As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian
الشورى
Ash-Shuraa
The Consultation · Meccan · 53 ayahs
42:1–9Page 483
حمٓ ١
Ḥā, Meem.
عٓسٓقٓ ٢
ʿAyn, Seen, Qāf.1
كَذَٰلِكَ يُوحِيٓ إِلَيۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكَ ٱللَّهُ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ٣
Thus has He revealed to you, [O Muḥammad], and to those before you - Allāh, the Exalted in Might, the Wise.
لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۖ وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡعَظِيمُ ٤
To Him belongs whatever is in the heavens and whatever is in the earth, and He is the Most High, the Most Great.1
تَكَادُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ يَتَفَطَّرۡنَ مِن فَوۡقِهِنَّۚ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡ وَيَسۡتَغۡفِرُونَ لِمَن فِي ٱلۡأَرۡضِۗ أَلَآ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ٥
The heavens almost break from above them,1 and the angels exalt [Allāh] with praise of their Lord and ask forgiveness for those on earth. Unquestionably, it is Allāh who is the Forgiving, the Merciful.
وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ ٱللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيۡهِمۡ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡهِم بِوَكِيلٖ ٦
And those who take as allies other than Him - Allāh is [yet] Guardian over them; and you, [O Muḥammad], are not over them a manager -
وَكَذَٰلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ قُرۡءَانًا عَرَبِيّٗا لِّتُنذِرَ أُمَّ ٱلۡقُرَىٰ وَمَنۡ حَوۡلَهَا وَتُنذِرَ يَوۡمَ ٱلۡجَمۡعِ لَا رَيۡبَ فِيهِۚ فَرِيقٞ فِي ٱلۡجَنَّةِ وَفَرِيقٞ فِي ٱلسَّعِيرِ ٧
And thus We have revealed to you an Arabic Qur’ān that you may warn the Mother of Cities [i.e., Makkah] and those around it1 and warn of the Day of Assembly, about which there is no doubt. A party will be in Paradise and a party in the Blaze.
وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَهُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ وَلَٰكِن يُدۡخِلُ مَن يَشَآءُ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ وَٱلظَّٰلِمُونَ مَا لَهُم مِّن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٍ ٨
And if Allāh willed, He could have made them [of] one religion, but He admits whom He wills1 into His mercy. And the wrongdoers have not any protector or helper.
أَمِ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَۖ فَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡوَلِيُّ وَهُوَ يُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٩
Or have they taken protectors [or allies] besides Him? But Allāh - He is the Protector, and He gives life to the dead, and He is over all things competent.
"Ha Mim. 'Ain Sin Qaf. Demikianlah Allah, Yang Mahaper-kasa lagi Mahabijaksana, mewahyukan kepada kamu dan kepada orang-orang yang sebelum kamu. KepunyaanNya-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha-tinggi lagi Mahabesar. Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Rabbnya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Pengam-pun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, Allah mengawasi mereka; dan kamu bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka. Demikian-lah Kami wahyukan kepadamu al-Qur`an dalam bahasa Arab su-paya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura dan penduduk sekelilingnya serta memberi peringatan pula tentang hari berkum-pul yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Allah menjadikan mereka satu umat saja, tetapi Dia me-masukkan orang-orang yang dikehendakiNya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zhalim tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong. Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka Allah, Dia-lah Pelindung dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (Asy-Syura: 1-9).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
(1-5) Allah سبحانه وتعالى menyampaikan bahwasanya Dia mewahyu-kan al-Qur`an agung ini kepada Nabi yang mulia sebagaimana Dia telah mewahyukan kepada para nabi dan para rasul sebelum beliau. Dalam berita ini terdapat karuniaNya berupa penurunan kitab-kitab suci dan pengutusan para rasul di masa dahulu dan berikutnya, dan bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad a bukan-lah rasul pertama, dan bahwa sesungguhnya jalan yang ia tempuh adalah jalan para rasul sebelum beliau, dan kondisi-kondisinya pun sama dengan kondisi-kondisi para rasul sebelum beliau, dan apa yang beliau bawa (yaitu ajaran) serupa dengan ajaran yang mereka bawa. Sebab semuanya adalah benar dan kebenaran, yaitu diturun-kan dari Tuhan Yang menyandang sifat ketuhanan (uluhiyah), ke-perkasaan agung, kebijaksanaan sempurna, seluruh alam atas dan alam bawah adalah kerajaanNya dan berada di bawah kendaliNya, baik secara takdir maupun syar'i, dan sesungguhnya Dia ﴾ ٱلۡعَلِيُّ ﴿ "Yang Mahatinggi," Dzat, kemuliaan, dan keperkasaanNya, ﴾ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "lagi Mahabesar," yang karena kebesaranNya,﴾ تَكَادُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ يَتَفَطَّرۡنَ مِن فَوۡقِهِنَّۚ ﴿ "hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya," padahal keduanya sangat luar biasa besarnya dan keduanya adalah benda mati. ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "Dan malaikat-malaikat," yang mulia lagi didekat-kan, tunduk kepada keagunganNya dan bersikap hina dina karena keperkasaanNya, patuh kepada RububiyahNya, ﴾ يُسَبِّحُونَ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡ ﴿ "mereka bertasbih dengan memuji Rabbnya," mereka mengagungkan-Nya dari segala kekurangan dan menyifatiNya dengan segala sifat kesempurnaan, ﴾ وَيَسۡتَغۡفِرُونَ لِمَن فِي ٱلۡأَرۡضِۗ ﴿ "dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi," dari hal-hal yang timbul dari mereka, yaitu segala apa yang tidak laik dengan keagungan dan kebesaran Allah, padahal Dia ﴾ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," yang kalau saja bukan karena ampunan dan rahmat-Nya, tentu Dia segera menimpakan hukuman yang membinasakan terhadap manusia. Di dalam pengungkapan terhadap Allah سبحانه وتعالى dengan sifat-sifat tersebut di atas setelah Dia menjelaskan bahwasanya Dia telah mewahyukan kepada para rasul pada umumnya dan kepada Nabi Muhammad a pada khususnya, terdapat sebuah isyarat bahwa al-Qur`an al-Karim ini mengandung dalil-dalil dan argumen-argumen serta ayat-ayat yang membuktikan akan kesempurnaan Sang Pen-cipta, Allah سبحانه وتعالى, dan pengungkapan tentang Allah dengan nama-nama yang agung yang menyebabkan hati penuh dengan ma'rifat, kecintaan, pengagungan, penghormatan dan pemuliaan kepadaNya serta memusatkan segala bentuk penghambaan lahir dan batin hanya kepadaNya. Dan sesungguhnya kezhaliman yang paling besar dan perkataan (keyakinan) yang paling keji adalah pengang-katan sembahan-sembahan selain Allah, yang mereka sama sekali tidak memiliki kuasa memberikan manfaat ataupun menimpakan bahaya, melainkan mereka adalah makhluk yang bergantung ke-pada Allah سبحانه وتعالى dalam seluruh kondisi dan perihal mereka.
(6) Maka dari itu Allah melanjutkan FirmanNya dengan, ﴾ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ ﴿ "Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah," di mana mereka berloyalitas kepada para pelindung itu dengan menyembah dan taat kepada mereka seperti halnya mereka beribadah dan taat kepada Allah, maka mereka se-sungguhnya telah mengambil (melakukan) kebatilan, dan apa yang mereka sembah itu sebenarnya bukan pelindung, ﴾ ٱللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Allah mengawasi mereka," Yang memelihara amal perbuatan mereka, dan kemudian akan memberikan balasannya terhadap yang baik dan yang buruknya, ﴾ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡهِم بِوَكِيلٖ ﴿ "dan kamu bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka," lalu akan diminta pertanggung-jawaban atas amal perbuatan mereka. Kamu sesungguhnya hanya-lah penyampai yang telah menunaikan tugasmu.
(7) Kemudian Allah menyebutkan karuniaNya kepada RasulNya dan kepada manusia pada umumnya, di mana Allah telah menurunkan ﴾ قُرۡءَانًا عَرَبِيّٗا ﴿ "al-Qur`an dalam bahasa Arab," yang sangat jelas lafazh-lafazh dan maknanya, ﴾ لِّتُنذِرَ أُمَّ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura," maksudnya, Makkah al-Mukarramah ﴾ وَمَنۡ حَوۡلَهَا ﴿ "dan penduduk sekelilingnya" dari per-kampungan-perkampungan orang-orang Arab, kemudian pem-berian peringatan ini terus merambat ke seluruh manusia, ﴾ وَتُنذِرَ ﴿ "serta memberi peringatan pula" kepada manusia ﴾ يَوۡمَ ٱلۡجَمۡعِ ﴿ "tentang hari berkumpul," yang pada hari itu Allah menghimpun orang-orang yang terdahulu dan yang datang kemudian. Dan kamu sampaikan kepada mereka bahwa ﴾ لَا رَيۡبَ فِيهِۚ ﴿ "tidak ada keraguan padanya," dan manusia pada hari itu terbagi menjadi dua kelompok: Satu kelom-pok ﴾ فِي ٱلۡجَنَّةِ ﴿ "masuk surga," yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul; dan sekelompok lagi ﴾ فِي ٱلسَّعِيرِ ﴿ "masuk neraka" yaitu berbagai kelompok orang-orang kafir yang mendustakan.
(8) ﴾ و َ ﴿ "Dan" meskipun itu semua, kalau Allah menghen-daki, niscaya Dia menjadikan manusia ﴾ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "satu umat saja," semuanya di atas petunjuk. Sebab Dia-lah Yang Kuasa, tidak ada sesuatu apa pun yang sukar bagiNya. Akan tetapi Dia hendak memasukkan ke dalam rahmatNya orang-orang yang dikehendaki-Nya di antara manusia-manusia pilihanNya. Adapun orang-orang yang zhalim yang tidak bisa beramal shalih maka mereka adalah orang-orang yang dihalangi dari rahmatNya. Mereka sama sekali tidak akan mendapatkan seorang pelindung pun yang dapat me-lindungi mereka yang bisa mewujudkan impian mereka, dan tidak ada pula seorang penolong yang menolak bahaya dari mereka.
(9) Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, di mana mereka loyal kepada mereka dengan menyem-bahnya, mereka benar-benar telah melakukan kekeliruan yang jauh, ﴾ فَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡوَلِيُّ ﴿ "Allah-lah Pelindung," yang diloyalitasi oleh hambaNya dengan ibadah dan taat kepadaNya serta bertaqarrub (mendekatkan diri) kepadaNya dengan berbagai macam bentuk taqarrub yang mampu ia lakukan. Dan Dia mengatur hamba-hambaNya umum-nya dengan pengelolaan dan kekuatan takdirNya terhadap mereka, dan Dia mengatur hamba-hambaNya yang beriman khususnya dengan mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan menuju cahaya, membina mereka dengan kelembutanNya dan memberi-kan pertolongan kepada mereka dalam semua urusan mereka. ﴾ وَهُوَ يُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia adalah Mahakuasa atas segala sesuatu," artinya, Dia-lah yang bertindak menghidupkan dan mematikan, terealisasi kehen-dak dan KuasaNya. Maka Dia-lah yang berhak disembah, tiada sekutu bagiNya.
42:10–12Page 483
وَمَا ٱخۡتَلَفۡتُمۡ فِيهِ مِن شَيۡءٖ فَحُكۡمُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِۚ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبِّي عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ ١٠
And in anything over which you disagree - its ruling is [to be referred] to Allāh. [Say], "That is Allāh, my Lord; upon Him I have relied, and to Him I turn back."1
فَاطِرُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا وَمِنَ ٱلۡأَنۡعَٰمِ أَزۡوَٰجٗا يَذۡرَؤُكُمۡ فِيهِۚ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ١١
[He is] Creator of the heavens and the earth. He has made for you from yourselves, mates, and among the cattle, mates; He multiplies you thereby. There is nothing like unto Him,1 and He is the Hearing, the Seeing.2
لَهُۥ مَقَالِيدُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُۚ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ١٢
To Him belong the keys of the heavens and the earth. He extends provision for whom He wills and restricts [it]. Indeed He is, of all things, Knowing.
"Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih, maka putusannya kepada Allah. Itulah Allah Rabbku. KepadaNya-lah aku bertawa-kal dan kepadaNya-lah aku kembali. Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pa-sangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan pula, dijadikanNya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. KepunyaanNya-lah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rizki bagi siapa yang dikehen-dakiNya dan menyempitkan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Asy-Syura: 10-12).
(10) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا ٱخۡتَلَفۡتُمۡ فِيهِ مِن شَيۡءٖ ﴿ "Tentang se-suatu apa pun kamu berselisih," baik dalam masalah prinsip-prinsip agama kalian atau cabang-cabangnya yang kalian belum menye-pakatinya, ﴾ فَحُكۡمُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "maka putusannya kepada Allah," artinya harus dikembalikan kepada al-Qur`an dan Hadits RasulNya. Dan apa pun ketentuan al-Qur`an dan hadits itu, maka itulah yang benar, dan apa pun yang menyalahi keduanya, itulah yang batil. ﴾ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبِّي ﴿ "Itulah Allah Rabbku," maksudnya, karena Allah سبحانه وتعالى adalah Rabb Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur, maka Dia-lah hakim (pemberi keputusan) di antara hamba-hambaNya melalui syariatNya dalam segala urusan mereka. Pengertian (mafhum) dari ayat suci ini adalah bahwa "kesepa-katan umat Islam itu hujjah yang pasti." Sebab Allah سبحانه وتعالى tidak menyu-ruh kita untuk mengembalikan kepadaNya kecuali hal-hal yang kita perselisihkan. Sedangkan apa yang telah kita sepakati cukup menjadi kesepakatan umat, sebab umat Islam itu terjaga dari keke-liruan, dan sudah pasti kesepakatan mereka tersebut sejalan dengan ajaran yang ada di dalam al-Qur`an dan Hadits Rasulullah a. FirmanNya, ﴾ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ ﴿ "KepadaNya-lah aku bertawakal" artinya, aku menyandarkan diri dengan hatiku kepadaNya dalam mencari kebaikan dan menolak keburukan, dengan yakin kepada-Nya dalam pemberian pertolonganNya, ﴾ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ ﴿ "dan kepadaNya-lah aku kembali," artinya, aku menghadapkan diri dengan jiwa dan ragaku kepadaNya dan dengan taat dan ibadah kepadaNya. Dua prinsip ini sering sekali disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى di dalam Kitab-Nya. Sebab, dengan keduanya kesempurnaan seorang hamba dapat dicapai. Dan kesempurnaan tidak akan dapat ia raih dengan ketia-daan dua prinsip ini atau ketiadaan salah satunya. Sama seperti Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ 5 ﴿ "Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan." (Al-Fatihah: 5); dan juga FirmanNya, ﴾ فَٱعۡبُدۡهُ وَتَوَكَّلۡ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Maka beribadahlah kalian kepadaNya dan bertawakallah kepada-Nya." (Hud: 123).
(11) ﴾ فَاطِرُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Pencipta langit dan bumi," maksud-nya, Pembuat keduanya dengan Kuasa, kehendak, dan kebijaksa-naanNya, ﴾ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا ﴿ "Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan," agar kalian merasakan ketentraman kepadanya dan berkembang biak dari kalian anak keturunan dan kalian memperoleh banyak keuntungan. ﴾ وَمِنَ ٱلۡأَنۡعَٰمِ أَزۡوَٰجٗا ﴿ "Dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan pula," dan dari berbagai jenisnya dua macam: Jantan dan betina, agar ia tetap tersisa dan berkembang biak untuk kemaslahatan kalian yang banyak sekali. Maka dari itu Allah menggunakan huruf lam sebagai alat bantu transitif (yang bermakna untuk), sehingga maknanya, Dia menjadi-kan itu semua untuk kalian dan untuk mengaruniakannya kepada kalian. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ يَذۡرَؤُكُمۡ فِيهِۚ ﴿ "DijadikanNya kamu berkembang biak dengan jalan itu," yakni mengembangkan dan memperbanyak kalian, memperbanyak hewan-hewan ternak kalian disebabkan Dia telah menciptakan dari diri kalian dan menciptakan pula untuk kalian pasangan-pasangan. ﴾ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ ﴿ "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia," artinya, tidak ada sesuatu apa pun dari makhlukNya yang menyerupai ataupun menyamaiNya, baik pada DzatNya, nama-namaNya, sifat-sifatNya maupun perbuatan-perbuatanNya. Sebab semua nama-nama adalah sangat indah dan semua sifat-sifatNya adalah sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan, dan perbuatan-perbuatanNya (af'al), yang dengannya Dia menciptakan seluruh ciptaan-ciptaan yang luar biasa besarnya ini, tidak ada sesuatu pun yang menyertaiNya. Maka tidak ada sesuatu apa pun yang semisal denganNya, karena kemanunggalan dan keesaanNya dengan ke-sempurnaan dari segala sisi. ﴾ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar" seluruh suara dengan berbagai macam bahasa, dengan berbagai dialek. ﴾ ٱلۡبَصِيرُ ﴿ "Lagi Maha Melihat," Dia melihat langkah seekor semut hitam nan kecil di malam yang gulita di atas batu hitam nan keras, dan Dia melihat mengalirnya makanan di dalam anggota tubuh hewan-hewan yang sangat kecil sekalipun, dan juga aliran air di dalam dahan-dahan kayu yang sangat rumit. Ayat ini dan yang lainnya adalah dalil Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam menetapkan sifat-sifat Allah dan menafikan keseru-paanNya dengan makhluk. Dan di dalamnya juga terdapat sang-gahan terhadap kaum Musyabbihah (sekte yang meyakini Allah sama dengan makhlukNya. pent), yaitu terletak pada FirmanNya, ﴾ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ ﴿ "tidak ada sesuatu apa pun yang serupa dengan Dia," dan juga sanggahan terhadap sekte Mu'aththilah (sekte yang tidak meyakini adanya sifat bagi Allah, pent), yaitu pada FirmanNya, ﴾ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mendengar lagi Maha Melihat."
(12) ﴾ لَهُۥ مَقَالِيدُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "KepunyaanNya-lah perbenda-haraan langit dan bumi." MilikNya-lah kerajaan langit dan bumi, di TanganNya-lah semua kunci rahmat, rizki dan berbagai kenikmatan yang lahir dan yang batin. Jadi, semua makhluk bergantung kepada Allah سبحانه وتعالى dalam mencari kebaikan mereka dan mencegah berbagai keburukan dari mereka, dalam setiap keadaan. Tidak ada seorang pun yang memiliki otoritas. Allah-lah Yang Maha Memberi, Yang menahan, Yang dapat menimpakan mudarat dan dapat menda-tangkan manfaat, yang tiada suatu nikmat pun ada pada hamba-hamba ini melainkan ia berasal dariNya, dan tidak ada yang bisa mencegah keburukan selain Dia. Dan apa pun rahmat yang Allah bukakan untuk manusia, maka tidak ada yang bisa menahannya, dan apa pun yang Dia tahan, maka tidak ada yang bisa melepas-kannya selain Dia. Maka dari itu di sini Dia berfirman,﴾ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ ﴿ "Dia melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendakiNya," maksud-nya, melapangkannya dan memberikannya dari berbagai macam rizki yang Dia kehendaki, ﴾ وَيَقۡدِرُۚ ﴿ "dan menyempitkan," maksud-nya, menyusahkannya bagi siapa saja yang Dia kehendaki hingga hanya sebatas keperluannya saja, tidak lebih dari itu. Semua itu tergantung kepada ilmu dan kebijaksanaanNya. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu," yakni Dia mengetahui kondisi hamba-hambaNya sehingga memberi masing-masing sesuai dengan kebijaksanaanNya dan menurut tuntutan kehendakNya.
42:13Page 484
۞ شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحٗا وَٱلَّذِيٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ وَمَا وَصَّيۡنَا بِهِۦٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓۖ أَنۡ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُواْ فِيهِۚ كَبُرَ عَلَى ٱلۡمُشۡرِكِينَ مَا تَدۡعُوهُمۡ إِلَيۡهِۚ ٱللَّهُ يَجۡتَبِيٓ إِلَيۡهِ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِيٓ إِلَيۡهِ مَن يُنِيبُ ١٣
He has ordained for you of religion what He enjoined upon Noah and that which We have revealed to you, [O Muḥammad], and what We enjoined upon Abraham and Moses and Jesus - to establish the religion and not be divided therein. Difficult for those who associate others with Allāh is that to which you invite them. Allāh chooses for Himself whom He wills and guides to Himself whoever turns back [to Him].
"Dia telah mensyariatkan bagimu tentang agama apa yang telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wa-siatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepadaNya orang yang kembali." (Asy-Syura: 13).
(13) Ini adalah karunia terbesar yang Allah limpahkan ke-pada hamba-hambaNya, yaitu Dia menetapkan sebaik-baik agama untuk mereka, yang paling utama, paling suci dan paling bersih, yaitu Dinul Islam, yang telah disyariatkan (ditetapkan) oleh Allah untuk orang-orang pilihan yang diistimewakan di antara hamba-hambaNya. Bahkan Allah mensyariatkannya untuk yang terbaik dari yang terbaik dan teristimewa dari yang istimewa. Mereka adalah Ulul 'azmi di antara para rasul yang disebutkan di dalam ayat ini. Mereka adalah manusia yang paling tinggi moralnya dan yang paling sempurna derajatnya dari segala sisi. Jadi agama yang ditetapkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuk mereka harus sesuai dengan kondisi mereka dan sejalan dengan kesempurnaan mereka. Bahkan mereka telah dijadikan sempurna dan dipilih oleh Allah karena mereka melaksanakannya. Kalau saja bukan karena Agama Islam ini, tidak seorang pun di antara manusia yang menjadi tinggi derajatnya. Islam adalah ruh kebahagiaan dan kutub pusaran kesempurnaan. Itulah yang dicakup oleh kitab al-Qur`an ini dan yang diserukan-nya, yaitu tauhid, amal-amal shalih, akhlak, dan adab. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ أَنۡ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ ﴿ "Tegakkanlah agama." Artinya, Allah memerintahkan kepada kalian untuk menegakkan seluruh syariat-syariat Agama, prinsip-prinsipnya dan cabang-cabangnya. Kalian menegakkannya sendiri dan kalian bersungguh-sungguh dalam menegakkannya pada orang-orang lain selain ka-lian, kalian saling tolong-menolong atas kebajikan dan takwa dan jangan saling tolong-menolong atas perbuatan dosa dan permusuhan. ﴾ وَلَا تَتَفَرَّقُواْ فِيهِۚ ﴿ "Dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya," maksudnya, hendaklah terjadi kesepakatan bagi kalian dalam masalah prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya, berupaya seriuslah kalian untuk tidak dipecah belah oleh persoalan-persoalan dan tidak dikelompok-kelompokkan menjadi berkelompok-kelom-pok sehingga kalian menjadi bergolong-golongan, yang sebagian memusuhi sebagian yang lain, padahal kalian masih sepaham dalam masalah prinsip agama kalian. Termasuk bersatu dalam Agama dan tidak tercerai-berai di dalamnya, adalah apa yang diperintahkan oleh Penetap syariat berupa perkumpulan-perkumpulan umum, seperti perkumpulan haji, hari raya, hari Jum'at, shalat lima waktu, jihad dan berbagai bentuk ibadah lainnya yang tidak akan bisa terlaksana dan tidak bisa sempurna kecuali dengan melakukan persatuan (pertemuan) untuknya dan tidak bercerai-berai. ﴾ كَبُرَ عَلَى ٱلۡمُشۡرِكِينَ مَا تَدۡعُوهُمۡ إِلَيۡهِۚ ﴿ "Amat berat bagi orang-orang musyrik apa yang kamu seru mereka kepadanya." Artinya, mereka benar-benar merasa sangat berat karena kamu mengajak mereka mengesakan Allah سبحانه وتعالى saja, seperti yang dikatakan oleh Allah tentang mereka, ﴾ وَإِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَحۡدَهُ ٱشۡمَأَزَّتۡ قُلُوبُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِۖ وَإِذَا ذُكِرَ ٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦٓ إِذَا هُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ 45 ﴿ "Dan apabila nama Allah saja yang disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati." (Az-Zumar: 45). Dan juga ucapan mereka (yang diabadikan Allah), ﴾ أَجَعَلَ ٱلۡأٓلِهَةَ إِلَٰهٗا وَٰحِدًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عُجَابٞ 5 ﴿ "Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu sesembahan Yang Satu saja. Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan." (Shad: 5). ﴾ ٱللَّهُ يَجۡتَبِيٓ إِلَيۡهِ مَن يَشَآءُ ﴿ "Allah menarik kepadanya orang yang dikehen-dakiNya." Artinya, Allah memilih di antara manusia ciptaanNya orang yang Dia ketahui bahwasanya ia layak untuk ditarik kepada tugas kerasulan dan kewalianNya. Dan termasuk di antaranya adalah Dia memilih umat Islam ini dan mengistimewakannya atas seluruh umat dan memilihkan untuknya agama yang paling utama dan yang paling baik, ﴾ وَيَهۡدِيٓ إِلَيۡهِ مَن يُنِيبُ ﴿ "dan memberi petunjuk kepadaNya orang yang kembali." Inilah sebab yang dilakukan oleh seseorang yang dengannya ia bisa memperoleh hidayah dari Allah سبحانه وتعالى, yaitu inabah (kembali) kepadaNya dan ketertarikan naluri-naluri hatinya kepadaNya, dan tujuannya mencari keridhaanNya. Maka kebaikan niat seseorang yang disertai dengan kesungguhannya dalam mencari hidayah merupakan faktor penyebab kemudahan untuk hidayah, seperti yang Allah Firmankan, ﴾ يَهۡدِي بِهِ ٱللَّهُ مَنِ ٱتَّبَعَ رِضۡوَٰنَهُۥ سُبُلَ ٱلسَّلَٰمِ ﴿ "Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaanNya ke jalan keselamatan." (Al-Ma`idah: 16). Di dalam ayat ini dijelaskan bahwasanya A l l a h ﴾ وَيَهۡدِيٓ إِلَيۡهِ مَن يُنِيبُ ﴿ "memberi petunjuk kepadaNya orang yang kembali," di samping FirmanNya yang lain yang mengatakan, ﴾ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ ﴿ "Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu." (Luqman: 15). Ditambah dengan kondisi para sahabat nabi, (semoga Allah meri-dhai mereka), dan betapa gigih kembalinya mereka kepada Allah, adalah bukti bahwa perkataan mereka adalah hujjah (pegangan, argumen), terutama perkataan para Khulafa` Rasyidin, semoga Allah meridhai mereka semuanya.
42:14–15Page 484
وَمَا تَفَرَّقُوٓاْ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلۡعِلۡمُ بَغۡيَۢا بَيۡنَهُمۡۚ وَلَوۡلَا كَلِمَةٞ سَبَقَتۡ مِن رَّبِّكَ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى لَّقُضِيَ بَيۡنَهُمۡۚ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ أُورِثُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ لَفِي شَكّٖ مِّنۡهُ مُرِيبٖ ١٤
And they did not become divided until after knowledge had come to them - out of jealous animosity between themselves. And if not for a word1 that preceded from your Lord [postponing the penalty] until a specified time, it would have been concluded between them. And indeed, those who were granted inheritance of the Scripture after them are, concerning it, in disquieting doubt.
فَلِذَٰلِكَ فَٱدۡعُۖ وَٱسۡتَقِمۡ كَمَآ أُمِرۡتَۖ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡۖ وَقُلۡ ءَامَنتُ بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِن كِتَٰبٖۖ وَأُمِرۡتُ لِأَعۡدِلَ بَيۡنَكُمُۖ ٱللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمۡۖ لَنَآ أَعۡمَٰلُنَا وَلَكُمۡ أَعۡمَٰلُكُمۡۖ لَا حُجَّةَ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُۖ ٱللَّهُ يَجۡمَعُ بَيۡنَنَاۖ وَإِلَيۡهِ ٱلۡمَصِيرُ ١٥
So to that [religion of Allāh] invite, [O Muḥammad],1 and remain on a right course as you are commanded and do not follow their inclinations but say, "I have believed in what Allāh has revealed of scripture [i.e., the Qur’ān], and I have been commanded to do justice among you. Allāh is our Lord and your Lord. For us are our deeds, and for you your deeds.2 There is no [need for] argument between us and you.3 Allāh will bring us together, and to Him is the [final] destination."
"Dan mereka tidak berpecah belah melainkan sesudah da-tangnya pengetahuan kepada mereka karena kedengkian antara mereka. Kalaulah tidak karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Rabbmu dahulunya sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka al-Kitab sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang kitab itu. Maka karena itu serulah dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah, 'Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah adalah Rabb kami dan Rabbmu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada per-tengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepadaNya-lah kembali'." (Asy-Syura: 14-15).
(14) Setelah Allah سبحانه وتعالى memerintahkan persatuan kaum Mus-limin dalam beragama dan melarang mereka berpecah belah, Dia sampaikan kepada mereka agar jangan terpedaya dengan al-Kitab yang Allah turunkan kepada mereka; sebab orang-orang Ahlul Kitab itu tidak bercerai-berai kecuali setelah Allah menurunkan kepada mereka al-Kitab yang seharusnya melahirkan persatuan. Namun mereka melakukan kebalikan dari apa yang diperintahkan oleh kitab suci mereka. Semua itu adalah karena kecongkakan dan kebencian dari mereka. Sebab mereka saling benci membenci dan saling dengki-mendengki, dan terjadilah kebencian dan permu-suhan di antara mereka, dengan demikian terjadilah perpecahan. Maka waspadalah wahai kaum Muslimin untuk tidak menjadi seperti mereka. ﴾ وَلَوۡلَا كَلِمَةٞ سَبَقَتۡ مِن رَّبِّكَ ﴿ "Kalaulah tidak karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Rabbmu dahulunya," yakni, untuk penundaan azab yang membinasakan hingga waktu yang telah ditentukan, ﴾ لَّقُضِيَ بَيۡنَهُمۡۚ ﴿ "pastilah mereka telah dibinasakan." Akan tetapi kebijak-sanaan dan kelembutanNya menuntut untuk ditangguhkannya siksaan itu dari mereka. ﴾ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ أُورِثُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka al-Kitab sesudah mereka," maksudnya, orang-orang mewarisi mereka dan mereka menjadi generasi peng-ganti (penerus) mereka yang berilmu di antara mereka,﴾ لَفِي شَكّٖ مِّنۡهُ مُرِيبٖ ﴿ "benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan ten-tang kitab itu," maksudnya, benar-benar berada dalam ketidakjelasan yang sangat kentara yang menjerumuskan ke dalam perselisihan, di mana para pendahulu mereka berselisih karena congkak dan keras kepala. Dan generasi selanjutnya berselisih karena ragu dan bimbang. Semua mereka sama-sama dalam perselisihan yang ter-cela.
(15) ﴾ فَلِذَٰلِكَ فَٱدۡعُۖ ﴿ "Maka karena itu serulah," maksudnya, maka untuk Agama yang benar dan jalan yang lurus yang karenanya Allah menurunkan kitab-kitabNya dan mengutus para RasulNya, serulah umatmu kepadanya dan himbaulah mereka kepadanya serta tegakkanlah jihad karenanya terhadap siapa saja yang tidak menerimanya. ﴾ وَٱسۡتَقِمۡ ﴿ "Dan tetaplah," yakni, istiqamahlah kamu sendiri ﴾ كَمَآ أُمِرۡتَۖ ﴿ "sebagaimana diperintahkan kepadamu," yaitu istiqamah yang sejalan dengan perintah Allah, tidak ada sikap berlebihan ataupun mengabaikan, melainkan kepatuhan kepada perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya secara kontinu. Jadi, Allah memerintahkan NabiNya untuk menyempur-nakan dirinya dengan menetapi istiqamah dan menyempurnakan orang-orang lain dengan mengajak mereka kepada hal itu. Dan suatu yang dimaklumi, bahwa perintah kepada Rasulullah a itu adalah juga merupakan perintah kepada umatnya apabila tidak ada nash yang mengecualikannya. ﴾ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡۖ ﴿ "Dan jangan-lah mengikuti hawa nafsu mereka," maksudnya, hawa nafsu orang-orang yang menyimpang dari Agama, yaitu orang-orang kafir dan kaum munafik. Mengikuti mereka bisa dengan mengikuti sebagian ajaran agama mereka, atau dengan meninggalkan dakwah kepada Allah, atau dengan mengabaikan istiqamah. Sebab, jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang kepadamu ilmu, maka sesungguhnya engkau benar-benar termasuk orang-orang yang zhalim. Allah tidak mengatakan: "Jangan kamu ikuti agama mereka, karena hakikat agama mereka yang disyariatkan oleh Allah untuk mereka adalah agama para rasul semuanya, namun mereka tidak mengikutinya, malah mengikuti hawa nafsu, dan mereka menjadi-kan agama sebagai perbuatan sia-sia dan mainan. ﴾ وَقُلۡ ﴿ "Dan katakanlah" kepada mereka ketika berdebat dengan mereka,﴾ ءَامَنتُ بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِن كِتَٰبٖۖ ﴿ "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah," maksudnya, agar debatmu kepada mereka berdasarkan prinsip yang sangat agung ini, yang menunjukkan kepada kemu-liaan Islam, kebesaran dan hegemoninya terhadap seluruh agama, dan bahwa agama yang dianut oleh Ahlul Kitab itu hanyalah satu bagian dari Islam. Di sini terdapat petunjuk bahwa Ahlul Kitab, jika mereka ber-debat dengan suatu perdebatan yang dilandasi iman (keyakinan) kepada sebagian kitab-kitab suci atau sebagian rasul dengan me-ngabaikan yang lainnya, maka hal itu tidak boleh diterima. Sebab, Kitab suci yang mereka serukan dan rasul yang mereka klaim itu di antara syaratnya adalah ia harus membenarkan al-Qur`an ini dan nabi yang membawanya. Karena Kitab suci kita dan rasul kita tidak memerintahkan kita melainkan supaya kita beriman kepada Nabi Musa dan Nabi Isa عليهما السلام, Taurat dan Injil yang al-Qur`an mem-beritakan dan membenarkannya, dan ia juga menginformasikan bahwa Taurat dan Injil membenarkan al-Qur`an dan mengakui kebenarannya. Adapun kalau hanya sekedar Taurat dan Injil, Musa dan Isa yang mereka akui, dan tidak mengakui kita dan tidak me-nyetujui Kitab kita, maka kita tidak disuruh mempercayai mereka. FirmanNya, ﴾ وَأُمِرۡتُ لِأَعۡدِلَ بَيۡنَكُمُۖ ﴿ "Dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu," maksudnya, dalam memberikan putusan di antara apa yang kalian perselisihkan. Maka permusuhan kalian dan kebencian kalian terhadapku, wahai Ahlul Kitab, tidak akan menghalangiku untuk berlaku adil terhadap kalian. Termasuk adil dalam memberikan putusan di antara mereka yang memiliki ba-nyak pendapat yang berbeda-beda dari kaum Ahli Kitab dan lain-lainnya adalah menerima kebenaran yang ada pada mereka dan menolak kebatilan yang ada pada mereka. ﴾ ٱللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمۡۖ ﴿ "Allah adalah Rabb kami dan Rabb kamu," mak-sudnya, Rabb bagi semua. Kalian tidak lebih berhak daripada kami, ﴾ لَنَآ أَعۡمَٰلُنَا وَلَكُمۡ أَعۡمَٰلُكُمۡۖ ﴿ "Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu," yang baik dan yang buruk, ﴾ لَا حُجَّةَ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُۖ ﴿ "tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu" setelah semua kenyataan menjadi jelas dan kebenaran menjadi nyata dari yang batil, dan petunjuk dari kesesatan. Tidak ada tempat lagi bagi berdebat dan bertengkar. Sebab maksud dari debat itu adalah menjelaskan yang benar dari yang batil, agar orang yang jujur mendapat petunjuk, dan hujjah (argumen) tegak atas orang yang tersesat. Bagaimana tidak, sedang-kan Allah sudah berfirman, ﴾ وَلَا تُجَٰدِلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ إِلَّا بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ ﴿ "Dan jangan kamu mendebat Ahlul Kitab melainkan dengan cara yang lebih baik." (Al-Ankabut: 46). Maka sesungguhnya yang dimaksud adalah apa yang telah kami jelaskan itu. ﴾ ٱللَّهُ يَجۡمَعُ بَيۡنَنَاۖ وَإِلَيۡهِ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Allah akan mengumpulkan antara kita dan kepadaNya-lah (semua akan) kembali" pada Hari Kiamat kelak. Lalu Dia akan memberikan balasan kepada masing-masing menurut perbuatannya, dan pada saat itu akan terungkap orang yang benar dari yang dusta.
42:16Page 485
وَٱلَّذِينَ يُحَآجُّونَ فِي ٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ مَا ٱسۡتُجِيبَ لَهُۥ حُجَّتُهُمۡ دَاحِضَةٌ عِندَ رَبِّهِمۡ وَعَلَيۡهِمۡ غَضَبٞ وَلَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدٌ ١٦
And those who argue concerning Allāh after He has been responded to1 - their argument is invalid with their Lord, and upon them is [His] wrath, and for them is a severe punishment.
"Dan orang-orang yang membantah Allah sesudah ia dite-rima, maka bantahan mereka itu sia-sia saja di sisi Rabb mereka. Mereka mendapat kemurkaan dan bagi mereka azab yang sangat keras." (Asy-Syura: 16).
(16) Ini adalah pengukuhan terhadap Firman Allah (pada ayat sebelumnya), ﴾ لَا حُجَّةَ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُۖ ﴿ "Tidak ada hujjah di antara kami dengan kalian." Di sini Allah mengabarkan bahwa ﴾ وَٱلَّذِينَ يُحَآجُّونَ فِي ٱللَّهِ ﴿ "orang-orang yang membantah Allah" dengan argumen-argumen yang palsu dan syubhat-syubhat yang kontradiksi, ﴾ مِنۢ بَعۡدِ مَا ٱسۡتُجِيبَ ﴿ "sesudah ia diterima" untuk Allah, yakni, sesudah orang-orang yang berakal menerima seruan Allah setelah Dia menjelaskan kepada mereka ayat-ayat yang pasti dan argumen-argumen yang akurat, maka mereka yang membantah kebenaran itu setelah kebenaran itu jelas, ﴾ حُجَّتُهُمۡ دَاحِضَةٌ ﴿ "maka bantahan mereka itu sia-sia saja," artinya, palsu lagi tertolak, ﴾ عِندَ رَبِّهِمۡ ﴿ "di sisi Rabb mereka," sebab ia mengan-dung penolakan terhadap kebenaran; dan setiap yang menyalahi kebenaran itu pasti batil. ﴾ وَعَلَيۡهِمۡ غَضَبٞ ﴿ "Mereka mendapat kemurkaan," karena kedurhakaan dan sikap berpaling mereka dari hujjah-hujjah Allah dan penjelasan-penjelasanNya dan karena mereka mendusta-kannya, ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدٌ ﴿ "dan bagi mereka azab yang sangat keras." Dan itu adalah akibat dari murka Allah terhadap mereka. Inilah hukuman bagi setiap orang yang mendebat kebenaran dengan ke-batilan.
42:17–18Page 485
ٱللَّهُ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ وَٱلۡمِيزَانَۗ وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّ ٱلسَّاعَةَ قَرِيبٞ ١٧
It is Allāh who has sent down the Book in truth and [also] the balance [i.e., justice]. And what will make you perceive? Perhaps the Hour is near.
يَسۡتَعۡجِلُ بِهَا ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِهَاۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مُشۡفِقُونَ مِنۡهَا وَيَعۡلَمُونَ أَنَّهَا ٱلۡحَقُّۗ أَلَآ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُمَارُونَ فِي ٱلسَّاعَةِ لَفِي ضَلَٰلِۭ بَعِيدٍ ١٨
Those who do not believe in it are impatient for it,1 but those who believe are fearful of it and know that it is the truth. Unquestionably, those who dispute concerning the Hour are in extreme error.
"Allah-lah yang menurunkan kitab dengan kebenaran dan neraca. Dan tahukah kamu, boleh jadi Hari Kiamat itu dekat. Orang-orang yang tidak beriman kepada Hari Kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar. Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah terhadap terjadinya kiamat itu benar-benar dalam kesesatan yang jauh." (Asy-Syura: 17-18).
(17) Setelah Allah menjelaskan bahwa argumen-argumen-Nya jelas lagi nyata sehingga setiap orang yang masih memiliki secuil kebaikan pasti menerimanya, maka Allah menjelaskan dasar dan kaidahnya, bahkan seluruh argumen yang Dia sampaikan ke-pada manusia itu kembali kepadaNya, seraya berfirman,﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ وَٱلۡمِيزَانَۗ ﴿ "Allah-lah yang menurunkan kitab dengan kebenaran dan neraca." Kitab yang dimaksud adalah al-Qur`an al-'Azhim yang turun dengan benar dan meliputi kebenaran, kejujuran dan keyakinan. Semuanya adalah ayat-ayat yang sangat jelas dan dalil-dalil yang nyata tentang seluruh al-mathalib al-ilahiyah (tuntutan-tuntutan ilahi) dan akidah-akidah keagamaan. Ia datang dengan membawa permasalahan-permasalahan yang terbaik dan dalil-dalil yang paling jelas. Adapun al-Mizan adalah keadilan dan pengakuan terhadap qiyas (analogi) yang benar dan akal yang sehat. Maka setiap dalil 'aqli (rasional) dari tanda-tanda yang ada di dalam jagat raya dan yang ada di dalam jiwa, dalil-dalil syar'i, kolerasi-kolerasi, illat-illat (alasan-alasan hukum), hukum-hukum dan hikmah-hikmah itu, masuk ke dalam arti al-Mizan yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى dan yang diletakkanNya di antara hamba-hambaNya agar mereka menim-bang dengannya semua perkara yang ditetapkanNya dan yang di-nafikanNya, dan agar mereka tahu dengannya kebenaran apa-apa yang diberitakanNya dan disampaikan oleh rasul-rasulNya. Maka apa saja yang keluar dari dua perkara ini (dari al-Kitab dan al-Mizan) yang disebut hujjah, argumen atau dalil atau ungkapan apa saja yang serupa dengannya, maka ia adalah kebatilan nan kontradiksi yang dasar-dasarnya sudah berantakan dan pondasi-pondasi dan cabang-cabangnya yang telah runtuh dapat diketahui oleh siapa saja yang menguasai permasalahan-permasalahan dan jalur-jalur-nya, dan bisa memilah antara dalil-dalil yang kuat dari yang lemah, dan tahu perbedaan antara hujjah dengan syubhat. Adapun orang yang terpedaya dan terpesona dengan ung-kapan-ungkapan yang indah dan kata-kata yang samar, sedangkan pikirannya tidak sampai kepada makna yang dimaksud maka ia tidak tergolong ahli dan tidak pula termasuk pakar dalam bidang ini. Maka sikapnya yang menyetujui dan menyelisihi tidak berguna (tidak bisa dijadikan sandaran. Pent). Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya mempertakuti orang-orang yang minta agar kiamat segera didatangkan, yaitu mereka yang mengingkarinya, seraya berfirman, ﴾ وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّ ٱلسَّاعَةَ قَرِيبٞ ﴿ "Dan tahukah kamu, boleh jadi Hari Kiamat itu dekat." Maksudnya, Tidak diketahui jauhnya ataupun kapan ia akan terjadi. Ia bisa saja terjadi pada suatu waktu dan kepastiannya sangat menakutkan.
(18) ﴾ يَسۡتَعۡجِلُ بِهَا ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِهَاۖ ﴿ "Orang-orang yang tidak ber-iman kepada Hari Kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan," sebagai sikap keras kepala dan mendustakan serta menentang Allah. ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مُشۡفِقُونَ مِنۡهَا ﴿ "Dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya," maksudnya, mereka takut karena mereka beriman kepadanya dan karena mereka mengetahui apa-apa yang ada pada Hari Kiamat itu, seperti pembalasan terhadap amal perbuatan, dan takutnya mereka karena mereka mengenal Allah, mereka khawatir kalau amal-amal perbuatan mereka tidak bisa menyelamatkan mereka dan tidak bisa membahagiakan. Maka dari itu Allah ber-firman, ﴾ وَيَعۡلَمُونَ أَنَّهَا ٱلۡحَقُّۗ ﴿ "Dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar," yang tak ada keraguan padanya dan tidak ada pula kebim-bangan. ﴾ أَلَآ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُمَارُونَ فِي ٱلسَّاعَةِ ﴿ "Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah terhadap terjadinya kiamat," setelah mereka meragukannya, mereka membantah para rasul dan para pengikutnya karena mereka membenarkannya. Maka mereka benar-benar dalam sikap menyelisihi[85] ﴾ بَعِيدٍ ﴿ "yang jauh." Artinya, suatu sikap menentang dan sikap membantah yang sama sekali tidak dekat kepada kebenaran, bahkan sangat-sangat jauh dari kebenaran. Dan sikap jauh yang mana yang lebih jauh daripada orang yang mendustakan negeri yang merupakan negeri yang se-sungguhnya?! Yaitu negeri yang diciptakan untuk keabadian dan kekekalan, yaitu negeri pembalasan yang di situ Allah menampak-kan keadilan dan karuniaNya. Dan sesungguhnya negeri dunia ini bila dibandingkan dengan negeri akhirat adalah seperti seorang pengendara yang beristirahat di siang hari di bawah naungan pohon, kemudian ia meneruskan perjalanan dan meninggalkannya. Dunia ini hanyalah negeri penyeberangan dan numpang lewat, bukan tempat untuk selama-lamanya. Mereka hanya membenarkan negeri yang akan sirna nan fana ini yang bisa mereka lihat dan mereka saksikan saja, dan mereka mendustakan negeri akhirat yang sangat banyak sekali informasi tentangnya yang disampaikan oleh Kitab-kitab suci ilahi, oleh para Rasul dan para pengikutnya, yang mana mereka adalah manusia yang paling sempurna akalnya, paling dalam ilmunya, dan paling tinggi kecerdasan dan pema-hamannya.
Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences