As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian
القلم
Al-Qalam
The Pen · Meccan · 52 ayahs
68:1–7Page 564
نٓۚ وَٱلۡقَلَمِ وَمَا يَسۡطُرُونَ ١
Nūn.1 By the pen and what they inscribe,
مَآ أَنتَ بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ بِمَجۡنُونٖ ٢
You are not, [O Muḥammad], by the favor of your Lord, a madman.
وَإِنَّ لَكَ لَأَجۡرًا غَيۡرَ مَمۡنُونٖ ٣
And indeed, for you is a reward uninterrupted.
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ ٤
And indeed, you are of a great moral character.
فَسَتُبۡصِرُ وَيُبۡصِرُونَ ٥
So you will see and they will see
بِأَييِّكُمُ ٱلۡمَفۡتُونُ ٦
Which of you is the afflicted [by a devil].
إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ٧
Indeed, your Lord is most knowing of who has gone astray from His way, and He is most knowing of the [rightly] guided.
"Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Rabbmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan se-sungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya; dan Dia-lah Yang Paling Menge-tahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-Qalam: 1-7).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan pena yang merupakan kata benda umum (isim jenis) yang mencakup seluruh macam pena yang dipakai untuk mencatat berbagai disiplin ilmu dan dipakai untuk menulis prosa dan puisi. Pena dan perkataan apa saja yang ditulis dengan pena merupakan salah satu tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang besar, yang berhak untuk dijadikan obyek sumpah Allah سبحانه وتعالى atas terbebasnya Nabi Muhammad a dari sifat gila yang dituduhkan pada beliau oleh musuh-musuh beliau. Sumpah Allah سبحانه وتعالى ini menafikan sifat gila yang dituduhkan itu karena nikmat dan kebaikan RabbNya, karena Dia menganugerahkan akal yang sem-purna, pandangan yang arif, dan perkataan yang fasih yang meru-pakan hal terbaik yang ditulis pena dan dicatat oleh manusia. Dan inilah kebahagiaan di dunia.
(3) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kebahagiaan Nabi Muhammad a di akhirat seraya berfirman, ﴾ وَإِنَّ لَكَ لَأَجۡرًا غَيۡرَ مَمۡنُونٖ ﴿ "Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya." Yaitu pahala besar sebagaimana yang disebutkan oleh kata nakirah (indevinite) dalam ayat ini. Pahala besar yang tidak ada putusnya, namun tetap mengalir. Hal itu dikarenakan amal shalih, akhlak yang sempurna, dan petunjuk menuju kebaikan yang dilakukan oleh Rasulullah a.
(4) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." Maksud-nya, agung dan tinggi dengan budi pekerti yang dikaruniakan Allah سبحانه وتعالى kepadamu. Secara garis besar tentang akhlaknya yang agung dijelaskan oleh Ummul Mukminin, Aisyah i, ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah a, ia menjawab, كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ. "Akhlaknya adalah al-Qur`an."[124] Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ 199 ﴿ "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (Al-A'raf: 199). ﴾ فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ 159 ﴿ "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu-lah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadaNya." (Ali Imran: 159). ﴾ لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ 128 ﴿ "Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sen-diri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin." (At-Taubah: 128). Dan ayat-ayat lain yang menunjukkan sifat-sifat mulia Rasu-lullah a dan berbagai ayat yang mendorong untuk berakhlak yang baik. Beliau memiliki akhlak yang paling sempurna dan agung. Beliau selalu berada di puncak tertinggi pada masing-masing akhlak baik. Rasulullah a adalah sosok lembut, mudah (bergaul) dan dekat dengan orang, mendatangi undangan orang, memenuhi keperluan orang yang meminta sebagai pelipur lara orang yang meminta, beliau selalu memberi dan tidak menolak dalam keadaan gagal (tidak membawa hasil). Apabila sahabat-sahabat beliau menginginkan sesuatu dari Rasulullah a, beliau mengiyakan dan mengikuti mereka jika tidak ada halangan. Jika bertekad melaku-kan sesuatu, beliau tidak pernah memutuskan sendiri, namun berembug dengan para sahabat. Rasulullah a adalah sosok yang menerima kebaikan orang, memaafkan kesalahan orang dan selalu memperlakukan teman secara baik dan sempurna. Beliau tidak pernah bermuka kusam, tidak pernah berkata kasar, tidak bersikap dingin, tidak pernah terselip lidah, tidak pernah dendam dengan perlakuan dingin orang, namun justru dibalas dengan kebaikan dan beliau sangat penyabar, semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau.
(5-6) Karena Allah سبحانه وتعالى menempatkan Rasulullah a di posisi tertinggi dalam berbagai hal sedangkan para musuhnya menuduh sebagai orang gila dan sakit, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَسَتُبۡصِرُ وَيُبۡصِرُونَ 5 بِأَييِّكُمُ ٱلۡمَفۡتُونُ 6 ﴿ "Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila." Jelas sudah, Rasulullah a adalah orang yang paling lurus dan paling sempurna terhadap dirinya dan orang lain, sedangkan musuh-mu-suhnya adalah orang-orang yang paling sesat dan buruk. Mereka adalah orang-orang yang memfitnah dan menyesatkan hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى dari jalanNya. Cukuplah Allah سبحانه وتعالى yang mengetahui tentang hal itu, karena Dia-lah yang akan memberi perhitungan dan membalas segala perbuatan.
(7) ﴾ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." Dalam ayat ini terdapat ancaman untuk orang-orang zhalim, janji baik untuk mereka yang mendapatkan petunjuk, dan penjelasan tentang hikmah Allah سبحانه وتعالى yang memberi hidayah pada orang yang layak mendapatkannya, bukan pada lainnya.
68:8–16Page 564
فَلَا تُطِعِ ٱلۡمُكَذِّبِينَ ٨
Then do not obey the deniers.
وَدُّواْ لَوۡ تُدۡهِنُ فَيُدۡهِنُونَ ٩
They wish that you would soften [in your position], so they would soften [toward you].
وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافٖ مَّهِينٍ ١٠
And do not obey every worthless habitual swearer
هَمَّازٖ مَّشَّآءِۭ بِنَمِيمٖ ١١
[And] scorner, going about with malicious gossip -
مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ مُعۡتَدٍ أَثِيمٍ ١٢
A preventer of good, transgressing and sinful,
عُتُلِّۭ بَعۡدَ ذَٰلِكَ زَنِيمٍ ١٣
Cruel, moreover, and an illegitimate pretender.1
أَن كَانَ ذَا مَالٖ وَبَنِينَ ١٤
Because he is a possessor of wealth and children,
إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ١٥
When Our verses are recited to him, he says, "Legends of the former peoples."
سَنَسِمُهُۥ عَلَى ٱلۡخُرۡطُومِ ١٦
We will brand him upon the snout.1
"Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendusta-kan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kesana kemari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.' Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai(nya)." (Al-Qalam: 8-16).
(8) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada Nabi Muhammad a, ﴾ فَلَا تُطِعِ ٱلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu dan menentang kebenaran, karena mereka adalah orang-orang yang tidak patut untuk diikuti, karena mereka hanya memerintah sesuai kehendak hawa nafsu mereka. Yang mereka inginkan hanyalah kebatilan. Orang yang menaati mereka adalah orang yang mem-persembahkan marabahaya pada dirinya sendiri. Hal ini bersifat umum pada setiap pendusta dan dalam setiap ketaatan yang ber-sumber dari kebohongan, meski tekstual ayat berlaku pada masa-lah khusus, yaitu ketika orang-orang musyrik meminta Nabi a agar tidak mencela tuhan-tuhan dan agama mereka.
(9) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَدُّواْ ﴿ "Maka mereka meng-inginkan," yakni, orang-orang musyrik, ﴾ لَوۡ تُدۡهِنُ ﴿ "supaya kamu bersi-kap lunak," maksudnya, setuju terhadap sebagian keyakinan mereka, baik dengan perkataan, tindakan, maupun bersikap diam dari apa yang seharusnya dikatakan, ﴾ فَيُدۡهِنُونَ ﴿ "lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)." Tapi tegaklah dengan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tam-pakkan Agama Islam, karena kesempurnaan penampakan Islam adalah kebalikan dari lawannya dan mencela agama yang menen-tangnya.
(10) ﴾ وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافٖ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah," yaitu orang yang sering bersumpah. Karena hal itu hanya dilakukan oleh pendusta. Dan pendusta itu adalah orang ﴾ مَّهِينٍ ﴿ "hina," yakni buruk jiwanya, kecil semangatnya, dan tidak memiliki keinginan untuk kebaikan, tapi seluruh keinginan-nya hanya untuk kepentingan syahwat dirinya yang tercela.
(11) ﴾ هَمَّازٖ ﴿ "Yang banyak mencela," yaitu banyak mencela dan menuduh orang dengan cara ghibah, mengolok-olok atau yang lainnya. ﴾ مَّشَّآءِۭ بِنَمِيمٖ ﴿ "Yang kesana kemari menghambur fitnah," maksud-nya, menyebarkan namimah (adu domba) di antara sesama manu-sia. Namimah adalah menukil perkataan sebagian orang untuk di-sampaikan pada orang lain dengan tujuan untuk merusak hubungan di antara mereka serta menimbulkan permusuhan dan kebencian.
(12) ﴾ مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ ﴿ "Yang sangat enggan berbuat baik," yang seha-rusnya dilakukan, seperti nafkah wajib, kaffarat, zakat, dan lainnya, ﴾ مُعۡتَدٍ ﴿ "yang melampaui batas" terhadap sesama dengan cara men-zhalimi darah, harta, maupun kehormatan, ﴾ أَثِيمٍ ﴿ "lagi banyak dosa," yakni banyak dosa yang berkaitan dengan hak-hak Allah سبحانه وتعالى.
(13) ﴾ عُتُلِّۭ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang kaku kasar, selain dari itu," yakni kasar dan berperangai kaku, keras, tidak tunduk pada kebenaran. ﴾ زَنِيمٍ ﴿ "Yang terkenal kejahatannya," yaitu orang jahat yang tidak memiliki pangkal serta kesiapan untuk melakukan kebaikan namun perangainya adalah akhlak yang paling buruk dan tidak bisa diha-rapkan adanya keberuntungan darinya serta memiliki tanda-tanda keburukan yang dikenal.
(14) Kesimpulannya, Allah سبحانه وتعالى melarang untuk menaati orang-orang tukang bersumpah, pendusta, berjiwa dan berperangai buruk, khususnya perangai yang mencakup rasa ujub terhadap diri sendiri, bersikap sombong terhadap kebenaran dan sesama manusia, menghina orang lain dengan ghibah dan namimah, menu-duh orang lain, dan banyak berbuat maksiat.
(15) Ayat-ayat ini meski turun berkenaan dengan perihal sebagian orang-orang musyrik seperti al-Walid bin al-Mughirah atau lainnya,[125] berdasarkan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَن كَانَ ذَا مَالٖ وَبَنِينَ 14 إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ 15 ﴿ "karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala'," yaitu disebab-kan oleh banyaknya harta dan anak, ia pun melampaui batas dan bersikap sombong terhadap kebenaran serta menolaknya ketika kebenaran itu datang padanya dan dianggap sebagai dongeng orang-orang dahulu yang bisa dipercaya dan juga bisa didustakan, tapi ayat ini bersifat umum dan berlaku pada siapa saja yang me-miliki sifat serupa, karena al-Qur`an turun untuk memberi petun-juk pada seluruh manusia, sehingga umat yang pertama dan yang terakhir masuk dalam cakupan ayat-ayat ini yang bisa saja sebagian ayat-ayat al-Qur`an turun karena sebab tertentu atau permasalahan sebagian orang, agar kaidah umum bisa terlihat jelas sehingga masalah-masalah cabang yang tercakup dalam permasalahan-permasalahan umum bisa diketahui.
(16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam orang yang sifat-sifat-nya sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى di atas akan diberi tanda ﴾ عَلَى ٱلۡخُرۡطُومِ ﴿ "di belalai(nya)," di dalam siksaan, di mana Allah akan menyiksanya secara nyata hingga menjadi tanda pada sesuatu yang paling berat baginya, yaitu wajahnya.
68:17–33Page 565
إِنَّا بَلَوۡنَٰهُمۡ كَمَا بَلَوۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡجَنَّةِ إِذۡ أَقۡسَمُواْ لَيَصۡرِمُنَّهَا مُصۡبِحِينَ ١٧
Indeed, We have tried them as We tried the companions of the garden, when they swore to cut its fruit in the [early] morning
وَلَا يَسۡتَثۡنُونَ ١٨
Without making exception.1
فَطَافَ عَلَيۡهَا طَآئِفٞ مِّن رَّبِّكَ وَهُمۡ نَآئِمُونَ ١٩
So there came upon it [i.e., the garden] an affliction from your Lord while they were asleep.
فَأَصۡبَحَتۡ كَٱلصَّرِيمِ ٢٠
And it became as though reaped.
فَتَنَادَوۡاْ مُصۡبِحِينَ ٢١
And they called one another at morning,
أَنِ ٱغۡدُواْ عَلَىٰ حَرۡثِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰرِمِينَ ٢٢
[Saying], "Go early to your crop if you would cut the fruit."
فَٱنطَلَقُواْ وَهُمۡ يَتَخَٰفَتُونَ ٢٣
So they set out, while lowering their voices,
أَن لَّا يَدۡخُلَنَّهَا ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكُم مِّسۡكِينٞ ٢٤
[Saying], "There will surely not enter it today upon you [any] poor person."
وَغَدَوۡاْ عَلَىٰ حَرۡدٖ قَٰدِرِينَ ٢٥
And they went early in determination, [assuming themselves] able.1
فَلَمَّا رَأَوۡهَا قَالُوٓاْ إِنَّا لَضَآلُّونَ ٢٦
But when they saw it, they said, "Indeed, we are lost;
بَلۡ نَحۡنُ مَحۡرُومُونَ ٢٧
Rather, we have been deprived."
قَالَ أَوۡسَطُهُمۡ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ لَوۡلَا تُسَبِّحُونَ ٢٨
The most moderate of them said, "Did I not say to you, 'Why do you not exalt [Allāh]?'"1
قَالُواْ سُبۡحَٰنَ رَبِّنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ٢٩
They said, "Exalted is our Lord! Indeed, we were wrongdoers."
فَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَلَٰوَمُونَ ٣٠
Then they approached one another, blaming each other.
قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا طَٰغِينَ ٣١
They said, "O woe to us; indeed we were transgressors.
عَسَىٰ رَبُّنَآ أَن يُبۡدِلَنَا خَيۡرٗا مِّنۡهَآ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا رَٰغِبُونَ ٣٢
Perhaps our Lord will substitute for us [one] better than it. Indeed, we are toward our Lord desirous."1
كَذَٰلِكَ ٱلۡعَذَابُۖ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَكۡبَرُۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ٣٣
Such is the punishment [of this world]. And the punishment of the Hereafter is greater, if they only knew.
"Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita, lalu mereka panggil me-manggil di pagi hari, 'Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.' Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan, 'Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu.' Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal me-reka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, 'Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya).' Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, 'Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)?' Mereka mengucapkan, 'Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela. Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.' Mudah-mu-dahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.' Seperti itulah azab (dunia). Dan sungguh azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui." (Al-Qalam: 17-33).
(17-18) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa Dia menguji orang-orang yang mendustakan dengan kebaikan, Allah سبحانه وتعالى memberi mereka tangguhan dan memberikan berbagai hal yang dikehendakiNya berupa harta, anak, umur panjang dan lainnya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, bukan karena kemuliaan mereka dalam pan-dangan Allah سبحانه وتعالى, bahkan (sebaliknya) bisa jadi merupakan penun-daan (agar mereka mengintrospeksi diri) tapi mereka tidak menya-darinya. Mereka terlena dengan semua itu, mirip dengan keadaan para penghuni surga yang sama-sama diberi berbagai kenikmatan ketika pepohonan surga berbuah, buahnya meranum dan sudah waktunya diketam, mereka memastikan semua nikmat tersebut berada di tangan dan dalam kekuasaan mereka, tidak ada sesuatu pun yang menghalangi mereka untuk semua itu. Karena itu, mereka (orang-orang kafir yang tertipu dengan kesenangan dan kenikmat-an dunia) bersumpah tanpa adanya pengecualian bahwa mereka akan mendapatkannya, sedangkan mereka tidak mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengintai mereka, siksaan akan mereka dapatkan dengan segera.
(19-20) ﴾ فَطَافَ عَلَيۡهَا طَآئِفٞ مِّن رَّبِّكَ ﴿ "Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu," maksudnya, azab yang turun pada malam hari, ﴾ وَهُمۡ نَآئِمُونَ ﴿ "ketika mereka sedang tidur." Azab itu membi-nasakan dan melenyapkannya, ﴾ فَأَصۡبَحَتۡ كَٱلصَّرِيمِ ﴿ "maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita," yaitu seperti malam yang gelap; pohon dan buahnya telah sirna.
(21-22) Begitulah, namun mereka tidak merasakan kenya-taan pahit ini. Karena itu mereka saling memanggil satu sama lain di pagi harinya, mereka saling berkata satu sama lain, ﴾ ٱغۡدُواْ عَلَىٰ حَرۡثِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰرِمِينَ ﴿ "Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak me-metik buahnya."
(23-24) ﴾ فَٱنطَلَقُواْ ﴿ "Maka pergilah mereka," menuju perkebunan, ﴾ وَهُمۡ يَتَخَٰفَتُونَ ﴿ "mereka saling berbisik-bisikan," di antara mereka seraya menahan hak Allah سبحانه وتعالى dengan mengatakan, ﴾ لَّا يَدۡخُلَنَّهَا ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكُم مِّسۡكِينٞ ﴿ "Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu." Maksudnya, ketamlah sesegera mungkin sebelum orang-orang berkeliaran. Terlalu loba dan pelitnya mereka hingga mereka mengutarakan pembicaraan itu secara berbisik-bisik agar tidak didengar oleh seorang pun, supaya berita itu tidak bocor pada orang-orang miskin.
(25) ﴾ وَغَدَوۡاْ ﴿ "Dan berangkatlah mereka di pagi hari," dalam kondisi keji, kasar, dan tidak berbelas kasih seperti ini, ﴾ عَلَىٰ حَرۡدٖ قَٰدِرِينَ ﴿ "dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya)." Yakni, mereka menahan hak Allah سبحانه وتعالى yang pasti mereka mampu lakukan.
(26-27) ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡهَا ﴿ "Tatkala mereka melihat kebun itu," dalam kondisi seperti yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى seperti malam yang gelap, ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata," karena bingung dan resah, ﴾ إِنَّا لَضَآلُّونَ ﴿ "Sesung-guhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan)," bingung tidak mengetahui kebunnya, sepertinya kebun yang lain. Ketika mereka telah memastikan kebunnya telah hangus, mereka kembali berpikir seraya berkata, ﴾ نَحۡنُ مَحۡرُومُونَ ﴿ "Bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)," yakni hasil panen kebun ini. Pada waktu itu mereka baru menyadari bahwa itu adalah hukuman.
(28) Maka ﴾ قَالَ أَوۡسَطُهُمۡ ﴿ "berkatalah seorang yang paling baik pi-kirannya di antara mereka," yaitu orang yang paling lurus dan baik, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ لَوۡلَا تُسَبِّحُونَ ﴿ "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)," yaitu memahasucikan Allah سبحانه وتعالى dari sesuatu yang tidak layak bagiNya, di antaranya adalah kalian mengira bahwa kemampuan kalian itu berdiri sendiri. Andai kalian mengecualikan dan mengatakan, "Insya Allah," dan kalian menem-patkan kehendak kalian mengikuti kehendakNya, tentu hal ini tidak akan terjadi.
(29) Maka ﴾ قَالُواْ سُبۡحَٰنَ رَبِّنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Maha-suci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'." Maksudnya, mereka sadar, hanya saja kesadaran mereka itu baru muncul setelah azab menimpa perkebunan mereka yang tentu saja tidak bisa dihilangkan. Namun, mudah-mudahan tasbih dan pe-ngakuan akan kezhaliman diri mereka berguna bagi mereka agar siksaan mereka diringankan dan menjadi taubat (bagi mereka).
(30-32) Karena itulah mereka amat menyesal, ﴾ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَلَٰوَمُونَ ﴿ "lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela" atas perbuatan yang telah mereka lakukan. ﴾ قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا طَٰغِينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas'," yakni melampaui batas dalam hak Allah سبحانه وتعالى dan hak sesama manusia. ﴾ عَسَىٰ رَبُّنَآ أَن يُبۡدِلَنَا خَيۡرٗا مِّنۡهَآ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا رَٰغِبُونَ ﴿ "Mudah-mudahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita." Mereka mengharap agar Allah سبحانه وتعالى menggantikan yang lebih baik dan mereka berjanji akan berharap dan terus me-minta pada Allah سبحانه وتعالى di dunia. Jika mereka seperti yang mereka katakan, zahirnya Allah سبحانه وتعالى menggantikan rizki yang lebih baik bagi mereka di dunia, karena orang yang berdoa dengan tulus pada Allah سبحانه وتعالى serta memohon dan mengharapNya, maka Allah سبحانه وتعالى akan mengabulkan permintaannya.
(33) Allah سبحانه وتعالى berfirman membesarkan apa yang terjadi, ﴾ كَذَٰلِكَ ٱلۡعَذَابُۖ ﴿ "Seperti itulah azab (dunia)." Yakni siksa dunia bagi orang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang mengundang azab, Allah سبحانه وتعالى akan mencabut nikmat yang menjadikannya angkuh dan lebih mengedepankan kehidupan dunia. Allah سبحانه وتعالى akan melenyapkan nikmat tersebut dari pemiliknya pada saat-saat amat diperlukan. ﴾ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَكۡبَرُۚ ﴿ "Dan sungguh azab akhirat lebih besar," dari azab dunia, ﴾ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴿ "jika mereka mengetahui." Siapa pun yang mengetahui hal itu, maka harus menjauhi berbagai hal yang mengundang azab dan mencegah pahala.
68:34–41Page 565
إِنَّ لِلۡمُتَّقِينَ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ٣٤
Indeed, for the righteous with their Lord are the Gardens of Pleasure.
أَفَنَجۡعَلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ كَٱلۡمُجۡرِمِينَ ٣٥
Then will We treat the Muslims like the criminals?
مَا لَكُمۡ كَيۡفَ تَحۡكُمُونَ ٣٦
What is [the matter] with you? How do you judge?
أَمۡ لَكُمۡ كِتَٰبٞ فِيهِ تَدۡرُسُونَ ٣٧
Or do you have a scripture in which you learn
إِنَّ لَكُمۡ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ ٣٨
That indeed for you is whatever you choose?
أَمۡ لَكُمۡ أَيۡمَٰنٌ عَلَيۡنَا بَٰلِغَةٌ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّ لَكُمۡ لَمَا تَحۡكُمُونَ ٣٩
Or do you have oaths [binding] upon Us, extending until the Day of Resurrection, that indeed for you is whatever you judge?
سَلۡهُمۡ أَيُّهُم بِذَٰلِكَ زَعِيمٌ ٤٠
Ask them which of them, for that [claim], is responsible.
أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَآءُ فَلۡيَأۡتُواْ بِشُرَكَآئِهِمۡ إِن كَانُواْ صَٰدِقِينَ ٤١
Or do they have partners?1 Then let them bring their partners, if they should be truthful.
"Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Rabbnya. Maka apa-kah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian); bagaimanakah kamu mengambil keputusan? Atau ada-kah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya, bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu? Atau apakah kamu mem-peroleh janji-janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai Hari Kiamat? Sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)? Tanyakanlah kepada mereka, 'Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?' Atau apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? Maka hendaklah mereka mendatang-kan sekutu-sekutunya jika mereka adalah orang-orang yang benar." (Al-Qalam: 34-41).
(34-41) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan apa yang dipersiapkan bagi orang-orang yang bertakwa yang menjaga diri dari kekufuran dan berbagai kemaksiatan, berupa berbagai macam kenikmatan dan kehidupan sentosa di dekat Allah, Dzat Yang Mahamulia. Kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى tidak menyamakan antara orang-orang yang bertakwa yang menunaikan hak-hak Rabb mereka, tunduk pada perintah-perintahNya dan yang meniti ridhaNya seperti orang-orang pendosa yang larut dalam kemaksiatan, mengkufuri ayat-ayatNya, membangkang rasul-rasulNya dan memerangi para kekasihNya. Jika ada yang mengira balasan kedua golongan tersebut sama, tentu hukum yang berlaku tidak adil. Hukumnya batil dan pandangannya tidak benar. Jika para pendosa mengira demikian, mereka sama sekali tidak memiliki sandaran. Bukan kitab yang mereka pelajari dan baca yang menyebutkan bahwa mereka ada-lah penghuni surga, mereka mendapatkan apa saja yang mereka inginkan dan pilih, mereka juga tidak memiliki janji dan sumpah sempurna di sisi Allah سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat bahwa mereka akan mendapatkan apa pun yang mereka putuskan, mereka juga tidak memiliki sekutu dan teman yang membantu mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jika mereka memiliki sekutu dan te-man, silahkan mereka datangkan jika mereka adalah orang-orang yang benar. Sebagaimana diketahui, semua hal itu tidak ada. Me-reka tidak memiliki kitab dan janji di sisi Allah سبحانه وتعالى akan mendapat-kan keselamatan, mereka juga tidak memiliki sekutu yang akan menolong mereka. Maka dapat diketahui bahwa klaim mereka batil belaka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَلۡهُمۡ أَيُّهُم بِذَٰلِكَ زَعِيمٌ ﴿ "Tanyakanlah kepada mereka, 'Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu'." Maksudnya, siapa yang bertanggung jawab atas klaim yang jelas-jelas batil ini. Tidak akan ada seorang pun yang mau mengakui dan bertanggung jawab.
68:42–43Page 565
يَوۡمَ يُكۡشَفُ عَن سَاقٖ وَيُدۡعَوۡنَ إِلَى ٱلسُّجُودِ فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ ٤٢
The Day the shin will be uncovered1 and they are invited to prostration but they [i.e., the disbelievers] will not be able,
خَٰشِعَةً أَبۡصَٰرُهُمۡ تَرۡهَقُهُمۡ ذِلَّةٞۖ وَقَدۡ كَانُواْ يُدۡعَوۡنَ إِلَى ٱلسُّجُودِ وَهُمۡ سَٰلِمُونَ ٤٣
Their eyes humbled, humiliation will cover them. And they used to be invited to prostration while they were sound.1
"Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sungguh mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan me-reka dalam keadaan sejahtera." (Al-Qalam: 42-43).
(42-43) Maksudnya, ketika Hari Kiamat terjadi dan nam-paklah kerisauan, goncangan serta huru-hara yang belum pernah terbayangkan, lalu Allah سبحانه وتعالى datang untuk memberikan keputusan dan balasan amal perbuatan hamba-hambaNya. Allah سبحانه وتعالى menam-pakkan BetisNya Yang Mulia yang tidak serupa dengan apa pun, para manusia melihat keluhuran dan keagungan Allah سبحانه وتعالى yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ketika itulah ﴾ يُدۡعَوۡنَ إِلَى ٱلسُّجُودِ ﴿ "mereka dipanggil untuk bersujud," yakni, bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى. Maka orang-orang Mukmin yang ketika di dunia bersujud pada Allah سبحانه وتعالى, bersujud dengan taat dan suka rela. Orang-orang keji dan orang-orang munafik juga ingin bersujud, namun tidak mampu merendahkan diri. Inilah balasan yang sesuai dengan amal per-buatan, karena ketika di dunia mereka diseru untuk bersujud ke-pada Allah سبحانه وتعالى, mengesakan dan menyembahNya padahal mereka tidak memiliki penghalang dan penyakit apa pun, namun mereka bersikap sombong dan enggan. Maka pada hari ini, jangan engkau menanyakan kondisi dan akibat buruk mereka. Allah سبحانه وتعالى memurkai mereka sehingga berlakulah siksaan atas mereka. Semua sebab-sebab telah terputus. Penyesalan tidak berguna lagi bagi mereka pada Hari Kiamat. Hal ini amat menakutkan hati untuk melakukan kemaksiatan dan mengharuskan bertaubat selama masih dimung-kinkan.
Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences