(111) Begitu pula mereka menggantungkan iman kepada keinginan dan kehendak mereka semata tanpa bersandar kepada Allah, itu adalah kesalahan besar. Jika mukjizat-mukjizat besar da-tang kepada mereka seperti turunnya para malaikat kepada mereka, mereka memberi kesaksian kepada Rasulullah tentang risalah yang dibawanya, dialog mereka dengan orang-orang mati dan kebang-kitan mereka setelah mereka mati, dan Kami kumpulkan segala mukjizat di hadapan mereka sehingga ia berbicara kepada mereka berhadap-hadapan, melihat langsung tentang kebenaran sesuatu yang dibawa oleh Rasul, semua itu tidak membuat mereka beriman jika Allah tidak menghendaki mereka beriman. Akan tetapi kebanyakan dari mereka tidak mengetahui, oleh karena itu, mereka hanya menggantungkan iman mereka kepada turunnya mukjizat, padahal sesuai dengan tuntutan akal dan ilmu, hendaknya tujuan seorang hamba adalah ketundukan kepada kebe-naran, hendaknya dia mencarinya dengan cara yang telah dijelaskan oleh Allah lalu mengamalkannya dan memohon pertolongan kepada Tuhannya dalam mengikutinya, bukan bersandar kepada dirinya, kepada daya dan kekuatannya serta tidak menuntut turunnya muk-jizat-mukijizat yang justru tidak ada manfaat padanya.

Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences

Contents

Ayat al-Kursi36Al-Kahfpage 42juz 15Bukhari 1Muslim 2999

Style

Theme
Text size
Layout

Читать на русском