As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian
Al-Baqarah 2:136–144
2:136Page 21
قُولُوٓاْ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡنَا وَمَآ أُنزِلَ إِلَىٰٓ إِبۡرَٰهِـۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ وَٱلۡأَسۡبَاطِ وَمَآ أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَآ أُوتِيَ ٱلنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمۡ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٖ مِّنۡهُمۡ وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ ١٣٦
Say, [O believers], "We have believed in Allāh and what has been revealed to us and what has been revealed to Abraham and Ishmael and Isaac and Jacob and the Descendants [al-Asbāṭ]1 and what was given to Moses and Jesus and what was given to the prophets from their Lord. We make no distinction between any of them, and we are Muslims [in submission] to Him."
"Katakanlah (hai orang-orang Mukmin), 'Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kepadaNya kami tunduk patuh." (Al-Baqarah: 136).
(136) Ayat yang mulia ini meliputi seluruh perkara yang wajib diimani. Ketahuilah bahwasanya iman yang artinya pembe-naran hati yang total terhadap dasar-dasar ini, dan pengakuannya yang diikuti dengan perbuatan-perbuatan hati dan tubuh, dan keimanan itu -dengan kategori seperti ini- termasuk di dalamnya kata Islam juga seluruh amalan-amalan shalih, maka itu semua adalah sebagian dari iman dan merupakan suatu pengaruh dari pengaruh-pengaruhnya. Maka ketika disebutkan kata iman secara bebas, maka perkara-perkara yang disebutkan akan masuk ke dalamnya, demikian pula kata Islam, bila disebutkan secara bebas, maka iman masuk ke dalamnya, namun bila disandingkan bersama, maka iman berarti apa yang ada dalam hati berupa keyakinan dan kepercayaan, sedang Islam adalah nama perbuatan-perbuatan zahir. Demikian pula apabila dia menggabungkan antara iman dan amal shalih. Dan Firman Allah تعالى, ﴾ قُولُوٓاْ ﴿ "Katakanlah," yakni, dengan lisan kalian yang didasari dari hati kalian, dan inilah perkataan yang sempurna yang mendatangkan ganjaran dan balasan, seba-gaimana juga perkataan dengan lisan tanpa ada keyakinan dalam hati adalah sebuah kemunafikan dan kekufuran. Perkataan yang lepas dari perbuatan -perbuatan hati- sangat tidak berpengaruh dan tidak berguna, walaupun seorang hamba itu akan diberikan ganjaran apabila baik, dan kebaikan itu didasari oleh keimanan, akan tetapi dibedakan antara perkataan semata dengan perkataan yang dibarengi dengan perbuatan hati. Dalam FirmanNya, ﴾ قُولُوٓاْ ﴿ "Katakanlah," ada sebuah petunjuk untuk menampakkan akidah, menyatakan secara terang-terangan dan berdakwah kepadanya, karena akidah adalah dasar agama dan pondasinya. Dan dalam FirmanNya, ﴾ ءَامَنَّا ﴿ "Kami beriman," dan semacamnya yang berbentuk adanya suatu perbuatan yang dinisbatkan kepada seluruh umat, adalah sebuah petunjuk kepada suatu hal, bahwa umat ini wajib berpegang teguh kepada tali agama Allah secara keseluruhan, dan sebuah anjuran untuk bersatu agar pendorong bagi mereka adalah satu dan amalan mereka bersatu, juga termasuk larangan dari perpecahan, dalam kondisi seperti itu kaum Mukminin adalah seperti satu tubuh. Dalam Firman Allah تعالى, ﴾ قُولُوٓاْ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ. . . ﴿ "Katakanlah (hai orang-orang Mukmin), 'Kami beriman kepada Allah...' hingga akhir, terkan-dung sebuah dalil akan bolehnya seseorang menisbahkan keimanan kepada dirinya dalam bentuk pembatasan, bahkan ini adalah dalil atas wajibnya penisbatan tersebut, berbeda dengan perkataan, "Saya seorang Mukmin," atau semacamnya, karena perkataan ini tidaklah diucapkan kecuali dibarengi pengecualian dengan kehen-dak Allah, karena mengandung penyucian diri dan kesaksian atas diri sendiri dengan keimanan. Maka FirmanNya, ﴾ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ ﴿ "Kami beriman kepada Allah," yakni bahwasanya Dia adalah pasti ada dan Satu lagi Esa, yang bersifat dengan segala sifat-sifat yang sempurna, terlepas dari setiap kekurangan dan aib, berhak untuk diesakan dalam seluruh ibadah dan tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu pun dalam segala bentuknya. ﴾ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡنَا ﴿ "Dan apa yang diturunkan kepada kami," yang me-liputi al-Qur`an dan as-Sunnah berdasarkan Firman Allah تعالى, ﴾ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu." (An-Nisa`: 113). Maka iman masuk di dalamnya sebagaimana yang dikandung Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ﷺ dari sifat-sifat Allah dan sifat-sifat NabiNya, Hari Akhir, hal-hal ghaib yang telah lampau maupun yang akan datang, keimanan terhadap apa yang juga dikandungnya dari hukum-hukum syariat yang bersifat perintah dan larangan, hukum tentang ganjaran dan lain sebagainya,﴾ وَمَآ أُنزِلَ إِلَىٰٓ إِبۡرَٰهِـۧمَ...