As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian
At-Tawbah 9:113–129
9:113–114Page 205
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن يَسۡتَغۡفِرُواْ لِلۡمُشۡرِكِينَ وَلَوۡ كَانُوٓاْ أُوْلِي قُرۡبَىٰ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُمۡ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَحِيمِ ١١٣
It is not for the Prophet and those who have believed to ask forgiveness for the polytheists, even if they were relatives, after it has become clear to them that they are companions of Hellfire.
وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ ١١٤
And the request of forgiveness of Abraham for his father was only because of a promise he had made to him. But when it became apparent to him [i.e., Abraham] that he [i.e., the father] was an enemy to Allāh, he disassociated himself from him. Indeed was Abraham compassionate and patient.
"Tidaklah patut bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni Neraka Jahanam. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah ka-rena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah mu-suh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibra-him adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 113-114).
(113) Yakni, tidak layak dan tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman kepadanya ﴾ أَن يَسۡتَغۡفِرُواْ لِلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "memin-takan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik", yakni orang yang kafir kepadaNya dan menyembah selainNya bersamaNya ﴾ وَلَوۡ كَانُوٓاْ أُوْلِي قُرۡبَىٰ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُمۡ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "walaupun orang-orang musy-rik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni Neraka Jahanam." Karena memintakan ampun untuk mereka dalam keadaan ini adalah salah dan tidak berguna, maka ia tidak patut dilakukan Nabi dan orang-orang yang beriman, karena jika mereka mati di atas kesyirikan, atau diketahui bahwa mereka mati di atasnya, maka telah wajib atasnya siksa, wajib atasnya kekal di dalam Neraka, syafa'at pemberi syafa'at dan permohonan ampunan orang-orang yang meminta ampunan tidak berguna baginya. Di samping itu, Nabi dan orang-orang yang beriman harus menyesuaikan diri dengan Allah dalam kecintaan dan kemarahan, mencintai orang yang dicintai oleh Allah, dan memusuhi orang yang dimusuhi oleh Allah, sedangkan memo-hon ampun bagi orang yang jelas bahwa mereka adalah penghuni Neraka adalah bertentangan dan bertabrakan dengan itu.
(114) Kalaupun ada istighfar dari Khalil ar-Rahman, Ibrahim (kepada Allah) untuk ayahnya, maka itu ﴾ عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ ﴿ "tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapak-nya itu." Yaitu perkataannya, ﴾ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ بِي حَفِيّٗا 47 ﴿ "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku." (Maryam: 47). Hal itu sebelum Ibrahim mengetahui akhir hidup bapaknya. ﴾ فَلَمَّا تَبَيَّنَ ﴿ "Maka tatkala jelas" bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu, ﴾ عَدُوّٞ لِّلَّهِ ﴿ "adalah musuh Allah", mati di atas kekufuran, dan nasihat serta peringatan tidak berguna baginya, ﴾ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ ﴿ "maka Ibrahim berlepas diri darinya." Menyesuaikan diri dengan Rabbnya dan beradab di ha-dapanNya. ﴾ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ ﴿ "Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya", yakni yang selalu kembali kepada Allah dalam segala perkara, banyak berdzikir, berdoa, istighfar, dan ber-taubat kepadaNya. ﴾ حَلِيمٞ ﴿ "Lagi penyantun." Yakni, memiliki sifat kasih sayang kepada makhluk, memaafkan kesalahan mereka ke-padanya, tidak terpicu oleh perbuatan bodoh orang yang bodoh, dan tidak membalas orang yang berbuat jahat kepadanya dengan kejahatan. Bapaknya berkata kepadanya, ﴾ لَأَرۡجُمَنَّكَۖ ﴿ "Niscaya kamu akan kurajam." (Maryam: 46). Sedangkan Ibrahim menjawab, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَيۡكَۖ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّيٓۖ ﴿ "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku." (Maryam: 47). Maka kamu harus mengikuti dan meneladani agama Ibrahim dalam segala sesuatu, kecuali ucapan Ibrahim kepada bapaknya, ﴾ لَأَسۡتَغۡفِرَنَّ لَكَ ﴿ "Aku benar-benar akan memohonkan ampunan (kepada Allah) un-tukmu." (Al-Mumtahanah: 4) Sebagaimana Allah telah memperingatkan itu dan yang lain-nya. Oleh karena itu Dia berfirman,
9:115–116Page 205
وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِلَّ قَوۡمَۢا بَعۡدَ إِذۡ هَدَىٰهُمۡ حَتَّىٰ يُبَيِّنَ لَهُم مَّا يَتَّقُونَۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٌ ١١٥
And Allāh would not let a people stray after He has guided them until He makes clear to them what they should avoid. Indeed, Allāh is Knowing of all things.
إِنَّ ٱللَّهَ لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۚ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٖ ١١٦
Indeed, to Allāh belongs the dominion of the heavens and the earth; He gives life and causes death. And you have not besides Allāh any protector or any helper.
"Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mema-tikan. Dan sekali-kali tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah." (At-Taubah: 115-116).
(115) Yakni, bahwa Allah تعالى jika memberi nikmat hidayah kepada suatu kaum, dan Dia memerintahkan mereka meniti jalan yang lurus, maka Dia تعالى menyempurnakan kebaikanNya kepada mereka, serta menjelaskan kepada mereka segala apa yang mereka perlukan dan butuhkan. Dia tidak membiarkan mereka dalam ke-adaan sesat dan tidak mengetahui perkara agama mereka. Ini me-ngandung dalil atas kesempurnaan rahmatNya dan bahwa syariat-Nya meliputi segala apa yang dibutuhkan oleh manusia dalam ma-salah pokok-pokok maupun cabang-cabangnya. Ada kemungkinan bahwa maksud dari hal itu adalah, ﴾ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِلَّ قَوۡمَۢا بَعۡدَ إِذۡ هَدَىٰهُمۡ حَتَّىٰ يُبَيِّنَ لَهُم مَّا يَتَّقُونَۚ ﴿ "Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi." Jika Allah menjelas-kan apa yang mesti mereka hindari, lalu mereka tidak tunduk kepa-daNya, maka Dia menghukum mereka dengan kesesatan sebagai balasan atas penolakan mereka terhadap kebenaran yang jelas. Na-mun kemungkinan tafsir yang pertama itu lebih utama. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." Karena ilmuNya yang sempurna dan menyeluruh, Dia mengajarkan kepa-damu apa yang tidak kamu ketahui dan menjelaskan apa yang bermanfaat bagimu.
(116) ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۚ ﴿ "Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan." Yakni, Dia-lah Pemiliknya, yang mengatur hamba-hambaNya de-ngan menghidupkan dan mematikan serta aturan-aturan ilahiyah yang lain. Jika tidak ada aturan takdirNya yang cacat maka bagai-mana mungkin ada aturan agamaNya yang cacat, yang berkaitan dengan uluhiyahNya dan Dia membiarkan hamba-hambaNya begitu saja atau membiarkan mereka tersesat dan bodoh, padahal itu adalah perhatian terbesar dariNya kepada hamba-hambaNya, oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٖ ﴿ "Dan sekali-kali tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah." Yakni pelindung yang melindungimu dengan mendatangkan manfaat bagimu atau penolong yang menolak mudarat darimu.
9:117–118Page 205
لَّقَد تَّابَ ٱللَّهُ عَلَى ٱلنَّبِيِّ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ ٱلۡعُسۡرَةِ مِنۢ بَعۡدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٖ مِّنۡهُمۡ ثُمَّ تَابَ عَلَيۡهِمۡۚ إِنَّهُۥ بِهِمۡ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١١٧
Allāh has already forgiven the Prophet and the Muhājireen and the Anṣār who followed him in the hour of difficulty after the hearts of a party of them had almost inclined [to doubt], and then He forgave them. Indeed, He was to them Kind and Merciful.
وَعَلَى ٱلثَّلَٰثَةِ ٱلَّذِينَ خُلِّفُواْ حَتَّىٰٓ إِذَا ضَاقَتۡ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ وَضَاقَتۡ عَلَيۡهِمۡ أَنفُسُهُمۡ وَظَنُّوٓاْ أَن لَّا مَلۡجَأَ مِنَ ٱللَّهِ إِلَّآ إِلَيۡهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيۡهِمۡ لِيَتُوبُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ ١١٨
And [He also forgave] the three who were left alone [i.e., boycotted, regretting their error] to the point that the earth closed in on them in spite of its vastness1 and their souls confined [i.e., anguished] them and they were certain that there is no refuge from Allāh except in Him. Then He turned to them so they could repent. Indeed, Allāh is the Accepting of Repentance,2 the Merciful.
"Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguh-nya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, pa-dahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tem-pat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepadaNya saja, kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha penyayang." (At-Taubah: 117-118).
(117) Allah تعالى mengabarkan bahwa termasuk kebaikan dan kasih sayangNya, ﴾ تَّابَ ٱللَّهُ عَلَى ٱلنَّبِيِّ ﴿ "Allah telah menerima taubat Nabi", Muhammad ﴾ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ ﴿ "dan orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar." Dia mengampuni kesalahan mereka, memu-dahkan kebaikan bagi mereka, dan mengangkat mereka ke derajat tertinggi, hal itu karena mereka melakukan amal yang sangat sulit dan sangat berat, oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ ٱلۡعُسۡرَةِ ﴿ "Yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan", yakni, berangkat bersama beliau untuk memerangi musuh di perang Tabuk, di mana ia terjadi pada saat yang sangat panas, bekal dan kendaraan sedikit, dan banyaknya jumlah musuh, hal mana itu mendorong orang untuk enggan berangkat perang, namun kemudian mereka memo-hon pertolongan kepada Allah تعالى dan tetap melakukan jihad terse-but, ﴾ مِنۢ بَعۡدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling", yakni hati mereka berbalik dan cenderung kepada ketenangan dan kenyamanan, akan tetapi Allah meneguhkan, men-dukung, dan menguatkan mereka. Berpalingnya hati adalah penyelewengannya dari jalan yang lurus, jika penyelewengannya pada dasar agama, maka ia adalah kekufuran, jika pada syariatnya, maka hal itu menurut syariat di mana dia menyimpang darinya. Bisa dalam bentuk dia lalai dalam menunaikannya, atau menunaikannya secara tidak syar'i. Firman-Nya, ﴾ ثُمَّ تَابَ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "Kemudian Allah menerima taubat mereka itu." ﴾ إِنَّهُۥ بِهِمۡ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penya-yang kepada mereka." Di antara kasih sayangNya adalah memberi mereka nikmat taubat dan menerimanya dari mereka serta mene-guhkan mereka di atasnya.
(118) ﴾ و َ ﴿ "Dan" begitu pula Allah telah menerima taubat ﴾ ع َ ل َ ى ٱلثَّلَٰثَةِ ٱلَّذِينَ خُلِّفُواْ ﴿ "tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka", mereka tidak berangkat berperang bersama kaum Musli-min di perang itu. Mereka adalah Ka'ab bin Malik dan kedua rekan-nya. Kisah mereka masyhur tercantum di kitab-kitab Shahih dan Sunan.[103] ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا ﴿ "Hingga apabila", mereka sangat bersedih, ﴾ ضَاقَتۡ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ ﴿ "bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, ﴾ وَضَاقَتۡ عَلَيۡهِمۡ أَنفُسُهُمۡ ﴿ "dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka", yang merupakan sesuatu yang paling mereka cintai dari segala apa pun, bumi yang luas dan sesuatu yang dicintai se-rasa sempit padahal biasanya ia tidak demikian, hal itu tidak lain kecuali karena perkara yang berat yang telah sampai pada puncak beratnya dan sulitnya, sehingga ia sulit untuk diungkapkan, hal itu karena mereka mendahulukan ridha Allah dan ridha RasulNya daripada segala sesuatu. ﴾ وَظَنُّوٓاْ أَن لَّا مَلۡجَأَ مِنَ ٱللَّهِ إِلَّآ إِلَيۡهِ ﴿ "Mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepadaNya saja." Yakni, mereka yakin dan mengetahui keadaan mereka bahwa tidak ada keselamatan dan perlindungan dari kesulitan kecuali hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Terputuslah ketergan-tungan mereka dengan makhluk, mereka bergantung hanya kepada Allah, Rabb mereka, dan kembali kepadaNya. Mereka mengalami kesulitan ini selama lima puluh malam. ﴾ ثُمَّ تَابَ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Kemudian Allah menerima taubat mereka." Yakni mengizinkan dan membimbing mereka untuk taubat kepadaNya ﴾ لِيَتُوبُوٓاْۚ ﴿ "agar mereka tetap dalam taubatnya." Yakni, agar taubat ter-sebut dilakukan oleh mereka, sehinga kemudia Dia akan menerima taubat mereka. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ﴿ "Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat." Yakni banyak memaafkan, mengampuni, dan menerima taubat dan dari kesalahan-kesalahan dan berbagai ke-kurangan. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha penyayang." SifatNya adalah rahmat yang agung yang selalu turun kepada hamba setiap saat dan waktu, di segala kesempatan yang menyebabkan perkara agama dan dunia mereka berdiri tegak dengannya. Dalam ayat-ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa penerimaan taubat oleh Allah kepada seorang hamba adalah tujuan dan sasaran paling mulia dan paling tinggi, karena Allah menjadi-kannya sebagai akhir bagi hamba-hambaNya yang khusus, dan memberi mereka nikmat dengannya ketika mereka melakukan amalan-amalan yang dicintai dan diridhaiNya. Di antaranya: Kasih sayang Allah kepada mereka, serta pe-neguhan iman mereka pada waktu kesulitan dan musibah yang mencemaskan. Di antaranya: Bahwa ibadah yang berat bagi jiwa memiliki keistimewaan dan keutamaan di atas selainnya. Semakin berat ke-sulitannya maka akan semakin besar pahalanya. Di antaranya: Bahwa penerimaan taubat oleh Allah kepada hambaNya adalah berdasarkan penyesalannya yang mendalam. Sedangkan orang yang tidak peduli dengan dosa dan tidak merasa bersalah jika melakukannya, maka taubatnya pasti gagal, meski dia menyangkanya diterima. Di antaranya: Bahwa tanda kebaikan dan lenyapnya kesulitan adalah jika hati seorang hamba hanya bergantung kepada Allah تعالى secara sempurna dan terputus dari (mengharap kepada) makhluk. Di antaranya: Di antara kasih sayang Allah kepada tiga orang sahabat tersebut adalah Allah menyifati mereka dengan sifat yang bukan aib bagi mereka, Dia berfirman, ﴾ خُلِّفُواْ ﴿ "Mereka ditangguh-kan." Sebagai isyarat bahwa orang-orang Mukmin meninggalkan mereka atau ditunda dari orang yang taubatnya dipastikan ditolak atau diterima, dan bahwa mereka tidak berangkat bukan karena tidak menginginkan kebaikan. Oleh karena itu Allah tidak berfir-man, تَخَلَّفُوْا (tidak berangkat). Di antaranya: Allah تعالى memberi nikmat kejujuran kepada me-reka. Oleh karena itu Allah memerintahkan agar mereka diteladani. Dia berfirman,
9:119Page 206
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ ١١٩
O you who have believed, fear Allāh and be with those who are true.
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar." (At-Tau-bah: 119).
(119) ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman", kepada Allah dan kepada apa yang diperintahkan oleh Allah agar diimani, jalankan apa yang menjadi konsekuensi iman, yaitu bertakwa ke-pada Allah تعالى, dengan menjauhi dan meninggalkan apa yang Dia larang. ﴾ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar", dalam ucapan, perbuatan, dan keadaan mereka, orang-orang yang perkataannya adalah benar, perbuatannya dan keada-annya tidak lain kecuali benar, bebas dari kemalasan dan kelesuan, selamat dari maksud-maksud buruk, mengandung keikhlasan dan niat yang baik, karena kejujuran mengantar kepada kebaikan, dan kebaikan mengantar kepada Surga. Allah تعالى berfirman, ﴾ هَٰذَا يَوۡمُ يَنفَعُ ٱلصَّٰدِقِينَ صِدۡقُهُمۡۚ...﴿ "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka…" (Al-Ma`idah: 119).
9:120–121Page 206
مَا كَانَ لِأَهۡلِ ٱلۡمَدِينَةِ وَمَنۡ حَوۡلَهُم مِّنَ ٱلۡأَعۡرَابِ أَن يَتَخَلَّفُواْ عَن رَّسُولِ ٱللَّهِ وَلَا يَرۡغَبُواْ بِأَنفُسِهِمۡ عَن نَّفۡسِهِۦۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ لَا يُصِيبُهُمۡ ظَمَأٞ وَلَا نَصَبٞ وَلَا مَخۡمَصَةٞ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَطَـُٔونَ مَوۡطِئٗا يَغِيظُ ٱلۡكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنۡ عَدُوّٖ نَّيۡلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُم بِهِۦ عَمَلٞ صَٰلِحٌۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٢٠
It was not [proper] for the people of Madīnah and those surrounding them of the bedouins that they remain behind after [the departure of] the Messenger of Allāh or that they prefer themselves over his self.1 That is because they are not afflicted by thirst or fatigue or hunger in the cause of Allāh, nor do they tread on any ground that enrages the disbelievers, nor do they inflict upon an enemy any infliction but that it is registered for them as a righteous deed. Indeed, Allāh does not allow to be lost the reward of the doers of good.
وَلَا يُنفِقُونَ نَفَقَةٗ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةٗ وَلَا يَقۡطَعُونَ وَادِيًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمۡ لِيَجۡزِيَهُمُ ٱللَّهُ أَحۡسَنَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٢١
Nor do they spend an expenditure, small or large, or cross a valley but that it is registered for them that Allāh may reward them for the best of what they were doing.
"Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut me-nyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidaklah ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) meng-injak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shalih. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan tidaklah mereka menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal shalih pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (At-Taubah: 120-121).
(120) Allah تعالى berfirman mendorong penduduk Madinah dari orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang Arab Badui yang telah masuk Islam dengan baik, ﴾ مَا كَانَ لِأَهۡلِ ٱلۡمَدِينَةِ وَمَنۡ حَوۡلَهُم مِّنَ ٱلۡأَعۡرَابِ أَن يَتَخَلَّفُواْ عَن رَّسُولِ ٱللَّهِ ﴿ "Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang)." Yakni hal itu tidak layak dan tidak sesuai dengan keadaan mereka. ﴾ وَلَا يَرۡغَبُواْ بِأَنفُسِهِمۡ ﴿ "Dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka", dalam keberadaannya, ketenangannya, dan ketentramannya ﴾ عَن نَّفۡسِهِۦۚ ﴿ "daripada mencintai diri Rasul", yang mulia lagi suci, akan tetapi Nabi ﷺ lebih berhak untuk dicintai orang-orang Mukmin daripada diri mereka sendiri, maka wajib atas setiap Muslim menebus dirinya untuk Nabi ﷺ dan mendahulukan beliau di atas dirinya. Tanda penghormatan, kecin-taan, dan keimanan yang sempurna kepada Rasul adalah selalu menyertai beliau pergi berperang. Kemudian Allah menyebutkan pahala yang mendorong kaum Mukminin untuk pergi berperang, maka Dia berfirman, ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ ﴿ "Yang demikian itu ialah karena mereka", yaitu orang-orang yang ber-jihad di jalan Allah ﴾ لَا يُصِيبُهُمۡ ظَمَأٞ وَلَا نَصَبٞ ﴿ "tidaklah ditimpa kehausan, kepayahan", yakni kesulitan dan kesengsaraan, ﴾ وَلَا مَخۡمَصَةٞ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "dan kelaparan pada jalan Allah." ﴾ وَلَا يَطَـُٔونَ مَوۡطِئٗا يَغِيظُ ٱلۡكُفَّارَ ﴿ "Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir", dengan menyerang daerah mereka dan menguasai negeri mereka ﴾ وَلَا يَنَالُونَ مِنۡ عَدُوّٖ نَّيۡلًا ﴿ "dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh," seperti kemenangan atas pasukan musuh atau bala tentara atau harta rampasan perang, ﴾ إِلَّا كُتِبَ لَهُم بِهِۦ عَمَلٞ صَٰلِحٌۚ ﴿ "melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shalih." Karena ini adalah akibat yang timbul dari amal mereka. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik," yaitu orang-orang yang berbuat baik de-ngan bersegera menjalankan perintah Allah, melaksanakan apa yang menjadi hakNya dan hak makhlukNya. Perbuatan-perbuatan ini adalah akibat dari amal mereka.
(121) Kemudian Dia berfirman, ﴾ وَلَا يُنفِقُونَ نَفَقَةٗ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةٗ وَلَا يَقۡطَعُونَ وَادِيًا ﴿ "Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah", pada waktu mereka pergi untuk memerangi musuh ﴾ إِلَّا كُتِبَ لَهُمۡ لِيَجۡزِيَهُمُ ٱللَّهُ أَحۡسَنَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "melainkan dituliskan bagi mereka (amal shalih pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan", dan dari amal-amal ini jika ia diikhlaskan dan dimurnikan hanya untuk Allah. Ayat-ayat ini mengandung dorongan dan anjuran yang kuat bagi jiwa agar pergi berjihad di jalan Allah dan berharap pahala dari kesulitan-kesulitan yang dialami padanya. Dengannya mereka akan mendapatkan kemuliaan dan ketinggian dan akibat yang di-timbulkan oleh amal seorang hamba adalah mendapatkan pahala yang besar.
9:122Page 206
۞ وَمَا كَانَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةٗۚ فَلَوۡلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرۡقَةٖ مِّنۡهُمۡ طَآئِفَةٞ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوۡمَهُمۡ إِذَا رَجَعُوٓاْ إِلَيۡهِمۡ لَعَلَّهُمۡ يَحۡذَرُونَ ١٢٢
And it is not for the believers to go forth [to battle] all at once. For there should separate from every division of them a group [remaining] to obtain understanding in the religion and warn [i.e., advise] their people when they return to them that they might be cautious.
"Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang Mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (At-Taubah: 122).
(122) Allah تعالى berfirman memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman tentang apa yang semestinya mereka lakukan, ﴾ وَمَا كَانَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةٗۚ ﴿ "Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang Mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang)." Yakni semuanya untuk memerangi musuh mereka. Karena hal itu sangat menyulitkan me-reka dan mengakibatkan terbengkalainya kepentingan-kepentingan yang lain. ﴾ فَلَوۡلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرۡقَةٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap go-longan di antara mereka," yakni dari kota-kota, kabilah-kabilah, dan suku-suku, ﴾ طَآئِفَةٞ ﴿ "beberapa orang", yang dengannya maksud yang diinginkan tercapai, niscaya itu lebih baik. Kemudian Allah mengingatkan bahwa menetapnya sebagian dari mereka dengan tidak berangkat berperang mengandung ke-maslahatan lain yang tidak terwujud jika mereka semua berangkat perang, Dia berfirman, ﴾ لِّيَتَفَقَّهُواْ ﴿ "Untuk memperdalam pengetahuan mereka", yakni orang-orang yang tidak berangkat ﴾ فِي ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوۡمَهُمۡ إِذَا رَجَعُوٓاْ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaum-nya apabila mereka telah kembali kepadanya." Yakni agar mereka belajar ilmu syar'i, mengetahui makna-maknanya, memahami rahasia-ra-hasianya, dan mengajarkan kepada selain mereka, dan agar mereka dapat memberi peringatan kepada kaumnya jika mereka kembali kepadanya. Ini mengandung keterangan tentang keutamaan ilmu, khu-susnya pemahaman dalam agama, dan bahwa ia adalah perkara terpenting, bahwa siapa yang mempelajari ilmu, maka dia harus menyebarkannya dan mengajarkannya kepada manusia serta mem-beri nasihat kepada mereka dengannya, karena menyebarnya ilmu dari seorang alim adalah termasuk keberkahannya dan pahalanya yang berkembang. Adapun seorang alim yang hanya membatasi ilmu pada dirinya, tidak mendakwakannya kepada jalan Allah de-ngan hikmah dan nasihat yang baik, serta tidak mengajarkannya kepada orang-orang bodoh yang tidak mengerti, maka manfaat apa yang didapat oleh kaum Muslimin darinya? Apa hasil dari ilmu-nya? Akhirnya dia mati dan ilmunya pun mati bersamanya, dan ini adalah hasil dari orang yang diberi ilmu dan pemahaman oleh Allah tetapi tidak mau mengajarkannya. Ayat ini juga mengandung dalil, petunjuk, dan arahan yang sangat halus kepada satu faidah penting, yaitu bahwa hendaknya kaum Muslimin menyediakan orang-orang khusus yang dapat me-nunaikan setiap kepentingan umum mereka, yang berkonsentrasi dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya, tanpa mene-ngok kepada selainnya, agar kepentingan kaum Muslimin bisa ter-laksana dan kebaikan mereka bisa terpenuhi, dan agar arah pandang serta target yang mereka tuju adalah satu, yaitu menegakkan ke-maslahatan agama dan dunia mereka, walaupun jalanNya berbeda-beda, dan caranya bermacam-macam. Jadi, perbuatannya beraneka ragam, namun targetnya adalah satu, dan ini termasuk hikmah yang bersifat umum yang berguna dalam segala urusan. 9
9:123Page 207
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قَٰتِلُواْ ٱلَّذِينَ يَلُونَكُم مِّنَ ٱلۡكُفَّارِ وَلۡيَجِدُواْ فِيكُمۡ غِلۡظَةٗۚ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلۡمُتَّقِينَ ١٢٣
O you who have believed, fight against those adjacent to you of the disbelievers and let them find in you harshness. And know that Allāh is with the righteous.
"Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan darimu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa." (At-Taubah: 123).
(123) Ini adalah petunjuk lain: Setelah Allah membimbing mereka untuk mengatur orang-orang yang terjun berperang, Dia kemudian membimbing mereka agar memulai memerangi orang-orang kafir yang paling dekat, lalu yang terdekat berikutnya, ber-sikap keras kepada mereka, tegas, berani, dan kokoh dalam meme-rangi mereka. ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa." Yakni hendaknya kamu mengeta-hui bahwa pertolongan dari Allah datang sesuai dengan ketakwaan, maka pegang teguhlah takwa secara terus menerus, niscaya Dia menolongmu dan membantumu melawan musuhmu. Keumuman pada Firman Allah, ﴾ قَٰتِلُواْ ٱلَّذِينَ يَلُونَكُم مِّنَ ٱلۡكُفَّارِ ﴿ "perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu," dikhususkan dari ayat ini dengan suatu keadaan ketika kemaslahatan ada pada memerangi orang-orang kafir yang jauh, dan jenis-jenis kemaslahatan (itu sendiri) sangat-lah banyak.
9:124–126Page 207
وَإِذَا مَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ فَمِنۡهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمۡ زَادَتۡهُ هَٰذِهِۦٓ إِيمَٰنٗاۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَزَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَهُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ ١٢٤
And whenever a sūrah is revealed, there are among them [i.e., the hypocrites] those who say, "Which of you has this increased in faith?" As for those who believed, it has increased them in faith, while they are rejoicing.
وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَتۡهُمۡ رِجۡسًا إِلَىٰ رِجۡسِهِمۡ وَمَاتُواْ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ ١٢٥
But as for those in whose hearts is disease, it has [only] increased them in evil [in addition] to their evil.1 And they will have died while they are disbelievers.
أَوَلَا يَرَوۡنَ أَنَّهُمۡ يُفۡتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٖ مَّرَّةً أَوۡ مَرَّتَيۡنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمۡ يَذَّكَّرُونَ ١٢٦
Do they not see that they are tried every year once or twice but then they do not repent nor do they remember?
"Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, 'Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?' Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir. Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?" (At-Taubah: 124-126).
(124) Allah تعالى berfirman menjelaskan keadaan orang-orang munafik dan orang-orang Mukmin pada saat turunnya al-Qur`an dan perbedaan antara kedua kelompok, Dia berfirman, ﴾ وَإِذَا مَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ ﴿ "Dan apabila diturunkan suatu surat", yang berisi suatu perintah, larangan, berita tentang DiriNya yang mulia, dan tentang perkara-perkara ghaib, serta dorongan kepada jihad, ﴾ فَمِنۡهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمۡ زَادَتۡهُ هَٰذِهِۦٓ إِيمَٰنٗاۚ ﴿ "maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, 'Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?' Yakni muncul pertanyaan tentang siapa yang bertambah imannya dari kedua kelompok itu. Allah berfirman menjelaskan kondisi yang sebenarnya, ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَزَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا ﴿ "adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya", dengan me-ngetahui, memahami, meyakini, dan mengamalkannya, serta ke-inginan kepada perbuatan baik dan menahan diri dari perbuatan buruk, ﴾ وَهُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "sedang mereka merasa gembira." Yakni sebagian mereka menyampaikan berita gembira kepada sebagian yang lain dengan nikmat Allah kepada mereka dalam bentuk diturunkannya ayat-ayatNya, bimbingan kepada memahaminya dan mengamal-kannya. Ini menunjukkan kelapangan dada mereka terhadap ayat-ayat Allah, ketenangan hati mereka, dan bersegeranya kepatuhan mereka dalam menanggapi ajakanNya.
(125) ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit", yakni, kebimbangan dan kemuna-fikan ﴾ فَزَادَتۡهُمۡ رِجۡسًا إِلَىٰ رِجۡسِهِمۡ ﴿ "maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada)." Yakni menambah-kan penyakit pada penyakit mereka (yang sudah ada), keraguan pada keraguan mereka (yang sudah ada), di mana mereka kufur kepadanya, menentangnya, dan berpaling darinya. Oleh karena itu penyakit mereka bertambah, yang menghantarkan mereka kepada kebinasaan, dan menjadikan hati mereka terkunci, sehingga ﴾ مَاتُواْ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ ﴿ "mereka mati dalam keadaan kafir." Ini adalah hukuman bagi mereka karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah, dan men-durhakai RasulNya, maka Dia menimpakan kemunafikan ke dalam hati mereka sampai hari di mana mereka bertemu denganNya.
(126) Allah تعالى berfirman mencela mereka yang terus me-nerus berpegang kepada kekufuran dan kemunafikan, ﴾ أَوَلَا يَرَوۡنَ أَنَّهُمۡ يُفۡتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٖ مَّرَّةً أَوۡ مَرَّتَيۡنِ ﴿ "Dan tidakkah mereka (orang-orang muna-fik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun", dengan penyakit dan musibah yang menimpa mereka dan dengan perintah-perintah ilahiyah yang maksudnya adalah menguji mereka. ﴾ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ ﴿ "Kemudian mereka tidak (juga) bertaubat", dari keburukan yang mereka pegang. ﴾ وَلَا هُمۡ يَذَّكَّرُونَ ﴿ "Dan tidak (pula) mengambil pelajaran?" Apa yang berguna bagi mereka maka mereka melaku-kannya dan apa yang merugikan mereka maka mereka menjauhi-nya. Allah تعالى menguji mereka sebagaimana ia adalah sunnahNya pada umat-umat lain dengan kemakmuran dan kesulitan, serta dengan perintah dan larangan, agar mereka kembali kepadaNya, namun mereka tidak bertaubat dan tidak pula mengambil pelajaran. Ayat-ayat ini mengandung dalil bahwa iman itu bertambah dan berkurang, bahwa seorang hamba harus memupuk imannya dan menjaganya serta menumbuhkannya dan memperbaharuinya agar ia selalu meningkat.
9:127Page 207
وَإِذَا مَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ نَّظَرَ بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٍ هَلۡ يَرَىٰكُم مِّنۡ أَحَدٖ ثُمَّ ٱنصَرَفُواْۚ صَرَفَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُم بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ ١٢٧
And whenever a sūrah is revealed, they look at each other, [as if saying], "Does anyone see you?" and then they dismiss themselves. Allāh has dismissed their hearts because they are a people who do not understand.
"Dan apabila diturunkan satu surat, sebagian mereka me-mandang kepada sebagian yang lain (sambil berkata), 'Adakah seorang dari (orang-orang Muslimin) yang melihat kamu?' Sesudah itu mereka pun pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebab-kan mereka adalah kaum yang tidak mengerti." (At-Taubah: 127).
(127) Yakni, bahwa orang-orang munafik yang mewaspadai turunnya surat atas mereka, telah memberitahukan isi hati mereka, bahwa jika sebuah surat turun agar mereka beriman kepadanya dan mengamalkan isinya, ﴾ نَّظَرَ بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٍ ﴿ "sebagian mereka meman-dang kepada sebagian yang lain", dengan ketetapan hati untuk tidak mengamalkannya, mereka menunggu kesempatan bersembunyi dari pandangan orang-orang beriman, dan mereka berkata, ﴾ هَلۡ يَرَىٰكُم مِّنۡ أَحَدٖ ثُمَّ ٱنصَرَفُواْۚ ﴿ "'Adakah seorang dari (orang-orang Muslimin) yang melihat kamu?' Sesudah itu mereka pun pergi", dengan sembunyi-sembunyi pulang dalam keadaan berpaling, maka Allah membalas mereka dengan hukuman sesuai dengan amal mereka. Sebagaima-na mereka berpaling dari amal maka ﴾ صَرَفَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُم ﴿ "Allah telah memalingkan hati mereka," yakni menghalanginya dari kebenaran ﴾ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ ﴿ "disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti", dengan pemahaman yang berguna bagi mereka, karena jika mereka itu memahami, niscaya mereka beriman kepada surat yang ditu-runkan dan tunduk kepada perintahnya. Yang dimaksud di sini adalah keengganan mereka yang sangat terhadap jihad dan syariat-syariat iman yang lain, sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ فَإِذَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ مُّحۡكَمَةٞ وَذُكِرَ فِيهَا ٱلۡقِتَالُ رَأَيۡتَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ يَنظُرُونَ إِلَيۡكَ نَظَرَ ٱلۡمَغۡشِيِّ عَلَيۡهِ مِنَ ٱلۡمَوۡتِۖ ﴿ "Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati." (Muhammad: 20).
9:128–129Page 207
لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١٢٨
There has certainly come to you a Messenger from among yourselves. Grievous to him is what you suffer; [he is] concerned over you [i.e., your guidance] and to the believers is kind and merciful.
فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَقُلۡ حَسۡبِيَ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُۖ وَهُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ ١٢٩
But if they turn away, [O Muḥammad], say, "Sufficient for me is Allāh; there is no deity except Him. On Him I have relied, and He is the Lord of the Great Throne."
"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat meng-inginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin. Jika mereka berpa-ling (dari keimanan), maka katakanlah, 'Cukuplah Allah bagiku, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki Arasy yang agung'." (At-Taubah: 128-129).
(128) Allah تعالى memberi nikmat kepada hamba-hambaNya yang beriman dalam bentuk diutusnya seorang Nabi yang ummi, yang termasuk dari kalangan mereka, mereka mengetahui keadaan-nya, memungkinkan mereka untuk mengambil keteladanan darinya, dan mereka tidak merasa rendah diri untuk tunduk kepadanya, dia sangat mengasihi mereka dan berusaha mewujudkan kebaikan mereka. ﴾ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ ﴿ "Berat terasa olehnya penderitaanmu." Yakni perkara yang memberatkan dan menyulitkanmu juga memberat-kannya. ﴾ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم ﴿ "Sangat menginginkan (keimanan dan kese-lamatan) bagimu." Dia menyukai kebaikan bagimu, berusaha keras menyampaikannya kepadamu, bersungguh-sungguh memberimu hidayah kepada iman, membenci keburukan menimpamu, dan ber-usaha keras menjauhkannya darimu. ﴾ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin." Yakni sangat belas kasih, dan sangat sayang kepada mereka melebihi ayah ibu mereka. Oleh karena itu haknya didahulukan di atas hak makh-luk yang lain. Wajib atas umat ini untuk beriman kepadanya, meng-hormatinya, menghargainya dan mendukungnya.
(129) ﴾ فَإِن ﴿ "Jika" mereka beriman, maka itu adalah taufik untuk mereka dan jika ﴾ تَوَلَّوۡاْ ﴿ "mereka berpaling " dari keimanan dan amal, maka tetaplah berjalan di atas jalanmu, teruslah berdakwah dan katakan, ﴾ حَسۡبِيَ ٱللَّهُ ﴿ "Cukuplah Allah bagiku." Yakni Allah yang mencukupiku segala apa yang aku perlukan. ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ ﴿ "Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia." Yakni, tiada yang disembah dengan benar selainNya. ﴾ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُۖ ﴿ "Hanya kepadaNya aku berta-wakal." Yakni aku bersandar dan percaya kepadaNya dalam meraih apa yang bermanfaat dan menolak apa yang mudarat. ﴾ وَهُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ ﴿ "Dan Dia adalah Rabb yang memiliki Arasy yang agung," yang merupakan makhluk terbesar, jika Dia adalah Rabb bagi Arasy yang agung yang meliputi seluruh makhluk, maka Dia pasti Rabb bagi makhluk selainnya.
Selesai tafsir surat at-Taubah dengan pertolongan dan karunia Allah. Segala puji bagi Allah yang pertama dan yang terakhir, yang lahir dan yang batin.
Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences