As-Sa'di · Tafsir · in Indonesian
Al-A'raf 7:103–178, continued
(155) Dan tatkala Bani Israil bertaubat serta kembali ke jalan mereka yang lurus ﴾ وَٱخۡتَارَ مُوسَىٰ ﴿ "Musa memilih", dari mereka ﴾ سَبۡعِينَ رَجُلٗا ﴿ "tujuh puluh orang", terbaik di antara mereka untuk memohon maaf kepada Allah bagi kaum mereka. Allah menjanjikan kepada mereka waktu di mana mereka bisa menghadirinya. Manakala me-reka telah hadir, mereka berkata, "Wahai Musa, tunjukkanlah Allah kepada kami secara nyata." Mereka telah berkata sangat lancang kepada Allah, bersikap kurang ajar kepadaNya, maka mereka pun digoncang gempa, sehingga mereka pingsan dan binasa, maka Musa tiada henti-hentinya berdoa merendahkan diri kepada Allah dan berkata, ﴾ رَبِّ لَوۡ شِئۡتَ أَهۡلَكۡتَهُم مِّن قَبۡلُ ﴿ "Ya Rabbku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka sebelum ini." Yakni sebelum mereka hadir dan mereka dalam keadaan memohon maaf untuk kaum mereka, justru mereka sekarang menjadi orang-orang yang zhalim. ﴾ أَتُهۡلِكُنَا بِمَا فَعَلَ ٱلسُّفَهَآءُ مِنَّآۖ ﴿ "Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?" Yakni orang-orang berakal bodoh dan berpikiran pandir. Musa merendahkan diri kepada Allah dan memohon pemakluman karena orang-orang yang berbuat kelancangan tersebut tidak memiliki akal yang sem-purna yang menjaga mereka sehingga mereka tidak mengucapkan dan melakukan demikian, dan bahwa telah terjadi fitnah pada diri mereka yang terlintas pada diri seseorang dan dia khawatir agama-nya akan lenyap. Maka dia berkata, ﴾ إِنۡ هِيَ إِلَّا فِتۡنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَن تَشَآءُ وَتَهۡدِي مَن تَشَآءُۖ أَنتَ وَلِيُّنَا فَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَاۖ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡغَٰفِرِينَ ﴿ "Itu hanyalah cobaan dariMu, Engkau sesat-kan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri pe-tunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkau-lah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau-lah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya." Yakni Engkau adalah sebaik-baik pemaaf, sebaik-baik yang menyayangi, dan semulia-mulia pemberi karunia. Seakan-akan Musa عليه السلام berkata, "Wahai Rabb, yang dimaksud dengan tujuan pertama bagi kami semua adalah menaatiMu dan beriman kepadaMu, dan bahwa orang yang ber-akal, mengerti, dan memahaminya dengan sempurna sesuai dengan taufik yang telah Engkau berikan, maka ia tetap bersikap lurus. Adapun orang yang lemah akalnya, pandir pemikirannya, dan di-belokkan oleh fitnah, maka dialah yang melakukan pelanggaran itu, meskipun demikian Engkau adalah sebaik-baik Penyayang dan sebaik-baik Pengampun, maka ampunilah dan sayangilah kami." Maka Allah mengabulkan permintaan Musa dan menghidupkan mereka setelah mereka mati dan mengampuni dosa-dosa mereka.
(156) Musa menyempurnakan doanya, ﴾ وَٱكۡتُبۡ لَنَا فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ ﴿ "Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini", berupa ilmu yang bermanfaat, rizki yang lapang, dan amal yang shalih. ﴾ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "dan di Akhirat", yakni dengan kebajikan, yaitu pahala yang Allah sediakan untuk hamba-hambaNya yang shalih. ﴾ إِنَّا هُدۡنَآ إِلَيۡكَۚ ﴿ "Sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepadaMu." Yakni kami kem-bali dengan mengakui kelalaian kami. Kami kembali kepadaMu dalam segala urusan kami. ﴾ قَالَ عَذَابِيٓ أُصِيبُ بِهِۦ مَنۡ أَشَآءُۖ ﴿ "Allah berfirman, 'SiksaKu akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki," dari kala-ngan orang yang sengsara yang menentang sebab-sebabnya. ﴾ وَرَحۡمَتِي وَسِعَتۡ كُلَّ شَيۡءٖۚ ﴿ "Dan RahmatKu meliputi segala sesuatu," meliputi langit dan bumi, orang baik dan orang jahat, Mukmin dan kafir, tiada makhluk kecuali rahmat Allah telah dia rasakan, karunia dan ke-baikanNya telah dia cicipi, akan tetapi rahmat yang khusus yang berkonsekuensi kepada kebahagiaan dunia dan akhirat tidak dira-sakan oleh semua orang. Oleh karena itu Dia berfirman tentangnya, ﴾ فَسَأَكۡتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ﴿ "Maka akan Aku tetapkan RahmatKu untuk orang-orang yang bertakwa", dari kemaksiatan besar dan kecil, ﴾ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "yang menunaikan zakat", yang wajib ditunaikan kepada yang ber-hak, ﴾ وَٱلَّذِينَ هُم بِـَٔايَٰتِنَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami."
(157) Di antara kesempurnaan iman kepada ayat-ayat Allah adalah mengetahui maknanya dan menjalankan konsekuensinya. Termasuk dalam hal ini adalah mengikuti Nabi ﷺ lahir dan batin dalam perkara agama, baik yang ushul (pokok) maupun yang furu' (cabang). ﴾ ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِيَّ ٱلۡأُمِّيَّ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang meng-ikuti Rasul, Nabi yang ummi." Dikatakan ummi agar nabi-nabi yang lain tidak termasuk di dalamnya, karena yang dimaksud di sini adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib, sementara konteks ayatnya adalah tentang Bani Israil, bahwa iman kepada Nabi Muhammad adalah syarat atas mereka untuk masuk ke dalam iman, bahwa orang-orang yang beriman kepadanya yang mengiku-tinya adalah orang-orang yang mendapatkan rahmat yang mutlak yang telah Allah tulis untuk mereka. Allah menyifatinya dengan ummi karena dia dari bangsa Arab umat yang ummi, tidak menulis dan tidak membaca, dan sebelum al-Qur`an turun mereka tidak memiliki kitab. ﴾ ٱلَّذِي يَجِدُونَهُۥ مَكۡتُوبًا عِندَهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ ﴿ "Yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka." Dengan nama dan sifatnya di mana yang paling mulia dan paling agung adalah apa yang dia dakwahkan dan apa yang dia larang. ﴾ يَأۡمُرُهُم بِٱلۡمَعۡرُوفِ ﴿ "Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf." Yaitu semua yang diketahui kebaikannya, kebagusannya, dan man-faatnya. ﴾ وَيَنۡهَىٰهُمۡ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ ﴿ "dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar." Yaitu semua yang dikenal buruknya menurut akal dan fitrah. Dia memerintahkan mereka untuk shalat, zakat, puasa, haji, silaturahim, berbakti kepada kedua orang tua, berbuat baik kepada tetangga dan hamba sahaya, memberikan manfaat kepada seluruh makhluk, kejujuran, kesucian diri, kebaikan, nasihat, dan lain-lain. Dia melarang syirik kepada Allah, membunuh tanpa ala-san yang benar, zina, minum khamar, kezhaliman kepada makhluk lain, dusta, dosa, dan lain-lain. Bukti paling agung bahwa dia adalah Rasul Allah adalah apa yang dia dakwahkan dan dia perintahkan dan apa yang dia larang, apa yang dia halalkan dan apa yang dia haramkan. Dia menghalalkan yang baik-baik dari makanan, mi-numan, dan pernikahan, ﴾ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ ﴿ "dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk", dari makanan, minuman, pernikahan, ucapan dan perbuatan, ﴾ وَيَضَعُ عَنۡهُمۡ إِصۡرَهُمۡ وَٱلۡأَغۡلَٰلَ ٱلَّتِي كَانَتۡ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "dan mem-buang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka." Yakni di antara sifatnya adalah bahwa agamanya mudah, ringan, tidak sulit, tidak ada beban, tidak ada belenggu, tidak ada kesulitan, dan tidak ada pembebanan syariat yang berat. ﴾ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ ﴿ "Maka orang-orang yang beriman kepada-nya, memuliakannya", yakni mengagungkannya dan menghormati-nya. ﴾ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ ﴿ "Menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya", yaitu al-Qur`an yang mene-rangi di kegelapan keraguan dan kebodohan, dijadikan pegangan pada saat terjadi pertentangan pendapat. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang beruntung." Yang meraih kebaikan di dunia dan akhirat, yang selamat dari keburukan dunia dan akhirat, karena mereka melakukan sebab keberuntungan terbesar. Adapun orang yang tidak beriman kepada Nabi ummi ini, tidak memuliakannya, tidak menolongnya, dan tidak mengikuti cahaya yang dibawanya, maka dia adalah orang-orang yang merugi.
(158) Manakala ahli Taurat dari Bani Israil diajak untuk me-ngikuti Nabi Muhammad, dan mungkin ada yang mengira bahwa ajakan tersebut hanya terbatas kepada mereka, maka dihadirkan lafazh yang menunjukkan keumuman, maka Allah berfirman, ﴾ قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ جَمِيعًا ﴿ "Katakanlah, 'Hai manusia, sesungguh-nya aku adalah utusan Allah kepadamu semua'." Yakni bangsa Arab dan yang non Arab, ahli kitab dan yang bukan ahli kitab. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi." Dia bertindak pada keduanya dengan hukum-hukumNya yang kauniyah, peraturan-peraturan kekuasaanNya, dan hukum-hukum syar'iyah diniyah yang di antaranya adalah bahwa Dia mengutus kepadamu seorang Rasul yang agung yang mengajakmu kepada Allah dan kepada rumah kemuliaanNya (surga), dan memperingat-kanmu dari setiap perkara yang menjauhkanmu dariNya dan dari rumah kemuliaanNya. ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ﴿ "Tidak ada tuhan (yang berhak di-sembah) selain Dia." Yakni tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan cara beribadah kepadaNya tidak diketahui kecuali melalui rasul-rasulNya. ﴾ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۖ ﴿ "Yang menghidupkan dan mematikan." Yakni di antara PengaturanNya adalah menghidupkan dan mematikan, di mana tidak ada seorang pun yang menyertaiNya dalam hal ini di mana Allah menjadikan kematian sebagai jembatan penyeberangan ke rumah kekekalan di mana barangsiapa yang beriman kepada-nya, pasti akan membenarkan Rasul. ﴾ فَـَٔامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِيِّ ٱلۡأُمِّيِّ ﴿ "Maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, Nabi yang ummi." Iman dengan hati yang mencakup amal hati dan anggota badan. ﴾ ٱلَّذِي يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَكَلِمَٰتِهِۦ ﴿ "Yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-ka-limatNya (kitab-kitabNya)." Yakni berimanlah kepada Rasul yang lurus ini dalam akidah dan perbuatannya. ﴾ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ﴿ "Dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk," kepada kebaikan duniamu dan agamamu, karena jika kamu tidak mengikutinya, maka kamu akan tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh.
(159) ﴾ وَمِن قَوۡمِ مُوسَىٰٓ أُمَّةٞ ﴿ "Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat." Yakni jamaah, ﴾ يَهۡدُونَ بِٱلۡحَقِّ وَبِهِۦ يَعۡدِلُونَ ﴿ "Yang memberi pe-tunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan." Yakni mereka memberi petunjuk kepada ma-nusia dengan pengajaran dan fatwa kepada mereka dan berlaku adil di antara mereka dalam memutuskan perkara-perkara di an-tara mereka, sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْۖ وَكَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ 24 ﴿ "Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat Kami." (As-Sajdah: 24). Ini menunjukkan keutamaan umat Nabi Musa عليه السلام, dan bahwa Allah تعالى menjadikan di antara mereka orang-orang yang memberi petunjuk dengan perintahNya. Dan sepertinya ayat yang mulia ini hadir untuk menepis kesalahan pemahaman dari penjelasan-penje-lasan sebelumnya, karena dalam ayat-ayat sebelumnya Allah me-nyebutkan sekumpulan aib Bani Israil yang bertentangan dan ber-tabrakan dengan hidayah dan kesempurnaan, mungkin saja ada yang menduga salah bahwa hal itu ada pada Bani Israil semuanya, maka Allah menyebutkan bahwa di antara mereka ada sekelompok orang yang lurus yang mendapat petunjuk dan memberi petunjuk tersebut kepada orang lain.
(160) ﴾ وَقَطَّعۡنَٰهُمُ ٱثۡنَتَيۡ عَشۡرَةَ أَسۡبَاطًا أُمَمٗاۚ ﴿ "Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar." Yakni dua belas suku yang selalu mengenal dan berhubungan baik. Setiap ke-turunan seorang laki-laki dari anak-anak Ya'qub adalah satu suku. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ إِذِ ٱسۡتَسۡقَىٰهُ قَوۡمُهُۥٓ ﴿ "Dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya." Yakni mereka meminta kepada-nya untuk berdoa kepada Allah تعالى agar memberi mereka air untuk minum mereka dan ternak mereka, hal itu karena –wallahu a'lam– mereka berada di daerah minim air. Maka Allah menjawab permin-taan mereka dengan mewahyukan kepada Musa, ﴾ أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡحَجَرَۖ ﴿ "Pukullah batu itu dengan tongkatmu." Ada kemungkinan ia adalah batu tertentu, ada kemungkinan ia adalah jenis batu apa saja. Musa memukulnya. ﴾ فَٱنۢبَجَسَتۡ ﴿ "maka memancarlah", dari batu tersebut ﴾ ٱثۡنَتَا عَشۡرَةَ عَيۡنٗاۖ ﴿ "dua belas mata air", mengalir. ﴾ قَدۡ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٖ مَّشۡرَبَهُمۡۚ ﴿ "Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum ma-sing-masing." Yakni mata air itu terbagi menjadi dua belas sesuai dengan jumlah suku Bani Israil, masing-masing suku dengan mata airnya, mereka mengetahuinya, mereka tenang, terbebas dari kele-lahan dan tanpa berdesak-desakan, dan ini termasuk kesempurnaan nikmat Allah kepada mereka. ﴾ وَظَلَّلۡنَا عَلَيۡهِمُ ٱلۡغَمَٰمَ ﴿ "Dan Kami naungkan awan di atas mereka." Ia melindungi mereka dari panas matahari. ﴾ وَأَنزَلۡنَا عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَنَّ ﴿ "Dan Kami turunkan kepada mereka manna", yaitu sesuatu yang manis (seperti madu. Ed) ﴾ وَٱلسَّلۡوَىٰۖ ﴿ "dan salwa", yaitu daging burung terbaik dan terlezat. Allah mengumpulkan untuk mereka naungan awan, minuman, dan makanan yang enak yaitu manna dan salwa yang didapat tanpa lelah dan capek. Dikatakan kepada mereka, ﴾ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡۚ وَمَا ظَلَمُونَا ﴿ 'Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rizkikan kepadamu'. Mereka tidak menganiaya Kami," manakala mereka tidak bersyukur kepada Allah dan tidak menunaikan apa yang Allah wajibkan atas mereka. ﴾ وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ ﴿ "Tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri." Di mana mereka menyia-nyiakan kebaikan dan menentang resiko keburukan dan azab. Ini terjadi pada masa di mana mereka tersesat dari bumi.
(161) ﴾ وَإِذۡ قِيلَ لَهُمُ ٱسۡكُنُواْ هَٰذِهِ ٱلۡقَرۡيَةَ ﴿ "Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israil), 'Diamlah di negeri ini saja (Baitul Maqdis)'." Yakni masuklah ke dalamnya agar ia menjadi tempat tinggal dan negerimu, yaitu Ailia (Baitul Maqdis). ﴾ وَكُلُواْ مِنۡهَا حَيۡثُ شِئۡتُمۡ ﴿ "Dan makanlah dari (hasil bumi)nya di mana saja kamu kehendaki." Yakni negeri dengan pohon yang lebat dan buah yang banyak serta kehi-dupan yang nyaman. Oleh karena itu Allah memerintahkan mereka agar makan darinya sesuka mereka. ﴾ وَقُولُواْ ﴿ "Dan katakanlah", ketika kamu masuk, ﴾ حِطَّةٞ ﴿ "Bebaskanlah kami dari dosa kami." Yakni ha-puskanlah kesalahan kami dan maafkanlah kami. ﴾ وَٱدۡخُلُواْ ٱلۡبَابَ سُجَّدٗا ﴿ "Dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk." Yakni dengan merendahkan diri kepada Allah, mengakui kebesaranNya dan mensyukuri nikmatNya. Allah memerintahkan mereka agar tunduk dan memohon ampunan, dan menjanjikan mereka ampunan atas dosa-dosa mereka dan pahala di dunia dan Akhirat. Dia berfirman, ﴾ نَّغۡفِرۡ لَكُمۡ خَطِيٓـَٰٔتِكُمۡۚ سَنَزِيدُ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik." Dari kebaikan dunia dan akhirat.
(162) Mereka tidak menggubris perintah Ilahi ini, justru orang-orang zhalim dari mereka merubahnya, yakni mereka me-langgar dan meremehkan perintah Allah. ﴾ قَوۡلًا غَيۡرَ ٱلَّذِي قِيلَ لَهُمۡ ﴿ "dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka", sebagai ganti meminta ampun dan mengucapkan "hiththah", mereka berkata, "Satu biji gandum." Jika mereka merubah ucapan meski ia sangat mudah, maka mereka lebih berani lagi merubah perbuatan. Oleh karena itu mereka masuk dengan cara mengesot. ﴾ فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Maka Kami timpakan kepada mereka", ketika mereka menyelisihi perintah Allah dan durhaka kepadaNya, ﴾ رِجۡزٗا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "azab dari langit." Yakni azab yang berat, bisa jadi tha'un atau azab dari langit yang lain, Allah tidak menzhalimi mereka dengan azabNya, akan tetapi hal itu ﴾ كَانُواْ يَظۡلِمُونَ ﴿ "disebabkan kezhaliman mereka."
(163) ﴾ وَسۡـَٔلۡهُمۡ عَنِ ٱلۡقَرۡيَةِ ٱلَّتِي كَانَتۡ حَاضِرَةَ ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut", di pantai ketika mereka melanggar dan Allah menghukum mereka ﴾ إِذۡ يَعۡدُونَ فِي ٱلسَّبۡتِ ﴿ "ketika mereka melanggar aturan pada Hari Sabtu." Padahal Allah تعالى telah memerintahkan mereka agar menghormatinya dan mengagungkannya dengan tidak menangkap ikan pada hari itu, lalu Allah menguji mereka, di mana pada Hari Sabtu ikan-ikan be-sar muncul di permukaan laut dalam jumlah yang banyak. ﴾ وَيَوۡمَ لَا يَسۡبِتُونَ ﴿ "Dan di hari-hari yang bukan Sabtu." Yakni jika Hari Sabtu berlalu ﴾ لَا تَأۡتِيهِمۡۚ ﴿ "ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka." Yakni ia menghilang dan mereka tidak melihat seekor pun. ﴾ كَذَٰلِكَ نَبۡلُوهُم بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ ﴿ "Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka ber-laku fasik." Kefasikan mereka yang menyebabkan Allah menguji mereka dengan ujian tersebut, karena jika mereka tidak demikian, niscaya Allah membebaskan mereka dan tidak menimpakan ujian dan keburukan kepada mereka.
(164) Namun mereka tetap berburu dengan membuat tipuan, mereka menggali lubang-lubang dan memasang jaring-jaring, jika Hari Sabtu tiba, maka ikan-ikan itu tertangkap ke dalam lubang-lubang dan jaring-jaring tersebut, tetapi mereka tidak mengambil-nya pada hari itu, jika Hari Ahad tiba, maka mereka mengambilnya dan hal itu sering terjadi pada mereka. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok. Mayoritas dari mereka tidak mengindahkan dan mereka melanggar secara terang-terangan. Kelompok kedua melarang dan mengingkari perbuatan kelompok mayoritas. Dan kelompok ketiga merasa cukup dengan apa yang dilakukan oleh kelompok kedua. Kelompok ini berkata, ﴾ لِمَ تَعِظُونَ قَوۡمًا ٱللَّهُ مُهۡلِكُهُمۡ أَوۡ مُعَذِّبُهُمۡ عَذَابٗا شَدِيدٗاۖ ﴿ "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" Sepertinya mereka berkata, "Tidak ada gunanya menasihati orang yang berani melang-gar larangan Allah dan tidak menghiraukan nasihat yang tulus, tetapi justru tetap teguh di atas pelanggaran dan kezhaliman, karena Allah pasti akan menghukum mereka, baik dengan kebinasaan atau azab yang pedih." Orang-orang yang memberi nasihat menjawab, "Kami melarang dan menasihati mereka, ﴾ مَعۡذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمۡ ﴿ 'agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu.' Yakni agar kami dimaafkan berkenaan dengan apa yang mereka lakukan, ﴾ وَلَعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ ﴿ "dan supaya mereka bertakwa." Yakni mereka meninggal-kan kemaksiatan yang mereka lakukan. Maka kami tidak berputus asa dari usaha memberi petunjuk kepada mereka, bisa jadi nasihat kami mujarab pada mereka, larangan kami didengar oleh mereka, dan inilah tujuan terbesar dari pengingkaran terhadap kemungka-ran, agar ia berfungsi sebagai alasan dan penegakan hujjah atas yang diperintah dan yang dilarang, dan semoga Allah memberinya petunjuk lalu dia melaksanakan tuntutan dari perintah dan lara-ngan tersebut.
(165) ﴾ فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِۦٓ ﴿ "Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperintahkan kepada mereka." Mereka meninggalkan apa yang diperingatkan kepada mereka dan mereka terus berjalan di atas pelanggaran dan kesesatan. ﴾ أَنجَيۡنَا ٱلَّذِينَ يَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلسُّوٓءِ ﴿ "Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat." Begitulah sunnah Allah pada hamba-hambaNya, bahwa jika azab telah turun, maka yang selamat adalah orang-orang yang beramar ma'ruf dan bernahi mungkar. ﴾ وَأَخَذۡنَا ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ﴿ "Dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zhalim." Yaitu orang-orang yang melanggar pada Hari Sabtu ﴾ بِعَذَابِۭ بَـِٔيسِۭ بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ ﴿ "siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik." Adapun kelompok yang lain yang berkata kepada orang-orang yang melarang, ﴾ لِمَ تَعِظُونَ قَوۡمًا ٱللَّهُ مُهۡلِكُهُمۡ ﴿ "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka." Maka ahli tafsir berbeda pen-dapat tentang apakah mereka selamat atau tidak, dan sepertinya mereka itu selamat, karena Allah mengkhususkan kebinasaan bagi orang-orang yang zhalim, sedangkan Dia tidak menyatakan mereka sebagai orang-orang yang zhalim. Ini menunjukkan bahwa azab hanya menimpa orang-orang yang melanggar di Hari Sabtu saja. Di samping itu amar ma'ruf dan nahi mungkar adalah fardhu ki-fayah. Jika ia telah ditunaikan oleh sebagian orang, maka ia gugur dari sebagian yang lain, maka mereka merasa cukup dengan peng-ingkaran orang-orang yang mengingkari, dan karena sebenarnya mereka juga mengingkari dengan ucapan mereka, ﴾ لِمَ تَعِظُونَ قَوۡمًا ٱللَّهُ مُهۡلِكُهُمۡ أَوۡ مُعَذِّبُهُمۡ عَذَابٗا شَدِيدٗاۖ ﴿ "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" (Al-A'raf: 164). Mereka menampakkan kemarahan kepada orang-orang zhalim itu yang menunjukkan bahwa mereka sangat membenci perbuatan mereka dan bahwa Allah akan mengazab mereka atasnya.
(166) ﴾ فَلَمَّا عَتَوۡاْ عَن مَّا نُهُواْ عَنۡهُ ﴿ "Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya." Yakni, hati mereka keras, menolak dan tidak mau menerima nasihat. ﴾ قُلۡنَا لَهُمۡ ﴿ "Kami katakan kepadanya", dengan perkataan sebagai takdir. ﴾ كُونُواْ قِرَدَةً خَٰسِـِٔينَ ﴿ "Jadilah kamu kera yang hina." Mereka berubah menjadi kera dengan izin Allah dan Allah menjauhkan mereka dari RahmatNya.
(167) Kemudian Allah menyebutkan kehinaan dan kenis-taan yang menimpa orang-orang yang tersisa dari mereka. Dia ber-firman, ﴾ وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكَ ﴿ "Dan (ingatlah), ketika Rabbmu memberitahukan", dengan pemberitahuan yang jelas, ﴾ لَيَبۡعَثَنَّ عَلَيۡهِمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ مَن يَسُومُهُمۡ سُوٓءَ ٱلۡعَذَابِۗ ﴿ "bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang yahudi) sampai Hari Kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya." Yakni yang menghina-kan dan merendahkan mereka. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Sesunggguhnya Rabbmu amat cepat siksaNya", kepada orang yang mendurhakaiNya, bahwa Dia bisa menyegerakan hukuman di dunia kepadanya. ﴾ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penya-yang," bagi yang kembali dan bertaubat kepadaNya. Dia mengam-puni dosanya dan menutupi aib-aibnya, menyayanginya dengan menerima ketaatan dan membalasnya dengan berbagai macam balasan. Allah telah merealisasikan janjiNya pada mereka, maka mereka selalu dalam kehinaan dan kerendahan dijajah oleh bangsa lain, tidak ada panji dan bendera mereka yang tegak dengan kokoh.
(168) ﴾ وَقَطَّعۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ أُمَمٗاۖ ﴿ "Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan." Yakni Kami memecah dan mencerai-beraikan mereka setelah sebelumnya mereka berkumpul. ﴾ مِّنۡهُمُ ٱلصَّٰلِحُونَ ﴿ "Di antaranya ada orang-orang yang shalih." Yaitu orang-orang yang melaksanakan hak-hak Allah dan hak-hak hamba-ham-baNya. ﴾ وَمِنۡهُمۡ دُونَ ذَٰلِكَۖ ﴿ "Dan di antaranya ada yang tidak demikian." Yakni di bawah yang pertama. Bisa jadi mereka adalah orang-orang pertengahan, dan bisa pula orang-orang yang menzhalimi diri me-reka. ﴾ وَبَلَوۡنَٰهُم ﴿ "Dan Kami coba mereka", berdasarkan kebiasaan dan sunnah Kami, ﴾ بِٱلۡحَسَنَٰتِ وَٱلسَّيِّـَٔاتِ ﴿ "dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk." Yakni dengan kemudahan dan kesu-litan ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ﴿ "agar mereka kembali (kepada kebenaran)", dari kese-satan di mana mereka berada di dalamnya, dan mereka berpegang kepada petunjuk yang karenanya mereka diciptakan. Di antara mereka selalu ada orang yang baik, tengah-tengah, dan yang buruk.
(169) ﴾ فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٞ وَرِثُواْ ﴿ "Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi", sesudah mereka ﴾ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Taurat." Mereka memperlakukan kitab itu menurut hawa nafsu mereka. Mereka disodori harta agar mereka memberi fatwa dan memutus-kan hukum dengan cara yang tidak benar, suap merajalela di ka-langan mereka, ﴾ يَأۡخُذُونَ عَرَضَ هَٰذَا ٱلۡأَدۡنَىٰ وَيَقُولُونَ ﴿ "Yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata", mereka mengakui bahwa ia ada-lah dosa dan bahwa mereka adalah orang-orang zhalim, ﴾ سَيُغۡفَرُ لَنَا ﴿ "Kami akan diberi ampun." Ini adalah omong kosong, ia bukan istighfar dan minta ampun yang sebenarnya. Jika memang demikian, niscaya mereka akan menyesal atas apa yang mereka perbuat dan mereka berniat kuat untuk tidak mengulanginya, akan tetapi jika ada harta dan suap lain, maka mereka mengambilnya, mereka menukar ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, mereka mengganti yang baik dengan yang buruk. Allah تعالى mengingkari mereka dan menjelaskan kelancangan mereka. ﴾ أَلَمۡ يُؤۡخَذۡ عَلَيۡهِم مِّيثَٰقُ ٱلۡكِتَٰبِ أَن لَّا يَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡحَقَّ ﴿ "Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar?" Lalu mengapa mereka berkata atas namaNya tanpa kebenaran karena mengikuti hawa nafsu dan cenderung kepada ambisi mereka, ﴾ وَ﴿ "dan" se-benarnya mereka ﴾ وَدَرَسُواْ مَا فِيهِۗ ﴿ "telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya?" tidak ada persoalan atas mereka padanya, justru mereka melakukan perbuatan mereka itu dalam keadaan sengaja dan me-ngetahui. Ini lebih besar dosanya, lebih buruk celaannya, dan lebih berat siksanya. Ini termasuk kebodohan akal mereka dan keren-dahan pikiran mereka, karena mereka lebih mementingkan dunia daripada akhirat. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَٱلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَۚ ﴿ "Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa." Dengan menjauhi penghasilan yang bersumber dari suap atas pe-netapan hukum berdasar kepada selain yang diturunkan oleh Allah dan perkara-perkara haram lainnya. ﴾ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?" Yakni apakah kalian tidak mempunyai akal yang dengannya kalian menimbang apa yang semestinya lebih di-pentingkan, apa yang lebih berhak untuk diusahakan dan didahu-lukan? Tugas akal adalah melihat kepada akibat dari sesuatu. Ada-pun orang yang berpandangan dangkal lagi pendek, dia tidak dapat meraih nikmat agung yang kekal, di mana akal dan pikirannya?
(170) Orang-orang yang berakal sebenar-benarnya adalah orang-orang yang dicitrakan oleh Allah dengan FirmanNya, ﴾ وَٱلَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Kitab (Taurat)." Yakni berpegang teguh dari segi ilmu dan amal, mereka mengetahui hukum-hukum dan berita-berita yang dikandungnya, di mana ilmu tentang itu adalah ilmu yang termulia, mereka men-jalankan perintah-perintah yang dikandungnya yang merupakan ketenangan, kebahagiaan hati dan jiwa serta kemenangan dunia dan akhirat. Dan di antara perintah-perintah agung yang wajib di-pegang adalah mendirikan shalat secara lahir dan batin. Oleh karena itu Allah menyebutkannya secara khusus karena keutamaannya dan kemuliaannya, dan bahwa ia adalah timbangan amal dan penega-kannya mendorong kepada penegakan ibadah-ibadah yang lain. Karena seluruh amal mereka adalah baik, maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُصۡلِحِينَ ﴿ "Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan," dalam perkataan, perbuatan, dan niat mereka, memperbaiki diri dan orang lain. Ayat ini dan yang sepertinya menunjukkan bahwa Allah mengutus para rasulNya k dengan kebaikan bukan kerusakan, dengan manfaat bukan mudarat, mereka diutus dengan kebaikan dunia dan akhirat. Jadi, semakin seseorang itu baik, maka dia sema-kin dekat kepada sikap mengikuti mereka.
(171) Kemudian Allah تعالى berfirman, ﴾ وَإِذۡ نَتَقۡنَا ٱلۡجَبَلَ فَوۡقَهُمۡ ﴿ "Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka", ketika mereka menolak apa yang ada di dalam Taurat, Dia mewajibkan mereka beramal dan mengangkat gunung di atas mereka, maka gunung pun di atas mereka, ﴾ كَأَنَّهُۥ ظُلَّةٞ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُۥ وَاقِعُۢ بِهِمۡ ﴿ "seakan-akan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka." Dan dikatakan kepada mereka, ﴾ خُذُواْ مَآ ءَاتَيۡنَٰكُم بِقُوَّةٖ ﴿ "Peganglah dengan teguh apa yang telah kami berikan kepadamu." Yakni dengan serius dan sungguh-sungguh ﴾ وَٱذۡكُرُواْ مَا فِيهِ ﴿ "serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya", dengan mengkaji dan mempelajari serta mengamalkannya ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ﴿ "supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa", jika kamu melakukan itu.
7:172–174Page 173
وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَٰذَا غَٰفِلِينَ ١٧٢
And [mention] when your Lord took from the children of Adam - from their loins - their descendants and made them testify of themselves, [saying to them], "Am I not your Lord?" They said, "Yes, we have testified." [This] - lest you should say on the Day of Resurrection, "Indeed, we were of this unaware."
أَوۡ تَقُولُوٓاْ إِنَّمَآ أَشۡرَكَ ءَابَآؤُنَا مِن قَبۡلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةٗ مِّنۢ بَعۡدِهِمۡۖ أَفَتُهۡلِكُنَا بِمَا فَعَلَ ٱلۡمُبۡطِلُونَ ١٧٣
Or [lest] you say, "It was only that our fathers associated [others in worship] with Allāh before, and we were but descendants after them. Then would You destroy us for what the falsifiers have done?"
وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ وَلَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ١٧٤
And thus do We [explain in] detail the verses, and perhaps they will return.1
"Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesak-sian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), 'Bukankah Aku ini Rabbmu?' Mereka menjawab, 'Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.' (Kami lakukan yang demikian itu) agar di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan, 'Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb),' atau agar kamu tidak mengatakan, 'Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Rabb sejak dahulu, se-dang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesu-dah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu.' Dan demi-kianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran)." (Al-A'raf: 172-174).
(172-173) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ ﴿ "Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka." Yakni Dia mengeluarkan keturunan mereka dari sulbi mereka dan menjadikan mereka beranak pinak dari satu ge-nerasi ke generasi yang lain. (وَ) "Dan", ketika Dia mengeluarkan dari perut ibu mereka dan sulbi bapak mereka, ﴾ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ ﴿ "Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfir-man), 'Bukankah Aku ini Rabbmu?'" Yakni membuat mereka menga-kui rububiyahNya dengan fitrah yang Dia berikan kepada mereka bahwa mereka mengakui bahwa Dia adalah Rabb, Pencipta, dan Pemilik mereka. Mereka pun menjawab, "Ya kami mengakui itu." Karena sesungguhnya Allah تعالى telah memfitrahkan manusia di atas agama yang lurus dan benar, semua manusia difitrahkan di atas itu, akan tetapi fitrah bisa saja dirubah dan diganti oleh per-kara-perkara yang menyusup kepada akal dari akidah-akidah yang rusak. Oleh karena itu, ﴾ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَٰذَا غَٰفِلِينَ ﴿ "Me-reka menjawab, 'Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi'. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan, 'Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah ter-hadap ini (keesaan Rabb)'." Yakni Kami mengujimu sehingga kamu mengakui apa yang bersemayam di dalam jiwamu bahwa Allah تعالى adalah Rabbmu, karena bisa saja pada Hari Kiamat kamu meng-ingkari itu dan tidak mengakuinya sedikit pun, dan kamu meng-klaim bahwa hujjah Allah belum tegak atasmu dan kamu pun tidak mempunyai ilmu tentangnya, justru kamu lalai dan teledor darinya. Pada hari ini hujjahmu telah terputus dan yang tegak hanyalah hujjah Allah yang kuat atasmu. Atau bisa jadi kamu berdalih dengan hujjah yang lain, kamu mengatakan, ﴾ إِنَّمَآ أَشۡرَكَ ءَابَآؤُنَا مِن قَبۡلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةٗ مِّنۢ بَعۡدِهِمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Rabb sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka." Maka kami mengikuti jejak mereka dan menelusuri kebatilan mereka. ﴾ أَفَتُهۡلِكُنَا بِمَا فَعَلَ ٱلۡمُبۡطِلُونَ ﴿ "Maka apakah Engkau akan membinasakan kami ka-rena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu." Allah telah menye-matkan di dalam jiwamu sesuatu yang menunjukkanmu bahwa apa yang dilakukan oleh nenek moyangmu adalah batil, dan bahwa kebenaran adalah apa yang dibawa oleh para rasul, ini menandingi apa yang dipegang oleh nenek moyangmu dan mengunggulinya. Benar, terkadang ada pendapat dan pemikiran nenek moyang yang sesat yang diyakini sebagai kebenaran, hal itu tidak lain karena dia berpaling dari hujjah-hujjah Allah, keterangan-keterangan dan tanda-tanda kebesaranNya yang terdapat di alam raya atau yang ada pada diri. Berpalingnya dia dari hal itu dan kecenderungannya kepada apa yang diucapkan oleh orang-orang yang menyimpang bisa membawa kepada keadaan di mana dia lebih mementingkan kebatilan di atas kebenaran. Inilah yang benar dalam menafsirkan ayat ini. Ada yang me-ngatakan, bahwa ini terjadi pada hari di mana Allah mengambil perjanjian kepada keturunan Adam ketika Dia mengeluarkan me-reka dari sulbinya dan Allah menuntut mereka bersaksi atas diri mereka lalu mereka bersaksi dengan itu, lalu Dia berhujjah atas mereka dengan apa yang diperintahkannya kepada mereka pada waktu itu atas kezhaliman mereka dalam kekufuran dan penging-karan mereka di dunia dan di akhirat. Akan tetapi dalam ayat ter-sebut tidak terdapat petunjuk ke arah ini, tidak pula ada korelasi dan tidak pula sesuai dengan hikmah Allah تعالى, dan realita pun membuktikan itu, karena perjanjian ini yang mereka katakan bahwa ia terjadi manakala Allah mengeluarkan keturunan Adam dari sulbinya[73] ketika mereka masih di alam seperti atom, tidak seorang pun yang menyinggungnya dan terlintas di benak Bani Adam. Ba-gaimana Allah berhujjah kepada mereka dengan sesuatu di mana mereka tidak memiliki berita tentangnya, tidak memiliki wujud dan bekas?
(174) Oleh karena itu, karena perkara ini jelas dan nyata, maka Allah تعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ وَلَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ 174 ﴿ "Dan de-mikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran)." Kepada apa yang Allah titipkan kepada fitrah mereka dan kepada perjanjian Allah, hal mana itu membuat mereka tidak melakukan perbuatan buruk.9
7:175–178Page 173
وَٱتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَأَ ٱلَّذِيٓ ءَاتَيۡنَٰهُ ءَايَٰتِنَا فَٱنسَلَخَ مِنۡهَا فَأَتۡبَعَهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَكَانَ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ١٧٥
And recite to them, [O Muḥammad], the news of him1 to whom We gave [knowledge of] Our signs, but he detached himself from them; so Satan pursued him, and he became of the deviators.2
وَلَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنَٰهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُۥٓ أَخۡلَدَ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُۚ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلۡكَلۡبِ إِن تَحۡمِلۡ عَلَيۡهِ يَلۡهَثۡ أَوۡ تَتۡرُكۡهُ يَلۡهَثۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَاۚ فَٱقۡصُصِ ٱلۡقَصَصَ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ ١٧٦
And if We had willed, We could have elevated him thereby,1 but he adhered [instead] to the earth2 and followed his own desire. So his example is like that of the dog: if you chase him, he pants, or if you leave him, he [still] pants. That is the example of the people who denied Our signs.3 So relate the stories that perhaps they will give thought.
سَآءَ مَثَلًا ٱلۡقَوۡمُ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا وَأَنفُسَهُمۡ كَانُواْ يَظۡلِمُونَ ١٧٧
How evil an example [is that of] the people who denied Our signs and used to wrong themselves.
مَن يَهۡدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلۡمُهۡتَدِيۖ وَمَن يُضۡلِلۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ١٧٨
Whoever Allāh guides - he is the [rightly] guided; and whoever He sends astray1 - it is those who are the losers.
"Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghen-daki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zhalim. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petun-juk, dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 175- 178).
(175) Allah تعالى berfirman kepada NabiNya ﷺ, ﴾ وَٱتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَأَ ٱلَّذِيٓ ءَاتَيۡنَٰهُ ءَايَٰتِنَا ﴿ "Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab)." Yakni Kami mengajarkan kepadanya ilmu tentang kitab Allah se-hingga dia menjadi seorang alim besar, dan cendikiawan yang mum-puni, tetapi dia berlepas diri darinya dan diikuti oleh setan, yakni dia melepaskan diri dari kriteria hakiki seorang ulama yang menge-tahui tentang ayat-ayat Allah, karena ilmu tentang itu seharusnya dapat mengantarkan pemiliknya menjadi orang yang menjunjung tinggi sifat kemuliaan akhlak dan keshalihan amal, dia menapaki derajat dan kedudukan tinggi dan mulia. Akan tetapi orang ini membuang Kitab Allah di belakang punggungnya, mencampak-kan akhlak yang diperintahkan oleh kitab, dia melepasnya seperti melepas pakaian. Maka ketika dia berlepas darinya setan pun mengi-kutinya, yakni setan menguasainya manakala dia keluar dari ben-teng kokoh dan terjerembab ke dalam derajat terendah maka setan menendangnya kepada kemaksiatan. ﴾ فَكَانَ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ﴿ "Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat." Padahal sebelumnya dia adalah orang yang lurus dan meluruskan.
(176) Ini karena Allah تعالى membiarkannya dan menyandar-kannya kepada dirinya sendiri. Oleh karena itu Allah تعالى berfirman, ﴾ وَلَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنَٰهُ بِهَا ﴿ "Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu", dengan memberinya taufik untuk mengamalkannya, sehingga derajatnya terangkat di dunia dan akhirat dan terlindungi dari musuh-musuhnya. ﴾ وَلَٰكِنَّهُۥٓ ﴿ "Tetapi dia", melakukan sesuatu yang menyebabkan kehinaan, dia cenderung kepada dunia, yakni kepada hawa nafsu rendahan dan tujuan duniawi, ﴾ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُۚ ﴿ "dan menurutkan hawa nafsunya yang ren-dah," serta tidak menaati Rabbnya, ﴾ فَمَثَلُهُۥ ﴿ "maka perumpamaannya", dalam perkara kesungguhannya kepada dunia dan terfokusnya hati kepadanya ﴾ كَمَثَلِ ٱلۡكَلۡبِ إِن تَحۡمِلۡ عَلَيۡهِ يَلۡهَثۡ أَوۡ تَتۡرُكۡهُ يَلۡهَثۚ ﴿ "seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiar-kannya dia mengulurkan lidahnya (juga)." Yakni dia selalu menjulur-kan lidahnya, sementara orang ini selalu berusaha dengan sungguh-sungguh, kebutuhannya tidak tertutupi oleh dunia sedikit pun. ﴾ ذَّٰلِكَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَاۚ ﴿ "Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami." Setelah Allah menjelaskannya kepada mereka tetapi mereka tidak tunduk kepadanya, justru me-reka mendustakannya dan menolaknya karena tidak berartinya Allah bagi mereka dan hawa nafsu yang mereka ikuti tanpa petun-juk dari Allah. ﴾ فَٱقۡصُصِ ٱلۡقَصَصَ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ ﴿ "Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir," tentang perumpamaan yang dibuat, mengambil pelajaran dari ayat-ayat, jika mereka ber-pikir, mereka mengetahui, jika mereka mengetahui, maka mereka akan beramal.
(177) ﴾ سَآءَ مَثَلًا ٱلۡقَوۡمُ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا وَأَنفُسَهُمۡ كَانُواْ يَظۡلِمُونَ ﴿ "Amat buruk-lah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zhalim." Yakni, (sungguh) buruk dan jelek perumpamaan orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, dan menzhalimi diri dengan berbagai macam kemaksiatan. Sesungguhnya perumpamaan mereka adalah perumpamaan yang buruk. Orang tersebut yang Allah berikan ayat-ayatNya kepadanya, ada kemungkinan dia adalah orang tertentu yang keadaannya se-perti yang Allah jelaskan maka Allah menceritakan kisahnya untuk memberi peringatan kepada hamba-hambaNya. Ada kemungkinan lain yaitu bahwa maksudnya adalah laki-laki manapun, ia menca-kup semua orang yang diberi ayat oleh Allah lalu dia berlepas diri darinya. Ayat-ayat ini mengandung anjuran beramal dengan ilmu, dan bahwa itu merupakan derajat tinggi yang diberikan oleh Allah ke-pada pelakunya dan pelindung dari setan. Ayat ini juga mengan-dung targhib (ancaman) tidak mengamalkan ilmu yang didapat, dan bahwa ia adalah degradasi kepada derajat paling rendah dan keme-nangan setan atasnya. Ayat ini juga menjelaskan bahwa mengikuti hawa nafsu dan kecenderungan kepada syahwat adalah penyebab kehinaan.
(178) Kemudian Allah تعالى menjelaskan bahwa Dia-lah satu-satunya Pemberi hidayah dan kesesatan. ﴾ مَن يَهۡدِ ٱللَّهُ ﴿ "Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah." Yakni dengan memberinya taufik kepada kebaikan, menjaganya dari keburukan dan mengajarkan apa yang tidak dia ketahui, ﴾ فَهُوَ ٱلۡمُهۡتَدِيۖ ﴿ "maka dialah yang mendapat petunjuk", yang sebenarnya, karena dia mementingkan hidayah Allah تعالى. ﴾ وَمَن يُضۡلِلۡ ﴿ "Dan barangsiapa yang disesatkan Allah", di mana Dia tidak menolongnya dan tidak memberinya taufik kepada kebaikan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "maka merekalah orang-orang yang merugi," diri dan keluarga mereka pada Hari Kiamat. Itulah kerugian yang sebenarnya.
Text: Quranic Universal Library (Tarteel), via spa5k/tafsir_api (MIT), at a fixed version. The ayahs: Quran Foundation. Sources and licences