As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian
Al-A'raf 7:103–171, continued
(120-122) Orang yang paling jelas mengetahui kebenaran yang agung adalah orang-orang yang berpikiran obyektif dan ahli sihir yang mengetahui macam-macam sihir dan detail-detailnya yang tidak diketahui oleh selain mereka. Mereka mengetahui bahwa itu adalah mukjizat besar dari Allah, tak ada yang mampu menan-dinginya, maka ﴾ وَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ سَٰجِدِينَ 120 قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 121 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 122 ﴿ "ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka berkata, 'Kami beriman kepada Rabb semesta alam (yaitu) Rabb Musa dan Harun'." Yakni kami membenarkan ayat-ayat yang jelas yang di-bawa oleh Musa.
(123) ﴾ قَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Fir'aun berkata", kepada mereka dengan mengancam karena iman mereka, ﴾ ءَامَنتُم بِهِۦ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?" Orang busuk ini adalah penguasa otoriter yang sewenang-wenang dalam mem-perlakukan fisik dan pendapat rakyatnya. Telah menjadi semacam ketetapan baginya dan rakyatnya bahwa pendapatnya harus didengar dan perintahnya harus terlaksana, tak seorang pun boleh keluar dari ucapan dan hukumnya. Dengan kondisi seperti ini mental mereka merosot, akal dan tindakan mereka lemah, serta tidak mampu membela hak-hak mereka. Oleh karena itu, Allah berfirman tentangnya, ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ ﴿ "Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya." (Az-Zukhruf: 54). Di sini dia berkata, ﴾ ءَامَنتُم بِهِۦ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?" Ini adalah sikap ke-kurangajaran darimu dan kelancangan kepadaku. Kemudian dia mengaburkan sikap kaumnya dengan berkata, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَمَكۡرٞ مَّكَرۡتُمُوهُ فِي ٱلۡمَدِينَةِ لِتُخۡرِجُواْ مِنۡهَآ أَهۡلَهَاۖ ﴿ "Sesungguhnya (perbuatan) ini adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduk-nya dari padanya." Yakni sesungguhnya Musa adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir, kamu telah bersepakat dengannya di mana seakan-akan kalian tunduk padanya, lalu dia menang dan kamu mengikutinya, kemudian orang-orang atau mayoritas dari mereka mengikutimu, lalu kamu mengusir penduduknya darinya. Ini ada-lah kedustaan yang dia sendiri dan orang-orang yang mengetahui situasi, mengetahui bahwa Musa tidak bersekongkol dengan siapa pun dari mereka. Bahwa mereka itu dikumpulkan menurut perin-tah Fir'aun melalui kaki tangannya. Bahwa apa yang dibawa oleh Musa adalah mukjizat Ilahiyah. Bahwa ahli sihir itu telah mengeluar-kan segala kemampuan mereka untuk mengalahkan Musa namun mereka kalah, lalu kebenaran menjadi jelas bagi mereka dan mereka pun mengikutinya. Kemudian Fir'aun mengancam mereka dengan mengatakan, ﴾ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuat-anmu ini)." Yakni, hukuman yang aku siapkan untukmu.
(124) ﴾ لَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ﴿ "Sesungguhnya aku akan memo-tong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik." Orang busuk ini mengklaim bahwa mereka sebagai perusak di muka bumi, di mana dia akan memperlakukan mereka layaknya orang-orang yang merusak, dipotong tangan dan kaki secara berselang-seling, yakni tangan kanan dan kaki kiri. ﴾ ثُمَّ لَأُصَلِّبَنَّكُمۡ ﴿ "Kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalibmu", di batang pohon kurma agar kamu kapok -menurut anggapannya- ﴾ أَجۡمَعِينَ ﴿ "semua." Yakni aku mem-perlakukan ini tidak hanya kepada beberapa orang saja, akan tetapi semuanya akan mendapatkannya.
(125) Para penyihir yang beriman itu berkata kepada Fir'aun yang mengancam mereka, ﴾ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا مُنقَلِبُونَ ﴿"Sesungguhnya kepada Rabb-lah kami kembali." Yakni kami tidak peduli dengan hukumanmu. Allah lebih baik dan lebih kekal, lakukan saja apa yang kamu mau.
(126) ﴾ وَمَا تَنقِمُ مِنَّآ ﴿ "Dan kamu tidak menyalahkan kami." Yakni kamu tidak mencela kami atas pengingkaranmu kepada kami dan ancamanmu kepada kami, kami tidak mempunyai dosa, ﴾ إِلَّآ أَنۡ ءَامَنَّا بِـَٔايَٰتِ رَبِّنَا لَمَّا جَآءَتۡنَاۚ ﴿ "melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Rabb kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami." Jika ini memang dosa yang dicela atasnya dan pelakunya berhak atas hukuman, maka ini adalah dosa kami. Kemudian mereka memohon kepada Allah agar memberi mereka keteguhan dan kesabaran, mereka ber-kata, ﴾ رَبَّنَآ أَفۡرِغۡ عَلَيۡنَا صَبۡرٗا ﴿ "Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami." Yakni kesabaran yang besar. Ini ditunjukkan oleh kata صَبْرًا dengan bentuk nakirah karena ini adalah ujian besar yang berujung kepada kematian, maka ia memerlukan kesabaran besar agar hati tetap teguh dan orang mukmin tetap tenang dengan imannya serta agar kepanikan sirna darinya. ﴾ وَتَوَفَّنَا مُسۡلِمِينَ ﴿ "Dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepadaMu)." Yakni dalam keadaan tun-duk kepada perintahMu dan mengikuti RasulMu. Dan yang zahir bahwa ancaman Fir'aun benar-benar dilakukan kepada mereka dan bahwa Allah meneguhkan mereka di atas iman.
(127) Fir'aun dengan kaki tangannya dan mayoritas dari mereka yang mengikuti para pembesar di kalangan mereka telah menyombongkan diri di depan ayat-ayat Allah dan mengingkari-nya karena kezhaliman dan kesombongan. Mereka berkata kepada Fir'aun dalam rangka menghasutnya agar mengazab Musa dengan alasan bahwa apa yang dibawanya adalah batil dan merupakan kerusakan di muka bumi, ﴾ أَتَذَرُ مُوسَىٰ وَقَوۡمَهُۥ لِيُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir)," dengan dakwah menyeru agar mereka beriman kepada Allah, kepada kemuliaan akhlak dan kebaikan amal yang merupa-kan kebaikan di muka bumi? Justru merekalah yang berada di atas kerusakan, akan tetapi orang-orang zhalim bersikap masa bodoh terhadap apa yang mereka katakan. ﴾ وَيَذَرَكَ وَءَالِهَتَكَۚ ﴿ "Dan meninggal-kanmu serta tuhan-tuhanmu." Yakni membiarkanmu dan tuhan-tu-hanmu, dia melarangmu dan menghalang-halangi manusia dari mengikutimu. Maka Fir'aun menjawab mereka dengan mengata-kan bahwa dia akan membiarkan Musa dengan Bani Israil dalam kondisi di mana mereka tidak dapat berkembang, dan Fir'aun de-ngan kaki tangannya merasa aman dari bahaya mereka. Katanya, ﴾ سَنُقَتِّلُ أَبۡنَآءَهُمۡ وَنَسۡتَحۡيِۦ نِسَآءَهُمۡ ﴿ "Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka." Yakni kita membiar-kan anak-anak perempuan itu hidup, kita tidak membunuhnya. Jika kita melakukan itu, maka kita akan aman dari kekuatan me-reka yang berjumlah banyak, sisanya kita perbudak dan kita atur sesuai dengan kehendak kita. ﴾ وَإِنَّا فَوۡقَهُمۡ قَٰهِرُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka." Mereka tidak memiliki kemam-puan untuk melepaskan diri dari hukum kita. Ini adalah puncak kesombongan, kezhaliman, dan kebengisan Fir'aun.
(128) ﴾ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِ ﴿ "Maka Musa berkata kepada kaumnya," me-wasiatkan kepada mereka dalam keadaan tersebut di mana mereka tidak memiliki apa pun untuk melawan, dengan perlawanan Ila-hiyah dan bantuan Rabbaniyah. ﴾ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱللَّهِ ﴿ "Mohonlah pertolongan kepada Allah." Yakni bersandarlah kepadaNya dalam meraih apa yang bermanfaat bagimu dan menolak apa yang memudaratkan-mu. Percayalah kepada Allah bahwa Dia akan menyempurnakan perkaramu, ﴾ وَٱصۡبِرُوٓاْۖ ﴿ "Dan bersabarlah." Yakni pegang teguhlah ke-sabaran atas apa yang menimpamu dengan berharap kelapangan di balik ujian ini. ﴾ إِنَّ ٱلۡأَرۡضَ لِلَّهِ ﴿ "Sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah." Bukan milik Fir'aun, bukan pula milik kaumnya sehingga mereka bisa semena-mena di atasnya. ﴾ يُورِثُهَا مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ ﴿ "Dipu-sakakanNya kepada siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya." Yakni merotasinya di antara manusia menurut hikmah dan kehen-dakNya, akan tetapi kesudahan yang baik tetap milik orang-orang yang bertakwa. Walaupun mereka itu diuji beberapa lama berda-sarkan hikmah dari Allah, tetapi kemenangan adalah milik mereka. ﴾ وَٱلۡعَٰقِبَةُ ﴿ "Dan kesudahan yang baik", adalah untuk mereka. Ini ada-lah tugas seorang hamba, di mana pada waktu memiliki kemam-puan, dia harus melakukan cara untuk menolak gangguan orang lain dari dirinya sebatas kemampuan itu dan pada saat lemah hen-daknya dia bersabar, memohon pertolongan kepada Allah dan menunggu datangnya kelapangan.
(129) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata", kepada Musa mengeluhkan siksaan Fir'aun yang menimpa mereka dalam kurun waktu yang lama, ﴾ أُوذِينَا مِن قَبۡلِ أَن تَأۡتِيَنَا ﴿ "Kami telah ditindas (oleh Fir'aun) sebelum kamu datang kepada kami." Mereka menimpakan siksaan yang buruk kepada kami, mereka membunuh anak-anak laki-laki kami dan membiarkan anak-anak perempuan kami, ﴾ وَمِنۢ بَعۡدِ مَا جِئۡتَنَاۚ ﴿ "dan se-sudah kamu datang", juga demikian. Musa menjawab mereka dengan memberi harapan kemenangan dan kebebasan dari kejahatan me-reka. ﴾ عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يُهۡلِكَ عَدُوَّكُمۡ وَيَسۡتَخۡلِفَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi-(Nya)." Yakni menjadikanmu pengendali dan pemegang urusan di dalamnya. ﴾ فَيَنظُرَ كَيۡفَ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu." Apakah kamu akan bersyukur atau kufur? Ini adalah janji yang Allah laksanakan manakala telah tiba waktu yang telah diinginkan oleh Allah.
(130) Allah تعالى berfirman dalam rangka menjelaskan per-lakuanNya terhadap keluarga Fir'aun di waktu akhir-akhir ini, ia seperti biasa dan sesuai dengan sunnahNya pada umat-umat yang telah lalu, di mana Dia menimpakan, ﴾ بِٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمۡ يَضَّرَّعُونَ 94 ﴿ "Azab dan kesulitan agar mereka tunduk dengan merendahkan diri." (Al-A'raf: 93) ﴾ وَلَقَدۡ أَخَذۡنَآ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ بِٱلسِّنِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah meng-hukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang." Yakni kekeringan dan paceklik. ﴾ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَذَّكَّرُونَ ﴿ "dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pela-jaran." Yakni supaya mereka menyadari bahwa apa yang menimpa dan apa yang terjadi pada mereka adalah pelajaran dari Allah, agar mereka meninggalkan kekufuran. Tetapi hal itu tidak berguna dan berpengaruh bagi mereka, justru mereka terus di atas kezhaliman dan kerusakan.
(131) ﴾ فَإِذَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡحَسَنَةُ ﴿ "Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran." Yakni kesuburan dan kelimpahan rizki, ﴾ قَالُواْ لَنَا هَٰذِهِۦۖ ﴿ "Mereka berkata, 'Ini adalah karena (usaha) kami'." Yakni, kami berhak atasnya. Mereka tidak bersyukur kepada Allah atas karunia tersebut. ﴾ وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَيِّئَةٞ ﴿ "Dan jika mereka ditimpa kesusahan." Yakni kekeringan dan paceklik, ﴾ يَطَّيَّرُواْ بِمُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥٓۗ ﴿ "mereka melemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya." Yakni mereka ber-kata, "Kesialan ini menimpa kami karena kedatangan Musa dan karena Bani Israil mengikutinya." Allah menjawab, ﴾ أَلَآ إِنَّمَا طَٰٓئِرُهُمۡ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah." Yakni dengan qadha dan qadarNya, tidak seperti yang me-reka katakan, justru penyebabnya adalah kekufuran dan dosa-dosa mereka, tetapi kebanyakan dari mereka tidak mengetahui, oleh karena itu mereka berkata begitu.
(132) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata", menjelaskan kepada Musa bahwa mereka senantiasa dan tetap akan berada pada keba-tilan. ﴾ مَهۡمَا تَأۡتِنَا بِهِۦ مِنۡ ءَايَةٖ لِّتَسۡحَرَنَا بِهَا فَمَا نَحۡنُ لَكَ بِمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Bagaimanapun kamu men-datangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu." Yakni, kami telah yakin bahwa dirimu adalah penyihir, meskipun kamu datang dengan membawa mukjizat, kami tetap yakin bahwa kamu adalah penyihir, maka kami tidak mempercayaimu dan beriman kepada-mu. Ini adalah puncak pengingkaran orang-orang kafir itu, di mana keadaannya adalah sama saja, mukjizat turun atau tidak.
(133) ﴾ فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمُ ٱلطُّوفَانَ ﴿ "Maka Kami kirimkan kepada mereka air bah." Yakni banjir bandang yang menenggelamkan pohon-pohon dan tanaman-tanaman serta merugikan mereka dengan kerugian yang besar, ﴾ وَٱلۡجَرَادَ ﴿ "dan belalang", yang melahap buah-buahan, tanaman, dan pertanian mereka, ﴾ وَٱلۡقُمَّلَ ﴿ "dan kutu", yakni belalang kecil, dan yang zahir adalah bahwa ia adalah kutu yang dikenal, ﴾ وَٱلضَّفَادِعَ ﴿ "dan katak", yang memenuhi tempat-tempat air mereka sehingga mengganggu mereka dan membuat mereka sangat tidak nyaman, ﴾ وَٱلدَّمَ ﴿ "dan darah", bisa jadi ia adalah mimisan, atau se-perti yang dikatakan oleh banyak ahli tafsir bahwa air yang mereka minum berubah menjadi darah, sehingga mereka tidak minum ke-cuali darah dan tidak memasak kecuali dengan darah, ﴾ ءَايَٰتٖ مُّفَصَّلَٰتٖ ﴿ "sebagai bukti yang jelas." Yakni sebagai dalil dan bukti kongkrit bahwa mereka itulah orang-orang yang berdusta lagi zhalim, dan bahwa apa yang dibawa oleh Musa adalah kebenaran, ﴾ فَٱسۡتَكۡبَرُواْ ﴿ "tetapi mereka tetap menyombongkan diri", tatkala melihat ayat-ayat itu, ﴾ وَكَانُواْ ﴿ "dan mereka", dulu ﴾ قَوۡمٗا مُّجۡرِمِينَ ﴿ "adalah kaum yang berdosa." Oleh karena itu Allah menghukum mereka dengan tetap membiar-kan mereka di atas kesesatan dan penyimpangan.
(134) ﴾ وَلَمَّا وَقَعَ عَلَيۡهِمُ ٱلرِّجۡزُ ﴿ "Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu)." Yakni siksa. Ada kemungkinan bahwa ia adalah penyakit tha'un sebagaimana dinyatakan oleh banyak ahli tafsir, dan kemungkinan pula bencana yang telah disebutkan di atas, yaitu banjir, belalang, kutu, katak dan darah, karena semua ini adalah siksa dan azab. Setiap kali satu darinya menimpa mereka, ﴾ قَالُواْ يَٰمُوسَى ٱدۡعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِندَكَۖ ﴿ "mereka pun berkata, 'Hai Musa, mohonlah untuk kami kepada Rabbmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu'." Yakni mereka meminta perantara kepada Musa dengan wahyu dan syariat yang Allah berikan kepadanya. ﴾ لَئِن كَشَفۡتَ عَنَّا ٱلرِّجۡزَ لَنُؤۡمِنَنَّ لَكَ وَلَنُرۡسِلَنَّ مَعَكَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu daripada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu." Dan mereka itu adalah para pendusta, maksud mereka hanyalah bagai-mana azab ini selesai, mereka mengira bahwa jika ia selesai maka tidak ada azab yang lain.
(135) ﴾ فَلَمَّا كَشَفۡنَا عَنۡهُمُ ٱلرِّجۡزَ إِلَىٰٓ أَجَلٍ هُم بَٰلِغُوهُ ﴿ "Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya." Yakni sampai waktu di mana Allah menentukan kebera-daannya pada mereka, bukan pengangkatan azab untuk seterusnya, akan tetapi hanya sementara, ﴾ إِذَا هُمۡ يَنكُثُونَ ﴿ "tiba-tiba mereka menging-karinya." Yakni janji yang mereka sampaikan kepada Musa bahwa mereka akan beriman kepadanya dan membiarkan Bani Israil ber-samanya. Mereka tidak beriman kepada Musa dan tidak pula me-lepas Bani Israil bersamanya, justru mereka terus berjalan di atas kekufuran tanpa peduli dan tetap menyiksa Bani Israil secara terus-menerus.
(136) ﴾ فَٱنتَقَمۡنَا مِنۡهُمۡ ﴿ "Kemudian Kami menghukum mereka." Yakni pada waktu kebinasaan mereka telah tiba. Allah memerintahkan Musa agar membawa Bani Israil di malam hari. Dan Allah mem-beritahukan kepada Musa bahwa Fir'aun dengan bala tentaranya akan mengejar mereka. ﴾ فَأَرۡسَلَ فِرۡعَوۡنُ فِي ٱلۡمَدَآئِنِ حَٰشِرِينَ 53 ﴿ "Kemudian Fir'aun mengirimkan orang yang mengumpulkan (ten-taranya) ke kota-kota." (Asy-Syu'ara`: 53). Untuk mengumpulkan orang-orang guna mengejar Bani Israil, Fir'aun dan bala tentaranya berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ لَشِرۡذِمَةٞ قَلِيلُونَ 54 وَإِنَّهُمۡ لَنَا لَغَآئِظُونَ 55 وَإِنَّا لَجَمِيعٌ حَٰذِرُونَ 56 فَأَخۡرَجۡنَٰهُم مِّن جَنَّٰتٖ وَعُيُونٖ 57 وَكُنُوزٖ وَمَقَامٖ كَرِيمٖ 58 كَذَٰلِكَۖ وَأَوۡرَثۡنَٰهَا بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ 59 فَأَتۡبَعُوهُم مُّشۡرِقِينَ 60 فَلَمَّا تَرَٰٓءَا ٱلۡجَمۡعَانِ قَالَ أَصۡحَٰبُ مُوسَىٰٓ إِنَّا لَمُدۡرَكُونَ 61 قَالَ كـَلَّآۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهۡدِينِ 62 فَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡبَحۡرَۖ فَٱنفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرۡقٖ كَٱلطَّوۡدِ ٱلۡعَظِيمِ 63 وَأَزۡلَفۡنَا ثَمَّ ٱلۡأٓخَرِينَ 64 وَأَنجَيۡنَا مُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥٓ أَجۡمَعِينَ 65 ثُمَّ أَغۡرَقۡنَا ٱلۡأٓخَرِينَ 66 ﴿ "Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan kecil, dan sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita, dan sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu berjaga-jaga'. Maka Kami keluarkan Fir'aun dan kaumnya dari taman-taman dan mata air, dan (dari) perbendaharaan dan kedudukan yang mulia, demi-kianlah halnya dan Kami anugerahkan semuanya (itu) kepada Bani Israil. Maka Fir'aun dan bala tentaranya dapat menyusul mereka di waktu ma-tahari terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, 'Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.' Musa menjawab, 'Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku'. Lalu Kami wah-yukan kepada Musa, 'Pukullah lautan itu dengan tongkatmu'. Maka ter-belahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelam-kan golongan yang lain itu." (Asy-Syu'ara`: 54-66). Allah berfirman di dalam surat al-A'raf ini, ﴾ فَأَغۡرَقۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡيَمِّ بِأَنَّهُمۡ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا وَكَانُواْ عَنۡهَا غَٰفِلِينَ ﴿ "Maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebab-kan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu." Yakni disebabkan oleh pendus-taan mereka kepada ayat-ayat Allah dan berpalingnya mereka dari kebenaran yang datang kepada mereka.
(137) ﴾ وَأَوۡرَثۡنَا ٱلۡقَوۡمَ ٱلَّذِينَ كَانُواْ يُسۡتَضۡعَفُونَ ﴿ "Dan Kami pusakakan ke-pada kaum yang telah ditindas itu", di bumi. Yakni Bani Israil yang dulu adalah pelayan bagi keluarga Fir'aun yang telah menimpakan kepada mereka azab yang buruk. Allah mempusakakan kepada mereka ﴾ مَشَٰرِقَ ٱلۡأَرۡضِ وَمَغَٰرِبَهَا ﴿ "negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya." Yang dimaksud dengan bumi di sini adalah bumi Mesir di mana padanyalah mereka ditindas dan dijajah, yakni Allah menguasakannya kepada mereka dan menjadikan mereka pengua-sanya. ﴾ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَاۖ وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ ٱلۡحُسۡنَىٰ عَلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ بِمَا صَبَرُواْۖ ﴿ "Yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Rabbmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka." Mana-kala Musa berkata kepada mereka, ﴾ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱللَّهِ وَٱصۡبِرُوٓاْۖ إِنَّ ٱلۡأَرۡضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ 128 ﴿ "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah, sesungguh-nya bumi (ini) kepunyaan Allah, dipusakakanNya kepada siapa yang di-kehendakiNya dari hamba-hambaNya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (Al-A'raf: 128). ﴾ وَدَمَّرۡنَا مَا كَانَ يَصۡنَعُ فِرۡعَوۡنُ وَقَوۡمُهُۥ ﴿ "Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya", yakni bangunan-bangunan yang besar dan tempat tinggal yang indah, ﴾ وَمَا كَانُواْ يَعۡرِشُونَ ﴿ "dan apa yang telah dibangun mereka." Itulah rumah-rumah mereka yang han-cur karena kezhaliman mereka, sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mengetahui.
(138) ﴾ وَجَٰوَزۡنَا بِبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱلۡبَحۡرَ ﴿ "Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu", setelah Allah menyelamatkan mereka dari musuh mereka, yaitu Fir'aun dan bala tentaranya, di mana Allah telah membinasakan mereka sementara Bani Israil melihatnya. ﴾ فَأَتَوۡاْ ﴿ "Maka setelah mereka sampai", yakni melewati ﴾ عَلَىٰ قَوۡمٖ يَعۡكُفُونَ عَلَىٰٓ أَصۡنَامٖ لَّهُمۡۚ ﴿ "kepada suatu kaum yang sedang menyembah berhala mereka." Yakni mereka berdiam padanya, ngalap berkah padanya, dan menyem-bahnya, lalu mereka berkata kepada Nabi mereka, Musa عليه السلام, karena kebodohan dan ketidaktahuan mereka, setelah sebelumnya Allah menunjukkan kepada mereka ayat-ayatNya. ﴾ يَٰمُوسَى ٱجۡعَل لَّنَآ إِلَٰهٗا كَمَا لَهُمۡ ءَالِهَةٞۚ ﴿ "Hai Musa buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana me-reka mempunyai beberapa tuhan (berhala)." Yakni izinkan kami men-jadikan berhala-berhala sebagai tuhan kami seperti yang mereka lakukan. Maka Musa menjawab, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ تَجۡهَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)." Adakah kejahilan yang lebih besar daripada kejahilan orang tentang Tuhan dan Penciptanya dan dia ingin menyamakanNya dengan selainNya yang tidak dapat mendatangkan manfaat, mudarat, kematian, ke-hidupan dan kebangkitan?
(139) Oleh karena itu Musa berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ مُتَبَّرٞ مَّا هُمۡ فِيهِ وَبَٰطِلٞ مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan oleh kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan." Karena doa mereka kepada berhala-berhala itu adalah batil dan ia sendiri adalah batil, amal dan tujuannya adalah sama-sama batil.
(140) ﴾ قَالَ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡغِيكُمۡ إِلَٰهٗا ﴿ "Musa menjawab, 'Patutkah aku mencari tuhan untuk kamu yang selain dari Allah." Yakni aku mencari tuhan selain Allah yang disembah lagi sempurna pada dzatnya, sifat-sifatnya dan perbuatan-perbuatannya, ﴾ وَهُوَ فَضَّلَكُمۡ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "padahal Dia-lah yang telah melebihkan kamu atas segala umat." Ini me-nuntutmu menyambut nikmat dan karuniaNya dan mensyukuri hal itu dengan mengesakanNya dalam beribadah dan mengingkari apa yang dipertuhankan selainNya.
(141) Kemudian Musa mengingatkan mereka dengan nik-mat Allah kepada mereka, dia berkata, ﴾ وَإِذۡ أَنجَيۡنَٰكُم مِّنۡ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir'aun) dan kaumnya." Yakni Fir'aun dan bala tentaranya ﴾ يَسُومُونَكُمۡ سُوٓءَ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat." Yakni menim-pakan kepadamu azab paling buruk, di mana mereka menyembe-lih ﴾ أَبۡنَآءَكُمۡ وَيَسۡتَحۡيُونَ نِسَآءَكُمۡۚ وَفِي ذَٰلِكُم ﴿ "anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu", yakni kebebasan dari azab mereka adalah ﴾ بَلَآءٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَظِيمٞ ﴿ "cobaan yang besar dari Rabbmu." Yakni nikmat yang besar dan karunia yang agung. Atau pada azab yang mereka timpakan itu terdapat ujian besar dari Rabbmu.
(142) Manakala Musa menasihati dan mengingatkan me-reka, mereka pun menghentikan apa yang mereka inginkan berupa berhala, dan ketika Allah menyempurnakan nikmatNya dengan keselamatan dari musuh mereka dan kekuasaan di muka bumi, maka Allah سبحانه وتعالى ingin menyempurnakan nikmatNya dengan menu-runkan kitab yang padanya terdapat hukum-hukum syariat dan akidah yang lurus. Maka Allah menjanjikan kepada Musa tiga puluh malam ditambah dengan sepuluh jadi empat puluh malam, agar Musa bersiap-siap untuk memenuhi panggilan janji Allah dan agar turunnya kitab itu sangat dinantikan dan dirindukan. Manakala Musa pergi untuk bermunajat kepada Rabbnya, Musa mewasiat-kan Bani Israil kepada Harun, hal itu karena kasih sayangnya dan ketulusannya kepada mereka. ﴾ ٱخۡلُفۡنِي فِي قَوۡمِي ﴿ "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku." Yakni jadilah kamu penggantiku dan lakukan kepada mereka apa yang aku lakukan. ﴾ وَأَصۡلِحۡ ﴿ "Dan perbaikilah", yakni ikutilah jalan kebaikan. ﴾ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِيلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan." Yaitu orang-orang yang berbuat kemaksiatan.
(143) ﴾ وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا ﴿ "Dan tatkala Musa datang untuk (mu-najat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan", untuknya untuk menurunkan kitab, ﴾ وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ ﴿ "dan Rabbnya telah berfirman (langsung) kepadanya", berfirman langsung dengan wahyuNya, pe-rintah dan laranganNya, Musa berkeinginan untuk melihat Allah, jiwanya mengharapkan itu karena kecintaannya kepada Rabbnya dan sangat ingin melihatNya. ﴾ قَالَ رَبِّ أَرِنِيٓ أَنظُرۡ إِلَيۡكَۚ ﴿ "Berkatalah Musa, 'Ya Rabbku, nampakkanlah (diriMu) kepadaku agar aku dapat melihat kepadaMu." Allah menjawab, ﴾ لَن تَرَىٰنِي ﴿ "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihatKu." Yakni sekarang kamu tidak akan mampu melihatKu, karena Allah سبحانه وتعالى menciptakan makhluk di dunia ini dalam kondisi di mana mereka tidak akan kuat dan tidak akan mampu melihat Allah. Ini tidak menunjukkan bahwa mereka tidak dapat melihat-Nya di surga, karena dalil-dalil dari al-Qur`an dan as-Sunnah telah menunjukkan bahwa penduduk surga akan melihat Rabb mereka dan menikmati melihat kepada wajahNya Yang Mulia. Dan bahwa Allah تعالى menghidupkan mereka secara sempurna yang dengannya mereka mampu melihat Allah تعالى. Oleh karena itu Allah mengait-kan kemungkinan melihat dengan ketetapan gunung. Allah تعالى menenangkan Musa karena tidak bisa mengabulkan permintaannya. ﴾ وَلَٰكِنِ ٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡجَبَلِ فَإِنِ ٱسۡتَقَرَّ مَكَانَهُۥ ﴿ "Tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagaimana sediakala)", jika Allah menampakkan diri kepadanya ﴾ فَسَوۡفَ تَرَىٰنِيۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلۡجَبَلِ ﴿ "niscaya ka-mu dapat melihatKu. Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu", yang bisu lagi keras. ﴾ جَعَلَهُۥ دَكّٗا ﴿ "Dijadikannya gunung itu han-cur luluh." Yakni hancur berkeping-keping ibarat kerikil, karena kegoncangannya dan tidak kuatnya ia melihat Allah. ﴾ وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقٗاۚ ﴿ "Dan Musa pun jatuh pingsan," ketika melihat apa yang dilihat. Ma-ka jelaslah bagi Musa pada saat itu bahwa jika gunung saja tidak kuat melihat Allah, maka Musa lebih tidak kuat melihatNya. Musa memohon ampun kepada Allah تعالى karena telah meminta sesuatu yang tidak pada tempatnya. ﴾ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Musa berkata, 'Mahasuci Engkau'." Yakni Aku menyucikan dan mengagungkanMu dari apa yang tidak layak dengan kebesaranMu. ﴾ تُبۡتُ إِلَيۡكَ ﴿ "Aku bertaubat kepada Engkau", dari segala dosa dan kekurangajaran kepadaMu. ﴾ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku orang yang pertama-tama beriman." Yakni Musa menyempurna-kan imanNya dengan sesuatu yang sebelum-nya tidak dia ketahui.
(144) Manakala Allah tidak memberikan kesempatan ke-pada Nabi Musa untuk melihatNya setelah sebelumnya dia sangat menginginkannya, maka Allah memberikan kepadanya kebaikan yang banyak. Allah تعالى berfirman, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِنِّي ٱصۡطَفَيۡتُكَ عَلَى ٱلنَّاسِ ﴿ "Hai Musa sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu)." Yakni Aku memilihmu, mengangkatmu, melebihkan-mu, dan mengkhususkanmu dengan keutamaan-keutamaan yang besar dan kemuliaan-kemuliaan yang agung, ﴾ بِرِسَٰلَٰتِي ﴿ "untuk mem-bawa risalahKu." Di mana Aku tidak mengkhususkan dan memberi-kannya kecuali kepada orang yang paling mulia, ﴾ وَبِكَلَٰمِي ﴿ "dan untuk berbicara langsung denganKu", tanpa perantara. Ini adalah keutamaan khusus Musa al-Kalim (Rasul Allah yang diajak berbicara langsung oleh Allah) dan dia dikenal di kalangan saudara-saudaranya para rasul yang lain dengan itu. ﴾ فَخُذۡ مَآ ءَاتَيۡتُكَ ﴿ "Sebab itu berpegang teguh-lah kepada apa yang Aku berikan kepadamu." Yakni dari nikmat-nikmat, dan ambillah perintah dan larangan yang Aku berikan kepadamu dengan lapang dada, terimalah ia dengan ketundukan, ﴾ وَكُن مِّنَ ٱلشَّٰكِرِينَ ﴿ "dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur," kepada Allah atas apa yang Dia khususkan dan karuniakan kepadamu.
(145) ﴾ وَكَتَبۡنَا لَهُۥ فِي ٱلۡأَلۡوَاحِ مِن كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu", yang dibutuhkan oleh para hamba ﴾ مَّوۡعِظَةٗ ﴿ "sebagai pelajaran" yang mendorong jiwa untuk berbuat kebaikan dan menakutinya untuk berbuat keburukan. ﴾ وَتَفۡصِيلٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Dan penjelasan bagi segala sesuatu", dari hukum-hukum syar'i, akidah, akhlak dan adab. ﴾ فَخُذۡهَا بِقُوَّةٖ ﴿ "Maka (Kami berfirman), 'Berpeganglah kepadanya dengan teguh." Yakni dengan sungguh-sungguh dan serius dalam menegakkannya. ﴾ وَأۡمُرۡ قَوۡمَكَ يَأۡخُذُواْ بِأَحۡسَنِهَاۚ ﴿ "Dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya." Yaitu perintah-perintah yang bersifat wajib dan dianjurkan, karena ia adalah yang terbaik. Di dalam penjelasan ini terdapat dalil bahwa perintah Allah dalam setiap syariat adalah sempurna, adil, dan baik. ﴾ سَأُوْرِيكُمۡ دَارَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Nanti Aku akan memper-lihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik." Setelah Allah mem-binasakan mereka dan menyisakan negeri-negeri mereka sebagai pelajaran sesudah mereka bagi orang-orang Mukmin yang diberi taufik lagi rendah diri.9
(146) Adapun selain mereka, maka Allah berfirman tentang mereka, ﴾ سَأَصۡرِفُ عَنۡ ءَايَٰتِيَ ﴿ "Aku akan memalingkan dari tanda-tanda kekua-saanKu." Yakni dari mengambil pelajaran dari ayat-ayat yang ada di langit dan yang ada pada diri manusia dan pemahaman terhadap ayat-ayat kitab ﴾ ٱلَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ ﴿ "orang-orang yang menyom-bongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar." Yakni mereka menyombongkan diri kepada hamba-hamba Allah dan kepada kebe-naran serta kepada pembawanya. Siapa saja yang memiliki kriteria ini, maka Allah tidak akan memberikan kebaikan kepadanya, Allah akan menelantarkannya dan dia tidak dapat memahami ayat-ayat Allah yang bermanfaat bagi diri bahkan bisa jadi hakikat-hakikat perkara menjadi jungkir balik baginya yang selanjutnya dia meng-anggap yang buruk sebagai sesuatu yang baik. ﴾ وَإِن يَرَوۡاْ كُلَّ ءَايَةٖ لَّا يُؤۡمِنُواْ بِهَا ﴿ " Jika mereka melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya." Karena mereka berpaling, menyangkal dan menentang Allah dan RasulNya. ﴾ وَإِن يَرَوۡاْ سَبِيلَ ٱلرُّشۡدِ ﴿ "Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk", yang lurus dan benar, yaitu jalan yang mengantarkan kepada Allah dan kepada rumah kemuliaan-Nya (surga), ﴾ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلٗا ﴿ "mereka tidak mau menempuhnya." Yakni mereka tidak mau menitinya dan tidak menyukainya. ﴾ وَإِن يَرَوۡاْ سَبِيلَ ٱلۡغَيِّ ﴿ "Tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan", yakni kesesatan yang mengantarkan pelakunya kepada rumah kesengsaraan (mereka), ﴾ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلٗاۚ ﴿ "mereka terus menempuhnya." Penyebab penyimpangan mereka seperti itu karena ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا وَكَانُواْ عَنۡهَا غَٰفِلِينَ ﴿ "yang de-mikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya." Penolakan mereka terhadap ayat-ayat Allah, kelalaiannya terhadap maksudnya dan pelecehannya terhadapnya adalah penyebab mereka menempuh jalan kesesatan dan mening-galkan jalan lurus.
(147) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami", yang agung, yang menunjukkan kebenaran rasul-rasul yang telah Kami utus, ﴾ وَلِقَآءِ ٱلۡأٓخِرَةِ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡۚ ﴿ "dan mendus-takan akan menemui Akhirat, maka sia-sialah perbuatan mereka." Karena perbuatan tersebut tidak dilakukan di atas fondasi syariat dan telah hilang darinya syarat diterimanya, yaitu beriman kepada ayat-ayat-Nya dan membenarkan balasanNya. ﴾ هَلۡ يُجۡزَوۡنَ ﴿ "Mereka tidak diberi balasan", tentang amal perbuatan mereka yang sia-sia dan terjadinya apa yang tidak mereka harapkan ﴾ إِلَّا مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "selain dari apa yang telah mereka kerjakan." Sesungguhnya amal perbuatan orang yang tidak beriman kepada Hari Akhir tidak ada pahala yang di-harapkan padanya dan tidak memiliki tujuan yang dicapai. Oleh karena itu ia batal dan sia-sia.
(148) ﴾ وَٱتَّخَذَ قَوۡمُ مُوسَىٰ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِنۡ حُلِيِّهِمۡ عِجۡلٗا جَسَدٗا ﴿ "Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh", yang dibuat oleh Samiri dan dia masukkan bekas jejak Rasul ke dalamnya, maka ia ﴾ لَّهُۥ خُوَارٌۚ ﴿ "bersuara." Maka mereka pun menyembahnya dan menjadikannya sebagai tuhan. Samiri berkata "Ini adalah tuhanmu dan tuhan Musa. Musa lupa sehingga dia pergi untuk mencarinya." Ini adalah ke-bodohan mereka dan minimnya ilmu mereka. Bagaimana mereka tidak bisa membedakan antara Tuhan langit dan bumi dengan anak sapi makhluk yang paling hina? Oleh karena itu Allah menjelaskan bahwa ia tidak memiliki sifat-sifat dzat dan perbuatan yang me-nunjukkan bahwa ia adalah tuhan. ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّهُۥ لَا يُكَلِّمُهُمۡ ﴿ "Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka." Bisu adalah kekurangan yang nyata. Mereka sendiri lebih baik keadaannya daripada hewan atau benda mati yang tidak ber-bicara, ﴾ وَلَا يَهۡدِيهِمۡ سَبِيلًاۘ ﴿ "dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka?" Yakni ia tidak dapat menunjukkan mereka jalan agama dan tidak dapat menghasilkan kebaikan dunia untuk mereka, kare-na sudah diketahui oleh akal bahwa menyembah tuhan yang tidak bisa bicara, tidak bisa memberi manfaat maupun mudarat termasuk kebatilan yang paling batil dan kedunguan yang paling dungu. ﴾ ٱتَّخَذُوهُ وَكَانُواْ ظَٰلِمِينَ ﴿ "Mereka menjadikannya (sebagai sesembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zhalim." Di mana mereka meletak-kan ibadah tidak pada tempatnya dan menyekutukan Allah tanpa bukti dalil dariNya. Dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa siapa yang mengingkari Kalamullah berarti mengingkari kekhususan uluhiyah Allah تعالى, karena Allah menyebutkan bahwa ketidakmam-puan berbicara adalah dalil ketidaklayakannya untuk dijadikan sebagai tuhan.
(149) ﴾ وَلَمَّا ﴿ "Dan manakala", Musa kembali kepada kaum-nya, dia mendapati mereka dalam keadaan tersebut. Musa menje-laskan kesesatan mereka, dan mereka pun menyesal. ﴾ سُقِطَ فِيٓ أَيۡدِيهِمۡ ﴿ "Mereka sangat menyesali perbuatannya." Yakni bersedih tanda pe-nyesalan atas perbuatan mereka, ﴾ وَرَأَوۡاْ أَنَّهُمۡ قَدۡ ضَلُّواْ ﴿ "dan mengetahui bahwa mereka telah sesat", mereka pun kembali kepada Allah dan merendahkan diri di hadapanNya. ﴾ قَالُواْ لَئِن لَّمۡ يَرۡحَمۡنَا رَبُّنَا ﴿ "Mereka pun berkata, 'Sungguh jika Rabb kami tidak memberi rahmat kepada kami," dengan membimbing kita kepada jalan yang lurus, memberi taufik kepada ibadah kepadaNya dan kepada amal-amal shalih, ﴾ وَيَغۡفِرۡ لَنَا ﴿ "dan tidak mengampuni kami", atas dosa menyembah anak sapi yang telah kami lakukan, ﴾ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi," yang merugi di dunia dan di Akhirat.
(150) ﴾ وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَىٰٓ إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ غَضۡبَٰنَ أَسِفٗا ﴿ "Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati." Yakni Musa dipenuhi oleh amarah dan emosi kepada mereka karena kecemburuannya yang besar terhadap Allah تعالى dan kasih sayang serta ketulusan-nya yang sempurna. ﴾ قَالَ بِئۡسَمَا خَلَفۡتُمُونِي مِنۢ بَعۡدِيٓۖ ﴿ "Berkatalah dia, 'Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku'." Yakni alangkah buruknya keadaan kalian setelah kepergianku dari kalian, sesungguhnya ia adalah keadaan yang menyeret kepada kebinasaan dan kesengsaraan untuk selama-lamanya. ﴾ أَعَجِلۡتُمۡ أَمۡرَ رَبِّكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu hendak mendahului janji Rabbmu?" Di mana Dia telah menjan-jikan kepadamu untuk menurunkan kitab tetapi kamu tergesa-gesa dengan akalmu yang rusak sehingga melakukan perbuatan buruk ini. ﴾ وَأَلۡقَى ٱلۡأَلۡوَاحَ ﴿ "Dan Musa pun melemparkan luh-luh (Taurat) itu." Yakni dia melemparnya karena marah. ﴾ وَأَخَذَ بِرَأۡسِ أَخِيهِ ﴿ "Dan memegang (rambut) kepala saudaranya", Harun dan juga jenggotnya, ﴾ يَجُرُّهُۥٓ إِلَيۡهِۚ ﴿ "sambil menariknya ke arahnya." Dan Musa berkata kepadanya, ﴾ مَا مَنَعَكَ إِذۡ رَأَيۡتَهُمۡ ضَلُّوٓاْ 92 أَلَّا تَتَّبِعَنِۖ أَفَعَصَيۡتَ أَمۡرِي 93 ﴿ "Apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (se-ngaja) mendurhakai perintahku?" (Thaha: 92-93), kepadamu dengan ucapanku, ﴾ ٱخۡلُفۡنِي فِي قَوۡمِي وَأَصۡلِحۡ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِيلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ 142 ﴿ "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan." (Al-A'raf: 142). Harun menjawab, ﴾ قَالَ يَبۡنَؤُمَّ لَا تَأۡخُذۡ بِلِحۡيَتِي وَلَا بِرَأۡسِيٓۖ إِنِّي خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقۡتَ بَيۡنَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَلَمۡ تَرۡقُبۡ قَوۡلِي 94 ﴿ "Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan jangan (pula) kepalaku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), 'Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak me-melihara amanatku'." (Thaha: 94). Dan di sini Harun menjawab, ﴾ قَالَ ٱبۡنَ أُمَّ ﴿ "Hai anak ibuku", ucapan ini untuk melunakkan Musa dengan hanya menyinggung ibu saja. Namun demikian, sebenarnya dia adalah saudara kandung-nya. ﴾ إِنَّ ٱلۡقَوۡمَ ٱسۡتَضۡعَفُونِي ﴿ "Sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah." Yakni mereka meremehkanku ketika aku berkata kepada mereka, "Wahai kaum, kalian hanya difitnah dengannya dan bahwa Rabbmu adalah Allah Yang Maha Rahman, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku. ﴾ وَكَادُواْ يَقۡتُلُونَنِي ﴿ "Dan hampir-hampir mereka membu-nuhku." Yakni janganlah kamu mendugaku lalai. ﴾ فَلَا تُشۡمِتۡ بِيَ ٱلۡأَعۡدَآءَ ﴿ "Sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku", dengan hardikanmu kepadaku dan perlakuan burukmu kepadaku, karena musuh-musuh selalu berusaha dengan sungguh-sungguh dalam memunculkan kesalahan dan menemukan kekeliruan pada-ku, ﴾ وَلَا تَجۡعَلۡنِي مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zhalim." Lalu kamu memperlakukanku seperti mereka.
(151) Musa عليه السلام menyesal atas perbuatannya yang terburu-buru terhadap saudaranya sebelum dia mengetahui bahwa sauda-ranya tidak seperti yang dia duga. Musa berkata, ﴾ قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَلِأَخِي ﴿ "Ya Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku", Harun. ﴾ وَأَدۡخِلۡنَا فِي رَحۡمَتِكَۖ ﴿ "Dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu." Yakni di dalamnya, ja-dikanlah rahmatMu meliputi kami dari segala segi karena ia adalah benteng yang kokoh dari segala keburukan dan di sanalah seluruh kebaikan dan kebahagiaan. ﴾ وَأَنتَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "Dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." Yakni, lebih menyayangi kami dari seluruh penyayang, lebih sayang kepada kami daripada bapak, ibu, anak dan diri kami sendiri.
(152) Allah تعالى menjelaskan keadaan para penyembah anak sapi. ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ ٱلۡعِجۡلَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sesembahannya)", yakni sebagai tuhan, ﴾ سَيَنَالُهُمۡ غَضَبٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَذِلَّةٞ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Rabb mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia." Sebagaimana mereka telah membuat Rabb mereka marah dan meremehkan pe-rintahNya. ﴾ وَكَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُفۡتَرِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan ke-pada orang-orang yang membuat-buat kebohongan." Semua pendusta atas nama Allah, pembohong atas syariatNya, dan mengucapkan sesuatu atas namaNya apa yang tidak Dia katakan; akan menda-patkan bagian dari murka Allah dan kehinaan di dunia.
(153) Mereka telah mendapatkan murka dari Allah, di mana Dia memerintahkan mereka membunuh diri mereka, dan bahwa Allah tidak meridhai mereka kecuali dengan itu. Lalu sebagian dari mereka membunuh sebagian yang lain dan pembunuhan tersebut memakan korban yang banyak, kemudian Allah mengampuni me-reka setelah itu. Oleh karena itu Allah menyebutkan hukum secara umum, di mana mereka dan selain mereka masuk ke dalamnya. ﴾ وَٱلَّذِينَ عَمِلُواْ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ﴿ "Orang-orang yang mengerjakan kejahatan", baik dosa syirik, dosa besar, dan dosa kecil, ﴾ ثُمَّ تَابُواْ مِنۢ بَعۡدِهَا ﴿ "kemudian bertau-bat sesudah itu." Yakni mereka menyesalinya, meninggalkannya, dan bertekad tidak kembali mengulangnya ﴾ وَءَامَنُوٓاْ ﴿ "dan beriman", kepada Allah dan kepada apa yang Allah wajibkan untuk diimani, dan iman tidak sempurna kecuali dengan amalan hati dan amalan anggota badan yang merupakan tuntutan iman, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ مِنۢ بَعۡدِهَا ﴿ "se-sungguhnya Rabbmu, sesudah taubat yang disertai dengan iman itu." Yakni setelah keadaan ini keadaan taubat dari kejahatan dan kem-bali kepada ketaatan, ﴾ لَغَفُورٞ ﴿ "adalah Maha Pengampun", mengam-puni keburukan dan menghapusnya meskipun ia sepenuh jagad, ﴾ رَّحِيمٞ ﴿ "lagi Maha Penyayang," dengan menerima taubat dan mem-beri taufik untuk dapat beramal shalih dan menerimanya.
(154) ﴾ وَلَمَّا سَكَتَ عَن مُّوسَى ٱلۡغَضَبُ ﴿ "Sesudah amarah Musa menjadi reda." Yakni kemarahannya reda, jiwanya tenang, dan dapat mengu-asai dirinya, maka dia mulai melakukan perkara paling penting padanya, maka dia mengambil ﴾ ٱلۡأَلۡوَاحَۖ ﴿ "Luh-luh (Taurat) itu", yang dia lemparkan, dan ia adalah luh-luh yang mulia dan berukuran besar, ﴾ وَفِي نُسۡخَتِهَا ﴿ "dan dalam tulisannya", yakni mengandung dan berisi ﴾ هُدٗى وَرَحۡمَةٞ ﴿ "petunjuk dan rahmat." Yakni, di dalamnya terda-pat petunjuk dari kesesatan, penjelasan tentang kebenaran dari kebatilan, perbuatan baik dan perbuatan buruk, petunjuk kepada amalan, akhlak, dan adab terbaik, serta rahmat dan kebahagiaan bagi yang melaksanakannya dan mengetahui hukum-hukum dan makna-maknanya. Akan tetapi tidak semua orang mau menerima petunjuk Allah dan RahmatNya. Yang bersedia menerima, menaati, dan tunduk kepadanya adalah ﴾ لِّلَّذِينَ هُمۡ لِرَبِّهِمۡ يَرۡهَبُونَ ﴿ "orang-orang yang takut kepada Rabbnya." Adapun orang yang tidak takut kepada Allah dan tidak pula kepada pengadilan di hadapanNya, maka ia hanya menambah kesombongannya dan penolakannya, dan hujjah Allah pun tegak atasnya.
Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences