As-Sa'diAn‑Nisa · 4:77–87

As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian

An-Nisa 4:77–87

4:77–79Page 90

أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ قِيلَ لَهُمۡ كُفُّوٓاْ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقِتَالُ إِذَا فَرِيقٞ مِّنۡهُمۡ يَخۡشَوۡنَ ٱلنَّاسَ كَخَشۡيَةِ ٱللَّهِ أَوۡ أَشَدَّ خَشۡيَةٗۚ وَقَالُواْ رَبَّنَا لِمَ كَتَبۡتَ عَلَيۡنَا ٱلۡقِتَالَ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنَآ إِلَىٰٓ أَجَلٖ قَرِيبٖۗ قُلۡ مَتَٰعُ ٱلدُّنۡيَا قَلِيلٞ وَٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لِّمَنِ ٱتَّقَىٰ وَلَا تُظۡلَمُونَ فَتِيلًا ٧٧

Have you not seen those who were told, "Restrain your hands [from fighting]1 and establish prayer and give zakāh"? But then when battle was ordained for them, at once a party of them feared men as they fear Allāh or with [even] greater fear. They said, "Our Lord, why have You decreed upon us fighting? If only You had postponed [it for] us for a short time." Say, "The enjoyment of this world is little, and the Hereafter is better for he who fears Allāh. And injustice will not be done to you, [even] as much as a thread [inside a date seed]."

أَيۡنَمَا تَكُونُواْ يُدۡرِككُّمُ ٱلۡمَوۡتُ وَلَوۡ كُنتُمۡ فِي بُرُوجٖ مُّشَيَّدَةٖۗ وَإِن تُصِبۡهُمۡ حَسَنَةٞ يَقُولُواْ هَٰذِهِۦ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَيِّئَةٞ يَقُولُواْ هَٰذِهِۦ مِنۡ عِندِكَۚ قُلۡ كُلّٞ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ فَمَالِ هَٰٓؤُلَآءِ ٱلۡقَوۡمِ لَا يَكَادُونَ يَفۡقَهُونَ حَدِيثٗا ٧٨

Wherever you may be, death will overtake you, even if you should be within towers of lofty construction. But if good comes to them, they say, "This is from Allāh"; and if evil befalls them, they say,1 "This is from you." Say, "All [things] are from Allāh." So what is [the matter] with those people that they can hardly understand any statement?

مَّآ أَصَابَكَ مِنۡ حَسَنَةٖ فَمِنَ ٱللَّهِۖ وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٖ فَمِن نَّفۡسِكَۚ وَأَرۡسَلۡنَٰكَ لِلنَّاسِ رَسُولٗاۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدٗا ٧٩

What comes to you of good is from Allāh, but what comes to you of evil, [O man], is from yourself.1 And We have sent you, [O Muḥammad], to the people as a messenger, and sufficient is Allāh as Witness.2

"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, 'Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat!' Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan sangat lebih dari itu takutnya. Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Me-ngapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?' Katakanlah, 'Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun. Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh'." (An-Nisa`: 77-78).

(77) Kaum Muslimin ketika masih di Makkah, mereka di-perintahkan untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat, yaitu sebagai pelipur lara bagi kaum fakir, bukan zakat yang diketahui yang memiliki nishab dan syarat-syarat tertentu, sesungguhnya zakat seperti itu belumlah diwajibkan kecuali di Madinah, dan mereka pun belum diperintahkan untuk berjihad karena beberapa faidah, di antaranya; + Bahwa di antara hikmah Allah سبحانه وتعالى adalah Dia mensyariatkan hukum-hukum kepada hamba-hambaNya dalam bentuk yang tidak memberatkan mereka, dan Allah memulai dengan yang paling penting sebelum yang penting, yang lebih mudah sebelum yang mudah. + Bahwasanya bila saja diperintahkan kepada mereka jihad padahal jumlah dan perlengkapan mereka yang masih sedikit ditambah jumlah musuh yang besar, niscaya hal itu akan menjadi bumerang bagi hancurnya Islam, maka menjadi per-timbangan yang pasti dari sisi kemaslahatan yang besar atas kemaslahatan yang lebih kecil darinya dan hikmah-hikmah Ilahi yang lainnya. Dan sebagian kaum Mukminin merasa sangat menginginkan seandainya jihad diwajibkan atas mereka pada suatu kondisi yang mana hal itu tidak cocok untuk diwajibkan, namun yang patut pada kondisi seperti itu adalah menegakkan apa yang diperintahkan kepada mereka berupa tauhid, shalat, zakat dan semisalnya, seba-gaimana Firman Allah, ﴾ وَلَوۡ أَنَّهُمۡ فَعَلُواْ مَا يُوعَظُونَ بِهِۦ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۡ وَأَشَدَّ تَثۡبِيتٗا 66 ﴿ "Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka)." (An-Nisa`: 66). Kemudian ketika mereka berhijrah ke Madinah dan Islam telah kuat, maka diwajibkanlah jihad atas mereka pada waktunya yang cocok untuk itu, lalu sekelompok dari orang-orang yang sebelumnya tergesa-gesa meminta diwajibkannya jihad karena rasa takut kepada manusia (musuh), mereka lemah dan tidak berani, ﴾ رَبَّنَا لِمَ كَتَبۡتَ عَلَيۡنَا ٱلۡقِتَالَ ﴿ "Ya Rabb kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami?" Dalam hal ini tindakan itu adalah sebuah sikap keluh kesah dan sanggahan terhadap Allah, dan yang sepatutnya bagi mereka adalah menerima perintah Allah dan bersabar atas perintah-perintahNya tersebut, maka mereka telah berlaku kebalikan dari apa yang seharusnya diharapkan dari mereka, mereka berkata, ﴾ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنَآ إِلَىٰٓ أَجَلٖ قَرِيبٖۗ ﴿ "Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?" Maksudnya, mengapa engkau tidak menunda kewajiban jihad itu selama masa tertentu dan bukan saat ini, kondisi seperti ini sering kita temui diperlihat-kan oleh orang-orang yang kurang matang dan tergesa-gesa dalam urusan sebelum waktunya, kebanyakannya adalah ia tidak akan bersabar atasnya ketika menunaikannya dan tidak pula teguh dalam mengembannya, akan tetapi ia sedikit sekali kesabarannya. Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengingatkan mereka dari kondisi seperti itu, di mana itu merupakan tindakan tidak ikut serta dalam pepe-rangan, dalam FirmanNya, ﴾ قُلۡ مَتَٰعُ ٱلدُّنۡيَا قَلِيلٞ وَٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لِّمَنِ ٱتَّقَىٰ ﴿ "Katakanlah, 'Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa'," maksudnya, menikmati kesenangan-kesenangan dunia dan keindahan-keindahannya adalah sebentar, dan menghadapi segala kesulitan dalam ketaatan kepada Allah pada waktu yang sebentar adalah sangat mudah bagi jiwa dan ringan untuknya, karena bila ia mengetahui bahwa kesulitan yang dihadapinya itu tidak akan lama, niscaya hal itu mudah baginya, lalu bagaimana ia mampu menyamakan antara dunia dan akhirat, padahal akhirat itu lebih baik dari dunia pada dzatnya yaitu ke-senangan, dan waktunya, adapun dzatnya adalah seperti yang disabdakan oleh Nabi ﷺ dalam hadits yang kuat, إِنَّ مَوْضِعَ سَوْطٍ فِي الْجَنَّةِ لَخَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا. "Sesungguhnya tempat cambuk di surga itu lebih baik dari dunia dan seisinya."[30] Adapun kenikmatannya adalah suci dari hal-hal yang meru-saknya, bahkan setiap yang terbersit dalam benak atau berputar-putar dalam pikiran berupa gambaran suatu kenikmatan, maka kenikmatan surga itu adalah lebih dari gambaran tersebut, seba-gaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ ﴿ "Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata." (As-Sajdah: 17). Dan Allah berfirman melalui lisan NabiNya[31], أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِيْنَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ. "Saya telah menyiapkan bagi hamba-hambaKu yang shalih apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terbersit dalam benak seorang manusia pun." Adapun kenikmatan dunia, sesungguhnya ia bercampur dengan berbagai macam gangguan di mana bila dibandingkan antara kelezatannya dan apa yang mengiringinya berupa berbagai macam penderitaan dan kegelisahan serta kegalauan, maka kele-zatan tersebut tidaklah mempunyai prosentase sedikit pun dari segala sisinya. Adapun waktunya, sesungguhnya dunia itu semen-tara, usia manusia menurut usia dunia sangatlah pendek sekali, sedangkan akhirat, maka sesungguhnya ia adalah kenikmatan yang selamanya, penghuni-penghuninya kekal di dalamnya, bila seorang yang berakal mau berpikir tentang kedua negeri tersebut dan tergambar olehnya hakikat keduanya dengan sebenar-benar-nya, mesti ia tahu yang mana yang harus didahulukan, diusahakan, dan bersungguh-sungguh dalam meraihnya, karena itulah Allah berfirman, ﴾ وَٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لِّمَنِ ٱتَّقَىٰ ﴿ "Dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa," yaitu menjauhi kesyirikan dan seluruh hal-hal yang diharamkan, ﴾ وَلَا تُظۡلَمُونَ فَتِيلًا ﴿ "dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun," maksudnya, usaha kalian untuk akhirat akan kalian dapatkan secara sempurna dan penuh dan tidak dikurangi sedikit pun darinya. (78) Kemudian Allah mengabarkan bahwa tidaklah akan bermanfaat suatu kewaspadaan terhadap takdir Allah, dan bahwa seorang yang duduk berdiam diri (tidak ikut berperang) tidaklah duduknya itu menolongnya dari apa pun juga, dan Allah berfir-man, ﴾ أَيۡنَمَا تَكُونُواْ يُدۡرِككُّمُ ٱلۡمَوۡتُ ﴿ "Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu" maksudnya, pada waktu apa pun dan tempat manapun, ﴾ وَلَوۡ كُنتُمۡ فِي بُرُوجٖ مُّشَيَّدَةٖۗ ﴿ "kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh" yaitu benteng-benteng yang kuat dan rumah-rumah yang tinggi. Semua ini merupakan dorongan untuk berjihad di jalan Allah, terkadang dengan cara bujukan tentang keutamaan dan pahalanya, terkadang pula dengan menakut-nakuti akan hukuman karena meninggalkannya, terkadang juga dengan me-ngabarkan bahwa orang-orang yang duduk-duduk saja (tidak ikut berperang) tidaklah duduk mereka itu berguna bagi mereka, dan terkadang lagi dengan memudahkan jalan kepadanya. Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَإِن تُصِبۡهُمۡ حَسَنَةٞ يَقُولُواْ هَٰذِهِۦ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَيِّئَةٞ يَقُولُواْ هَٰذِهِۦ مِنۡ عِندِكَۚ قُلۡ كُلّٞ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ فَمَالِ هَٰٓؤُلَآءِ ٱلۡقَوۡمِ لَا يَكَادُونَ يَفۡقَهُونَ حَدِيثٗا 78 مَّآ أَصَابَكَ مِنۡ حَسَنَةٖ فَمِنَ ٱللَّهِۖ وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٖ فَمِن نَّفۡسِكَۚ وَأَرۡسَلۡنَٰكَ لِلنَّاسِ رَسُولٗاۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدٗا 79 ﴿ "Dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, 'Ini adalah dari sisi Allah', dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana, mereka mengatakan, 'Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad).' Katakanlah, 'Semuanya (datang) dari sisi Allah.' Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang me-nimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutus-mu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi." (An-Nisa`: 78-79). Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang orang-orang yang tidak me-ngetahui, yang berpaling dari apa yang dibawa oleh para Rasul dan menentang mereka, bahwa bila orang-orang itu memperoleh suatu kebaikan, yaitu tanah yang subur, harta yang melimpah, anak-anak yang banyak dan kesehatan, mereka berkata,﴾ هَٰذِهِۦ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Ini adalah dari sisi Allah" dan bahwasanya bila mereka tertimpa suatu musibah, yaitu tanah yang tandus, kefakiran, penyakit, meninggalnya anak-anak mereka atau orang-orang yang mereka cintai, mereka berkata, ﴾ هَٰذِهِۦ مِنۡ عِندِكَۚ ﴿ "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)." Maksudnya, oleh sebab apa yang telah engkau bawa kepada kami wahai Muhammad ﷺ! Mereka mengaitkan musibah itu dengan Rasulullah ﷺ sebagaimana orang-orang yang seperti mereka mengait-kaitkan suatu musibah zaman dahulu dengan Rasul-rasul Allah, sebagaimana Allah telah mengabarkan tentang kaum Fir'aun bahwa mereka berkata kepada Musa عليه السلام, ﴾ فَإِذَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡحَسَنَةُ قَالُواْ لَنَا هَٰذِهِۦۖ وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَيِّئَةٞ يَطَّيَّرُواْ بِمُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥٓۗ ﴿ "Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata, 'Itu adalah karena (usaha) kami.' Dan jika mereka ditimpa kesu-sahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya." (Al-A'raf: 131). Dan kaum Shaleh juga berkata, ﴾ قَالُواْ ٱطَّيَّرۡنَا بِكَ وَبِمَن مَّعَكَۚ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu'." (An-Naml: 47). Dan kaum (yang disebutkan dalam surat) Yasin berkata ke-pada Rasul-rasul mereka, ﴾ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu..." (Yasin: 18). Ketika hati mereka memiliki keserupaan dalam hal kekufuran, lalu perkataan dan perbuatan mereka pun menjadi serupa, dan setiap orang yang menisbatkan terjadinya suatu keburukan atau hilangnya kebaikan terhadap apa yang dibawa oleh para Rasul atau terhadap sebagiannya, maka ia termasuk dalam celaan yang hina tersebut, Allah berfirman dalam menjawab (perkara) mereka, ﴾ قُلۡ كُلّٞ ﴿ "Katakanlah, 'Semuanya'," yaitu berupa kebaikan dan kebu-rukan, keberuntungan dan kesialan, ﴾ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ ﴿ "(datang) dari sisi Allah," maksudnya, dengan ketetapan dan ketentuanNya serta penciptaanNya, ﴾ فَمَالِ هَٰٓؤُلَآءِ ٱلۡقَوۡمِ ﴿ "maka mengapa orang-orang itu (orang munafik)," yaitu apa yang bersumber dari mereka berupa perkataan yang batil, ﴾ لَا يَكَادُونَ يَفۡقَهُونَ حَدِيثٗا ﴿ "hampir-hampir tidak memahami pem-bicaraan sedikit pun?" yaitu mereka tidak memahami pembicaraan secara menyeluruh dan tidak juga mendekati pemahamannya atau mereka tidaklah memahaminya kecuali dengan pemahaman yang sangat lemah. Namun yang jelas bahwa hal itu adalah sebuah celaan bagi mereka dan kecaman atas ketidakpahaman mereka dan ketidakmengertian mereka tentang Allah dan RasulNya, yang demikian itu adalah karena kekufuran dan berpalingnya mereka. Dan termasuk dalam kandungannya adalah pujian terhadap orang yang memahami tentang Allah dan tentang RasulNya, dan anjuran terhadap hal tersebut dan terhadap sebab-sebab yang membantu akan hal tersebut berupa penerimaan perkataan kedua-nya, merenunginya dan menempuh jalan yang menyampaikan kepadanya. Sekiranya mereka memahami tentang Allah, niscaya mereka akan mengetahui bahwa kebaikan dan keburukan, kebe-runtungan dan kesialan semuanya adalah dengan ketentuan Allah dan ketetapanNya, apa pun tidak akan keluar dari hal tersebut, dan bahwa para Rasul  bukanlah sebagai sebab akan suatu keburukan yang terjadi, bukan mereka dan bukan juga apa yang mereka bawa, karena mereka diutus demi kemaslahatan dunia dan akhirat serta agama. (79) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّآ أَصَابَكَ مِنۡ حَسَنَةٖ ﴿ "Apa saja nikmat yang kamu peroleh" yaitu dalam (perkara) agama maupun dunia, ﴾ فَمِنَ ٱللَّهِۖ ﴿ "adalah dari Allah," Dia-lah yang mengaruniakan dan memudahkannya dengan memudahkan sebab-sebabnya, ﴾ وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٖ ﴿ "dan apa saja bencana yang menimpamu" dalam (perkara) agama maupun dunia, ﴾ فَمِن نَّفۡسِكَۚ ﴿ "maka dari kesalahan dirimu sendiri," yaitu dengan dosa-dosamu dan usahamu, padahal apa yang dimaafkan oleh Allah darinya adalah lebih banyak, dan Allah سبحانه وتعالى telah mem-buka pintu-pintu kebaikanNya bagi hamba-hambaNya, dan me-merintahkan mereka untuk memasuki kebaikan dan karuniaNya, dan mengabarkan kepada mereka bahwa kemaksiatan itu adalah penghalang dari karuniaNya, lalu bila seorang hamba melaku-kannya, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri, karena sesungguhnya yang menjadi penghalang dirinya memperoleh karunia Allah dan kebaikanNya adalah hal tersebut. Kemudian Allah mengabarkan tentang keumuman risalah RasulNya Muhammad ﷺ seraya berfirman, ﴾ وَأَرۡسَلۡنَٰكَ لِلنَّاسِ رَسُولٗاۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدٗا ﴿ "Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukup-lah Allah menjadi saksi" bahwa engkau adalah utusan Allah secara benar dengan apa yang telah Allah topang dengan pembelaanNya dan mukjizat-mukjizat yang menakjubkan serta keterangan-kete-rangan yang pasti, dan hal itu adalah kesaksian yang paling utama secara mutlak, sebagaimana Allah berfirman, ﴾ قُلۡ أَيُّ شَيۡءٍ أَكۡبَرُ شَهَٰدَةٗۖ قُلِ ٱللَّهُۖ شَهِيدُۢ بَيۡنِي وَبَيۡنَكُمۡۚ ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?' Katakan-lah, 'Allah.' Dia menjadi saksi antara aku dan kamu." (Al-An'am: 19), dan apabila ia telah mengetahui bahwa ilmu Allah itu sempurna, kekuasaanNya menyeluruh, hikmahNya agung, dan Dia telah membantu RasulNya dengan apa pun yang telah menopangnya dan membelanya dengan pembelaan yang besar, niscaya yakinlah ia dengan hal tersebut bahwa ia adalah Rasulullah ﷺ, dan bila tidak demikian, sekiranya dia mengadakan sebagian perkataan atas Allah, niscaya Allah benar-benar memegangnya dengan Tangan kananNya kemudian benar-benar Dia potong urat tali jantungnya.

4:80–81Page 91

مَّن يُطِعِ ٱلرَّسُولَ فَقَدۡ أَطَاعَ ٱللَّهَۖ وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ عَلَيۡهِمۡ حَفِيظٗا ٨٠

He who obeys the Messenger has obeyed Allāh; but those who turn away - We have not sent you over them as a guardian.

وَيَقُولُونَ طَاعَةٞ فَإِذَا بَرَزُواْ مِنۡ عِندِكَ بَيَّتَ طَآئِفَةٞ مِّنۡهُمۡ غَيۡرَ ٱلَّذِي تَقُولُۖ وَٱللَّهُ يَكۡتُبُ مَا يُبَيِّتُونَۖ فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلًا ٨١

And they say, "[We pledge] obedience." But when they leave you, a group of them spend the night determining to do other than what you say. But Allāh records what they plan by night. So leave them alone and rely upon Allāh. And sufficient is Allāh as Disposer of affairs.

"Barangsiapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan, '(Kewajiban kami hanyalah) taat.' Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung." (An-Nisa`: 80-81).

(80) Maksudnya, setiap orang yang menaati Rasulullah ﷺ dalam perintah-perintah dan larangan-larangannya, ﴾ فَقَدۡ أَطَاعَ ٱللَّهَۖ ﴿ "sesungguhnya ia telah menaati Allah سبحانه وتعالى," karena tidaklah beliau memerintahkan dan tidaklah melarang kecuali dengan perintah Allah, syariat, wahyu dan segala apa yang diturunkanNya, hal ini menunjukkan kema'shuman Rasulullah ﷺ, karena Allah  meme-rintahkan untuk menaatinya secara mutlak, sekiranya bila beliau tidak ma'shum dalam segala hal yang disampaikannya dari Allah, niscaya tidaklah Allah akan memerintahkan untuk menaatinya secara mutlak lalu Dia memuji hal tersebut, dan ini adalah di antara hak-hak yang dimiliki bersama, karena sesungguhnya hak-hak itu ada tiga macam: Pertama, hak milik Allah سبحانه وتعالى yang tidak dimiliki seorang pun dari makhluk, yaitu beribadah kepada Allah, memo-hon kepadaNya dan segala hal yang menyertainya. Kedua, hak yang khusus milik Rasul yaitu penghormatan, pemuliaan dan pembelaan, dan ketiga, hak-hak yang dimiliki bersama yaitu iman kepada Allah dan RasulNya, mencintai dan menaati keduanya sebagaimana Allah menyatukan antara hak-hak tersebut dalam FirmanNya, ﴾ لِّتُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُۚ وَتُسَبِّحُوهُ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلًا 9 ﴿ "Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan RasulNya, menguatkan (agama)Nya, membesarkanNya, dan bertasbih kepadaNya di waktu pagi dan petang." (Al-Fath: 9), maka barangsiapa yang taat kepada Rasul, sesungguhnya ia telah taat kepada Allah, dan ia berhak mendapatkan pahala dan kebaikan yang disediakan karena ketaatan kepada Allah, ﴾ وَمَن تَوَلَّىٰ ﴿ "dan ba-rangsiapa yang berpaling" dari ketaatan kepada Allah dan RasulNya, sesungguhnya hal itu tidaklah membahayakan kecuali bagi dirinya sendiri, dan tidak akan ada yang mampu membahayakan Allah sama sekali, ﴾ فَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ عَلَيۡهِمۡ حَفِيظٗا ﴿ "maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka," maksudnya (kamu tidaklah diutus untuk) memelihara perbuatan-perbuatan dan kondisi-kondisi mereka, akan tetapi Kami mengutusmu sebagai penyeru, pemberi penjelasan dan pemberi nasihat, dan sungguh engkau telah menunaikan tugasmu, maka wajiblah ganjarannya untukmu dari Allah, baik mereka mendapat petunjuk karenanya ataupun tidak mendapatkannya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَذَكِّرۡ إِنَّمَآ أَنتَ مُذَكِّرٞ 21 لَّسۡتَ عَلَيۡهِم بِمُصَيۡطِرٍ 22 ﴿ "Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka." (Al-Ghasyiyah: 21-22).

(81) Ketaatan kepada Allah dan RasulNya haruslah secara lahir maupun batin dan dalam keadaan ramai maupun sepi. Ada-pun orang yang menampakkan ketaatan dan konsistensi di saat ramai, lalu bila ia sedang sendiri atau bersama orang-orang yang semisalnya ia meninggalkan ketaatan dan melakukan hal yang bertentangan dengannya, sesungguhnya ketaatan yang ia tampak-kan itu tidaklah bermanfaat dan tidak berguna, sungguh hal ini serupa dengan orang-orang yang Allah berfirman tentang mereka, ﴾ وَيَقُولُونَ طَاعَةٞ ﴿ "Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan, '(Ke-wajiban kami hanyalah) taat'." Yaitu mereka menampakkan ketaatan apabila mereka berada di sisimu, ﴾ فَإِذَا بَرَزُواْ مِنۡ عِندِكَ ﴿ "tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu" yaitu mereka keluar dan menyendiri pada kondisi yang tidak ada seorang pun melihat mereka, ﴾ بَيَّتَ طَآئِفَةٞ مِّنۡهُمۡ غَيۡرَ ٱلَّذِي تَقُولُۖ ﴿ "sebagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi." Maksudnya, mereka mengatur siasat di malam hari dan ke-mudian berpaling dari ketaatan kepadamu, serta tidaklah mereka melakukan (di belakangmu) melainkan kemaksiatan. Di dalam Firman Allah, ﴾ بَيَّتَ طَآئِفَةٞ مِّنۡهُمۡ غَيۡرَ ٱلَّذِي تَقُولُۖ ﴿, terdapat sebuah dalil bahwa suatu hal yang mana mereka telah konsisten terhadapnya bukan-lah suatu ketaatan, karena kata at-Tabyit artinya, mengatur sebuah siasat pada malam hari dalam bentuk yang ditetapkan oleh pen-dapat. Kemudian Allah mengancam mereka atas apa yang telah mereka lakukan tersebut dalam FirmanNya, ﴾ وَٱللَّهُ يَكۡتُبُ مَا يُبَيِّتُونَۖ ﴿ "Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu." Maksudnya, Dia menyimpan siasat mereka dan akan memberikan balasan kepada mereka atas hal tersebut dengan balasan yang setimpal, hal itu adalah sebuah ancaman yang keras bagi mereka. Kemudian Allah memerintahkan RasulNya untuk menghadapi mereka dengan cara berpaling dari mereka tanpa mengecam, karena sesungguh-nya mereka itu tidaklah dapat membahayakan beliau sama sekali apabila beliau bertawakal kepada Allah, memohon bantuanNya dalam membela agamaNya dan penegakan syariatNya, karena itulah Allah berfirman, ﴾ فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلًا ﴿ "Maka ber-palinglah kamu dari mereka dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung."

4:82Page 91

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَۚ وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِندِ غَيۡرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ ٱخۡتِلَٰفٗا كَثِيرٗا ٨٢

Then do they not reflect upon the Qur’ān?1 If it had been from [any] other than Allāh, they would have found within it much contradiction.

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur`an? Kalau kiranya al-Qur`an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (An-Nisa`: 82).

(82) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan agar merenungi kitabNya, yaitu berpikir tentang maknanya, memfokuskan pikiran padanya, pada asas-asasnya dan kesimpulan-kesimpulannya serta hal-hal yang berkaitan dengannya, karena sesungguhnya perenungan terhadap kitabullah adalah sebuah kunci (untuk mendapatkan) ilmu dan pengetahuan, dengannya dapat dihasilkan segala kebaikan dan dibuahkan segala ilmu, dengannya iman bertambah dalam hati dan akarnya akan tertancap dalam-dalam. Sesungguhnya ia memberitahu tentang Rabb yang harus disembah dan segala per-kara tentang sifat-sifat kesempurnaan dan perkara yang disucikan dariNya dari berbagai sifat kekurangan, ia memberitahukan tentang jalan yang menyampaikan kepadaNya, dan tentang sifat-sifat penghuni surga dan apa pun yang mereka dapatkan ketika mema-sukinya, memberitahukan tentang musuh yang benar-benar musuh secara hakiki, dan tentang jalan yang mengakibatkan siksaan serta sifat-sifat penghuninya dan hal apa pun yang ada pada mereka yang menyebabkan siksaan tersebut. Dan setiap kali seorang hamba bertambah renungannya terhadap al-Qur`an, niscaya bertambah pula ilmu, amal, dan kearifannya, oleh karena itu Allah memerin-tahkan kepada hal tersebut dan menganjurkannya lalu mengabar-kan bahwa itulah maksud dari diturunkannya al-Qur`an, sebagai-mana Allah berfirman, ﴾ كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ 29 ﴿ "Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu yang penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapatkan pelajaran." (Shad: 29), dan Allah سبحانه وتعالى juga berfirman, ﴾ أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ أَمۡ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقۡفَالُهَآ 24 ﴿ "Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur`an ataukah hati mereka terkunci?" (Muhammad: 24). Dan di antara faidah dari merenungi kitabullah adalah, bahwa dengan merenunginya seorang hamba akan sampai kepada derajat keyakinan dan ilmu bahwa al-Qur`an itu adalah Kalam Allah, karena sesungguhnya ia akan menyaksikan bahwa sebagiannya membenarkan sebagian lainnya, sebagiannya sesuai dengan seba-gian lainnya, dan Anda akan menyaksikan hikmah-hikmah, kisah-kisah, dan kabar-kabar yang diulang-ulang dalam al-Qur`an dalam beberapa tempat, seluruhnya saling sesuai dan saling membenar-kan, sebagiannya tidaklah membatalkan sebagian lainnya, dengan demikian diketahuilah kesempurnaan al-Qur`an, dan bahwasanya ia adalah dari Dzat yang ilmuNya meliputi segala sesuatu, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِندِ غَيۡرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ ٱخۡتِلَٰفٗا كَثِيرٗا ﴿ "Kalau kiranya al-Qur`an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya," maksudnya, ketika al-Qur`an itu dari sisi Allah, maka tidak akan ada perselisihan di dalamnya sama sekali.

4:83Page 91

وَإِذَا جَآءَهُمۡ أَمۡرٞ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُواْ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ لَٱتَّبَعۡتُمُ ٱلشَّيۡطَٰنَ إِلَّا قَلِيلٗا ٨٣

And when there comes to them something [i.e., information] about [public] security or fear, they spread it around. But if they had referred it back to the Messenger or to those of authority among them, then the ones who [can] draw correct conclusions from it would have known about it. And if not for the favor of Allāh upon you and His mercy, you would have followed Satan, except for a few.

"Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenaran-nya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu)." (An-Nisa`: 83).

(83) Ini merupakan pengajaran dari Allah untuk hamba-hambaNya tentang perbuatan mereka yang tidaklah patut tersebut, dan bahwa seyogyanya apabila datang kepada mereka suatu perkara penting dan kemaslahatan umum yang berkaitan dengan keamanan dan kebahagiaan kaum Mukminin atau dengan kekha-watiran yang mengakibatkan suatu musibah atas mereka, agar mereka memastikan terlebih dahulu dan tidak tergesa-gesa untuk menyebarkan kabar tersebut, dan sebaiknya mereka menyerahkan-nya kepada Rasul dan kepada Ulil Amri di antara mereka yaitu orang-orang yang memiliki pandangan luas, ilmu, nasihat, kecer-dasan, dan keteguhan, di mana mereka mengetahui urusan-urusan dan mengetahui kemaslahatan atau kemudharatan, dan bila me-reka memandang bahwa menyebarkannya mengandung kemas-lahatan dan semangat bagi kaum Muslimin, bahkan kebahagiaan untuk mereka serta tindakan kewaspadaan terhadap musuh-musuh mereka, maka mereka boleh melakukan hal tersebut, dan bila mereka memandang bahwa hal itu tidak memiliki kemaslahatan, atau ada kemaslahatan padanya akan tetapi kemudharatannya lebih besar daripada kemaslahatannya, maka janganlah mereka menyiarkannya, karena itulah Allah berfirman,﴾ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗ ﴿ "Tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)," maksudnya, mereka dapat menyimpulkan suatu kebenaran dengan pemikiran dan pendapat-pendapat mereka yang lurus serta ilmu-ilmu mereka yang matang. Ayat ini merupakan sebuah dalil bagi sebuah kaidah moral yaitu bahwa apabila terjadi sebuah pembahasan dalam suatu per-kara, seyogyanya perkara tersebut diserahkan kepada orang yang berhak atas perkara tersebut, dan tidak ada seorang pun yang didahulukan sebelumnya, karena sesungguhnya ia lebih dekat kepada kebenaran dan lebih dapat selamat dari kesalahan. Ayat ini juga mengisyaratkan larangan dari sikap ketergesa-gesaan dan terburu-buru dalam menyebarkan informasi setelah mendengarnya, dan seharusnya dalam perkara seperti itu perlu berpikir sebelum membicarakan dan membahasnya, apakah hal itu menyimpan kemaslahatan hingga ia melakukannya ataukah tidak hingga ia menahannya. Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ ﴿ "Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu" yaitu dalam membimbing, mengajarkan, dan mendidik kalian dengan apa yang belum kalian ketahui, ﴾ لَٱتَّبَعۡتُمُ ٱلشَّيۡطَٰنَ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "tentulah kamu meng-ikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu)," karena manusia dengan tabiatnya adalah zhalim lagi bodoh, dan nafsunya tidaklah menyuruhnya kecuali kepada kejahatan, namun bila ia bersandar kepada Rabbnya dan berpegang teguh denganNya dan ia berjuang dalam hal tersebut, niscaya Rabbnya akan mengasihi dan membim-bingnya kepada segala kebaikan dan menjaganya dari setan yang terkutuk.

4:84Page 91

فَقَٰتِلۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا تُكَلَّفُ إِلَّا نَفۡسَكَۚ وَحَرِّضِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ عَسَى ٱللَّهُ أَن يَكُفَّ بَأۡسَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ وَٱللَّهُ أَشَدُّ بَأۡسٗا وَأَشَدُّ تَنكِيلٗا ٨٤

So fight, [O Muḥammad], in the cause of Allāh; you are not held responsible except for yourself. And encourage the believers [to join you] that perhaps Allāh will restrain the [military] might of those who disbelieve. And Allāh is greater in might and stronger in [exemplary] punishment.1

"Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para Mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu, dan Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya)." (An-Nisa`: 84).

(84) Kondisi ini adalah kondisi terbaik bagi seorang hamba, yaitu ia berjuang dalam dirinya untuk melaksanakan perintah Allah berupa jihad ataupun lainnya, dan ia juga mendorong orang lain kepada hal tersebut, terkadang seorang hamba tidak berada pada kedua kondisi itu atau hanya berada pada salah satunya, oleh karena itu Allah berfirman kepada RasulNya, ﴾ فَقَٰتِلۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا تُكَلَّفُ إِلَّا نَفۡسَكَۚ ﴿ "Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri," maksudnya, tidak ada kemampuan bagimu terhadap selain dirimu, maka tidaklah kamu dibebankan dengan perbuatan orang lain, ﴾ وَحَرِّضِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ ﴿ "dan kobarkanlah semangat para Mukmin (untuk berperang)," yakni, untuk berjihad, hal ini mencakup segala hal yang mampu mengobarkan semangat kaum Mukminin dan kekuatan hati mereka, berupa tin-dakan memperkuat (lahir dan batin) mereka, mengabarkan tentang kelemahan musuh dan kegagalan mereka dan tentang janji yang akan diberikan oleh Allah bagi orang-orang yang berjihad berupa pahala, dan hal yang akan diterima oleh orang-orang yang tidak ikut dalam peperangan berupa siksaan, hal ini dan yang sema-camnya termasuk dari tindakan mengobarkan semangat untuk berjihad. ﴾ عَسَى ٱللَّهُ أَن يَكُفَّ بَأۡسَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ ﴿ "Mudah-mudahan Allah menolak se-rangan orang-orang yang kafir itu," yaitu dengan berperangnya kalian di jalan Allah dan pengobaran semangat dari sebagian kalian kepada sebagian lainnya, ﴾ وَٱللَّهُ أَشَدُّ بَأۡسٗا ﴿ "dan Allah amat besar kekuatanNya" yaitu kemampuan dan kemuliaanNya, ﴾ وَأَشَدُّ تَنكِيلٗا ﴿ "dan amat keras siksaan(Nya)" terhadap seorang pelaku dosa pada dirinya sendiri, dan siksaanNya terhadap selain dirinya. Sekiranya Allah meng-hendaki, niscaya Allah akan mengalahkan kaum kafir dengan ke-kuatanNya, dan tidak akan menyisakan mereka sedikit pun juga, akan tetapi di antara hikmahNya adalah Allah menguji sebagian hamba-hambaNya dengan sebagian lainnya, agar jihad itu terlak-sana, dan agar tumbuh keimanan yang berguna yaitu keimanan atas dasar pilihan dan bukan keimanan paksaan atau tekanan yang tidak berguna sama sekali.

4:85Page 91

مَّن يَشۡفَعۡ شَفَٰعَةً حَسَنَةٗ يَكُن لَّهُۥ نَصِيبٞ مِّنۡهَاۖ وَمَن يَشۡفَعۡ شَفَٰعَةٗ سَيِّئَةٗ يَكُن لَّهُۥ كِفۡلٞ مِّنۡهَاۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ مُّقِيتٗا ٨٥

Whoever intercedes for a good cause will have a share [i.e., reward] therefrom; and whoever intercedes for an evil cause will have a portion [i.e., burden] therefrom. And ever is Allāh, over all things, a Keeper.1

"Barangsiapa yang memberikan syafa'at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagian (pahala) dari padanya. Dan barang-siapa memberi syafa'at yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa) dari padanya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (An-Nisa`: 85).

(85) Maksud dari syafa'at di sini adalah bantuan atas suatu urusan, barangsiapa yang memberikan syafa'at kepada orang lain dan melakukan suatu perkara dari perbuatan-perbuatan baik bersamanya, di antaranya adalah syafa'at untuk orang-orang yang teraniaya kepada para pelaku kezhaliman, ia mendapat bagian pahala dari syafa'atnya itu sesuai dengan usaha, perbuatan, dan nilai manfaatnya, dan tidaklah akan berkurang sedikit pun pahala orang yang langsung berkenaan dengannya. Dan barangsiapa yang menolong orang lain dalam suatu keburukan, maka dia mendapat bagian dari dosa sesuai dengan apa yang ia lakukan dan apa yang ia bantu. Hal ini adalah sebuah anjuran yang besar untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa, dan ancaman yang keras dari tolong menolong dalam dosa dan kejahatan. Dan Allah menetapkan hal itu dalam FirmanNya, ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ مُّقِيتٗا ﴿ "Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu" yaitu sebagai saksi, menyimpan, dan menghitung segala perbuatan-perbuatan tersebut, lalu mem-balas setiap perbuatan sesuai dengan haknya masing-masing.

4:86Page 91

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٖ فَحَيُّواْ بِأَحۡسَنَ مِنۡهَآ أَوۡ رُدُّوهَآۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٍ حَسِيبًا ٨٦

And when you are greeted with a greeting, greet [in return] with one better than it or [at least] return it [in a like manner]. Indeed Allāh is ever, over all things, an Accountant.

"Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu." (An-Nisa`: 86).

(86) Salam penghormatan adalah sebuah kata yang ber-sumber dari salah seorang dari dua orang yang bertemu dengan maksud penghormatan dan doa serta segala hal yang mengiringi ucapan tersebut berupa wajah yang berseri dan semisalnya. Dan bentuk salam yang paling tinggi adalah apa yang dijelaskan oleh syariat, baik sebagai permulaan maupun jawabannya. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan kaum Mukminin bahwa bila mereka diberikan ucapan salam dengan salam apa pun, maka sepatutnya mereka membalasnya dengan yang lebih baik darinya, baik perkataan maupun wajah yang berseri, atau dengan yang sama persis dengan-nya. Pemahaman terbalik (mafhum al-Mukhalafah) dari hal tersebut adalah larangan dari tidak membalas sama sekali atau membalas-nya namun lebih rendah darinya. Dari ayat ini dapat diambil juga sebuah dalil tentang anjuran memulai salam dan ucapan selamat dari dua aspek: Pertama, bahwasanya Allah memerintahkan untuk mem-balasnya dengan yang lebih baik atau sama persis dengannya, hal itu menuntut bahwa ucapan penghormatan itu sangat dianjurkan oleh syariat. Kedua, dapat disarikan dari kata kerja yang menunjukkan "lebih" atau "paling" yaitu kata lebih baik, di mana hal itu menun-jukkan akan adanya keikutsertaan ucapan penghormatan dan ba-lasannya dengan baik, sebagaimana dasarnya memang seperti itu. Ada pengecualian dari keumuman ayat yang mulia tersebut bagi orang yang memberikan penghormatan dengan suatu kondisi yang tidak diperintahkan, seperti memberikan salam kepada orang yang sedang membaca al-Qur`an atau sedang mendengarkan khutbah atau seorang yang sedang shalat dan semacamnya, se-sungguhnya dalam kondisi ini tidaklah dianjurkan untuk memba-las salam tersebut, demikian juga dikecualikan dari ayat ini adalah orang yang telah diperintahkan oleh syariat untuk dijauhi dan tidak diberikan ucapan penghormatan, seperti seorang pelaku maksiat yang tidak bertaubat, yang mana orang tersebut akan tercegah dari kemaksiatannya dengan tindakan itu, maka, sesung-guhnya orang seperti itu dihajr (dijauhi) tidak diberikan ucapan penghormatan dan ucapan penghormatan darinya tidaklah dibalas, yang demikian itu karena bertentangan dengan kemaslahatan yang lebih besar. Dan yang termasuk dalam membalas ucapan penghor-matan adalah setiap ucapan penghormatan yang telah terbiasa diucapkan oleh suatu masyarakat, dan ucapan itu bukanlah suatu yang dilarang secara syariat, maka harus dibalas sepertinya atau lebih baik darinya. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjanjikan balasan (ke-baikan) atas segala perbuatan baik dan mengancam segala perbuat-an buruk dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٍ حَسِيبًا ﴿ "Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu," Allah menyimpan segala perbuatan-perbuatan para hamba, yang baik maupun yang buruk, yang kecil maupun yang besar, kemudian Allah akan membalas mereka dengan apa yang ditetapkan oleh karunia, keadilan, dan hikmahNya yang terpuji.

4:87Page 92

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ لَيَجۡمَعَنَّكُمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ لَا رَيۡبَ فِيهِۗ وَمَنۡ أَصۡدَقُ مِنَ ٱللَّهِ حَدِيثٗا ٨٧

Allāh - there is no deity except Him. He will surely assemble you for [account on] the Day of Resurrection, about which there is no doubt. And who is more truthful than Allāh in statement.

"Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di Hari Kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah?" (An-Nisa`: 87).

(87) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang keesaanNya, dan bahwa-sanya tidak ada yang berhak disembah dan tidak ada yang berhak dituhankan kecuali Allah, karena kesempurnaanNya pada Dzat dan sifat-sifatNya, dan karena hanya Dia-lah yang Esa dalam pencipta-an, pengaturan, memberi nikmat, yang lahir maupun yang batin, yang demikian itu menuntut adanya perintah untuk beribadah dan mendekatkan diri kepadaNya dengan segala bentuk penyembahan, karena memang hanya Dia-lah yang berhak untuk itu, dan Dia memberikan balasan kepada hamba-hambaNya yang telah mela-kukan peribadahan kepadaNya atau yang telah mereka tinggal-kan darinya, oleh karena itu Allah bersumpah terhadap tempat pembalasan yang pasti terjadi, yaitu Hari Kiamat dalam Firman-Nya, ﴾ لَيَجۡمَعَنَّكُمۡ ﴿ "Dia akan mengumpulkan kamu" yaitu dari orang-orang terdahulu hingga orang-orang terakhir, pada tempat yang satu, pada ﴾ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ لَا رَيۡبَ فِيهِۗ ﴿ "Hari Kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya," maksudnya, tidak ada kebimbangan dan tidak ada kerancuan dalam bentuk apa pun dengan adanya dalil logika mau-pun dalil dari wahyu (dalil sam'i). Adapun dalil logika yaitu apa yang kita saksikan berupa menghidupkan kembali bumi yang telah mati, terjadinya pencip-taan pertama di mana penciptaan selanjutnya adalah lebih mudah, dan di antara hikmah yang memastikan bahwa Allah tidaklah menciptakan makhluk itu secara sia-sia adalah mereka hidup lalu meninggal. Adapun dalil sam'i yaitu kabar dari Dzat yang paling benar tentang hal tersebut, dan bahkan Dia bersumpah atas perkara itu, karena itulah Allah berfirman, ﴾ وَمَنۡ أَصۡدَقُ مِنَ ٱللَّهِ حَدِيثٗا ﴿ "Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah?" Demikian juga Allah memerintahkan RasulNya ﷺ agar bersumpah atasnya pada tempat lain dalam al-Qur`an, seperti Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ زَعَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَن لَّن يُبۡعَثُواْۚ قُلۡ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبۡعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلۡتُمۡۚ وَذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ 7 ﴿ "Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, 'Tidak demikian, demi Rabbku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepada-mu apa yang telah kamu kerjakan.' Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (At-Taghabun: 7). Dan pada FirmanNya, ﴾ وَمَنۡ أَصۡدَقُ مِنَ ٱللَّهِ قِيلٗا ﴿ "Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?" (An-Nisa`: 122), adalah sebuah pemberitahuan bahwa perkataanNya, kabar-kabar-Nya dan pembicaraan-pembicaraanNya adalah pada tingkatan kebenaran tertinggi, bahkan yang tertinggi padanya, maka setiap perkataan yang diungkapkan tentang akidah, ilmu, dan perbuatan yang bertentangan dengan apa yang dikabarkan oleh Allah adalah batil, karena bertentangan dengan kabar yang benar dan yakin, dan tidaklah mungkin hal tersebut menjadi benar.

Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences

Contents

Ayat al-Kursi36Al-Kahfpage 42juz 15Bukhari 1Muslim 2999

Style

Theme
Text size
Layout

Читать на русском