﴿ "dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim" hingga akhir ayat, menunjukkan keimanan kepada seluruh kitab-kitab yang di-turunkan kepada seluruh Nabi, juga keimanan kepada para Nabi secara umum dan secara khusus kepada Nabi-nabi yang jelas dise-butkan dalam ayat-ayat, karena kemuliaan mereka dan pelaksanaan mereka terhadap syariat-syariat yang penting. Maka yang wajib dalam beriman kepada para Nabi dan kitab-kitab adalah untuk beriman kepada mereka secara umum dan menyeluruh, kemudian apa yang telah diketahui secara terperinci wajib diimani dengan terperinci juga. FirmanNya, ﴾ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka," akan tetapi kami beriman kepada mereka semua, hal ini adalah suatu keistimewaan kaum Muslimin yang membedakan mereka dengan orang-orang yang mengaku bahwa dia menganut suatu agama. Kaum Yahudi, Nasrani, orang-orang shabi'ah dan selain mereka, walaupun mereka mengaku beriman kepada Nabi-nabi dan kitab-kitab yang mereka yakini, namun mereka mengingkari selainnya, mereka membeda-bedakan antara para Nabi dan kitab-kitab, mereka beriman kepada sebagian dan mengingkari yang lain, yang oleh karenanya pendustaan me-reka itu membatalkan kepercayaan mereka sendiri. Rasul yang mereka klaim bahwa mereka beriman kepadanya saja telah mempercayai seluruh Rasul dan khususnya kepada Rasu-lullah Muhammad ﷺ, maka bila mereka mendustai Muhammad ﷺ, berarti mereka telah mendustai Rasul mereka tersebut tentang apa yang telah dia kabarkan yang menjadikan mereka mengingkari Rasul mereka sendiri. Dan dalam Firman Allah تعالى, ﴾ وَمَآ أُوتِيَ ٱلنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمۡ ﴿ "Serta apa yang diberikan kepada Nabi-nabi dari Tuhannya," ada-lah dalil yang menunjukkan bahwa pemberian agama adalah suatu pemberian yang hakiki yang berhubungan dengan kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah tidak memerintahkan kepada kita untuk beriman kepada sesuatu yang diberikan kepada para Nabi berupa kerajaan dan harta atau semacamnya, namun Allah memerintahkan kepada kita agar beriman kepada sesuatu yang diberikan kepada mereka berupa kitab-kitab dan syariat-syariat. Ayat ini juga menunjukkan bahwasanya para Nabi itu adalah pembawa berita dari Allah dan menjadi perantara antara Allah dengan makhluk-makhlukNya dalam misi penyampaian agamaNya, dan dalam urusan itu mereka tidak punya hak sedikit pun. Dan dalam FirmanNya, ﴾ مِن رَّبِّهِمۡ ﴿ "Dari tuhannya," terkandung sebuah penjelasan bahwa di antara kesempurnaan rububiyah Allah terhadap hamba-hambaNya adalah bahwa Dia menurunkan kepada mereka kitab-kitab suci dan mengutus Rasul-rasul buat mereka. RububiyahNya menuntut untuk tidak membiarkan mereka sia-sia dan tidak diperhatikan, dan apabila apa yang diberikan kepada para Nabi itu berasal dari Tuhan mereka, maka di sana terkandung sebuah perbedaan antara para Nabi dan orang-orang yang mengaku sebagai Nabi, dan bahwasanya sangat jelas perbedaan mereka itu dengan sekedar mengetahui apa yang mereka dakwahkan. Para Rasul hanya menyeru kepada kebaikan dan hanya melarang dari setiap yang buruk, dan setiap orang di antara mereka mempercayai yang lainnya, menyaksikannya atas kebenaran tanpa ada perseli-sihan dan pertentangan, karena semuanya berasal dari Tuhan mereka yang Satu. ﴾ وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِندِ غَيۡرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ ٱخۡتِلَٰفٗا كَثِيرٗا 82 ﴿ "Kalau kiranya al-Qur`an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (An-Nisa`: 82). Ini berbeda jauh dari orang-orang yang mengaku sebagai Nabi, pastilah terjadi pertentangan di antara mereka dalam kabar-kabar mereka, perintah-perintah mereka, larangan-larangan me-reka, sebagaimana hal itu telah diketahui oleh orang yang telah mencermati kehidupan mereka dan mengetahui apa-apa yang mereka dakwahkan. Dan ketika Allah تعالى menjelaskan seluruh hal yang harus diimani secara umum dan khusus, dan perkataan itu tidaklah berguna tanpa amalan, maka Allah berfirman, ﴾ وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ ﴿ "Dan kepadaNya kami tunduk patuh," maksudnya, pasrah kepada keagunganNya, patuh dalam menyembahNya secara lahir maupun batin, ikhlas dalam menyembahNya. Itu semua didasari oleh dalil didahulukannya kata yang menjadi obyek yaitu, ﴾ لَهُۥ ﴿ "kepadaNya," daripada kata yang menjadi subyek, ﴾ مُسۡلِمُونَ ﴿ "kami tunduk patuh." Ayat ini mengandung -dengan ringkas dan intisarinya- ma-cam-macam tauhid yang tiga, yaitu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid Asma` wa Shifat. Ayat ini juga mengandung keimanan kepada seluruh Rasul dan seluruh kitab (yang diturunkan Allah), dan mengandung pengkhususan yang bermaksud pengutamaan setelah adanya penyebutan secara global, juga pembenaran dengan hati, lisan, dan anggota tubuh, serta keikhlasan hanya kepada Allah dalam semua itu, juga perbedaan antara para Rasul yang benar dan orang-orang yang mengaku sebagai Nabi lagi pendusta berdasarkan pengajaran Allah kepada hamba-hambaNya bagaimana cara berbicara, berda-sarkan kasih sayangNya dan kebaikanNya kepada mereka dengan segala nikmat-nikmatNya yang agamis yang berhubungan dengan kebahagiaan dunia maupun akhirat. Mahasuci Allah Dzat yang telah menjadikan kitabNya sebagai penjelas akan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
2:137Page 21
فَإِنۡ ءَامَنُواْ بِمِثۡلِ مَآ ءَامَنتُم بِهِۦ فَقَدِ ٱهۡتَدَواْۖ وَّإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّمَا هُمۡ فِي شِقَاقٖۖ فَسَيَكۡفِيكَهُمُ ٱللَّهُۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ١٣٧
So if they believe in the same as you believe in, then they have been [rightly] guided; but if they turn away, they are only in dissension, and Allāh will be sufficient for you against them. And He is the Hearing, the Knowing.
"Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (denganmu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengeta-hui." (Al-Baqarah: 137).
(137) Maknanya, apabila ahli Kitab beriman seperti ber-imannya kalian (kaum Mukminin) kepada seluruh Rasul, (termasuk dari mereka seorang Nabi dan yang paling utama yaitu Muhammad) dan seluruh Kitab (termasuk al-Qur`an), dan mereka berserah diri hanya kepada Allah semata dan mereka tidak membeda-bedakan salah seorang di antara para Rasul itu, ﴾ فَقَدِ ٱهۡتَدَواْۖ ﴿ "sungguh mereka telah mendapat petunjuk" kepada jalan yang lurus yang menyam-paikan kepada surga yang penuh kenikmatan. Artinya, tidak ada jalan menuju kepada hidayah bagi mereka kecuali dengan keimanan tersebut, dan bukan seperti apa yang mereka sangkakan dalam perkataan mereka, "Jadilah orang Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk," mereka mengklaim bahwa petunjuk itu khusus dengan apa yang mereka anut. Hidayah itu adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkan-nya, sedangkan lawannya adalah kesesatan dari ilmu dan kesesatan dari amal perbuatan setelah berilmu, dan itulah penentangan yang pernah terjadi pada mereka ketika mereka berpaling dan meng-ingkari. Orang yang menentang itu adalah orang yang berada di satu pihak sedang Allah dan RasulNya di pihak yang lain, dan konsekuensi dari penentangan itu adalah permusuhan dan pertem-puran yang dahsyat yang mana hal-hal yang harus ada dari hal itu adalah mengerahkan segala apa yang mereka mampu dalam meng-ganggu Rasul ﷺ. Oleh karena itu Allah menjanjikan RasulNya untuk melindunginya dari mereka karena Dia adalah ﴾ ٱلسَّمِيعُ ﴿ "Yang Maha Mendengar" seluruh suara dengan segala macam bahasa dengan berbagai keperluan, ﴾ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "lagi Maha Mengetahui" apa yang ada pada mereka, dan yang di belakang mereka, yang ghaib maupun yang nyata, yang batin maupun yang lahir. Apabila kon-disinya seperti itu, maka Allah akan melindungimu dari kejahatan mereka. Dan sesungguhnya Allah telah menunaikan janjiNya kepada RasulNya, Allah membuat RasulNya menguasai mereka hingga sebagian mereka terbunuh, sebagian lain ditawan, sebagian yang lain diusir dan setiap pendepak mendepak mereka dengan kasar. Ayat ini menunjukkan sebuah mukjizat di antara mukjizat-mukjizat al-Qur`an yaitu mengabarkan suatu hal sebelum terjadi lalu terbukti terjadi sesuai dengan apa yang dikabarkannya.
2:138Page 21
صِبۡغَةَ ٱللَّهِ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ صِبۡغَةٗۖ وَنَحۡنُ لَهُۥ عَٰبِدُونَ ١٣٨
[And say, "Ours is] the religion of Allāh. And who is better than Allāh in [ordaining] religion? And we are worshippers of Him."
"Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepadaNya-lah kami menyembah." (Al-Baqarah: 138).
(138) Maksudnya, peganglah shibghah[15] Allah yaitu agama-Nya, tegakkanlah dia dengan penegakan sebenar-benarnya dengan segala perbuatan lahir maupun batin, dan juga akidah-akidahnya pada setiap waktu, hingga hal itu menjadi shibghah dan sifat di antara sifat-sifat kalian, lalu apabila dia adalah sifat dari sifat-sifat kalian, maka hal itu mengharuskan kalian untuk tunduk kepada perintah-perintahNya secara pasrah, penuh kesadaran dan kecin-taan, hingga agama menjadi tabiat kalian seperti sebuah celupan yang sempurna bagi sebuah pakaian yang jelas menjadi sifat bagi-nya, sehingga tercapailah kebahagiaan dunia maupun akhirat, karena agama menganjurkan kepada akhlak yang mulia, amalan yang luhur, dan perkara yang indah. Oleh karena itu, Allah berfirman sebagai kekaguman yang jelas bagi akal yang sehat, ﴾ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ صِبۡغَةٗۖ ﴿ "Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah?" Maksudnya, tidak ada yang lebih baik shibghahnya dari shibghah Allah. Apabila Anda ingin tahu salah satu contohnya yang menjelaskan kepada Anda tentang per-bedaan shibghah Allah dengan shibghah selainNya, maka analogi-kanlah sesuatu dengan hal yang berkontradiksi dengannya, bagai-manakah Anda melihat seorang hamba yang beriman kepada Tuhannya dengan keimanan yang benar yang mempengaruhi kepasrahan hati dan ketundukan anggota tubuh dengannya, dan dia akan selalu menghiasi dirinya dengan sifat-sifat yang mulia, amalan yang baik, adab yang luhur dan tata krama yang santun, juga menjauhkan dirinya dari sifat-sifat yang jelek, hina dan dina, maka sifatnya adalah kejujuran dalam perkataan dan perbuatan, sabar, ramah tamah, menjaga diri, berani, berbuat baik lewat lisan maupun tindakan, mencintai Allah, takut kepadaNya, khawatir akan pembalasanNya, mengharapNya, hingga dia ikhlas hanya untuk Allah dan berlaku baik kepada hamba-hambaNya, banding-kanlah dengan seorang hamba yang mengingkari Tuhannya, jauh dariNya dan mendekat kepada selainNya dari makhluk-makhluk-Nya. Dia mempunyai sifat yang buruk seperti kufur, syirik, dusta, khianat, tipu daya, tidak menjaga diri, dan berbuat tidak baik kepada makhluk secara lisan maupun tindakan, maka tidak ada keikhlasan kepada TuhanNya dan tidak juga berbuat baik kepada hamba-hambaNya. Dengan demikian sangatlah jelas perbedaan-nya bagi Anda di antara kedua hamba tersebut, dan mengertilah Anda bahwa tidak ada shibghah yang lebih baik daripada shibghah Allah, dan termasuk makna hal ini adalah tidak ada shibghah yang lebih jelek daripada orang yang tercelup dengan shibghah selain agama Allah. Dalam FirmanNya, ﴾ وَنَحۡنُ لَهُۥ عَٰبِدُونَ ﴿ "Dan hanya kepadaNya-lah kami menyembah," terkandung sebuah penjelasan akan shibghah tersebut yaitu menunaikan dua dasar; keikhlasan dan mengikuti contoh, karena ibadah itu adalah sebuah kata yang menyeluruh bagi setiap hal yang dicintai oleh Allah dan diridhaiNya, baik perbuatan maupun perkataan lahir maupun batin, dan hal itu tidak bisa ter-jadi, hingga Allah mensyariatkannya melalui lisan RasulNya. Keikhlasan itu adalah, seorang hamba menghendaki Wajah Allah semata dalam perbuatan-perbuatan tersebut, dan dengan mendahulukan kata yang menjadi obyek, maka maknanya bermak-sud pembatasan. Dan Allah berfirman, ﴾ وَنَحۡنُ لَهُۥ عَٰبِدُونَ ﴿ "Dan hanya kepadaNya-lah kami menyembah." Allah menjelaskan mereka dengan memakai kata "isim fa'il" atau kata benda pelaku yang menunjuk-kan akan kelanggengan dan keberlangsungan agar menunjukkan bahwa mereka bersifat seperti itu, dan hal itu telah menjadi shibghah bagi mereka secara pasti.
2:139Page 21
قُلۡ أَتُحَآجُّونَنَا فِي ٱللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمۡ وَلَنَآ أَعۡمَٰلُنَا وَلَكُمۡ أَعۡمَٰلُكُمۡ وَنَحۡنُ لَهُۥ مُخۡلِصُونَ ١٣٩
Say, [O Muḥammad], "Do you argue with us about Allāh while He is our Lord and your Lord? For us are our deeds, and for you are your deeds. And we are sincere [in deed and intention] to Him."
"Katakanlah, 'Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu, bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepadaNya kami mengikhlaskan hati'." (Al-Baqarah: 139).
(139) Kata اَلْمَحَاجَّةُ bermakna perdebatan antara dua orang atau lebih dalam masalah-masalah khilafiyah hingga setiap pihak dari kedua belah pihak mengusahakan untuk menguatkan argumen-argumen mereka dan menjatuhkan argumen-argumen lawannya, setiap pihak dari mereka berusaha untuk menegakkan argumen dalam hal tersebut. Yang diharapkan dalam perdebatan itu adalah seharusnya berjalan dengan cara yang paling baik, dengan jalan yang paling dekat untuk mengembalikan seseorang yang tersesat kepada kebenaran, dan menegakkan hujjah atas orang-orang yang keras kepala, menjelaskan kebenaran dan menerangkan kebatilan. Jika keluar dari prinsip-prinsip di atas, maka perdebatan itu men-jadi sebuah perdebatan kusir dan pertengkaran mulut yang tidak ada gunanya, dan dapat menimbulkan keburukan. Para ahli Kitab mengaku bahwa mereka adalah yang paling berhak kepada Allah daripada kaum Muslimin. Ini hanyalah sebatas pengakuan yang butuh dalil dan keterangan yang kuat. Apabila Tuhan bagi semuanya hanya satu dan bukan Tuhan kalian saja, dan setiap dari kita dan kalian memiliki amal perbuatan, hingga kalian[16] dan kami sama sederajat dalam hal itu, dengan demikian hal itu tidaklah mengharuskan adanya salah satu dari kedua kelompok itu lebih berhak kepada Allah dari lainnya, karena pembedaan dengan adanya keikutsertaan dalam suatu hal tanpa ada perbedaan yang mempengaruhi adalah sebuah pengakuan yang kosong dan batil, dan memisahkan antara kedua hal yang semisal adalah suatu kecongkakan yang jelas sekali. Hanya saja dapat terjadi pengutamaan yang didasarkan dengan keikhlasan dalam amalan-amalan shalih hanya untuk Allah semata. Dan kon-disi yang seperti itu hanyalah sifat kaum Mukminin saja, maka pas-tilah bahwa merekalah yang paling berhak kepada Allah daripada selainnya, karena keikhlasan adalah jalan menuju keselamatan. Inilah perbedaan antara wali-wali ar-Rahman dan wali-wali setan dalam sifat-sifat yang hakiki yang diterima oleh orang-orang yang berakal dan tidak diperdebatkan kecuali oleh orang yang sombong dan bodoh. Ayat ini menunjukkan sebuah bimbingan yang baik dalam perdebatan, dan bahwasanya segala perkara itu harus berdasar atas asas penggabungan antara hal-hal yang semi-sal, dan pemisahan antara hal-hal yang berbeda.
2:140Page 21
أَمۡ تَقُولُونَ إِنَّ إِبۡرَٰهِـۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ وَٱلۡأَسۡبَاطَ كَانُواْ هُودًا أَوۡ نَصَٰرَىٰۗ قُلۡ ءَأَنتُمۡ أَعۡلَمُ أَمِ ٱللَّهُۗ وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن كَتَمَ شَهَٰدَةً عِندَهُۥ مِنَ ٱللَّهِۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ ١٤٠
Or do you say that Abraham and Ishmael and Isaac and Jacob and the Descendants were Jews or Christians? Say, "Are you more knowing or is Allāh?" And who is more unjust than one who conceals a testimony1 he has from Allāh? And Allāh is not unaware of what you do.
"Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) me-ngatakan bahwa Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah, 'Apa-kah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?' Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan." (Al-Baqarah: 140).
(140) Ini juga merupakan klaim lain dari mereka dan se-buah perdebatan mengenai Rasul-rasul Allah. Mereka mengklaim bahwa mereka lebih berhak kepada para Rasul yang disebutkan daripada kaum Muslimin, lalu Allah membantah mereka dengan FirmanNya, ﴾ ءَأَنتُمۡ أَعۡلَمُ أَمِ ٱللَّهُۗ ﴿ "Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah?" Allah juga berfirman, ﴾ مَا كَانَ إِبۡرَٰهِيمُ يَهُودِيّٗا وَلَا نَصۡرَانِيّٗا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفٗا مُّسۡلِمٗا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ 67 ﴿ "Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik." (Ali Imran: 67). Mereka berkata bahwasanya Nabi Ibrahim itu Yahudi atau Nasrani, kemungkinan merekalah yang benar dan mengetahui ataukah Allah-lah yang benar dan mengetahui hal tersebut? Maka salah satu dari kemungkinan itulah yang benar dan pasti ada. Gambaran jawabannya seakan-akan kurang jelas, padahal sangat jelas dan nampak sekali, hingga karena kejelasannya itu tidaklah akan didebat lagi bila dikatakan bahwa Allah-lah yang lebih tahu dan lebih benar, dan semacam itu karena sangat jelas sekali bagi setiap orang. Hal ini seperti kita mengatakan; apakah malam lebih terang ataukah siang? Api lebih panas ataukah air? Kesyirikan lebih baik ataukah tauhid? Dan semacamnya. Hal seperti ini dapat diketahui oleh orang yang paling kerdil akalnya sekalipun, bahkan mereka sendiri pun mengetahui hal ini dan mengetahui bahwa Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya bukanlah Yahudi dan bukan pula Nasrani, mereka menyembunyikan pengetahuan dan kesak-sian mereka, oleh karena itu kezhaliman mereka itu adalah kezha-liman yang paling besar. Karena itu Allah berfirman,﴾ وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن كَتَمَ شَهَٰدَةً عِندَهُۥ مِنَ ٱللَّهِۗ ﴿ "Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?" Mak-sudnya, kesaksian mereka yang merupakan titipan dari Allah تعالى dan bukan dari makhluk sehingga memerlukan adanya perhatian yang besar dengan menegakkannya, namun mereka menyembu-nyikannya dan menampakkan yang sebaliknya. Mereka menyatu-kan antara menyembunyikan kebenaran dan tidak mengucapkan-nya dengan menampakkan kebatilan dan berdakwah kepadanya. Tidakkah tindakan mereka ini adalah sebesar-besarnya kezhaliman? Memang benar, dan Allah akan menghukum mereka karena hal itu dengan seberat-beratnya siksaan. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan." Allah menghitung perbuatan-perbuatan mereka dan menyimpannya serta menyiapkan balasannya bagi mereka, maka seburuk-buruk balasan adalah balasan mereka, dan neraka itu sangatlah buruk, yang menjadi tempat kembali orang-orang yang zhalim. Beginilah metode al-Qur`an dalam menyebutkan Ilmu dan Kuasa Allah setelah ayat-ayat yang mengandung perbuatan-per-buatan yang akan diberikan ganjaran. Hal itu berarti sebuah janji dan ancaman, harapan dan kekhawatiran, demikian juga penye-butan nama-nama Allah setelah ketetapan hukum bahwa perkara agama dan balasan adalah sebuah akibat di antara akibat-akibatnya, dan motif-motif pendorongnya yang menuntut suatu pembalasan.
2:141Page 21
تِلۡكَ أُمَّةٞ قَدۡ خَلَتۡۖ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَلَكُم مَّا كَسَبۡتُمۡۖ وَلَا تُسۡـَٔلُونَ عَمَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٤١
That is a nation which has passed on. It will have [the consequence of] what it earned, and you will have what you have earned. And you will not be asked about what they used to do.
"Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusaha-kannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan." (Al-Baqarah: 141).
(141) Telah berlalu tafsir ayat tersebut. Dan Allah meng-ulang ayat ini untuk memupuskan adanya ketergantungan kepada makhluk, dan bahwasanya yang menjadi sandaran adalah apa yang menjadi sifat manusia itu, bukan dari perbuatan para pendahulu dan nenek moyangnya. Maka manfaat yang sebenarnya adalah dengan perbuatan, bukan dengan sebatas penisbatan diri kepada orang.
2:142–143Page 22
۞ سَيَقُولُ ٱلسُّفَهَآءُ مِنَ ٱلنَّاسِ مَا وَلَّىٰهُمۡ عَن قِبۡلَتِهِمُ ٱلَّتِي كَانُواْ عَلَيۡهَاۚ قُل لِّلَّهِ ٱلۡمَشۡرِقُ وَٱلۡمَغۡرِبُۚ يَهۡدِي مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ١٤٢
The foolish among the people will say, "What has turned them away from their qiblah,1 which they used to face?"2 Say, "To Allāh belongs the east and the west. He guides whom He wills to a straight path."
وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةٗ وَسَطٗا لِّتَكُونُواْ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيۡكُمۡ شَهِيدٗاۗ وَمَا جَعَلۡنَا ٱلۡقِبۡلَةَ ٱلَّتِي كُنتَ عَلَيۡهَآ إِلَّا لِنَعۡلَمَ مَن يَتَّبِعُ ٱلرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِۚ وَإِن كَانَتۡ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۗ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١٤٣
And thus We have made you a median [i.e., just] community that you will be witnesses over the people and the Messenger will be a witness over you. And We did not make the qiblah which you used to face except that We might make evident who would follow the Messenger from who would turn back on his heels.1 And indeed, it is difficult except for those whom Allāh has guided. And never would Allāh have caused you to lose your faith [i.e., your previous prayers]. Indeed Allāh is, to the people, Kind and Merciful.
"Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata, 'Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?' Katakanlah, 'Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya ke jalan yang lurus. Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…." (Al-Baqarah: 142-143).
(142) Ayat pertama meliputi mukjizat dan hiburan serta menenangkan hati kaum Mukminin, juga sebuah bantahan beserta jawabannya dari tiga faktor, dan sifat orang-orang yang memban-tah serta sifat orang-orang yang menerima hukum Allah sebagai agamanya. Allah تعالى memberikan kabar bahwasanya orang-orang bodoh di antara manusia akan membantah, yaitu mereka yang tidak mengenal kemaslahatan bagi diri mereka sendiri, bahkan mereka menyia-nyiakannya dan menukarnya dengan harga yang paling rendah, mereka itu adalah Yahudi dan Nasrani dan orang-orang yang semisal dengan mereka dari orang-orang yang suka membantah hukum-hukum Allah dan syariat-syariatNya. Yang demikian itu karena kaum Muslimin diperintahkan untuk meng-hadap ke Baitul Maqdis selama mereka menetap di Makkah, kemu-dian setelah hijrah ke Madinah kira-kira satu tahun setengah lama-nya; karena Allah memiliki hikmah-hikmah di balik itu semua yang akan disebutkan sebagiannya, dan hikmahNya menuntut adanya perintah kepada mereka untuk menghadap ke Ka'bah. Lalu Allah mengabarkan kepada mereka bahwa orang-orang bodoh di antara manusia itu pasti akan berkata,﴾ مَا وَلَّىٰهُمۡ عَن قِبۡلَتِهِمُ ٱلَّتِي كَانُواْ عَلَيۡهَاۚ ﴿ "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya," yakni, menghadap Baitul Maqdis, maksudnya apa yang menyebabkan mereka berpaling darinya? Hal ini adalah sebuah bantahan terha-dap hukum Allah, syariat, karunia, dan kebaikanNya. Maka Allah menghibur mereka dan Dia mengabarkan tentang kejadiannya serta hal seperti itu hanya terjadi dari orang-orang bodoh yang sedikit akal, sedikit keramahan, dan miskin agama. Maka janganlah kalian mempedulikan mereka karena telah diketahui sumber perkataan itu. Orang yang berakal tidaklah akan mempedulikan ocehan orang bodoh dan tidak mengambil pusing tentangnya. Ayat ini menunjukkan bahwa tidaklah akan membantah terhadap hukum-hukum Allah kecuali orang bodoh, dungu, dan pembangkang. Sedangkan orang yang berakal, lagi beriman dan pandai, pastilah akan menerima hukum-hukum Allah dengan kepasrahan, ketundukan, serta kepatuhan, sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ ﴿ "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang Mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah mene-tapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka." (Al-Ahzab: 36), dan juga Firman Allah, ﴾ فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ﴿ "Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan." (An-Nisa`: 65), dan FirmanNya, ﴾ إِنَّمَا كَانَ قَوۡلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ أَن يَقُولُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۚ ﴿ "Sesungguhnya jawaban orang-orang Mukmin, bila mereka di-panggil kepada Allah dan RasulNya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, 'Kami mendengar, dan kami patuh'." (An-Nur: 51). FirmanNya, ﴾ ٱلسُّفَهَآءُ ﴿ "Orang-orang bodoh," sudah cukup untuk menolak perkataan mereka dan tidak perlunya mempedulikan mereka. Akan tetapi Allah تعالى dengan adanya hal itu tidak akan membiarkan suatu syubhat hingga Dia menghilangkan dan me-nyingkap apa yang akan dibeberkan kepada sebagian hati dari bantahan tersebut. Maka Allah berfirman, ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah" kepada mereka sebagai jawaban, ﴾ لِّلَّهِ ٱلۡمَشۡرِقُ وَٱلۡمَغۡرِبُۚ يَهۡدِي مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "Ke-punyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya ke jalan yang lurus," maksudnya, apabila arah barat dan timur adalah milik Allah dan tidak ada satu arah pun yang keluar dari kekuasaan Allah, dan dengan ini Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus, yang di antaranya adalah petunjukNya kepada kalian untuk menghadap ke kiblat tersebut yang merupakan ajaran bapak kalian Ibrahim, lalu untuk apa orang yang membantah itu melakukan bantahan tentang perpindahan kiblat kalian kepada arah yang ter-masuk bagian dari kekuasaan Allah? Dan kalian tidak menghadap sebuah arah yang bukan kekuasaan Allah. Dengan hujjah tersebut saja wajiblah ketundukan kepada perintahNya, lalu bagaimana pula bila hal itu adalah karunia Allah dan petunjukNya, serta kebaikan-Nya kepada kalian yang memberikan petunjuk kepada kalian me-nuju hal tersebut? Orang yang membantah kalian berarti dia telah membantah karunia Allah, karena dengki dan zhalim terhadap kalian. Dan ketika Firman Allah, ﴾ يَهۡدِي مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya ke jalan yang lurus" bersifat mutlak (tidak terbatas), sedangkan sesuatu yang tidak terbatas itu harus dimaknai dengan hal yang telah membatasinya, maka hida-yah dan kesesatan itu memiliki sebab-sebab yang telah menjadi suatu keharusan dari hikmah Allah تعالى dan keadilanNya, dan sesungguhnya Allah telah mengabarkan dalam ayat lain tentang sebab-sebab hidayah, yang mana apabila seorang hamba melaku-kan sebab-sebab itu, niscaya dia akan memperoleh hidayah, seba-gaimana Allah berfirman, ﴾ يَهۡدِي بِهِ ٱللَّهُ مَنِ ٱتَّبَعَ رِضۡوَٰنَهُۥ سُبُلَ ٱلسَّلَٰمِ ﴿ "Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaanNya ke jalan keselamatan." (Al-Ma`idah: 16). Dalam ayat ini Allah menyebutkan suatu sebab yang meng-akibatkan umat ini memperoleh hidayah secara mutlak dengan se-gala bentuk hidayah, dan Allah menganugerahkannya bagi mereka, Allah berfirman,
(143) ﴾ وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةٗ وَسَطٗا ﴿ "Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang pertengahan," yakni tegak dan terpilih, sedangkan yang selain pertengahan adalah ujung dan pinggir yang tergolong dalam mara bahaya; Allah menjadikan umat ini sebagai pertengahan dalam segala perkara agama. Pertengahan (dalam keyakinan dan sikap) terhadap para Nabi di antara orang-orang yang melampaui batas terhadap mereka seperti Nasrani dengan orang-orang yang berpaling dari mereka seperti Yahudi, yaitu dengan beriman kepada mereka seluruhnya dengan cara yang benar. Pertengahan dalam syariat, tidak seperti sikap berlebih-lebih-annya orang-orang Yahudi dan kesalahan-kesalahan mereka, tidak pula seperti tindakan asal-asalan orang-orang Nasrani. Dalam hal bersuci dan makanan, tidak seperti Yahudi yang (menurut mereka) suatu shalat tidak akan sah kecuali dalam tempat ibadah dan biara-biara mereka, tidak pula air menyucikan mereka dari najis-najis, dan sesungguhnya telah diharamkan atas mereka makanan yang baik sebagai suatu hukuman bagi mereka. Tidak pula seperti Nasrani yang sama sekali tidak menganggap sesuatu pun sebagai najis, dan tidak pula mengharamkan sesuatu pun, akan tetapi mereka membolehkan segala yang berjalan maupun yang merangkak, sedang kesucian kaum Muslimin adalah kesucian paling sempurna dan paling lengkap. Allah تعالى menghalalkan bagi mereka segala yang baik dari berbagai macam makanan, minuman, dan pakaian, serta mengha-ramkan bagi mereka segala yang buruk dari itu semua. Umat ini memiliki agama paling sempurna, akhlak paling mulia, dan amalan-amalan paling utama. Allah تعالى telah mengaruniakan kepada me-reka ilmu, keramahan, keadilan, kebaikan perbuatan yang tidak Allah karuniakan kepada umat-umat sebelumnya selain mereka. Oleh karena itu, mereka adalah ﴾ أُمَّةٗ وَسَطٗا ﴿ "umat yang pertengahan," yang sempurna lagi seimbang, agar mereka menjadi ﴾ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ ﴿ "saksi atas perbuatan manusia," karena keadilan dan keputusan me-reka yang adil, di mana mereka menghukumi seluruh manusia dari segala macam pemeluk agama dan tidak ada yang menghukum semua itu selain dari mereka; maka apa pun yang diterima oleh umat ini, niscaya itu diterima, dan apa pun yang ditolak, niscaya tertolak. Bila ditanyakan, "Bagaimana mungkin keputusan mereka atas manusia dapat diterima padahal setiap dari kedua belah pihak yang bersengketa tidak dapat menerima perkataan pihak yang lain? Dijawab: Tidak dapat diterimanya perkataan salah satu pihak dari kedua pihak yang bersengketa adalah karena adanya suatu tuduhan, adapun bila tidak ada tuduhan tertentu dan hanya ada keadilan yang sempurna, sebagaimana yang terdapat pada umat ini, maka yang sebenarnya dimaksudkan adalah berhukum dengan keadilan dan kebenaran, dan syarat semua itu adalah ilmu dan keadilan, sedangkan kedua hal itu terdapat pada umat ini yang pada akhirnya perkataannya dapat diterima. Apabila ada seseorang yang ragu tentang keutamaannya, lalu dia meminta seseorang yang dapat menguatkan keutamaannya, maka dia adalah Nabi mereka, Muhammad ﷺ sebaik-baik makhlukNya. Oleh karena itu Allah تعالى berfirman, ﴾ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيۡكُمۡ شَهِيدٗاۗ ﴿ "Dan agar Rasul menjadi saksi atas perbuatan kamu," dan di antara kesaksian umat ini terhadap umat-umat yang lain adalah bahwasanya di Hari Kiamat Allah سبحانه وتعالى bertanya kepada para Rasul tentang dakwah mereka dan umat-umat yang mendustai dakwah tersebut, sedangkan mereka mengingkari bahwa para Rasul itu telah menyampaikan dakwah mereka, maka para Rasul itu meminta persaksian kepada umat ini yang akhirnya direkomendasikan oleh Nabi mereka. Ayat ini merupakan dalil bahwa ijma' (konsensus) umat ini merupakan suatu hujjah yang pasti kuat, dan bahwasanya mereka itu terlepas dari kesalahan dengan adanya kemutlakan Firman Allah تعالى, ﴾ وَسَطٗا ﴿ "Pertengahan." Sekiranya kesepakatan mereka itu dimungkinkan terjadi kesalahan, niscaya tidak menjadi pertengah-an kecuali hanya pada beberapa perkara saja. Dan Firman Allah, ﴾ لِّتَكُونُواْ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ ﴿ "Agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manu-sia," berkonsekuensi bahwa mereka bila bersaksi terhadap suatu hukum bahwa Allah تعالى telah menghalalkan dan mengharamkan, atau mewajibkan, maka mereka terlepas dari dosa dalam hal ter-sebut. Ayat ini juga menunjukkan bahwa dalam berhukum, bersaksi, dan mengeluarkan fatwa atau semacamnya harus dengan syarat adil. "…Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (dahulu) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia." (Al-Baqarah: 143). Allah تعالى berfirman, ﴾ وَمَا جَعَلۡنَا ٱلۡقِبۡلَةَ ٱلَّتِي كُنتَ عَلَيۡهَآ ﴿ "Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (dahulu)," yaitu meng-hadap Baitul Maqdis pertama-tama, ﴾ إِلَّا لِنَعۡلَمَ ﴿ "melainkan agar Kami mengetahui," yakni, pengetahuan yang berkaitan dengan ganjaran maupun hukuman, karena sesungguhnya Allah تعالى itu Maha Me-ngetahui segala perkara sebelum terjadinya, akan tetapi pengeta-huan ini tidak Dia kaitkan dengan ganjaran dan tidak pula hukuman karena kesempurnaan keadilanNya dan penegakan hujjah terhadap hamba-hambaNya. Akan tetapi apabila amal-amal mereka telah ada, itulah yang mengakibatkan ganjaran atau hukuman. Artinya, Kami mensyariatkan perpindahan kiblat itu agar Kami mengetahui dan menguji, ﴾ مَن يَتَّبِعُ ٱلرَّسُولَ ﴿ "siapa yang mengikuti Rasul," beriman kepadanya dengan mengikutinya dalam segala kondisi, karena dia adalah seorang hamba yang diperintah dan dibimbing, dan karena kitab-kitab terdahulu telah mengabarkan bahwasanya dia menghadap Ka'bah. Orang yang memandang secara adil yang hanya mencari kebenaranlah yang akan membuat iman dan ketaatannya kepada Rasul bertambah. Adapun orang yang membelot, berpaling dari kebenaran, dan mengikuti hawa nafsunya, maka hal itu akan me-nambah kekufuran baginya di atas kekufurannya dan kebingungan di atas kebingungannya, dan dia mengemukakan hujjah batil yang didasari oleh syubhat yang tidak ada hakikatnya sama sekali. ﴾ وَإِن كَانَتۡ ﴿ "Dan sungguh pemindahan kiblat itu," yakni pengalih-anmu darinya, ﴾ لَكَبِيرَةً ﴿ "terasa amat berat," maksudnya sangat sulit, ﴾ إِلَّا عَلَى ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۗ ﴿ "kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah," sehingga mereka mengetahui nikmat Allah atas mereka dalam hal tersebut lalu mereka bersyukur dan mengakui kebaik-anNya dalam memberikan perintah untuk menghadapkan wajah ke Ka'bah, yang telah Dia muliakan atas tempat-tempat di seluruh bumi, dan menuju kepadanya (untuk haji) adalah salah satu di antara rukun-rukun Islam serta sebagai penggugur dosa dan kesa-lahan. Oleh karena itulah hal tersebut terasa ringan bagi mereka, dan terasa berat bagi selain mereka. Kemudian Allah تعالى berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمۡۚ ﴿ "Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu," maksudnya tidaklah patut dan tidaklah pantas bagiNya تعالى, bahkan hal itu merupakan perkara yang tidak mungkin dilakukanNya. Allah تعالى mengabarkan bahwa hal itu tidak mungkin dilakukanNya dan sangat mustahil Dia menyia-nyiakan keimanan kalian. Dalam hal ini ada sebuah kabar gembira bagi orang yang telah dikaruniakan keimanan dan keis-laman oleh Allah سبحانه وتعالى, yaitu bahwa Allah تعالى akan menjaga keimanan mereka dan tidak menyia-nyiakannya. Penjagaan Allah itu ada dua macam. Pertama: Penjagaan dari kesia-siaan dan kehilangan, dengan perlindunganNya dari segala hal yang dapat merusak, menghapus, dan menguranginya, berupa ujian-ujian yang menggoncangkan dan hawa nafsu yang mengha-langi. Kedua: Penjagaan dengan menumbuhkannya untuk mereka dan memberikan taufik terhadap mereka kepada perkara yang dapat menambah keimanan dan menguatkan keyakinan mereka, dan sebagaimana Allah memulai dengan memberikan hidayahNya buat kalian kepada keimanan, maka begitu pula Allah akan menjaga keimanan itu bagi kalian dan akan menyempurnakan nikmatNya dengan menumbuhkannya dan memperbanyak ganjaran dan balasan, serta memeliharanya dari segala hal yang mengotorinya. Bahkan bila ujian-ujian yang dimaksudkan darinya terjadi, hal itu akan menampakkan Mukmin yang hakiki dari Mukmin yang bohongan, dan menyaring kaum Mukminin dan menampakkan kejujuran mereka, seolah-olah merupakan sikap kewaspadaan dari suatu dugaan yang muncul dari Firman Allah, ﴾ وَمَا جَعَلۡنَا ٱلۡقِبۡلَةَ ٱلَّتِي كُنتَ عَلَيۡهَآ إِلَّا لِنَعۡلَمَ مَن يَتَّبِعُ ٱلرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِۚ ﴿ "Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot," yang terkadang menjadi penyebab bagi sebagian kaum Mukminin untuk meninggalkan keimanan mereka, maka untuk membantah dugaan seperti itu, Allah berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمۡۚ ﴿ "Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu," dengan pertimbanganNya atas ujian-ujian itu atau yang selainnya. Dan termasuk dalam hal itu juga adalah orang yang meninggal dari kaum Muslimin sebelum peralihan kiblat ke Ka'bah, sesungguhnya Allah تعالى tidak akan menyia-nyiakan keimanan mereka, karena mereka adalah orang-orang yang menunaikan perintah-perintah Allah تعالى dan menaati Rasulullah ﷺ pada waktunya, dan taat kepada Allah تعالى dengan menunaikan perintahNya pada setiap waktu sesuai dengan hal tersebut. Ayat ini merupakan dalil bagi Ahlus Sunnah wal Jamaah bahwa perbuatan-perbuatan anggota tubuh termasuk ke dalam iman. FirmanNya, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia," maksudnya, rahmat yang sangat banyak atas mereka, karena di antara bentuk kasih sayang dan rahmatNya terhadap mereka adalah dengan menyem-purnakan nikmatNya yang telah Dia anugerahkan kepada mereka, dan Dia bedakan dari mereka orang yang beriman dengan lisannya saja tanpa hatinya, dan Dia menguji mereka dengan ujian yang membuat keimanan mereka bertambah dan derajat mereka me-ningkat, serta membimbing mereka kepada rumah yang paling mulia dan paling agung (yakni surga).
2:144Page 22
قَدۡ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجۡهِكَ فِي ٱلسَّمَآءِۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبۡلَةٗ تَرۡضَىٰهَاۚ فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۚ وَحَيۡثُ مَا كُنتُمۡ فَوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ شَطۡرَهُۥۗ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ لَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعۡمَلُونَ ١٤٤
We have certainly seen the turning of your face, [O Muḥammad], toward the heaven, and We will surely turn you to a qiblah with which you will be pleased. So turn your face [i.e., yourself] toward al-Masjid al-Ḥarām.1 And wherever you [believers] are, turn your faces [i.e., yourselves] toward it [in prayer]. Indeed, those who have been given the Scripture [i.e., the Jews and the Christians] well know that it is the truth from their Lord. And Allāh is not unaware of what they do.
"Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." (Al-Ba-qarah: 144).
(144) Allah تعالى berfirman kepada NabiNya, ﴾ قَدۡ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجۡهِكَ فِي ٱلسَّمَآءِۖ ﴿ "Sungguh Kami (sering) melihat mukamu (Muhammad) me-nengadah ke langit," maksudnya, beliau seringkali melakukan hal itu berulang-ulang dengan rasa harap dan menunggu turunnya wahyu tentang menghadap ke Ka'bah. Allah تعالى berfirman, ﴾ وَجۡهِكَ ﴿ "Mukamu," dan bukan dengan matamu adalah untuk menambah perhatiannya, dan karena pembalikan wajah secara pasti diikuti dengan pembalikan mata. ﴾ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ ﴿ "Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu," maksudnya, Kami akan mengarahkan kamu karena kekuasaan Kami terhadapmu, ﴾ قِبۡلَةٗ تَرۡضَىٰهَاۚ ﴿ "ke kiblat yang kamu sukai," maksudnya, yang kamu senangi yaitu Ka'bah. Ini me-rupakan suatu penjelasan akan keutamaan dan kemuliaan beliau ﷺ, di mana Allah تعالى bersegera dalam memenuhi keinginan beliau, kemudian Allah menegaskan tentang menghadap ke arah Ka'bah. Allah تعالى berfirman, ﴾ فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۚ ﴿ "Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram." Muka adalah suatu bagian yang terdepan dari tubuh manusia. ﴾ وَحَيۡثُ مَا كُنتُمۡ ﴿ "Dan di mana saja kamu berada," yaitu di lautan atau daratan, timur atau barat, selatan atau utara, ﴾ فَوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ شَطۡرَهُۥۗ ﴿ "maka palingkanlah mukamu ke arahnya," mak-sudnya, menghadap kepada arah Ka'bah. Di dalam ayat ini terdapat kandungan disyaratkannya meng-hadap kiblat dalam menjalankan setiap shalat, baik yang wajib maupun yang sunnah. Apabila memungkinkan menghadap kepada dzat Ka'bah tersebut, (maka wajib menghadap fisik Ka'bah), namun bila tidak memungkinkan, maka ke arahnya saja. Dan ini juga me-nunjukkan bahwa berpaling dengan badan itu membatalkan shalat, karena perintah kepada sesuatu itu berarti larangan dari perkara yang berlawanan dengannya. Ketika Allah تعالى menyebutkan -dalam pembahasan tadi- orang-orang yang membantah hal tersebut dari ahli Kitab dan selain me-reka dan Allah تعالى juga menyebutkan tentang jawaban atas bantahan mereka itu, lalu Allah dalam ayat ini menyebutkan bahwasanya ahli Kitab dan orang-orang yang berilmu di antara mereka menge-tahui dengan benar bahwasanya engkau berada dalam kebenaran yang jelas, karena mereka mendapatkannya ada di dalam kitab mereka, akan tetapi mereka berpaling karena membangkang dan zhalim. Apabila mereka mengetahui akan kesalahan mereka, jangan-lah kalian mempedulikan hal itu, karena sesungguhnya manusia akan dipusingkan oleh suatu bantahan dari orang yang memban-tahnya apabila perkaranya tidaklah jelas dan kemungkinan saja yang benar itu ada padanya, namun apabila dia yakin bahwa kebenaran itu ada bersama orang yang dibantah, sedangkan orang yang membantah itu hanyalah seorang yang keras kepala yang mengetahui kesalahan perkataannya, maka sama sekali tidak ada yang harus dipedulikan padanya, akan tetapi tunggu saja siksaan dunia dan akhirat yang akan dirasakan oleh orang-orang yang membantah tersebut. Karena itu Allah berfirman, ﴾ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan," bah-kan Allah memelihara perbuatan-perbuatan mereka dan akan mem-berikan balasannya. Di dalam ayat ini terdapat ancaman terhadap orang-orang yang membantah dan sekaligus hiburan bagi kaum Mukminin.
Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences